Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dialog Imajiner

Di Bawah Bayang Sang Proklamator, Rekonstruksi Dialog Imajiner Tan Malaka, Sukarno, dan Togog 1942–1949

Saya, mempersembahkan rekonstruksi imajiner ini sebagai sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali dialog-dialog yang mungkin pernah terjadi antara dua tokoh paling kompleks dalam sejarah Republik Indonesia: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka dan Ir. Sukarno. Pertemuan mereka bukanlah pertemuan biasa. Ia adalah benturan dua arus besar pemikiran kebangsaan, Marxisme kerakyatan versus Nasionalisme populis, gerilya intelektual versus diplomasi panggung, "Merdeka 100 Persen" versus "Pancasila".

Di Ujung Jurang Revolusi, Rekonstruksi Dialogi Tan Malaka Musso, Amir, dan Togog Menjelang Madiun 1948

Peristiwa Madiun 1948 adalah salah satu luka paling dalam dan paling gelap dalam sejarah Republik yang baru lahir. Sering dianggap sebagai "pemberontakan PKI", peristiwa ini menewaskan ribuan orang dan mengoyak persatuan nasional di tengah Agresi Militer Belanda. Namun, yang sering terlupakan adalah bahwa Partai Komunis Indonesia sendiri, di bawah pimpinan Musso yang baru kembali dari Moskow, terbelah. Di luar PKI, ada seorang tokoh yang sudah lama memperingatkan bencana ini: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka.