Langsung ke konten utama

Di Bawah Bayang Sang Proklamator, Rekonstruksi Dialog Imajiner Tan Malaka, Sukarno, dan Togog 1942–1949

Saya, mempersembahkan rekonstruksi imajiner ini sebagai sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali dialog-dialog yang mungkin pernah terjadi antara dua tokoh paling kompleks dalam sejarah Republik Indonesia: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka dan Ir. Sukarno. Pertemuan mereka bukanlah pertemuan biasa. Ia adalah benturan dua arus besar pemikiran kebangsaan, Marxisme kerakyatan versus Nasionalisme populis, gerilya intelektual versus diplomasi panggung, "Merdeka 100 Persen" versus "Pancasila".

Namun, di antara mereka berdua, sejarah mencatat keanehan: selalu hadir seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal dan mata yang setengah mengantuk namun setengah waspada. Namanya Togog. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Ada yang mengatakan ia adalah mantan dalang wayang golek yang menjadi filsuf setelah membaca seluruh koleksi perpustakaan Komintern. Ada yang menduga ia adalah mata-mata yang menyamar sebagai badut revolusi. Yang lain lagi percaya ia hanyalah gelandangan yang kebetulan pandai bicara dan selalu muncul di saat-saat krisis.

Yang pasti, Togog selalu hadir dalam setiap perdebatan penting antara Tan Malaka dan Sukarno. Ia duduk di sudut ruangan, kadang tertawa kecil, kadang bergumam sendiri, dan sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Tan Malaka terdiam dan Sukarno berpikir ulang. Ironisnya, hanya para pelayan dan juru tulis yang dengan setia mencatat setiap kata-katanya, mungkin karena mereka menganggap Togog hanyalah hiburan di tengah ketegangan. Namun justru kata-kata Togog-lah yang kemudian menjadi ramalan yang mengerikan.


 
Semua kata-kata yang diucapkan dalam dialog ini disandarkan pada tulisan-tulisan asli kedua tokoh, memoir, dokumen sejarah, dan riset para Indonesianis kredibel. Togog adalah suara yang tidak pernah didengar oleh sejarah resmi. Ia adalah pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Ia adalah cermin yang tidak suka dilihat. Tapi justru karena itulah ia penting. Karena tanpa Togog, sejarah hanyalah kumpulan fakta yang mati. Dengan Togog, sejarah menjadi hidup, penuh ironi, penuh kontradiksi, penuh pertanyaan yang membuat kita terus mencari.


Daftar Tokoh dalam Dialog

  1. Tan Malaka (Ibrahim Datuk Tan Malaka, lahir 1897 – wafat 1949): Pemikir Marxis, konseptor Republik, mantan pemimpin Komintern di Asia Tenggara, penulis Madilog dan Gerpolek, pendiri Partai Murba dan Persatuan Perjuangan, pencetus konsep "Merdeka 100 Persen".
  2. Sukarno (Ir. Sukarno, lahir 1901 – wafat 1970): Proklamator, Presiden pertama Republik Indonesia, pencetus Pancasila, pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI), arsitek Demokrasi Terpimpin, orator ulung yang mampu mempersatukan beragam aliran politik.
  3. Togog: Ahli filsafat misterius, tidak diketahui asal-usulnya. Menguasai filsafat etika, filsafat perang, filsafat agama, filsafat metafisika, filsafat ekonomi, filsafat eksistensialisme, filsafat militer, filsafat sains, filsafat ketuhanan, filsafat materialisme, filsafat idealisme, filsafat budaya, filsafat pemerintahan, dan filsafat perang saudara secara mendalam. Humornya yang ironis, satir, dan sarkastis mampu membuat orang sadar, meskipun seringkali terlambat.

Pertemuan di bawah Bayang Matahari Terbit 1942–1945


Sebuah Rumah di Gang Sempit, Jakarta 1942

Latar:

Suatu sore di tahun 1942, beberapa bulan setelah Jepang menduduki Hindia Belanda. Sukarno baru saja kembali dari pengasingan di Bengkulu dan mulai membangun hubungan dengan penguasa Jepang. Ia mendengar dari jaringan bawah tanah bahwa seorang tokoh legendaris telah kembali ke Tanah Air setelah dua puluh tahun mengembara di luar negeri. Tokoh itu menggunakan nama samaran "Iljas Hussein" dan bekerja sebagai juru tulis di sebuah tambang batu bara di Bayah, Banten. Sukarno, dengan rasa ingin tahu yang besar, berhasil mengatur pertemuan rahasia di rumah seorang simpatisan di Gang Kenari, Jakarta Pusat.

Di sudut ruangan, seorang tua berwajah lucu duduk di atas bangku kayu reyot, mengunyah kacang goreng sambil sesekali tersenyum sendiri. Tidak ada yang mengundangnya, tapi tidak ada juga yang berani mengusirnya.

Sukarno (memasuki ruangan, menatap sosok kurus berkacamata yang duduk di sudut):

Saya tidak percaya. Saya tidak percaya bahwa di depan saya ini adalah Tan Malaka. Tuan, saya membaca buku Tuan Naar de Republiek Indonesia ketika saya masih mahasiswa di Bandung. Buku itu adalah salah satu yang membentuk pemikiran saya. Saya kira Tuan sudah mati. Semua orang mengira Tuan sudah mati.

Togog (tiba-tiba tertawa kecil, suaranya seperti kerikil jatuh ke kaleng kosong):

Hehehe... "semua orang mengira Tuan sudah mati." Dalam filsafat metafisika, saya belajar ini dari seorang kakek tua yang bertapa di gunung, kematian adalah satu-satunya kepastian, tapi juga misteri terbesar. Orang yang dianggap mati seringkali justru yang paling hidup. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno mencari Tan Malaka karena dia hidup, atau justru karena dia dianggap mati? Ada sesuatu tentang "hantu" yang lebih menarik daripada manusia biasa.

Sukarno (menoleh dengan alis berkerut):

Siapa orang ini, Tuan Tan? Tamu Tuan?

Tan Malaka (tersenyum tipis):

Saya tidak mengenalnya. Dia muncul begitu saja tadi pagi, membawa kacang goreng, dan berkata bahwa dia adalah "saksi sejarah." Saya tidak punya hati untuk mengusirnya. Lagipula, dia membuat pertanyaan-pertanyaan yang menarik.

Togog (mengunyah kacangnya dengan santai):

Saya bukan tamu siapa-siapa. Saya hanya orang bodoh yang suka bertanya. Dalam filsafat eksistensialisme, saya belajar ini dari seorang penjual es keliling yang ternyata lulusan filsafat, manusia didefinisikan oleh pertanyaan-pertanyaannya, bukan oleh jawaban-jawabannya. Jadi, semakin banyak bertanya, semakin eksis seseorang. Hehehe. Silakan, Bung Karno. Lanjutkan kekaguman Bung. Saya hanya akan mendengarkan, dan sesekali bertanya.

Sukarno (mengalihkan perhatian kembali ke Tan Malaka):

Bagaimana Tuan bisa kembali ke Indonesia? Bagaimana Tuan bisa melewati blokade Jepang?

Tan Malaka:

Perjalanan panjang, Bung. Saya dari Shanghai, menyamar sebagai pelaut Tionghoa, menumpang kapal kayu kecil, mendarat di Sumatera, lalu menyeberang ke Jawa. Saya sekarang bekerja sebagai juru tulis di tambang batu bara Bayah. Di sana, saya bertemu dengan romusha-romusha yang dipaksa bekerja oleh Jepang. Mereka menderita, Bung. Mereka kelaparan, dipukuli, mati seperti lalat. Jepang bukan pembebas. Mereka adalah imperialis baru, sama kejamnya dengan Belanda, bahkan mungkin lebih kejam.

Togog (mengangguk-angguk):

"Imperialis baru." Dalam filsafat perang, saya belajar ini dari membaca Sun Tzu di belakang bungkus tempe, setiap imperialis selalu mengklaim bahwa mereka berbeda dari imperialis sebelumnya. Jepang bilang mereka "saudara tua." Belanda dulu bilang mereka "membawa peradaban." Tapi pertanyaan saya: apakah ada imperialis yang baik? Atau semua imperialis, pada akhirnya, hanya berbeda dalam retorika, sama dalam penindasan?

Sukarno (menghela napas):

Saya tahu, Tuan. Saya tahu Jepang bukan sahabat sejati. Tapi kita harus realistis. Belanda sudah kalah. Sekutu-sekutu mereka di Eropa sibuk berperang. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk memperjuangkan kemerdekaan. Jepang membutuhkan dukungan rakyat Indonesia. Kita bisa memanfaatkan itu.

Tan Malaka:

Memanfaatkan Jepang? Atau dimanfaatkan oleh Jepang? Bung Karno, saya mendengar Bung memimpin Putera, organisasi yang dibentuk oleh Jepang. Saya mendengar Bung berpidato di radio, mengajak rakyat mendukung "Perang Asia Timur Raya". Apakah Bung percaya pada retorika "Kemakmuran Bersama Asia" itu?

Togog (mengedipkan mata ke arah Tan Malaka):

Bung Tan mengajukan pertanyaan yang tajam. Dalam filsafat etika, saya belajar ini dari seorang pendeta yang bertengkar dengan seorang kyai di pasar, ada perbedaan antara "berbohong" dan "bermain peran." Berbohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar. Bermain peran adalah mengatakan sesuatu yang benar dalam konteks tertentu. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno berbohong ketika berpidato di radio Jepang, atau Bung sedang bermain peran?

Sukarno (matanya berkilat, sedikit defensif):

Saya tidak bodoh, Tuan Tan. Saya tahu persis apa yang saya lakukan. Jepang adalah ular. Tapi ular pun bisa diperah bisanya untuk obat. Saya menggunakan panggung yang mereka berikan untuk menanamkan semangat nasionalisme kepada rakyat. Setiap pidato saya di radio, saya selipkan pesan-pesan kebangsaan. Rakyat mendengar nama "Indonesia" disebut berulang-ulang. Itu penting! Sebelum Jepang datang, kata "Indonesia" nyaris tidak pernah diucapkan di ruang publik. Sekarang, setiap hari, rakyat mendengar: "Indonesia, Indonesia, Indonesia!"

Togog (bertepuk tangan pelan):

Strategi yang cerdas! Dalam filsafat bahasa, saya belajar ini dari Ferdinand de Saussure yang saya temui di mimpi, kata-kata menciptakan realitas. Semakin sering sebuah kata diucapkan, semakin nyata ia menjadi. Tapi pertanyaan saya: apakah "Indonesia" yang diucapkan di radio Jepang sama dengan "Indonesia" yang ada di hati rakyat? Atau jangan-jangan, ada dua Indonesia: Indonesia yang diizinkan oleh Jepang, dan Indonesia yang diimpikan oleh rakyat?

Tan Malaka:

Saya memahami strategi Bung. Tapi strategi itu berbahaya. Rakyat bisa keliru. Mereka mungkin mengira bahwa kemerdekaan adalah hadiah dari Jepang, bukan hasil perjuangan sendiri. Padahal, kemerdekaan sejati harus direbut, bukan dihadiahkan. "Kemerdekaan 100 Persen" adalah soal kedaulatan penuh: politik, ekonomi, sosial, dan militer. Selama masih ada pasukan asing di tanah kita, baik Belanda maupun Jepang, kita belum merdeka.

Togog (mengambil segenggam kacang lagi):

"Kemerdekaan 100 Persen." Konsep yang radikal. Dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari seorang pedagang rempah-rempah di pasar, tidak ada yang namanya "100 persen" dalam dunia nyata. Selalu ada ketergantungan, selalu ada kompromi. Bahkan negara yang paling merdeka pun bergantung pada perdagangan internasional, pada aliansi militer, pada harga minyak dunia. Pertanyaan saya: apakah "Merdeka 100 Persen" itu mungkin? Atau itu adalah utopia yang indah tapi tidak realistis?

Tan Malaka (menatap Togog dengan campuran kagum dan jengkel):

Togog, kau ini menyebalkan. Tapi kau mengajukan pertanyaan yang harus kujawab. "Merdeka 100 Persen" bukan berarti isolasi total. Itu berarti kedaulatan penuh untuk menentukan nasib sendiri. Kita boleh berdagang dengan bangsa lain, tapi dengan syarat yang setara, bukan dengan syarat yang ditentukan oleh imperialis. Kita boleh beraliansi dengan negara lain, tapi tidak boleh menjadi boneka mereka. Itu yang saya maksud.

Togog (mengangguk-angguk):

Penjelasan yang masuk akal. Tapi dalam filsafat perang saudara, saya belajar ini dari membaca sejarah Revolusi Prancis, setiap kali sebuah bangsa menyatakan "kami merdeka 100 persen," selalu ada kelompok di dalam bangsa itu sendiri yang tidak setuju dengan definisi "kemerdekaan" yang dipakai. Lalu terjadilah perang saudara. Pertanyaan saya: bagaimana kita mendamaikan perbedaan definisi "kemerdekaan" tanpa saling membunuh?

Sukarno:

Tuan Tan, saya menghormati idealisme Tuan. Tapi kita tidak bisa menyamakan semua situasi. Saya bekerja di atas panggung, Tuan bekerja di bawah tanah. Keduanya diperlukan. Saya membutuhkan Tuan. Saya membutuhkan pemikir-pemikir yang bisa melihat lebih jauh dari saya. Negeri ini membutuhkan kita semua.

Togog (tersenyum lebar):

"Negeri ini membutuhkan kita semua." Kalimat yang indah. Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati jalannya RT/RW di kampung saya, setiap pemimpin selalu mengatakan bahwa "kita semua diperlukan." Tapi praktiknya, selalu ada yang lebih diperlukan dari yang lain. Selalu ada yang diundang ke istana, dan selalu ada yang dijebloskan ke penjara. Pertanyaan saya: sepuluh tahun dari sekarang, siapa di antara kalian berdua yang akan di istana, dan siapa yang akan di penjara?

(Sukarno dan Tan Malaka saling bertukar pandangan. Pertanyaan Togog terasa seperti ramalan yang tidak menyenangkan.)

Tan Malaka:

Bung Karno, saya sudah lama mengamati Bung. Bung adalah pemersatu. Bung bisa berbicara dengan kaum nasionalis, Islam, komunis, semua mendengarkan Bung. Itu adalah karunia yang langka. Tapi persatuan tanpa arah adalah bahaya. Kita perlu program yang jelas. Kita perlu strategi yang konkret. Setelah Jepang kalah nanti, dan mereka pasti akan kalah, apa yang akan kita lakukan? Siapa yang akan mengambil alih kekuasaan? Bagaimana kita menghadapi Belanda yang pasti akan kembali dengan bantuan Sekutu?

Sukarno:

Pertanyaan-pertanyaan Tuan sangat tajam. Saya sendiri masih memikirkan jawabannya. Tapi satu hal yang saya yakini: kita harus memproklamasikan kemerdekaan pada saat yang tepat. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Kita harus memiliki dasar negara yang bisa mempersatukan semua golongan. Saya sedang merumuskan sebuah konsep... Saya menyebutnya "Pancasila".

Tan Malaka:

Pancasila? Apa itu?

Sukarno:

Lima prinsip. Satu: Kebangsaan Indonesia. Dua: Internasionalisme atau peri-kemanusiaan. Tiga: Mufakat atau demokrasi. Empat: Kesejahteraan sosial. Lima: Ketuhanan yang berkebudayaan. Saya ingin negara kita didirikan di atas lima prinsip ini, bukan di atas ideologi tertentu yang bisa memecah belah.

Togog (berdiri, untuk pertama kalinya sejak diskusi dimulai, ia berjalan ke tengah ruangan):

Pancasila! Lima prinsip! Dalam filsafat metafisika, saya belajar ini dari seorang kakek tua yang bertapa di gunung, lima adalah angka yang sakral. Lima jari tangan. Lima panca indera. Lima rukun Islam. Tapi pertanyaan saya: apakah Pancasila ini benar-benar hasil perenungan filosofis yang mendalam, atau hanya kompromi politik yang dibungkus dengan bahasa yang indah? Dan kalau Pancasila hanya kompromi politik, apa yang akan terjadi ketika kompromi itu diuji oleh konflik kepentingan yang tajam?

Tan Malaka (terdiam sejenak, merenung):

Togog mengajukan pertanyaan yang juga ada di benak saya. Menarik. Tapi Bung, prinsip-prinsip itu abstrak. Apa artinya "Ketuhanan yang berkebudayaan"? Apakah itu berarti negara mengakui Tuhan, ataukah negara memberikan kebebasan penuh kepada warganya untuk tidak bertuhan? Dan apa artinya "kesejahteraan sosial"? Apakah itu berarti sosialisme, atau sekadar kapitalisme yang diperhalus? Marx mengajarkan bahwa prinsip-prinsip abstrak bisa dimanipulasi oleh kelas penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. Kita perlu kejelasan: siapa yang akan memiliki alat-alat produksi? Siapa yang akan menguasai tanah? Bagaimana kita menghapuskan feodalisme dan imperialisme?

Togog (mengangguk setuju):

Bung Tan Malaka mengajukan pertanyaan material. Dalam filsafat materialisme, saya belajar ini dari Marx sendiri yang saya temui di mimpi, ide-ide tidak pernah netral. Setiap ide lahir dari kondisi material tertentu dan melayani kepentingan kelas tertentu. Pertanyaan saya: kepentingan kelas manakah yang dilayani oleh Pancasila?

Sukarno:

Tuan Tan, saya tahu Tuan adalah seorang Marxis. Saya juga membaca Marx. Tapi Indonesia bukan Eropa. Kita tidak bisa menerapkan Marxisme secara kaku di sini. Rakyat kita beragama. Jika kita melawan agama, kita akan kehilangan dukungan mayoritas rakyat. Saya ingin menciptakan sintesis: Nasionalisme yang dijiwai oleh sosialisme dan kemanusiaan, tanpa harus menjadi Marxis ortodoks. Saya ingin Indonesia menjadi jembatan antara Barat dan Timur, antara kapitalisme dan komunisme.

Togog (tertawa kecil):

"Jembatan." Metafora yang indah. Dalam filsafat perang, saya belajar ini dari seorang jenderal pensiunan yang menjadi tukang kebun, jembatan selalu menjadi sasaran pertama yang dihancurkan dalam perang. Kenapa? Karena jembatan menghubungkan dua pihak yang mungkin bermusuhan. Pertanyaan saya: apakah Indonesia siap menjadi jembatan yang diinjak-injak oleh kedua belah pihak?

Tan Malaka:

Sintesis... Saya memahami keinginan Bung untuk mempersatukan. Tapi saya khawatir, sintesis yang Bung tawarkan akan menjadi kompromi yang mengaburkan kontradiksi kelas. Dalam masyarakat kita, ada pertentangan antara buruh dan majikan, antara petani dan tuan tanah, antara rakyat terjajah dan imperialis. Pertentangan itu nyata. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan prinsip-prinsip abstrak. Perlu aksi konkret: nasionalisasi perusahaan asing, pembagian tanah kepada petani, penghapusan feodalisme. Itu adalah program minimal yang harus kita perjuangkan.

Togog (mengedipkan mata ke arah Tan Malaka):

Bung Tan berbicara tentang "aksi konkret." Dalam filsafat etika, ada perbedaan antara "program minimal" dan "program maksimal." Program minimal adalah apa yang bisa dicapai sekarang. Program maksimal adalah apa yang ingin dicapai suatu hari nanti. Masalahnya, orang seringkali bertengkar karena mencampuradukkan keduanya. Pertanyaan saya: apakah "nasionalisasi perusahaan asing" dan "pembagian tanah" adalah program minimal atau program maksimal? Dan kalau itu program maksimal, apakah kita siap membayar harganya?

Sukarno:

Saya setuju dengan program-program itu, Tuan Tan. Nasionalisasi, landreform, penghapusan feodalisme. Itu semua ada dalam cita-cita saya. Tapi kita harus melangkah secara bertahap. Kita tidak bisa langsung mendirikan Republik Soviet di Indonesia. Dunia internasional tidak akan menerimanya. Amerika dan Inggris akan langsung mendukung Belanda untuk menghancurkan kita. Kita harus realistis.

Tan Malaka:

Realistis, Bung? Sama seperti Sjahrir yang memilih diplomasi kompromi? Saya khawatir, "realisme" Bung akan berubah menjadi oportunisme. Kita tidak perlu mendirikan Republik Soviet. Tapi kita juga tidak boleh tunduk pada tekanan imperialis. Kita harus membangun kekuatan sendiri, mengandalkan rakyat sendiri, dan berani mengatakan "tidak" pada segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan ekonomi. Itulah "Merdeka 100 Persen" yang saya maksud.

Togog (berhenti berjalan, menatap kedua tokoh itu bergantian):

Dua visi. Dua jalan. Bung Karno menawarkan "realisme bertahap." Bung Tan menawarkan "revolusi total." Dalam filsafat perang saudara, perpecahan seperti ini selalu terjadi sebelum pertumpahan darah. Pertanyaan saya: apakah mungkin kedua jalan ini berdamai? Ataukah salah satu harus menyingkirkan yang lain?

(Suasana hening. Sukarno dan Tan Malaka saling menatap. Pertanyaan Togog menggantung di udara seperti awan gelap sebelum badai.)

Sukarno:

Tuan Tan, saya menghargai idealisme Tuan. Tapi biarlah waktu yang membuktikan siapa yang benar. Sekarang, mari kita bekerja sama. Saya akan terus di atas panggung, berbicara kepada massa. Tuan akan di bawah tanah, mengorganisir rakyat. Suatu hari nanti, ketika saatnya tiba, kita akan bersatu kembali.

Tan Malaka:

Saya setuju. Tapi ingat, Bung: revolusi bukanlah opera yang bisa diatur skenarionya. Revolusi adalah badai. Ia bisa menghancurkan segala rencana rapi yang kita buat. Saya harap Bung siap menghadapi badai itu.

Togog (berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sejenak):

Badai. Dalam filsafat metafisika, badai adalah simbol dari perubahan yang tidak bisa dikendalikan. Semua revolusi adalah badai. Tapi yang menarik, setelah badai berlalu, selalu ada yang hancur dan selalu ada yang bertahan. Pertanyaan terakhir saya untuk malam ini: sepuluh tahun dari sekarang, setelah badai berlalu, siapa di antara kalian yang akan hancur, dan siapa yang akan bertahan? Hehehe. Selamat malam.

Togog keluar sambil bersiul, meninggalkan Sukarno dan Tan Malaka dalam keheningan yang penuh pertanyaan.
 

Sumber:


Pertemuan pertama Sukarno-Tan Malaka pada 1942 direkonstruksi berdasarkan catatan Tan Malaka dalam Dari Pendjara ke Pendjara jilid 1, dan memoir Sukarno dalam Penyambung Lidah Rakyat. Analisis akademik tentang hubungan mereka dapat ditemukan dalam Poeze, Verguisd en Vergeten vol. 1, 480-550; John Legge, Sukarno: A Political Biography 170-190. Kehadiran Togog dicatat dalam buku harian Tan Malaka dengan komentar singkat: "Seorang badut aneh datang. Bertanya tentang jembatan dan badai. Membuatku tidak bisa tidur.")

Di Serambi Rumah Pegangsaan Timur 56, Agustus 1945


Latar:

16 Agustus 1945, malam hari. Jepang telah menyerah kepada Sekutu sehari sebelumnya. Sukarno dan Hatta baru saja kembali dari Rengasdengklok, tempat mereka "diculik" oleh para pemuda radikal yang mendesak proklamasi segera. Di rumah Laksamana Maeda, naskah proklamasi sedang dirumuskan. Tan Malaka, yang berada di Banten, tidak hadir. Namun, ia mengetahui semua perkembangan melalui jaringan bawah tanahnya. Beberapa jam setelah proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, Tan Malaka tiba di Jakarta dan menemui Sukarno di rumahnya di Pegangsaan Timur 56. Togog, entah bagaimana, sudah ada di teras rumah, duduk dengan segelas kopi yang sudah dingin.

Tan Malaka (memasuki rumah dengan langkah cepat, wajahnya tegang):

Bung Karno! Syukurlah, Bung sudah memproklamasikan kemerdekaan. Saya mendengarnya dari radio gelap tadi pagi. Selamat! Republik Indonesia telah lahir!

Togog (dari teras, tanpa menoleh):

"Republik Indonesia telah lahir." Dalam filsafat metafisika, kelahiran adalah awal dari kehidupan, dan juga awal dari kematian. Setiap yang lahir pasti akan mati. Pertanyaan saya: berapa lama Republik ini akan hidup sebelum mati dan digantikan oleh Republik yang lain?

Sukarno (kelelahan, tapi gembira, mengabaikan Togog):

Terima kasih, Tuan Tan. Ini adalah hari yang bersejarah. Tapi juga hari yang mendebarkan. Saya dan Bung Hatta hampir saja dibunuh oleh pemuda-pemuda radikal karena kami tidak mau terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Mereka pikir kami pengecut. Padahal, kami hanya ingin memastikan bahwa proklamasi ini tidak disalahpahami oleh Jepang dan Sekutu sebagai kudeta militer.

Togog (masuk ke dalam, masih membawa cangkir kopinya):

"Mereka pikir kami pengecut." Dalam filsafat etika, keberanian dan kepengecutan seringkali terlihat sama dari luar. Orang yang berhati-hati dikira pengecut. Orang yang nekat dikira pemberani. Pertanyaan saya: bagaimana kita membedakan antara kehati-hatian yang bijaksana dan kepengecutan yang penuh dalih?

Tan Malaka:

Togog, kau di sini juga? Aku tidak heran. Kau seperti hantu yang selalu muncul di saat-saat penting. Tapi Bung Karno, yang terpenting sekarang adalah langkah selanjutnya. Proklamasi hanyalah awal. Kita harus segera mengambil alih kekuasaan dari Jepang, membentuk pemerintahan yang berdaulat, mempersenjatai rakyat, dan bersiap menghadapi Belanda yang pasti akan kembali. Bung, saya sudah menyusun rencana. Saya sudah menulis sebuah konsep negara, saya menyebutnya "Republik Indonesia Serikat", yang bisa mempersatukan seluruh nusantara. Tapi yang paling mendesak adalah: kita harus merebut senjata Jepang, membangun tentara rakyat, dan menyiapkan perang kemerdekaan.

Togog (menguap dramatis):

"Merebut senjata Jepang." Dalam filsafat militer, saya belajar ini dari seorang veteran yang menjadi gila setelah perang, merebut senjata dari tentara yang baru kalah perang adalah tindakan yang sangat berbahaya. Tentara yang kalah adalah binatang yang terluka: mereka bisa menyerah, atau mereka bisa bertarung sampai mati. Pertanyaan saya: apakah kita tahu pasti bahwa tentara Jepang akan menyerahkan senjatanya dengan sukarela? Atau kita hanya berharap?

Sukarno:

Pelan-pelan, Tuan Tan. Kita tidak bisa terburu-buru. Jepang masih memiliki pasukan besar di sini. Sekutu akan segera datang untuk melucuti mereka. Jika kita merebut senjata secara paksa, kita akan dianggap pemberontak. Kita akan dihancurkan sebelum sempat berdiri.

Tan Malaka:

Jadi Bung ingin menunggu? Menunggu Sekutu datang dan menyerahkan kembali Indonesia kepada Belanda? Itu adalah resep bunuh diri! Bung, proklamasi tanpa kekuatan bersenjata adalah secarik kertas yang bisa disobek kapan saja. Rakyat kita sudah siap berjuang. Di Banten, di Surabaya, di Semarang, pemuda-pemuda kita sudah mulai melucuti tentara Jepang. Mereka butuh komando, bukan keraguan.

Togog (mengedipkan mata ke arah Tan Malaka):

Bung Tan berbicara tentang "rakyat yang sudah siap berjuang." Dalam filsafat perang, ada perbedaan antara "siap berjuang" dan "siap menang." Rakyat bisa siap berjuang karena marah, lapar, putus asa. Tapi apakah mereka siap menang? Apakah mereka punya senjata yang cukup? Apakah mereka punya strategi yang matang? Pertanyaan saya: apakah Bung Tan memimpin mereka untuk menang, atau memimpin mereka untuk mati dengan heroik? Dua hal itu sangat berbeda.

Sukarno:

Saya tidak ragu, Tuan Tan. Saya hanya berhati-hati. Saya adalah Presiden Republik yang baru lahir ini. Saya harus memikirkan keselamatan seluruh rakyat. Jika kita bertindak gegabah, Jepang akan membantai kita, dan Sekutu akan menganggap kita sebagai kolaborator Jepang yang berbahaya. Kita harus menggunakan diplomasi juga, bukan hanya perang.

Tan Malaka:

Diplomasi? Dengan siapa? Dengan Belanda yang sudah menjajah kita 350 tahun? Dengan Inggris yang akan menjadi kaki tangan Belanda? Dengan Amerika yang mendukung "ketertiban kolonial"? Bung Karno, dalam Madilog saya tulis: "Imperialis hanya mengerti bahasa kekerasan. Mereka tidak akan menyerahkan kemerdekaan dengan sukarela, bahkan jika kita berunding selama seratus tahun." Satu-satunya bahasa yang mereka pahami adalah kekuatan. Jika kita tidak kuat, kita akan diinjak-injak.

Togog (mengangguk-angguk):

Bung Tan benar. Tapi Bung Karno juga tidak salah. Dalam filsafat perang saudara, ini adalah dilema klasik: diplomasi atau perang? Kompromi atau konfrontasi? Setiap bangsa yang baru merdeka menghadapi dilema ini. Dan setiap pilihan punya risikonya sendiri. Pertanyaan saya: apakah ada jalan ketiga? Jalan yang bukan diplomasi dan bukan perang? Atau jangan-jangan, seperti kata seorang filsuf, "pilihan yang paling sulit adalah pilihan antara yang buruk dan yang lebih buruk"?

Sukarno:

Tuan Tan, saya menghormati pandangan Tuan. Tapi saya juga belajar dari sejarah. Di India, Gandhi berhasil melawan Inggris dengan non-kekerasan. Di Filipina, rakyat melawan Amerika dengan perang gerilya, tapi akhirnya kalah. Kita harus cerdas memilih strategi.

Tan Malaka:

Gandhi? Bung, India belum merdeka. Dan ketika mereka merdeka nanti, mereka akan terpecah belah. Indonesia berbeda. Kita adalah bangsa kepulauan, dengan tradisi perlawanan bersenjata yang panjang. Ingatlah Perang Diponegoro, Perang Aceh, Perang Banjar. Rakyat kita tidak bisa ditaklukkan hanya dengan tentara modern. Tapi mereka harus dipersenjatai dan diorganisir. Bung, dengarkan saya: bentuklah Tentara Rakyat sekarang juga. Berikan senjata kepada pemuda-pemuda. Saya akan membantu dari bawah.

Togog (berdiri, berjalan mengelilingi ruangan):

Dua strategi. Dua visi. Bung Karno ingin diplomasi. Bung Tan ingin perang rakyat. Dalam filsafat militer, tidak ada strategi yang selalu benar. Strategi yang benar adalah strategi yang sesuai dengan kondisi. Pertanyaan saya: apakah kita sudah tahu persis kondisi kita? Kekuatan kita? Kelemahan kita? Atau kita hanya menduga-duga?

Sukarno:

Tuan Tan, saya tidak bisa begitu saja membentuk tentara rakyat tanpa memperhitungkan konsekuensi internasional. Tapi saya mendengar Tuan. Saya akan mempertimbangkan semua saran Tuan. Sekarang, saya mohon Tuan membantu saya dalam satu hal: dukunglah pemerintah ini. Jangan melawan saya. Bersatulah di belakang Proklamasi.

Tan Malaka:

Saya mendukung Republik, Bung. Saya mendukung Proklamasi. Tapi saya tidak bisa diam jika saya melihat pemerintah ini mengambil jalan yang salah. Saya akan terus berbicara, menulis, dan mengorganisir. Itu adalah hak saya sebagai warga negara merdeka.

Togog (berhenti berjalan, menatap kedua tokoh itu):

"Hak saya sebagai warga negara merdeka." Kata-kata yang indah. Tapi dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati jalannya RT/RW di kampung saya, hak seringkali berbenturan dengan hak yang lain. Hak untuk mengkritik berbenturan dengan hak untuk memerintah. Hak untuk berbeda pendapat berbenturan dengan hak untuk menjaga stabilitas. Pertanyaan saya: bagaimana kita menyelesaikan benturan ini tanpa saling menghancurkan?

Sukarno menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa Tan Malaka bukanlah sekutu yang mudah diatur. Ia adalah api yang tidak bisa dikurung dalam tungku. Dan Togog... Togog adalah angin yang membuat api itu semakin membara

Sumber:


Dialog ini merekonstruksi ketegangan seputar proklamasi dan strategi pasca-kemerdekaan. Lihat Poeze, vol. 2, 50-100; Anderson, Java in a Time of Revolution 100-150; dan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia 130-160. Kehadiran Togog di Pegangsaan Timur dicatat oleh seorang pembantu rumah tangga yang kemudian diwawancarai oleh peneliti Cornell: "Ada orang aneh yang duduk di teras. Dia bertanya-tanya tentang kelahiran dan kematian. Bung Karno tidak mengusirnya.")


Debat di Tengah Revolusi 1946


Latar:

Pertengahan 1946, di sebuah rumah di Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota Republik. Sukarno dan Tan Malaka kembali bertemu, kali ini dalam suasana yang jauh lebih tegang. Tan Malaka baru saja mendirikan "Persatuan Perjuangan", sebuah koalisi yang menentang kebijakan diplomasi Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Tan Malaka menuntut agar pemerintah menarik diri dari perundingan dengan Belanda dan mempersiapkan perang total. Sukarno, yang mendukung kebijakan Sjahrir, memanggil Tan Malaka untuk mencari jalan tengah, atau setidaknya untuk mengukur seberapa besar ancaman yang ia hadapi.

Togog duduk di sudut ruangan, kali ini tidak membawa kacang. Ia membawa sebuah buku tua berjudul The Art of War, atau setidaknya pura-pura membaca.

Sukarno (duduk di kursi rotan, mengisap rokok kretek):

Tuan Tan, saya mendengar Tuan mendirikan Persatuan Perjuangan. Saya mendengar Tuan menggalang dukungan dari Jenderal Soedirman, dari pemuda-pemuda radikal, dari para ulama. Saya mendengar Tuan menuduh pemerintah saya sebagai "pemerintah borjuis" yang menjual kemerdekaan melalui diplomasi. Apakah ini benar?

Tan Malaka (duduk di hadapan Sukarno, tenang tapi tegas):

Benar, Bung. Saya mendirikan Persatuan Perjuangan karena saya melihat pemerintah ini, terutama Sjahrir, sedang mengambil jalan yang salah. Sjahrir berunding dengan Belanda tanpa syarat. Ia menerima gencatan senjata yang menguntungkan pihak imperialis. Ia mengirim delegasi ke Den Haag untuk membicarakan "negara federasi" di bawah mahkota Belanda. Itu bukan kemerdekaan, Bung. Itu adalah penjajahan yang dipermak.

Togog (menutup bukunya, tersenyum):

"Penjajahan yang dipermak." Metafora yang kuat. Dalam filsafat etika, ada perbedaan antara "penjajahan langsung" dan "penjajahan tidak langsung." Penjajahan langsung menggunakan tentara. Penjajahan tidak langsung menggunakan perjanjian, utang, dan ketergantungan ekonomi. Pertanyaan saya: mana yang lebih berbahaya? Penjajahan langsung yang jelas terlihat, atau penjajahan tidak langsung yang tersembunyi di balik kata-kata indah?

Sukarno:

Tuan Tan, Tuan tidak adil terhadap Sjahrir. Sjahrir adalah seorang nasionalis sejati. Diplomasinya bertujuan untuk mendapatkan pengakuan internasional. Tanpa pengakuan internasional, kita hanyalah "pemberontak" di mata dunia. Belanda akan dengan mudah menghancurkan kita dengan dukungan Sekutu.

Tan Malaka:

Pengakuan internasional? Dari siapa? Dari Amerika yang mendukung imperialisme Belanda? Dari Inggris yang ingin mengembalikan koloni mereka? Bung, pengakuan internasional hanya akan datang jika kita sudah kuat. Bukan sebaliknya. Lihatlah Vietnam. Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan pada tahun yang sama dengan kita. Tapi Prancis tidak mengakuinya, dan sekarang mereka berperang. Apakah Ho Chi Minh salah? Tidak! Dia benar. Dia memilih berperang daripada berkompromi dengan imperialis.

Togog (mengedipkan mata ke arah Tan Malaka):

Bung Tan mengutip contoh Vietnam. Dalam filsafat perang, saya belajar ini dari seorang jenderal yang kalah perang, setiap contoh selalu bisa digunakan untuk mendukung argumen apa pun. Orang yang mendukung perang akan mengutip Vietnam. Orang yang mendukung diplomasi akan mengutip India. Pertanyaan saya: apakah kita yakin bahwa Indonesia sama dengan Vietnam? Atau jangan-jangan, kita hanya memilih contoh yang sesuai dengan kesimpulan yang sudah kita buat sebelumnya?

Sukarno:

Vietnam adalah Vietnam, Indonesia adalah Indonesia. Kita tidak bisa menyamakan begitu saja. Tuan Tan, saya akan berterus terang: saya capek dengan semua perpecahan ini. Di dalam negeri, kita bertikai soal strategi. Di luar, Belanda terus mengancam. Saya butuh persatuan, bukan oposisi yang memecah belah.

Tan Malaka:

Persatuan untuk apa, Bung? Persatuan untuk mendukung diplomasi yang akan menjual kemerdekaan? Itu bukan persatuan, itu pembodohan. Saya menuntut persatuan di atas program yang jelas: "Merdeka 100 Persen". Itu berarti: semua pasukan asing harus angkat kaki dari Indonesia, semua perusahaan asing harus dinasionalisasi, semua tanah partikelir harus dibagikan kepada petani. Jika pemerintah menjalankan program itu, saya akan mendukung sepenuhnya.

Togog (berdiri, berjalan ke tengah ruangan):

"Persatuan di atas program yang jelas." Itu ide yang bagus. Tapi dalam filsafat pemerintahan, masalahnya adalah: siapa yang merumuskan program itu? Siapa yang memutuskan bahwa program ini "jelas" dan program lain "tidak jelas"? Pertanyaan saya: apakah Bung Tan bersedia jika program Bung ditolak oleh mayoritas? Atau Bung akan tetap menjalankannya, meskipun mayoritas menolak? Di sinilah letak masalah demokrasi: bagaimana kita menyikapi suara mayoritas ketika kita yakin bahwa mayoritas salah?

Sukarno:

Tuan Tan, saya juga menginginkan semua itu. Tapi kita harus realistis. Kita tidak bisa melawan seluruh dunia sendirian. Kita butuh sekutu. Kita butuh waktu untuk membangun kekuatan. Diplomasi adalah alat untuk membeli waktu.

Tan Malaka:

Waktu, Bung? Berapa lama lagi rakyat harus menunggu? Petani di desa-desa ditindas oleh tuan tanah. Buruh di perkebunan dieksploitasi oleh modal asing. Pemuda-pemuda kita mati di front pertempuran. Mereka berjuang untuk kemerdekaan, bukan untuk "diplomasi". Jika pemerintah terus berunding sementara rakyat menderita, saya khawatir rakyat akan kehilangan kepercayaan pada Republik ini.

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi sedih):

Bung Tan berbicara tentang "rakyat yang menderita." Dalam filsafat eksistensialisme, penderitaan adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah: penderitaan mana yang lebih besar? Penderitaan karena berperang sekarang, atau penderitaan karena menunggu? Tidak ada yang tahu jawabannya. Karena sejarah tidak memberikan kita kesempatan untuk membandingkan. Kita hanya bisa memilih satu jalan, dan menanggung konsekuensinya.

Sukarno:

Tuan Tan, saya menghargai kepedulian Tuan. Tapi saya juga meminta Tuan untuk mempercayai saya. Saya adalah Presiden. Saya bertanggung jawab atas nasib 70 juta rakyat Indonesia. Saya tidak bisa mengambil keputusan gegabah hanya karena tekanan dari sekelompok orang, betapapun kuatnya idealisme mereka.

Tan Malaka:

Saya tidak menekan, Bung. Saya mengkritik. Itu adalah hak saya sebagai warga negara. Dan saya akan terus mengkritik, selama saya melihat penyimpangan dari cita-cita Proklamasi.

Sukarno:

Kalau begitu, Tuan Tan, saya tidak bisa menghentikan Tuan. Tapi saya memperingatkan: jika Tuan terus menghasut massa melawan pemerintah, saya akan terpaksa mengambil tindakan. Saya tidak ingin, tapi saya harus menjaga stabilitas negara.

Tan Malaka:

Apakah itu ancaman, Bung?

Sukarno:

Bukan ancaman. Peringatan. Dari seorang sahabat kepada sahabat.

Togog (berhenti berjalan, menatap kedua tokoh itu dengan mata yang anehnya sendu):

"Peringatan dari seorang sahabat." Dalam filsafat perang saudara, peringatan dari sahabat seringkali menjadi awal dari permusuhan. Kenapa? Karena sahabat yang memperingatkan biasanya merasa lebih benar. Dan sahabat yang diperingatkan biasanya merasa tidak dihargai. Pertanyaan saya: apakah persahabatan kalian akan bertahan setelah peringatan ini? Atau ini adalah awal dari perpisahan?

Mereka berdua saling menatap. Udara di ruangan itu terasa berat, penuh dengan kata-kata yang tidak terucapkan, persahabatan yang berubah menjadi curiga, kepercayaan yang mulai retak.

Togog (berjalan ke arah pintu, lalu berhenti):

Satu pertanyaan terakhir. Dalam filsafat perang saudara, ada satu pelajaran yang paling pahit: bahwa orang yang paling keras mengkritik seringkali adalah orang yang paling setia. Dan orang yang paling setia seringkali adalah orang yang pertama dikorbankan. Pertanyaan saya: siapa di antara kalian berdua yang akan dikorbankan demi "stabilitas negara"?

Togog keluar, meninggalkan Sukarno dan Tan Malaka dalam keheningan yang penuh firasat.

Sumber:


Debat tentang Persatuan Perjuangan dan diplomasi Sjahrir didokumentasikan dalam Poeze, vol. 2, 200-350; Anderson, Java in a Time of Revolution 250-300; dan Mrázek, Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia 300-350. Kehadiran Togog dicatat dalam buku harian Sukarno: "Togog bertanya lagi. Kali ini tentang persahabatan dan pengorbanan. Aku tidak bisa menjawab.")


Di Bawah Bayang Penangkapan 1946–1948


Latar:

Maret 1946. Tan Malaka ditangkap atas perintah Perdana Menteri Sjahrir, dengan persetujuan diam-diam dari Sukarno. Ia dipenjara tanpa pengadilan, dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, dari Penjara Ponorogo ke Magelang, lalu ke Yogyakarta. Selama dua tahun lebih, ia mendekam dalam sel yang sempit, sementara di luar, revolusi terus bergulir. Sukarno tidak pernah mengunjunginya di penjara, tapi pada suatu hari di tahun 1948, beberapa bulan sebelum Tan Malaka dibebaskan, ia mengirim seorang utusan untuk menyampaikan pesan pribadi. Tan Malaka, yang saat itu ditahan di Penjara Wirogunan, Yogyakarta, menerima utusan itu. Togog, entah bagaimana, sudah berada di dalam sel, mungkin ia bisa menembus dinding, mungkin penjaga tidak peduli.

Utusan (seorang perwira muda):

Bung Tan, saya diutus oleh Bung Karno. Beliau ingin menyampaikan bahwa beliau prihatin atas penangkapan Bung. Tapi beliau tidak bisa berbuat banyak. Situasi politik sangat rumit. Beliau berharap Bung bisa memahami.

Tan Malaka (duduk di atas dipan bambu, menulis di secarik kertas):

Memahami? Tentu saja saya memahami. Saya memahami bahwa saya dikhianati. Oleh Sjahrir, oleh pemerintah, dan juga oleh Sukarno. Dulu, di tahun 1942, Sukarno berjanji bahwa kami akan bekerja sama. Tapi sekarang, saya di penjara, dan dia diam saja. Apakah itu yang disebut persahabatan?

Togog (dari sudut sel, tanpa menoleh):

"Dikhianati." Kata yang berat. Dalam filsafat etika, pengkhianatan adalah melanggar kesetiaan. Tapi pertanyaan saya: setia kepada siapa? Kepada sahabat? Kepada partai? Kepada negara? Atau kepada prinsip? Ada hierarki kesetiaan, dan setiap orang punya urutannya sendiri-sendiri. Mungkin Bung Karno mengkhianati persahabatannya dengan Bung Tan, tapi dia setia pada apa yang dia anggap sebagai "kepentingan negara." Pertanyaan saya: mana yang lebih penting? Kesetiaan pada sahabat, atau kesetiaan pada negara?

Utusan:

Bung Tan, Bung Karno tidak menginginkan ini. Tapi beliau harus menjaga stabilitas. Persatuan Perjuangan yang Bung pimpin dianggap mengancam pemerintah. Bung Karno tidak punya pilihan.

Tan Malaka:

Tidak punya pilihan? Selalu ada pilihan. Sukarno memilih untuk mendukung Sjahrir daripada saya. Itu pilihan politik. Tapi saya tidak dendam. Katakan pada Sukarno, saya tetap menghormatinya sebagai Proklamator. Tapi saya tidak akan pernah tunduk pada kebijakan yang salah. Penjara ini tidak akan membungkam saya. Saya akan terus menulis, berpikir, dan berjuang, meskipun dari balik jeruji.

Togog (mengangguk-angguk):

"Penjara ini tidak akan membungkam saya." Kata-kata yang heroik. Dalam filsafat eksistensialisme, Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia selalu bebas, bahkan di penjara sekalipun. Kebebasan bukanlah soal berada di luar penjara. Kebebasan adalah soal bagaimana kita menyikapi penjara. Pertanyaan saya: apakah Bung Tan benar-benar bebas di dalam penjara ini, atau Bung hanya menghibur diri dengan ilusi kebebasan?

Utusan:

Apakah ada pesan yang ingin Bung sampaikan langsung kepada Bung Karno?

Tan Malaka:

Sampaikan ini: "Bung, berhati-hatilah. Diplomasi yang Bung jalankan akan gagal. Belanda tidak akan pernah menyerahkan kemerdekaan dengan sukarela. Mereka akan melancarkan agresi militer lagi. Dan ketika itu terjadi, rakyat yang akan menderita. Jangan ulangi kesalahan Sjahrir. Kembalilah ke jalan revolusi. Dirikanlah Tentara Rakyat yang kuat. Nasionalisasi perusahaan asing. Bagikan tanah kepada petani. Itu adalah satu-satunya jalan menuju 'Merdeka 100 Persen'."

Togog (berdiri, berjalan ke arah jeruji):

Pesan yang panjang. Tapi dalam filsafat komunikasi, saya belajar ini dari seorang tukang pos yang tidak pernah mengantar surat, pesan yang paling penting seringkali tidak sampai. Entah karena utusannya lupa, atau karena penerimanya tidak mau mendengar. Pertanyaan saya: apakah pesan Bung Tan akan sampai ke telinga Bung Karno? Dan kalau sampai, apakah Bung Karno akan mendengarkannya?

Utusan itu mencatat pesan Tan Malaka dengan saksama. Ia lalu meninggalkan sel penjara, membawa pesan yang mungkin tidak akan pernah sampai sepenuhnya ke telinga Sukarno. Togog tetap di dalam sel, duduk di sudut, menatap Tan Malaka dengan mata yang penuh pengertian.

Togog:

Bung Tan, dalam filsafat perang saudara, ada satu ironi yang paling menyakitkan: orang yang paling keras memperingatkan seringkali adalah orang yang paling tidak didengar. Kenapa? Karena peringatan yang keras terdengar seperti serangan. Dan orang yang diserang akan membela diri, bukan mendengarkan. Pertanyaan saya: apakah Bung Tan menyesal telah berbicara terlalu keras?

Tan Malaka:

Aku tidak menyesal, Togog. Aku hanya sedih. Sedih karena aku melihat jurang di depan, dan aku tidak bisa menghentikan orang-orang yang berjalan ke arahnya.

Togog:

"Sedih." Itu adalah emosi yang paling jujur dari seorang revolusioner. Selamat menulis, Bung Tan. Semoga tulisan-tulisan Bung sampai ke generasi yang lebih mau mendengarkan.

Togog berjalan menembus dinding sel, atau mungkin hanya ilusi, dan menghilang. Tan Malaka kembali ke tulisannya, suara pensilnya beradu dengan kertas, satu-satunya suara di sel yang sunyi.


Sumber:


Penangkapan Tan Malaka dan masa penahanannya dijelaskan dalam Poeze, vol. 2, 350-500; dan Tan Malaka, Dari Pendjara ke Pendjara jilid 1 dan 2. Kehadiran Togog di penjara dicatat oleh seorang sipir yang kemudian diwawancarai oleh peneliti: "Ada orang aneh yang sering muncul di sel Bung Tan. Saya tidak tahu bagaimana dia masuk. Tapi Bung Tan kelihatan lebih tenang setelah berbicara dengannya."


Pertemuan Terakhir, Menjelang Madiun Agustus 1948


Latar:

Tan Malaka dibebaskan pada Juni 1948 setelah lebih dari dua tahun dipenjara tanpa pengadilan. Beberapa bulan kemudian, Musso tiba dari Moskow dengan "Djalan Baru"-nya, dan situasi politik kembali memanas. Tan Malaka, yang kini memimpin Partai Murba, berusaha mencegah pemberontakan PKI yang ia yakini akan berakhir tragis. Ia meminta audiensi dengan Sukarno, yang dikabulkan. Pertemuan ini terjadi di Istana Kepresidenan Yogyakarta pada akhir Agustus 1948, pertemuan terakhir mereka sebelum Tan Malaka tewas. Togog duduk di teras istana, menatap langit senja, seolah-olah ia sudah tahu apa yang akan terjadi.

Sukarno (menyambut Tan Malaka di teras belakang istana):

Tuan Tan, akhirnya kita bertemu lagi. Dua tahun lebih Tuan di penjara. Saya mendengar Tuan keluar dengan selamat. Bagaimana kesehatan Tuan?

Tan Malaka:

Kesehatan saya baik, Bung. Penjara memberi saya banyak waktu untuk berpikir. Saya menyelesaikan Gerpolek di penjara. Saya juga menulis Dari Pendjara ke Pendjara. Penjara bukanlah akhir perjuangan. Ia hanyalah jeda.

Togog (dari teras, tanpa menoleh):

"Jeda." Dalam filsafat metafisika, jeda adalah waktu untuk bernapas. Tapi jeda juga bisa menjadi waktu untuk melupakan. Pertanyaan saya: selama dua tahun Bung Tan di penjara, apakah dunia di luar berubah? Atau tetap sama?

Sukarno:

Saya tahu Tuan tidak akan pernah berhenti. Tapi sekarang, Tuan menghadapi musuh baru: Musso. Saya mendengar Tuan menentang rencana pemberontakan PKI?

Tan Malaka:

Benar. Musso adalah ancaman bagi Republik. Ia ingin mendirikan "Republik Soviet Indonesia" dengan cara kudeta. Itu adalah bunuh diri. Saya sudah memperingatkan Amir Sjarifuddin, tapi dia tidak mendengarkan. Sekarang, saya memohon kepada Bung: tindak tegas Musso dan antek-anteknya sebelum terlambat. Tapi jangan biarkan penumpasan ini menjadi pembantaian brutal. Tangkap pemimpinnya, ampuni pengikutnya yang tersesat.

Togog (akhirnya menoleh):

Bung Tan meminta penumpasan yang terbatas. Dalam filsafat perang, "penumpasan terbatas" adalah konsep yang hampir mustahil. Begitu kekerasan dimulai, ia akan meluas seperti api di hutan kering. Siapa yang bisa mengendalikan api? Pertanyaan saya: apakah Bung Karno bisa menjamin bahwa penumpasan ini tidak akan berubah menjadi pembantaian?

Sukarno:

Saya sudah mendengar rencana mereka. Intelijen saya bekerja. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan Republik ini, baik Belanda, maupun kaum komunis radikal. Tapi saya juga tidak ingin terburu-buru. Biarkan mereka menunjukkan kartu mereka dulu. Biarkan rakyat melihat siapa yang benar dan siapa yang salah.

Tan Malaka:

Bung, jangan menunggu sampai mereka memberontak. Bertindaklah sekarang. Setiap hari yang terbuang adalah risiko. Jika Madiun meletus, ribuan orang akan mati.

Sukarno:

Tuan Tan, saya menghargai saran Tuan. Tapi saya Presiden. Saya harus memutuskan kapan dan bagaimana bertindak. Saya tidak bisa didikte oleh siapa pun, termasuk oleh Tuan.

Togog (berdiri, berjalan ke arah mereka):

"Saya tidak bisa didikte oleh siapa pun." Kata-kata yang sering diucapkan oleh pemimpin yang mulai merasa tidak tersentuh. Dalam filsafat pemerintahan, pemimpin yang menolak kritik adalah pemimpin yang mulai berjalan menuju jurang. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno masih memiliki orang-orang yang berani mengkritik Bung? Atau Bung sudah dikelilingi oleh para penjilat yang hanya mengatakan apa yang ingin Bung dengar?

Sukarno (menatap Togog dengan tajam):

Togog, kau selalu muncul dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan. Tapi kau benar. Aku masih memiliki kritikus. Tan Malaka adalah salah satunya. Tapi menjadi Presiden bukanlah perkara mendengarkan semua kritik. Menjadi Presiden adalah perkara memilih kritik mana yang harus didengar, dan kritik mana yang harus diabaikan.

Togog (tersenyum):

"Memilih kritik mana yang harus didengar." Dalam filsafat etika, itu adalah tindakan yang paling berbahaya. Karena kita cenderung memilih kritik yang sesuai dengan keinginan kita, dan mengabaikan kritik yang mengganggu. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno mendengarkan Bung Tan karena kritiknya benar, atau karena Bung Tan adalah sahabat lama?

Tan Malaka:

Saya tidak mendikte, Bung. Saya memperingatkan. Sebagaimana saya sudah memperingatkan tentang bahaya diplomasi kompromi pada 1946, dan ternyata saya benar: Linggarjati gagal, dan Belanda melancarkan Agresi Militer Pertama. Sekarang saya memperingatkan tentang bahaya pemberontakan prematur. Saya berharap Bung tidak akan mengabaikan peringatan saya lagi.

Togog (mengangguk-angguk):

Bung Tan benar tentang Linggarjati. Tapi dalam filsafat sejarah, orang yang benar tidak selalu menang. Bahkan, orang yang benar seringkali kalah. Kenapa? Karena kebenaran seringkali pahit, dan orang lebih suka mendengar kebohongan yang manis. Pertanyaan saya: kalau Bung Tan benar lagi kali ini, apakah Bung Karno akan mengakuinya? Atau Bung Karno akan mencari pembenaran lain?

Sukarno:

Saya tidak mengabaikan, Tuan Tan. Saya mendengarkan. Tapi saya juga punya pertimbangan sendiri. Tuan mungkin tidak setuju dengan semua keputusan saya. Tapi saya harap Tuan tetap percaya bahwa saya mencintai Republik ini sama besarnya dengan Tuan.

Tan Malaka:

Saya percaya, Bung. Tapi cinta saja tidak cukup. Cinta harus diwujudkan dalam tindakan yang tepat. Jika Bung salah bertindak, Republik ini bisa runtuh. Dan saya tidak ingin itu terjadi.

Sukarno:

Saya juga tidak ingin itu terjadi, Tuan Tan. Karena itu, saya mohon doa restu dari Tuan. Meskipun kita sering berbeda pendapat, saya tahu Tuan adalah salah seorang putra terbaik bangsa ini.

Tan Malaka:

Doa restu? Bung, saya bukan kyai. Saya hanyalah seorang pemikir yang gelisah. Tapi jika Bung meminta, saya akan memberikan yang terbaik yang saya bisa: saya akan terus menulis, terus berbicara, terus mengingatkan. Itu adalah tugas saya.

Togog (berjalan ke arah pintu, lalu berhenti):

Tugas. Dalam filsafat eksistensialisme, tugas adalah apa yang kita pilih untuk kita lakukan. Tidak ada yang memaksa kita. Kita memilih sendiri. Bung Tan memilih untuk terus mengingatkan, meskipun tahu bahwa peringatannya mungkin tidak didengar. Itu adalah pilihan yang mulia. Tapi juga pilihan yang tragis. Pertanyaan terakhir saya: apakah kalian berdua akan bertemu lagi? Atau ini adalah pertemuan terakhir?

Mereka berdua berdiri. Tan Malaka menjabat tangan Sukarno untuk terakhir kalinya. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, hanya kesedihan mendalam di antara dua laki-laki yang dulu pernah bermimpi bersama.

Sukarno:

Selamat jalan, Tuan Tan. Semoga Tuhan melindungi Tuan.

Tan Malaka:

Selamat jalan, Bung. Semoga Tuhan melindungi Republik.

Tan Malaka melangkah keluar dari istana, menuju malam yang gelap. Ia tidak tahu bahwa pertemuan ini adalah yang terakhir. Beberapa bulan kemudian, ia akan tewas di kaki Gunung Wilis, ditembak oleh tentara Republik yang menganggapnya musuh.

Togog (menatap kepergian Tan Malaka, lalu menatap Sukarno):

Bung Karno, dalam filsafat perang saudara, ada satu kebenaran yang paling pahit: bahwa revolusi selalu memakan anak-anaknya sendiri. Tan Malaka adalah anak revolusi. Bung Karno juga anak revolusi. Pertanyaan saya: siapa yang akan dimakan berikutnya?

Sukarno tidak menjawab. Ia hanya menatap kegelapan di luar, di mana bayangan Tan Malaka telah menghilang.

Sumber:


Pertemuan terakhir ini adalah rekonstruksi imajiner, namun didasarkan pada fakta bahwa Tan Malaka memang memperingatkan Sukarno dan pemerintah tentang bahaya pemberontakan PKI. Lihat Poeze, vol. 2, 550-600; Swift, The Road to Madiun 80-120; dan Kahin, Nationalism and Revolution 280-310. Kehadiran Togog dicatat oleh seorang ajudan Sukarno: "Orang aneh itu muncul lagi. Kali ini dia bertanya tentang 'anak revolusi yang dimakan'. Bung Karno tidak bisa tidur setelahnya.)


Pesan Terakhir dari Alam Kubur Februari 1949


Latar:

Tan Malaka tertangkap oleh pasukan TNI di Desa Selopanggung, Kediri, pada 21 Februari 1949. Ia dieksekusi di tempat, tanpa pengadilan. Jenazahnya dikubur secara diam-diam di kaki Gunung Wilis. Sukarno tidak pernah secara terbuka mengomentari kematian Tan Malaka, meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa ia terkejut dan sedih mendengar berita itu. Dalam rekonstruksi imajiner ini, Sukarno menerima sepucuk surat yang ditulis oleh Tan Malaka beberapa hari sebelum kematiannya, yang diselundupkan oleh seorang simpatisan. Togog duduk di sudut ruangan, kali ini tanpa kata-kata, hanya diam.

Sukarno (duduk sendirian di ruang kerjanya, membaca surat dengan tangan gemetar):

Bung Karno,

Jika surat ini sampai ke tangan Bung, itu artinya saya sudah tiada. Saya tidak tahu kapan dan bagaimana saya akan mati. Tapi saya tahu bahwa kematian selalu mengintai di setiap tikungan jalan bagi seorang revolusioner.


Togog (bersuara pelan, tanpa humor):

"Kematian selalu mengintai." Dalam filsafat metafisika, kematian adalah satu-satunya kepastian. Tapi manusia selalu terkejut ketika kepastian itu datang.

Sukarno (melanjutkan membaca):

Bung, saya menulis ini bukan untuk meminta belas kasihan. Saya menulis ini untuk menyampaikan pesan terakhir saya. Republik yang kita dirikan bersama-sama, meskipun kita sering berbeda pendapat, adalah harta yang paling berharga bagi bangsa ini. Jagalah ia. Jangan biarkan ia jatuh ke tangan imperialis. Jangan biarkan ia dikuasai oleh kaum kapitalis dan feodal yang hanya memikirkan kepentingan sendiri.

Togog:

"Jangan biarkan ia jatuh." Sebuah permohonan. Tapi dalam filsafat pemerintahan, kekuasaan selalu jatuh ke tangan mereka yang paling kuat, bukan mereka yang paling benar. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno cukup kuat untuk menjaga Republik?

Sukarno (melanjutkan membaca):

Saya tahu Bung sering menganggap saya terlalu radikal. Tapi Bung harus tahu: radikalisme saya lahir dari cinta saya kepada rakyat kecil, petani yang tanahnya dirampas, buruh yang upahnya dicuri, pemuda yang masa depannya direnggut oleh penjajah. Saya tidak pernah meminta kekuasaan untuk diri saya sendiri. Saya hanya ingin melihat Republik ini benar-benar merdeka, seratus persen.

Togog (mengangguk pelan):

"Saya tidak pernah meminta kekuasaan." Itu adalah klaim yang sering diucapkan oleh orang yang tidak pernah mendapatkan kekuasaan. Dalam filsafat etika, kita tidak pernah tahu apakah seseorang menginginkan kekuasaan sampai dia benar-benar memilikinya. Pertanyaan saya: kalau Bung Tan mendapatkan kekuasaan, apakah dia akan tetap sama? Atau dia akan berubah seperti yang lain?

Sukarno (melanjutkan membaca):

Bung, saya sudah memperingatkan tentang Madiun. Saya tidak tahu apakah peringatan saya didengar atau tidak. Tapi satu hal yang saya tahu: sejarah akan mengadili kita semua. Generasi mendatang akan membaca apa yang kita tulis, apa yang kita lakukan, dan apa yang kita korbankan. Semoga mereka bisa belajar dari kesalahan kita.

Togog:

"Sejarah akan mengadili kita." Dalam filsafat sejarah, pengadilan sejarah adalah pengadilan yang paling tidak adil. Karena hakimnya adalah generasi yang tidak pernah mengalami apa yang kita alami. Mereka akan menilai dengan standar mereka sendiri, bukan dengan standar kita. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno siap diadili oleh generasi yang belum lahir?

Sukarno (melanjutkan membaca):

Bung, jika ada kata-kata saya yang pernah menyakiti hati Bung, maafkanlah. Saya hanyalah seorang pengembara yang mencari kebenaran. Saya tidak punya apa-apa selain pikiran dan hati nurani. Itu saja yang saya wariskan kepada Republik tercinta.

Selamat jalan, Bung. Merdeka 100 Persen.

Tan Malaka


Sukarno meletakkan surat itu di meja. Air matanya menetes perlahan. Di luar, suara meriam terdengar dari kejauhan, Belanda sedang melancarkan Agresi Militer Kedua. Republik yang ia dirikan masih tergantung di ujung tanduk.

Sukarno (berbisik kepada dirinya sendiri):

Tuan Tan, Tuan benar. Tuan benar tentang banyak hal. Tapi Tuan terlalu keras, terlalu tidak kenal kompromi. Di dunia ini, kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang-kadang, kita harus menerima setengah, seperempat, atau bahkan sepersepuluh dari cita-cita kita. Tapi Tuan tidak pernah mau menerima itu. Tuan menginginkan semuanya, atau tidak sama sekali. Itulah kehebatan Tuan. Dan itulah juga kelemahan Tuan.

Togog (berdiri, berjalan ke arah Sukarno):

Bung Karno, dalam filsafat perang saudara, ada satu pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab: siapa yang benar? Orang yang mati untuk prinsipnya, atau orang yang hidup dengan mengkompromikan prinsipnya? Tan Malaka mati untuk "Merdeka 100 Persen." Bung Karno hidup dengan "Pancasila." Mana yang lebih benar? Saya tidak tahu. Dan saya ragu sejarah akan bisa menjawabnya.
 

Sukarno melipat surat itu dengan hati-hati, menyimpannya di dalam laci mejanya. Surat itu akan tetap di sana, menjadi saksi bisu dari sebuah persahabatan yang retak, sebuah perjuangan yang terbelah, dan sebuah bangsa yang terus mencari jati dirinya.


Togog (berjalan ke arah pintu, lalu berhenti):

Satu hal lagi, Bung Karno. Dalam filsafat eksistensialisme, hidup yang autentik adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh akan pilihan-pilihannya. Tan Malaka memilih jalan yang sunyi, jalan yang tidak populer, jalan yang membuatnya dibenci oleh kiri dan kanan. Tapi dia tidak pernah menyerah. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diklaim oleh kebanyakan manusia.

Pertanyaan terakhir saya: apakah Bung Karno akan mati dengan perasaan yang sama? Ataukah Bung akan mati dengan penyesalan?
 

Togog keluar, meninggalkan Sukarno sendirian dengan surat, dengan air mata, dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab.


Sumber:


Surat imajiner ini direkonstruksi berdasarkan gaya penulisan Tan Malaka dalam Dari Pendjara ke Pendjara dan Surat-Surat Politik. Reaksi Sukarno terhadap kematian Tan Malaka tidak banyak tercatat, namun beberapa saksi menyebutkan bahwa Sukarno menunjukkan "rasa kehilangan yang mendalam" ketika mendengar berita kematian Tan Malaka. Lihat Poeze, vol. 3, 800-850; dan Dahm, Sukarno and the Struggle 350-370. Kehadiran Togog dicatat oleh ajudan Sukarno: "Orang aneh itu muncul lagi. Kali ini dia tidak bertanya banyak. Tapi kata-katanya membuat Bung Karno menangis."


Epilog Warisan yang Tak Pernah Padam



Latar:

1959. Sepuluh tahun setelah kematian Tan Malaka. Sukarno, yang kini memimpin Demokrasi Terpimpin, mengunjungi perpustakaan pribadinya di Istana Bogor. Ia menemukan kembali surat Tan Malaka yang sudah menguning. Di hadapannya, terbentang buku-buku dan pamflet-pamflet Tan Malaka yang dulu ia baca dengan penuh semangat di masa muda: Naar de Republiek Indonesia, Madilog, Gerpolek. Togog, yang tidak berubah sedikit pun, seolah-olah waktu tidak mempengaruhinya, duduk di sudut perpustakaan, membaca buku tua.

Sukarno (berbicara kepada dirinya sendiri, atau mungkin kepada hantu Tan Malaka yang masih bergentayangan di antara rak-rak buku):

Tuan Tan, sepuluh tahun sudah Tuan pergi. Tapi pikiran Tuan masih hidup. Di setiap pidato saya, di setiap konsep yang saya rumuskan, di setiap kebijakan yang saya ambil, saya mendengar gema suara Tuan. Tuan menginginkan nasionalisasi? Saya sudah menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Tuan menginginkan landreform? Saya sudah mengesahkan Undang-Undang Pokok Agraria. Tuan menginginkan konfrontasi dengan imperialis? Saya sedang bersiap untuk merebut Irian Barat dengan senjata. Lihatlah, Tuan Tan, saya tidak melupakan ajaran Tuan. Saya hanya memilih waktu yang berbeda, cara yang berbeda.

Togog (menutup bukunya, berbicara tanpa menoleh):

"Saya tidak melupakan ajaran Tuan." Kata-kata yang sering diucapkan oleh murid yang telah melampaui gurunya. Tapi dalam filsafat etika, ada perbedaan antara "melanjutkan ajaran" dan "menggunakan ajaran untuk membenarkan diri." Pertanyaan saya: apakah Bung Karno benar-benar melanjutkan ajaran Tan Malaka, atau Bung hanya menggunakan nama Tan Malaka untuk melegitimasi kebijakan Bung sendiri?

Sukarno (terkejut, lalu tersenyum):

Togog. Tentu saja kau di sini. Aku tidak heran. Kau seperti hantu yang tidak pernah pergi.

Togog (tersenyum lebar):

Saya adalah hantu yang paling bandel, Bung Karno. Saya tidak pergi sampai semua pertanyaan dijawab. Dan karena pertanyaan tidak pernah habis, saya tidak akan pernah pergi. Hehehe.

Sukarno:

Tuan Tan benar tentang satu hal: kemerdekaan seratus persen itu sulit. Imperialisme tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berganti baju, dari kolonialisme politik ke kolonialisme ekonomi. Dan di dalam negeri, feodalisme masih bercokol. Tuan-tuan tanah masih menguasai tanah, sementara petani masih melarat.

Togog:

"Mereka hanya berganti baju." Dalam filsafat materialisme, bentuk bisa berubah, tapi esensi tetap sama. Imperialisme abad ke-19 menggunakan kapal perang. Imperialisme abad ke-20 menggunakan utang dan pakta militer. Imperialisme abad ke-21 akan menggunakan... apa? Mungkin algoritma. Mungkin data. Mungkin kecerdasan buatan. Pertanyaan saya: apakah Republik ini siap menghadapi imperialisme dalam bentuk apa pun?

Sukarno:

Saya berusaha, Tuan Tan. Saya berusaha menyatukan nasionalisme, agama, dan komunisme dalam Nasakom. Saya berusaha menciptakan "revolusi yang belum selesai" seperti yang Tuan impikan. Tapi semakin saya berkuasa, semakin saya merasa... sendiri. Tuan sudah tiada. Hatta sudah mundur. Sjahrir di penjara. Musso mati ditembak. Amir dieksekusi. Semua sahabat dan lawan saya satu per satu pergi. Tinggal saya sendiri, di puncak kekuasaan, ditemani oleh bayang-bayang masa lalu.

Togog (berdiri, berjalan ke arah Sukarno):

"Sendiri di puncak kekuasaan." Dalam filsafat pemerintahan, itu adalah nasib semua pemimpin yang berkuasa terlalu lama. Semakin tinggi kita naik, semakin sedikit orang yang bisa berbicara sejajar dengan kita. Semakin sedikit orang yang berani mengkritik kita. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno masih memiliki teman sejati? Atau hanya pengikut dan penjilat?

Sukarno:

Tuan Tan, saya sering bertanya-tanya: andai Tuan masih hidup, apakah Tuan akan mendukung saya? Atau apakah Tuan akan mengkritik saya lagi, seperti dulu? Mungkin Tuan akan mengatakan bahwa Demokrasi Terpimpin adalah kediktatoran yang menyimpang dari cita-cita Proklamasi. Mungkin Tuan akan menuduh saya sebagai "borjuis" karena saya hidup di istana sementara rakyat masih menderita. Mungkin Tuan akan membentuk Persatuan Perjuangan jilid dua dan menentang saya.

Togog (tersenyum pahit):

Bung Karno sudah tahu jawabannya. Tan Malaka pasti akan mengkritik. Karena itulah esensinya: mengkritik. Tapi kritiknya lahir dari cinta, bukan dari kebencian. Pertanyaan saya: apakah Bung Karno lebih suka dikritik oleh sahabat, atau dipuji oleh penjilat?

Sukarno:

Tapi saya tidak takut pada kritik, Tuan Tan. Saya justru merindukannya. Kritik adalah garam bagi revolusi. Tanpa kritik, kekuasaan akan menjadi tumpul dan busuk. Saya berharap, di alam kubur sana, Tuan masih bisa mengkritik saya. Saya akan mendengarkan, seperti dulu, di rumah kecil di Gang Kenari, ketika kita masih muda dan penuh semangat, dan masa depan Republik masih terbentang luas di depan mata.

Togog (berjalan ke arah rak buku, mengambil Madilog dan membukanya):

Bung Karno, dalam buku ini, Tan Malaka menulis: "Sejarah adalah guru yang paling kejam. Ia memberikan ujian dulu, baru pelajaran." Pertanyaan saya: apakah Bung Karno sudah belajar dari sejarah? Atau Bung akan mengulangi kesalahan yang sama?
 

Sukarno tidak menjawab. Ia menatap buku Madilog yang terbuka di tangan Togog. Di luar jendela, mentari sore menyinari Kebun Raya Bogor. Burung-burung berkicau. Angin berhembus pelan. Sejarah terus bergulir.


Sukarno:

Selamat beristirahat, Tuan Tan. Sejarah akan mencatat nama Tuan. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi suatu hari nanti, generasi mendatang akan menemukan tulisan-tulisan Tuan, dan mereka akan berkata: "Di sinilah, di antara halaman-halaman ini, terdapat api yang tidak pernah padam."

Togog (menutup buku, meletakkannya kembali di rak):

Api yang tidak pernah padam. Itu adalah metafora yang indah. Tapi dalam filsafat sains, api selalu membutuhkan bahan bakar. Tanpa bahan bakar, api akan mati. Pertanyaan saya: siapa yang akan menjadi bahan bakar bagi api Tan Malaka? Generasi mendatang? Atau jangan-jangan, api itu sudah padam, dan yang tersisa hanyalah abu?
 

Togog berjalan ke arah pintu perpustakaan. Ia berhenti sejenak, menatap Sukarno untuk terakhir kalinya.
 

Togog:

Selamat tinggal, Bung Karno. Saya tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi. Tapi saya yakin, di mana pun Bung berada nanti, Tan Malaka sudah menunggu. Dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dengan kritik-kritiknya. Dengan cintanya yang keras dan tanpa kompromi.

Dan satu hal lagi, Bung. Dalam filsafat perang saudara, tidak ada yang benar-benar menang. Tidak ada yang benar-benar kalah. Yang ada hanyalah korban. Dan korban terbesar selalu rakyat kecil, mereka yang tidak pernah membaca Marx atau Lenin, yang hanya ingin makan dan hidup damai. Jangan lupakan mereka, Bung. Jangan pernah lupakan mereka.

Hehehe. Kali ini tawa saya benar-benar sedih.

Togog keluar. Sukarno tetap duduk di perpustakaannya, dikelilingi oleh buku-buku dan hantu-hantu masa lalu. Sejarah terus bergulir, tak peduli pada air mata atau penyesalan.
 

Sumber:


Epilog ini adalah rekonstruksi imajiner yang didasarkan pada kebijakan-kebijakan Sukarno selama Demokrasi Terpimpin yang sejalan dengan pemikiran Tan Malaka. Lihat Legge, Sukarno 350-400; Dahm, Sukarno and the Struggle 400-450; dan Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno 200-250. Hubungan intelektual antara Sukarno dan Tan Malaka dianalisis secara mendalam dalam Poeze, Verguisd en Vergeten vol. 3, 850-900. Kehadiran Togog di perpustakaan Istana Bogor dicatat oleh seorang pustakawan: "Orang aneh itu sering datang. Dia membaca buku-buku Tan Malaka dan bertanya-tanya. Bung Karno selalu terlihat sedih setelah dia pergi.")

Daftar Pustaka


Anderson, Benedict R.O'G. Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972.

Dahm, Bernhard. Sukarno and the Struggle for Indonesian Independence. Ithaca: Cornell University Press, 1969.

Hatta, Mohammad. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Jakarta: Tintamas, 1970.

Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1952.

Legge, John D. Sukarno: A Political Biography. Sydney: Allen & Unwin, 1972.

Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.

Mrázek, Rudolf. Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia. Ithaca: Cornell Southeast Asia Program, 1994.

Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. 3 vols. Leiden: KITLV Press, 2007.

Sukarno. Di Bawah Bendera Revolusi. 2 jilid. Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1963.

Sukarno. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dikisahkan oleh Cindy Adams. Jakarta: Gunung Agung, 1966.

Sukarno. Lahirnya Pancasila: Pidato 1 Juni 1945 di BPUPKI. Jakarta: Departemen Penerangan RI, 1960.

Swift, Ann. The Road to Madiun: The Indonesian Communist Uprising of 1948. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1989.

Tan Malaka. Dari Pendjara ke Pendjara. 3 jilid. Yogyakarta: Pustaka Murba, 1950.

Tan Malaka. Gerpolek (Gerilya-Politik-Ekonomi). Jakarta: Jajasan Massa, 1960.

Tan Malaka. Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. Jakarta: Widjaya, 1951.

Tan Malaka. Surat-Surat Politik. Yogyakarta: Yayasan Massa, 1986.

Tan Malaka. Naar de Republiek Indonesia. Kanton: 1925. Diterjemahkan sebagai Menuju Republik Indonesia. Jakarta: Jajasan Massa, 1962.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togog, Soeharto, Ali Moertopo, dan Soedjono Hoemardhani tentang ASPRI

Pada awal 1970-an, sebuah institusi aneh tumbuh subur di bawah bayang-bayang kekuasaan Orde Baru. Namanya ASPRI, Asisten Pribadi Presiden. Di atas kertas, mereka hanyalah pembantu Presiden. Dalam kenyataannya, mereka adalah pusat kekuasaan bayangan yang mengendalikan intelijen, ekonomi, politik, dan keamanan negara. Dipimpin oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ASPRI menjelma menjadi "negara dalam negara", sebuah junta militer dengan Soeharto sebagai patron dan para asisten sebagai klien yang setia.

Di Ujung Jurang Revolusi, Rekonstruksi Dialogi Tan Malaka Musso, Amir, dan Togog Menjelang Madiun 1948

Peristiwa Madiun 1948 adalah salah satu luka paling dalam dan paling gelap dalam sejarah Republik yang baru lahir. Sering dianggap sebagai "pemberontakan PKI", peristiwa ini menewaskan ribuan orang dan mengoyak persatuan nasional di tengah Agresi Militer Belanda. Namun, yang sering terlupakan adalah bahwa Partai Komunis Indonesia sendiri, di bawah pimpinan Musso yang baru kembali dari Moskow, terbelah. Di luar PKI, ada seorang tokoh yang sudah lama memperingatkan bencana ini: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka.