Langsung ke konten utama

Togog, Soeharto, Ali Moertopo, dan Soedjono Hoemardhani tentang ASPRI

Pada awal 1970-an, sebuah institusi aneh tumbuh subur di bawah bayang-bayang kekuasaan Orde Baru. Namanya ASPRI, Asisten Pribadi Presiden. Di atas kertas, mereka hanyalah pembantu Presiden. Dalam kenyataannya, mereka adalah pusat kekuasaan bayangan yang mengendalikan intelijen, ekonomi, politik, dan keamanan negara. Dipimpin oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ASPRI menjelma menjadi "negara dalam negara", sebuah junta militer dengan Soeharto sebagai patron dan para asisten sebagai klien yang setia.

Mahasiswa mengkritik. Para intelektual berbisik. Tapi tidak ada yang berani berbicara terang-terangan. Sampai suatu hari, seorang tamu tak diundang muncul di Istana. Namanya Togog.

Tidak ada yang tahu bagaimana ia bisa masuk melewati penjagaan ketat pasukan pengamanan presiden. Mungkin ia menyamar sebagai tukang kebun. Mungkin ia punya ilmu menghilang. Atau mungkin, seperti yang selalu terjadi, ia muncul begitu saja karena sejarah membutuhkan cermin yang jujur.

Dialog imajiner Togog, Soeharto, Ali Moertopo & Soedjono: membongkar ASPRI sebagai negara dalam negara Orde Baru. Fiksi sejarah subjektif penuh ironi.
 
Yang pasti, Togog berhasil duduk di ruang kerja Soeharto, berhadapan dengan Jenderal Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, dua orang paling berkuasa di Indonesia setelah Presiden. Pertemuan itu tidak tercatat dalam sejarah resmi. Tapi sebagaimana semua pertemuan yang melibatkan Togog, kata-kata yang terucap di dalamnya akan bergema sepanjang zaman.

Saya, mencoba merekonstruksi dialog yang mungkin terjadi pada hari itu. Semua yang terucap disandarkan pada fakta-fakta sejarah tentang ASPRI yang telah didokumentasikan oleh para peneliti. Togog adalah suara yang tidak pernah didengar oleh sejarah resmi. Ia adalah pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Ia adalah cermin yang tidak suka dilihat. Tapi justru karena itulah ia penting. Karena tanpa Togog, sejarah hanyalah kumpulan fakta yang mati. Dengan Togog, sejarah menjadi hidup, penuh ironi, penuh kontradiksi, penuh pertanyaan yang membuat kita terus mencari.


Daftar Tokoh


1. Soeharto (1921–2008): 

Presiden Kedua Republik Indonesia, mantan Panglima Kostrad, arsitek Orde Baru. Dikenal sebagai "The Smiling General", ia memerintah dengan keseimbangan yang presisi antara faksi-faksi militer, birokrasi, dan bisnis.

2. Ali Moertopo (1924–1984): 

Jenderal TNI, Asisten Pribadi Presiden bidang Intelijen dan Politik. Arsitek utama strategi politik Orde Baru, dalang di balik fusi partai-partai politik, dan otak dari berbagai operasi intelijen kontroversial.

3. Soedjono Hoemardhani (1921–1986): 

Asisten Pribadi Presiden bidang Ekonomi dan Keuangan. Tokoh kunci di balik kebijakan ekonomi Orde Baru, penghubung antara Istana dan para konglomerat, serta arsitek banyak proyek-proyek besar pembangunan.

4. Togog: Big Bang - Sekarang

Ahli filsafat misterius, tidak diketahui asal-usulnya. Menguasai filsafat etika, filsafat perang, filsafat agama, filsafat metafisika, filsafat ekonomi, filsafat eksistensialisme, filsafat militer, filsafat sains, filsafat ketuhanan, filsafat materialisme, filsafat idealisme, filsafat budaya, filsafat pemerintahan, dan filsafat perang saudara secara mendalam. Humornya yang ironis, satir, dan sarkastis mampu membuat orang sadar, meskipun seringkali terlambat.


Pertemuan di Istana


Latar:

Istana Merdeka, Jakarta, suatu sore di tahun 1972. Soeharto baru saja kembali dari upacara peresmian bendungan. Di ruang kerjanya yang sederhana, jauh lebih sederhana dari yang dibayangkan orang, ia duduk di kursi kayu jati, dikelilingi oleh peta-peta dan laporan-laporan. Di hadapannya, Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani duduk dengan map-map tebal berisi laporan intelijen dan ekonomi. Tiba-tiba, seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal muncul dari... entah dari mana. Mungkin dari balik tirai. Mungkin dari dalam lemari. Mungkin ia memang sudah ada di sana sebelum semua orang masuk. Tidak ada yang tahu. Yang pasti, ia sekarang duduk di sofa dengan kaki bersila, mengunyah kacang goreng, dan tersenyum seperti seseorang yang baru saja mendengar lelucon yang sangat lucu.

Soeharto (menoleh dengan alis berkerut, tapi suaranya tetap tenang, selalu tenang):

Siapa ini? Siapa yang mengizinkan masuk?

Togog (mengunyah kacangnya dengan nikmat, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun):

Hehehe... Bapak Presiden, Bapak adalah orang paling berkuasa di negeri ini. Bapak bisa memerintahkan penangkapan ribuan orang dengan satu telepon. Tapi Bapak tidak bisa menghentikan saya masuk ke ruangan ini. Dalam filsafat metafisika, saya belajar ini dari seorang dalang wayang yang juga pencuri, tidak ada tembok yang bisa menahan pertanyaan. Dan saya, Pak, adalah pertanyaan yang berjalan. Hehehe.

Ali Moertopo (berdiri, tangannya meraba pinggang, mungkin mencari pistol, mungkin hanya kebiasaan):

Bapak Presiden, saya akan panggil pengawal. Orang ini jelas-jelas...

Soeharto (mengangkat tangan, memberi isyarat agar Ali duduk kembali):

Tunggu. Dia menarik. Siapa namamu?

Togog (meletakkan kacangnya, membungkuk dengan gaya yang setengah mengejek, setengah hormat):

Nama saya Togog, Pak. Hanya Togog. Tidak ada gelar. Tidak ada pangkat. Tidak ada jabatan. Dalam filsafat eksistensialisme, saya belajar ini dari seorang penjual es keliling yang ternyata lulusan filsafat, manusia sejati tidak membutuhkan gelar untuk eksis. Bahkan, semakin banyak gelar, semakin tidak otentik seseorang. Hehehe.

Soedjono Hoemardhani (menatap Togog dengan campuran heran dan curiga):

Togog? Seperti nama punakawan dalam wayang?

Togog (mengedipkan mata ke arah Soedjono):

Tepat sekali, Pak Soedjono! Bapak mengenali saya! Ya, saya memang seperti Togog dalam wayang: badut, penasihat, pengkritik. Tapi bedanya, Togog wayang setia pada rajanya. Saya? Saya hanya setia pada kebenaran. Hehehe. Dan kebenaran, Pak, seringkali tidak sama dengan apa yang diinginkan oleh raja.

Ali Moertopo (duduk kembali, tapi tetap waspada):

Bapak Presiden, saya tidak suka nada bicaranya. Dia bisa menjadi ancaman.

Togog (tertawa kecil):

"Ancaman." Pak Ali, dalam filsafat perang, saya belajar ini dari membaca Sun Tzu di belakang bungkus tempe, ancaman yang paling berbahaya bukanlah musuh yang membawa senjata, melainkan teman yang membawa kebohongan. Saya tidak membawa senjata. Saya tidak membawa kebohongan. Saya hanya membawa pertanyaan. Apakah pertanyaan itu ancaman? Hanya jika Bapak takut pada jawabannya.

Soeharto (tersenyum tipis, senyumnya yang terkenal, yang tidak pernah mencapai mata):

Togog, kau lucu. Aku suka orang lucu. Tapi kenapa kau datang ke sini? Apa maumu?

Togog (berdiri, berjalan mengelilingi ruangan, melihat-lihat peta dan dokumen seolah-olah ia sedang jalan-jalan di taman):

Saya datang untuk bertanya, Pak. Hanya bertanya. Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati jalannya RT/RW di kampung saya, setiap pemerintahan membutuhkan orang yang bertanya. Tanpa pertanyaan, pemerintahan akan menjadi mesin yang berjalan tanpa arah. Dan saya melihat, di negeri ini, tidak ada yang berani bertanya kepada Bapak. Semua orang terlalu sibuk mengatakan "Siap, Pak!" dan "Terima kasih, Pak!"

Ali Moertopo (menyeringai):

Itu karena Bapak Presiden memimpin dengan bijaksana. Tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Togog (berhenti berjalan, menatap Ali dengan mata yang tiba-tiba tajam):

Benarkah, Pak Ali? Tidak ada yang perlu dipertanyakan? Dalam filsafat etika, pemimpin yang tidak pernah dipertanyakan adalah pemimpin yang sedang berjalan menuju jurang. Karena hanya dengan pertanyaan, kesalahan bisa dikoreksi. Tanpa pertanyaan, kesalahan akan menumpuk seperti sampah, sampai akhirnya baunya tidak bisa ditutupi lagi.

Soedjono Hoemardhani:

Apa yang kau maksud dengan "kesalahan"? Kami sudah membangun negeri ini dengan sukses. Inflasi turun. Ekonomi tumbuh. Stabilitas terjaga. Apa yang salah?

Togog (tersenyum lebar, bibir tebalnya membuat senyum itu terlihat aneh sekaligus menawan):

Ah, Pak Soedjono berbicara tentang ekonomi. Bagus! Dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari seorang pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang, angka-angka memang penting. Tapi angka tidak menceritakan semuanya. Inflasi turun, tapi berapa banyak rakyat yang masih makan nasi aking? Ekonomi tumbuh, tapi pertumbuhan itu dinikmati oleh siapa? Seratus konglomerat di Jakarta, atau seratus juta petani di desa? Itu pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh angka.

Soeharto (masih tenang, tapi jarinya mulai mengetuk-ngetuk meja, tanda bahwa pikirannya sedang bekerja):

Togog, kau berbicara seperti mahasiswa. Kau ini siapa sebenarnya?

Togog (berjalan kembali ke sofanya, duduk dengan santai):

Saya sudah bilang, Pak. Saya Togog. Hanya Togog. Tapi tentang mahasiswa, karena Bapak menyinggung mereka, mari kita bicara tentang mahasiswa. Saya mendengar mereka mendemonstrasikan sesuatu akhir-akhir ini. Mereka berbicara tentang... apa namanya... ASPRI?


Suasana tiba-tiba menjadi tegang. Ali Moertopo menegakkan punggungnya. Soedjono berdehem. Hanya Soeharto yang tetap tenang, setidaknya di permukaan.


Ali Moertopo:

ASPRI adalah Asisten Pribadi Presiden. Kami adalah pembantu Bapak Presiden. Tidak ada yang perlu didemonstrasikan.

Togog (mengedipkan mata ke arah Ali):

"Pembantu." Kata yang menarik. Dalam filsafat bahasa, saya belajar ini dari Ferdinand de Saussure yang saya temui di mimpi, kata-kata bisa menyembunyikan makna sebanyak mengungkapkannya. "Pembantu" kedengarannya rendah hati. Tapi siapa yang lebih berkuasa: menteri yang setiap hari harus minta tanda tangan Presiden, atau "pembantu" yang setiap hari duduk di samping Presiden dan berbisik di telinganya?


Negara dalam Negara


Soedjono Hoemardhani (mencoba tersenyum, tapi senyumnya tegang):

Togog, kau tidak mengerti cara kerja pemerintahan. Presiden membutuhkan orang-orang kepercayaan untuk membantu beliau. Itu adalah hal yang wajar. Setiap pemimpin punya penasihat.

Togog (mengambil segenggam kacang lagi, mengunyahnya dengan berisik):

"Penasihat." Kata lain yang menarik. Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari Plato yang saya temui di perpustakaan yang bocor, penasihat yang baik adalah orang yang memberikan alternatif, bukan orang yang hanya mengatakan "ya." Penasihat yang baik adalah orang yang berani berbeda pendapat, bukan orang yang selalu setuju. Pertanyaan saya kepada Bapak berdua: kapan terakhir kali Bapak berdua mengatakan "tidak" kepada Bapak Presiden?
 

Ali dan Soedjono saling bertukar pandang. Tidak ada yang menjawab.


Togog (tertawa kecil):

Tidak perlu menjawab. Saya sudah tahu jawabannya. Dan di situlah masalahnya. ASPRI bukan lagi "asisten pribadi." ASPRI sudah menjadi... bagaimana ya... dalam filsafat politik, ada istilah "shadow government", pemerintahan bayangan. Sebuah struktur informal yang memiliki kekuasaan lebih besar daripada struktur formal. Menteri-menteri resmi harus minta izin kepada Bapak berdua sebelum menghadap Presiden. Jenderal-jenderal harus melapor dulu sebelum mengambil keputusan. Proyek-proyek miliaran rupiah harus mendapat "restu" dari ruangan ini. Apakah itu "asisten"? Atau itu sebenarnya... pemerintah kedua?

Ali Moertopo (suaranya mulai meninggi, tanda bahwa ia terusik):

Itu fitnah! Kami hanya menjalankan perintah Bapak Presiden! Kami tidak membuat kebijakan sendiri!

Togog (menatap Ali dengan mata yang anehnya lembut):

"Hanya menjalankan perintah." Pak Ali, dalam filsafat etika, saya belajar ini dari pengadilan Nuremberg, itu adalah argumen yang sangat berbahaya. "Aku hanya menjalankan perintah" adalah pembelaan yang digunakan oleh semua penjahat perang. Pertanyaan saya: apakah Bapak tidak punya tanggung jawab moral sendiri? Apakah semua keputusan yang Bapak ambil, penangkapan aktivis, pembungkaman pers, manipulasi pemilu, semuanya atas perintah Bapak Presiden? Atau Bapak juga punya inisiatif sendiri?

Soeharto (angkat bicara, suaranya masih tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam nadanya, mungkin rasa ingin tahu, mungkin juga rasa terancam):

Togog, kau menuduh orang-orangku melakukan kejahatan. Itu tuduhan yang berat.

Togog (membungkuk sedikit ke arah Soeharto, gestur yang setengah menghormat, setengah mengejek):

Saya tidak menuduh, Pak Presiden. Saya bertanya. Ada perbedaan besar antara tuduhan dan pertanyaan. Tuduhan adalah pernyataan. Pertanyaan adalah... yah, pertanyaan. Dan dalam filsafat sains, saya belajar ini dari Karl Popper yang saya temui di mimpi, ilmu pengetahuan dimulai dari pertanyaan, bukan dari jawaban. Saya hanya ingin tahu: apakah ASPRI ini benar-benar "pembantu," atau sudah menjadi "pemerintah kedua"?

Soedjono Hoemardhani:

ASPRI adalah struktur yang diperlukan untuk efisiensi pemerintahan. Tanpa ASPRI, Bapak Presiden akan terlalu sibuk dengan detail-detail kecil.

Togog (bertepuk tangan pelan):

"Efisiensi!" Kata favorit semua birokrat. Dalam filsafat ekonomi, efisiensi memang penting. Tapi ada jenis efisiensi yang disebut "efisiensi tirani", di mana keputusan bisa dibuat dengan cepat karena tidak ada yang berani membantah. Pertanyaan saya: apakah efisiensi ASPRI adalah efisiensi yang sehat, atau efisiensi tirani?


Negeri Liliput dan Dua Pemerintahan


Togog (berdiri, berjalan ke arah peta Indonesia yang tergantung di dinding):

Bapak Presiden, Bapak Ali, Bapak Soedjono. Izinkan saya bercerita. Dalam filsafat budaya, saya belajar ini dari seorang dalang wayang yang juga tukang pijat, setiap bangsa memiliki cerita tentang dirinya sendiri. Cerita itu penting karena ia membentuk identitas. Nah, sekarang, apa cerita Indonesia saat ini?


Togog menunjuk peta.


Togog:

Secara resmi, ceritanya adalah: Indonesia adalah negara kesatuan dengan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Presiden dibantu oleh kabinet yang terdiri dari menteri-menteri. Itu cerita yang tertulis di konstitusi. Tapi di balik cerita resmi itu, ada cerita lain. Cerita yang lebih gelap. Cerita tentang sebuah kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang yang memiliki akses langsung ke Presiden. Mereka tidak dipilih. Mereka tidak diangkat secara resmi. Tapi mereka memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada menteri-menteri yang dipilih dan diangkat secara resmi. Dalam literatur politik, ini disebut "deep state", negara dalam negara.

Ali Moertopo (berdiri, wajahnya merah):

Itu omong kosong! Saya tidak akan mendengarkan ini lebih lama lagi!

Togog (menatap Ali dengan senyum yang anehnya menenangkan):

Pak Ali, dalam filsafat psikologi, saya belajar ini dari Sigmund Freud yang saya temui di mimpi, kemarahan seringkali adalah tanda bahwa seseorang sedang mempertahankan sesuatu yang ia tahu salah. Pertanyaan saya: kenapa Bapak marah? Apakah karena saya berbohong, atau karena saya mengatakan kebenaran yang tidak ingin Bapak dengar?

Soeharto (mengangkat tangan, memberi isyarat agar Ali duduk):

Duduk, Ali. Biarkan dia bicara. Aku ingin mendengar apa lagi yang akan dikatakannya.

Togog (membungkuk hormat ke arah Soeharto):

Terima kasih, Pak Presiden. Dalam filsafat perang, saya belajar ini dari Clausewitz, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengarkan, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Bapak membuktikan diri sebagai pemimpin yang baik dengan membiarkan saya bicara. Tapi justru karena itulah saya harus jujur. Bapak, ASPRI itu seperti negara "bayangan." Negeri ini, sebut saja Negeri Liliput, sekarang punya dua pemerintahan: Presiden-Kabinet dan Presiden-ASPRI. Mana yang dipakai?

Soedjono Hoemardhani:

Itu dilema palsu. ASPRI tidak membuat kebijakan sendiri. Semua keputusan tetap ada di tangan Bapak Presiden.

Togog (mengedipkan mata ke arah Soedjono):

"Semua keputusan tetap ada di tangan Bapak Presiden." Benarkah? Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari Machiavelli yang saya temui di perpustakaan penjara, penguasa seringkali adalah orang yang paling tidak tahu apa yang terjadi di kerajaannya sendiri. Ia dikelilingi oleh penasihat yang menyaring informasi. Ia hanya mendengar apa yang ingin didengar oleh penasihatnya. Pertanyaan saya: apakah Bapak Presiden benar-benar membuat semua keputusan, atau Bapak hanya menandatangani keputusan yang sudah dibuat oleh ASPRI?

Soeharto (menatap Togog dengan mata yang sulit dibaca, mungkin marah, mungkin penasaran, mungkin juga... takut):

Kau mempertanyakan kepemimpinanku, Togog.

Togog (menunduk, suaranya tiba-tiba menjadi serius, tanpa humor, tanpa satire):

Tidak, Pak. Saya tidak mempertanyakan kepemimpinan Bapak. Saya mempertanyakan sistem yang Bapak bangun. Ada perbedaan. Kepemimpinan Bapak mungkin kuat. Tapi sistem yang bergantung pada satu orang dan lingkaran kecil di sekelilingnya adalah sistem yang rapuh. Ia bisa berjalan dengan baik sekarang, ketika Bapak masih berkuasa. Tapi apa yang akan terjadi ketika Bapak sudah tidak ada? Siapa yang akan mengambil alih? Apakah akan terjadi perang saudara antara faksi-faksi yang Bapak ciptakan?


Bukan Amarta atau Astina

Togog (berjalan ke jendela, menatap ke luar, ke arah Jakarta yang mulai gelap):

Bapak Presiden, Bapak orang Jawa. Bapak pasti kenal dengan cerita wayang. Dalam cerita wayang, ada kerajaan Amarta yang dipimpin oleh Pandawa. Ada kerajaan Astina yang dipimpin oleh Kurawa. Keduanya adalah kerajaan yang dipimpin oleh raja-raja yang didampingi oleh penasihat-penasihat setia. Tapi Bapak, Indonesia bukan Amarta. Indonesia bukan Astina.

Soeharto (tertarik dengan analogi wayang, ini adalah bahasa yang ia pahami):

Lalu apa?

Togog (berbalik, menatap Soeharto langsung ke matanya, sesuatu yang jarang dilakukan orang):

Indonesia adalah Negeri Liliput, Pak. Negeri yang isinya bukan wayang-wayang yang bisa digerakkan oleh dalang. Negeri yang isinya manusia, manusia yang bisa berpikir mandiri. Terutama kaum intelektualnya. Terutama mahasiswanya. Mereka tidak bisa diatur seperti wayang. Mereka akan bertanya. Mereka akan mengkritik. Mereka akan menuntut pertanggungjawaban. Dan jika Bapak terus mempertahankan ASPRI sebagai "negara dalam negara," mereka akan semakin keras bertanya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan berhenti sampai Bapak menjawabnya.

Ali Moertopo (suaranya dingin, penuh ancaman terselubung):

Kami bisa menangani mahasiswa. Itu tugas saya.

Togog (menatap Ali dengan mata yang tiba-tiba sangat tajam):

"Menangani." Kata yang menarik. Dalam filsafat militer, saya belajar ini dari seorang jenderal yang kalah perang, ada banyak cara untuk "menangani" oposisi. Ada cara yang lembut: dialog, negosiasi, kompromi. Ada cara yang keras: penangkapan, penyiksaan, pembunuhan. Pertanyaan saya: cara mana yang Bapak gunakan untuk "menangani" mahasiswa?

Ali Moertopo (terdiam. Rahangnya mengencang. Tapi ia tidak menjawab.)

Togog (mengangguk pelan, seolah-olah ia sudah tahu jawabannya):

Saya tidak butuh jawaban, Pak Ali. Saya sudah tahu. Seluruh negeri ini tahu. Hanya saja tidak ada yang berani mengatakannya. Dalam filsafat etika, ada konsep "keheningan yang mematikan", ketika semua orang tahu bahwa sesuatu salah, tapi tidak ada yang berani berbicara. Keheningan itu adalah tanah yang subur bagi tirani. Dan ASPRI, Pak, adalah salah satu mesin yang menciptakan keheningan itu.

Soedjono Hoemardhani:

Togog, kau terlalu menyederhanakan. Pemerintahan itu kompleks. Kami tidak bisa hanya mengandalkan struktur formal. Ada hal-hal yang harus diselesaikan secara informal.

Togog (tersenyum lebar):

"Diselesaikan secara informal." Dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari seorang pedagang kakilima yang ditertibkan, "informal" seringkali adalah kode untuk "di luar hukum." Proyek-proyek yang diberikan tanpa tender. Izin-izin yang dikeluarkan tanpa prosedur. Keputusan-keputusan yang dibuat tanpa transparansi. Pertanyaan saya: berapa banyak "penyelesaian informal" yang sebenarnya adalah korupsi terselubung?

Soeharto (berdiri, berjalan ke arah Togog, suaranya pelan tapi penuh tekanan):

Togog, kau sudah terlalu jauh. Aku menghormati keberanianmu. Tapi kau harus tahu bahwa ada batas-batas yang tidak boleh dilewati.

Togog (tidak mundur, tidak takut, menatap Soeharto dengan mata yang anehnya penuh hormat, seperti seorang guru yang menatap muridnya yang keras kepala):

Bapak Presiden, dalam filsafat perang saudara, saya belajar ini dari membaca sejarah kejatuhan semua rezim otoriter, batas yang paling berbahaya adalah batas antara kekuasaan dan kebijaksanaan. Kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan menghancurkan dirinya sendiri. ASPRI adalah alat kekuasaan. Tapi ia bukan alat kebijaksanaan. Ia adalah alat untuk mempertahankan kontrol. Dan kontrol yang terlalu ketat, seperti karet yang diregangkan terlalu keras, suatu saat akan putus.


Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab


Soeharto (kembali ke kursinya, duduk, menatap Togog dengan ekspresi yang sulit dibaca, mungkin lelah, mungkin juga berpikir):

Jadi apa maumu, Togog? Kau mau aku membubarkan ASPRI?

Togog (menggeleng):

Saya tidak meminta apa-apa, Pak. Saya hanya bertanya. Dan pertanyaan terakhir saya adalah ini: Bapak Presiden, dalam filsafat ketuhanan, saya belajar ini dari seorang sufi yang menjual madu di pinggir jalan, setiap pemimpin akan diadili oleh sejarah. Bukan oleh para pendukungnya yang meneriakkan "Hidup Pak Harto!" Tapi oleh generasi yang belum lahir, yang akan membaca buku-buku sejarah dan bertanya: "Apa yang dilakukan oleh Soeharto ketika ia berkuasa?"

Pertanyaan saya: apa yang Bapak ingin mereka baca? Apakah Bapak ingin mereka membaca tentang Presiden yang membangun jembatan dan bendungan, tapi juga membangun penjara bagi para pengkritiknya? Tentang Presiden yang menaikkan pertumbuhan ekonomi, tapi juga menciptakan lingkaran elit yang memperkaya diri sendiri? Tentang Presiden yang didampingi oleh ASPRI, sebuah institusi bayangan yang tidak tertulis dalam konstitusi, tapi mengendalikan segalanya?

Atau Bapak ingin mereka membaca tentang Presiden yang, pada suatu sore di tahun 1972, setelah berbicara dengan seorang badut aneh bernama Togog, memutuskan untuk membubarkan ASPRI dan mengembalikan kekuasaan kepada institusi-institusi yang sah?

Ali Moertopo (berdiri lagi, kali ini benar-benar marah):

Cukup! Bapak Presiden, saya tidak bisa mentolerir penghinaan ini!

Togog (menatap Ali dengan senyum yang anehnya sedih):

Pak Ali, dalam filsafat psikologi, orang yang paling marah adalah orang yang paling tahu bahwa lawannya benar. Saya tidak menghina Bapak. Saya menawarkan Bapak kesempatan untuk dikenang sebagai negarawan, bukan sekadar sebagai operator politik.

Soedjono Hoemardhani:

Togog, kau ini siapa sebenarnya? Kenapa kau peduli dengan semua ini?

Togog (berdiri, merapikan pakaiannya yang lusuh, bersiap untuk pergi):

Saya? Saya hanyalah badut, Pak. Badut yang kebetulan suka membaca filsafat. Saya tidak punya kekuasaan. Saya tidak punya uang. Saya tidak punya pengaruh. Tapi saya punya sesuatu yang lebih berharga dari semua itu: saya punya suara. Dan selama saya masih bisa berbicara, saya akan terus bertanya. Kepada Bapak Presiden. Kepada Bapak Ali. Kepada Bapak Soedjono. Kepada siapa pun yang memiliki kekuasaan. Karena dalam filsafat pemerintahan, kekuasaan yang tidak dipertanyakan adalah kekuasaan yang korup. Dan saya tidak ingin negeri ini menjadi negeri yang korup.
 

Togog berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.


Togog:

Oh ya, satu hal lagi. Tentang Negeri Liliput tadi. Bapak tahu, dalam cerita wayang, Togog adalah punakawan yang selalu setia pada tuannya. Tapi Togog juga selalu mengatakan kebenaran, meskipun kebenaran itu pahit. Itulah perbedaan antara Togog dan penjilat. Penjilat mengatakan apa yang ingin didengar oleh tuannya. Togog mengatakan apa yang perlu didengar oleh tuannya. Dan Bapak Presiden, Bapak dikelilingi oleh terlalu banyak penjilat. Mungkin sudah waktunya Bapak mendengarkan Togog.

Selamat sore, Bapak Presiden. Selamat sore, Bapak Ali. Selamat sore, Bapak Soedjono. Hehehe.


Togog keluar. Pintu tertutup. Ruangan itu hening. Soeharto, Ali, dan Soedjono saling bertukar pandang. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bisa berbicara.


Apa yang Terjadi Kemudian?


Sejarah mencatat bahwa ASPRI tidak langsung dibubarkan setelah pertemuan itu. Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani tetap melanjutkan pekerjaan mereka, membangun kerajaan bisnis dan politik yang semakin luas. Mahasiswa terus berdemonstrasi. Kritik terus berdatangan.

Namun, pada tahun 1974, terjadi Peristiwa Malari, demonstrasi mahasiswa terbesar sejak 1966, yang mengguncang rezim Orde Baru. Salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah pembubaran ASPRI. Mereka menyebutnya sebagai "junta militer" dan "negara dalam negara." Soeharto, yang selalu sensitif terhadap tekanan massa, akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan: ia membubarkan ASPRI.

Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani kehilangan jabatan formal mereka. Tapi tentu saja, mereka tidak kehilangan pengaruh. Dalam politik, kekuasaan tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya berubah bentuk. Ali Moertopo terus bermain di belakang layar, menjadi arsitek berbagai manuver politik. Soedjono Hoemardhani terus mengendalikan jaringan bisnisnya yang luas. ASPRI mungkin sudah bubar secara resmi, tapi ruhnya tetap hidup, dalam bentuk yang berbeda, dengan nama yang berbeda: SPRI.

Apakah Togog berhasil? Mungkin. Mungkin tidak. Dalam filsafat sejarah, keberhasilan dan kegagalan adalah konsep yang terlalu sederhana untuk menggambarkan kompleksitas realitas. Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan Togog terus bergema. Tentang kekuasaan bayangan. Tentang pemerintahan informal. Tentang lingkaran elit yang mengendalikan segalanya. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar dijawab. Ia hanya tertunda, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.

Dan Togog? Togog terus berkeliaran. Dari istana ke jalanan. Dari Jakarta ke pelosok desa. Selalu muncul di saat-saat krisis. Selalu bertanya. Selalu menyindir. Selalu menertawakan, meskipun tawanya seringkali pahit.

Karena dalam filsafat perang saudara, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat sejarah berulang, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain bertanya: "Apakah kau yakin?"


Narasumber

Crouch, Harold. The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1978.

Elson, R.E. Suharto: A Political Biography. Cambridge: Cambridge University Press, 2001.

Jenkins, David. Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics, 1975-1983. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1984.

Liddle, R. William. "Suharto's Indonesia: Personal Rule and Political Institutions." Pacific Affairs, vol. 58, no. 1, 1985, pp. 68-90.

Mas'oed, Mochtar. Ekonomi dan Struktur Politik: Orde Baru 1966-1971. Jakarta: LP3ES, 1989.

Suryadinata, Leo. Golkar dan Militer: Studi tentang Elite Politik Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1992.

Wibisono, Christianto. Penjagal dan Penyelamat: Kisah di Balik Kemelut Ekonomi Indonesia. Jakarta: Gramedia, 2008.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Bawah Bayang Sang Proklamator, Rekonstruksi Dialog Imajiner Tan Malaka, Sukarno, dan Togog 1942–1949

Saya, mempersembahkan rekonstruksi imajiner ini sebagai sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali dialog-dialog yang mungkin pernah terjadi antara dua tokoh paling kompleks dalam sejarah Republik Indonesia: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka dan Ir. Sukarno. Pertemuan mereka bukanlah pertemuan biasa. Ia adalah benturan dua arus besar pemikiran kebangsaan, Marxisme kerakyatan versus Nasionalisme populis, gerilya intelektual versus diplomasi panggung, "Merdeka 100 Persen" versus "Pancasila".

Di Ujung Jurang Revolusi, Rekonstruksi Dialogi Tan Malaka Musso, Amir, dan Togog Menjelang Madiun 1948

Peristiwa Madiun 1948 adalah salah satu luka paling dalam dan paling gelap dalam sejarah Republik yang baru lahir. Sering dianggap sebagai "pemberontakan PKI", peristiwa ini menewaskan ribuan orang dan mengoyak persatuan nasional di tengah Agresi Militer Belanda. Namun, yang sering terlupakan adalah bahwa Partai Komunis Indonesia sendiri, di bawah pimpinan Musso yang baru kembali dari Moskow, terbelah. Di luar PKI, ada seorang tokoh yang sudah lama memperingatkan bencana ini: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka.