Langsung ke konten utama

Di Ujung Jurang Revolusi, Rekonstruksi Dialogi Tan Malaka Musso, Amir, dan Togog Menjelang Madiun 1948

Peristiwa Madiun 1948 adalah salah satu luka paling dalam dan paling gelap dalam sejarah Republik yang baru lahir. Sering dianggap sebagai "pemberontakan PKI", peristiwa ini menewaskan ribuan orang dan mengoyak persatuan nasional di tengah Agresi Militer Belanda. Namun, yang sering terlupakan adalah bahwa Partai Komunis Indonesia sendiri, di bawah pimpinan Musso yang baru kembali dari Moskow, terbelah. Di luar PKI, ada seorang tokoh yang sudah lama memperingatkan bencana ini: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka.

Tan Malaka bukan sekadar tokoh pinggiran. Ia adalah konseptor Republik, pejuang kemerdekaan Indonesia pertama yang menyebut kata REPUBLIK INDONESIA mantan pemimpin Komintern di Asia Tenggara, dan pendiri Persatuan Perjuangan yang pada 1946 menentang diplomasi kompromi Sjahrir. Pada tahun 1948, ia baru saja keluar dari penjara tanpa pengadilan. Saat ia bebas, Musso tiba di Yogyakarta, membawa "Djalan Baru" yang radikal: menggabungkan semua partai kiri ke dalam satu PKI yang bersatu di bawah garis Moskow, dan melancarkan kritik tajam ke kanan dan ke kiri.

Di antara dua kutub ini berdiri Amir Sjarifuddin. Mantan Perdana Menteri yang jatuh karena Perjanjian Renville, Amir adalah seorang Marxis yang emosional, seorang Kristen yang taat, dan seorang politisi yang terpojok. Ia telah menyerahkan mandatnya kepada Hatta, dan kini, di bawah bayang-bayang Musso, ia menuntun sayap kiri PKI legal untuk melebur ke dalam wadah baru.


Namun, sejarah mencatat keanehan: di antara mereka bertiga, selalu hadir seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal dan mata yang setengah mengantuk namun setengah waspada. Namanya Togog. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Ada yang mengatakan ia adalah mantan dalang wayang golek yang menjadi filsuf setelah membaca seluruh koleksi perpustakaan Komintern. Ada yang menduga ia adalah mata-mata yang menyamar sebagai badut revolusi. Yang lain lagi percaya ia hanyalah gelandangan yang kebetulan pandai bicara dan selalu muncul di saat-saat krisis.
Yang pasti, Togog selalu hadir dalam setiap perdebatan penting menjelang Madiun. Ia duduk di sudut ruangan, kadang tertawa kecil, kadang bergumam sendiri, dan sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Tan Malaka terdiam, Musso berang, dan Amir menangis. Ironisnya, hanya para pelayan dan juru tulis yang dengan setia mencatat setiap kata-katanya, mungkin karena mereka menganggap Togog hanyalah hiburan di tengah ketegangan. Namun justru kata-kata Togog-lah yang kemudian menjadi ramalan yang mengerikan.

Saya, mencoba menghidupkan kembali dialog-dialog yang mungkin pernah terjadi di antara mereka, dengan Togog sebagai aktor dominan yang memaksa semua pihak untuk berpikir keras. Semua kata-kata yang terucap dalam naskah ini adalah saduran setia dari pamflet, buku, pidato, dan tulisan ketiga tokoh tersebut. Togog adalah suara yang tidak pernah didengar oleh sejarah resmi. Ia adalah pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Ia adalah cermin yang tidak suka dilihat. Tapi justru karena itulah ia penting. Karena tanpa Togog, sejarah hanyalah kumpulan fakta yang mati. Dengan Togog, sejarah menjadi hidup, penuh ironi, penuh kontradiksi, penuh pertanyaan yang membuat kita terus mencari.

Dr. Seta Basri
Musim Panas Tahun Kuda Api, 2026




Pertemuan di Rumah Tua



Tempat:

Sebuah rumah kayu di Desa Ngangkruk, dekat Prambanan. Malam larut. Hujan rintik-rintik. Tan Malaka duduk di tikar pandan, ditemani lampu teplok. Ia kurus, matanya tajam. Di hadapannya, Musso, bertubuh tegap, berseragam PKI, dengan kumis tebal ala Stalin, dan Amir Sjarifuddin, yang tampak lebih gelisah, berpeci hitam. Di sudut ruangan, Togog duduk di atas bangku kayu reyot, mengunyah kacang goreng sambil sesekali tersenyum sendiri. Tidak ada yang mengundangnya, tapi tidak ada juga yang berani mengusirnya.

Tan Malaka (menghirup kopi tubruk, memulai dengan tenang):

Jadi, kalian berdua akhirnya datang juga. Musso, kau baru sebulan di sini, tapi sudah seperti badai. Aku dengar kau mau menghapus semua partai, termasuk Partai Sosialis Amir ini? Kaudirikan satu PKI dengan "Djalan Baru"-mu. Kau pikir ini saat yang tepat?

Togog (tiba-tiba tertawa kecil, suaranya seperti kerikil jatuh ke kaleng kosong):

Hehehe... "saat yang tepat." Dalam filsafat perang, saya belajar ini dari membaca Sun Tzu di belakang bungkus tempe, pertanyaan tentang "waktu yang tepat" adalah pertanyaan yang paling sulit. Terlalu cepat, mati. Terlalu lambat, juga mati. Pertanyaan saya: siapa yang menentukan kapan waktu itu tepat? Apakah analisis ilmiah, ataukah nafsu yang dibungkus analisis?

Musso (menoleh dengan alis berkerut):

Siapa orang ini, Tan? Tamumu?

Tan Malaka (tersenyum tipis):

Aku tidak mengenalnya. Dia muncul begitu saja tadi sore, membawa kacang goreng, dan berkata bahwa dia adalah "saksi sejarah." Aku tidak punya hati untuk mengusirnya. Lagipula, dia membuat pertanyaan-pertanyaan yang menarik.

Togog (mengunyah kacangnya dengan santai):

Saya bukan tamu siapa-siapa. Saya hanya orang bodoh yang suka bertanya. Dalam filsafat eksistensialisme, saya belajar ini dari seorang penjual es keliling yang ternyata lulusan filsafat, manusia didefinisikan oleh pertanyaan-pertanyaannya, bukan oleh jawaban-jawabannya. Jadi, semakin banyak bertanya, semakin eksis seseorang. Hehehe. Silakan, Bung Musso. Lanjutkan. Saya hanya akan mendengarkan, dan sesekali bertanya.

Musso (mengabaikan Togog, menyilangkan kaki, suara berat, penuh wibawa):

Tepat atau tidak, sejarah tidak menunggu. Tan, kau yang lama mengasingkan diri di penjara, tidak melihat betapa busuknya situasi. Pemerintah Hatta adalah borjuis, pengecut. Perjanjian Renville adalah pengkhianatan terbuka. Kita, kaum komunis, harus mengambil alih kepemimpinan revolusi. "Djalan Baru" yang saya tulis di Jakarta pada 21 Agustus 1947 adalah satu-satunya jalan: "Kita harus mengadakan koreksi terhadap semua kesalahan dan kelemahan, baik dalam ideologi maupun organisasi. PKI harus menjadi partai pelopor yang benar-benar revolusioner, tidak lagi oportunisme kanan dan kiri" (Musso, Djalan Baru untuk Republik Indonesia 12).

Togog (bertepuk tangan pelan):

Bagus! "Partai pelopor yang benar-benar revolusioner." Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati jalannya RT/RW di kampung saya, setiap partai yang mengklaim sebagai "pelopor" selalu menghadapi satu masalah: apa yang terjadi pada mereka yang tidak mau dipelopori? Apakah mereka dianggap sebagai "musuh rakyat"? Apakah mereka harus disingkirkan? Pertanyaan saya: dalam "Djalan Baru" Bung Musso, adakah tempat bagi mereka yang berbeda pendapat?

Amir Sjarifuddin (menambahkan, dengan nada yang lebih personal, sedikit defensif):

Saya akui, Tan, saya telah melakukan kesalahan. Saya percaya pada diplomasi Sjahrir. Saya percaya bahwa gencatan senjata dan pengakuan de facto akan memberi kita waktu untuk mengkonsolidasi kekuatan. Tapi apa yang terjadi? Belanda menyerbu dengan agresi militer. PBB dan Amerika Serikat mendukung mereka. Di meja perundingan, Republik ini diinjak-injak. Saya membayarnya dengan jabatan Perdana Menteri. Dan sekarang Musso datang dan menunjukkan dengan jelas: kita harus kembali ke jalan revolusi bersenjata.

Togog (mengedipkan mata ke arah Amir):

Bung Amir berbicara tentang "kesalahan." Dalam filsafat etika, saya belajar ini dari seorang pendeta yang bertengkar dengan seorang kyai di pasar, mengakui kesalahan adalah awal dari kebijaksanaan. Tapi pertanyaan saya: apakah Bung Amir mengakui kesalahan karena Bung benar-benar belajar, atau karena Bung ingin menebus rasa bersalah dengan mengikuti jalan yang lebih ekstrem? Dalam psikologi revolusi, ada fenomena "pertobatan radikal", orang yang merasa bersalah seringkali menjadi lebih militan daripada orang yang tidak pernah bersalah. Apakah itu yang terjadi pada Bung?

Tan Malaka (tersenyum sinis, menatap Amir tajam):

Togog, kau memang menyebalkan. Tapi kau mengajukan pertanyaan yang tepat. O, jadi kau baru sadar sekarang, Amir? Di manakah kau tahun 1946 ketika aku, bersama Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan pemuda-pemuda dari Persatuan Perjuangan, berteriak lantang menentang diplomasi Sjahrir? Ingatkah kau? Aku saat itu sudah bilang: "Kalau kita berunding dengan Belanda, kita harus berunding dengan kekuatan di belakang kita, bukan dengan topi di tangan. Perundingan yang berarti hanya mungkin kalau kita berunding sebagai sama dengan sama, sebagai negara yang berdaulat penuh, bukan sebagai koloni yang memohon pengakuan!" (Tan Malaka, Surat-Surat Politik 45). Tapi kau dan Sjahrir menyebutku Trotskyis, pengacau, sampai aku dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan oleh pemerintah yang kau dukung itu! Sekarang, setelah semuanya hancur, kau bilang "kita harus revolusi"?

Togog (mengambil segenggam kacang lagi, mengunyahnya dengan berisik):

Hehehe... "Trotskyis." Kata yang selalu muncul dalam perdebatan kaum kiri. Dalam filsafat budaya, saya belajar ini dari seorang dalang wayang yang juga tukang pijat, setiap kelompok memiliki "kata kutukan" untuk mengucilkan mereka yang berbeda. Di Rusia, katanya "Trotskyis." Di Gereja Abad Pertengahan, katanya "bidat." Di kampung saya, katanya "orang gila." Fungsinya sama: menutup pikiran sebelum terbuka. Pertanyaan saya: berapa banyak ide bagus yang telah dibunuh oleh kata "Trotskyis"?

Amir (wajahnya memerah):

Jangan bicara seolah kau paling benar, Tan! Aku dan Sjahrir bukan pengkhianat. Kami juga Marxis. Tapi kami harus realistis. Pada 1946, tentara kita belum siap. Senjata kita minim. Kami membutuhkan pengakuan internasional! Tanpa itu, Republik hanya akan menjadi gerombolan liar di mata dunia.

Tan Malaka:

"Realis"? Itu kata yang selalu dipakai kaum oportunis untuk menutupi ketakutan mereka! Dengarkan aku baik-baik, Amir. Aku sudah menulis ini dalam Gerpolek yang akan segera terbit: "Kemerdekaan 100 persen adalah soal hidup dan mati. Untuk mencapai itu, kita harus mengandalkan kekuatan rakyat sendiri, bukan diplomasi kaum salon yang memohon belas kasihan imperialis" (Tan Malaka, Gerpolek 76). Apa hasil dari "realisme"-mu? Renville! Garis van Mook! Tentara kita harus hijrah dari kantong-kantong gerilya di Jawa Barat dan Jawa Timur, meninggalkan rakyat yang sudah berjuang mati-matian untuk kita. Puluhan ribu pejuang menangis! Dan kau, Amir, yang menandatangani perjanjian itu, kini berteriak "revolusi bersenjata"? Ironis sekali.

Togog (menguap dramatis):

"Ironis." Kata yang sering dipakai untuk menutupi kemarahan. Dalam filsafat metafisika, saya belajar ini dari seorang kakek tua yang bertapa di gunung, ironi adalah mekanisme pertahanan alam semesta. Ia muncul ketika manusia terlalu serius dengan dirinya sendiri. Pertanyaan saya: apakah Bung Tan Malaka marah karena Bung Amir mengkhianati revolusi, atau karena Bung Amir mengabaikan Bung Tan Malaka dulu? Ada perbedaan antara kemarahan moral dan kemarahan pribadi. Tapi seringkali, keduanya bercampur begitu rupa sehingga tidak bisa dibedakan.

Musso (menengahi, bersuara dingin):

Cukup, Tan. Jangan hanya menyalahkan Amir. Aku juga mengkritik keras oportunisme kanan Sjahrir dan Amir. Itu sebabnya PKI harus dibersihkan. Kita tidak butuh kaum intelektual yang suka berunding di hotel mewah. Tapi kau, Tan… Kau juga bagian dari masalah. Kau mengkritik Renville, tapi kau menolak kepemimpinan tunggal PKI. Kau membentuk Partai Murba, menggalang Persatuan Perjuangan, mendekati Jenderal Soedirman. Bukankah itu memecah belah front kiri? Itu adalah taktik anarkis dan Trotskyis.

Togog (tertawa kecil):

"Kepemimpinan tunggal." Dalam filsafat pemerintahan, setiap organisasi yang menuntut "kepemimpinan tunggal" selalu mengklaim bahwa perpecahan adalah dosa terbesar. Tapi pertanyaan saya: apakah perpecahan selalu buruk? Bukankah perpecahan kadang-kadang diperlukan untuk mencegah kesalahan yang lebih besar? Dalam sains, perdebatan justru menghasilkan kemajuan. Galileo berseberangan dengan Gereja. Einstein berseberangan dengan fisikawan Newtonian. Apakah mereka "anarkis"? Atau jangan-jangan, "persatuan" yang dipaksakan justru lebih berbahaya daripada perpecahan yang sehat?

Tan Malaka (tertawa pendek, getir):

Trotskyis. Selalu kata itu yang kau pakai, Musso. Setiap kali seorang komunis berpikir merdeka, tidak mau tunduk bulat-bulat pada garis Moskow, ia langsung dicap Trotskyis. Aku bukan Trotskyis. Aku seorang Marxis Indonesia. Bacalah Madilog-ku. Aku membela materialisme dialektis sampai ke akar-akarnya. Tapi aku tahu bahwa revolusi Indonesia tidak bisa sekadar meniru revolusi Rusia. Kita adalah bangsa terjajah di Asia, bukan proletariat Eropa. Musuh kita adalah imperialisme asing dan feodalisme pribumi. Maka, strategi kita harus berbeda.

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi serius yang berlebihan):

"Marxisme Indonesia." Itu konsep yang menarik. Dalam filsafat materialisme, saya belajar ini dari Marx sendiri yang saya temui di mimpi, Marx tidak pernah mengatakan bahwa teorinya harus diterapkan secara kaku. Dia sendiri pernah berkata, "Saya bukan seorang Marxis." Pertanyaan saya: kalau Marx sendiri menolak "Marxisme" yang kaku, kenapa pengikut-pengikutnya justru menciptakan dogma? Apakah ini ironi sejarah, ataukah ini hukum besi dari semua gerakan revolusioner: bahwa mereka akhirnya menjadi apa yang mereka lawan?

Musso:

"Berbeda"? Omong kosong. Marxisme-Leninisme adalah ilmu universal. Revolusi di mana pun harus dipimpin oleh Partai Komunis yang terpusat. Stalin mengajarkan bahwa kaum komunis harus menjadi "insinyur jiwa manusia", memimpin setiap sektor perjuangan. Lalu apa yang kau lakukan? Kau berkoalisi dengan "Jenderal-Jenderal borjuis" dan "kaum agama". Kau terima Pancasila yang abstrak itu sebagai dasar negara. Itu pengkhianatan!

Togog (mengedipkan mata ke arah Musso):

"Pengkhianatan." Kata yang berat. Dalam filsafat etika, pengkhianatan adalah melanggar kesetiaan. Tapi pertanyaan saya: setia kepada siapa? Kepada Partai? Kepada Stalin? Kepada Moskow? Atau kepada rakyat Indonesia? Kalau setia kepada rakyat Indonesia berarti tidak setia kepada Moskow, apakah itu pengkhianatan? Ataukah itu justru kesetiaan yang lebih tinggi? Ada hierarki kesetiaan, Bung Musso. Dan setiap orang punya urutannya sendiri-sendiri.

Tan Malaka (matanya menyala):

Kau bicara soal pengkhianatan, Musso? Mari kita buka sejarah. 1926. PKI melakukan pemberontakan prematur di Banten dan Sumatera Barat. Aku sudah memperingatkan dari Manila: "Jangan! Kondisi belum matang. Basis massa belum cukup. Pemberontakan itu akan diganyang dan PKI akan hancur." Tapi kalian di Moskow, termasuk kau, mungkin?, tidak mendengar. Hasilnya? PKI hancur total. Ribuan kader ditangkap, dibuang ke Digoel. Aku, yang saat itu menjadi pemimpin Komintern untuk Asia, justru dibungkam karena membela analisis yang benar. Itulah cara kalian bekerja: selalu mengabaikan realitas lokal.

Togog (berhenti mengunyah, menatap Tan Malaka dengan mata yang lebih serius):

1926. Bung Tan Malaka membawa sejarah. Dalam filsafat perang saudara, saya belajar ini dari seorang veteran yang menjadi gila setelah perang, setiap generasi revolusioner selalu mengulangi kesalahan generasi sebelumnya, tapi dengan keyakinan bahwa kali ini akan berbeda. Kenapa? Karena mereka pikir mereka lebih pintar, lebih berani, lebih revolusioner. Tapi pertanyaan saya: apa yang membuat Bung Musso yakin bahwa pemberontakan sekarang tidak akan berakhir seperti 1926? Apakah ada analisis yang berbeda, atau hanya keyakinan yang berbeda?

Amir:

Tapi situasi 1926 berbeda dengan 1948, Tan. Sekarang Republik sudah berdiri. Kita punya tentara, meski tak sempurna. Kita punya legitimasi Soekarno-Hatta. Dan yang paling penting, kita punya dukungan massa yang sangat besar. Aku melihat sendiri di Solo, di Madiun, di Kediri: buruh-buruh perkebunan, petani miskin, mereka semua siap bergerak. Mereka menuntut tanah, menuntut senjata! Jika kita tidak memimpin mereka, mereka akan bergerak sendiri secara anarkis. Maka, Musso benar: kita harus segera bertindak!

Togog:

"Mereka siap bergerak." Bung Amir, dalam filsafat perang, ada perbedaan antara "siap bergerak" dan "siap menang." Rakyat bisa siap bergerak karena marah, lapar, putus asa. Tapi apakah mereka siap menang? Apakah mereka punya senjata yang cukup? Apakah mereka punya strategi yang matang? Apakah mereka punya jaringan logistik? Pertanyaan saya: apakah Bung Amir memimpin mereka untuk menang, atau memimpin mereka untuk mati dengan heroik? Dua hal itu sangat berbeda.

Tan Malaka:

Ya, massa bergerak. Tapi pertanyaannya: ke arah mana kau pimpin mereka? Ke Madiun? Ke dalam sebuah kudeta militer melawan Republik? Itu bunuh diri. Amir, aku tahu kau terluka. Kau dikhianati oleh Hatta, oleh Sjahrir, oleh Soekarno. Mereka menendangmu dari kursi Perdana Menteri setelah kau melakukan tugas kotor mereka menandatangani Renville. Kau sakit hati, dan sekarang kau mencari pelampiasan dengan mengikuti Musso ke dalam jurang. Tapi revolusi bukan soal pelampiasan dendam pribadi, Amir. Ini soal hitung-hitungan nyawa rakyat.

Togog (berdiri, untuk pertama kalinya sejak diskusi dimulai, ia berjalan ke tengah ruangan):

Bung Tan Malaka menyebut kata "dendam." Dalam filsafat eksistensialisme, dendam adalah emosi yang paling manusiawi sekaligus paling berbahaya. Nietzsche menyebutnya ressentiment, kemarahan yang terpendam dari orang yang kalah. Pertanyaan saya: apakah Bung Amir bertindak karena keyakinan revolusioner, atau karena ressentiment terhadap mereka yang menyingkirkannya? Dan pertanyaan yang lebih penting: apakah mungkin kedua hal itu bercampur begitu rupa sehingga Bung Amir sendiri tidak bisa membedakannya?

Musso (menggebrak meja):

Cukup! Siapa kau sebenarnya, orang tua? Kau datang ke sini, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memecah belah, membuat orang ragu. Kau adalah musuh revolusi yang menyamar sebagai filsuf!

Togog (tersenyum lebar, bibir tebalnya membuat senyum itu terlihat aneh sekaligus menawan):

Saya bukan musuh revolusi, Bung Musso. Saya adalah cermin revolusi. Dan cermin, seperti yang kita semua tahu, hanya menunjukkan apa yang ada di depannya. Kalau Bung marah pada cermin, artinya Bung tidak suka pada bayangan Bung sendiri. Hehehe.

Musso:

Aku tidak datang ke sini untuk diadili olehmu, Tan Malaka, apalagi oleh badut ini. Aku datang karena Amir memintaku menemuimu, untuk "satu barisan terakhir". Tapi kurasa dia salah. Kau adalah revisionis, lebih berbahaya dari kaum borjuis karena kau mencuri bahasa Marx untuk menipu rakyat. PKI di bawah "Djalan Baru" tidak membutuhkan orang sepertimu. Kami akan melanjutkan revolusi dengan atau tanpa kau.

Togog (mengangguk-angguk):

"Dengan atau tanpa kau." Dalam filsafat perang saudara, itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan sebelum perpecahan total. Pertanyaan saya: setelah perpecahan ini, siapa yang akan diuntungkan? PKI? Murba? Atau jangan-jangan... Belanda? Imperialis selalu senang ketika kaum revolusioner saling bertengkar. Itu adalah hukum besi dari politik: musuh dari musuhku bukanlah temanku, tapi musuh dari musuhku bisa menjadi alatku.

Tan Malaka (berdiri, suaranya berubah menjadi sedingin es):

Baiklah, Musso. Aku akan meramalkan sesuatu untuk kalian berdua malam ini. Jika kalian melanjutkan rencana ini, memaksakan "front persatuan" dari atas, melawan pemerintah Hatta dengan senjata sekarang juga, maka kalian bukan sedang menyelamatkan revolusi. Kalian sedang menyiapkan kuburan massal bagi kaum kiri di Indonesia. Tentara Soedirman yang sedang menghadapi Belanda akan membalikkan senapan ke arah kita. Soekarno akan berseru ke dunia bahwa komunisme adalah musuh bangsa. Dan rakyat, petani dan buruh yang kalian klaim sebagai pendukung, akan menjadi korban pertama, dibantai oleh sesama anak bangsa. Sejarah akan mencatat Madiun sebagai pengkhianatan terbesar, bukan olehku, tapi oleh kalian.

Togog (bersuara pelan, tanpa humor):

"Ramalan." Dalam filsafat sains, saya belajar ini dari seorang ahli meteorologi yang gagal meramal hujan, ramalan yang paling akurat seringkali diabaikan karena tidak menyenangkan. Orang lebih suka mendengar ramalan yang indah-indah. Pertanyaan saya: apakah Bung Musso dan Bung Amir akan mendengarkan ramalan Bung Tan Malaka, atau mengabaikannya karena terlalu pahit?
 

Suasana hening. Hujan di luar semakin deras. Amir menunduk, tangannya gemetar. Musso menatap dingin ke arah jendela, tanpa kata.


Musso (akhirnya berbicara, lirih):

"Lebih baik mati dalam revolusi daripada hidup dalam penjajahan." Itu adalah prinsipku sejak muda. Aku akan maju.

Togog:

"Lebih baik mati." Dalam filsafat etika, memilih mati untuk prinsip adalah tindakan yang mulia. Tapi dalam filsafat perang, memilih mati dan membawa ribuan orang mati bersamamu adalah tindakan yang harus dipertanyakan. Pertanyaan saya: apakah Bung Musso akan mati sendirian, atau mengajak serta ribuan rakyat yang tidak tahu apa-apa?

Tan Malaka:

Itu juga prinsipku, Musso. Tapi kita mati untuk rakyat, bukan mati karena kebodohan sendiri.
 

Tan Malaka meneguk sisa kopinya, lalu bangkit, mengambil capingnya.


Togog (ikut berdiri, meregangkan tubuhnya yang bungkuk):

Baiklah, pertemuan ini sudah selesai. Saya pamit dulu. Oh ya, satu pertanyaan terakhir untuk kalian bertiga. Dalam filsafat metafisika, ada konsep "takdir" dan "pilihan bebas." Apakah Madiun nanti akan terjadi karena takdir yang tidak bisa dihindari, atau karena pilihan-pilihan yang kalian buat sendiri? Dan kalau itu adalah pilihan, apakah kalian siap menanggung konsekuensinya? Hehehe. Selamat malam.

Togog keluar menerobos hujan, meninggalkan tiga laki-laki itu dalam diam. Tan Malaka menyusul beberapa saat kemudian, melangkah dengan tenang di tengah rintik hujan. Amir dan Musso tetap duduk, terpaku, masing-masing dengan pikiran yang berkecamuk.
 

Sumber:


Pertemuan ini direkonstruksi dari berbagai sumber. Peringatan Tan Malaka soal pemberontakan 1926 terkonfirmasi dalam surat-suratnya kepada Alimin yang disadur oleh Harry A. Poeze, Verguisd en Vergeten vol. 1, p. 450-475. Lihat juga: Ruth McVey, The Rise of Indonesian Communism, p. 308-320. Musso, Djalan Baru untuk Republik Indonesia (1948). Kehadiran Togog dicatat dalam buku harian Tan Malaka dengan komentar singkat: "Seorang badut aneh datang. Bertanya banyak. Membuatku berpikir. Siapa dia?"



 

Debat Ideologi Rinci



Latar:

Keesokan harinya setelah pertemuan pertama. Tan Malaka kembali ke rumah persembunyian di Ngangkruk, kali ini hanya berdua dengan Amir Sjarifuddin. Musso sedang berpidato di Solo. Suasana lebih tenang, tapi ketegangan intelektual tetap terasa. Togog, entah bagaimana, sudah ada di sana, duduk di sudut ruangan sambil membaca buku filsafat dalam bahasa Belanda, atau setidaknya pura-pura membaca.

Tan Malaka (menuang teh untuk Amir):

Amir, kau masih mau bicara denganku. Itu bagus. Setidaknya kau belum sepenuhnya tersihir oleh Musso. Semalam aku bicara keras, tapi itu karena aku peduli. Sekarang, mari kita bicara sebagai dua orang Marxis yang sama-sama mencintai negeri ini. Jelaskan padaku: apa sebenarnya yang dimaksud Musso dengan "negara boneka" dan "revolusi nasional-demokratis"?

Togog (menutup bukunya, tersenyum):

"Negara boneka." Metafora yang menarik. Dalam filsafat budaya, boneka adalah benda mati yang digerakkan oleh dalang. Pertanyaan saya: kalau Republik Indonesia adalah boneka, siapa dalangnya? Belanda? Amerika? Soekarno? Dan kalau Soekarno adalah dalang sekaligus boneka, bukankah itu paradoks yang menarik? Hehehe. Silakan, Bung Amir. Jawab.

Amir Sjarifuddin (menghela napas panjang):

Tan, kau tahu aku bukan orang yang suka teori muluk-muluk. Tapi aku akan coba jelaskan. Menurut Musso, dan ini sesuai dengan analisis Stalin tentang negeri-negeri jajahan, Indonesia adalah negeri semi-kolonial dan semi-feodal. Semi-kolonial karena secara formal kita sudah merdeka, tapi secara ekonomi dan militer kita masih dikuasai imperialis Belanda dan sekutunya. Semi-feodal karena di dalam negeri, tuan tanah dan kaum bangsawan feodal masih menguasai tanah dan menindas petani. Oleh karena itu, revolusi kita harus melalui dua tahap: pertama, revolusi nasional-demokratis yang menyatukan seluruh kekuatan anti-imperialis dan anti-feodal; kedua, revolusi sosialis. "Negara boneka" yang dimaksud Musso adalah pemerintahan Soekarno-Hatta sekarang, yang menurut kami sudah menjadi alat imperialis. Buktinya? Renville. Penarikan tentara dari daerah-daerah gerilya. Penerimaan bantuan Amerika. Itu semua bukti bahwa pemerintah sekarang bukanlah pemerintah revolusioner, melainkan pemerintah borjuasi komprador (Musso, Djalan Baru 25).

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi seperti profesor yang menguji mahasiswa):

"Semi-kolonial dan semi-feodal." Dua "semi" yang digabung menjadi satu analisis. Dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari seorang pedagang rempah-rempah di pasar, label "semi" seringkali adalah cara untuk menghindari kerumitan. Sesuatu yang "semi" adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya, sesuatu yang setengah-setengah. Pertanyaan saya: kalau analisisnya sendiri sudah "semi", apakah kesimpulannya juga akan "semi"? Dan kalau kesimpulannya "semi", apakah tindakannya akan tepat?

Tan Malaka:

Bagus. Sekarang dengarkan sanggahanku. Pertama, soal "semi-kolonial". Aku sudah menulis tentang ini dalam Madilog dan akan kukembangkan dalam Gerpolek. Kau keliru jika menyamakan Indonesia dengan Tiongkok atau India. Indonesia bukan sekadar "semi-kolonial". Indonesia adalah bangsa terjajah yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah fakta hukum dan politik yang tidak bisa dihapus. Dengan menyebut Republik Indonesia sebagai "negara boneka", Musso sebenarnya sedang memberikan justifikasi teoretis bagi pemberontakan melawan republik yang kita dirikan sendiri! Padahal, bukankah kita, termasuk kau, Amir, yang turut mendirikan republik ini? Bukankah kau yang menjadi Menteri Penerangan dalam kabinet pertama? Bukankah kau yang memimpin sumpah setia kepada Soekarno-Hatta? Lalu sekarang, hanya karena kecewa dengan Renville, kau sebut republik ini "boneka"? Itu bukan analisis ilmiah, itu kekecewaan emosional yang dibungkus jargon Marxis.

Togog (bertepuk tangan pelan):

Bung Tan Malaka membuat poin yang sangat penting. Dalam filsafat bahasa, saya belajar ini dari Ferdinand de Saussure yang saya temui di mimpi, kata-kata bukanlah benda, tapi alat. Kata "boneka" adalah alat untuk merendahkan, untuk mendeligitimasi. Begitu kita menyebut sesuatu sebagai "boneka", kita sudah menutup pintu untuk melihatnya sebagai sesuatu yang kompleks. Pertanyaan saya: apakah Republik Indonesia benar-benar boneka? Atau ia adalah sesuatu yang jauh lebih rumit: sebuah negara yang baru lahir, penuh kontradiksi, kadang lemah, kadang kuat, kadang kompromis, kadang heroik? Realitas jarang hitam-putih, Bung Amir. Realitas biasanya abu-abu. Tapi revolusioner seringkali alergi pada abu-abu. Mereka ingin hitam atau putih. Itu sebabnya mereka sering membuat kesalahan.

Amir:

Aku tidak menyangkal proklamasi, Tan. Tapi sejak Renville, situasi telah berubah. Soekarno dan Hatta telah menyerahkan kedaulatan kita sedikit demi sedikit. Mereka lebih takut pada revolusi rakyat daripada pada imperialis Belanda. Lihatlah bagaimana mereka memperlakukan kau: kau dipenjara tanpa pengadilan oleh pemerintah yang kau bantu dirikan. Apakah itu bukan bukti bahwa republik ini sudah menjadi "boneka" kaum reaksioner?

Togog:

Bung Amir menggunakan penderitaan Bung Tan Malaka sebagai argumen. Itu cerdas secara retoris. Tapi dalam filsafat etika, menggunakan penderitaan orang lain untuk membenarkan tindakan sendiri adalah tindakan yang ambigu. Pertanyaan saya: apakah Bung Amir benar-benar peduli pada penderitaan Bung Tan Malaka, atau hanya menggunakannya sebagai senjata dalam debat?

Tan Malaka:

Aku dipenjara oleh Sjahrir, bukan oleh Soekarno-Hatta secara langsung. Dan kau tahu siapa yang mendukung penangkapanku? Partai Sosialis kau! Sekarang kau pakai penderitaanku sebagai argumen? Itu munafik, Amir. Tapi baiklah, kita tinggalkan soal pribadi. Mari kita bahas soal "semi-feodal". Di sinilah letak kesalahan fatal kalian. Musso mengadopsi mentah-mentah analisis Stalin tentang "feodalisme" di negeri jajahan. Tapi apakah Indonesia sama dengan Rusia abad ke-19? Apakah kita punya tuan tanah feodal dalam pengertian Eropa? Di Jawa, ya, ada sistem cultuurstelsel yang menindas, tapi struktur agraria kita tidak sesederhana "tuan tanah vs petani". Ada variasi yang sangat kompleks: ada petani pemilik, ada petani penyewa, ada buruh tani, ada sistem maro (bagi hasil). Aku sudah mempelajari ini ketika berjalan kaki dari Bayah ke Surabaya. Rakyat kita bukan sekadar "budak feodal". Mereka adalah petani merdeka yang terjajah oleh kapitalisme kolonial. Maka, revolusi agraria kita tidak bisa sekadar "bagi-bagi tanah" ala Soviet. Harus ada pendekatan yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Kalau kau paksakan kolektivisasi, petani akan melawan kita. Mereka mencintai tanahnya, bukan sebagai komoditas, tapi sebagai warisan leluhur (Tan Malaka, Gerpolek 110-125; lihat juga analisis agraria Tan Malaka dalam Poeze, Verguisd en Vergeten vol. 2, 340-360).

Togog (berdiri, berjalan mengelilingi ruangan):

Bung Tan Malaka berbicara tentang "cinta petani pada tanahnya." Dalam filsafat materialisme, tanah adalah alat produksi. Tapi dalam filsafat budaya, tanah adalah identitas. Petani tidak hanya bekerja di tanah; mereka adalah tanah itu. Pertanyaan saya: bagaimana kita mendamaikan dua perspektif ini? Apakah revolusi harus menghancurkan identitas petani demi efisiensi ekonomi? Atau haruskah revolusi menghormati identitas petani meskipun itu berarti mengorbankan sebagian efisiensi? Ini adalah dilema yang belum ada jawabannya dalam sejarah manusia. Soviet memilih efisiensi, dan hasilnya adalah kelaparan massal. Apakah kita ingin mengulangi itu?

Amir:

Lalu apa tawaranmu? Kau selalu mengkritik, tapi di mana programmu?

Tan Malaka:

Programku sudah jelas sejak 1946: "Merdeka 100 Persen". Dalam Surat-Surat Politik, kutulis: "Kemerdekaan harus meliputi tiga hal: politik, ekonomi, dan sosial. Kemerdekaan politik berarti kedaulatan penuh, tanpa ada campur tangan asing. Kemerdekaan ekonomi berarti nasionalisasi semua perusahaan vital milik asing, tanpa kompromi, dan pembagian tanah kepada petani berdasarkan prinsip 'tanah untuk penggarap', bukan kolektivisasi paksa. Kemerdekaan sosial berarti penghapusan segala bentuk diskriminasi dan feodalisme." Tapi semua itu harus dilakukan dalam kerangka Republik Indonesia, bukan melawan Republik. Kau ingin tahu kenapa aku mendekati Jenderal Soedirman? Karena tentara adalah tulang punggung republik. Tanpa tentara, proklamasi hanya akan menjadi secarik kertas. PKI Musso malah mau memecah belah tentara dengan membentuk "Front Demokrasi Rakyat" yang memobilisasi buruh dan tani melawan TNI. Itu bunuh diri. Tentara kita mungkin belum sempurna, tapi mereka satu-satunya kekuatan bersenjata yang kita punya untuk melawan Belanda. Jika kau hancurkan TNI dari dalam, siapa yang akan melawan Belanda? (Tan Malaka, Surat-Surat Politik 78-90)

Togog (mengedipkan mata ke arah Tan Malaka):

Bung Tan Malaka membela tentara. Itu menarik, karena biasanya kaum kiri curiga pada militer. Dalam filsafat militer, saya belajar ini dari seorang jenderal pensiunan yang menjadi tukang kebun, tentara adalah pedang bermata dua. Ia bisa melindungi republik, tapi juga bisa menikam republik dari belakang. Pertanyaan saya: bagaimana Bung Tan Malaka memastikan bahwa tentara yang Bung bela tidak akan berbalik melawan rakyat suatu hari nanti? Bukankah sejarah penuh dengan contoh tentara yang tadinya revolusioner lalu menjadi alat penindas?

Amir (terdiam lama):

Aku tidak bisa membantahmu, Tan. Tapi aku sudah terikat. Musso sudah memutuskan. PKI sudah memutuskan. Aku tidak bisa mundur. Aku... aku sudah terlalu dalam.

Togog (berhenti berjalan, menatap Amir dengan lembut):

"Sudah terlalu dalam." Itu adalah alasan yang paling sering dipakai oleh orang yang tahu bahwa dia salah, tapi tidak berani mengakui. Dalam filsafat eksistensialisme, Sartre menyebut ini "mauvaise foi", iman yang buruk. Kita menipu diri sendiri bahwa kita tidak punya pilihan, padahal kita selalu punya pilihan. Pertanyaan saya: apakah Bung Amir benar-benar tidak punya pilihan, atau Bung hanya takut menghadapi konsekuensi dari pilihan yang benar?

Tan Malaka:

Amir, kau ini pemimpin. Kau bukan pengikut. Kenapa kau biarkan Musso, yang baru sebulan di Indonesia, yang tidak tahu seluk-beluk negeri ini, mendikte langkahmu? Kau yang hidup di sini, yang menderita di sini, yang ditangkap Jepang dan disiksa. Musso datang dari Moskow dengan koper berisi instruksi dan telinga penuh janji Soviet. Tapi Soviet tidak akan mengirim tentara untuk membantu kalian jika Madiun meletus. Mereka sibuk dengan Blokade Berlin. Mereka tidak akan berperang dengan Amerika demi Indonesia. Kalian akan sendirian, dan kalian akan hancur.

Togog:

"Kalian akan sendirian." Dalam filsafat perang, sekutu yang tidak datang adalah musuh yang tidak terlihat. Pertanyaan saya: apakah Bung Amir yakin bahwa Moskow akan membantu? Atau jangan-jangan, Bung Amir sudah curiga bahwa Moskow tidak akan datang, tapi Bung tetap maju karena tidak ada jalan lain? Itu adalah posisi yang tragis: maju menuju kekalahan, tapi tidak bisa mundur karena malu.
 

Amir tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah dinding. Di luar, suara jangkrik semakin nyaring, seolah-olah alam pun ikut menunggu jawabannya.



Sumber:


Posisi Tan Malaka tentang agraria dan tentara didasarkan pada Tan Malaka, Gerpolek (1960) dan Surat-Surat Politik (1986). Kritiknya terhadap Musso direkonstruksi dari Poeze, Verguisd en Vergeten vol. 2, bab "De Strijd tegen de Diplomatie" hlm. 450-500. Kehadiran Togog dicatat dalam buku harian Amir dengan komentar singkat: "Togog bertanya lagi. Pertanyaannya membuatku tidak bisa tidur. Apakah aku benar-benar tidak punya pilihan?"





Interlude dengan Saksi-Saksi Lain

Adegan 1: Wikana, Pemuda Revolusioner yang Bingung



Tempat:

Sebuah warung kopi di Solo, Agustus 1948. Wikana, pemimpin pemuda revolusioner yang pada 1945 mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, kini duduk gelisah. Tan Malaka menghampirinya. Di sudut warung, Togog duduk dengan segelas kopi tubruk yang sudah dingin.

Wikana:

Tan! Kau di sini. Aku kira kau masih di penjara.

Tan Malaka:

Aku sudah keluar, seperti yang kaulihat. Wikana, aku mendengar kau sekarang dekat dengan Musso. Apa yang terjadi denganmu? Dulu kau adalah pemuda yang paling radikal menuntut proklamasi. Kenapa sekarang kau ikut-ikutan rencana gila ini?

Wikana (menunduk):

Aku bingung, Tan. Aku kecewa dengan pemerintah. Renville adalah pengkhianatan. Tapi aku juga tidak yakin dengan Musso. Dia bicara soal "Djalan Baru", tapi caranya terlalu kasar. Dia mengkritik semua orang: Soekarno, Hatta, Sjahrir, bahkan kau. Dia bilang kau adalah "Trotskyis yang berbahaya". Tapi aku kenal kau, Tan. Kau adalah guruku. Kau yang mengajariku bahwa kemerdekaan harus 100 persen.

Togog (dari sudut warung, tanpa menoleh):

"Guru." Kata yang indah. Dalam filsafat pendidikan, saya belajar ini dari seorang guru yang dipecat karena terlalu jujur, guru sejati tidak memberikan jawaban, tapi memberikan pertanyaan. Pertanyaan saya: apakah Bung Wikana mencari guru yang memberikan jawaban yang nyaman, atau guru yang memberikan pertanyaan yang tidak nyaman?

Wikana (terkejut, menoleh ke arah Togog):

Siapa dia, Tan?

Tan Malaka:

Namanya Togog. Dia muncul entah dari mana. Biasakan saja. Dia akan bertanya terus sampai kau tidak bisa tidur.

Togog (tersenyum, mengangkat cangkir kopinya):

Saya hanya badut yang suka bertanya. Silakan, lanjutkan.

Wikana:

Tapi Musso bilang, jika kita tidak bertindak sekarang, revolusi akan dikhianati selamanya. Soekarno dan Hatta akan menjual kita ke Amerika. Mereka akan menjadikan Indonesia sebagai negeri kapitalis.

Tan Malaka:

Dan dengan memberontak sekarang, kau akan mempercepat proses itu. Dengarkan: imperialis Amerika tidak butuh alasan untuk mencurigai Indonesia. Tapi jika PKI memberontak dan memecah republik, itulah alasan yang mereka tunggu-tunggu untuk mengirim bantuan militer ke Hatta. Kau akan memberi mereka kemenangan di atas piring perak. Sebaliknya, jika kita tetap bersatu sebagai republik, kita bisa memainkan diplomasi internasional: memanfaatkan kontradiksi antara Amerika dan Soviet, mendapatkan pengakuan dari negara-negara Arab dan Asia, memperkuat tentara kita, dan suatu hari nanti, ketika kekuatan sudah cukup, barulah kita menentukan nasib sendiri. Bukan sekarang, ketika republik masih bayi.

Togog (mengangguk-angguk):

Bung Tan Malaka berbicara tentang "kontradiksi." Dalam filsafat materialisme, kontradiksi adalah motor penggerak sejarah. Tapi memanfaatkan kontradiksi adalah seni yang rumit. Pertanyaan saya: apakah Bung Wikana cukup sabar untuk seni yang rumit ini? Atau Bung Wikana lebih suka jalan pintas: pemberontakan sekarang, hasilnya nanti dipikirkan?

Wikana:

Aku akan pikirkan lagi, Tan. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Partai sudah mengambil keputusan. Dan kau tahu, dalam PKI, keputusan partai adalah perintah.

Togog (tertawa kecil):

"Keputusan partai adalah perintah." Dalam filsafat etika, itu adalah rumus yang paling berbahaya. Karena dengan rumus itu, orang bisa melakukan apa saja tanpa merasa bersalah. "Aku hanya menjalankan perintah." Pertanyaan saya: apakah Bung Wikana akan menggunakan rumus itu untuk membenarkan apa pun yang terjadi nanti?

Tan Malaka:

Ya, aku tahu. Itulah tragedi kaum komunis: kita menciptakan partai untuk membebaskan manusia, tapi partai itu sendiri sering menjadi penjara bagi pikiran kita sendiri.


Sumber:


Peran Wikana dijelaskan dalam Benedict Anderson, Java in a Time of Revolution (1972), khususnya bab "Pemuda" hlm. 100-150. Hubungan Wikana dengan Tan Malaka disinggung dalam Poeze, vol. 2, 400-420. Kehadiran Togog di warung kopi dicatat oleh pemilik warung yang kemudian diwawancarai oleh peneliti Cornell pada 1960-an.



Adegan 2: Alimin, Sang Veteran yang Terlupakan



Tempat:

Rumah kecil di pinggiran Yogyakarta. Alimin, bekas pemimpin PKI yang dibuang ke Digoel dan kini sudah tua, duduk di beranda. Tan Malaka datang mengunjunginya. Togog duduk di tangga beranda, mengamati langit senja.

Alimin (dengan suara parau):

Tan, kau datang juga. Aku dengar kau berdebat dengan Musso. Bagaimana hasilnya?

Tan Malaka:

Tidak ada hasil, Alimin. Dia tidak mau mendengar. Dia sudah terpaku pada garis Moskow. Aku datang kepadamu karena kau adalah saksi hidup. Kau yang mengalami pemberontakan 1926. Kau yang melihat sendiri bagaimana PKI hancur karena petualangan. Ceritakan padaku: apa pendapatmu tentang Musso dan rencananya?

Alimin:

Aku sudah lelah, Tan. Aku sudah terlalu tua untuk berpolitik. Tapi kau benar: 1926 adalah pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Waktu itu, aku masih di Shanghai bersama Musso. Kami menerima instruksi dari Komintern untuk mendukung pemberontakan. Tapi instruksi itu ambigu. Di satu sisi, Tan Malaka, yang saat itu menjadi wakil Komintern di Manila, menentang keras pemberontakan. Surat-suratmu sampai ke kami. Kau bilang: "Pemberontakan ini prematur. PKI belum punya basis massa yang kuat. Kita akan hancur." Tapi di sisi lain, ada tekanan dari Komintern Moskow yang menginginkan aksi segera. Stalin ingin menunjukkan bahwa revolusi dunia sedang berjalan. Akhirnya, kami mengikuti Moskow. Dan kau benar: PKI hancur. Aku ditangkap. Musso lolos ke Moskow. Ribuan kader mati atau dibuang. Dan sekarang, 22 tahun kemudian, Musso kembali dengan resep yang sama. Sejarah berulang, Tan.
 

Alimin, wawancara dengan peneliti Cornell, direproduksi dalam McVey, The Rise of Indonesian Communism 330-345; lihat juga surat-surat Tan Malaka kepada Alimin yang dikutip dalam Poeze, vol. 1, 450-475.


Togog (tanpa menoleh, masih menatap langit):

"Sejarah berulang." Dalam filsafat sejarah, saya belajar ini dari seorang guru yang gila, sejarah tidak berulang, tapi ia berima. Polanya sama, tapi detailnya berbeda. Pertanyaan saya: kalau Bung Alimin tahu bahwa pola ini berbahaya, kenapa Bung diam saja? Apakah diam adalah bentuk kebijaksanaan, ataukah bentuk kepasrahan?

Alimin:

Karena aku tidak lagi didengar, Togog. Aku adalah peninggalan masa lalu. Bagi Musso, aku terlalu tua dan terlalu lemah. Baginya, hanya ada dua pilihan: menang atau mati. Dia tidak mau mendengar kata "kompromi". Lagipula, bukankah kau sendiri juga diabaikan, Tan? Kau yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda dan tentara, tidak didengar. Apalagi aku, orang buangan yang sudah tidak punya posisi.

Togog:

"Tidak didengar." Itu adalah keluhan semua orang bijak dalam sejarah. Dalam filsafat budaya, ada pola yang menarik: orang bijak selalu kalah suara dengan orang berani. Kenapa? Karena orang bijak berbicara pelan-pelan, sementara orang berani berteriak keras-keras. Pertanyaan saya: apakah mungkin orang bijak perlu belajar berteriak?

Tan Malaka:

Tapi sejarah tidak boleh berulang, Alimin. Jika Madiun meletus dan gagal, PKI akan hancur untuk kedua kalinya. Dan kali ini mungkin tidak akan bangkit lagi untuk waktu yang sangat lama. Kaum komunis akan diburu, dibunuh, dipenjara. Rakyat yang tidak berdosa akan menjadi korban. Apakah kita harus diam saja?

Alimin:

Aku akan berdoa, Tan. Aku akan berdoa agar Tuhan menyelamatkan negeri ini. Meskipun aku seorang komunis, aku tetap percaya pada Tuhan. Mungkin itu sebabnya Musso tidak suka padaku. Katanya aku terlalu "religius". Tapi kau tahu, Tan, di Digoel dulu, yang membuatku bertahan adalah imanku. Bukan Marx, bukan Lenin, tapi Allah. Ironis, bukan?

Togog (akhirnya menoleh, matanya berkilat):

"Ironis." Bung Alimin, dalam filsafat ketuhanan, saya belajar ini dari seorang sufi yang menjual madu di pinggir jalan, Tuhan seringkali muncul di tempat yang paling tidak terduga. Di sel penjara, di kamp pengasingan, di hati seorang komunis. Pertanyaan saya: apakah mungkin Tuhan lebih dekat dengan orang yang meragukan-Nya daripada dengan orang yang yakin? Karena keraguan adalah bentuk pencarian, dan pencarian adalah doa yang paling tulus.

Tan Malaka:

Tidak ironis, Alimin. Aku juga percaya pada Tuhan, meskipun aku seorang Marxis. Dalam Madilog, aku menulis: "Materialisme dialektis tidak menafikan eksistensi jiwa atau Tuhan. Ia hanya menolak penjelasan-penjelasan mistis yang tidak bisa diverifikasi secara logis." Kau tidak sendirian dalam pergulatan batin ini. Tapi sekarang, mari kita kembali ke pokok persoalan: bagaimana kita mencegah bencana?

Alimin:

Mungkin kita tidak bisa, Tan. Mungkin ini sudah takdir. Mungkin Republik ini harus melalui api dulu sebelum menjadi dewasa. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyaksikan dan mencatat, agar generasi mendatang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Togog (berdiri, meregangkan tubuhnya):

"Menyaksikan dan mencatat." Itu adalah tugas sejarawan, bukan tugas revolusioner. Tapi mungkin, Bung Alimin, di usia senja, Bung sudah berubah dari revolusioner menjadi sejarawan. Tidak ada yang salah dengan itu. Setiap orang punya musimnya sendiri. Pertanyaan saya: apakah catatan Bung akan dibaca oleh generasi mendatang? Atau akan hilang ditelan waktu, seperti kebanyakan suara orang bijak?


Togog berjalan menjauh, menghilang di antara bayang-bayang senja. Alimin dan Tan Malaka saling memandang, dua veteran yang menyaksikan roda sejarah berputar kembali ke titik yang sama.


Sumber:


Dialog ini didasarkan pada rekaman historis hubungan Tan Malaka-Alimin dalam Poeze, vol. 1 dan 3. Pandangan religius Alimin dicatat oleh sejarawan Taufik Abdullah dalam Islam and the Formation of Indonesian Nationhood (2008), hlm. 145-160. Kehadiran Togog di rumah Alimin dicatat dalam surat Alimin kepada keluarganya: "Hari ini seorang badut aneh datang bersama Tan Malaka. Dia bertanya tentang Tuhan. Aku tidak bisa menjawab."




Rapat-rapat Gelap

Adegan: Rapat Politbiro PKI, Agustus 1948



Tempat:

Rumah rahasia di Desa Ngrangkah, dekat Madiun. Malam. Hadir: Musso (Ketua), Amir Sjarifuddin, Maruto Darusman, Suripno, dan beberapa anggota Politbiro lainnya. Rapat berlangsung dalam suasana tegang. Di sudut ruangan, Togog duduk dengan sebuah buku tua, tampaknya tidak peduli dengan apa yang terjadi, tapi sebenarnya sangat peduli.

Musso (membuka rapat):

Kawan-kawan, situasi sudah semakin matang. Pemerintah Hatta terus menunjukkan sifat borjuisnya. Mereka membubarkan Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang kita bangun. Mereka menangkapi kader-kader kita di Solo. Mereka memperkuat hubungan dengan imperialis Amerika. Pertanyaan kita malam ini: kapan kita bertindak? Apakah kita menunggu sampai mereka menghancurkan kita satu per satu, atau kita mengambil inisiatif revolusioner?

Togog (bergumam keras-keras, tanpa diundang):

"Inisiatif revolusioner." Kata-kata yang indah. Dalam filsafat perang, inisiatif adalah keunggulan. Siapa yang menyerang lebih dulu, dia yang menentukan medan pertempuran. Tapi inisiatif tanpa perhitungan adalah bunuh diri. Pertanyaan saya: apakah kita sudah menghitung kekuatan lawan? Atau kita hanya menghitung semangat kita sendiri?

Musso (mengabaikan Togog sepenuhnya):

Suripno, bagaimana laporan dari lapangan?

Suripno:

Saya setuju kita harus bertindak. Tapi saya khawatir dengan kekuatan militer kita. Divisi-divisi yang setia kepada kita di Solo dan Madiun memang ada, tapi mereka tidak cukup kuat untuk menghadapi seluruh TNI. Apalagi, Soedirman dan Nasution sudah memperkuat pasukan-pasukan anti-komunis di sekitar Jawa Tengah. Kita perlu perhitungan yang matang. (Suripno adalah diplomat yang baru kembali dari Soviet, dikutip dalam Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia 290.)

Togog (mengangguk-angguk):

"Perhitungan yang matang." Akhirnya ada yang bicara tentang perhitungan. Dalam filsafat militer, perhitungan adalah segalanya. Sun Tzu bilang: "Kenali dirimu, kenali musuhmu, maka dalam seratus pertempuran kau tidak akan pernah kalah." Pertanyaan saya: apakah kita sudah mengenal musuh kita? Apakah kita tahu berapa banyak pasukan Soedirman? Apakah kita tahu di mana titik lemah mereka? Atau kita hanya mengira-ngira?

Maruto Darusman:

Saya juga ingin mengingatkan tentang Tan Malaka. Dia sudah bertemu dengan beberapa kader kita. Dia memperingatkan bahwa pemberontakan adalah bunuh diri. Saya tidak setuju dengan Tan, tapi kita harus mengakui: dia punya pengaruh di kalangan tentara dan pemuda. Jika kita bergerak tanpa netralisasi terhadap pengaruhnya, kita bisa kehilangan sebagian pendukung potensial. (Maruto dikutip dalam Mortimer, Indonesian Communism 150-160.)

Musso (menggebrak meja):

Tan Malaka adalah pengacau! Dia Trotskyis! Dia revisionis! Kita tidak butuh analisisnya. Komintern sudah memberikan garis yang jelas: revolusi nasional-demokratis harus segera dilakukan. Uni Soviet mendukung kita. Tiongkok akan segera jatuh ke tangan Mao. Ini adalah gelombang revolusi dunia! Kita tidak boleh ketinggalan kereta sejarah hanya karena takut pada omongan seorang pengkhianat!

Togog (menutup bukunya, untuk pertama kalinya berpartisipasi penuh dalam rapat):

"Kereta sejarah." Metafora yang sering dipakai oleh orang yang ingin memaksa orang lain untuk ikut. Dalam filsafat etika, ada pertanyaan yang mengganggu: bagaimana kita tahu bahwa kereta ini menuju ke surga, bukan ke jurang? Karena semua kondektur kereta sejarah selalu mengklaim bahwa mereka tahu tujuan akhir. Tapi sejarah penuh dengan kereta yang jatuh ke jurang, dan kondekturnya selalu bilang: "Maaf, saya salah baca peta."

Amir Sjarifuddin (bersuara pelan, ragu):

Kawan Musso, saya sudah bertemu Tan Malaka dua kali. Dia memang keras kepala, tapi dia bukan pengkhianat. Dia hanya... berbeda pendapat. Mungkin kita bisa mencoba pendekatan lain? Mungkin kita bisa menunda aksi, memperkuat basis dulu, dan...

Musso (memotong):

AMIR! Kau mulai ragu-ragu lagi! Inilah masalahmu! Kau terlalu emosional, terlalu banyak pertimbangan! Itu sebabnya kau gagal sebagai Perdana Menteri! Dengarkan, kau sudah menandatangani "Djalan Baru"! Kau sudah berjanji setia pada garis partai! Tidak ada jalan mundur! Kalau kau mundur sekarang, kau akan dicap sebagai pengkhianat oleh sejarah! Kau ingin itu?

Togog (berdiri, berjalan ke arah Amir):

"Pengkhianat oleh sejarah." Bung Musso, dalam filsafat sejarah, predikat "pengkhianat" dan "pahlawan" seringkali ditentukan oleh siapa yang menang. Kalau Bung menang, Bung akan disebut pahlawan, dan Tan Malaka akan disebut pengkhianat. Tapi kalau Bung kalah, dan saya harap Bung tidak kalah, Bung yang akan disebut pengkhianat. Pertanyaan saya: apakah Bung siap dengan kemungkinan itu? Apakah Bung siap jika nanti, dalam buku-buku sejarah, Bung dikenang sebagai orang yang memecah belah republik di saat genting?

Musso (menatap Togog dengan mata menyala-nyala):

Siapa kau?! Kenapa kau selalu muncul di mana-mana?!

Togog (tersenyum tenang):

Saya adalah pertanyaan yang tidak ingin Bung dengar, Bung Musso. Saya adalah keraguan yang Bung tekan dalam-dalam. Saya adalah suara hati nurani yang Bung abaikan. Hehehe. Silakan lanjutkan rapat. Saya hanya numpang duduk.

Amir (tertunduk):

Tidak... tidak. Aku hanya... baiklah. Aku ikut. Aku akan setia.

Togog (menatap Amir dengan sedih):

Bung Amir, dalam filsafat eksistensialisme, setiap kali kita mengatakan "aku tidak punya pilihan", kita sebenarnya sedang memilih: memilih untuk menyerahkan kebebasan kita kepada orang lain. Itu adalah pilihan juga. Hanya saja, itu adalah pilihan yang paling menyedihkan.


Rapat berakhir dengan ketukan palu. Para peserta keluar satu per satu. Amir adalah yang terakhir. Ia berdiri di depan pintu, memandangi langit malam, mungkin mengingat kata-kata Tan Malaka dan Togog.



Sumber:


Rapat ini direkonstruksi dari berbagai kesaksian yang dikumpulkan oleh Ann Swift dalam The Road to Madiun: The Indonesian Communist Uprising of 1948 (1989), khususnya bab 5, "The Decision", hlm. 100-130. Lihat juga Kahin, Nationalism and Revolution 300-310. Kehadiran Togog dalam rapat Politbiro dicatat oleh Maruto Darusman dalam catatan pribadinya: "Ada orang aneh di sudut ruangan. Dia bertanya-tanya. Musso sangat marah. Tapi pertanyaannya... sulit dijawab."





Surat yang Tak Pernah Terkirim




Latar:

Seminggu setelah pertemuan terakhir, di markas gelap Tan Malaka di Jawa Timur. Ia menulis surat yang ditujukan kepada Amir, namun tidak pernah dikirimkan. Togog duduk di beranda, menatap bintang-bintang, sesekali bersiul lagu keroncong.

Tan Malaka (menulis):

Amir,

Aku menulis ini dengan hati yang pedih. Aku tahu kau adalah seorang idealis, seorang patriot yang mencintai Republik ini sama besarnya denganku. Aku masih ingat pidatomu di Lapangan Ikada, 1945, ketika kau berbicara tentang "Indonesia untuk rakyat". Tapi idealisme tanpa analisis yang jernih bisa berubah menjadi fanatisme buta. Musso telah membutakanmu.

Kau ikuti dia untuk menebus "dosa politikmu" di Renville. Kaupikir dengan bergabung ke dalam PKI yang baru, kau bisa membersihkan dirimu. Amir, dosa tidak dibersihkan dengan menambah dosa. Dosa diperbaiki dengan kerja keras, dengan mendengarkan rakyat, bukan dengan memaksakan kehendak segelintir elite partai.


Togog (dari beranda, tanpa menoleh):

"Dosa tidak dibersihkan dengan menambah dosa." Kalimat yang bagus, Bung Tan. Dalam filsafat agama, saya belajar ini dari seorang pendeta yang bertengkar dengan seorang kyai, semua tradisi spiritual mengajarkan bahwa kesalahan tidak diperbaiki dengan kesalahan baru. Tapi manusia selalu tergoda untuk melakukan itu. Kenapa? Karena mengakui kesalahan itu menyakitkan. Lebih mudah mencari kambing hitam dan memulai perang baru.

Tan Malaka (melanjutkan menulis, mengabaikan Togog):

Aku mengenal Musso sejak lama. Ia adalah tipe orang yang setia pada garis, lebih setia pada Stalin daripada pada bangsanya sendiri. Baginya, Indonesia hanyalah satu kotak di papan catur global Uni Soviet. Ketika ia berkata "revolusi", ia memaksudkannya sebagai perang saudara yang dikendalikan dari Moskow. Padahal, lihatlah sekelilingmu: Amerika sudah mulai memasok senjata ke Hatta. Belanda menunggu di depan pintu. Jika kau memberontak sekarang, Hatta dan Soekarno tidak punya pilihan selain mengundang tentara republik untuk menumpasmu. Itu sudah diatur oleh diplomasi internasional imperialis! Kita akan dikepung dari dua sisi.

Bacalah kembali analisaku dalam "Surat-Surat Politik" yang kautolak dulu: "Perang kemerdekaan kita bukanlah perang saudara antar-kelas di dalam negeri. Ini adalah perang nasional melawan imperialisme. Maka, siapa pun yang memecah persatuan nasional pada saat-saat kritis adalah musuh revolusi, tidak peduli seberapa merah warnanya."


Togog (masuk ke dalam, mengambil kacang dari sakunya):

"Musuh revolusi, tidak peduli seberapa merah warnanya." Bung Tan, dalam filsafat perang saudara, itu adalah pernyataan yang sangat berbahaya. Karena dengan pernyataan itu, Bung membuka pintu bagi semua pihak untuk saling menuduh sebagai "musuh revolusi". Musso menuduh Bung sebagai musuh revolusi. Bung menuduh Musso sebagai musuh revolusi. Pertanyaan saya: siapa yang berhak menentukan siapa musuh revolusi? Apakah ada hakim yang netral? Atau setiap pihak adalah hakim bagi dirinya sendiri?

Tan Malaka (berhenti menulis, menatap Togog):

Kau benar, Togog. Tidak ada hakim yang netral. Itulah tragedinya. Masing-masing dari kami mengklaim sebagai pembela revolusi, dan masing-masing menuduh yang lain sebagai pengkhianat. Tapi aku tidak bisa diam. Aku harus memperingatkan Amir, meskipun aku tahu dia mungkin tidak akan membaca surat ini.

Togog:

"Meskipun aku tahu dia tidak akan membaca." Dalam filsafat eksistensialisme, itu adalah definisi dari tindakan autentik: melakukan sesuatu bukan karena hasilnya, tapi karena itu adalah hal yang benar. Pertanyaan saya: apakah Bung Tan menulis surat ini untuk Amir, atau untuk diri sendiri? Untuk menenangkan hati nurani, bahwa Bung sudah mencoba?

Tan Malaka:

Mungkin keduanya, Togog. Mungkin keduanya.

(Tan Malaka melanjutkan menulis.)

Amir, tinggalkan Musso. Urungkan rencana ini. Mari kita bangun kembali Persatuan Perjuangan, tanpa mengorbankan Soekarno-Hatta sebagai simbol, tapi dengan membangun basis perlawanan rakyat yang sesungguhnya di desa-desa. Jika kau melakukan kudeta, kau akan kalah. Dan yang lebih tragis: puluhan tahun setelah kematianmu, namamu akan dicatat dalam buku-buku sejarah sebagai pemberontak yang memecah republik di saat genting, bukan sebagai martir revolusi.

Terserah padamu. Aku sudah memperingatkan.

Salam Merdeka 100%,

Tan Malaka

Togog (mengambil surat itu, membacanya sekilas):

Surat yang bagus. Tapi Bung Tan, dalam filsafat komunikasi, saya belajar ini dari seorang tukang pos yang tidak pernah mengantar surat, surat yang tidak terkirim adalah dialog dengan diri sendiri. Surat ini lebih tentang Bung Tan daripada tentang Bung Amir. Pertanyaan terakhir saya: apakah Bung Tan merasa bersalah? Merasa bahwa Bung seharusnya bisa melakukan lebih banyak untuk mencegah bencana ini?

Tan Malaka:

Aku selalu merasa bersalah, Togog. Setiap revolusioner sejati selalu merasa bersalah. Karena kita tahu bahwa di luar sana, rakyat menderita, dan kita tidak bisa menyelamatkan mereka semua.

Togog:

"Revolusioner sejati selalu merasa bersalah." Itu mungkin benar. Tapi dalam filsafat etika, rasa bersalah yang berlebihan bisa melumpuhkan. Ada perbedaan antara rasa bersalah yang mendorong tindakan dan rasa bersalah yang mendorong keputusasaan. Pertanyaan saya: di mana posisi Bung Tan sekarang?


Tan Malaka tidak menjawab. Ia melipat surat itu, menyimpannya di sakunya, dan menatap ke arah timur, di mana fajar mulai merekah.



Sumber:


Surat ini adalah rekonstruksi imajiner, namun seluruh gagasan yang tertuang diambil dari esai Tan Malaka dalam Dari Pendjara ke Pendjara, jilid 2, khususnya bab "Pelajaran dari Kegagalan" hlm. 190-220, serta pamflet-pamfletnya dari periode 1947-1948 yang dikumpulkan oleh Poeze, Verguisd en Vergeten vol. 2, 500-550.




Api yang Tak Bisa Dipadamkan



Latar:

Madiun, 18 September 1948. Pemberontakan meletus. Musso memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" melalui radio gelap. Dalam beberapa hari, Soekarno berpidato, menyerukan rakyat memilih antara dia dan Musso. Tentara Divisi Siliwangi dan divisi-divisi lain yang setia pada Soedirman bergerak cepat. Madiun dikepung. Dalam waktu kurang dari dua bulan, pemberontakan ditumpas. Musso tewas ditembak. Amir Sjarifuddin ditangkap dan dieksekusi pada Desember 1948. Ribuan kader PKI dan simpatisan dibantai atau dipenjara.

Tan Malaka, yang tidak terlibat, ikut diburu. Ia melarikan diri ke Jawa Timur, terus menulis dan bergerilya, sampai akhirnya pada 21 Februari 1949 ia ditangkap dan dieksekusi oleh tentara di kaki Gunung Wilis.


Esai Terakhir Tan Malaka "Pelajaran dari Madiun"


Ditulis di persembunyian, awal Oktober 1948. Togog, yang entah bagaimana selalu bisa menemukan Tan Malaka, duduk di sudut gubuk, diam, tanpa kacang, tanpa buku.

Tan Malaka (menulis dengan sebatang pensil dan secarik kertas):

Aku sudah menduganya. Sejarah mencatat: Madiun adalah bencana yang bisa dihindari. Musso dan Amir telah membawa PKI ke jurang kehancuran untuk kedua kalinya dalam sejarah. Tahun 1926, pemberontakan prematur menghancurkan PKI generasi pertama. Tahun 1948, pemberontakan prematur menghancurkan PKI generasi kedua. Dan aku, yang dua kali memperingatkan, dua kali pula diabaikan.

Apakah aku menang? Tidak. Tidak ada yang menang dalam perang saudara. Yang ada hanyalah mayat-mayat bergelimpangan, air mata ibu-ibu, dan puing-puing harapan. Belanda pasti tertawa di Jakarta. Amerika pasti mencatat bahwa komunisme di Indonesia sudah mati. Dan Soekarno-Hatta, meskipun menang secara militer, akan kehilangan sebagian legitimasi moral mereka, karena telah membantai rakyat sendiri.

Togog (bersuara pelan, tanpa humor):

"Tidak ada yang menang dalam perang saudara." Bung Tan, dalam filsafat perang saudara, itu adalah kebenaran yang paling pahit. Semua pihak kalah. Bahkan yang menang pun kalah, karena kemenangan itu ternoda oleh darah saudara sendiri. Pertanyaan saya: apakah sejarah Indonesia akan belajar dari Madiun? Atau akan ada Madiun-Madiun lain di masa depan?

Tan Malaka:

Aku tidak tahu, Togog. Aku hanya bisa menulis, berharap bahwa suatu hari nanti, generasi mendatang akan membaca dan berkata: "Tan Malaka benar."

Togog:

"Tan Malaka benar." Tapi Bung, dalam filsafat sejarah, "kebenaran" seringkali baru diakui setelah orang yang mengatakannya sudah mati. Itu adalah ironi yang paling kejam. Pertanyaan saya: apakah Bung rela mati untuk kebenaran yang baru akan diakui lima puluh tahun kemudian?

Tan Malaka:

Aku sudah rela mati sejak aku memilih jalan ini, Togog.

(Tan Malaka melanjutkan menulis.)

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan. Tentara memburuku. Mata-mata di mana-mana. Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak bergabung dengan Musso, bukan karena aku takut mati, tapi karena aku tidak mau mengorbankan rakyat untuk ambisi politik segelintir orang. Aku memilih jalan sunyi: jalan "Merdeka 100 Persen" yang tidak populer, yang dikritik oleh kiri dan kanan, yang membuatku menjadi musuh semua pihak. Tapi aku percaya, suatu hari nanti, generasi mendatang akan membaca tulisanku dan berkata: "Tan Malaka benar."

Madiun adalah pelajaran yang harus dicatat dengan darah: bahwa revolusi tidak bisa dipaksakan dari atas oleh sekelompok elite partai. Revolusi harus lahir dari bawah, dari rakyat yang sadar dan terorganisir. Tanpa itu, revolusi hanyalah kudeta. Dan kudeta, di negeri yang sedang berjuang melawan imperialis, adalah pengkhianatan.

Aku menulis ini dalam gelap, dengan sebatang pensil dan secarik kertas. Semoga kertas ini tidak lapuk dimakan waktu. Semoga suaraku tidak hilang ditelan angin.

Merdeka 100 Persen.
Tan Malaka

Togog (berdiri, berjalan ke arah pintu):

Bung Tan, sebelum saya pergi, dan saya rasa kita tidak akan bertemu lagi, saya ingin menyampaikan satu hal. Dalam filsafat eksistensialisme, hidup yang autentik adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh akan pilihan-pilihannya. Bung sudah menjalani hidup seperti itu. Bung memilih jalan yang sunyi, jalan yang tidak populer, jalan yang membuat Bung dibenci oleh kiri dan kanan. Tapi Bung tidak pernah menyerah. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diklaim oleh kebanyakan manusia.

Pertanyaan terakhir saya: apakah Bung menyesal?

Tan Malaka (menatap Togog, matanya lelah tapi damai):

Tidak, Togog. Aku tidak menyesal. Aku hanya sedih.

Togog:

"Hanya sedih." Itu adalah jawaban yang paling jujur dari seorang revolusioner sejati. Selamat jalan, Bung Tan. Semoga di alam lain nanti, tidak ada lagi perang saudara.


Togog keluar, menghilang di antara pepohonan. Tan Malaka melanjutkan menulis, suara pensilnya beradu dengan kertas, satu-satunya suara di malam yang sunyi.



Sumber:


Esai ini adalah rekonstruksi imajiner yang didasarkan pada tulisan-tulisan terakhir Tan Malaka yang dikumpulkan oleh Poeze, vol. 3, "De Einde", hlm. 800-830. Gaya penulisan dan gagasan disadur dari Dari Pendjara ke Pendjara dan Gerpolek. Kehadiran Togog di persembunyian terakhir Tan Malaka dicatat oleh seorang petani yang memberi makan Tan Malaka: "Ada orang aneh yang datang, bertanya-tanya, lalu pergi. Setelah itu, Bung Tan kelihatan lebih damai."


Epilog Suara dari Masa Depan


Di sebuah ruang kuliah di Universitas Indonesia, tahun 2026. Seorang dosen muda sedang mengajar mata kuliah "Sejarah Pergerakan Kiri di Indonesia". Di sudut ruangan, seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal duduk, tapi tidak ada yang memperhatikannya. Mungkin dia hanya halusinasi. Mungkin juga tidak.

Dosen:

"Jadi, mahasiswa sekalian, apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa Madiun 1948? Apakah ini sekadar 'pemberontakan komunis' seperti yang ditulis dalam buku teks Orde Baru? Ataukah ada nuansa yang lebih kompleks? Di sinilah pentingnya membaca sumber-sumber alternatif, termasuk tulisan-tulisan Tan Malaka yang selama ini disembunyikan."

Mahasiswa (mengangkat tangan):

"Bu, apakah Tan Malaka sebenarnya terlibat dalam Madiun?"

Dosen:

"Tidak. Justru sebaliknya. Tan Malaka adalah salah satu tokoh kiri yang menentang keras pemberontakan itu. Ia melihat bahwa pemberontakan melawan Republik di tengah ancaman Belanda adalah langkah yang gegabah. Sayangnya, suaranya tidak didengar. Musso dan Amir lebih memilih mengikuti garis keras. Hasilnya? PKI hancur untuk kedua kalinya. Dan Tan Malaka sendiri, meskipun tidak terlibat, tetap diburu dan dibunuh oleh tentara pada 1949. Ironis, bukan? Orang yang paling keras menentang pemberontakan justru ikut menjadi korban."

Mahasiswa lain:

"Kenapa Tan Malaka dilupakan?"

Dosen:

"Karena ia terlalu kiri untuk kanan, dan terlalu kanan untuk kiri. Ia Marxis, tapi ia nasionalis. Ia komunis, tapi ia percaya pada Tuhan. Ia revolusioner, tapi ia menentang pemberontakan. Ia adalah paradoks berjalan. Orang seperti itu tidak akan diterima oleh rezim mana pun."

Togog (dari sudut ruangan, bergumam cukup keras sehingga beberapa mahasiswa menoleh):

"Paradoks berjalan." Itu julukan yang bagus. Dalam filsafat metafisika, paradoks adalah tanda bahwa kita sedang mendekati kebenaran. Karena kebenaran sejati selalu paradoks: ia sederhana sekaligus rumit, jelas sekaligus misterius, dekat sekaligus jauh. Pertanyaan saya: apakah Indonesia sudah siap menerima paradoks? Atau kita masih lebih suka jawaban yang hitam-putih?

Dosen (terkejut, menatap ke sudut ruangan):

Bapak... siapa? Apakah Bapak mengajar di sini?

Togog (tersenyum lebar, berdiri):

Saya? Saya hanya badut yang kebetulan lewat. Silakan lanjutkan kuliah. Saya hanya ingin bertanya: apakah generasi muda sekarang sudah lebih bijak dari generasi 1948? Atau mereka akan mengulangi kesalahan yang sama, dengan cara yang berbeda, dengan alasan yang berbeda? Hehehe. Itu saja. Selamat siang.


Togog berjalan keluar, meninggalkan ruang kuliah yang hening. Beberapa mahasiswa saling pandang, bingung. Dosen itu terdiam, memikirkan pertanyaan yang baru saja didengarnya.
 

Dr. Seta Basri
Musim Panas Tahun Kuda Api, 2026





Daftar Pustaka


Anderson, Benedict R.O'G. Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972.

Gie, Soe Hok. Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920. Jakarta: Frantz Fanon Foundation, 1999.

Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1952.

Legge, John D. Sukarno: A Political Biography. Sydney: Allen & Unwin, 1972.

McMahon, Robert J. Colonialism and Cold War: The United States and the Struggle for Indonesian Independence, 1945-49. Ithaca: Cornell University Press, 1981.

McVey, Ruth T. The Rise of Indonesian Communism. Ithaca: Cornell University Press, 1965.

Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.

Mrázek, Rudolf. Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia. Ithaca: Cornell Southeast Asia Program, 1994.

Musso. Djalan Baru untuk Republik Indonesia. Jakarta: PKI, 1948.

Nasution, Abdul Haris. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. Jilid 3-5. Bandung: Disjarah-AD/Angkasa, 1979.

Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. 3 vols. Leiden: KITLV Press, 2007.

Simatupang, T.B. Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit Selama Perang Kemerdekaan. Jakarta: Pembangunan, 1960.

Sjahrir, Sutan. Renungan dan Perjuangan. Jakarta: Pustaka Jaya, 1990.

Swift, Ann. The Road to Madiun: The Indonesian Communist Uprising of 1948. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1989.

Tan Malaka. Dari Pendjara ke Pendjara. 3 vols. Yogyakarta: Pustaka Murba, 1950.

Tan Malaka. Gerpolek. Jakarta: Jajasan Massa, 1960.

Tan Malaka. Madilog. Jakarta: Widjaya, 1951.

Tan Malaka. Surat-Surat Politik. Yogyakarta: Yayasan Massa, 1986.

Tempo. "Misteri Njoto." Edisi Khusus, 2005.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Bawah Bayang Sang Proklamator, Rekonstruksi Dialog Imajiner Tan Malaka, Sukarno, dan Togog 1942–1949

Saya, mempersembahkan rekonstruksi imajiner ini sebagai sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali dialog-dialog yang mungkin pernah terjadi antara dua tokoh paling kompleks dalam sejarah Republik Indonesia: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka dan Ir. Sukarno. Pertemuan mereka bukanlah pertemuan biasa. Ia adalah benturan dua arus besar pemikiran kebangsaan, Marxisme kerakyatan versus Nasionalisme populis, gerilya intelektual versus diplomasi panggung, "Merdeka 100 Persen" versus "Pancasila".

Togog, Soeharto, Ali Moertopo, dan Soedjono Hoemardhani tentang ASPRI

Pada awal 1970-an, sebuah institusi aneh tumbuh subur di bawah bayang-bayang kekuasaan Orde Baru. Namanya ASPRI, Asisten Pribadi Presiden. Di atas kertas, mereka hanyalah pembantu Presiden. Dalam kenyataannya, mereka adalah pusat kekuasaan bayangan yang mengendalikan intelijen, ekonomi, politik, dan keamanan negara. Dipimpin oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ASPRI menjelma menjadi "negara dalam negara", sebuah junta militer dengan Soeharto sebagai patron dan para asisten sebagai klien yang setia.