Pada awal 1970-an, sebuah institusi aneh tumbuh subur di bawah bayang-bayang kekuasaan Orde Baru. Namanya ASPRI, Asisten Pribadi Presiden. Di atas kertas, mereka hanyalah pembantu Presiden. Dalam kenyataannya, mereka adalah pusat kekuasaan bayangan yang mengendalikan intelijen, ekonomi, politik, dan keamanan negara. Dipimpin oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ASPRI menjelma menjadi "negara dalam negara", sebuah junta militer dengan Soeharto sebagai patron dan para asisten sebagai klien yang setia.
Di Bawah Bayang Sang Proklamator, Rekonstruksi Dialog Imajiner Tan Malaka, Sukarno, dan Togog 1942–1949
Saya, mempersembahkan rekonstruksi imajiner ini sebagai sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali dialog-dialog yang mungkin pernah terjadi antara dua tokoh paling kompleks dalam sejarah Republik Indonesia: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka dan Ir. Sukarno. Pertemuan mereka bukanlah pertemuan biasa. Ia adalah benturan dua arus besar pemikiran kebangsaan, Marxisme kerakyatan versus Nasionalisme populis, gerilya intelektual versus diplomasi panggung, "Merdeka 100 Persen" versus "Pancasila".