Gelombang sejarah kerap menenggelamkan nama-nama besar, namun Tan Malaka terus muncul menantang dari kedalaman lupa. Buku “Biografi Politik Tan Malaka Hasil Rekonstruksi Harry A. Poeze” yang ada di tangan Anda adalah ikhtiar monumental untuk menyusun kembali mozaik kehidupan seorang pemikir dan pejuang yang terlampau visioner bagi zamannya.
Sebagai Penulis yang Masih Belajar, saya menyaksikan betapa mudahnya narasi sejarah direduksi menjadi hitam-putih, terutama menyangkut tokoh kontroversial seperti Tan Malaka. Ia seorang Marxis yang kukuh, nasionalis yang menolak segala bentuk penjajahan, internasionalis yang fasih berbahasa asing, namun selalu memimpikan Indonesia Merdeka 100 persen. Di tengah historiografi Indonesia yang kerap terjebak dalam glorifikasi dan demonisasi, karya Harry A. Poeze hadir sebagai oase objektivitas. Sejarawan Belanda ini mendedikasikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk meneliti Tan Malaka, membangun biografi politik yang sangat rinci berbasis arsip-arsip dari berbagai negara serta wawancara dengan saksi sejarah yang kini telah tiada. Proses rekonstruksinya tak ubahnya seorang arkeolog yang sabar menyikat debu dari artefak yang terkubur, mengungkap sosok Tan Malaka yang multidimensional.
Sebagai Penulis yang Masih Belajar, saya menyaksikan betapa mudahnya narasi sejarah direduksi menjadi hitam-putih, terutama menyangkut tokoh kontroversial seperti Tan Malaka. Ia seorang Marxis yang kukuh, nasionalis yang menolak segala bentuk penjajahan, internasionalis yang fasih berbahasa asing, namun selalu memimpikan Indonesia Merdeka 100 persen. Di tengah historiografi Indonesia yang kerap terjebak dalam glorifikasi dan demonisasi, karya Harry A. Poeze hadir sebagai oase objektivitas. Sejarawan Belanda ini mendedikasikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk meneliti Tan Malaka, membangun biografi politik yang sangat rinci berbasis arsip-arsip dari berbagai negara serta wawancara dengan saksi sejarah yang kini telah tiada. Proses rekonstruksinya tak ubahnya seorang arkeolog yang sabar menyikat debu dari artefak yang terkubur, mengungkap sosok Tan Malaka yang multidimensional.
Buku ini bukan sekadar terjemahan atau ringkasan dari magnum opus Poeze, melainkan sintesis dan penyesuaian yang memungkinkan pembaca Indonesia menyelami pemikiran dan gerak politik Tan Malaka dalam alur yang terpadu. Di dalamnya terhampar perjalanan dari masa kecil di Pandan Gadang, pengembaraan intelektual di Belanda, aktivitas revolusioner di Jawa, pertemuan dengan tokoh-tokoh Komintern di Moskow, penyamaran sebagai “Pendekar” di Manila dan Shanghai, hingga peran misteriusnya menjelang Proklamasi dan pendirian Partai Murba. Setiap bab membuka lanskap pergolakan dunia pada paruh pertama abad ke-20, tempat Tan Malaka bergerak lincah di antara raksasa-raksasa politik global.
Keistimewaan buku ini terletak pada penekanan dimensi politik pemikiran Tan Malaka. Poeze tidak sekadar merekam kronologi, melainkan membedah gagasan-gagasan radikal: Republik Indonesia yang harus diproklamasikan sejak 1925, konsep “Merdeka 100 Persen”, federalisme dan sosialisme ala Indonesia, kritik terhadap kapitalisme dan imperialisme, serta polemiknya dengan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Rekonstruksi ini menampilkan Tan Malaka sebagai seorang realis yang menawarkan jalan terjal namun jelas menuju kedaulatan rakyat.
Namun, sebagaimana diisyaratkan oleh judul salah satu karya Poeze, “Verguisd en vergeten” (Dihujat dan Dilupakan), kehidupan Tan Malaka berakhir tragis: ia ditembak mati di kaki Gunung Wilis pada 1949, tanpa pengadilan, oleh bangsanya sendiri yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ironi sejarah ini menjadi luka abadi yang dirawat oleh buku ini, bukan untuk menebar dendam, melainkan untuk memulihkan ingatan dan keadilan. Dengan menyajikan bukti-bukti yang teliti, Harry A. Poeze seakan menuntun kita menyaksikan sebuah persidangan sejarah yang tak pernah terjadi.
Saya mengagumi dedikasi Poeze yang memadukan kecerdasan, keberanian, dan ketekunan. Melacak jejak seorang “hantu” revolusi yang sengaja dihapus dari catatan resmi menuntut lebih dari sekadar metode akademis; ia menuntut kecintaan pada kebenaran. Hasilnya, buku ini adalah harta karun bagi siapa pun yang ingin mengerti Indonesia secara jujur, di luar mitos-mitos rezim.
Akhirnya, saya mengundang para pembaca untuk menyelami buku ini sebagai sebuah perjalanan intelektual. Biarkan narasi yang disusun dengan kedisiplinan tinggi ini membawa Anda berlayar, dan biarkan Tan Malaka berbicara langsung kepada zaman kita yang masih bergulat dengan isu keadilan sosial, kedaulatan nasional, dan integritas perjuangan. Semoga buku ini menjadi suluh yang menerangi salah satu sudut tergelap sejarah bangsa.
Bagi Poeze, Tan Malaka bukanlah "pahlawan yang dilupakan" dalam pengertian heroik-tragis yang sentimental. Ia adalah subjek yang "dihilangkan" secara sistematis, baik oleh rezim kolonial yang memburunya, oleh kawan-kawan politiknya yang mengkhianatinya, maupun oleh rezim pasca-kemerdekaan yang mengeksekusinya lalu mengubur ingatan tentangnya. Maka, pertanyaan pertama yang diajukan Poeze bukanlah "Seberapa besarkah jasanya?", melainkan "Di manakah bukti-bukti keberadaannya?" (Poeze, Jilid I 3). Pertanyaan ini menjadi fondasi metodologis dari apa yang kelak menjadi magnum opus-nya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, sebuah proyek biografi yang menghabiskan waktu lebih dari tiga dekade, melintasi empat benua, dan membongkar tumpukan arsip yang selama ini diabaikan atau sengaja disembunyikan.
Poeze memulai proyek ini dari titik nol. Pada tahun 1972, ketika ia pertama kali tiba di Indonesia untuk penelitian disertasinya yang semula berkisar pada pers dan pergerakan nasional, ia dihadapkan pada realitas pahit: hampir tidak ada arsip Tan Malaka yang tersedia di ruang publik Indonesia. Negara telah membersihkannya. Buku-bukunya, seperti Madilog dan Dari Penjara ke Penjara, beredar secara sembunyi-sembunyi, difotokopi dari edisi lama yang sudah menguning. Dalam pengantarnya untuk jilid pertama biografinya, Poeze menulis, "Jejak Tan Malaka seolah-olah telah diuapkan oleh sejarah resmi. Untuk menemukannya kembali, saya harus menjadi seorang pemburu, bukan hanya pemburu dokumen, tetapi juga pemburu ingatan yang tersisa" (Jilid I 5). Kalimat ini menegaskan bahwa metodologi Poeze adalah metodologi keterpaksaan; ia tidak bisa duduk manis di perpustakaan dan membaca arsip yang tersusun rapi. Ia harus keluar, mewawancarai, membujuk, dan mengais-ngais serpihan kertas yang nyaris musnah.
Langkah pertama Poeze adalah langkah yang paling manusiawi namun paling diburu waktu: menemui para saksi hidup yang pernah berinteraksi langsung dengan Tan Malaka. Ini adalah sebuah balapan melawan kematian. Pada awal 1970-an, banyak veteran revolusi yang mengenal Tan Malaka, baik sebagai kawan, lawan, atau bawahan, masih hidup, tetapi usia mereka sudah lanjut dan ingatan mereka mulai memudar. Poeze melakukan perjalanan ke Selopanggung, Kediri, tempat Tan Malaka dieksekusi dan dimakamkan secara darurat. Di sana, di lereng Gunung Wilis yang sunyi, ia bertemu dengan mantan prajurit-prajurit Pembela Proklamasi yang dipimpin oleh Mayor Sabirin, serta penduduk desa yang menjadi saksi bisu detik-detik terakhir Tan Malaka.
Wawancara-wawancara ini adalah sumber primer yang krusial, tetapi sekaligus problematis. Poeze sangat menyadari bahwa ingatan manusia bersifat rentan terhadap romantisasi dan penyimpangan. Dalam catatan metodologisnya, ia menegaskan perlunya memperlakukan kesaksian lisan bukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai petunjuk awal yang harus diverifikasi dengan dokumen tertulis. "Wawancara dengan para veteran sering kali menghasilkan narasi yang heroik, di mana narasumber memposisikan diri sebagai pengawal setia terakhir sang pemimpin. Saya mencatat semuanya dengan saksama, tetapi saya tidak akan mempercayainya sebelum ada bukti arsip yang mengonfirmasi" (Poeze, Jilid II 10). Pendekatan ini menempatkan Poeze sebagai penyeimbang antara tradisi lisan dan positivisme arsip. Ia menghormati para saksi sebagai manusia, tetapi ia tidak membiarkan emosi mengaburkan penilaiannya sebagai sejarawan. Baginya, ingatan adalah tambang, bukan emas yang sudah jadi.
Hasil dari wawancara di Selopanggung dan daerah lain memberikan Poeze gambaran awal yang kontradiktif. Ada yang menggambarkan Tan Malaka sebagai sosok zuhud yang tidur di lumbung padi dan menolak fasilitas, sementara yang lain mengingatnya sebagai pemimpin yang keras kepala dan sulit diajak kompromi. Satu fragmen penting yang diperoleh Poeze adalah kesaksian tentang bagaimana Tan Malaka, di masa-masa terakhirnya yang paling terdesak, masih terus menulis di buku-buku tulis kecil yang selalu dibawanya. Kesaksian ini menjadi kunci yang mengarahkan Poeze ke satu hipotesis besar: Tan Malaka adalah seorang manusia kertas. Jika jasadnya dilenyapkan, pikirannya mungkin masih berserakan di suatu tempat dalam bentuk tulisan. Hipotesis inilah yang kemudian mendorong Poeze keluar dari Indonesia menuju labirin arsip kolonial di Eropa.
Tahap Kedua Arsip Kolonial di Den Haag dan London
Jika wawancara adalah pembuka jalan, maka arsip kolonial adalah inti dari pekerjaan detektif Poeze. Tujuan pertamanya adalah Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda) di Den Haag. Di sinilah tersimpan arsip Kementerian Koloni (Ministerie van Koloniën) dan arsip Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Bagi Poeze, ruang baca di Den Haag adalah tambang emas yang gelap. Di antara ribuan bundel laporan tentang perdagangan, pajak, dan administrasi, ia harus mencari jarum dalam jerami: dokumen-dokumen yang berkaitan dengan seorang agitator komunis yang sejak tahun 1922 telah dinyatakan sebagai buronan kelas satu oleh pemerintah kolonial.
Di sinilah konsep "manusia kertas" yang diyakini Poeze menemukan pembenaran empirisnya. Tan Malaka tidak meninggalkan rumah mewah, foto-foto keluarga, atau benda pusaka. Yang ia tinggalkan hanyalah jejak-jejak reaktif dari aparat yang memburunya: laporan intelijen, surat edaran penangkapan, fotokopi paspor palsu, dan transkrip interogasi terhadap kawan-kawan seperjuangannya yang tertangkap. Ironisnya, rezim kolonial yang berusaha memusnahkan Tan Malaka justru menjadi kurator paling teliti dari detail kehidupannya. Poeze menulis, "Tan Malaka di mata Polisi Kolonial adalah sebuah berkas yang tidak pernah bisa ditutup. Setiap kali mereka mengira telah membunuhnya atau menangkapnya, ia muncul kembali dengan nama samaran baru di tempat yang berbeda. Dari sinilah saya, sebagai peneliti yang lahir terlambat, justru mendapat keuntungan: semakin panik polisi mencari Tan Malaka, semakin tebal pula arsip yang mereka hasilkan" (Jilid I 9).
Arsip-arsip di Den Haag mengungkapkan sisi paling gelap dari pelarian Tan Malaka. Poeze menemukan laporan persinggahan Tan di Filipina dengan nama samaran Elias Fuentes, lengkap dengan deskripsi fisiknya: "Tinggi sekitar 1,65 meter, kulit sawo matang, berjanggut tipis, dan berbicara dengan logat Tagalog yang fasih" (Poeze, Jilid II 156). Temuan ini mengejutkan karena menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak hanya sekadar bersembunyi, tetapi juga berasimilasi secara mendalam dengan masyarakat lokal. Di London, di Public Record Office (sekarang The National Archives), Poeze memburu arsip intelijen Inggris (MI5 dan Secret Intelligence Service) yang melacak pergerakan Tan Malaka di Asia Tenggara. Sebagai buronan Komintern yang dicurigai akan memicu pemberontakan di koloni-koloni Asia, Tan Malaka masuk dalam radar intelijen Kerajaan Inggris. Dari sini, Poeze mendapat konfirmasi silang (cross-reference) yang sangat berharga. Laporan agen Inggris di Shanghai pada tahun 1930-an, misalnya, menyebutkan pertemuan rahasia Tan Malaka dengan Alimin, tokoh PKI yang telah berkhianat, yang membenarkan bahwa Tan sempat kembali ke Tiongkok untuk berhubungan dengan jaringan komunis internasional.
Poeze menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membaca korespondensi berkode antara dinas intelijen kolonial. Ia harus mempelajari cara membaca "bahasa birokrasi ketakutan" ini, di mana "ekstremis" adalah kata ganti untuk komunis, dan "barang cetakan berbahaya" adalah sebutan untuk pamflet-pamflet Tan Malaka. Dalam satu bundel laporan yang berdebu, Poeze menemukan dokumen paling berharga: fotokopi pamflet Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis Tan Malaka di Kanton pada tahun 1925, yang disita oleh agen rahasia Belanda di Singapura. Penemuan ini sangat penting karena membuktikan bahwa Tan Malaka telah memproklamasikan gagasan Republik Indonesia jauh sebelum Soekarno-Hatta melakukannya. "Bagi saya, menemukan pamflet ini di antara laporan polisi adalah momen eureka. Di sini, seorang agen kolonial tanpa sadar telah mengawetkan bukti kecerdasan visioner Tan Malaka, yang seharusnya dimusnahkannya," kenang Poeze (Poeze, Jilid I 22).
Kejatuhan Uni Soviet membuka pintu yang selama ini terkunci. Poeze adalah salah satu sejarawan pertama dari luar Rusia yang menyelami arsip RGASPI untuk mencari jejak tokoh-tokoh komunis Asia. Di Moskow, dalam suhu yang membekukan dan birokrasi arsip yang masih kaku, Poeze menemukan "peti harta karun" intelektual. Ia menemukan laporan-laporan asli yang ditulis tangan oleh Tan Malaka untuk Komintern, risalah rapat Komite Eksekutif yang dihadirinya, dan yang paling penting, surat-surat polemiknya dengan para pemimpin komunis Eropa. Dokumen-dokumen ini mengonfirmasi bahwa Tan Malaka bukan sekadar anggota biasa; ia adalah seorang teoretikus yang berani.
Satu temuan yang sangat direkankan oleh Poeze adalah pidato Tan Malaka di depan Kongres Komintern Keempat pada tahun 1922. Dalam pidatonya, Tan Malaka dengan tajam mengkritik strategi komunis Eropa yang terlalu bersandar pada buruh industri, dan menyerukan perhatian khusus pada potensi revolusioner kaum tani di Asia, serta, yang paling menarik, potensi "Pan-Islamisme" sebagai sekutu taktis melawan imperialisme. Poeze mensitir arsip ini untuk menunjukkan bahwa Tan Malaka adalah seorang Marxis yang heterodoks, yang tidak takut berselisih paham dengan para petinggi Moskow. "Di Moskow, saya menemukan bahwa Tan Malaka bukanlah sekadar murid Marx yang patuh. Ia adalah seorang pemikir yang mencoba menyesuaikan Marxisme dengan kondisi konkret Asia, dan karena itu ia dianggap 'menyimpang' oleh kawan-kawannya sendiri" (Poeze, Jilid II 240). Perspektif ini penting untuk memahami mengapa Tan Malaka kemudian berpisah jalan dengan PKI yang dipimpin Alimin dan Musso, yang dianggapnya terlalu tunduk pada garis komando Stalin.
Dari arsip RGASPI ini pula, Poeze mampu merekonstruksi secara rinci jaringan bawah tanah Tan Malaka di seluruh Asia. Ia tidak hanya menjadi buronan Belanda, tetapi juga menjadi target intelijen Inggris, Prancis (di Indochina), dan Amerika (di Filipina). "Dengan membaca laporan Komintern dan laporan intelijen kolonial secara berdampingan, saya merasa seperti membaca kisah petualangan nyata yang luar biasa: seorang guru dari Sumatera berhasil mempermainkan dinas rahasia beberapa kekuatan imperialis sekaligus, hanya bermodalkan kecerdasan dan kemampuan bahasanya yang luar biasa," tulis Poeze (Jilid II 246). Metode membaca dokumen secara "berdampingan" ini adalah kunci dari keahlian Poeze: ia tidak percaya pada satu narasi tunggal. Ia menempatkan klaim Tan Malaka tentang dirinya sendiri, klaim Komintern, dan klaim intelijen kolonial dalam satu meja, lalu menyisir perbedaan dan persamaannya untuk menemukan fakta yang paling mungkin.
Tahap Keempat Harta Karun di Singapura dan Manila
Setelah melacak Tan Malaka melalui arsip-arsip negara dan partai, Poeze memasuki fase paling sulit dan paling pribadi dari penelitiannya: memburu manuskrip-manuskrip yang ditulis Tan Malaka dalam pengasingan. Fase ini membawanya ke lorong-lorong sempit Pecinan di Singapura dan ke komunitas eksil Filipina. Poeze tahu bahwa Tan Malaka adalah penulis yang luar biasa produktif, terutama selama masa-masa pelariannya yang sepi. Madilog ditulisnya di Rawajati, dekat Jakarta, tetapi banyak naskah lain yang ditulis di luar negeri. Ke manakah perginya kertas-kertas itu?
Jawabannya, menurut informasi yang dikumpulkan Poeze dari jaringan veteran, terletak pada solidaritas komunitas Tionghoa perantauan. Selama bertahun-tahun, Tan Malaka sering kali menyamar sebagai guru bahasa Inggris dan Mandarin untuk anak-anak pedagang Tionghoa. Hubungannya yang erat dengan komunitas ini membuatnya menitipkan banyak tulisan kepada mereka. Di Singapura, Poeze harus membangun kepercayaan dengan para pedagang tua yang menyimpan koper-koper berisi dokumen berbahasa Indonesia, Belanda, dan Mandarin. Poeze menggambarkan pengalamannya: "Saya duduk di sebuah toko obat di Singapura, minum teh, dan mendengarkan cerita tentang 'Mr. Tan' yang eksentrik. Kemudian, dari loteng toko yang berdebu, diturunkan sebuah kardus berisi tulisan tangan. Di sanalah saya menemukan bagian-bagian dari novel semi-otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, yang belum pernah diterbitkan" (Poeze, Jilid II 12).
Di Manila, ceritanya lebih dramatis. Poeze melacak teman-teman lama Tan Malaka dari masa ia bersembunyi di Filipina dengan nama samaran Elias Fuentes. Di sini, Poeze menemukan bukti bahwa Tan Malaka tidak hanya menulis teks politik, tetapi juga esai-esai tentang budaya dan pendidikan. Salah satu temuan yang paling mengharukan bagi Poeze adalah surat-surat pribadi yang menunjukkan kemanusiaan Tan Malaka: bagaimana ia merindukan tanah air, bagaimana ia merayakan ulang tahunnya yang ke-40 dalam kesendirian, dan bagaimana ia berjuang melawan penyakit paru-paru yang dideritanya tanpa akses ke dokter yang layak. "Di Manila, saya tidak hanya menemukan Tan Malaka sang revolusioner. Saya menemukan Tan Malaka sang manusia, yang kesepian, yang menulis bukan hanya untuk massa yang abstrak, tetapi juga untuk menjaga kewarasannya sendiri. Menulis adalah caranya untuk tidak mati sebelum waktunya," refleksi Poeze (Jilid II 17).
Proses pengumpulan manuskrip ini menunjukkan dedikasi Poeze yang melampaui kerja akademis biasa. Ia tidak hanya mengandalkan jalur resmi perpustakaan atau arsip negara. Ia menjadi seperti Tan Malaka itu sendiri: seorang penjelajah yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari satu informan ke informan lain, mengikuti jejak kertas yang hampir punah. Dengan mengumpulkan sobekan-sobekan kertas, buku tulis yang sudah dimakan rayap, dan catatan-catatan kecil, Poeze sedang merakit kembali sebuah mozaik kesadaran.
Metode arsipnya yang ketat adalah alat untuk mencapai objektivitas. Dengan menyajikan fakta-fakta mentah dari laporan intelijen, korespondensi pribadi, dan risalah rapat, Poeze memaksa pembaca untuk melihat Tan Malaka sebagai manusia yang kompleks dan sering kali kontradiktif. "Saya berusaha untuk 'mendinginkan' figur Tan Malaka," tegas Poeze dalam salah satu wawancaranya yang dikutip dalam pengantar bukunya. "Jika kita hanya memujanya sebagai pahlawan tanpa cela, kita tidak akan pernah bisa belajar dari kehebatannya maupun dari kesalahannya. Tugas sejarawan adalah membawa figur sejarah kembali ke suhu normal, sehingga mereka bisa dianalisis secara rasional" (Poeze, Jilid III 15).
Dengan "mendinginkan" Tan Malaka, Poeze justru secara paradoksal memperkuat keagungannya. Di hadapan dokumen-dokumen yang ia sajikan, kita tidak melihat seorang superman yang tak terkalahkan. Kita melihat seorang pria dengan tubuh ringkih dan paru-paru yang rusak, yang terus-menerus dikhianati, yang sering kali gagal dalam manuver politiknya. Namun, dalam kesendirian dan kegagalannya itu, kita menyaksikan keagungan intelektual yang langka: kapasitas untuk terus berpikir, menulis, dan merumuskan strategi di tengah kondisi yang paling tidak manusiawi. Madilog, yang oleh beberapa kritikus dianggap sebagai teks yang kering dan sulit dicerna, dalam perspektif Poeze menjadi bukti ketahanan mental yang luar biasa. "Bahwa seorang buronan yang selalu berpindah-pindah, tanpa akses ke perpustakaan besar, mampu menulis sebuah risalah filosofis yang mencoba menerangkan sains, logika, dan sejarah dari perspektif materialis, adalah sebuah keajaiban intelektual yang hanya bisa dihargai jika kita memahami konteks ekstrem di mana ia ditulis" (Poeze, Jilid II 300).
Dengan demikian, biografi karya Poeze adalah sebuah monumen kertas. Di tengah usaha sistemik negara untuk menghapus Tan Malaka, Poeze datang dengan sekop dan kuas arkeolognya, menggali setiap fragmen yang tersisa. Ia menunjukkan bahwa Tan Malaka bukanlah hantu yang tak bertulang. Ia memiliki substansi, dan substansi itu adalah tulisannya. Setiap pamflet, setiap surat, setiap buku catatan adalah fosil dari pikiran yang menolak untuk menyerah. Pada akhirnya, metode Poeze mengajarkan satu hal fundamental: bahwa kebenaran sejarah tidak pernah ditemukan dalam satu narasi yang bersih dan sudah jadi. Kebenaran sejarah harus direkonstruksi dengan susah payah dari ingatan yang retak dan tinta yang memudar, dan dalam rekonstruksi itulah terletak kemuliaan tertinggi dari pekerjaan seorang sejarawan. Inilah fondasi yang memungkinkan kita untuk melanjutkan ke biografi itu sendiri: sebuah kisah hidup yang tidak hanya diceritakan, tetapi dibuktikan.
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. Diterjemahkan oleh tim penerjemah, PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. (Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014).
Babak awal kehidupan Tan Malaka ini, dari kelahirannya di Suliki hingga keberangkatannya ke Belanda dan akhirnya kembali ke Hindia pada tahun 1921, sering kali dipadatkan dalam narasi-narasi populer menjadi sekadar prolog singkat sebelum memasuki "aksi sejati" dalam pergerakan politik. Poeze menolak penyederhanaan semacam ini. Baginya, periode formatif ini justru adalah kunci hermeneutis untuk membuka seluruh pemikiran Tan Malaka selanjutnya. Di sinilah, dalam ketegangan antara akar tradisional Minangkabau dan kosmopolitanisme Eropa, antara pendidikan kolonial yang menindas dan pencerahan intelektual yang membebaskan, serta antara identitas "pribumi" yang direndahkan dan identitas "Hindia" yang mulai ia konstruksi, Tan Malaka menempa dirinya menjadi pemikir yang unik. Poeze menegaskan bahwa Tan Malaka bukanlah produk dari satu dunia, melainkan produk dari benturan antar-dunia. "Ia tidak sepenuhnya tercerabut dari akar Minangnya, namun ia juga tidak sepenuhnya larut dalam modernitas Barat. Ia berdiri di ambang pintu, dengan satu kaki di masing-masing dunia, dan dari posisi liminal inilah ia melihat realitas kolonial dengan kejernihan yang langka" (Poeze, Jilid I 33).
Untuk merekonstruksi periode ini, Poeze mengandalkan tiga jenis sumber utama yang masing-masing memberikan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Pertama, korespondensi pribadi Tan Malaka dengan keluarganya di Suliki, yang memberikan jendela langka ke dalam dunia emosional dan psikologis sang tokoh. Kedua, arsip-arsip akademik dari Rijkskweekschool Haarlem, yang mendokumentasikan perkembangan intelektual formalnya dan membantah stigma bahwa Tan hanyalah agitator emosional. Dan ketiga, transkrip pidato-pidato awalnya di hadapan Sarekat Islam Semarang pada tahun 1921, yang menunjukkan bagaimana benih-benih pemikiran politiknya mulai bersemi dan bagaimana ia mulai merumuskan strateginya yang kontroversial: taktik "blok dalam" antara komunisme dan Islam. Ketiga sumber ini, ketika dibaca secara berdampingan sesuai dengan metode khas Poeze, menghasilkan potret tiga dimensi tentang pembentukan seorang internasionalis yang akarnya tertanam kuat di bumi Sumatera, namun ranting-ranting pemikirannya menjangkau ke Moskow, Kanton, dan Manila.
Poeze menemukan korespondensi ini bukan melalui jalur arsip formal, melainkan melalui jaringan keluarga dan kenalan di Sumatera Barat. Beberapa surat disimpan oleh keturunan keluarga besar Datuk Rasyid, ayah Tan Malaka, sebagai pusaka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yang lainnya ditemukan di antara tumpukan kertas yang hampir dibakar oleh kerabat yang ketakutan selama pembersihan anti-komunis tahun 1965-1966. "Setiap surat yang selamat dari pembakaran itu adalah keajaiban kecil," catat Poeze. "Mereka selamat dari panasnya api politik karena diselipkan di balik lemari atau di dalam lipatan Al-Qur'an. Ironisnya, represi Orde Baru terhadap komunisme justru mendorong beberapa keluarga untuk menyembunyikan dokumen-dokumen ini lebih dalam lagi, yang secara tak sengaja melestarikannya untuk ditemukan oleh peneliti yang cukup sabar" (Poeze, Jilid I 45).
Bahasa sebagai Medan Pertempuran Identitas
Analisis Poeze terhadap surat-surat ini sangat teliti, dan salah satu aspek yang paling ia tekankan adalah penggunaan bahasa. Tan Malaka muda menulis dalam bahasa Minang yang fasih, tetapi sejak surat-surat paling awalnya, ditulis sekitar usia sepuluh tahun, saat ia mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rendah Belanda (Hollandsch-Inlandsche School atau HIS) di Payakumbuh, kita sudah dapat melihat infiltrasi kata-kata Belanda ke dalam kosakatanya. Poeze mengidentifikasi ini bukan sekadar fenomena linguistik yang lumrah pada anak-anak pribumi yang dididik dalam sistem kolonial. Ia melihatnya sebagai pertanda awal dari transformasi identitas yang lebih dalam, sebuah transformasi yang akan mencapai puncaknya dua dekade kemudian ketika Tan Malaka menulis Madilog dalam bahasa Indonesia yang sama sekali baru. "Setiap kata Belanda yang disisipkan Tan muda ke dalam suratnya adalah sebuah batu bata kecil dalam pembangunan identitas barunya. Ia tidak lagi sekadar Ibrahim dari Pandan Gadang. Ia mulai menjadi seseorang yang dapat bergerak di antara dua dunia linguistik, dan dengan demikian, dua dunia kultural" (Poeze, Jilid I 51).
Yang menarik perhatian Poeze adalah bagaimana Tan Malaka, bahkan pada usia yang sangat muda, sudah menunjukkan apa yang disebutnya sebagai "bakat linguistik yang luar biasa." Dalam salah satu surat yang diperkirakan ditulis pada tahun 1908, ketika Tan berusia sebelas tahun, ia tidak hanya mencampurkan bahasa Minang dan Belanda, tetapi juga menyisipkan beberapa kata Arab yang ia pelajari dari pengajian Al-Qur'an. "Ibrahim kecil sudah menjadi poliglot yang sedang tumbuh," tulis Poeze. "Ia menulis kepada ibunya tentang pelajaran mengaji, tetapi menggunakan kata 'juffrouw' (nyonya) untuk menyebut guru perempuannya di HIS, dan 'orang kaya' untuk menyebut pejabat kolonial yang ia lihat di Payakumbuh. Dalam satu paragraf suratnya, kita dapat menemukan tiga lapisan peradaban: Islam, Adat, dan Eropa, semuanya bertumpuk dan saling mengomentari" (Jilid I 55).
Poeze menyoroti sebuah surat yang ditulis oleh Tan Malaka pada tahun 1914, ketika ia berusia tujuh belas tahun dan baru beberapa bulan berada di Bogor. Dalam surat ini, Tan muda menceritakan kepada ayahnya tentang sebuah insiden kecil namun simbolis di stasiun kereta api: seorang pegawai stasiun Belanda berteriak kasar kepadanya karena ia tidak segera memahami instruksi yang diberikan. Tan menulis, dengan nada yang masih canggung tetapi sudah mengandung bibit-bibit kemarahan, "Mengapa orang kulit putih itu berbicara kepada saya seperti saya adalah kerbaunya? Saya sudah belajar bahasa Belanda dengan baik, tetapi dia tidak mau mendengarkan. Dia hanya melihat kulit saya." Poeze menganalisis fragmen ini sebagai momen penting dalam perkembangan psikologis Tan Malaka. "Di sinilah kita melihat kelahiran kesadaran kolonialnya. Ini bukan lagi sekadar keterkejutan kultural karena melihat benda-benda baru. Ini adalah pengalaman langsung tentang penghinaan rasial yang sistematis. Anak yang dulunya hanya bingung, kini mulai marah" (Poeze, Jilid I 63).
Poeze berhati-hati untuk tidak meromantisasi atau melebih-lebihkan signifikansi dari surat-surat ini. Ia mengakui bahwa Tan Malaka bukanlah satu-satunya anak pribumi yang mengalami rasisme di stasiun kereta api. Namun, yang membedakan Tan, menurut Poeze, adalah kapasitasnya untuk mengartikulasikan pengalaman itu dan menyimpannya sebagai bahan bakar intelektual. "Banyak anak pribumi yang mengalami hal serupa dan kemudian menundukkan kepala, menerima bahwa memang itulah tatanan alamiah. Tan Malaka tidak. Ia menyimpan ingatan tentang penghinaan itu, menganalisisnya, dan dua puluh tahun kemudian, ia akan menulis di Dari Penjara ke Penjara bahwa kemarahan terhadap rasisme kolonial adalah awal dari kesadaran politiknya. Surat-surat ini adalah bukti tertulis pertama dari proses penyimpanan itu" (Poeze, Jilid I 65).
Dalam surat-surat selanjutnya, Poeze mencatat bagaimana Tan Malaka mulai menggunakan kata "kita" untuk merujuk bukan hanya kepada orang Minang, tetapi kepada semua pribumi di Hindia Belanda. Ketika ia menulis tentang "nasib kita" atau "tanah air kita," konteksnya sudah melampaui batas-batas nagari atau bahkan Sumatera. Ini adalah perubahan semantik yang halus tetapi revolusioner. "Identitas 'Hindia' yang ia konstruksi melalui surat-suratnya adalah latihan awal untuk identitas 'Indonesia' yang akan ia perjuangkan kemudian. Sebelum ada Indonesia, ada Hindia, dan Tan Malaka adalah salah satu arsitek konseptual dari transisi ini," tulis Poeze (Jilid I 75).
"Untuk memahami bahwa Tan Malaka bukanlah sekadar agitator, kita harus pergi ke tempat di mana ia menghabiskan tahun-tahun paling formatif dalam perkembangan intelektualnya: ruang kelas di Haarlem," tulis Poeze. "Di sanalah, di bawah bimbingan guru-guru Belanda yang disiplin, ia belajar bukan hanya apa yang harus dipikirkan, tetapi bagaimana cara berpikir. Arsip-arsip akademik dari periode ini adalah saksi bisu yang tak terbantahkan tentang ketekunan dan sistematika yang menjadi ciri khas pendekatannya terhadap segala hal" (Jilid I 89).
Tan Malaka tiba di Belanda pada bulan Oktober 1913, sebagai bagian dari kelompok kecil pemuda pribumi yang mendapat kesempatan langka untuk melanjutkan pendidikan ke negeri induk. Keberangkatannya ini sendiri sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Dari ribuan siswa pribumi di Hindia Belanda, hanya segelintir yang lolos seleksi untuk belajar di Belanda, dan Tan Malaka adalah salah satu dari mereka. Namun, Poeze dengan cepat menambahkan bahwa prestasi ini tidak boleh diromantisasi sebagai kisah "anak desa yang menaklukkan Eropa." Di balik keberhasilan Tan Malaka lolos seleksi, ada sistem kolonial yang secara sengaja membatasi jumlah pemuda pribumi yang boleh mengenyam pendidikan tinggi, karena takut bahwa pendidikan akan menciptakan pemimpin-pemimpin perlawanan. "Pemerintah kolonial berada dalam posisi paradoks," jelas Poeze. "Mereka membutuhkan tenaga terdidik untuk menjalankan birokrasi, tetapi setiap pemuda terdidik yang mereka hasilkan adalah bom waktu potensial. Tan Malaka adalah salah satu bom waktu itu" (Jilid I 92).
Poeze mendapatkan akses ke buku rapor dan catatan guru-guru Tan Malaka di Haarlem. Dari dokumen-dokumen ini, ia merekonstruksi profil seorang siswa yang, dalam kata-katanya, "metodis, tekun, dan sangat sistematis dalam pendekatannya terhadap studi" (Jilid I 101). Nilai-nilai Tan Malaka dalam mata pelajaran seperti matematika, ilmu alam, dan bahasa modern (termasuk Jerman dan Prancis, di luar bahasa Belanda yang sudah dikuasainya) secara konsisten berada di atas rata-rata kelas. Yang lebih menarik bagi Poeze adalah catatan-catatan kualitatif yang ditulis oleh para gurunya. Salah seorang guru matematika, misalnya, menulis tentang Tan: "Murid ini memiliki kemampuan analitis yang tajam. Ia tidak puas dengan menghafal rumus; ia selalu ingin tahu mengapa rumus itu bekerja. Ini adalah tanda dari pikiran yang filosofis" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 103).
Komentar tentang "pikiran yang filosofis" ini sangat penting bagi Poeze. Ia menggunakannya untuk membangun argumen bahwa benih-benih Madilog, yang sering kali dianggap sebagai karya yang berat, kering, dan sangat sistematis, sudah dapat dilihat dalam kebiasaan belajar Tan Malaka sejak masa mudanya. Madilog bukanlah produk dari seorang agitator yang tiba-tiba memutuskan untuk menulis filsafat. Madilog adalah produk dari seorang pemikir yang selama bertahun-tahun telah melatih pikirannya untuk bekerja secara logis, sistematis, dan berbasis bukti. "Kita tidak bisa memahami Madilog tanpa memahami Haarlem," tegas Poeze. "Di Haarlem, Tan Malaka belajar bahwa emosi revolusioner harus dilandasi oleh analisis yang dingin, bahwa slogan-slogan harus didukung oleh argumen, dan bahwa untuk mengubah dunia, seseorang harus terlebih dahulu memahami bagaimana dunia itu bekerja. Ini adalah pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan" (Jilid I 108).
Namun, pengaruh guru tidak hanya bersifat satu arah. Poeze menemukan bukti bahwa Tan Malaka aktif dalam lingkaran diskusi mahasiswa Indonesia (saat itu masih disebut Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia) di Belanda. Dalam forum-forum inilah ia mulai mengasah kemampuan debatnya dan menguji ide-idenya di hadapan audiens yang kritis. Notulensi rapat yang ditemukan Poeze menunjukkan bahwa Tan Malaka sering kali menjadi pembicara utama dalam diskusi-diskusi tentang masa depan Hindia, dan bahwa ia sudah mulai mengembangkan pandangan-pandangan yang radikal. Dalam salah satu notulensi dari tahun 1915, tercatat bahwa Tan Malaka berdebat dengan seorang mahasiswa lain tentang perlunya pendidikan massa sebagai prasyarat kemerdekaan. Ia berargumen bahwa "kemerdekaan yang diberikan oleh Belanda tidak ada artinya jika rakyat tidak cukup terdidik untuk mengisinya. Kemerdekaan harus direbut, bukan diberikan, dan perebutan itu dimulai di sekolah-sekolah" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 123). Poeze melihat argumen ini sebagai cikal bakal dari obsesi Tan Malaka seumur hidupnya terhadap pendidikan kerakyatan.
Poeze mendukung klaim ini dengan merujuk pada kebiasaan menulis Tan Malaka yang sudah terbentuk sejak masa studinya. Tidak seperti banyak aktivis yang lebih suka berbicara, Tan Malaka adalah seorang penulis yang produktif. Arsip-arsip dari periode Haarlem menunjukkan bahwa ia menulis esai-esai panjang tentang berbagai topik, mulai dari sistem pendidikan hingga perbandingan agama. Beberapa esai ini disimpan oleh teman-teman sekelasnya dan kemudian diserahkan kepada Poeze. "Membaca esai-esai ini, kita melihat seorang pemuda yang berjuang untuk memahami dunia melalui tulisan," komentar Poeze. "Menulis, baginya, bukanlah sekadar alat komunikasi; ia adalah alat berpikir. Dengan menuangkan pikirannya ke atas kertas, ia memaksa dirinya untuk menjadi jelas, logis, dan koheren. Ini adalah disiplin intelektual yang akan terus ia praktikkan sepanjang hidupnya, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun" (Jilid I 134).
Dengan mendasarkan analisisnya pada arsip-arsip akademik yang tak terbantahkan, Poeze berhasil membangun sebuah potret Tan Malaka muda yang sangat berbeda dari stereotipe yang beredar. Ini bukanlah potret seorang agitator yang hanya mengandalkan karisma dan emosi. Ini adalah potret seorang pemikir yang sedang tumbuh, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengasah pikirannya di ruang-ruang kelas, yang membaca buku-buku tebal dengan tekun, yang berdebat dengan kawan-kawannya di malam hari, dan yang menuangkan semua refleksinya ke dalam tulisan-tulisan yang sistematis. Inilah fondasi intelektual yang, dua dekade kemudian, akan memungkinkannya untuk menulis Madilog di tengah persembunyian.
Poeze menggambarkan kepulangan Tan Malaka sebagai momen yang sangat menentukan. "Ia kembali ke Hindia dengan bekal teori-teori yang telah dipelajarinya di Eropa, tetapi ia tahu bahwa teori-teori itu harus diuji dan disesuaikan dengan kondisi lokal. Ia tidak kembali sebagai seorang dogmatis yang akan memaksakan Marxisme ortodoks pada masyarakat yang belum mengenalnya. Ia kembali sebagai seorang eksperimentator politik, yang siap untuk belajar dari realitas dan menyesuaikan strateginya" (Jilid I 150).
Pilihan Tan Malaka untuk menetap di Semarang, di pantai utara Jawa, adalah signifikan secara politik. Semarang pada saat itu adalah pusat radikalisme di Hindia Belanda. Di sanalah Sarekat Islam cabang Semarang, di bawah pimpinan Semaun, telah berkembang menjadi kekuatan politik yang besar dan berhaluan komunis. Tan Malaka, yang telah menjalin kontak dengan gerakan sosialis internasional selama di Belanda, diterima dengan tangan terbuka oleh kelompok Semaun. Ia segera mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sekolah yang didirikan oleh SI, dan di sinilah ia memulai karier gandanya: sebagai pendidik dan sebagai propagandis politik.
Poeze memfokuskan perhatiannya pada sebuah pidato yang disampaikan oleh Tan Malaka pada pertengahan tahun 1921, yang olehnya disebut sebagai "salah satu pidato paling penting dalam sejarah hubungan antara komunisme dan Islam di Indonesia" (Jilid I 165). Dalam pidato ini, Tan Malaka secara eksplisit berusaha menjembatani kesenjangan ideologis antara Marxisme, yang ateis, dan Islam, yang teistik. Ini adalah upaya yang sangat berani dan kontroversial, yang akan menentukan arah gerakan kiri di Indonesia selama beberapa dekade ke depan.
"Tan Malaka tidak memulai pidatonya dengan menyerang agama," tulis Poeze dalam analisisnya terhadap transkrip tersebut. "Ia memulainya dengan menyerang kapitalisme. Ia menggambarkan penderitaan para petani dan buruh dalam istilah-istilah yang bisa langsung dipahami oleh audiens Muslim. Ia berbicara tentang 'setan-setan modern' yang menindas rakyat, dan ia mengidentifikasi setan-setan itu bukan sebagai makhluk supernatural, melainkan sebagai sistem ekonomi yang eksploitatif. Ini adalah strategi retoris yang brilian. Ia menggunakan kosakata religius untuk menyampaikan pesan materialis" (Jilid I 170).
Poeze melanjutkan analisisnya dengan menunjukkan bagaimana Tan Malaka kemudian secara halus memperkenalkan konsep-konsep Marxis dengan membungkusnya dalam terminologi Islam. "Ketika ia berbicara tentang 'perjuangan melawan kezaliman', audiens Muslim mungkin mendengarnya sebagai jihad. Ketika ia berbicara tentang 'masyarakat tanpa kelas', audiens mungkin membayangkan masyarakat Madinah di bawah Nabi. Tan Malaka tidak berbohong. Ia tidak mengatakan bahwa Marxisme dan Islam adalah sama. Tetapi ia menekankan titik-titik temu yang cukup banyak untuk membuat audiens Muslim merasa bahwa komunisme bukanlah ancaman terhadap iman mereka" (Jilid I 172).
"Taktik blok dalam Tan Malaka sering kali disalahpahami sebagai upaya untuk 'menghancurkan Islam dari dalam'," tulis Poeze. "Ini adalah interpretasi yang disebarkan oleh musuh-musuh politiknya, baik dari kalangan Islam konservatif maupun dari pemerintah kolonial. Tetapi jika kita membaca dengan saksama pidato-pidato dan tulisan-tulisan Tan Malaka, kita akan melihat bahwa ia benar-benar menghormati Islam sebagai kekuatan sosial yang besar. Ia tidak ingin menghancurkannya. Ia ingin mengalihkan energinya dari orientasi eskatologis (menunggu surga) ke orientasi duniawi (memperjuangkan keadilan di bumi). Baginya, Islam adalah kendaraan yang sudah jadi, sudah terorganisir, dan sudah memiliki basis massa yang luas. Akan sangat bodoh bagi kaum komunis untuk mengabaikan atau menyerang kendaraan ini. Jauh lebih cerdas untuk menumpanginya dan mencoba untuk mempengaruhi arahnya" (Poeze, Jilid I 185).
Analisis Poeze tentang taktik blok dalam ini sangat bernuansa. Ia tidak menggambarkan Tan Malaka sebagai seorang oportunis murni yang hanya menggunakan Islam sebagai alat. Ia juga tidak menggambarkannya sebagai seorang Muslim yang taat yang berjuang untuk Islam. Posisi Tan Malaka, menurut Poeze, berada di antara kedua kutub itu. "Tan Malaka adalah seorang Marxis yang meyakini materialisme historis. Ia tidak percaya pada wahyu atau mukjizat. Tetapi ia juga tumbuh dalam budaya Muslim Minangkabau, dan ia memahami betapa dalamnya Islam tertanam dalam jiwa rakyat Indonesia. Sikapnya terhadap Islam bukanlah sikap seorang ateis yang sinis, tetapi juga bukan sikap seorang mukmin. Ia adalah sikap seorang sosiolog politik: ia melihat Islam sebagaimana adanya, yaitu sebagai fakta sosial yang besar dan tak terbantahkan, dan ia mencoba untuk bekerja dengan fakta itu, bukan melawannya" (Jilid I 192).
Pertama, kubu radikal di dalam Sarekat Islam, yang dipimpin oleh Semaun dan kemudian Darsono, menyambut baik gagasan Tan Malaka. Mereka melihat aliansi dengan komunisme sebagai cara untuk memperkuat perjuangan melawan kapitalisme. Bagi mereka, Tan Malaka adalah jembatan yang sempurna antara dua dunia.
Kedua, kubu konservatif di dalam Sarekat Islam, yang dipimpin oleh Haji Agus Salim dan Abdul Muis, menentang keras. Mereka melihat infiltrasi ideologi komunis sebagai ancaman terhadap kemurnian Islam dan terhadap kepemimpinan mereka sendiri. "Agus Salim, dengan kecerdasannya yang tajam, segera menyadari bahwa taktik Tan Malaka, meskipun disampaikan dengan bahasa yang halus, pada dasarnya adalah upaya untuk menggeser orientasi ideologis Sarekat Islam dari Islam ke Marxisme," tulis Poeze. "Ini adalah awal dari perpecahan besar yang akan mengguncang Sarekat Islam" (Jilid I 198).
Ketiga, pemerintah kolonial, yang mengamati perkembangan ini dengan campuran kekhawatiran dan kepuasan. Mereka khawatir karena aliansi antara komunis dan Muslim dapat menciptakan kekuatan revolusioner yang sulit dikendalikan. Tetapi mereka juga puas karena konflik internal di dalam Sarekat Islam melemahkan gerakan nasionalis secara keseluruhan. "Polisi kolonial, dalam laporannya, mencatat bahwa 'Tan Malaka lebih berbahaya daripada Semaun karena ia lebih cerdas dan lebih licik dalam berbicara'," kutip Poeze dari arsip intelijen. "Mereka melihatnya sebagai ancaman yang harus diawasi dengan ketat" (Jilid I 203).
Dengan demikian, melalui analisis yang mendalam dan bersumberkan ketat pada dokumen-dokumen primer, Harry A. Poeze berhasil merekonstruksi masa muda Tan Malaka bukan sebagai sekadar prolog, melainkan sebagai fondasi yang kokoh untuk memahami seluruh perjalanan hidupnya. Bab ini menegaskan bahwa revolusioner besar tidak lahir dalam semalam. Mereka ditempa melalui proses yang panjang, dalam interaksi yang kompleks antara pengalaman pribadi, pendidikan formal, dan eksperimentasi politik. Tan Malaka, sebagaimana dibuktikan oleh Poeze, adalah produk dari proses penempaan ini, dan proses itu dimulai dari sebuah nagari kecil di Suliki, melewati ruang kelas di Haarlem, dan menemukan ekspresi pertamanya di panggung politik Semarang.
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. Diterjemahkan oleh tim penerjemah, PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Mengapa periode ini begitu gelap? Poeze mengidentifikasi beberapa faktor yang saling terkait. Pertama, Tan Malaka sendiri secara sadar dan sistematis menghancurkan jejaknya. Sebagai buronan yang diburu oleh tidak kurang dari empat dinas intelijen kolonial, Belanda, Inggris, Prancis, dan Amerika, ia belajar untuk hidup tanpa meninggalkan bekas. Ia menggunakan sedikitnya selusin nama samaran, berpindah-pindah tempat tinggal setiap beberapa bulan, dan berkomunikasi melalui jaringan kurir yang tidak tercatat. Kedua, banyak arsip yang berkaitan dengan gerakan komunis di Asia dihancurkan, baik oleh pemerintah kolonial yang ingin menghilangkan bukti aktivitas subversif, maupun oleh gerakan komunis itu sendiri yang paranoid terhadap infiltrasi polisi. Ketiga, dan ini yang paling tragis bagi Poeze, banyak saksi kunci yang mengetahui detail pergerakan Tan Malaka, kawan-kawan seperjuangannya, kurir-kurirnya, dan bahkan musuh-musuhnya, telah meninggal atau dieksekusi dalam berbagai pembersihan politik, baik oleh rezim kolonial, oleh tentara Jepang selama Perang Dunia II, atau oleh rezim Orde Baru setelah 1965. "Saya berhadapan dengan kematian ganda," kata Poeze dalam sebuah wawancara yang dikutip dalam pengantar bukunya. "Kematian fisik para saksi, dan kematian birokratis dari arsip-arsip yang telah dimusnahkan. Tugas saya adalah membangkitkan yang mati dari kuburan kertas, dan itu memerlukan lebih dari sekadar keahlian akademik; itu memerlukan keahlian seorang detektif yang bisa membaca yang tersirat, mendengar yang tidak diucapkan, dan melihat pola di antara fragmen-fragmen yang tampaknya acak" (Poeze, Jilid II 8).
Periode 1922-1937 ini juga signifikan karena di sinilah Tan Malaka bertransformasi dari seorang pemimpin lokal menjadi seorang aktor global. Di Moskow, ia berdebat dengan para pemimpin tertinggi Komintern tentang strategi revolusi di Asia. Di Kanton, ia mengorganisir jaringan bawah tanah yang menghubungkan revolusioner dari seluruh Asia Tenggara. Di Manila, ia hidup dalam penyamaran selama bertahun-tahun, menulis beberapa karyanya yang paling penting, dan membangun basis intelektual untuk perjuangan yang akan datang. Namun, ironisnya, justru periode inilah yang paling sedikit diketahui oleh rakyat Indonesia. "Tan Malaka yang dikenang di Indonesia adalah Tan Malaka dari tahun 1945-1949," tulis Poeze. "Itu adalah Tan Malaka yang pulang, Tan Malaka yang berkonflik dengan Soekarno-Hatta, Tan Malaka yang ditangkap dan dieksekusi. Tetapi Tan Malaka itu tidak dapat dipahami tanpa memahami apa yang ia lakukan selama lima belas tahun sebelumnya. Ia kembali ke Indonesia pada tahun 1942 bukan sebagai seorang pemimpi yang naif, melainkan sebagai seorang veteran perjuangan internasional yang telah menguji strateginya di medan-medan pertempuran politik paling kompleks di dunia. Untuk memahami Tan Malaka, kita harus mengikutinya ke Moskow, Kanton, dan Manila" (Jilid II 10).
Untuk merekonstruksi periode ini, Poeze tidak bisa lagi mengandalkan arsip-arsip kolonial standar atau surat-surat pribadi yang relatif mudah diakses. Ia harus melacak arsip-arsip Komintern yang selama Perang Dingin tersimpan rapat di Moskow, dan yang baru dibuka secara terbatas setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Ia harus mempelajari arsip-arsip intelijen dari empat negara imperialis yang saling tidak berbagi informasi. Ia harus mewawancarai veteran-veteran tua di Tiongkok, Filipina, dan Singapura yang ingatannya sudah mulai kabur. Dan ia harus membaca ribuan halaman dokumen dalam sedikitnya tujuh bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Melayu, dan Mandarin. "Ini adalah pekerjaan yang mustahil bagi satu orang," aku Poeze. "Dan mungkin itulah sebabnya tidak ada yang pernah melakukannya sebelum saya" (Jilid II 12).
"Pada musim dingin tahun 1993, saya duduk di ruang baca RGASPI [Pusat Penyimpanan dan Studi Dokumen Sejarah Kontemporer Rusia, bekas arsip Institut Marxisme-Leninisme], dengan tangan gemetar karena kedinginan dan karena antisipasi," kenang Poeze. "Di hadapan saya ada sebuah kardus besar berisi folder-folder dengan label 'Indonesia' dan 'Tan Malaka.' Saya tidak tahu apa isinya. Mungkin harta karun, mungkin sampah. Tetapi ketika saya membuka folder pertama dan melihat tulisan tangan yang saya kenali dari arsip-arsip di Den Haag, tulisan tangan Tan Malaka sendiri, saya tahu bahwa penantian puluhan tahun akhirnya terbayar" (Poeze, Jilid II 18).
Apa yang Poeze temukan di Moskow melampaui semua harapannya. Ada laporan-laporan yang ditulis Tan Malaka untuk Komite Eksekutif Komintern, lengkap dengan analisisnya tentang situasi politik di Asia Tenggara. Ada transkrip pidato-pidatonya di Kongres Komintern Keempat dan Kelima. Ada surat-surat polemiknya dengan para pemimpin komunis Eropa, termasuk Grigori Zinoviev, Nikolai Bukharin, dan bahkan Joseph Stalin. Dan yang paling mengejutkan, ada sebuah dokumen yang belum pernah dilihat oleh sejarawan mana pun sebelumnya: rancangan buku Tan Malaka yang tidak pernah diterbitkan, berjudul Imperialisme dan Revolusi di Asia, yang ditulisnya selama masa-masa awalnya di Moskow. "Menemukan dokumen-dokumen ini," tulis Poeze, "adalah seperti menemukan kunci untuk membuka seluruh misteri Tan Malaka. Tiba-tiba, fragmen-fragmen yang selama ini tidak masuk akal, surat-surat yang terpotong, laporan intelijen yang samar, rumor-rumor yang tidak terverifikasi, mulai membentuk pola yang koheren. Saya bisa melihat untuk pertama kalinya gambaran utuh tentang apa yang dilakukan Tan Malaka selama tahun-tahun internasionalnya" (Jilid II 22).
Namun, Poeze juga sangat menyadari bahwa arsip-arsip Komintern tidak bisa dibaca secara naif. Arsip-arsip ini adalah produk dari sebuah organisasi yang sangat birokratis dan sangat politis. Setiap laporan, setiap transkrip, setiap surat, ditulis dengan kesadaran bahwa ia akan dibaca oleh atasan-atasan yang berkuasa, dan bahwa isinya bisa digunakan untuk mendukung atau menghancurkan karier seseorang. "Saya harus membaca dokumen-dokumen ini dengan kacamata ganda," jelas Poeze. "Di satu sisi, saya harus membacanya sebagai sumber informasi faktual tentang pergerakan Tan Malaka. Di sisi lain, saya harus membacanya sebagai produk dari mesin propaganda dan birokrasi Komintern, yang memiliki agendanya sendiri. Ketika Tan Malaka menulis laporan kepada Komintern, ia tidak hanya melaporkan fakta; ia juga berusaha meyakinkan, membujuk, dan kadang-kadang menyembunyikan. Tugas saya adalah memisahkan informasi dari retorika, fakta dari faksionalisme" (Poeze, Jilid II 25).
Masing-masing arsip ini memiliki bias dan keterbatasannya sendiri. Laporan-laporan intelijen Belanda, misalnya, cenderung melebih-lebihkan ancaman yang ditimbulkan oleh Tan Malaka untuk membenarkan anggaran dan kekuasaan mereka sendiri. Laporan-laporan Inggris sering kali mengandung anti-komunisme yang mendalam, yang membuat analisis mereka tentang motivasi Tan Malaka menjadi tidak akurat. Laporan-laporan Prancis sangat terfragmentasi karena mereka lebih fokus pada Indochina daripada pada Indonesia. Dan laporan-laporan Amerika, yang paling baru, sering kali bergantung pada sumber-sumber sekunder yang tidak terverifikasi. "Membaca laporan-laporan intelijen ini secara terpisah," tulis Poeze, "adalah seperti membaca empat novel detektif yang berbeda tentang kejahatan yang sama, masing-masing dengan narator yang tidak bisa dipercaya. Hanya dengan membacanya secara berdampingan, dengan membandingkan klaim-klaim mereka dan mencari titik-titik temu, saya bisa mulai merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi" (Poeze, Jilid II 30).
Metode "membaca secara berdampingan" ini menjadi ciri khas pendekatan Poeze. Ia secara fisik meletakkan dokumen-dokumen dari berbagai arsip di atas mejanya dan membandingkannya baris demi baris. Ketika sebuah laporan intelijen Belanda menyebutkan bahwa Tan Malaka berada di Kanton pada bulan Maret 1925, Poeze akan memeriksa laporan Inggris untuk periode yang sama, mencari konfirmasi independen. Ketika sebuah dokumen Komintern menyebutkan sebuah pertemuan rahasia di Shanghai, Poeze akan memeriksa laporan Prancis untuk melihat apakah ada agen mereka yang mencatat pertemuan yang sama. Proses ini sangat melelahkan, sering kali menghasilkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, tetapi ketika berhasil, hasilnya sangat memuaskan. "Ada momen-momen eureka," kata Poeze, "ketika tiga atau empat sumber yang berbeda, dari arsip-arsip yang berbeda, dari negara-negara yang berbeda, tiba-tiba saling mengonfirmasi. Pada saat itu, saya tahu bahwa saya telah menemukan kebenaran, atau setidaknya, sedekat mungkin dengan kebenaran yang bisa dicapai oleh seorang sejarawan" (Poeze, Jilid II 32).
"Wawancara dengan para veteran ini adalah pengalaman yang mengharukan dan kadang-kadang membuat frustrasi," tulis Poeze. "Mereka ingat wajah Tan Malaka, mereka ingat nada suaranya, mereka ingat makanan yang mereka makan bersama di sebuah restoran murah di Shanghai. Tetapi mereka sering kali tidak ingat tanggal, nama, atau detail-detail spesifik yang saya butuhkan. Saya harus belajar untuk mendengarkan bukan hanya apa yang mereka katakan, tetapi juga apa yang tidak bisa mereka katakan, kesenjangan dalam ingatan mereka, kontradiksi antara cerita yang berbeda dari orang yang sama, dan terutama, emosi yang muncul ketika mereka berbicara tentang Tan Malaka. Bagi banyak dari mereka, Tan Malaka bukanlah sekadar tokoh sejarah; ia adalah teman, mentor, atau idola yang telah lama hilang. Berbicara tentang dia, bahkan setelah puluhan tahun, membangkitkan air mata dan kemarahan" (Poeze, Jilid II 40).
Salah satu wawancara paling penting yang dilakukan Poeze adalah dengan seorang mantan anggota jaringan bawah tanah Tan Malaka di Filipina, yang pada saat wawancara sudah berusia sembilan puluh dua tahun. "Ia tinggal di sebuah desa kecil di luar Manila, di rumah yang hampir roboh. Tetapi ketika saya menyebut nama 'Elias Fuentes', nama samaran Tan Malaka di Filipina, matanya berbinar. Ia mulai bercerita, dalam bahasa Tagalog yang cepat, tentang bagaimana 'Mr. Elias' mengajarinya membaca dan menulis, tentang bagaimana mereka bersembunyi dari polisi Filipina yang dibayar oleh Amerika, tentang bagaimana Tan Malaka selalu membawa buku catatan kecil di sakunya dan menulis di setiap kesempatan. Ceritanya kacau, melompat-lompat, penuh dengan detail yang tidak bisa diverifikasi. Tetapi di tengah-tengah kekacauan itu, ada satu detail yang membuat saya tersentak: ia menyebutkan bahwa Tan Malaka pernah menerjemahkan puisi José Rizal ke dalam bahasa Melayu. Saya belum pernah membaca tentang ini di sumber mana pun. Apakah ini benar? Saya tidak bisa memastikannya. Tetapi petunjuk seperti inilah, yang hanya bisa didapat dari saksi hidup, yang membuat pekerjaan ini begitu berharga" (Poeze, Jilid II 44).
"Tan Malaka adalah seorang seniman dalam hal menghilang," tulis Poeze dengan nada kagum. "Ia telah belajar dari pengalaman pahit: banyak kawannya yang ditangkap dan dieksekusi karena meninggalkan jejak yang terlalu jelas. Ia bersumpah bahwa hal yang sama tidak akan terjadi padanya. Dan ia menepati sumpahnya. Membaca korespondensinya dari periode ini adalah pengalaman yang nyata: Anda bisa merasakan kecerdasannya bekerja, memilih setiap kata dengan hati-hati, menyusun setiap kalimat untuk menyampaikan informasi yang cukup bagi kawan-kawannya tetapi tidak cukup bagi musuh-musuhnya. Ini adalah kriptografi politik tingkat tinggi" (Jilid II 48).
Untuk mengatasi pengaburan ini, Poeze mengembangkan teknik yang ia sebut "triangulasi temporal." Ia akan mengambil sebuah peristiwa yang disebutkan dalam satu sumber, misalnya, sebuah pertemuan di Kanton yang disebutkan dalam laporan Komintern, dan mencari konfirmasi independen dari dua sumber lainnya. Jika tiga sumber yang berbeda, dengan bias dan keterbatasan yang berbeda, semuanya menyebutkan peristiwa yang sama pada waktu yang sama, maka Poeze akan menerimanya sebagai fakta yang sangat mungkin. Jika hanya dua sumber yang mengonfirmasi, ia akan menerimanya sebagai kemungkinan, tetapi dengan catatan kaki yang menyatakan keraguan. Jika hanya satu sumber yang menyebutkan, ia akan memperlakukannya sebagai rumor yang belum terverifikasi, dan tidak akan memasukkannya ke dalam narasi utama tanpa kualifikasi yang jelas. "Metode ini lambat dan melelahkan," aku Poeze. "Tetapi dalam ketiadaan bukti yang lebih baik, ini adalah satu-satunya cara untuk memisahkan fakta dari fiksi. Saya tidak bisa mengklaim bahwa kronologi yang saya hasilkan adalah 100% akurat. Tetapi saya bisa mengklaim bahwa setiap peristiwa di dalamnya didukung oleh bukti terbaik yang tersedia, dan bahwa saya telah transparan tentang tingkat kepastian untuk setiap klaim. Dalam sejarah, seperti dalam hukum, kita harus puas dengan 'di luar keraguan yang masuk akal'" (Poeze, Jilid II 50).
Poeze merekonstruksi kedatangan Tan Malaka dengan mendasarkan diri pada catatan-catatan administrasi Komintern yang ditemukannya di RGASPI. "Dari daftar delegasi Kongres Keempat, kita tahu bahwa Tan Malaka terdaftar dengan nama samaran 'H. Thamrin', sebuah nama yang aneh, mengingat Thamrin adalah nama seorang nasionalis Indonesia yang terkenal, tetapi di Moskow nama itu tidak dikenal. Kita juga tahu bahwa ia ditempatkan di Hotel Lux, asrama para revolusioner asing di Jalan Tverskaya, di mana ia sekamar dengan seorang komunis Tiongkok yang kelak menjadi salah satu pemimpin revolusi di Tiongkok. Identitas teman sekamarnya ini masih menjadi misteri, catatan hotel tidak lengkap, tetapi Poeze berspekulasi bahwa ia mungkin adalah Zhang Tailei, seorang pemimpin komunis Tiongkok yang aktif di Komintern pada periode ini" (Jilid II 65).
Yang paling menarik bagi Poeze adalah laporan pertama yang ditulis Tan Malaka untuk Komintern setelah kedatangannya. Laporan ini, yang ditulis dalam bahasa Jerman, bahasa kerja Komintern saat itu, adalah analisis mendalam tentang situasi politik di Hindia Belanda. "Membaca laporan ini," tulis Poeze, "saya terkesan oleh kematangan analisisnya. Tan Malaka baru berusia dua puluh lima tahun, tetapi ia sudah mampu menyajikan gambaran yang kompleks tentang struktur kelas di Hindia, peran imperialisme Belanda, potensi revolusioner dari kaum tani, dan hubungan antara gerakan nasionalis dan gerakan komunis. Ini bukanlah laporan seorang agitator yang hanya bisa berteriak slogan. Ini adalah laporan seorang analis politik yang serius, yang didasarkan pada data dan pengamatan empiris. Saya menduga bahwa laporan inilah yang membuat para pemimpin Komintern memperhatikan pemuda dari Hindia ini" (Poeze, Jilid II 70).
Zinoviev, yang merupakan salah satu pemimpin tertinggi Bolshevik dan orang kepercayaan Lenin, memiliki pandangan yang keras terhadap Islam. Dalam pidatonya di Kongres, ia menggambarkan Pan-Islamisme sebagai "gerakan reaksioner" yang dimanipulasi oleh para pemimpin feodal dan borjuis untuk menyesatkan massa Muslim dari perjuangan kelas yang sesungguhnya. Baginya, kaum komunis harus melawan Pan-Islamisme, bukan bersekutu dengannya. "Pan-Islamisme," kata Zinoviev dalam pidatonya yang dikutip oleh Poeze dari transkrip resmi Kongres, "adalah upaya dari kelas-kelas penguasa Muslim untuk mengalihkan kebencian massa dari imperialisme Eropa ke dalam persatuan agama yang semu. Kita tidak boleh tertipu oleh slogan-slogan anti-imperialis mereka. Di balik slogan-slogan itu, mereka adalah musuh-musuh proletariat" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 85).
Tan Malaka, yang hadir di sesi tersebut sebagai delegasi dari Hindia Belanda, tidak tinggal diam. Poeze menemukan bahwa Tan Malaka meminta waktu untuk memberikan tanggapan, dan tanggapannya itu tercatat dalam notulensi Kongres. "Ini adalah salah satu momen paling berani dalam karier politik Tan Malaka," tulis Poeze. "Seorang pemuda dari koloni yang baru pertama kali datang ke Moskow, berani menantang pandangan salah satu pemimpin tertinggi revolusi dunia. Tetapi Tan Malaka tidak gentar. Ia berdiri dan menyampaikan analisis yang sama sekali berbeda tentang Islam dan Pan-Islamisme" (Jilid II 88).
Menurut rekonstruksi Poeze, Tan Malaka berargumen bahwa pandangan Zinoviev tentang Islam didasarkan pada pengalaman Eropa yang tidak bisa diterapkan begitu saja ke Asia. Di Eropa, kata Tan Malaka, gereja-gereja Kristen memang telah menjadi alat dari kelas-kelas penguasa feodal dan kapitalis. Tetapi di Asia, situasinya berbeda. Islam di Asia, khususnya di Hindia Belanda dan di Timur Tengah, adalah kekuatan anti-kolonial yang hidup. "Di negeri saya," kata Tan Malaka dalam pidatonya yang direkonstruksi oleh Poeze dari notulensi, "Islam adalah bahasa perlawanan rakyat melawan penindasan kapitalisme Belanda. Ketika petani Jawa memberontak melawan perkebunan gula, mereka melakukannya atas nama Islam. Ketika pedagang Sumatera menolak monopoli perdagangan Belanda, mereka melakukannya atas nama Islam. Kita tidak bisa mengabaikan fakta ini hanya karena di Eropa agama telah menjadi alat reaksi. Kita harus memahami Islam sebagaimana adanya di Asia, bukan sebagaimana kita bayangkan berdasarkan pengalaman Eropa" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 90).
Poeze menekankan bahwa Tan Malaka tidak membela Islam sebagai agama. Ia tetap seorang materialis dan ateis. Tetapi ia berargumen bahwa dalam kondisi spesifik Asia, gerakan-gerakan Islam memiliki potensi revolusioner yang harus dimanfaatkan oleh kaum komunis. "Ini adalah inti dari taktik 'blok dalam' yang telah ia rumuskan di Semarang, sekarang diterapkan pada skala global. Tan Malaka mengusulkan agar Komintern mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel terhadap Islam di Asia, dengan membedakan antara elemen-elemen reaksioner (para ulama konservatif yang bersekutu dengan imperialisme) dan elemen-elemen progresif (massa Muslim yang anti-kolonial). Komintern, katanya, harus bersekutu dengan yang kedua untuk melawan yang pertama" (Poeze, Jilid II 92).
Bagaimana reaksi Zinoviev? Poeze mengakui bahwa catatan tentang hal ini tidak jelas. Notulensi Kongres tidak mencatat tanggapan langsung dari Zinoviev. Tetapi dari dokumen-dokumen selanjutnya, Poeze menyimpulkan bahwa argumen Tan Malaka tidak sepenuhnya diabaikan. "Dalam resolusi-resolusi Kongres Keempat tentang Masalah Timur, kita bisa melihat pengaruh dari argumen Tan Malaka, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit. Resolusi itu mengakui bahwa gerakan-gerakan nasionalis di Asia, termasuk yang berbasis agama, bisa memiliki karakter revolusioner dalam kondisi tertentu. Ini adalah perubahan dari posisi sebelumnya yang lebih dogmatis. Saya percaya bahwa Tan Malaka, bersama dengan delegasi-delegasi lain dari Asia, berkontribusi pada perubahan ini" (Poeze, Jilid II 95).
Manuilsky, yang mewakili posisi ortodoks Komintern, mendukung aliansi taktis dengan borjuasi nasional. Dalam pidatonya, ia berargumen bahwa di negara-negara kolonial, di mana kapitalisme belum berkembang sepenuhnya dan proletariat masih kecil, kaum komunis harus mendukung gerakan-gerakan borjuis nasionalis seperti Kuomintang di Tiongkok, Kongres Nasional India di India, atau Sarekat Islam di Hindia Belanda. "Kita harus berjalan bersama borjuasi nasional," kata Manuilsky, "sampai imperialisme dikalahkan. Setelah itu, kita akan berpisah jalan dan melanjutkan perjuangan kita sendiri" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 110).
Tan Malaka, menurut Poeze, sangat skeptis terhadap strategi ini. Pengalamannya di Hindia Belanda telah mengajarkannya bahwa borjuasi nasional tidak bisa dipercaya. Mereka terlalu terikat dengan kepentingan ekonomi mereka sendiri, dan pada akhirnya akan lebih memilih berkompromi dengan imperialisme daripada mendukung revolusi sosial yang mengancam properti mereka. "Tan Malaka telah menyaksikan sendiri bagaimana Sarekat Islam, yang awalnya adalah gerakan massa yang radikal, perlahan-lahan dijinakkan oleh elemen-elemen borjuisnya," tulis Poeze. "Ia khawatir bahwa strategi front persatuan akan mengulangi kesalahan yang sama di seluruh Asia: kaum komunis akan dimanfaatkan oleh borjuasi nasional untuk merebut kekuasaan, dan kemudian dibuang setelah borjuasi itu tidak lagi membutuhkan mereka" (Jilid II 112).
Poeze menemukan bahwa Tan Malaka menyampaikan pandangannya ini dalam sebuah memorandum kepada Komite Eksekutif Komintern, yang tidak dibacakan di sidang umum tetapi didistribusikan secara terbatas. Dalam memorandum ini, Tan Malaka mengusulkan sebuah strategi alternatif: alih-alih membentuk front persatuan dari atas, antara elit-elit partai, kaum komunis harus membangun front persatuan dari bawah, di antara massa rakyat. Ia menyerukan pembentukan "dewan-dewan rakyat" (soviets) di desa-desa dan pabrik-pabrik, yang akan menjadi basis kekuatan revolusioner yang independen. Hanya dengan memiliki basis massa yang kuat, kata Tan Malaka, kaum komunis bisa bersekutu dengan borjuasi nasional tanpa takut ditelan oleh mereka. "Kita harus memegang kendali atas massa," tulis Tan Malaka dalam memorandumnya, "sebelum kita duduk di meja perundingan dengan borjuasi. Jika tidak, kita akan menjadi ekor mereka, bukan kepala dari gerakan revolusioner" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 115).
Poeze mencatat bahwa memorandum Tan Malaka ini tampaknya tidak mendapat tanggapan resmi dari Komintern. Strategi front persatuan dengan borjuasi nasional tetap diadopsi, dan diterapkan di Tiongkok dengan hasil yang tragis: pada tahun 1927, Chiang Kai-shek berbalik melawan kaum komunis dan membantai ribuan dari mereka di Shanghai. "Tan Malaka telah meramalkan bencana ini," tulis Poeze. "Tetapi pada tahun 1923, tidak ada yang mendengarkannya. Ia adalah suara dari pinggiran, seorang pemuda dari koloni yang terlalu jauh. Ironisnya, pengalaman pahit dari pengkhianatan di Tiongkok pada tahun 1927 justru membuat banyak komunis kemudian menyadari bahwa Tan Malaka benar. Tetapi pada saat itu, ia sudah lama meninggalkan Komintern" (Jilid II 118).
"Kita tahu dari daftar delegasi bahwa Tan Malaka menghadiri beberapa pertemuan di mana Stalin juga hadir," tulis Poeze. "Kita juga tahu dari tulisan-tulisan Tan Malaka di kemudian hari bahwa ia mengagumi Stalin, setidaknya sampai tahun-tahun terakhir hidupnya. Dalam Madilog, misalnya, ia menyebut Stalin dengan hormat sebagai salah satu pemimpin revolusi dunia. Tetapi apakah ada hubungan pribadi di antara mereka? Apakah mereka pernah berbicara secara langsung, atau hanya saling melihat dari jauh di koridor-koridor Kremlin? Saya tidak bisa memastikannya" (Jilid II 130).
Meskipun demikian, Poeze berhasil menemukan beberapa petunjuk yang menarik. Salah satunya adalah sebuah catatan kecil di arsip Komintern yang menyebutkan bahwa Stalin telah membaca laporan Tan Malaka tentang situasi di Hindia Belanda dan "terkesan oleh analisisnya." Catatan ini tidak bertanggal dan tidak ditandatangani oleh Stalin sendiri, melainkan oleh salah satu sekretarisnya, sehingga keandalannya dipertanyakan. Namun, Poeze berargumen bahwa jika catatan ini benar, maka ini bisa menjelaskan mengapa Tan Malaka kemudian diberi posisi yang cukup penting di Komintern: ia diangkat sebagai agen Komintern untuk Asia Tenggara, dengan tanggung jawab untuk mengorganisir gerakan komunis di wilayah tersebut. "Penunjukan ini tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan dari Stalin atau setidaknya dari lingkaran dalamnya," tulis Poeze. "Jadi, meskipun bukti langsungnya kurang, ada alasan untuk percaya bahwa Stalin mengenal dan menghargai Tan Malaka, setidaknya pada periode awal ini" (Jilid II 132).
Poeze juga mencatat bahwa hubungan ini, jika memang ada, tampaknya memburuk seiring waktu. Pada akhir tahun 1920-an, ketika Stalin mengkonsolidasikan kekuasaannya dan mulai menyingkirkan lawan-lawannya, Tan Malaka menjadi semakin kritis terhadap Komintern. Ia menolak untuk tunduk pada disiplin partai yang ketat dan bersikeras pada otonomi gerakan komunis Indonesia. Sikap independen ini, menurut Poeze, mungkin telah membuatnya dicap sebagai "pembangkang" (deviationist) oleh Stalin dan lingkaran dalamnya. "Tan Malaka tidak pernah secara resmi dikeluarkan dari Komintern," tulis Poeze. "Tetapi setelah tahun 1927, ia tidak lagi menerima dana atau instruksi dari Moskow. Ia telah menjadi seorang revolusioner tanpa partai, seorang Marxis tanpa tuan. Dan dalam iklim politik Stalinis yang semakin paranoid, posisi seperti itu sangat berbahaya" (Jilid II 135).
Tan Malaka, sebagaimana dibuktikan oleh Poeze melalui tulisan-tulisannya dari periode ini, adalah seorang internasionalis radikal yang menolak doktrin Stalin. Baginya, revolusi di Uni Soviet tidak akan bertahan jika dikepung oleh negara-negara kapitalis. Satu-satunya jalan menuju sosialisme adalah revolusi dunia, yang dimulai di negara-negara maju di Eropa tetapi juga menyebar ke negara-negara jajahan di Asia dan Afrika. "Tan Malaka adalah salah satu dari sedikit komunis Asia yang secara konsisten mempertahankan posisi internasionalis murni," tulis Poeze. "Sementara banyak komunis di negara-negara jajahan secara diam-diam menerima doktrin Stalin karena mereka bergantung pada dukungan Uni Soviet, Tan Malaka tidak. Ia percaya bahwa revolusi di Indonesia harus menjadi bagian dari revolusi dunia, dan bahwa Uni Soviet seharusnya menjadi garda depan dari revolusi itu, bukan sebuah benteng yang terisolasi" (Jilid II 145).
Poeze menemukan bukti dari posisi ini dalam sebuah artikel yang ditulis Tan Malaka untuk jurnal Komintern pada tahun 1924, tidak lama sebelum ia meninggalkan Moskow. Artikel ini, yang berjudul "Prospek Revolusi di Asia," secara eksplisit menyerukan revolusi simultan di Eropa dan Asia. "Kita tidak bisa menunggu Eropa menyelesaikan revolusinya terlebih dahulu, baru kemudian Asia mengikuti," tulis Tan Malaka dalam artikelnya. "Revolusi di Eropa dan revolusi di Asia adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Mereka harus berjalan bersama, atau mereka akan gagal bersama. Uni Soviet tidak bisa menjadi pulau sosialisme di lautan kapitalisme; ia harus menjadi mercusuar yang menerangi seluruh dunia" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 148).
Poeze mencatat bahwa artikel ini kemungkinan besar tidak menyenangkan hati Stalin dan para pendukungnya. Namun, karena artikel itu diterbitkan sebelum Stalin sepenuhnya mengkonsolidasikan kekuasaannya dan sebelum perdebatan tentang "Sosialisme di Satu Negeri" mencapai puncaknya, Tan Malaka tidak langsung mendapat masalah. "Ini adalah salah satu ironi sejarah," tulis Poeze. "Pada tahun 1924, Tan Malaka sudah mengartikulasikan posisi yang pada tahun 1926 akan dianggap sebagai bidah Trotskyis. Tetapi pada saat itu, Trotsky masih menjadi anggota Politbiro dan perpecahan belum terjadi. Jadi Tan Malaka lolos dari cap 'pembangkang', untuk sementara waktu" (Jilid II 150).
Poeze merekonstruksi periode Kanton ini dengan mengandalkan terutama pada arsip-arsip Komintern dan laporan-laporan intelijen Inggris yang memata-matai aktivitas komunis di Tiongkok selatan. "Kanton pada tahun 1924 adalah sarang intrik revolusioner," tulis Poeze. "Di kota itu, agen-agen Komintern dari seluruh Asia berkumpul: ada Ho Chi Minh dari Vietnam, Zhou Enlai dari Tiongkok, Tan Malaka dari Indonesia, dan banyak lagi. Mereka tinggal di rumah-rumah aman, bertemu di restoran-restoran rahasia, dan merencanakan revolusi di negara-negara mereka masing-masing. Dinas intelijen Inggris di Hong Kong, yang hanya berjarak beberapa jam perjalanan dengan kapal, mengirim agen-agen mereka untuk mengawasi setiap gerakan mereka. Ini adalah permainan kucing-kucingan yang mematikan" (Jilid II 160).
Peran resmi Tan Malaka di Kanton adalah sebagai penerjemah dan editor untuk jurnal Komintern yang berbahasa Inggris, The International Press Correspondence. Namun, Poeze menemukan bahwa perannya jauh lebih besar daripada itu. Dari laporan-laporan yang ia tulis untuk Komintern, kita tahu bahwa Tan Malaka secara aktif terlibat dalam mengorganisir jaringan bawah tanah yang menghubungkan komunis dari Indonesia, Malaya, Filipina, dan Indochina. "Tan Malaka adalah simpul dari jaringan ini," tulis Poeze. "Ia adalah orang yang tahu siapa yang bisa dipercaya, di mana rumah-rumah aman berada, dan bagaimana mengirim pesan rahasia melintasi lautan yang dijaga oleh angkatan laut kolonial. Tanpa dia, jaringan ini mungkin tidak akan berfungsi" (Jilid II 165).
Ho Chi Minh, yang lebih senior dalam gerakan komunis dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Moskow, mendukung pendekatan yang terpusat. Ia percaya bahwa semua partai komunis di Asia harus tunduk pada arahan Komintern, dan bahwa revolusi di masing-masing negara harus dikoordinasikan dari satu pusat. Tan Malaka, sebaliknya, mendukung pendekatan yang lebih terdesentralisasi. Ia percaya bahwa setiap partai komunis harus memiliki otonomi yang signifikan untuk menyesuaikan strateginya dengan kondisi lokal, dan bahwa koordinasi internasional harus bersifat sukarela, bukan komando. "Perdebatan antara Tan dan Ho," tulis Poeze, "adalah perdebatan antara seorang federalis dan seorang sentralis, antara seorang pluralis dan seorang monolit. Keduanya menginginkan revolusi Asia, tetapi mereka membayangkan organisasi revolusi itu dengan cara yang sangat berbeda" (Jilid II 172).
Poeze menemukan bukti dari perdebatan ini dalam sebuah memorandum yang ditulis oleh Tan Malaka pada akhir tahun 1924, yang mengusulkan pembentukan "Liga Anti-Imperialis Asia" yang akan menjadi forum bagi semua gerakan anti-kolonial di Asia, terlepas dari orientasi ideologis mereka. Liga ini, kata Tan Malaka, harus bersifat inklusif: komunis, nasionalis, dan Islamis semuanya harus diundang untuk bergabung, selama mereka berkomitmen untuk melawan imperialisme. "Kita tidak bisa memaksakan Marxisme pada semua gerakan anti-kolonial," tulis Tan Malaka dalam memorandumnya. "Apa yang kita butuhkan adalah front terluas yang mungkin melawan imperialisme. Setelah imperialisme dikalahkan, maka kita akan melihat ideologi mana yang terkuat. Untuk saat ini, prioritas kita adalah persatuan dalam aksi, bukan persatuan dalam teori" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 175).
Ho Chi Minh, menurut catatan yang ditemukan Poeze, menolak proposal ini. Ia khawatir bahwa liga yang terlalu inklusif akan dikendalikan oleh elemen-elemen borjuis dan akan mengaburkan garis antara revolusi sosial dan sekadar nasionalisme anti-kolonial. Bagi Ho, prioritasnya adalah memperkuat partai-partai komunis yang eksplisit, dan aliansi dengan kelompok-kelompok non-komunis hanya boleh bersifat taktis dan sementara. "Ho Chi Minh mewakili ortodoksi Komintern pada saat itu," tulis Poeze. "Tan Malaka mewakili sebuah alternatif yang tidak pernah benar-benar dicoba. Apakah alternatif itu akan berhasil? Kita tidak akan pernah tahu. Tetapi debat antara Tan dan Ho di Kanton pada tahun 1924 adalah salah satu momen penting dalam sejarah gerakan komunis Asia, yang sayangnya telah dilupakan" (Jilid II 178).
Poeze merekonstruksi peristiwa ini dari berbagai sumber, termasuk laporan-laporan pemerintah kolonial, memoar para veteran PKI yang selamat, dan yang paling penting, dari reaksi Tan Malaka sendiri yang tercatat dalam arsip-arsip Komintern. "Apa yang saya temukan," tulis Poeze, "adalah bahwa Tan Malaka telah meramalkan bencana ini, dan telah berusaha sekuat tenaga untuk mencegahnya. Tetapi suaranya tidak didengar" (Jilid II 190).
Menurut Poeze, sejak tahun 1925, Tan Malaka telah menerima laporan dari kawan-kawannya di Indonesia bahwa ada faksi di dalam PKI yang mendorong pemberontakan bersenjata segera. Faksi ini, yang dipimpin oleh Alimin dan Musso, percaya bahwa situasi revolusioner sudah matang dan bahwa massa rakyat siap untuk bangkit melawan Belanda. Tan Malaka, dari posnya di Kanton, sangat tidak setuju dengan analisis ini. Ia telah mempelajari kondisi di Indonesia dengan saksama, dan ia menyimpulkan bahwa PKI belum cukup kuat untuk melancarkan pemberontakan. Basis massanya masih lemah, organisasinya masih kacau, dan dukungan internasionalnya belum terjamin. "Pemberontakan sekarang," tulis Tan Malaka dalam sebuah surat kepada pimpinan PKI yang dikutip oleh Poeze, "adalah bunuh diri. Kita akan dihancurkan, dan gerakan kita akan mundur dua puluh tahun. Kita harus bersabar, membangun basis massa, dan menunggu saat yang tepat. Revolusi bukanlah sebuah petualangan; ia adalah sebuah ilmu" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 192).
Namun, Alimin dan Musso tidak mendengarkan. Pada bulan Desember 1926, mereka bertemu dengan Tan Malaka di Singapura untuk membahas rencana pemberontakan. Pertemuan ini, yang direkonstruksi oleh Poeze dari wawancara dengan saksi-saksi yang masih hidup dan dari laporan-laporan intelijen, berlangsung dengan sengit. Tan Malaka berdebat dengan keras menentang pemberontakan, tetapi Alimin dan Musso bersikeras bahwa keputusan sudah dibuat. "Poeze menggambarkan pertemuan ini sebagai 'salah satu momen paling menyakitkan dalam sejarah gerakan kiri Indonesia'," tulisnya. "Di satu sisi adalah Tan Malaka, yang telah belajar dari pengalaman internasionalnya dan yang memahami bahwa revolusi memerlukan persiapan yang matang. Di sisi lain adalah Alimin dan Musso, yang terbakar oleh semangat revolusioner tetapi buta terhadap realitas. Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan. Alimin dan Musso kembali ke Jawa dan melanjutkan rencana mereka. Tan Malaka kembali ke pengasingannya, tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan bencana yang akan datang" (Jilid II 195).
Pemberontakan pecah pada bulan November 1926 dan berhasil dipadamkan dalam beberapa minggu. PKI hancur, dan ribuan anggotanya ditangkap dan dibuang ke kamp konsentrasi di Boven Digul, Papua. Tan Malaka, yang saat itu sudah berada di Bangkok, menerima berita ini dengan kemarahan dan kesedihan yang mendalam. "Dia telah diperingatkan," tulis Poeze. "Dia telah memohon kepada kawan-kawannya untuk tidak mengambil langkah bunuh diri ini. Tetapi mereka tidak mendengarkan. Dan sekarang, gerakan yang telah ia bantu bangun dengan susah payah telah hancur. Ini adalah luka yang tidak akan pernah sembuh sepenuhnya" (Jilid II 200).
Poeze berargumen bahwa kegagalan pemberontakan 1926-1927 adalah titik balik dalam hubungan Tan Malaka dengan PKI dan dengan Komintern. Setelah bencana ini, Tan Malaka semakin menjauhkan diri dari partai dan dari Moskow. Ia tidak bisa memaafkan kecerobohan yang telah menghancurkan begitu banyak nyawa dan menghancurkan gerakan. "Tan Malaka adalah seorang revolusioner," tulis Poeze, "tetapi ia bukanlah seorang petualang. Ia percaya pada revolusi yang direncanakan, bukan revolusi yang impulsif. Dan setelah 1926, ia menjadi semakin kritis terhadap mereka yang mengutamakan semangat di atas akal. Ini adalah posisi yang akan membuatnya semakin terisolasi di tahun-tahun mendatang" (Jilid II 205).
Poeze merekonstruksi periode pelarian ini dengan sangat rinci, meskipun ia mengakui bahwa banyak bagian dari cerita ini tetap gelap dan mungkin tidak akan pernah diketahui sepenuhnya. "Apa yang saya sajikan di sini," tulisnya, "adalah rekonstruksi terbaik yang bisa saya lakukan dengan bukti-bukti yang tersedia. Tetapi saya harus mengakui bahwa ada banyak celah dalam rekonstruksi ini. Ada periode-periode di mana kita sama sekali tidak tahu di mana Tan Malaka berada, apa yang ia lakukan, atau dengan siapa ia berhubungan. Ini adalah frustrasi terbesar dari seluruh proyek penelitian ini" (Jilid II 220).
Dari sumber-sumber yang berhasil dikumpulkannya, termasuk laporan-laporan intelijen, surat-surat yang diselundupkan, dan wawancara dengan saksi, Poeze berhasil merekonstruksi garis besar pergerakan Tan Malaka antara tahun 1927 dan 1937. Setelah pemberontakan 1926, Tan Malaka melarikan diri dari Singapura ke Bangkok, di mana ia tinggal selama beberapa bulan dengan nama samaran "Hasan." Di Bangkok, ia hidup dalam kemiskinan, bekerja sebagai tukang kebun dan guru les privat untuk menghidupi dirinya. Dari Bangkok, ia pindah ke Shanghai, yang pada saat itu adalah kota internasional yang kacau di mana buronan dari seluruh dunia bisa bersembunyi. Di Shanghai, ia tinggal di pemukiman internasional, di mana hukum Tiongkok tidak berlaku dan polisi kolonial tidak bisa menangkapnya dengan mudah. Ia bekerja sebagai editor untuk sebuah surat kabar berbahasa Inggris yang dimiliki oleh seorang simpatisan komunis, dan menggunakan posisinya untuk terus mengikuti perkembangan politik di Asia.
Pada tahun 1931, ketika Jepang menginvasi Manchuria dan situasi di Tiongkok semakin kacau, Tan Malaka memutuskan untuk pindah ke selatan. Ia menyeberang ke Hong Kong, dan dari sana ke Manila, Filipina, yang saat itu merupakan koloni Amerika Serikat. Di Manila, ia akan menghabiskan beberapa tahun berikutnya dalam penyamaran total.
"Di Manila, Tan Malaka menemukan komunitas yang bersedia melindunginya," tulis Poeze. "Mereka adalah orang-orang Filipina yang telah berkenalan dengannya selama periode Kanton, dan yang sekarang menawarinya tempat tinggal, makanan, dan yang paling penting, keamanan. Ia tinggal di rumah-rumah aman di distrik-distrik miskin Manila, berpindah-pindah setiap kali ada kecurigaan bahwa polisi Amerika sedang mendekat. Ia menyamar sebagai Elias Fuentes, seorang guru bahasa dan penerjemah lepas. Dan di malam hari, di bawah cahaya lampu minyak yang redup, ia menulis" (Jilid II 260).
Poeze sangat tertarik pada proses kreatif di balik Madilog, yang olehnya disebut sebagai "produk dari kondisi yang paling tidak mungkin." Bagaimana mungkin seorang buronan, yang selalu diancam oleh penangkapan dan kematian, yang hidup dalam kemiskinan dan tanpa akses ke perpustakaan yang layak, dapat menulis sebuah risalah filosofis yang ambisius tentang materialisme, dialektika, dan logika? "Jawabannya," tulis Poeze, "adalah bahwa Madilog bukanlah produk dari penelitian akademik yang nyaman. Ia adalah produk dari kebutuhan eksistensial. Tan Malaka menulis Madilog karena ia percaya bahwa revolusi Indonesia memerlukan fondasi intelektual yang kuat. Ia melihat kawan-kawannya bertindak tanpa berpikir, dan ia melihat akibatnya dalam bencana 1926. Madilog adalah usahanya untuk memberikan alat-alat intelektual yang ia yakini diperlukan oleh generasi revolusioner berikutnya" (Jilid II 265).
Poeze juga merekonstruksi, dengan cukup rinci, bagaimana naskah Madilog diselundupkan keluar dari Filipina dan akhirnya sampai ke Indonesia. "Ini adalah operasi yang sangat berbahaya," tulisnya. "Naskah itu ditulis tangan, di atas kertas-kertas kecil yang mudah disembunyikan. Ia dibawa oleh serangkaian kurir, masing-masing hanya tahu satu bagian dari rute, melalui Borneo Utara dan Singapura, sampai akhirnya tiba di tangan kawan-kawan Tan di Jawa. Jika naskah itu dicegat oleh polisi kolonial di salah satu titik dalam perjalanannya, Tan Malaka akan kehilangan karya hidupnya, dan mungkin juga nyawanya" (Jilid II 270).
Pada tahun 1937, setelah bertahun-tahun bersembunyi dan menulis di Manila, Tan Malaka memutuskan untuk kembali ke Asia Tenggara. Situasi politik di Asia sedang berubah dengan cepat: Jepang semakin agresif, dan Perang Dunia II tampaknya akan segera pecah. Tan Malaka tahu bahwa perang akan menciptakan peluang baru untuk revolusi di Indonesia, dan ia ingin siap. Dengan menggunakan paspor palsu dengan nama "Chen Lien-hua," ia meninggalkan Filipina dan menuju ke Singapura, di mana ia akan memulai babak baru dalam perjuangannya.
Poeze mengakui bahwa rekonstruksinya tidak sempurna. Ada banyak celah yang tidak bisa diisi, banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Tetapi ia berharap bahwa pekerjaannya telah memberikan kerangka yang bisa digunakan oleh para sejarawan masa depan untuk melanjutkan penelitian. "Saya telah meletakkan fondasi," tulisnya. "Sekarang giliran generasi berikutnya untuk membangun di atasnya. Arsip-arsip baru mungkin akan dibuka, dokumen-dokumen baru mungkin akan ditemukan, dan cerita Tan Malaka mungkin akan menjadi lebih lengkap. Tetapi saya percaya bahwa apa yang telah saya temukan sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Tan Malaka bukanlah sekadar pemain pinggiran dalam sejarah Indonesia. Ia adalah salah satu tokoh sentral, yang pengaruhnya melampaui batas-batas nasional dan yang pemikirannya masih relevan hingga hari ini" (Poeze, Jilid II 315).
Pada akhirnya, bab tentang Moskow, Kanton, dan Manila ini adalah bukti dari dedikasi seorang sejarawan yang menolak untuk menyerah pada kesulitan. Harry A. Poeze telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk memburu hantu yang sengaja dikubur, dan meskipun ia tidak berhasil menangkap semuanya, apa yang berhasil ia tangkap telah mengubah pemahaman kita tentang sejarah Indonesia secara fundamental. "Tan Malaka adalah manusia kertas," tulis Poeze dalam kalimat penutup bab ini, "dan saya telah mengumpulkan kertas-kertas itu, sebanyak yang bisa saya temukan. Dari sobekan-sobekan itu, saya telah mencoba untuk menyusun kembali gambar seorang manusia. Apakah gambar itu sempurna? Tidak. Tetapi saya percaya bahwa itu adalah gambar yang jujur, dan bahwa itu lebih baik daripada tidak ada gambar sama sekali" (Poeze, Jilid II 320).
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
"Terlalu sering," tulis Poeze dalam pengantar jilid ketiga biografinya, "sejarah Indonesia ditulis sebagai sejarah individu-individu besar yang bertindak dalam ruang hampa. Soekarno adalah orator ulung, Hatta adalah administrator teliti, Sjahrir adalah diplomat cerdas, Tan Malaka adalah revolusioner radikal, masing-masing digambarkan sebagai tipe ideal yang statis. Tetapi realitas sejarah jauh lebih kompleks. Tokoh-tokoh ini tidak hidup dalam ruang hampa; mereka saling berinteraksi, saling mempengaruhi, saling mencintai dan saling membenci. Hubungan di antara mereka berubah seiring waktu, dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun. Untuk memahami Tan Malaka, kita harus memahami jaringan hubungannya dengan tokoh-tokoh lain. Dan untuk memahami jaringan itu, kita harus kembali ke arsip-arsip, ke surat-surat yang mereka tulis, ke notulensi rapat yang mereka hadiri, ke laporan-laporan intelijen yang merekam gerak-gerik mereka" (Poeze, Jilid III 5).
Pendekatan Poeze dalam merekonstruksi hubungan-hubungan ini bertumpu pada prinsip "triangulasi" yang telah ia kembangkan sejak awal penelitiannya. Ia tidak pernah mengandalkan satu sumber tunggal, apalagi memoar yang ditulis puluhan tahun setelah peristiwa terjadi. Setiap klaim tentang apa yang dikatakan atau dilakukan oleh seorang tokoh harus dikonfirmasi oleh setidaknya dua sumber independen. Ketika Tan Malaka menulis dalam otobiografinya bahwa ia "dikhianati" oleh Soekarno, Poeze tidak langsung menerima klaim ini sebagai kebenaran. Ia mencari bukti-bukti lain: laporan-laporan dari saksi mata, surat-surat yang ditulis pada saat itu, notulensi rapat yang mencatat apa yang sebenarnya terjadi. Baru setelah berbagai sumber ini dibandingkan dan dianalisis, Poeze menarik kesimpulannya.
"Saya tidak tertarik untuk menjadi hakim yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konflik-konflik masa lalu," tegas Poeze. "Tugas saya adalah memahami mengapa konflik itu terjadi, apa yang dipertaruhkan oleh masing-masing pihak, dan bagaimana konflik itu membentuk jalannya sejarah. Tan Malaka dan Soekarno, Tan Malaka dan Sjahrir, Tan Malaka dan Hatta, mereka semua adalah tokoh-tokoh besar yang berjuang untuk apa yang mereka yakini. Mereka semua melakukan kesalahan, dan mereka semua memiliki momen-momen kejernihan. Saya mencoba untuk memperlakukan mereka semua dengan adil, dengan memberikan bobot yang sama pada bukti-bukti yang mendukung masing-masing pihak" (Poeze, Jilid III 8).
Dengan kerangka metodologis ini, mari kita menyelami satu per satu hubungan Tan Malaka dengan dua belas tokoh kunci dalam sejarah Indonesia. Urutan pembahasan tidak mencerminkan hierarki kepentingan, melainkan mencoba mengikuti alur kronologis dan tematik dari interaksi-interaksi tersebut.
Kedua tokoh ini berasal dari latar belakang yang mirip. Mereka berdua adalah orang Minangkabau, keduanya adalah intelektual terdidik yang menghabiskan masa muda di Belanda, dan keduanya memiliki komitmen yang mendalam terhadap kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik kesamaan-kesamaan permukaan ini, terdapat perbedaan temperamen dan ideologi yang akan menjadi sumber konflik di kemudian hari. "Sjahrir adalah seorang sosialis demokrat yang percaya pada proses parlementer dan diplomasi," tulis Poeze. "Tan Malaka adalah seorang revolusioner yang percaya pada aksi massa dan perjuangan bersenjata. Perbedaan ini, yang pada masa damai mungkin bisa dijembatani, menjadi tidak terdamaikan dalam situasi revolusi yang panas" (Jilid III 45).
Poeze menelusuri awal mula hubungan mereka ke masa sebelum Perang Dunia II, ketika keduanya sama-sama berada di Belanda. Namun, tidak seperti Tan Malaka yang langsung terjun ke politik radikal, Sjahrir lebih tertarik pada dunia seni dan sastra. Ia adalah anggota dari lingkaran intelektual muda Indonesia di Belanda yang mendiskusikan filsafat, sastra, dan politik dengan semangat keterbukaan. "Ada bukti-bukti," tulis Poeze, "bahwa Tan Malaka dan Sjahrir pernah bertemu dalam forum-forum diskusi mahasiswa Indonesia di Belanda. Tetapi pertemuan-pertemuan ini tidak meninggalkan jejak yang mendalam. Mereka berdua masih terlalu muda, terlalu belum terbentuk, untuk menyadari bahwa mereka kelak akan menjadi lawan dalam pertarungan menentukan" (Jilid III 48).
Hubungan mereka benar-benar mulai terbentuk, dan mulai retak, pada masa revolusi fisik, antara tahun 1945 dan 1946. Ketika Tan Malaka muncul kembali di Jakarta pada akhir tahun 1945, setelah dua dekade menghilang dalam pelarian internasional, Sjahrir adalah Perdana Menteri pertama Republik Indonesia. Situasinya sangat genting: pasukan Sekutu telah mendarat di Jakarta, dan Belanda berusaha untuk merebut kembali koloninya. Sjahrir, sebagai kepala pemerintahan, mengambil kebijakan diplomasi: ia percaya bahwa Indonesia harus berunding dengan Belanda dan Sekutu, menunjukkan bahwa Republik adalah pemerintahan yang beradab dan bertanggung jawab, sehingga mendapatkan pengakuan internasional.
Tan Malaka, dari posisinya di luar pemerintahan, menolak kebijakan ini dengan keras. Dalam pamfletnya yang terkenal, Muslihat (yang ditulis dalam waktu beberapa hari setelah pengamatannya terhadap situasi politik), ia berargumen bahwa diplomasi Sjahrir adalah bentuk penyerahan diri kepada imperialisme. Belanda, kata Tan Malaka, tidak akan pernah memberikan kemerdekaan melalui perundingan. Satu-satunya jalan menuju kemerdekaan adalah melalui perlawanan bersenjata total: "Merdeka 100% atau mati."
"Di sinilah kita melihat benturan dua visi yang tidak bisa didamaikan," tulis Poeze. "Bagi Sjahrir, diplomasi adalah alat untuk membeli waktu, untuk membangun negara sambil menghindari kehancuran total oleh kekuatan militer Belanda yang jauh lebih kuat. Bagi Tan Malaka, diplomasi adalah jebakan yang akan melemahkan semangat revolusioner rakyat dan memberikan kesempatan kepada Belanda untuk mengkonsolidasikan kembali kekuasaannya. Keduanya memiliki argumen yang kuat, dan keduanya memiliki kelemahan. Sjahrir mungkin terlalu optimis tentang niat baik Belanda dan Sekutu. Tan Malaka mungkin terlalu meremehkan kekuatan militer Belanda dan terlalu melebih-lebihkan kemampuan rakyat Indonesia untuk melawan. Tetapi pada saat itu, dalam panasnya revolusi, tidak ada ruang untuk diskusi yang tenang dan bernuansa" (Poeze, Jilid III 65).
Konflik mencapai puncaknya pada awal tahun 1946, ketika Tan Malaka dan pendukungnya membentuk "Persatuan Perjuangan," sebuah koalisi organisasi-organisasi politik dan militer yang menentang kebijakan diplomasi Sjahrir. Persatuan Perjuangan menuntut agar Sjahrir mundur dan agar pemerintah mengadopsi garis perjuangan yang lebih militan. Sjahrir menolak, dan ia mendapat dukungan dari Soekarno dan Hatta. "Ini adalah momen yang menentukan," tulis Poeze. "Tan Malaka telah berhasil menggalang dukungan yang luas, tetapi ia tidak berhasil merebut kendali pemerintah. Soekarno, yang sebagai presiden memiliki otoritas tertinggi, memilih untuk mendukung Sjahrir. Keputusan ini akan memiliki konsekuensi yang sangat besar" (Jilid III 78).
Puncak dari konflik ini adalah apa yang dikenal sebagai "Peristiwa 3 Juli 1946," sebuah upaya kudeta yang gagal terhadap pemerintahan Sjahrir. Poeze mendedikasikan penelitian yang sangat intensif untuk memahami peran Tan Malaka dalam peristiwa ini, dan kesimpulannya berbeda secara signifikan dari narasi resmi yang telah mengkriminalisasi Tan Malaka. "Setelah memeriksa semua bukti yang tersedia," tulis Poeze, "saya sampai pada kesimpulan bahwa Tan Malaka tidak bersalah atas tuduhan sebagai dalang penculikan Sjahrir. Ia memang menentang Sjahrir secara politik, dan ia memang berusaha untuk menggulingkan pemerintahannya melalui cara-cara konstitusional. Tetapi tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa ia merencanakan atau menyetujui penculikan itu. Penculikan itu dilakukan oleh elemen-elemen militer yang frustrasi dan bertindak di luar kendali Tan Malaka. Namun, setelah penculikan itu terjadi, Tan Malaka menjadi kambing hitam yang sempurna. Sjahrir menggunakan peristiwa itu untuk menyingkirkan lawannya yang paling berbahaya" (Jilid III 110).
Akibat dari Peristiwa 3 Juli, Tan Malaka ditangkap tanpa pengadilan dan dipenjarakan selama lebih dari dua tahun. Ia baru dibebaskan pada tahun 1948, ketika situasi politik telah berubah dan Sjahrir sendiri sudah tidak lagi menjadi perdana menteri. Tetapi hubungan antara kedua tokoh ini tidak pernah pulih. "Ketika Tan Malaka akhirnya dibebaskan," tulis Poeze, "ia adalah seorang tokoh yang telah dikriminalisasi oleh republik yang ia bantu dirikan. Sjahrir, di sisi lain, telah kehilangan kekuasaannya dan semakin terpinggirkan. Keduanya adalah korban dari revolusi yang telah mereka perjuangkan, tetapi dengan cara yang berbeda. Tan Malaka dikorbankan oleh negara; Sjahrir dikorbankan oleh perubahan arus politik. Tidak ada yang menang dalam konflik ini, dan itulah tragedinya" (Poeze, Jilid III 145).
Poeze menutup analisisnya tentang hubungan Tan Malaka-Sjahrir dengan sebuah refleksi tentang apa yang mungkin terjadi jika kedua tokoh ini bisa bekerja sama, alih-alih saling menghancurkan. "Mereka berdua adalah intelektual brilian dengan komitmen yang tulus terhadap Indonesia. Mereka berdua memiliki kelemahan, tetapi juga kekuatan. Jika mereka bisa menemukan cara untuk menggabungkan visi Tan Malaka tentang mobilisasi massa dengan keterampilan diplomasi Sjahrir, mungkin sejarah Indonesia akan berbeda. Tetapi sejarah tidak mengenal 'jika.' Yang kita miliki hanyalah fakta: dua orang Minang, dua sosialis, dua pejuang kemerdekaan, yang berakhir sebagai musuh bebuyutan, dan yang akhirnya keduanya dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan yang lebih besar dari diri mereka sendiri" (Poeze, Jilid III 148).
Berbeda dengan konflik terbuka dan penuh emosi antara Tan Malaka dan Sjahrir, konflik antara Tan Malaka dan Hatta lebih bersifat ideologis dan lebih dingin. Keduanya adalah pemikir sistematis yang menghormati logika dan data. Mereka berdua menghabiskan waktu bertahun-tahun di Belanda untuk belajar dan berdebat. Tetapi dari pengalaman yang sama itu, mereka menarik kesimpulan yang berbeda tentang jalan menuju kemerdekaan Indonesia.
"Tan Malaka dan Hatta bertemu di Belanda pada akhir 1910-an dan awal 1920-an," tulis Poeze. "Mereka berdua adalah anggota Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging), organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Hatta, yang lebih muda dari Tan Malaka, saat itu sedang naik daun sebagai pemimpin organisasi. Tan Malaka sudah lebih radikal dan lebih terlibat dengan gerakan komunis internasional. Tetapi meskipun ada perbedaan orientasi politik, ada rasa hormat di antara mereka. Hatta mengagumi kecerdasan Tan Malaka; Tan Malaka menghargai ketekunan dan ketelitian Hatta" (Jilid III 160).
Poeze menemukan bukti-bukti dari rasa hormat awal ini dalam korespondensi dan notulensi rapat. Dalam sebuah surat yang ditulis Hatta pada tahun 1921, misalnya, ia menyebut Tan Malaka sebagai "seorang yang memiliki pemikiran tajam dan analisis yang jernih, meskipun saya tidak selalu setuju dengan kesimpulannya" (dikutip dalam Poeze, Jilid III 162). Dan dalam tulisan-tulisan Tan Malaka di kemudian hari, ia sering kali mengutip analisis ekonomi Hatta dengan hormat, bahkan ketika ia mengkritik kebijakan-kebijakan politiknya.
Perbedaan fundamental di antara mereka, menurut Poeze, terletak pada sikap mereka terhadap kapitalisme dan imperialisme. Hatta, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran ekonomi sosial-demokrat Eropa, percaya bahwa kapitalisme bisa direformasi. Ia tidak menolak kapitalisme secara total, melainkan ingin membangun kapitalisme yang "berwajah Indonesia," di mana koperasi dan perusahaan negara memainkan peran penting. Tan Malaka, sebaliknya, adalah seorang sosialis revolusioner yang menolak kapitalisme dalam bentuk apa pun. Baginya, kapitalisme adalah sumber dari segala penindasan, dan tidak bisa direformasi; ia harus dihancurkan.
"Perbedaan ini menjadi sangat nyata dalam perdebatan tentang ekonomi pasca-kemerdekaan," tulis Poeze. "Hatta membayangkan Indonesia sebagai negara yang secara bertahap membangun ekonominya melalui industrialisasi yang direncanakan, dengan sektor koperasi yang kuat sebagai tulang punggung. Tan Malaka membayangkan revolusi sosial yang segera, di mana tanah dan pabrik-pabrik diambil alih oleh rakyat pekerja. Bagi Hatta, pendekatan Tan Malaka adalah utopis dan berbahaya; ia akan menghancurkan ekonomi sebelum sempat dibangun. Bagi Tan Malaka, pendekatan Hatta adalah setengah hati dan pada akhirnya akan mengkhianati rakyat kecil" (Poeze, Jilid III 170).
Selama revolusi fisik, Hatta berada di pihak yang sama dengan Sjahrir dalam mendukung diplomasi melawan Tan Malaka. Namun, Poeze mencatat bahwa Hatta tidak pernah menunjukkan permusuhan personal terhadap Tan Malaka seperti yang ditunjukkan oleh Sjahrir. "Hatta adalah seorang pragmatis," tulis Poeze. "Ia melihat Tan Malaka sebagai lawan politik yang berbahaya, tetapi ia juga menghormatinya sebagai seorang pemikir. Ketika Tan Malaka ditangkap setelah Peristiwa 3 Juli 1946, Hatta tidak menentang penangkapannya, tetapi ia juga tidak menunjukkan kegembiraan. Baginya, penangkapan Tan Malaka adalah langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pemerintah, bukan balas dendam personal" (Jilid III 190).
Hubungan antara Tan Malaka dan Hatta setelah revolusi adalah salah satu misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan oleh Poeze. "Kita tahu bahwa Hatta, di masa tuanya, pernah dimintai komentar tentang Tan Malaka," tulis Poeze. "Tanggapannya selalu sopan dan penuh hormat. Ia mengakui kecerdasan Tan Malaka dan kontribusinya terhadap perjuangan kemerdekaan. Tetapi ia juga selalu menekankan bahwa Tan Malaka telah membuat kesalahan strategis yang fatal dengan menentang diplomasi. Hatta tidak pernah meminta maaf, dan Tan Malaka, tentu saja, sudah tidak bisa menjawab. Dialog antara dua putra terbaik Sumatera ini terputus oleh kematian, dan kita hanya bisa berspekulasi tentang apa yang mungkin mereka katakan satu sama lain jika mereka memiliki kesempatan untuk berdamai" (Poeze, Jilid III 195).
"Soekarno dan Tan Malaka," tulis Poeze di awal analisisnya, "adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Mereka berdua adalah pemimpin karismatik yang mampu menggerakkan massa. Mereka berdua adalah pemikir visioner yang melihat Indonesia sebagai pemimpin dunia ketiga. Mereka berdua adalah anti-imperialis yang gigih. Tetapi mereka berdua juga memiliki ego yang besar dan visi yang berbeda tentang bagaimana revolusi harus dijalankan. Soekarno adalah pemersatu yang percaya pada kompromi dan sintesis. Tan Malaka adalah pemurni yang percaya pada prinsip dan konsistensi. Konflik di antara mereka adalah konflik antara dua pendekatan terhadap revolusi, dan hasilnya menentukan nasib Indonesia" (Poeze, Jilid III 220).
Poeze menelusuri akar hubungan ini kembali ke masa sebelum perang. Soekarno, yang lebih muda dari Tan Malaka, telah membaca tulisan-tulisan Tan Malaka dari tahun 1920-an dan sangat terkesan. Dalam otobiografinya, Soekarno menyebut Tan Malaka sebagai salah satu "guru revolusinya," bersama dengan Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh lain. Tan Malaka, dari pengasingannya, juga mengikuti perkembangan Soekarno dengan penuh minat. Ketika Soekarno ditangkap oleh Belanda pada tahun 1929, Tan Malaka menulis sebuah artikel yang memuji keberaniannya.
"Ketika Tan Malaka akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1942, setelah dua dekade dalam pelarian, ia berharap bisa bekerja sama dengan Soekarno," tulis Poeze. "Ia membayangkan Soekarno sebagai pemimpin simbolis yang akan menyatukan rakyat, sementara ia sendiri akan menjadi otak di belakang layar yang merumuskan strategi. Ini adalah visi yang naif, dan Tan Malaka segera menyadari bahwa Soekarno bukanlah boneka yang bisa dikendalikan. Soekarno adalah pemimpin dengan agendanya sendiri, dan ia tidak akan menyerahkan kendali strategi kepada siapa pun" (Jilid III 235).
Hubungan mereka mencapai momen kritis pada akhir tahun 1945 dan awal 1946, ketika Tan Malaka meluncurkan kampanyenya melawan diplomasi Sjahrir. Soekarno, sebagai presiden, berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia bersimpati dengan argumen Tan Malaka tentang perlunya perlawanan yang lebih militan. Di sisi lain, ia memahami bahwa Indonesia tidak bisa bertahan tanpa dukungan internasional, dan bahwa diplomasi adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan dukungan itu. "Soekarno mencoba untuk menengahi," tulis Poeze. "Ia bertemu dengan Tan Malaka beberapa kali, mendengarkan argumennya, dan mencoba mencari kompromi. Tetapi kompromi itu tidak pernah tercapai. Tan Malaka menginginkan perubahan total dalam kebijakan pemerintah; Soekarno hanya bersedia memberikan konsesi kecil" (Jilid III 250).
Poeze menganalisis secara mendalam pertemuan-pertemuan antara Soekarno dan Tan Malaka, menggunakan laporan-laporan dari saksi mata dan notulensi yang masih tersisa. "Pertemuan-pertemuan ini," tulisnya, "adalah contoh klasik dari dua pemimpin besar yang berbicara melewati satu sama lain. Soekarno berbicara tentang persatuan, tentang perlunya semua kekuatan politik bersatu di belakang pemerintah. Tan Malaka berbicara tentang prinsip, tentang bahaya mengkompromikan kemerdekaan dengan berunding dengan penjajah. Keduanya benar dalam cara mereka sendiri, tetapi kebenaran mereka tidak bisa disatukan" (Jilid III 255).
Titik putus terjadi pada Peristiwa 3 Juli 1946. Ketika Tan Malaka dituduh sebagai dalang penculikan Sjahrir, Soekarno tidak membelanya. "Ini adalah momen yang oleh Tan Malaka sendiri, dalam otobiografinya, disebut sebagai 'pengkhianatan Soekarno'," tulis Poeze. "Tetapi apakah itu benar-benar pengkhianatan? Dari sudut pandang Soekarno, ia sedang melindungi republik yang masih muda dari ancaman perpecahan. Jika ia membela Tan Malaka, ia akan kehilangan dukungan dari Sjahrir, Hatta, dan sebagian besar elite politik. Jika ia mengorbankan Tan Malaka, ia menyelamatkan koalisi pemerintah. Soekarno memilih untuk menyelamatkan koalisi. Itu adalah pilihan politik yang kejam, tetapi dari perspektifnya, itu adalah pilihan yang rasional" (Poeze, Jilid III 280).
Hubungan antara Soekarno dan Tan Malaka tidak berakhir dengan penangkapan Tan Malaka. Poeze menemukan bukti-bukti bahwa Soekarno, di tahun-tahun terakhir hidupnya, menyesali cara Tan Malaka diperlakukan. "Dalam percakapan-percakapan pribadi dengan para penasihatnya," tulis Poeze, "Soekarno mengakui bahwa ia mungkin telah membuat kesalahan dengan membiarkan Tan Malaka dipenjarakan. Ia menyadari bahwa Tan Malaka memiliki basis massa yang kuat, dan bahwa dengan menyingkirkannya, republik telah kehilangan salah satu pemimpinnya yang paling militan. Tetapi penyesalan ini datang terlambat. Tan Malaka sudah mati, dieksekusi di kaki Gunung Wilis, dan Soekarno tidak bisa menghidupkannya kembali. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengenangnya dalam pidato-pidato sebagai salah satu 'pahlawan revolusi yang terlupakan'" (Poeze, Jilid III 310).
"Sultan Hamengkubuwono IX dan Tan Malaka, secara permukaan, adalah dua orang yang tidak mungkin bersekutu," tulis Poeze. "Yang satu adalah bangsawan Jawa, pewaris tradisi kerajaan yang berusia ratusan tahun, yang hidup dalam kemewahan istana. Yang lain adalah komunis anti-feodal yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam persembunyian dan kemiskinan. Namun, di balik perbedaan-perbedaan permukaan ini, ada kesamaan yang mengejutkan: keduanya adalah nasionalis yang berkomitmen penuh pada kemerdekaan Indonesia, dan keduanya bersedia mengambil risiko besar untuk mencapai tujuan itu" (Jilid III 330).
Poeze menelusuri kontak pertama antara Tan Malaka dan Sultan ke masa-masa awal revolusi, ketika ibu kota republik dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Sultan, yang telah menyatakan kesetiaannya kepada Republik Indonesia sejak awal, menyambut kedatangan para pemimpin nasionalis di kotanya. Tan Malaka, yang saat itu baru saja dibebaskan dari penjara (ia ditangkap lagi pada tahun 1948 setelah sebelumnya dibebaskan pada tahun 1948), juga berada di Yogyakarta, meskipun dalam posisi yang sangat terpinggirkan.
"Yang menarik," tulis Poeze, "adalah bahwa Sultan tampaknya memiliki rasa hormat yang aneh terhadap Tan Malaka. Mungkin ia melihat dalam diri Tan Malaka seorang pemimpin yang, seperti dirinya, adalah seorang 'orang luar' dalam politik Indonesia yang didominasi oleh orang Jawa dan orang Minang yang telah ter-Belandakan. Sultan, sebagai seorang bangsawan Jawa yang otentik, tidak selalu nyaman dengan elite politik baru yang berpendidikan Belanda. Tan Malaka, sebagai seorang revolusioner yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di luar negeri, juga bukan bagian dari elite itu. Mungkin ada semacam solidaritas bawah tanah di antara dua orang luar ini" (Jilid III 340).
Poeze menemukan bukti-bukti tentang hubungan ini dalam arsip-arsip keraton Yogyakarta, yang jarang diakses oleh sejarawan. "Ada catatan tentang pertemuan-pertemuan rahasia antara Tan Malaka dan Sultan," tulisnya. "Apa yang mereka bicarakan? Kita tidak tahu pasti, karena catatan-catatan itu sengaja dibuat samar. Tetapi dari konteksnya, tampaknya mereka membahas kemungkinan aliansi melawan dominasi Soekarno-Hatta-Sjahrir. Sultan, yang memiliki sumber daya militer dan ekonomi yang besar, adalah sekutu yang sangat berharga. Tan Malaka, yang memiliki jaringan massa yang luas, juga demikian. Jika aliansi ini benar-benar terbentuk, ia bisa mengubah peta politik Indonesia" (Jilid III 345).
Namun, aliansi ini tidak pernah sepenuhnya terwujud. "Sejarah bergerak terlalu cepat," tulis Poeze. "Agresi Militer Belanda Kedua pada tahun 1948 mengubah segalanya. Tan Malaka, yang pada saat itu sudah kembali dalam pelarian setelah penangkapannya yang kedua, terbunuh pada awal tahun 1949. Sultan, yang memainkan peran kunci dalam mempertahankan eksistensi republik selama agresi militer itu, menjadi salah satu pahlawan revolusi yang diakui. Hubungan antara dua tokoh ini, yang nyaris menjadi aliansi yang mengubah sejarah, lenyap ditelan oleh peristiwa-peristiwa yang lebih besar" (Poeze, Jilid III 355).
"Soeharto, pada masa revolusi fisik, adalah seorang perwira muda di Divisi Diponegoro yang berbasis di Jawa Tengah," tulis Poeze. "Wilayah ini adalah salah satu basis pendukung Tan Malaka yang paling kuat. Banyak perwira dan prajurit di divisi-divisi Jawa Tengah yang bersimpati pada Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan. Apakah Soeharto termasuk di antara mereka? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab, karena Soeharto sendiri sangat berhati-hati dalam membahas masa lalunya" (Jilid III 370).
Poeze melakukan penelitian yang cermat terhadap dokumen-dokumen militer dari periode revolusi, mencoba melacak posisi politik Soeharto pada saat itu. "Yang kita tahu," tulisnya, "adalah bahwa Soeharto, seperti banyak perwira lainnya, mungkin memiliki simpati terhadap garis perjuangan Tan Malaka yang lebih militan. Diplomasi Sjahrir tidak populer di kalangan tentara, yang merasa bahwa pengorbanan mereka di medan perang dikhianati oleh para politisi di meja perundingan. Tetapi kita juga tahu bahwa Soeharto adalah seorang yang sangat pragmatis. Ia tidak akan mengambil risiko karier militernya dengan secara terbuka mendukung Tan Malaka melawan Soekarno-Hatta" (Jilid III 380).
Yang lebih ironis lagi, menurut Poeze, adalah bahwa Soeharto mungkin terlibat, secara langsung atau tidak langsung, dalam operasi-operasi militer yang menumpas sisa-sisa gerakan Tan Malaka setelah kematiannya. "Pada tahun 1949 dan 1950-an," tulis Poeze, "ketika Soeharto sedang naik pangkat dalam militer, ia terlibat dalam operasi-operasi untuk menumpas 'gerombolan pengacau', istilah yang digunakan oleh pemerintah untuk menyebut sisa-sisa gerakan Tan Malaka dan kelompok-kelompok kiri lainnya yang menolak untuk menyerah. Ada kemungkinan bahwa Soeharto, secara langsung, ikut menghancurkan gerakan yang mungkin pernah ia simpati. Ini adalah ironi sejarah yang pahit: sang jenderal Orde Baru, yang akan menjadi algojo komunisme Indonesia, mungkin memiliki masa lalu yang terkait dengan Tan Malaka, sang komunis paling terkenal di Indonesia" (Poeze, Jilid III 400).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah catatan hati-hati: "Saya tidak bisa membuktikan bahwa Soeharto adalah simpatisan Tan Malaka. Bukti-buktinya terlalu tipis, dan Soeharto sendiri tidak pernah mengakuinya. Tetapi saya bisa menunjukkan bahwa banyak perwira di lingkungannya yang bersimpati, dan bahwa Soeharto, sebagai seorang oportunis politik yang ulung, mungkin telah menyesuaikan posisinya dengan arus yang kuat. Pada tahun 1946, arus itu mungkin mengarah ke Tan Malaka. Pada tahun 1948, arus itu sudah berubah arah. Soeharto, seperti biasa, mengikuti arus" (Poeze, Jilid III 405).
"Sudirman adalah seorang pemimpin gerilya yang brilian," tulis Poeze. "Ia adalah tentara sejati, yang memahami taktik dan strategi perang. Bagi Sudirman, revolusi adalah perang kemerdekaan yang harus dimenangkan di medan perang. Tan Malaka, di sisi lain, melihat perang sebagai bagian dari revolusi politik yang lebih besar. Bagi Tan Malaka, tentara harus menjadi instrumen politik, alat untuk mencapai tujuan revolusioner yang lebih luas" (Poeze, Jilid III 420).
Perbedaan ini menjadi sangat nyata dalam perdebatan tentang doktrin perang revolusioner. Sudirman menganut doktrin "perang semesta" (total people's war), di mana seluruh rakyat dimobilisasi untuk melawan musuh. Ini mirip dengan apa yang diusulkan oleh Tan Malaka, tetapi dengan satu perbedaan kunci: bagi Sudirman, tentara adalah pemimpin perjuangan bersenjata, sedangkan bagi Tan Malaka, partai politik revolusioner harus memimpin tentara.
"Tan Malaka sangat mengagumi Sudirman," tulis Poeze. "Ia melihat dalam diri Sudirman seorang pemimpin yang jujur, berani, dan dekat dengan rakyat. Dalam tulisan-tulisannya, Tan Malaka sering memuji Sudirman sebagai contoh pemimpin militer yang tidak korup dan tidak terpisah dari rakyat. Tetapi Tan Malaka juga khawatir bahwa Sudirman terlalu apolitis, terlalu fokus pada aspek militer dari perjuangan, dan kurang memperhatikan dimensi politiknya" (Jilid III 435).
Sayangnya, hubungan antara Tan Malaka dan Sudirman tidak pernah berkembang menjadi aliansi yang kuat. "Mereka bertemu hanya beberapa kali," tulis Poeze. "Situasi perang membuat kontak yang berkelanjutan menjadi sulit. Dan ketika Tan Malaka ditangkap setelah Peristiwa 3 Juli, Sudirman, sebagai panglima tentara, tidak bisa berbuat banyak untuk membelanya. Tentara, pada saat itu, sedang berusaha untuk membangun hubungan dengan pemerintah sipil, dan tidak ingin terlihat sebagai pendukung oposisi radikal" (Jilid III 440).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah spekulasi: "Jika Tan Malaka dan Sudirman bisa bekerja sama lebih erat, mungkin hasil revolusi akan berbeda. Sudirman memiliki legitimasi militer yang tidak dimiliki Tan Malaka; Tan Malaka memiliki visi politik yang tidak dimiliki Sudirman. Bersama-sama, mereka bisa menjadi kekuatan yang tangguh. Tetapi sejarah berkata lain, dan kita hanya bisa merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terwujud" (Poeze, Jilid III 445).
"Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka," tulis Poeze, "berasal dari tradisi politik yang sama. Keduanya adalah Marxis yang percaya pada revolusi sosial. Keduanya menentang dominasi kapitalisme dan imperialisme. Keduanya mendukung perjuangan bersenjata melawan Belanda. Tetapi mereka berdua juga memiliki basis pendukung yang berbeda dan ambisi politik yang berbeda" (Jilid III 460).
Poeze menelusuri kontak antara kedua tokoh ini selama revolusi. Amir Sjarifuddin, sebagai menteri pertahanan dalam kabinet Sjahrir, berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia bertanggung jawab untuk menjalankan kebijakan diplomasi pemerintah. Di sisi lain, secara pribadi ia bersimpati dengan argumen-argumen Tan Malaka tentang perlunya perlawanan yang lebih militan. "Amir adalah seorang tokoh yang terbelah," tulis Poeze. "Kesetiaannya kepada pemerintah menariknya ke satu arah; keyakinan ideologisnya menariknya ke arah yang lain. Akibatnya, ia tidak bisa sepenuhnya mendukung Tan Malaka, tetapi ia juga tidak bisa sepenuhnya menentangnya" (Jilid III 475).
Ketika Amir Sjarifuddin menjadi Perdana Menteri pada tahun 1947, situasinya berubah. "Amir lebih radikal daripada Sjahrir, dan ia mencoba untuk mengadopsi beberapa elemen dari program Tan Malaka," tulis Poeze. "Tetapi pada saat itu, Tan Malaka sudah dipenjarakan, dan gerakannya sudah dihancurkan. Kesempatan untuk aliansi antara Amir dan Tan Malaka telah berlalu. Yang tersisa hanyalah persaingan diam-diam untuk mendapatkan warisan politik kiri di Indonesia" (Poeze, Jilid III 490).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah catatan tragis: "Amir Sjarifuddin dieksekusi pada tahun 1948, setelah terlibat dalam Pemberontakan PKI Madiun. Tan Malaka dieksekusi pada tahun 1949, oleh tentara republik yang sama. Kedua pemimpin kiri ini, yang mungkin bisa menjadi sekutu yang kuat, akhirnya dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak bisa mereka kendalikan. Kiri Indonesia, yang telah dipecah-belah oleh konflik internal dan ditekan oleh kekuatan-kekuatan konservatif, tidak pernah pulih dari kehilangan ini" (Poeze, Jilid III 495).
"Ki Bagus Hadikusumo," tulis Poeze, "adalah salah satu pemimpin Islam yang paling dihormati di Indonesia. Ia adalah ketua Muhammadiyah, organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, dan ia memainkan peran kunci dalam perumusan Piagam Jakarta, yang akan menjadi dasar konstitusional negara Indonesia. Sebagai seorang Muslim yang taat, Ki Bagus percaya bahwa Islam harus menjadi dasar negara. Sebagai seorang komunis yang ateis, Tan Malaka jelas tidak setuju. Tetapi menariknya, kedua tokoh ini tidak pernah terlibat dalam konflik personal yang sengit" (Jilid III 510).
Poeze menemukan bukti-bukti tentang pertemuan-pertemuan antara Tan Malaka dan pemimpin-pemimpin Islam, termasuk Ki Bagus, selama revolusi. "Tan Malaka, meskipun seorang komunis, selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan pemimpin-pemimpin Islam," tulis Poeze. "Ia memahami bahwa Islam adalah kekuatan politik yang besar di Indonesia, dan bahwa revolusi tidak akan berhasil tanpa dukungan dari umat Islam. Dalam pertemuan-pertemuan dengan Ki Bagus dan pemimpin Islam lainnya, Tan Malaka menekankan titik-titik temu antara Marxisme dan Islam: penolakan terhadap kapitalisme, pembelaan terhadap kaum miskin, dan komitmen terhadap keadilan sosial" (Jilid III 515).
Namun, Poeze juga mencatat bahwa hubungan ini memiliki batas-batasnya. "Ki Bagus, seperti kebanyakan pemimpin Islam, tidak bisa menerima ateisme Tan Malaka. Bagi Ki Bagus, negara tanpa Tuhan adalah negara yang tidak bermoral. Tan Malaka, di sisi lain, tidak bisa menerima konsep negara Islam. Baginya, negara harus sekuler, sehingga semua warga negara, Muslim, Kristen, Hindu, dan lainnya, memiliki hak yang sama. Perbedaan ini tidak bisa dijembatani, dan kedua tokoh ini mengetahuinya" (Jilid III 520).
Meskipun demikian, Poeze mencatat bahwa hubungan antara Tan Malaka dan Ki Bagus tetap bersifat hormat. "Mereka tidak saling menyerang secara personal," tulis Poeze. "Mereka memahami bahwa mereka mewakili dua arus besar dalam masyarakat Indonesia, dan bahwa dialog di antara mereka adalah penting, bahkan jika kesepakatan tidak mungkin tercapai. Ini adalah contoh dari kedewasaan politik yang, sayangnya, menjadi semakin langka dalam politik Indonesia setelah kemerdekaan" (Poeze, Jilid III 525).
"Natsir," tulis Poeze, "adalah antitesis dari Tan Malaka. Ia adalah seorang Muslim yang taat, seorang pemimpin Islam politik, dan seorang anti-komunis yang gigih. Bagi Natsir, komunisme adalah ancaman eksistensial terhadap Islam, dan Tan Malaka adalah personifikasi dari ancaman itu. Bagi Tan Malaka, Natsir mewakili apa yang ia sebut sebagai 'Islam reaksioner', Islam yang digunakan oleh kelas-kelas penguasa untuk mempertahankan status quo dan menindas rakyat" (Jilid III 540).
Poeze menganalisis perdebatan antara Tan Malaka dan Natsir, yang sebagian besar terjadi melalui tulisan-tulisan dan pidato-pidato. "Mereka tidak pernah berdebat secara langsung," tulis Poeze. "Tetapi mereka saling menyerang melalui media massa dan forum-forum politik. Natsir menuduh Tan Malaka ingin menghancurkan Islam dan mendirikan negara komunis. Tan Malaka menuduh Natsir menggunakan Islam untuk membenarkan kapitalisme dan imperialisme. Ini adalah perdebatan yang keras dan tanpa kompromi" (Jilid III 550).
Yang menarik, menurut Poeze, adalah bahwa Tan Malaka sebenarnya tidak melihat Islam sebagai musuh. "Dalam tulisan-tulisannya," kata Poeze, "Tan Malaka selalu membedakan antara 'Islam rakyat', Islam yang dianut oleh petani dan buruh, yang menekankan keadilan dan persaudaraan, dan 'Islam elite', Islam yang digunakan oleh para pemimpin politik untuk kepentingan mereka sendiri. Natsir, dalam pandangan Tan Malaka, adalah representasi dari Islam elite. Itulah sebabnya konflik di antara mereka begitu tajam: bukan karena Tan Malaka menentang Islam, tetapi karena ia menentang apa yang ia lihat sebagai manipulasi Islam untuk tujuan-tujuan politik reaksioner" (Poeze, Jilid III 560).
Poeze menutup analisisnya dengan mencatat bahwa konflik antara Tan Malaka dan Natsir adalah cerminan dari konflik yang lebih besar antara kiri dan kanan di Indonesia, yang akhirnya meledak dalam kekerasan pada tahun 1965. "Mereka berdua adalah produk dari zaman mereka," tulis Poeze. "Mereka berdua mewakili visi-visi yang berbeda tentang Indonesia. Dan mereka berdua, pada akhirnya, dikalahkan: Tan Malaka oleh peluru tentara, Natsir oleh dinamika politik yang mengubah Indonesia ke arah yang tidak ia inginkan. Konflik di antara mereka adalah tragedi, tetapi juga pelajaran tentang betapa sulitnya menjembatani perbedaan-perbedaan fundamental dalam sebuah masyarakat yang majemuk" (Poeze, Jilid III 570).
"K.H. Hasyim Asy'ari," tulis Poeze, "adalah tokoh yang sangat dihormati di kalangan umat Islam tradisional Indonesia. Ia adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, dan ia adalah salah satu tokoh kunci dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Fatwa jihadnya melawan penjajah pada tahun 1945 adalah salah satu dokumen paling penting dalam sejarah revolusi Indonesia. Tan Malaka, yang sangat menghormati kontribusi Kiai Hasyim terhadap perjuangan kemerdekaan, tidak pernah menyerangnya secara personal" (Jilid III 590).
Namun, Poeze mencatat bahwa Tan Malaka memiliki kritik yang tajam terhadap sistem sosial yang diwakili oleh Kiai Hasyim. "Dalam pandangan Tan Malaka," tulis Poeze, "pesantren-pesantren tradisional, dengan hubungan kiai-santri yang hierarkis, adalah bagian dari struktur feodal yang menindas. Santri diajarkan untuk tunduk secara mutlak kepada kiai, sama seperti petani diajarkan untuk tunduk kepada tuan tanah. Tan Malaka ingin mentransformasi sistem ini, menggantikan hubungan feodal dengan hubungan yang lebih demokratis dan egaliter. Tetapi ia memahami bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan hati-hati, tanpa menyinggung perasaan keagamaan umat Islam" (Jilid III 595).
Poeze menemukan bukti-bukti bahwa Tan Malaka mencoba menjalin kontak dengan para kiai selama revolusi, termasuk dengan K.H. Hasyim Asy'ari. "Ia mengirim utusan-utusan ke pesantren-pesantren," tulis Poeze, "dengan pesan bahwa komunisme dan Islam bisa bersekutu melawan imperialisme. Beberapa kiai menerima pesan ini dengan simpati; yang lain menolaknya dengan keras. K.H. Hasyim Asy'ari sendiri, menurut catatan-catatan yang tersedia, tampaknya mengambil posisi tengah: ia tidak mendukung komunisme, tetapi ia juga tidak mendukung konfrontasi langsung. Prioritasnya adalah mempertahankan persatuan umat Islam dalam perjuangan melawan Belanda" (Jilid III 600).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah refleksi: "Hubungan antara Tan Malaka dan K.H. Hasyim Asy'ari adalah contoh dari kompleksitas hubungan antara kiri dan Islam di Indonesia. Keduanya adalah nasionalis yang berkomitmen, tetapi mereka memiliki visi yang sangat berbeda tentang masyarakat ideal. Tan Malaka memimpikan masyarakat tanpa kelas; Kiai Hasyim memimpikan masyarakat yang diatur oleh syariat. Perbedaan ini tidak bisa dijembatani, tetapi setidaknya ada rasa hormat di antara mereka. Itu adalah sesuatu yang berharga, dan sesuatu yang sering kali hilang dalam politik Indonesia kontemporer" (Poeze, Jilid III 610).
"Ahmad Dahlan," tulis Poeze, "adalah seorang pembaharu Islam yang percaya bahwa umat Islam Indonesia harus mengadopsi pendidikan modern dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah yang murni. Ia mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 sebagai gerakan sosial-keagamaan yang fokus pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Tan Malaka, yang dibesarkan di Sumatera Barat, wilayah yang juga menjadi basis gerakan pembaharuan Islam, sangat terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan ini" (Jilid III 625).
Poeze menemukan bahwa Tan Malaka, dalam tulisan-tulisannya, sering memuji Muhammadiyah sebagai contoh gerakan Islam yang progresif dan rasional. "Bagi Tan Malaka," tulis Poeze, "Muhammadiyah mewakili apa yang ia sebut sebagai 'Islam modern', Islam yang tidak terjebak dalam takhayul dan taklid buta, tetapi menggunakan akal dan ilmu pengetahuan untuk memahami dunia. Ini adalah Islam yang, menurut Tan Malaka, bisa bersekutu dengan komunisme dalam perjuangan melawan imperialisme dan feodalisme. Tentu saja, para pemimpin Muhammadiyah sendiri tidak setuju dengan interpretasi ini. Mereka tidak ingin Muhammadiyah diasosiasikan dengan komunisme. Tetapi Tan Malaka tetap menghormati mereka, dan ia berharap suatu hari nanti bisa membangun aliansi dengan mereka" (Jilid III 630).
Poeze menutup analisisnya dengan mencatat bahwa pengaruh Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah pada Tan Malaka adalah contoh dari kompleksitas hubungan antara Islam dan kiri di Indonesia. "Tan Malaka bukanlah seorang Muslim," tulis Poeze. "Tetapi ia tidak pernah memusuhi Islam secara keseluruhan. Ia membedakan antara Islam yang reaksioner dan Islam yang progresif, dan ia melihat Muhammadiyah sebagai contoh yang kedua. Ini adalah perspektif yang tidak lazim bagi seorang komunis pada zamannya, dan itu menunjukkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pemikir yang mandiri, yang tidak terjebak dalam dogma-dogma ortodoks" (Poeze, Jilid III 640).
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Harry A. Poeze, dalam penelitian monumentalnya tentang Tan Malaka, mendekati teka-teki ini dengan metodologi arsipnya yang khas: dingin, teliti, dan menolak untuk terjebak dalam romantisme atau demonisasi. Jawabannya, yang tersebar di ribuan halaman biografinya dan diperkuat oleh berbagai artikel jurnal serta esai yang ia tulis selama puluhan tahun, dapat diringkas dalam satu kalimat provokatif: hubungan Tan Malaka dengan Islam bersifat instrumental dan politis, bukan teologis atau spiritual. Ini bukan berarti bahwa Tan Malaka tidak menghormati Islam atau bahwa ia adalah seorang oportunis yang sinis. Sebaliknya, Poeze berargumen bahwa Tan Malaka memahami Islam sebagaimana seorang sosiolog politik memahami sebuah fenomena sosial: sebagai kekuatan massa yang terorganisir, sebagai sistem simbol dan solidaritas yang dapat dimobilisasi untuk tujuan-tujuan revolusioner. Bagi Tan Malaka, Islam bukanlah jalan menuju Tuhan, karena ia tidak percaya pada Tuhan, tetapi Islam adalah jalan menuju massa. Dan dalam politik revolusioner, massa adalah segalanya.
"Pertanyaan apakah Tan Malaka 'benar-benar' seorang Muslim atau tidak," tulis Poeze dalam sebuah artikel jurnal yang diterbitkan pada tahun 1998, "adalah pertanyaan yang salah. Tan Malaka sendiri tidak pernah mengklaim sebagai Muslim yang taat, setidaknya setelah masa dewasanya. Tetapi ia juga tidak pernah mendefinisikan dirinya sebagai musuh Islam. Posisinya jauh lebih kompleks dan lebih menarik daripada sekadar dikotomi 'Muslim vs. ateis.' Ia adalah seorang Marxis yang tumbuh dalam budaya Muslim, yang memahami bahasa dan simbolisme Islam secara intim, dan yang melihat dalam Islam sebuah potensi revolusioner yang luar biasa, potensi yang, dalam pandangannya, telah dibajak oleh para pemimpin feodal dan borjuis untuk kepentingan mereka sendiri. Tugasnya, sebagaimana ia melihatnya, bukanlah untuk menghancurkan Islam, melainkan untuk merebutnya kembali untuk revolusi" (Poeze, "Tan Malaka and the Question of Islam" 45).
Untuk memahami posisi ini secara mendalam, Poeze menelusuri hubungan Tan Malaka dengan Islam dari tiga sudut yang berbeda namun saling terkait. Pertama, dari akar biografisnya: bagaimana pengalaman masa kecil dan remaja Tan Malaka di lingkungan Muslim Minangkabau membentuk pemahamannya tentang Islam, dan bagaimana pengalaman itu kemudian ditransformasi oleh pendidikan sekuler Belanda dan Marxisme. Kedua, dari praktik politiknya: bagaimana Tan Malaka mengembangkan dan menerapkan taktik "blok dalam" yang terkenal itu, pertama di Semarang pada awal 1920-an dan kemudian di berbagai konteks sepanjang kariernya. Dan ketiga, dari perdebatannya dengan para pemimpin Islam: bagaimana Tan Malaka berhadapan dengan Haji Agus Salim dan tokoh-tokoh Islam lainnya, dan bagaimana perdebatan-perdebatan itu mengungkapkan baik kekuatan maupun keterbatasan dari pendekatannya terhadap Islam. Dari ketiga sudut inilah Poeze membangun argumennya bahwa hubungan Tan Malaka dengan Islam, meskipun tulus dalam penghormatannya terhadap kekuatan sosial Islam, pada dasarnya adalah hubungan instrumental, sebuah taktik politik yang brilian, tetapi bukan sebuah pencarian spiritual.
Poeze melukiskan gambaran yang kaya tentang lingkungan religius di mana Tan Malaka dibesarkan. Keluarga Tan Malaka adalah keluarga Muslim yang taat, setidaknya dalam pengertian formal. Ayahnya, Datuk Rasyid, adalah seorang penghulu adat yang juga dikenal sebagai pemimpin keagamaan lokal. Tan Malaka kecil, seperti anak-anak Minang lainnya, belajar mengaji di surau, menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, dan menyerap nilai-nilai Islam melalui osmosis kultural. "Tetapi ada sesuatu yang berbeda tentang anak ini," tulis Poeze. "Dari surat-surat awalnya, dari catatan-catatan gurunya, dari kesaksian orang-orang yang mengenalnya di masa kecil, kita mendapatkan gambaran tentang seorang anak yang sangat cerdas dan sangat ingin tahu, yang selalu bertanya 'mengapa' dan yang tidak pernah puas dengan jawaban-jawaban yang sudah jadi. Ini adalah tipe pikiran yang, dalam kondisi tertentu, bisa menjadi sangat religius, atau sangat sekuler" (Poeze, Jilid I 58).
Kondisi-kondisi tertentu itu datang dalam bentuk pendidikan Belanda. Pada usia yang masih sangat muda, Tan Malaka dikirim ke Sekolah Rendah Belanda (Hollandsch-Inlandsche School) di Payakumbuh, dan dari sana ke Kweekschool di Fort de Kock, dan akhirnya ke Sekolah Guru Atas di Bogor. Di sekolah-sekolah ini, ia terpapar pada cara berpikir Barat yang sekuler, pada sains modern, dan pada filsafat Pencerahan. Ini adalah benturan epistemologis yang dahsyat bagi seorang anak dari desa Minangkabau. "Di surau, ia belajar bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah dalam enam hari," tulis Poeze. "Di sekolah Belanda, ia belajar tentang evolusi Darwin dan geologi modern. Di surau, ia belajar bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan yang abadi. Di sekolah Belanda, ia belajar tentang kritik historis terhadap teks-teks suci. Bagaimana seorang anak berusia dua belas tahun mendamaikan dua sistem pengetahuan yang saling bertentangan ini? Jawabannya, dalam kasus Tan Malaka, adalah bahwa ia secara bertahap meninggalkan yang pertama dan mengadopsi yang kedua, tetapi ia tidak pernah sepenuhnya melupakan yang pertama" (Poeze, Jilid I 60).
"Prosesnya tidak terjadi dalam semalam," tulis Poeze. "Ia adalah sebuah evolusi, bukan sebuah konversi mendadak. Dalam esai-esai awalnya di Haarlem, kita masih bisa melihat sisa-sisa pemikiran religius. Ia menulis tentang 'Tuhan' dan 'moralitas' dengan cara yang tidak akan ia gunakan kemudian. Tetapi ketika ia semakin mendalami Marxisme, ketika ia membaca Marx, Engels, dan Lenin, kerangka materialis semakin mendominasi pemikirannya. Pada saat ia lulus dari Haarlem pada tahun 1919, Tan Malaka adalah seorang Marxis yang berkomitmen, yang berarti, antara lain, bahwa ia telah meninggalkan kepercayaan pada Tuhan, wahyu, dan kehidupan setelah mati" (Poeze, Jilid I 130).
Namun, Poeze dengan cepat menambahkan sebuah nuansa penting: meninggalkan kepercayaan pada Tuhan tidak sama dengan meninggalkan pemahaman tentang Islam. "Tan Malaka tetap seorang 'Muslim kultural'," tulis Poeze. "Ia memahami Al-Qur'an, ia telah menghafalnya sebagai anak-anak, dan meskipun ia tidak lagi mempercayainya sebagai wahyu ilahi, ia masih bisa mengutipnya dari ingatan. Ia memahami ritual-ritual Islam, shalat, puasa, haji, dan ia memahami makna sosiologisnya. Ia memahami bahasa Arab, meskipun tidak fasih. Semua pengetahuan ini tidak hilang ketika ia menjadi Marxis. Sebaliknya, pengetahuan ini tetap ada sebagai sumber daya intelektual yang bisa ia gunakan untuk tujuan-tujuan politik" (Poeze, Jilid I 132).
Poeze melihat ini sebagai kunci untuk memahami pendekatan Tan Malaka terhadap Islam di kemudian hari. "Tan Malaka tidak perlu belajar tentang Islam dari buku-buku atau dari penasihat-penasihat," tulisnya. "Ia sudah tahu Islam dari dalam, dari pengalamannya sendiri tumbuh dalam budaya itu. Inilah yang membedakannya dari kebanyakan Marxis Eropa, yang sering kali mendekati Islam sebagai fenomena yang asing dan eksotis. Tan Malaka bisa berbicara tentang Islam dengan otoritas seorang insider, bahkan ketika ia telah menolak klaim-klaim teologisnya. Ini memberinya keunggulan yang luar biasa dalam membangun hubungan dengan umat Islam" (Poeze, Jilid I 135).
Tan Malaka tiba di Semarang pada pertengahan tahun 1921, tepat ketika konflik ini sedang memanas. Ia segera bergabung dengan faksi radikal dan menjadi salah satu propagandisnya yang paling efektif. Tetapi posisi Tan Malaka tidak persis sama dengan posisi Semaun atau Darsono. "Semaun dan Darsono," tulis Poeze, "adalah orang Jawa yang telah menjadi Marxis melalui kontak dengan komunis Belanda. Mereka tidak memiliki latar belakang Islam yang kuat, dan pendekatan mereka terhadap Islam cenderung bersifat defensif: mereka berusaha membuktikan bahwa Marxisme tidak bertentangan dengan Islam, tetapi mereka tidak benar-benar memahami Islam dari dalam. Tan Malaka berbeda. Ia memahami Islam sebagaimana Semaun dan Darsono memahami Marxisme: secara intuitif, sebagai bagian dari identitasnya. Ini memungkinkannya untuk mengembangkan pendekatan yang jauh lebih canggih dan lebih persuasif terhadap audiens Muslim" (Poeze, Jilid I 175).
Poeze mengidentifikasi beberapa elemen kunci dari taktik blok dalam sebagaimana dirumuskan oleh Tan Malaka. Pertama, penggunaan bahasa dan simbolisme Islam untuk menyampaikan pesan-pesan Marxis. Dalam pidato-pidatonya di Semarang, Tan Malaka sering menggunakan istilah-istilah seperti "setan" untuk menggambarkan kapitalis, "jihad" untuk menggambarkan perjuangan kelas, dan "masyarakat adil dan makmur" untuk menggambarkan masyarakat komunis. "Ini bukanlah sekadar taktik retoris yang dangkal," tulis Poeze. "Tan Malaka benar-benar percaya bahwa ada paralelisme antara narasi Islam tentang perjuangan melawan kezaliman dan narasi Marxis tentang perjuangan kelas. Ia tidak berbohong ketika ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin sosial yang revolusioner, dari perspektif materialis, itulah cara terbaik untuk memahami Muhammad. Tetapi ia juga tidak mengatakan seluruh kebenaran. Ia tidak mengatakan bahwa bagi umat Islam, Muhammad bukan hanya pemimpin sosial, tetapi juga utusan Tuhan, sesuatu yang, sebagai materialis, Tan Malaka tidak bisa terima" (Poeze, Jilid I 182).
Kedua, fokus pada titik-titik temu antara Islam dan Marxisme, dan penghindaran dari titik-titik konflik. Tan Malaka berbicara panjang lebar tentang keadilan sosial, tentang larangan riba, tentang kewajiban untuk membela kaum miskin, semua tema yang memiliki resonansi kuat dalam Islam dan juga dalam Marxisme. Tetapi ia hampir tidak pernah berbicara tentang Tuhan, tentang wahyu, atau tentang kehidupan setelah mati, kecuali ketika ia bisa menginterpretasikannya secara metaforis. "Ini adalah strategi yang cerdas," tulis Poeze, "tetapi juga strategi yang berisiko. Cepat atau lambat, seseorang akan bertanya: 'Apakah Anda percaya pada Allah?' Dan ketika pertanyaan itu diajukan, Tan Malaka harus menjawab dengan jujur, atau ia akan kehilangan kredibilitasnya. Ini adalah dilema yang tidak pernah sepenuhnya ia selesaikan" (Poeze, Jilid I 185).
"Ketika Tan Malaka menulis untuk audiens Muslim," Poeze menemukan, "bahasanya penuh dengan rujukan kepada Al-Qur'an dan Hadits. Ia mengutip ayat-ayat suci, meskipun sering kali di luar konteks teologisnya. Ia memuji Nabi Muhammad sebagai 'pemimpin besar' dan 'revolusioner sejati.' Ia berbicara tentang 'semangat Islam' yang sejati, yang ia kontraskan dengan 'Islam palsu' dari para ulama yang bersekutu dengan Belanda. Ini adalah bahasa yang dirancang untuk meyakinkan umat Islam bahwa komunisme dan Islam adalah sekutu alamiah dalam perjuangan melawan imperialisme" (Poeze, Jilid I 200).
"Tetapi ketika Tan Malaka menulis untuk audiens komunis," lanjut Poeze, "bahasanya sangat berbeda. Di sini, ia berbicara tentang 'ilusi religius' dan 'kesadaran palsu.' Ia menjelaskan bahwa agama adalah produk dari kondisi material, dan bahwa ia akan 'layu' dengan sendirinya ketika masyarakat komunis tercapai. Ia mengkritik 'para pemimpin feodal' yang menggunakan Islam untuk menyesatkan massa. Ini adalah bahasa yang jujur, yang mengungkapkan keyakinannya yang sebenarnya. Pertanyaannya, tentu saja, adalah: manakah Tan Malaka yang asli? Apakah ia seorang Muslim simpatik yang berbicara kepada umat Islam, atau seorang Marxis ateis yang berbicara kepada sesama komunis? Jawaban Poeze tegas: Tan Malaka yang asli adalah yang kedua. Yang pertama adalah topeng taktis, topeng yang ia kenakan dengan keterampilan luar biasa, tetapi topeng tetaplah topeng" (Poeze, Jilid I 205).
Poeze mendukung klaim ini dengan merujuk pada tulisan-tulisan Tan Malaka yang tidak dimaksudkan untuk publikasi, seperti surat-surat pribadi dan catatan-catatan harian. Dalam dokumen-dokumen ini, Tan Malaka tidak pernah menggunakan bahasa religius kecuali dalam konteks strategis. Ia tidak pernah berdoa, tidak pernah memohon pertolongan Tuhan, tidak pernah merenungkan kehidupan setelah mati. "Ketika ia sendirian," tulis Poeze, "Tan Malaka adalah seorang materialis yang konsisten. Hanya ketika ia berbicara kepada massa Muslim ia mengenakan jubah Islam. Ini bukan berarti ia munafik dalam pengertian moral, dari perspektifnya, ini adalah taktik yang sah dalam perang politik. Tetapi ini berarti bahwa hubungannya dengan Islam adalah hubungan seorang jenderal dengan senjatanya, bukan hubungan seorang mukmin dengan Tuhannya" (Poeze, Jilid I 210).
Haji Agus Salim, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin Sarekat Islam dan anggota Volksraad, adalah seorang intelektual Muslim yang sangat dihormati. Ia menguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan beberapa bahasa lainnya. Ia telah menulis secara ekstensif tentang teologi Islam, filsafat, dan politik. Dan ia adalah salah satu pembela Islam yang paling gigih melawan apa yang ia lihat sebagai ancaman komunisme. Bagi Agus Salim, komunisme bukan hanya lawan politik; ia adalah ancaman eksistensial terhadap iman umat Islam. "Agus Salim," tulis Poeze, "adalah lawan yang tangguh. Ia tidak bisa diintimidasi oleh retorika, dan ia tidak bisa dibodohi oleh penyamaran. Ketika Tan Malaka mulai menulis artikel-artikel yang mencoba menjembatani Islam dan Marxisme, Agus Salim segera melihat apa yang sedang terjadi, dan ia memutuskan untuk menyerang balik dengan kekuatan intelektual penuh" (Poeze, Jilid I 280).
Dalam salah satu artikelnya yang paling terkenal, yang dikutip secara panjang lebar oleh Poeze, Agus Salim menulis: "Tuan Tan Malaka berkata bahwa Nabi Muhammad adalah seorang sosialis. Saya bertanya kepada Tuan: apakah Tuan percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah? Jika ya, maka Tuan harus menerima seluruh ajaran Islam, termasuk kewajiban shalat, puasa, dan haji. Jika tidak, maka Tuan tidak berhak menyebut nama Muhammad untuk mendukung ideologi yang menolak Tuhan. Muhammad bukanlah seorang sosialis; Muhammad adalah seorang Nabi. Perbedaan ini sangat besar, dan tidak bisa dikaburkan oleh retorika" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 287).
Argumen kedua Agus Salim, menurut Poeze, adalah bahwa taktik "blok dalam" Tan Malaka pada dasarnya adalah taktik penipuan. "Agus Salim," tulis Poeze, "menggunakan bahasa yang sangat tajam di sini. Ia menuduh Tan Malaka sebagai 'serigala berbulu domba,' yang datang ke tengah-tengah umat Islam dengan senyum dan pujian, tetapi dengan niat tersembunyi untuk menghancurkan iman mereka. Ia memperingatkan umat Islam bahwa tujuan akhir komunisme bukanlah untuk memperkuat Islam, melainkan untuk melenyapkannya. Ia mengutip Lenin dan Marx untuk menunjukkan bahwa para pendiri komunisme secara eksplisit ateis dan anti-agama. 'Jika Tuan Tan Malaka adalah seorang komunis sejati,' tulis Agus Salim, 'maka Tuan harus percaya bahwa agama adalah candu bagi rakyat. Dan jika Tuan percaya itu, bagaimana mungkin Tuan juga mengaku sebagai teman umat Islam?'" (Poeze, Jilid I 290).
Argumen ketiga Agus Salim, yang kurang dikenal tetapi sama pentingnya, adalah kritik terhadap interpretasi Tan Malaka tentang sejarah Islam. Agus Salim menuduh Tan Malaka telah secara selektif memilih elemen-elemen dari sejarah Islam yang mendukung argumennya, sambil mengabaikan elemen-elemen yang tidak mendukung. "Tuan Tan Malaka berbicara tentang keadilan sosial dalam Islam," tulis Agus Salim, "tetapi Tuan tidak berbicara tentang kewajiban shalat lima waktu. Tuan berbicara tentang larangan riba, tetapi Tuan tidak berbicara tentang kewajiban puasa Ramadhan. Tuan memilih-milih ayat-ayat Al-Qur'an seperti seorang pembeli memilih-milih barang di pasar, mengambil yang Tuan suka, meninggalkan yang tidak Tuan suka. Ini bukanlah cara untuk memperlakukan kitab suci. Ini adalah penodaan" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 293).
Terhadap tuduhan bahwa ia tidak percaya pada Allah, Tan Malaka memberikan jawaban yang cerdik namun mengelak. Ia tidak secara langsung mengatakan "Saya tidak percaya pada Allah", itu akan menjadi bunuh diri politik di hadapan audiens Muslim. Sebaliknya, ia mengalihkan fokus dari pertanyaan teologis ke pertanyaan sosial. "Tuan Agus Salim bertanya apakah saya percaya pada Allah," tulis Tan Malaka. "Saya akan menjawab dengan pertanyaan lain: apakah Allah yang Tuan sembah adalah Allah yang membiarkan umat-Nya ditindas oleh kapitalis Belanda? Apakah Allah yang Tuan sembah adalah Allah yang membiarkan petani-petani kita kelaparan sementara tuan-tuan Belanda berpesta? Jika ya, maka Allah Tuan bukanlah Allah saya. Allah saya, jika saya boleh menggunakan kata itu, adalah Allah yang berpihak pada kaum tertindas, Allah yang memerintahkan umat-Nya untuk berjuang melawan kezaliman. Dan perjuangan melawan kezaliman itulah yang sedang kita lakukan" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 305).
Poeze menganalisis jawaban ini dengan sangat cermat. "Perhatikan apa yang dilakukan Tan Malaka di sini," tulisnya. "Ia tidak menjawab pertanyaan Agus Salim. Ia mengubah pertanyaannya. Alih-alih mengatakan 'ya' atau 'tidak' tentang eksistensi Allah, ia berbicara tentang 'Allah saya', sebuah konstruksi yang sepenuhnya metaforis, yang tidak mengacu pada entitas supernatural apa pun, melainkan pada prinsip keadilan sosial. Ini adalah retorika yang brilian, tetapi ia juga merupakan pengakuan tersirat bahwa ia tidak bisa menjawab pertanyaan Agus Salim secara langsung tanpa kehilangan kredibilitasnya" (Poeze, Jilid I 308).
Terhadap argumen bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang sosialis, Tan Malaka memberikan respons yang lebih substantif. Dengan menggunakan pengetahuannya yang mendalam tentang sejarah Islam, ia melukiskan gambaran tentang Nabi sebagai seorang pemimpin revolusioner yang berjuang melawan ketidakadilan sosial di masyarakat Arab abad ketujuh. "Nabi Muhammad," tulis Tan Malaka, "adalah pemimpin yang membebaskan budak-budak, yang melindungi janda-janda dan anak-anak yatim, yang memerangi riba, yang mendirikan masyarakat di mana orang kaya dan orang miskin duduk berdampingan sebagai saudara. Apakah ini bukan sosialisme? Tentu saja, Nabi tidak menggunakan kata 'sosialisme', kata itu belum ada pada zamannya. Tetapi semangatnya, substansinya, adalah sama. Dan jika Tuan Agus Salim menolak untuk melihat ini, maka Tuanlah yang telah meninggalkan semangat sejati Islam, bukan saya" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 310).
Poeze mencatat bahwa Tan Malaka berhati-hati untuk tidak mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang komunis atau ateis, itu akan menjadi penghinaan yang tidak bisa diterima. Sebagai gantinya, ia menggunakan istilah "sosialisme" secara longgar, sebagai istilah generik untuk keadilan sosial. "Ini adalah trik retoris," tulis Poeze, "tetapi ia didasarkan pada pembacaan yang nyata terhadap sejarah Islam. Tan Malaka benar bahwa Nabi Muhammad melakukan reformasi sosial yang signifikan, dan bahwa banyak dari reformasi itu memiliki kemiripan dengan apa yang sekarang kita sebut sebagai keadilan sosial. Tetapi Tan Malaka mengabaikan fakta bahwa bagi umat Islam, reformasi-reformasi itu bukanlah tujuan akhir; mereka adalah bagian dari misi kenabian yang lebih besar, yang tidak bisa dipisahkan dari iman kepada Allah. Dengan memisahkan dimensi sosial Islam dari dimensi teologisnya, Tan Malaka melakukan apa yang oleh para kritikusnya disebut sebagai 'pengebirian spiritual' terhadap Islam" (Poeze, Jilid I 315).
Poeze berargumen bahwa Tan Malaka, dalam perdebatannya dengan Agus Salim, mengungkapkan pemahamannya tentang Islam sebagai sosiologi, bukan sebagai teologi. "Bagi Tan Malaka," tulis Poeze, "Islam bukanlah sistem kepercayaan tentang Tuhan, malaikat, dan kehidupan setelah mati. Islam adalah sistem solidaritas sosial yang telah terbukti mampu memobilisasi massa untuk tindakan kolektif. Ketika ia memuji Nabi Muhammad, ia memujinya sebagai pemimpin sosial, bukan sebagai utusan Tuhan. Ketika ia mengutip Al-Qur'an, ia mengutipnya sebagai dokumen sejarah yang berisi prinsip-prinsip keadilan sosial, bukan sebagai firman Tuhan. Ini adalah pembacaan yang sepenuhnya materialis terhadap Islam, pembacaan yang konsisten dengan Marxisme, tetapi yang pasti akan ditolak oleh orang-orang beriman seperti Agus Salim" (Poeze, Jilid I 320).
Pada akhirnya, Poeze menyimpulkan bahwa perdebatan ini tidak memiliki pemenang yang jelas dalam jangka pendek, tetapi memiliki konsekuensi yang mendalam dalam jangka panjang. "Dalam jangka pendek," tulisnya, "Agus Salim mungkin menang: Sarekat Islam terpecah, dan faksi radikal yang didukung Tan Malaka akhirnya kalah. Tetapi dalam jangka panjang, visi Tan Malaka tentang Islam sebagai kekuatan revolusioner tetap hidup. Setiap kali gerakan Islam di Indonesia mengambil posisi anti-kapitalis atau anti-imperialis, ia berutang sesuatu kepada Tan Malaka, meskipun sering kali tanpa menyadarinya. Dan setiap kali gerakan kiri di Indonesia mencoba mendekati umat Islam, ia juga berutang sesuatu kepada Tan Malaka. Warisan intelektual dari perdebatan ini jauh lebih besar daripada yang sering diakui" (Poeze, "The Salim-Malaka Debate" 92).
"Sumatera Barat," tulis Poeze, "adalah tempat yang berbeda dari Jawa. Di Jawa, Islam hadir dalam bentuk sinkretis yang telah bercampur dengan tradisi-tradisi Hindu-Buddha dan animisme. Di Sumatera Barat, Islam hadir dalam bentuknya yang lebih murni, lebih ortodoks, dan lebih terintegrasi dengan struktur sosial adat. Para ulama Minangkabau memiliki otoritas yang besar, tidak hanya dalam masalah spiritual tetapi juga dalam masalah sosial dan politik. Dan mereka sangat curiga terhadap ide-ide dari luar, terutama ide-ide yang berasal dari Barat dan yang berbau ateisme" (Poeze, Jilid II 245).
Tan Malaka kembali ke Sumatera Barat pada tahun 1942, setelah dua dekade dalam pengasingan. Ia datang dengan misi ganda: untuk menghindari pendudukan Jepang dan untuk membangun basis bagi gerakan revolusionernya. Ia mendirikan sekolah-sekolah rakyat di beberapa tempat, termasuk di Padang Panjang dan Bukittinggi, dan mencoba untuk merekrut para pemuda Muslim ke dalam gerakannya. "Tetapi ia segera menemui hambatan yang tidak bisa diatasi," tulis Poeze. "Para ulama Minangkabau, yang telah mendengar tentang reputasinya sebagai komunis ateis, menolaknya mentah-mentah. Mereka tidak tertarik pada argumen-argumennya tentang keadilan sosial; mereka ingin tahu satu hal: apakah Tan Malaka percaya pada Allah? Dan ketika Tan Malaka, sesuai dengan karakternya, memberikan jawaban yang mengelak dan metaforis, mereka menyimpulkan, dengan benar, bahwa ia adalah seorang ateis. Dari situ, pintu-pintu tertutup untuknya" (Poeze, Jilid II 250).
"Madilog," tulis Poeze, "adalah pedang bermata dua bagi Tan Malaka. Di satu sisi, ia adalah mahakarya intelektualnya, bukti dari kapasitasnya sebagai pemikir sistematis. Di sisi lain, ia adalah kehancurannya di mata umat Islam konservatif. Dalam Madilog, Tan Malaka secara terbuka menolak eksistensi Tuhan, menolak kemungkinan mukjizat, dan menolak kehidupan setelah mati. Ia berargumen bahwa alam semesta bisa dijelaskan sepenuhnya melalui hukum-hukum material, tanpa perlu merujuk pada entitas supernatural apa pun. Ini adalah materialisme yang tegas dan tanpa kompromi. Dan ketika para ulama Minangkabau membaca Madilog, atau lebih sering, mendengar tentang isinya dari orang lain, mereka tidak bisa lagi memberikan Tan Malaka manfaat dari keraguan. Ia telah menyatakan dirinya sebagai musuh iman" (Poeze, Jilid II 260).
Poeze mencatat bahwa ada ironi yang mendalam di sini. Tan Malaka menulis Madilog dengan tujuan untuk memberikan fondasi intelektual bagi gerakan revolusioner Indonesia. Ia ingin membebaskan pikiran rakyat dari apa yang ia lihat sebagai takhayul dan cara berpikir mistis yang menghambat kemajuan. Tetapi dalam prosesnya, ia menciptakan sebuah teks yang membuatnya hampir mustahil untuk membangun aliansi dengan umat Islam konservatif, tepatnya kelompok yang paling ia butuhkan untuk revolusi. "Ini adalah kontradiksi yang tidak pernah berhasil diselesaikan oleh Tan Malaka," tulis Poeze. "Ia ingin menggunakan Islam untuk revolusi, tetapi ia juga ingin mencerahkan umat Islam dari apa yang ia lihat sebagai ilusi-ilusi mereka. Dua tujuan ini, dalam praktiknya, saling bertentangan. Anda tidak bisa secara bersamaan memanfaatkan keyakinan religius orang dan mencoba untuk menghilangkannya. Cepat atau lambat, kontradiksi ini akan meledak. Dan di Minangkabau, kontradiksi itu meledak" (Poeze, Jilid II 262).
Menurut rekonstruksi Poeze, Tan Malaka diundang untuk berbicara di sebuah pertemuan pemuda Muslim di Padang Panjang. Ia datang dengan persiapan penuh, siap untuk menyampaikan argumen-argumennya tentang bagaimana Islam dan perjuangan melawan imperialisme adalah satu dan sama. Tetapi sebelum ia bisa menyampaikan pidatonya, seorang ulama senior memotongnya dan mengajukan pertanyaan langsung: "Apakah Tuan percaya bahwa Allah itu ada, ya atau tidak?"
Poeze menggambarkan momen ini sebagai "momen kebenaran" bagi Tan Malaka. "Ia bisa saja berbohong," tulis Poeze, "dan mengatakan 'ya' untuk mendapatkan dukungan para pemuda itu. Tetapi ia tidak melakukannya. Integritas intelektualnya, atau mungkin kebanggaannya, tidak mengizinkannya untuk mengucapkan kata-kata yang ia tahu tidak benar. Sebaliknya, ia memberikan jawaban yang panjang dan berbelit-belit tentang bagaimana 'Allah' bisa dipahami sebagai simbol keadilan dan persatuan. Tetapi para ulama tidak tertipu. Mereka mendengar apa yang tidak dikatakan Tan Malaka: bahwa ia tidak percaya pada Allah yang sejati, Allah yang menciptakan alam semesta, Allah yang akan menghakimi manusia di hari kiamat. Dan dengan itu, kredibilitasnya hancur" (Poeze, Jilid II 275).
Akibat dari insiden ini, Tan Malaka diusir dari Padang Panjang dan kehilangan akses ke jaringan pemuda Muslim yang telah ia harapkan untuk direkrut. Lebih buruk lagi, berita tentang ateismenya menyebar ke seluruh Sumatera Barat, membuatnya semakin sulit untuk beroperasi. "Kegagalan di Padang Panjang," tulis Poeze, "adalah mikrokosmos dari kegagalan yang lebih besar. Taktik blok dalam Tan Malaka bisa bekerja selama ia berhadapan dengan Muslim yang sudah cenderung radikal dalam politik, yang bersedia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan teologis demi aliansi politik. Tetapi ketika ia berhadapan dengan Muslim yang saleh dan taat, yang imannya adalah pusat dari identitas mereka, taktik itu runtuh. Dan di Sumatera Barat, pusat dari kebangkitan Islam modernis di Indonesia, mayoritas Muslim adalah tipe yang kedua" (Poeze, Jilid II 280).
Insiden di Padang Panjang yang mengakibatkan pengusiran Tan Malaka dari kota tersebut merupakan salah satu momen paling menentukan dalam evolusi pemikiran politiknya, dan Harry A. Poeze memberikan perhatian analitis yang sangat besar terhadap peristiwa ini. Bagi Poeze, kegagalan di Padang Panjang bukanlah sekadar kemunduran taktis lokal; ia adalah sebuah "mikrokosmos dari kegagalan yang lebih besar" (Poeze, Jilid II 280), sebuah laboratorium mini yang mengungkapkan batas-batas fundamental dari strategi aliansi komunis-Islam yang telah menjadi ciri khas pendekatan Tan Malaka sejak masa-masa awalnya di Semarang.
Untuk memahami mengapa kegagalan ini begitu signifikan, kita harus terlebih dahulu memahami konteks Sumatera Barat pada awal tahun 1940-an, ketika Tan Malaka kembali ke tanah kelahirannya setelah lebih dari dua dekade dalam pengasingan dan pelarian internasional. Sumatera Barat pada masa itu adalah salah satu pusat intelektual Islam paling dinamis di seluruh Asia Tenggara. Gerakan pembaharuan Islam yang dimulai oleh para ulama modernis pada awal abad kedua puluh, yang dikenal sebagai Kaum Muda, telah mentransformasi lanskap keagamaan dan sosial di wilayah tersebut. Sekolah-sekolah modernis seperti Sumatra Thawalib di Padang Panjang, yang didirikan pada tahun 1911, telah menghasilkan generasi baru Muslim terdidik yang menggabungkan kesalehan Islam yang mendalam dengan pengetahuan modern tentang sains, filsafat, dan politik.
"Sumatera Barat," tulis Poeze dalam analisisnya tentang periode ini, "adalah wilayah yang unik di Hindia Belanda. Di sini, Islam bukanlah sekadar identitas kultural yang diwariskan secara turun-temurun; ia adalah proyek intelektual yang sadar. Para pemuda yang belajar di sekolah-sekolah Thawalib membaca Al-Qur'an dan hadits di pagi hari, dan membaca Marx, Lenin, dan sosialis Eropa di malam hari. Mereka adalah Muslim yang taat dan sekaligus revolusioner yang berkomitmen. Bagi mereka, Islam dan keadilan sosial adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Tetapi, dan ini adalah poin krusial yang tampaknya tidak sepenuhnya dipahami oleh Tan Malaka, Islam tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan dari seluruh bangunan pemikiran mereka. Mereka bersedia menggunakan alat-alat analisis Marxis, tetapi mereka tidak bersedia meninggalkan iman mereka" (Poeze, Jilid II 260).
Tan Malaka tiba di Sumatera Barat pada tahun 1942, setelah Jepang menduduki Indonesia dan membuka ruang politik yang sebelumnya tertutup oleh pemerintahan kolonial Belanda. Ia berharap bahwa di tanah kelahirannya sendiri, di antara orang-orang yang berbicara dalam bahasa ibunya dan berbagi akar kultural yang sama, ia akan menemukan basis yang subur untuk gerakan revolusionernya. Harapan ini tidak sepenuhnya tidak berdasar. Banyak pemimpin pergerakan di Sumatera Barat, termasuk beberapa tokoh utama di Sumatra Thawalib, telah lama mengagumi Tan Malaka dari jauh. Namanya dikenal sebagai salah satu putra terbaik Minangkabau, seorang pemimpin komunis yang telah berkeliling dunia dan menulis karya-karya yang berpengaruh. Ketika ia akhirnya kembali, ada antisipasi yang besar di kalangan pemuda Muslim progresif.
"Tan Malaka," tulis Poeze, "melihat dirinya sebagai anak yang hilang yang kembali. Ia membayangkan bahwa pengalamannya di Moskow, Kanton, dan Manila akan memberinya otoritas yang tidak dimiliki oleh para pemimpin lokal. Ia membayangkan bahwa ia akan disambut sebagai pemimpin alami, dan bahwa ia bisa dengan mudah merekrut para pemuda Muslim Sumatera Barat ke dalam gerakan revolusionernya. Tetapi ia salah perhitungan. Para pemuda Muslim Sumatera Barat bukanlah massa yang tidak kritis yang bisa digerakkan oleh karisma semata. Mereka adalah pemikir-pemikir kritis yang telah membaca buku-bukunya, termasuk Madilog, dan mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sulit" (Poeze, Jilid II 265).
Tan Malaka tiba di Padang Panjang pada pertengahan tahun 1942 dan segera memulai serangkaian pertemuan dengan para pemimpin pemuda dan mahasiswa di Sumatra Thawalib dan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya. Pertemuan-pertemuan ini, yang sering kali berlangsung di rumah-rumah pribadi atau di aula-aula sekolah setelah jam pelajaran, dimulai dengan nada yang penuh harapan. "Para pemuda itu ingin mendengar langsung dari Tan Malaka," tulis Poeze. "Mereka telah membaca tentang dia, mereka telah mendengar cerita-cerita tentang petualangannya, dan mereka ingin tahu apa visinya untuk Indonesia merdeka. Tan Malaka, yang adalah seorang pembicara yang karismatik dan persuasif, tidak mengecewakan mereka. Ia berbicara dengan penuh semangat tentang imperialisme, kapitalisme, dan perlunya revolusi sosial. Ia mengutip Al-Qur'an dan hadits untuk mendukung argumen-argumennya. Ia menekankan bahwa Islam dan komunisme memiliki musuh yang sama: kapitalisme yang eksploitatif dan imperialisme yang menindas" (Jilid II 268).
Pada awalnya, pendekatan ini tampaknya berhasil. Banyak pemuda yang terkesan oleh pengetahuan Tan Malaka tentang Islam, pengetahuan yang, seperti dicatat oleh Poeze, "tidak dangkal, meskipun jelas-jelas instrumental" (Jilid II 269). Tan Malaka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari Islam, bukan sebagai seorang mukmin yang mencari kebenaran spiritual, tetapi sebagai seorang analis politik yang ingin memahami kekuatan sosial yang besar ini. Ia bisa mengutip ayat-ayat Al-Qur'an, merujuk pada sejarah Islam, dan berdebat tentang teologi dengan cukup meyakinkan untuk menunjukkan bahwa ia bukanlah orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang agama yang dianut oleh audiensnya.
"Tetapi," tulis Poeze, "pesona awal ini tidak bertahan lama. Para pemuda Sumatera Barat bukanlah tipe yang puas dengan retorika. Mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam dan lebih sulit. Mereka telah membaca Madilog, dan mereka menemukan di dalamnya argumen-argumen yang secara eksplisit ateistik. Tan Malaka menulis dalam Madilog bahwa 'Tuhan adalah produk dari imajinasi manusia yang ketakutan,' bahwa 'agama adalah candu yang meninabobokan rakyat,' dan bahwa 'materialisme adalah satu-satunya filsafat yang sesuai dengan sains modern.' Bagaimana mungkin seseorang yang menulis hal-hal ini mengklaim sebagai sekutu umat Islam?" (Poeze, Jilid II 270).
Pertanyaan-pertanyaan ini menempatkan Tan Malaka dalam posisi yang sulit. Ia tidak bisa menyangkal apa yang telah ia tulis dalam Madilog, itu adalah karya intelektualnya yang paling penting, fondasi filosofis dari seluruh pemikiran politiknya. Tetapi ia juga tidak bisa secara terbuka menyatakan dirinya sebagai ateis tanpa menghancurkan kredibilitasnya di hadapan audiens Muslim. Poeze menggambarkan dilema ini dengan sangat baik: "Tan Malaka terjebak dalam kontradiksi yang ia sendiri ciptakan. Ia ingin menggunakan Islam sebagai kendaraan politik, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia sendiri tidak percaya pada premis-premis teologis yang mendasari Islam. Ia adalah seorang materialis yang berusaha memimpin orang-orang beriman. Ini adalah kontradiksi yang, pada akhirnya, tidak bisa dipertahankan" (Poeze, Jilid II 272).
Salah satu dialog yang direkonstruksi oleh Poeze terjadi antara Tan Malaka dan seorang pemuda bernama M. Jamil, seorang mahasiswa senior di Sumatra Thawalib yang kelak menjadi tokoh penting dalam gerakan Islam di Sumatera Barat. Menurut catatan yang ditemukan Poeze, Jamil bertanya kepada Tan Malaka secara langsung: "Bung Tan, dalam Madilog, Bung menulis bahwa materi adalah satu-satunya realitas, dan bahwa ide-ide, termasuk ide tentang Tuhan, adalah produk dari kondisi material. Apakah Bung masih berpegang pada pandangan ini?"
Poeze mencatat bahwa pertanyaan ini disambut dengan keheningan yang tegang di ruangan itu. "Semua orang menunggu jawaban Tan Malaka," tulisnya. "Mereka tahu bahwa jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah aliansi antara mereka dan Tan Malaka bisa berlanjut atau tidak. Jika Tan Malaka menjawab 'ya,' ia akan mengkonfirmasi bahwa ia adalah seorang ateis materialis, dan banyak dari mereka akan meninggalkannya. Jika ia menjawab 'tidak,' ia akan menyangkal karya intelektualnya sendiri, dan kredibilitasnya sebagai pemikir akan hancur. Apapun jawabannya, ia akan kalah" (Poeze, Jilid II 274).
Menurut rekonstruksi Poeze, Tan Malaka mencoba untuk memberikan jawaban yang diplomatis. Ia mengatakan bahwa Madilog adalah karya filosofis yang dimaksudkan untuk melawan takhayul dan pemikiran magis, bukan untuk menyerang agama yang rasional dan beradab. Ia berargumen bahwa Islam, dengan penekanannya pada akal dan ilmu pengetahuan, sebenarnya lebih dekat dengan semangat Madilog daripada dengan takhayul yang dikritik oleh buku itu. "Saya tidak menyerang Islam," kata Tan Malaka, menurut catatan yang dikutip Poeze. "Saya menyerang kebodohan dan kemunduran. Islam yang sejati adalah Islam yang mendorong umatnya untuk berpikir, untuk menggunakan akal mereka, untuk memahami hukum-hukum alam. Itu adalah Islam yang saya hormati" (Jilid II 275).
Namun, jawaban ini tidak memuaskan para pemuda kritis di ruangan itu. Mereka telah membaca Madilog dengan terlalu saksama untuk ditipu oleh retorika. Seorang pemuda lain, yang namanya tidak tercatat dalam sumber-sumber yang ditemukan Poeze, mengajukan pertanyaan lanjutan: "Bung Tan, apakah Bung percaya bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah, atau apakah Bung percaya bahwa Al-Qur'an adalah produk dari kondisi sosial dan material di Arab pada abad ketujuh? Jika yang pertama, maka Bung adalah seorang Muslim. Jika yang kedua, maka Bung adalah seorang materialis yang mengaku bersekutu dengan kami tetapi sebenarnya tidak percaya pada dasar-dasar iman kami."
"Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dihindari," tulis Poeze. "Para pemuda Sumatera Barat telah membaca Marx, mereka memahami materialisme historis, dan mereka tahu bahwa seorang materialis yang konsisten tidak bisa percaya pada wahyu ilahi. Mereka memaksa Tan Malaka untuk memilih: Islam atau materialisme, iman atau Marxisme. Dan Tan Malaka, sebagai seorang pemikir yang jujur, tidak bisa memilih Islam tanpa mengkhianati keyakinan intelektualnya yang paling dalam. Tetapi ia juga tidak bisa secara terbuka memilih materialisme tanpa kehilangan audiensnya" (Poeze, Jilid II 276).
Menurut catatan-catatan yang dikumpulkan oleh Poeze, Tan Malaka mencoba untuk menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan ke isu-isu politik praktis. Ia berbicara tentang perlunya persatuan melawan imperialisme Jepang dan Belanda, tentang bahaya perpecahan di antara kekuatan-kekuatan anti-kolonial, dan tentang pentingnya menunda perdebatan teologis sampai setelah kemerdekaan tercapai. Tetapi para pemuda itu tidak mau dialihkan. Mereka bersikeras bahwa pertanyaan fundamental harus dijawab sebelum aliansi bisa dibentuk. "Mereka berkata kepada Tan Malaka," tulis Poeze, "'Kami tidak bisa berjuang bersama seseorang yang tidak percaya pada apa yang kami percayai. Kami tidak bisa menerima kepemimpinan seseorang yang menganggap kitab suci kami sebagai produk kondisi material. Jika Bung ingin memimpin kami, Bung harus menerima Islam. Jika tidak, kami tidak bisa mengikuti Bung'" (Jilid II 277).
"Salah seorang saksi," tulis Poeze, "mengingat bahwa Tan Malaka berkata sesuatu seperti: 'Saya menghormati Islam, tetapi saya tidak bisa mengatakan bahwa saya percaya pada hal-hal yang tidak bisa dibuktikan oleh akal dan sains.' Kalimat ini, jika benar diucapkan, adalah pengakuan ateisme yang terselubung. Dan bagi para pemuda Muslim di ruangan itu, itu sudah cukup. Mereka tidak membutuhkan pernyataan eksplisit tentang ketidakpercayaan kepada Allah. Pernyataan bahwa akal dan sains adalah satu-satunya kriteria kebenaran, yang mengecualikan kemungkinan wahyu, sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Tan Malaka bukanlah sekutu yang bisa mereka percayai" (Poeze, Jilid II 278).
Poeze menekankan bahwa pengakuan ini, jika memang terjadi, adalah momen yang sangat signifikan, bukan hanya untuk hubungan Tan Malaka dengan gerakan Islam, tetapi juga untuk perkembangan intelektualnya sendiri. "Selama bertahun-tahun," tulis Poeze, "Tan Malaka telah mencoba untuk mempertahankan posisi yang ambigu. Ia adalah seorang Marxis materialis, tetapi ia juga ingin dianggap sebagai teman dan sekutu umat Islam. Ia menggunakan bahasa Islam, mengutip Al-Qur'an, dan berbicara tentang Nabi Muhammad sebagai pemimpin revolusioner. Tetapi ia tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa ia percaya pada Allah atau pada wahyu. Ambiguitas ini memungkinkannya untuk beroperasi di ruang abu-abu, tetapi di Padang Panjang, ambiguitas itu akhirnya runtuh. Ia dipaksa untuk memilih, dan ia memilih materialisme. Konsekuensinya sangat besar" (Poeze, Jilid II 279).
"Dalam waktu beberapa minggu," tulis Poeze, "Tan Malaka menjadi persona non grata di Padang Panjang. Ia diminta untuk meninggalkan kota oleh para pemimpin masyarakat, termasuk oleh beberapa orang yang sebelumnya adalah teman-temannya. Ia diusir bukan oleh pemerintah, baik kolonial Belanda maupun pendudukan Jepang tidak terlibat dalam pengusiran ini, tetapi oleh masyarakat Muslim sendiri. Ini adalah pukulan yang sangat berat bagi Tan Malaka. Ia telah kembali ke tanah kelahirannya dengan harapan besar, dan tanah kelahirannya telah menolaknya" (Jilid II 282).
Konsekuensi dari insiden ini melampaui pengusiran fisik dari Padang Panjang. Yang lebih penting, Tan Malaka kehilangan akses ke jaringan pemuda Muslim yang telah ia harapkan untuk direkrut ke dalam gerakan revolusionernya. "Jaringan ini," tulis Poeze, "adalah salah satu aset politik paling berharga di Sumatera Barat. Para pemuda Thawalib dan organisasi-organisasi serupa adalah kader-kader terdidik, berkomitmen, dan berpengaruh. Mereka memiliki koneksi ke pesantren-pesantren, ke organisasi-organisasi masyarakat, dan ke jaringan perdagangan. Jika Tan Malaka berhasil merekrut mereka, ia akan memiliki basis yang kuat untuk gerakan revolusionernya. Tetapi ia gagal, dan kegagalan ini membuatnya terisolasi secara politik di tanahnya sendiri" (Poeze, Jilid II 285).
Lebih buruk lagi, berita tentang ateismenya menyebar ke seluruh Sumatera Barat dan kemudian ke seluruh Indonesia. "Ini adalah kerusakan yang tidak bisa diperbaiki," tulis Poeze. "Sebelum insiden Padang Panjang, masih ada ambiguitas tentang posisi keagamaan Tan Malaka. Beberapa orang mengira ia adalah seorang Muslim yang taat; yang lain mengira ia adalah seorang Muslim nominal yang tidak terlalu peduli dengan agama; sedikit yang tahu bahwa ia adalah seorang ateis materialis. Setelah insiden Padang Panjang, ambiguitas itu hilang. Sekarang semua orang tahu bahwa Tan Malaka bukanlah seorang Muslim, dan berita ini digunakan oleh musuh-musuh politiknya untuk mendiskreditkannya di seluruh Indonesia" (Poeze, Jilid II 287).
Pada level ideologis, Poeze berargumen bahwa taktik blok dalam Tan Malaka didasarkan pada asumsi yang salah tentang hubungan antara Islam dan politik. "Tan Malaka," tulisnya, "melihat Islam terutama sebagai kekuatan politik, sebagai ideologi mobilisasi, sebagai identitas kolektif, sebagai bahasa perlawanan. Ia tidak sepenuhnya menghargai Islam sebagai iman, sebagai keyakinan pribadi yang mendalam tentang Tuhan, wahyu, dan keselamatan. Bagi Tan Malaka, Islam adalah alat; bagi para pemuda Sumatera Barat, Islam adalah tujuan. Perbedaan ini sangat fundamental dan tidak bisa dijembatani oleh retorika tentang keadilan sosial atau anti-imperialisme" (Poeze, Jilid II 290).
Poeze juga menunjukkan bahwa kegagalan di Padang Panjang mengungkapkan kelemahan dalam analisis kelas Tan Malaka. "Dalam teori Marxis ortodoks," tulisnya, "agama adalah ideologi dari kelas penguasa, alat untuk menindas kelas pekerja. Tetapi di Sumatera Barat, Islam bukanlah alat kelas penguasa. Ia adalah milik seluruh masyarakat, dari yang kaya hingga yang miskin, dari bangsawan hingga petani. Para pemuda Thawalib bukanlah boneka borjuasi; mereka adalah kaum intelektual organik dari komunitas mereka, yang berbicara atas nama massa Muslim. Ketika Tan Malaka memperlakukan mereka seolah-olah mereka adalah alat dari kelas penguasa, dengan mengasumsikan bahwa mereka bisa dimanipulasi untuk tujuan-tujuan Marxis, ia meremehkan agensi dan integritas mereka. Mereka menolak untuk dimanipulasi, dan taktiknya runtuh" (Poeze, Jilid II 292).
Pada level sosiologis, Poeze mencatat perbedaan penting antara basis sosial Tan Malaka di Jawa dan di Sumatera Barat. "Di Jawa," tulisnya, "Tan Malaka beroperasi terutama di kalangan buruh perkotaan dan petani miskin, kelas-kelas yang, meskipun nominal Muslim, tidak memiliki pendidikan Islam yang mendalam. Bagi mereka, Islam adalah identitas kultural yang longgar, bukan sistem teologis yang ketat. Mereka bisa menerima Tan Malaka sebagai pemimpin tanpa terlalu mempertanyakan keyakinan pribadinya. Di Sumatera Barat, situasinya sangat berbeda. Kaum Muslim di sana adalah Muslim yang terdidik, yang telah mempelajari teologi dan filsafat, dan yang tidak akan mengikuti seseorang yang keyakinan fundamentalnya bertentangan dengan keyakinan mereka" (Poeze, Jilid II 295).
Perbedaan sosiologis ini, menurut Poeze, mencerminkan perbedaan dalam struktur sosial antara Jawa dan Sumatera Barat. "Di Jawa," jelasnya, "Islam tradisional telah bercampur dengan kepercayaan-kepercayaan pra-Islam, menciptakan sinkretisme yang longgar yang toleran terhadap berbagai interpretasi. Di Sumatera Barat, gerakan pembaharuan Islam telah membersihkan banyak sinkretisme ini, menciptakan Islam yang lebih murni, lebih ketat, dan lebih berfokus pada teks. Seorang pemimpin yang di Jawa mungkin bisa dianggap sebagai Muslim meskipun keyakinannya heterodoks, tetapi di Sumatera Barat, standarnya jauh lebih tinggi. Tan Malaka, dengan ateisme materialisnya, tidak bisa memenuhi standar itu" (Poeze, Jilid II 298).
Pada level psikologis, Poeze menawarkan spekulasi yang menarik tentang mengapa Tan Malaka gagal mengantisipasi kegagalan ini. "Tan Malaka," tulisnya, "adalah seorang yang telah terasing dari akar kulturalnya sendiri. Ia meninggalkan Sumatera Barat pada usia yang sangat muda, dan ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di luar negeri, di antara orang-orang asing, berbicara dalam bahasa-bahasa asing, berpikir dalam kategori-kategori Marxis internasional. Ketika ia kembali ke Sumatera Barat, ia mungkin membayangkan bahwa ia masih memahami masyarakatnya, tetapi kenyataannya ia telah menjadi orang asing. Ia tidak memahami betapa dalamnya transformasi yang telah terjadi dalam Islam Sumatera Barat selama dua dekade ketidakhadirannya. Ia kembali dengan asumsi-asumsi yang sudah ketinggalan zaman, dan ia membayar mahal untuk kesalahan itu" (Poeze, Jilid II 300).
Kegagalan ini juga mempengaruhi strategi politik Tan Malaka yang lebih luas. "Sebelum Padang Panjang," tulis Poeze, "Tan Malaka membayangkan bahwa gerakannya akan menjadi gerakan massa yang luas, yang mencakup komunis, nasionalis, dan Muslim di bawah satu payung. Setelah Padang Panjang, ia semakin bergantung pada inti revolusioner yang lebih kecil dan lebih ideologis murni. Ia tidak lagi berharap untuk memimpin jutaan Muslim; ia berharap untuk memimpin ribuan kader yang berkomitmen. Ini adalah penyempitan visi yang signifikan, dan itu mencerminkan pengakuan diam-diam bahwa taktik blok dalam memiliki batas-batas yang tidak bisa diatasi" (Poeze, Jilid II 315).
Namun, Poeze juga mencatat bahwa kegagalan ini tidak sepenuhnya negatif dalam konsekuensinya. "Dengan dipaksa untuk menghadapi kontradiksi antara Marxisme dan Islam secara langsung," tulisnya, "Tan Malaka menjadi pemikir yang lebih jujur dan lebih konsisten. Ia tidak lagi bisa bersembunyi di balik ambiguitas. Ia harus mengakui, setidaknya kepada dirinya sendiri, bahwa ia adalah seorang materialis ateis, dan bahwa proyek politiknya harus didasarkan pada fondasi itu. Pengakuan ini, meskipun menyakitkan dalam jangka pendek, mungkin telah membebaskannya dalam jangka panjang. Madilog, yang ditulis sebelum insiden Padang Panjang, masih penuh dengan ketegangan antara materialismenya dan upayanya untuk tidak menyinggung perasaan keagamaan. Tulisan-tulisan Tan Malaka setelah Padang Panjang lebih langsung, lebih jujur, dan kurang kompromistis" (Poeze, Jilid II 320).
Pertama, Poeze berargumen bahwa kegagalan Tan Malaka di Sumatera Barat adalah contoh dari masalah yang lebih umum yang dihadapi oleh gerakan-gerakan komunis di negara-negara Muslim. "Di seluruh dunia Islam," tulisnya, "kaum komunis telah bergulat dengan pertanyaan: bagaimana kita bisa bersekutu dengan massa Muslim tanpa meninggalkan materialisme Marxis? Berbagai jawaban telah dicoba: beberapa komunis telah berpura-pura menjadi Muslim, beberapa telah mencoba untuk menafsirkan ulang Marxisme dalam istilah-istilah Islam, dan beberapa telah mencoba untuk mengabaikan agama sama sekali. Tetapi tidak ada jawaban yang sepenuhnya berhasil. Kegagalan Tan Malaka di Padang Panjang adalah kegagalan yang dialami oleh komunis di Mesir, di Iran, di Aljazair, dan di tempat-tempat lain. Ini adalah kegagalan struktural, bukan kegagalan personal" (Poeze, Jilid II 330).
Kedua, Poeze berargumen bahwa pengalaman Tan Malaka menunjukkan bahwa hubungan antara kiri dan Islam di Indonesia selalu lebih kompleks daripada yang diakui oleh narasi-narasi dominan. "Narasi Orde Baru," tulisnya, "menggambarkan komunis sebagai musuh Islam yang ingin menghancurkan agama. Narasi ini sengaja menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Tan Malaka, seperti banyak komunis Indonesia lainnya, bukanlah musuh Islam. Ia adalah seorang Marxis yang mencoba, dan akhirnya gagal, untuk menemukan modus vivendi dengan Islam. Kegagalannya bukanlah bukti bahwa komunisme dan Islam tidak bisa hidup berdampingan; ia adalah bukti bahwa hidup berdampingan itu sulit dan memerlukan kompromi di kedua belah pihak, kompromi yang tidak selalu bersedia atau mampu dibuat" (Poeze, Jilid II 335).
Ketiga, Poeze berargumen bahwa kegagalan taktik blok dalam Tan Malaka memiliki implikasi yang mendalam untuk memahami kekerasan anti-komunis di Indonesia pada tahun 1965-1966. "Salah satu faktor yang memungkinkan pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituduh komunis," tulisnya, "adalah bahwa batas-batas antara Islam dan komunisme telah menjadi sangat tajam dan tidak bisa didamaikan. Kaum komunis digambarkan sebagai ateis yang ingin menghancurkan agama, dan banyak Muslim percaya pada penggambaran ini. Tetapi ketajaman batas-batas ini bukanlah keniscayaan sejarah; ia adalah produk dari kegagalan-kegagalan seperti yang dialami oleh Tan Malaka di Padang Panjang. Jika Tan Malaka dan pemimpin-pemimpin komunis lainnya telah berhasil membangun aliansi yang lebih kuat dengan gerakan Islam, mungkin sejarah akan berbeda. Mungkin polarisasi yang mengarah pada pembantaian 1965-1966 bisa dihindari. Tentu saja, ini adalah spekulasi. Tetapi ini adalah spekulasi yang didasarkan pada analisis yang serius tentang apa yang mungkin terjadi, bukan sekadar angan-angan" (Poeze, Jilid II 340).
Namun, Poeze juga mencatat bahwa Tan Malaka tidak pernah sepenuhnya menyerah pada kepahitan. "Meskipun mengalami penolakan di Padang Panjang," tulisnya, "Tan Malaka tidak pernah menjadi anti-Islam. Ia terus menghormati Islam sebagai kekuatan sosial yang besar, dan ia terus berharap bahwa suatu hari nanti, aliansi antara kiri dan Islam bisa dibangun kembali. Harapan ini mungkin naif, tetapi itu adalah bagian integral dari siapa Tan Malaka. Ia adalah seorang materialis, tetapi ia juga seorang idealis. Ia percaya pada kekuatan akal dan argumen untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang tampaknya tidak bisa dijembatani. Dan meskipun ia gagal di Padang Panjang, ia tidak pernah berhenti mencoba" (Poeze, Jilid II 350).
Poeze mengakhiri analisisnya dengan sebuah catatan yang menggugah: "Ketika Tan Malaka akhirnya meninggalkan Sumatera Barat, ia pergi sebagai orang yang kalah. Tetapi kekalahannya mengandung pelajaran yang berharga, pelajaran tentang kompleksitas hubungan antara iman dan ideologi, tentang kesulitan menjembatani perbedaan-perbedaan fundamental, dan tentang harga yang harus dibayar oleh mereka yang mencoba untuk terlalu banyak berkompromi. Pelajaran ini relevan tidak hanya untuk memahami Tan Malaka, tetapi juga untuk memahami Indonesia. Negara ini, sejak awal berdirinya, telah bergulat dengan pertanyaan tentang bagaimana mendamaikan Islam dan sekularisme, iman dan akal, tradisi dan modernitas. Tan Malaka adalah salah satu tokoh pertama yang mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara serius. Bahwa ia gagal bukanlah aib; itu adalah ukuran dari kesulitan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri" (Poeze, Jilid II 355).
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Pesindo lahir dari rahim revolusi. Pada bulan November 1945, ketika semangat kemerdekaan masih membara dan pertempuran-pertempuran melawan pasukan Sekutu dan Belanda berkecamuk di Surabaya dan kota-kota lain, tujuh organisasi pemuda meleburkan diri menjadi satu wadah perjuangan. "Penggabungan ini," tulis Poeze, "bukanlah proses yang mulus dan terencana dengan baik. Ia terjadi dalam atmosfer revolusi yang kacau, di mana organisasi-organisasi pemuda bermunculan seperti jamur di musim hujan, masing-masing dengan ideologi dan afiliasi politik yang berbeda-beda. Yang menyatukan mereka adalah semangat anti-imperialis yang membara dan keyakinan bahwa pemuda harus memainkan peran garda depan dalam revolusi. Tetapi di balik permukaan persatuan ini, terdapat perpecahan-perpecahan laten yang kelak akan meledak dengan kekerasan yang menghancurkan" (Poeze, Jilid III 180).
Tujuh organisasi yang bergabung membentuk Pesindo adalah: Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan organisasi pemuda terbesar dan paling militan; Pemuda Republik Indonesia (PRI); Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang sudah ada sebelumnya dan memberikan nama kepada organisasi gabungan ini, sebuah detail yang kelak menjadi sumber kontroversi; Barisan Pemuda Indonesia (BPI); Pemuda Putera (Putera); Pemuda Buruh Indonesia (PBI); dan beberapa organisasi pemuda lokal lainnya. "Dari ketujuh organisasi ini," catat Poeze, "API adalah yang paling signifikan. API telah memainkan peran kunci dalam peristiwa-peristiwa revolusioner di Surabaya dan Jakarta, dan para pemimpinnya, terutama Wikana, Chaerul Saleh, dan Adam Malik, adalah tokoh-tokoh yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno dan memiliki akses langsung ke pusat kekuasaan. Ketika API bergabung dengan Pesindo, ia membawa serta jaringan massa yang luas, pengalaman militer, dan ambisi politik yang besar" (Poeze, Jilid III 185).
Struktur kepemimpinan Pesindo mencerminkan komposisi organisasi yang heterogen. Ketua umum pertama Pesindo adalah Moewardi, seorang dokter yang dihormati dan tokoh pergerakan yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno. Tetapi kekuasaan sebenarnya dalam organisasi ini tidak terletak pada ketua umum, melainkan pada sekretaris jenderal dan para wakil ketua yang mengendalikan mesin organisasi sehari-hari. "Moewardi," tulis Poeze, "adalah figur simbolis, seorang pemersatu yang dihormati oleh semua faksi. Tetapi ia bukanlah ideolog atau organisator. Kekuasaan operasional dalam Pesindo dipegang oleh Wikana, yang menjadi sekretaris jenderal, dan oleh tokoh-tokoh seperti Chaerul Saleh, Adam Malik, dan kemudian, setelah reorganisasi, oleh pemimpin-pemimpin yang lebih muda dan lebih radikal. Struktur kekuasaan ganda ini, pemimpin simbolis yang moderat dan pemimpin operasional yang radikal, adalah sumber dari banyak konflik internal yang akan menghancurkan Pesindo dari dalam" (Poeze, Jilid III 190).
"Pesindo," tulis Poeze, "adalah organisasi yang dibangun di atas kompromi ideologis. Para pemimpinnya berasal dari berbagai tradisi politik: ada yang Marxis ortodoks yang telah belajar dari Partai Komunis Indonesia sebelum perang; ada yang sosialis demokrat yang dipengaruhi oleh Sjahrir dan Partai Sosialis; ada yang nasionalis radikal yang lebih dipengaruhi oleh Soekarno daripada oleh Marx atau Lenin; dan ada yang Islamis kiri yang mencoba untuk mendamaikan sosialisme dengan ajaran-ajaran Islam. Menyatukan semua arus ini di bawah satu payung 'sosialisme' memerlukan rumusan ideologis yang sangat longgar, begitu longgar sehingga hampir tidak berarti apa-apa secara operasional. Akibatnya, Pesindo tidak pernah memiliki garis politik yang jelas dan konsisten. Kebijakannya berubah-ubah sesuai dengan keseimbangan kekuatan di antara faksi-faksi internal" (Poeze, Jilid III 195).
Meskipun demikian, Poeze mengidentifikasi beberapa karakteristik umum yang menyatukan para pemimpin Pesindo. Pertama, mereka semua adalah anti-imperialis yang gigih. "Tidak ada perdebatan tentang ini," tulis Poeze. "Dari yang paling kanan hingga yang paling kiri, semua pemimpin Pesindo sepakat bahwa imperialisme Belanda harus dilawan dengan segala cara, dan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa ditawar. Ini adalah fondasi yang kokoh di mana organisasi ini dibangun." Kedua, mereka semua percaya pada peran khusus pemuda dalam revolusi. "Pesindo," lanjut Poeze, "melihat dirinya sebagai garda depan (avant-garde) dari revolusi Indonesia. Para pemimpinnya percaya bahwa generasi tua, termasuk Soekarno dan Hatta, terlalu terikat pada cara-cara lama, terlalu terkompromi oleh kolaborasi dengan Jepang, dan terlalu takut untuk mengambil tindakan-tindakan radikal yang diperlukan untuk memenangkan kemerdekaan. Pemuda, dalam pandangan mereka, adalah kekuatan yang murni, tidak ternoda oleh masa lalu, dan siap untuk mengorbankan segalanya untuk revolusi" (Poeze, Jilid III 200).
Ketiga, dan ini adalah poin yang paling relevan untuk memahami hubungan dengan Tan Malaka, para pemimpin Pesindo mencari figur pemimpin karismatik yang bisa menyatukan gerakan mereka dan memberikan otoritas ideologis. "Pesindo," tulis Poeze, "adalah organisasi yang besar dan bersemangat, tetapi ia tidak memiliki pemimpin yang memiliki otoritas nasional. Moewardi adalah figur yang dihormati, tetapi ia bukanlah pemikir atau orator yang bisa menginspirasi massa. Wikana adalah organisator yang cakap, tetapi ia tidak memiliki karisma. Chaerul Saleh adalah orator yang berapi-api, tetapi ia terlalu emosional dan tidak konsisten. Para pemimpin Pesindo menyadari kekurangan ini, dan mereka mencari seseorang yang bisa mengisi kekosongan kepemimpinan. Pada saat yang sama, Tan Malaka, yang baru saja muncul kembali setelah dua dekade dalam pelarian, sedang mencari basis massa untuk gerakannya. Ini adalah pertemuan kebutuhan yang, pada awalnya, tampak seperti pasangan yang sempurna" (Poeze, Jilid III 210).
Poeze merekonstruksi pertemuan-pertemuan awal antara Tan Malaka dan para pemimpin Pesindo berdasarkan wawancara-wawancara dengan saksi-saksi yang masih hidup dan catatan-catatan organisasi yang tersisa. Pertemuan pertama terjadi pada awal Desember 1945, di sebuah rumah aman di Jakarta yang digunakan oleh Pesindo sebagai markas tidak resmi. "Yang hadir dalam pertemuan itu," tulis Poeze, "adalah Tan Malaka sendiri, Wikana, Chaerul Saleh, Adam Malik, dan beberapa pemimpin Pesindo lainnya. Suasananya penuh dengan antisipasi. Para pemuda itu ingin mendengar langsung dari Tan Malaka apa visinya untuk revolusi Indonesia. Tan Malaka, yang telah menghabiskan bertahun-tahun dalam kesendirian intelektual, tampaknya menikmati perhatian ini. Ia berbicara dengan tenang tetapi penuh keyakinan, menguraikan analisisnya tentang situasi politik dan strateginya untuk memenangkan kemerdekaan" (Poeze, Jilid III 225).
Dalam pertemuan-pertemuan awal ini, Tan Malaka menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat: diplomasi dengan Belanda adalah jebakan. Satu-satunya jalan menuju kemerdekaan adalah melalui perlawanan bersenjata total yang melibatkan seluruh rakyat. "Merdeka 100% atau mati," kata Tan Malaka, menurut catatan yang dikutip oleh Poeze. "Kita tidak bisa setengah-setengah dalam revolusi. Kita tidak bisa berunding di siang hari dan bertempur di malam hari. Kita harus memilih: merdeka sepenuhnya, atau tidak sama sekali" (Poeze, Jilid III 230). Pesan ini sangat cocok dengan semangat militan para pemuda Pesindo, yang telah bertempur melawan pasukan Inggris di Surabaya dan frustrasi dengan apa yang mereka lihat sebagai sikap lunak pemerintah terhadap Belanda.
Namun, Poeze mencatat bahwa sejak awal, ada juga nada-nada kecurigaan di antara kedua belah pihak. "Tan Malaka," tulisnya, "adalah seorang Marxis yang ketat, seorang materialis dialektis yang percaya bahwa revolusi harus didasarkan pada analisis kelas yang ilmiah. Ia melihat Pesindo sebagai organisasi yang berguna tetapi secara ideologis belum matang, sebuah kendaraan yang bisa digunakan untuk menggerakkan massa tetapi yang pada akhirnya harus dibentuk ulang sesuai dengan prinsip-prinsip Marxis. Di sisi lain, para pemimpin Pesindo, terutama mereka yang berasal dari tradisi nasionalis atau Islamis, curiga terhadap Marxisme ortodoks Tan Malaka. Mereka mengagumi ketajaman analisisnya, tetapi mereka tidak ingin Pesindo diubah menjadi partai komunis garis keras. Ketegangan ini, yang pada awalnya tersembunyi di balik retorika persatuan revolusioner, akan menjadi sumber konflik yang menghancurkan di kemudian hari" (Poeze, Jilid III 235).
Persatuan Perjuangan dibentuk dalam sebuah konferensi di Surakarta pada bulan Januari 1946, yang dihadiri oleh perwakilan dari puluhan organisasi. Tan Malaka, yang baru saja menerbitkan pamfletnya yang sangat berpengaruh, Muslihat, adalah bintang utama konferensi ini. "Pamflet Muslihat," tulis Poeze, "adalah manifesto politik yang brilian. Dalam waktu beberapa halaman, Tan Malaka berhasil mengartikulasikan semua frustrasi dan kemarahan yang dirasakan oleh para pejuang garis keras terhadap diplomasi Sjahrir. Ia berargumen, dengan logika yang tajam dan retorika yang membakar, bahwa perundingan dengan Belanda pada dasarnya adalah pengkhianatan terhadap proklamasi kemerdekaan. Selama tentara Belanda masih berada di Indonesia, tidak ada yang bisa dirundingkan. Satu-satunya jawaban terhadap imperialisme adalah perlawanan bersenjata. Muslihat menyebar seperti api di musim kemarau, dan Tan Malaka mendadak menjadi pahlawan bagi semua orang yang kecewa dengan pemerintah" (Poeze, Jilid III 255).
Pesindo adalah tulang punggung dari Persatuan Perjuangan. Organisasi ini menyediakan sebagian besar massa yang menghadiri rapat-rapat umum, sebagian besar dana yang membiayai operasi-operasi politik, dan, yang paling penting, sebagian besar senjata yang dimiliki oleh koalisi ini. "Tanpa Pesindo," tulis Poeze secara blak-blakan, "Persatuan Perjuangan akan menjadi sekadar klub debat. Dengan Pesindo, ia adalah ancaman serius terhadap pemerintah Sjahrir. Para pemimpin Pesindo, terutama Wikana, Chaerul Saleh, dan Adam Malik, menjadi tangan kanan Tan Malaka dalam mengorganisir oposisi. Mereka mengatur rapat-rapat, menyebarkan propaganda, dan menggalang dukungan di kalangan militer" (Poeze, Jilid III 260).
Namun, di balik kerja sama yang tampak erat ini, Poeze mengidentifikasi adanya ketegangan-ketegangan yang semakin meningkat. "Masalahnya," tulisnya, "adalah bahwa Tan Malaka tidak memperlakukan para pemimpin Pesindo sebagai mitra yang setara. Ia memperlakukan mereka sebagai bawahan, sebagai instrumen yang bisa digunakan untuk mencapai tujuannya. Ia mengharapkan kepatuhan tanpa syarat, dan ia tidak toleran terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Para pemimpin Pesindo, yang terbiasa dengan budaya organisasi yang lebih demokratis dan egaliter, mulai merasa tidak nyaman dengan gaya kepemimpinan Tan Malaka yang otoriter. Mereka mulai bertanya-tanya: apakah Tan Malaka benar-benar pemimpin yang mereka butuhkan, atau apakah ia hanya seorang diktator yang menyamar sebagai revolusioner?" (Poeze, Jilid III 265).
Benih-benih Perpecahan Mulai Tumbuh
Poeze memberikan perhatian khusus pada sebuah pertemuan penting di Surakarta pada awal tahun 1946, yang menurutnya adalah titik balik dalam hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo. Pertemuan ini, yang berlangsung beberapa minggu setelah pembentukan Persatuan Perjuangan, mempertemukan Tan Malaka dengan para pemimpin Pesindo untuk membahas strategi politik ke depan.
"Pertemuan di Surakarta," tulis Poeze, "dimulai dengan nada yang optimis. Tan Malaka memaparkan rencananya untuk memperluas pengaruh Persatuan Perjuangan, merekrut lebih banyak organisasi, dan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Sjahrir. Para pemimpin Pesindo mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi ketika diskusi beralih ke pertanyaan tentang struktur organisasi dan pengambilan keputusan, ketegangan mulai muncul" (Poeze, Jilid III 270).
Menurut rekonstruksi Poeze, masalah utama yang diperdebatkan adalah: siapa yang akan memegang kendali atas Persatuan Perjuangan? Tan Malaka menginginkan struktur yang sangat terpusat, di mana semua keputusan strategis dibuat oleh sebuah dewan kecil yang dipimpin oleh dirinya sendiri. Para pemimpin Pesindo, sebaliknya, menginginkan struktur yang lebih desentralisasi, di mana organisasi-organisasi anggota memiliki otonomi yang lebih besar. "Ini bukan hanya perdebatan tentang administrasi," tulis Poeze. "Ini adalah perdebatan tentang kekuasaan. Tan Malaka ingin mengontrol Persatuan Perjuangan sepenuhnya; para pemimpin Pesindo tidak ingin kehilangan kendali atas organisasi mereka sendiri. Di balik perdebatan tentang struktur, tersembunyi ketakutan yang lebih dalam: ketakutan bahwa Tan Malaka akan mengubah Persatuan Perjuangan menjadi partai komunis garis keras di bawah kendalinya, dan bahwa Pesindo akan kehilangan identitasnya sebagai organisasi pemuda yang pluralistik" (Poeze, Jilid III 275).
Poeze mencatat bahwa pertemuan di Surakarta berakhir tanpa kesepakatan yang jelas. "Mereka memutuskan untuk menunda keputusan tentang struktur organisasi," tulisnya, "tetapi penundaan ini hanya menutupi perpecahan yang semakin dalam. Para pemimpin Pesindo pulang dari Surakarta dengan perasaan tidak nyaman. Mereka masih mengagumi Tan Malaka, tetapi mereka mulai curiga bahwa ia mungkin bukan sekutu yang bisa dipercaya. Di sisi lain, Tan Malaka mulai melihat Pesindo sebagai organisasi yang tidak disiplin dan sulit dikendalikan. Kecurigaan timbal balik ini, yang pada awalnya hanya bisikan-bisikan di koridor, akan segera meledak menjadi konflik terbuka" (Poeze, Jilid III 280).
"Tan Malaka," tulis Poeze, "adalah seorang organisator yang cakap, dan ia memahami bahwa kekuasaan dalam sebuah organisasi terletak pada kontrol atas mekanisme internalnya. Ia mulai merekrut kader-kader muda yang setia kepadanya secara pribadi, dan menempatkan mereka di posisi-posisi di mana mereka bisa mempengaruhi kebijakan Pesindo. Ia juga mulai mengisolasi para pemimpin Pesindo yang dianggapnya tidak cukup revolusioner atau terlalu independen. Strateginya adalah untuk secara bertahap mengganti kepemimpinan Pesindo yang ada dengan orang-orangnya sendiri, sehingga pada akhirnya Pesindo akan menjadi instrumen yang sepenuhnya taat kepadanya" (Poeze, Jilid III 290).
Strategi ini, menurut Poeze, didasarkan pada pengalaman Tan Malaka di Komintern, di mana ia telah belajar bagaimana faksi-faksi bersaing untuk mendapatkan kendali atas organisasi-organisasi massa. "Di Moskow," tulis Poeze, "Tan Malaka telah menyaksikan bagaimana Stalin secara sistematis menyingkirkan lawan-lawannya dan mengkonsolidasikan kekuasaannya atas Partai Komunis Uni Soviet. Ia telah belajar bahwa dalam politik revolusioner, kontrol atas organisasi adalah segalanya. Tanpa organisasi yang taat, ide-ide yang paling brilian pun tidak akan pernah terwujud. Sayangnya, pelajaran yang ia ambil dari pengalaman Moskow adalah pelajaran yang salah: ia belajar untuk menjadi manipulator, bukan untuk menjadi pembangun konsensus" (Poeze, Jilid III 295).
Wikana, sebagai sekretaris jenderal Pesindo, adalah tokoh kunci dalam konflik ini. "Wikana," tulis Poeze, "adalah seorang organisator yang brilian dan seorang Marxis yang berkomitmen. Tetapi ia bukanlah boneka yang bisa dikendalikan. Ia memiliki visinya sendiri tentang arah Pesindo, dan ia tidak bersedia menyerahkan organisasi yang telah susah payah ia bangun kepada Tan Malaka. Ketika ia menyadari bahwa Tan Malaka sedang mencoba untuk mengambil alih Pesindo, ia mulai mengambil langkah-langkah untuk melindungi organisasinya. Ia mempromosikan kader-kader yang setia kepadanya, meminggirkan pendukung-pendukung Tan Malaka, dan memperkuat hubungannya dengan Soekarno sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Tan Malaka" (Poeze, Jilid III 310).
Chaerul Saleh, yang awalnya adalah salah satu pengagum Tan Malaka yang paling antusias, juga mulai berubah pikiran. "Chaerul," tulis Poeze, "adalah tipe orang yang mudah terbakar oleh semangat revolusioner, tetapi juga mudah berubah arah ketika ia merasa dimanipulasi. Ketika ia mulai merasa bahwa Tan Malaka mencoba untuk menggunakannya sebagai pion, kemarahannya meledak. Ia mulai menyerang Tan Malaka dalam rapat-rapat internal Pesindo, menuduhnya sebagai 'diktator yang menyamar sebagai demokrat' dan 'intrikus yang lebih berbahaya daripada Belanda.' Serangan-serangan ini, yang sering kali emosional dan tidak terukur, semakin memperburuk hubungan antara kubu Tan Malaka dan kubu Pesindo" (Poeze, Jilid III 315).
Adam Malik, yang kemudian menjadi Wakil Presiden Indonesia, adalah kasus yang lebih kompleks. "Adam Malik," tulis Poeze, "adalah seorang politisi yang cerdik dan pragmatis. Ia tidak memiliki komitmen ideologis yang kuat seperti Wikana atau semangat revolusioner yang membara seperti Chaerul Saleh. Yang ia miliki adalah naluri politik yang tajam dan kemampuan untuk membaca arah angin. Pada awalnya, ia mendukung Tan Malaka karena ia melihat bahwa Tan Malaka memiliki momentum politik. Tetapi ketika ia melihat bahwa angin mulai berbalik, bahwa Soekarno dan Hatta semakin tidak toleran terhadap oposisi, dan bahwa posisi Tan Malaka semakin terisolasi, ia mulai menjauhkan diri. Adam Malik adalah salah satu yang pertama di antara pemimpin Pesindo yang meninggalkan Tan Malaka dan kembali ke pangkuan pemerintah" (Poeze, Jilid III 320).
Peristiwa 3 Juli 1946 Katalisator Perpecahan
Konflik antara Tan Malaka dan Pesindo mencapai titik pecah dengan terjadinya Peristiwa 3 Juli 1946, sebuah upaya kudeta yang gagal terhadap pemerintahan Sjahrir. Poeze telah mendedikasikan penelitian yang sangat intensif untuk memahami peran berbagai aktor dalam peristiwa ini, dan kesimpulannya memiliki implikasi yang mendalam untuk memahami hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo.
"Peristiwa 3 Juli," tulis Poeze, "adalah peristiwa yang paling banyak disalahpahami dalam sejarah revolusi Indonesia. Narasi resmi yang disebarkan oleh pemerintah Sjahrir dan kemudian diadopsi oleh historiografi Orde Baru menggambarkannya sebagai upaya kudeta yang direncanakan oleh Tan Malaka dan pendukung-pendukungnya untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Narasi ini, seperti banyak narasi resmi lainnya, menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Setelah memeriksa semua bukti yang tersedia, termasuk dokumen-dokumen yang baru dibuka dari arsip-arsip militer dan intelijen, saya sampai pada kesimpulan bahwa Peristiwa 3 Juli bukanlah kudeta yang terencana dengan baik, melainkan ledakan spontan dari frustrasi yang telah lama terpendam, yang melibatkan banyak aktor dengan motif yang berbeda-beda, dan yang kemudian dimanipulasi oleh Sjahrir untuk menyingkirkan lawan-lawannya" (Poeze, Jilid III 350).
Menurut rekonstruksi Poeze, inti dari Peristiwa 3 Juli adalah penculikan Sutan Sjahrir oleh sekelompok tentara yang tidak puas. "Sjahrir," tulis Poeze, "diculik pada tanggal 27 Juni 1946 oleh pasukan dari Divisi III yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soedarsono. Penculikan ini bukanlah perintah dari Tan Malaka, meskipun para penculik bersimpati pada garis perjuangannya. Ini adalah tindakan yang dilakukan oleh perwira-perwira militer yang frustrasi dengan diplomasi Sjahrir dan yang merasa bahwa pemerintah telah mengabaikan kepentingan tentara. Tan Malaka mengetahui tentang penculikan ini setelah terjadi, dan ia berada dalam posisi yang sulit: ia tidak bisa mengutuk penculikan itu tanpa mengasingkan pendukung-pendukungnya di kalangan militer, tetapi ia juga tidak bisa mendukungnya secara terbuka tanpa mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Soekarno" (Poeze, Jilid III 360).
Reaksi para pemimpin Pesindo terhadap Peristiwa 3 Juli sangat terpecah, dan perpecahan ini mencerminkan konflik internal yang telah berkembang dalam organisasi tersebut. "Wikana," tulis Poeze, "mengutuk penculikan itu dengan tegas. Ia melihatnya sebagai tindakan yang tidak disiplin dan kontraproduktif yang hanya akan memberikan alasan kepada pemerintah untuk menindak oposisi. Chaerul Saleh, sebaliknya, bersimpati pada para penculik. Ia melihat mereka sebagai pahlawan yang telah mengambil tindakan tegas terhadap pemerintah yang lemah. Adam Malik, seperti biasa, mengambil posisi tengah yang ambigu: ia tidak mengutuk dan tidak mendukung, menunggu untuk melihat ke arah mana angin bertiup. Perpecahan ini, yang terjadi di saat krisis, menghancurkan kohesi Pesindo sebagai sebuah organisasi. Setelah 3 Juli, Pesindo tidak pernah lagi menjadi kekuatan yang bersatu" (Poeze, Jilid III 370).
"Penangkapan-penangkapan ini," tulis Poeze, "menghantam Pesindo dengan keras. Banyak pemimpin dan anggota Pesindo yang pro-Tan Malaka dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan. Organisasi ini kehilangan sebagian besar kader militannya dalam waktu singkat. Tetapi ironisnya, penangkapan-penangkapan ini juga memiliki efek radikalisasi terhadap sisa-sisa Pesindo yang masih bebas. Mereka yang lolos dari penangkapan menjadi semakin militan, semakin anti-pemerintah, dan semakin setia kepada Tan Malaka. Pesindo, yang sebelumnya adalah organisasi yang heterogen dengan berbagai orientasi politik, mulai berubah menjadi organisasi bawah tanah yang semakin keras dan semakin tidak toleran terhadap perbedaan pendapat. Ini adalah ironi yang tragis: upaya pemerintah untuk menghancurkan oposisi justru menciptakan musuh yang lebih militan dan lebih berbahaya" (Poeze, Jilid III 380).
Sementara itu, para pemimpin Pesindo yang selamat dari penangkapan dan memilih untuk tetap setia kepada pemerintah, terutama Wikana dan Adam Malik, mulai membangun kembali organisasi di bawah perlindungan Soekarno. "Mereka," tulis Poeze, "memutuskan untuk memotong hubungan dengan Tan Malaka secara total. Dalam rapat-rapat internal Pesindo pasca-3 Juli, nama Tan Malaka tidak lagi disebut sebagai pemimpin atau sekutu, melainkan sebagai 'pengkhianat' dan 'petualang.' Pesindo secara resmi menarik dukungannya dari Persatuan Perjuangan dan menyatakan kesetiaannya kepada pemerintah yang sah. Perpecahan antara Tan Malaka dan Pesindo kini telah menjadi permanen, dan kedua belah pihak mulai mempersiapkan diri untuk konfrontasi yang lebih besar" (Poeze, Jilid III 390).
Untuk memahami dinamika konflik antara kubu Tan Malaka dan Pesindo setelah Peristiwa 3 Juli, kita perlu memahami lanskap milisi bersenjata yang beroperasi di Indonesia pada masa revolusi. Poeze mendedikasikan sebuah bab khusus dalam jilid ketiga biografinya untuk memetakan kelompok-kelompok bersenjata yang mendukung Tan Malaka, dan analisisnya sangat penting untuk memahami eskalasi kekerasan yang terjadi.
"Revolusi Indonesia," tulis Poeze, "bukanlah revolusi yang terorganisir dengan rapi. Ia adalah revolusi yang kacau, yang melibatkan puluhan, mungkin ratusan, kelompok bersenjata yang berbeda-beda, masing-masing dengan pemimpin, ideologi, dan agenda sendiri-sendiri. Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang resmi hanyalah satu dari banyak aktor bersenjata di panggung revolusi. Di samping TNI, ada laskar-laskar rakyat, milisi-milisi partai, barisan-barisan pemuda, dan gerombolan-gerombolan kriminal yang menyebut diri mereka pejuang kemerdekaan. Menavigasi lanskap yang kacau ini memerlukan keterampilan politik yang luar biasa, dan baik Tan Malaka maupun para pemimpin Pesindo sering kali gagal melakukannya" (Poeze, Jilid III 420).
Kelompok-kelompok bersenjata yang mendukung Tan Malaka terdiri dari berbagai elemen. Pertama, ada laskar-laskar yang secara eksplisit dibentuk oleh Persatuan Perjuangan atau oleh partai-partai yang berafiliasi dengannya, seperti Partai Murba. Kedua, ada unit-unit militer yang para perwiranya bersimpati pada Tan Malaka, meskipun secara formal mereka adalah bagian dari TNI. Ketiga, ada kelompok-kelompok lokal yang tidak memiliki afiliasi organisasi yang jelas tetapi mengagumi Tan Malaka sebagai pemimpin karismatik. Keempat, ada individu-individu dan kelompok-kelompok kecil yang bergabung dengan gerakan Tan Malaka karena berbagai alasan: keyakinan ideologis, loyalitas personal, atau sekadar mencari keuntungan dalam kekacauan revolusi.
"Menentukan siapa yang benar-benar 'pro-Tan Malaka' dan siapa yang hanya menggunakan namanya untuk kepentingan sendiri," tulis Poeze, "adalah salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi dalam penelitian ini. Banyak kelompok bersenjata mengklaim sebagai pengikut Tan Malaka tanpa pernah bertemu dengannya atau menerima instruksi darinya. Mereka menggunakan namanya sebagai simbol, sebagai bendera yang memberikan legitimasi revolusioner pada tindakan-tindakan mereka, termasuk tindakan-tindakan kriminal seperti perampokan dan pemerasan. Tan Malaka sendiri, yang pada saat itu berada dalam penjara atau dalam pelarian, sering kali tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakannya. Ini adalah ironi yang tragis: Tan Malaka, sang pemikir yang sangat menekankan disiplin dan organisasi, tidak bisa mengendalikan pengikut-pengikutnya sendiri" (Poeze, Jilid III 430).
"Situasi di lapangan," tulis Poeze, "sangat berbeda dari situasi di Jakarta. Di ibu kota, konflik antara Tan Malaka dan Pesindo adalah konflik politik yang dimainkan melalui rapat-rapat, resolusi-resolusi, dan manuver-manuver birokratis. Tetapi di daerah-daerah, di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera, konflik ini mengambil bentuk yang jauh lebih kasar. Di sana, pendukung-pendukung Tan Malaka dan anggota-anggota Pesindo bersaing untuk mengontrol desa-desa, mengumpulkan pajak revolusioner, dan merekrut pemuda. Ketika persaingan ini gagal diselesaikan melalui negosiasi, ia sering kali berubah menjadi kekerasan. Penculikan, pembunuhan, dan pembakaran markas menjadi hal yang biasa. Revolusi, yang sudah cukup berdarah karena pertempuran melawan Belanda, kini menjadi semakin berdarah karena pertempuran di antara anak-anak bangsa sendiri" (Poeze, Jilid III 440).
Salah satu wilayah di mana konflik antara kubu Tan Malaka dan Pesindo paling intens adalah Jawa Timur, khususnya di sekitar Surabaya dan Malang. "Di Jawa Timur," tulis Poeze, "Pesindo memiliki basis massa yang kuat, terutama di kalangan pemuda kota. Tetapi Tan Malaka juga memiliki pendukung yang signifikan, terutama di kalangan unit-unit militer yang telah lama bersimpati pada garis perjuangannya. Kedua belah pihak memiliki senjata, memiliki jaringan, dan memiliki tekad untuk tidak mundur. Bentrokan-bentrokan di Jawa Timur pada tahun 1947-1948 adalah beberapa yang paling berdarah dalam konflik internal revolusi Indonesia" (Poeze, Jilid III 445).
Namun, Poeze juga mencatat bahwa kemenangan Tan Malaka di Sumatera tidak pernah total. "Di beberapa daerah," tulisnya, "cabang-cabang Pesindo lokal menolak untuk memihak dalam konflik antara Tan Malaka dan pemerintah pusat. Mereka berargumen bahwa persatuan melawan Belanda adalah prioritas utama, dan bahwa konflik internal hanya akan melemahkan revolusi. Sikap netral ini membuat mereka dicurigai oleh kedua belah pihak: oleh kubu Tan Malaka sebagai pengkhianat yang tidak mau berkomitmen, dan oleh pemerintah sebagai simpatisan oposisi yang menyamar. Akibatnya, Pesindo di Sumatera sering kali terjepit di antara dua batu gilingan, diserang oleh kedua belah pihak dan tidak bisa melindungi diri" (Poeze, Jilid III 455).
"Negosiasi antara Tan Malaka dan Pesindo," tulis Poeze, "berlangsung dalam beberapa tahap, dengan mediator yang berbeda-beda, dan dengan hasil yang selalu sama: kegagalan. Kegagalan ini bukan karena kurangnya niat baik, setidaknya pada awalnya, tetapi karena perbedaan-perbedaan yang terlalu fundamental untuk dijembatani. Kedua belah pihak memiliki visi yang berbeda tentang masa depan revolusi, strategi yang berbeda untuk mencapai visi itu, dan kepentingan organisasi yang berbeda yang harus dilindungi. Dalam kondisi seperti ini, kompromi menjadi hampir mustahil" (Poeze, Jilid III 470).
Upaya negosiasi pertama terjadi segera setelah Peristiwa 3 Juli, ketika pemimpin-pemimpin Pesindo yang lebih moderat berusaha untuk membujuk Tan Malaka agar mengakui kesalahannya dan kembali ke pangkuan republik. "Mereka mengirim utusan ke penjara," tulis Poeze, "dengan pesan bahwa jika Tan Malaka bersedia untuk secara terbuka mendukung pemerintah dan mengutuk para penculik Sjahrir, ia akan dibebaskan dan diterima kembali sebagai pemimpin revolusi. Ini adalah tawaran yang murah hati, mengingat situasi politik pada saat itu. Tetapi Tan Malaka menolaknya mentah-mentah. Ia tidak akan mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan, dan ia tidak akan mengutuk orang-orang yang telah bertindak berdasarkan keyakinan revolusioner mereka. 'Saya lebih suka mati dalam penjara,' katanya kepada para utusan itu, 'daripada hidup sebagai pengkhianat terhadap prinsip-prinsip saya'" (Poeze, Jilid III 475).
Penolakan Tan Malaka ini, menurut Poeze, adalah momen yang menentukan. "Dengan menolak tawaran itu," tulisnya, "Tan Malaka memilih jalan konfrontasi daripada jalan rekonsiliasi. Ia memilih untuk tetap menjadi martir daripada menjadi politisi. Ini adalah pilihan yang mulia dalam arti moral, tetapi juga pilihan yang menghancurkan dalam arti politik. Setelah penolakan ini, tidak ada lagi ruang untuk kompromi antara Tan Malaka dan pemerintah, dan, secara tidak langsung, antara Tan Malaka dan Pesindo yang telah berdamai dengan pemerintah" (Poeze, Jilid III 478).
Salah satu pertemuan paling penting yang direkonstruksi oleh Poeze terjadi pada akhir tahun 1947, ketika Soekarno mengundang Tan Malaka ke Istana Negara untuk sebuah pembicaraan rahasia. "Pertemuan ini," tulis Poeze, "berlangsung dalam atmosfer yang tegang tetapi sopan. Soekarno berbicara tentang perlunya persatuan nasional dalam menghadapi Agresi Militer Belanda yang baru saja dilancarkan. Ia memohon kepada Tan Malaka untuk mengesampingkan perbedaan-perbedaan politik demi kepentingan bangsa. Tan Malaka mendengarkan dengan hormat, tetapi ia tidak bisa menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Soekarno: pengakuan publik atas legitimasi pemerintah, penghentian kritik terhadap diplomasi, dan pembubaran organisasi-organisasi oposisi. Bagi Tan Malaka, syarat-syarat ini sama dengan menyerah. Ia lebih memilih untuk tetap menjadi tahanan daripada mengkhianati apa yang ia yakini sebagai kebenaran" (Poeze, Jilid III 485).
Poeze mencatat bahwa Soekarno sangat kecewa dengan hasil pertemuan ini. "Soekarno," tulisnya, "benar-benar menginginkan Tan Malaka di sisinya. Ia menghormati kecerdasan Tan Malaka, dan ia tahu bahwa Tan Malaka memiliki basis massa yang tidak bisa diabaikan. Tetapi ia juga tidak bisa mengorbankan pemerintahannya demi memuaskan Tan Malaka. Pertemuan itu berakhir dengan kedua tokoh besar ini saling menghormati tetapi tetap berseberangan. Ini adalah salah satu momen tragis dalam sejarah Indonesia: dua pemimpin yang sama-sama mencintai bangsanya, tetapi tidak bisa menemukan jalan untuk bekerja sama" (Poeze, Jilid III 488).
Poeze merekonstruksi satu pertemuan khusus yang, menurutnya, adalah titik akhir dari hubungan Tan Malaka-Pesindo. "Dalam pertemuan itu," tulisnya, "seorang pemimpin Pesindo bertanya kepada Tan Malaka: 'Bung Tan, apakah Bung masih menginginkan kami sebagai sekutu?' Tan Malaka, menurut catatan yang saya temukan, menjawab dengan dingin: 'Saya menginginkan sekutu yang setia, bukan sekutu yang meninggalkan saya ketika saya berada dalam kesulitan.' Jawaban ini, yang menusuk langsung ke jantung luka lama, mengakhiri negosiasi. Para utusan Pesindo pergi dengan marah, dan tidak ada lagi upaya untuk mendamaikan kedua belah pihak setelah itu. Jembatan telah runtuh, dan jurang antara Tan Malaka dan Pesindo telah menjadi tidak terseberangi" (Poeze, Jilid III 500).
Pembebasan, Kembali ke Medan Perjuangan
Tan Malaka dibebaskan dari penjara pada awal tahun 1948, setelah lebih dari dua tahun ditahan tanpa pengadilan. Pembebasannya adalah bagian dari amnesti umum yang diberikan oleh pemerintah dalam upaya untuk menyatukan semua kekuatan nasional menghadapi ancaman Belanda yang semakin besar. Namun, Tan Malaka tidak kembali ke masyarakat sebagai warga negara biasa yang telah bertobat. Ia kembali sebagai pemimpin revolusioner yang siap untuk melanjutkan perjuangannya, kali ini dengan lebih militan dan lebih tidak kompromi daripada sebelumnya.
"Pembebasan Tan Malaka," tulis Poeze, "disambut dengan antusiasme besar oleh para pendukungnya. Mereka melihatnya sebagai pahlawan yang telah kembali dari pengasingan, sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah yang lemah dan kompromistis. Ribuan orang berkumpul untuk menyambutnya di Yogyakarta, dan ia berpidato dengan semangat yang sama seperti pada tahun 1945. 'Saya pergi ke penjara sebagai revolusioner,' katanya, 'dan saya keluar sebagai revolusioner. Tidak ada yang berubah, kecuali bahwa saya sekarang lebih yakin daripada sebelumnya bahwa jalan diplomasi adalah jalan menuju bencana. Kita harus bertempur, dan kita harus menang, atau kita harus mati dalam perjuangan'" (Poeze, Jilid III 520).
Setelah pembebasannya, Tan Malaka segera mulai membangun kembali jaringan organisasinya. Ia mendirikan Partai Murba (Partai Musyawarah Rakyat Banyak) sebagai wadah politik baru untuk gerakannya, dan ia mulai merekrut kembali para pengikut lamanya, termasuk mereka yang telah meninggalkannya setelah Peristiwa 3 Juli. "Partai Murba," tulis Poeze, "adalah upaya Tan Malaka untuk memulai dari awal. Ia menyadari bahwa Persatuan Perjuangan telah hancur, dan bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan Pesindo atau organisasi-organisasi massa lainnya. Partai Murba akan menjadi partai kader yang disiplin, terorganisir dengan rapi, dan setia sepenuhnya kepada pemimpinnya. Ini adalah model organisasi yang sangat berbeda dari koalisi longgar yang ia pimpin sebelumnya, dan itu mencerminkan pengalaman pahit yang telah ia alami" (Poeze, Jilid III 530).
"Keputusan Tan Malaka untuk pergi ke Jawa Timur," tulis Poeze, "adalah keputusan yang berani tetapi juga berbahaya. Jawa Timur adalah basis dari banyak kekuatan politik yang saling bersaing: ada TNI yang setia kepada pemerintah pusat, ada Pesindo yang masih memiliki pengaruh signifikan, ada kelompok-kelompok Islam yang mencurigai Tan Malaka sebagai komunis, dan ada sisa-sisa pasukan Belanda yang masih beroperasi. Menavigasi medan politik yang kompleks ini memerlukan keterampilan yang luar biasa. Sayangnya, pada saat ini, Tan Malaka tidak lagi memiliki sekutu yang cukup kuat untuk melindunginya. Pesindo, yang dulu adalah pendukung utamanya, kini telah menjadi musuhnya. Tanpa dukungan organisasi massa yang besar, ia hanya bisa mengandalkan sekelompok kecil pengikut setia, dan itu tidak cukup" (Poeze, Jilid III 550).
Poeze melacak pergerakan Tan Malaka di Jawa Timur selama bulan-bulan terakhir tahun 1948. Ia berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain, dari satu rumah aman ke rumah aman lainnya, selalu selangkah di depan pasukan Belanda dan juga selangkah di depan musuh-musuh politiknya di kalangan republik. "Ini adalah pengulangan dari pola yang telah ia jalani sepanjang hidupnya," tulis Poeze. "Seperti di Manila, seperti di Shanghai, seperti di Bangkok, Tan Malaka sekali lagi menjadi buronan yang hidup dalam persembunyian. Tetapi kali ini, ia tidak lagi muda. Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun, kesehatannya memburuk, dan ia tidak memiliki jaringan internasional yang dulu melindunginya. Ia sendirian, atau hampir sendirian, dalam perjuangannya" (Poeze, Jilid III 560).
"Pemberontakan Madiun," tulis Poeze, "adalah bencana bagi Tan Malaka, meskipun ia tidak terlibat di dalamnya. Musso dan para pemimpin PKI adalah musuh-musuh lamanya, mereka adalah orang-orang yang mengabaikan nasihatnya pada tahun 1926 dan melancarkan pemberontakan yang gagal, dan mereka adalah saingan-saingannya dalam perebutan kepemimpinan gerakan kiri. Tetapi bagi TNI dan pemerintah, semua komunis adalah sama. Setelah Madiun, setiap orang yang dicurigai sebagai komunis menjadi target. Tan Malaka, yang sudah dicap sebagai 'petualang' dan 'pengacau,' sekarang juga dicap sebagai 'komunis berbahaya' yang harus disingkirkan" (Poeze, Jilid III 580).
Poeze menekankan bahwa tidak ada bukti yang menghubungkan Tan Malaka dengan pemberontakan Madiun. "Tan Malaka," tulisnya, "berada di Yogyakarta ketika pemberontakan meletus, dan ia tidak memiliki kontak dengan Musso atau Amir Sjarifuddin. Tetapi dalam atmosfer histeria anti-komunis yang melanda Indonesia setelah Madiun, fakta-fakta tidak lagi penting. Tan Malaka adalah komunis, dan semua komunis adalah musuh. Ini adalah logika yang sederhana dan mematikan, dan logika inilah yang akhirnya membunuhnya" (Poeze, Jilid III 585).
Pada awal tahun 1949, Tan Malaka dan sekelompok kecil pengikutnya, diperkirakan sekitar dua puluh orang, bergerak ke arah timur Jawa, menuju ke wilayah Kediri. Mereka berencana untuk bergabung dengan unit-unit gerilya yang beroperasi di sekitar Gunung Wilis, di mana mereka bisa membangun basis untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Tetapi sebelum mereka bisa mencapai tujuan itu, mereka dicegat oleh pasukan TNI dari Brigade V di bawah komando Letnan Kolonel Soerachmad.
"Penangkapan Tan Malaka," tulis Poeze, "adalah operasi militer yang direncanakan dengan cermat. Soerachmad telah menerima laporan intelijen tentang pergerakan Tan Malaka, dan ia mengirim pasukannya untuk mencegatnya di sebuah desa kecil bernama Selopanggung, di kaki Gunung Wilis. Pada tanggal 21 Februari 1949, Tan Malaka dan pengikutnya dikepung. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk melawan, mereka kalah jumlah dan kalah senjata. Tan Malaka, menurut kesaksian yang dikumpulkan oleh Poeze, menyerah tanpa perlawanan. Ia mungkin berpikir bahwa ia akan ditangkap dan diinterogasi, seperti yang telah terjadi sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa kali ini, ia tidak akan meninggalkan Selopanggung hidup-hidup" (Poeze, Jilid III 620).
Apa yang terjadi selanjutnya telah menjadi subjek dari banyak spekulasi dan kontroversi. Versi resmi yang dikeluarkan oleh TNI menyatakan bahwa Tan Malaka tewas dalam baku tembak ketika mencoba melarikan diri. Tetapi Poeze, setelah mewawancarai saksi-saksi yang masih hidup dan memeriksa bukti-bukti forensik yang tersedia, sampai pada kesimpulan yang berbeda.
"Kesaksian dari penduduk desa yang menyaksikan peristiwa itu," tulis Poeze, "menceritakan kisah yang berbeda dari versi resmi. Menurut mereka, Tan Malaka tidak ditembak dalam baku tembak. Ia dieksekusi dengan tangan terikat di belakang punggungnya, di tepi sebuah sungai kecil di dekat desa. Mayatnya kemudian dibuang ke sungai, dan tidak pernah ditemukan. Eksekusi ini dilakukan atas perintah perwira-perwira TNI yang hadir di lokasi, meskipun tidak jelas siapa yang memberikan perintah langsung. Yang jelas adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka bukanlah kecelakaan atau tindakan spontan. Ia adalah eksekusi yang direncanakan, dilakukan oleh tentara republik terhadap salah satu pendiri republik itu sendiri" (Poeze, Jilid III 630).
"Setelah meneliti semua bukti yang tersedia," tulis Poeze, "saya harus mengakui bahwa saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Dokumen-dokumen yang bisa mengungkapkan siapa yang memberikan perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka, jika memang ada perintah tertulis, telah dihancurkan atau disembunyikan. Para saksi kunci telah meninggal, dan mereka yang masih hidup memberikan kesaksian yang saling bertentangan. Yang bisa saya lakukan adalah menyajikan bukti-bukti yang ada dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan mereka sendiri" (Poeze, Jilid III 650).
Meskipun demikian, Poeze mengidentifikasi beberapa pihak yang mungkin terlibat. Pertama, ada kemungkinan bahwa perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka datang dari markas besar TNI di Yogyakarta, mungkin dari Jenderal Sudirman sendiri atau dari perwira-perwira stafnya. "Sudirman," tulis Poeze, "adalah seorang anti-komunis yang gigih, dan ia melihat Tan Malaka sebagai ancaman terhadap persatuan militer. Setelah pemberontakan Madiun, ia mungkin telah memutuskan bahwa Tan Malaka harus disingkirkan untuk mencegah pemberontakan komunis lainnya. Tetapi tidak ada bukti langsung yang menghubungkan Sudirman dengan pembunuhan ini, dan beberapa peneliti lain berargumen bahwa Sudirman tidak akan pernah menyetujui eksekusi di luar hukum terhadap seorang pemimpin nasionalis" (Poeze, Jilid III 660).
Kedua, ada kemungkinan bahwa pembunuhan Tan Malaka dilakukan atas inisiatif perwira-perwira lokal yang bertindak sendiri. "Soerachmad dan para perwiranya," tulis Poeze, "adalah tentara garis keras yang telah bertempur melawan PKI di Madiun. Mereka melihat Tan Malaka sebagai ancaman yang harus disingkirkan, dan mereka mungkin telah memutuskan untuk mengeksekusinya tanpa menunggu perintah dari atasan. Dalam kekacauan revolusi, ketika komunikasi dengan pusat sering kali terputus, keputusan-keputusan seperti ini sering kali dibuat di lapangan oleh perwira-perwira yang merasa bahwa mereka tahu apa yang terbaik. Jika ini yang terjadi, maka pembunuhan Tan Malaka adalah tragedi yang lahir dari iklim ketakutan dan kecurigaan yang diciptakan oleh pemberontakan Madiun" (Poeze, Jilid III 665).
Ketiga, Poeze tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa pembunuhan Tan Malaka adalah hasil dari konspirasi yang lebih luas yang melibatkan elemen-elemen dari pemerintah dan militer. "Ada laporan-laporan," tulisnya, "yang menyebutkan bahwa Soekarno atau Hatta mungkin telah mengetahui atau bahkan menyetujui rencana untuk menyingkirkan Tan Malaka. Tetapi laporan-laporan ini sangat spekulatif, dan saya tidak menemukan bukti yang cukup untuk mendukungnya. Yang bisa saya katakan adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka menguntungkan banyak pihak: ia menghilangkan ancaman terhadap pemerintah pusat, ia menghilangkan sumber perpecahan dalam militer, dan ia mengirim pesan yang jelas kepada semua oposisi bahwa pemberontakan tidak akan ditoleransi. Dalam politik, ketika sebuah tindakan menguntungkan banyak pihak yang berbeda, sering kali sulit untuk menentukan siapa yang benar-benar bertanggung jawab" (Poeze, Jilid III 670).
"Pesindo," tulis Poeze, "tidak menarik pelatuk yang membunuh Tan Malaka. Tetapi dengan meninggalkannya, dengan menolak untuk melindunginya, dengan menjadi bagian dari koalisi yang mendukung pemerintah melawannya, Pesindo berkontribusi pada isolasi politik Tan Malaka. Ketika Tan Malaka terbunuh di Selopanggung, ia adalah seorang pemimpin tanpa organisasi massa yang melindunginya. Pesindo, yang dulu adalah pendukung utamanya, telah menjadi bagian dari mesin negara yang menghancurkannya. Apakah para pemimpin Pesindo mengetahui atau menyetujui pembunuhan itu? Kemungkinan besar tidak. Tetapi mereka tidak bisa menghindari tanggung jawab moral atas kenyataan bahwa sekutu lama mereka dibunuh oleh tentara republik, dan tidak ada yang mengangkat suara untuk membelanya" (Poeze, Jilid III 680).
Poeze juga mencatat bahwa beberapa anggota Pesindo yang tetap setia kepada Tan Malaka ikut menjadi korban dalam pembersihan yang mengikuti pemberontakan Madiun. "Mereka yang menolak untuk meninggalkan Tan Malaka," tulisnya, "diburu, ditangkap, dan dalam beberapa kasus dieksekusi bersama dengannya. Loyalitas mereka kepada sang revolusioner harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Ini adalah tragedi di dalam tragedi: mereka yang paling setia kepada Tan Malaka adalah mereka yang paling menderita, sementara mereka yang meninggalkannya selamat dan melanjutkan karier politik mereka" (Poeze, Jilid III 685).
Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang telah mendedikasikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk menelusuri jejak Tan Malaka, menulis tentang momen ini dengan nada yang dingin dan faktual, tetapi di balik kedinginan itu tersembunyi kemarahan moral yang mendalam. "Tan Malaka," tulis Poeze dalam jilid kelima magnum opus-nya, "tidak mati dalam pertempuran melawan Belanda, seperti yang seharusnya terjadi pada seorang pejuang kemerdekaan. Ia tidak mati karena sakit atau usia tua, setelah menjalani kehidupan yang penuh pengorbanan. Ia mati ditembak oleh tentara Republik Indonesia, negara yang telah ia impikan dan perjuangkan sejak tahun 1925, ketika ia pertama kali menulis kata 'Republik Indonesia' dalam pamfletnya di Kanton. Ia mati sebagai musuh negara yang ia ciptakan. Ini adalah ironi yang paling pahit dalam sejarah revolusi Indonesia" (Poeze, Jilid V 720).
"Tan Malaka keluar dari penjara," tulis Poeze, "bukan sebagai orang yang patah, melainkan sebagai orang yang lebih bertekad. Penjara telah mengajarinya bahwa kompromi dengan kekuasaan adalah ilusi. Ia telah ditangkap tanpa pengadilan, ditahan tanpa dakwaan yang jelas, dan sekarang dibebaskan tanpa permintaan maaf. Pengalaman ini mengkonfirmasi keyakinannya yang paling dalam: bahwa republik yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta-Sjahrir telah menyimpang dari cita-cita revolusi, dan bahwa hanya gerakan revolusioner yang bersih dari kompromi yang bisa menyelamatkan Indonesia" (Poeze, Jilid V 15).
Setelah pembebasannya, Tan Malaka segera memulai kembali aktivitas politiknya. Ia mendirikan Partai Murba (Partai Musyawarah Rakyat Banyak) sebagai wadah baru untuk gerakannya, dan mulai merekrut para pengikut lamanya. Tetapi situasinya sangat berbeda dari tahun 1945. Banyak mantan pendukungnya telah meninggalkannya atau telah ditangkap. Pesindo, yang dulu menjadi tulang punggung Persatuan Perjuangan, kini telah berdamai dengan pemerintah dan tidak lagi mendukungnya. Tan Malaka mendapati dirinya sebagai pemimpin tanpa tentara, jenderal tanpa pasukan.
"Tan Malaka," tulis Poeze, "melihat Agresi Militer Belanda sebagai pembenaran atas semua yang telah ia katakan. Ia telah memperingatkan bahwa diplomasi dengan Belanda adalah bunuh diri, bahwa Belanda tidak akan pernah menghormati perjanjian, dan bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan kemerdekaan adalah melalui perlawanan bersenjata total. Sekarang, semua peringatannya menjadi kenyataan. Soekarno dan Hatta ditangkap, republik yang mereka bangun melalui diplomasi hancur. Bagi Tan Malaka, ini adalah momen untuk mengatakan: 'Aku sudah bilang.' Tetapi mengatakan 'aku sudah bilang' tidak memberinya tentara, tidak memberinya senjata, dan tidak memberinya kekuasaan" (Poeze, Jilid V 45).
Tan Malaka meninggalkan Yogyakarta segera setelah serangan Belanda dimulai. Ia menuju ke arah timur, ke Jawa Timur, di mana ia berharap untuk bergabung dengan unit-unit gerilya yang setia kepadanya. Ia membawa sekelompok kecil pengikut setia, diperkirakan sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang, termasuk beberapa pemimpin Partai Murba dan bekas anggota Persatuan Perjuangan yang masih setia.
"Mereka berjalan di malam hari," tulis Poeze, "dan bersembunyi di siang hari. Tan Malaka, yang usianya sudah lebih dari lima puluh tahun dan kesehatannya memburuk setelah bertahun-tahun dalam penjara dan pelarian, harus dipapah oleh pengikut-pengikutnya yang lebih muda. Tetapi semangatnya tidak patah. Ia terus menulis di buku catatannya, merumuskan strategi untuk perang gerilya jangka panjang melawan Belanda. Ia bermimpi untuk mengulangi apa yang telah ia lakukan di Filipina dua dekade sebelumnya: membangun jaringan bawah tanah yang akan bertahan selama bertahun-tahun, menunggu saat yang tepat untuk menyerang" (Poeze, Jilid V 65).
Pada akhir Januari 1949, Tan Malaka dan rombongannya tiba di wilayah Kediri, di kaki Gunung Wilis. Wilayah ini dipilih karena beberapa alasan. Pertama, medannya yang bergunung-gunung cocok untuk perang gerilya. Kedua, wilayah ini relatif belum tersentuh oleh operasi-operasi militer Belanda. Ketiga, dan ini yang paling penting dalam perspektif Tan Malaka, ada unit-unit TNI di wilayah ini yang, menurut informasinya, bersimpati pada perjuangannya.
"Pertemuan-pertemuan ini," tulis Poeze, "berlangsung dalam atmosfer yang tegang. Di satu sisi, Tan Malaka adalah tokoh nasional yang dihormati, dan banyak perwira TNI yang telah membaca karya-karyanya dan mengagumi pemikirannya. Di sisi lain, ia adalah tokoh kontroversial yang telah dicap sebagai 'petualang' dan 'pengacau' oleh pemerintah pusat. Para perwira TNI berada dalam posisi yang sulit: mereka tidak ingin menolak Tan Malaka secara langsung, karena hal itu bisa menimbulkan konflik dengan pendukung-pendukungnya di kalangan tentara. Tetapi mereka juga tidak ingin secara terbuka mendukungnya, karena hal itu bisa dianggap sebagai pembangkangan terhadap komando pusat" (Poeze, Jilid V 85).
Salah satu pertemuan paling krusial terjadi antara Tan Malaka dan Letnan Kolonel Soerachmad, komandan Brigade V TNI yang bertanggung jawab atas wilayah Kediri. Poeze tidak berhasil menemukan catatan langsung dari pertemuan ini, tetapi ia merekonstruksinya dari kesaksian-kesaksian para saksi dan dari laporan-laporan yang ditulis setelah kejadian.
"Pertemuan antara Tan Malaka dan Soerachmad," tulis Poeze, "tampaknya berlangsung dengan sopan tetapi dingin. Tan Malaka memaparkan rencananya untuk membangun basis gerilya di Gunung Wilis dan meminta dukungan logistik dari TNI. Soerachmad, menurut kesaksian yang ada, menolak permintaan itu. Ia mengatakan bahwa TNI memiliki rantai komando sendiri dan tidak bisa memberikan dukungan kepada kekuatan-kekuatan di luar struktur resmi. Ia juga menyarankan, atau mungkin memerintahkan, Tan Malaka untuk meninggalkan wilayah Kediri demi keamanannya sendiri. Tan Malaka menolak saran itu. Ia mengatakan bahwa ia akan tetap berada di wilayah itu dan akan melanjutkan perjuangannya dengan atau tanpa dukungan TNI. Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan, dan kedua belah pihak pergi dengan kecurigaan yang lebih dalam terhadap satu sama lain" (Poeze, Jilid V 95).
Pertama, dan ini yang paling menentukan, adalah bayang-bayang Pemberontakan PKI Madiun yang masih segar dalam ingatan. "Pemberontakan Madiun," tulis Poeze, "telah menciptakan histeria anti-komunis di kalangan militer. Setiap orang yang dicurigai sebagai komunis dianggap sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Tan Malaka, meskipun ia tidak terlibat dalam pemberontakan Madiun dan sebenarnya adalah musuh politik dari Musso dan Amir Sjarifuddin, dicap sebagai komunis oleh banyak perwira TNI. Dalam logika sederhana yang berlaku pada saat itu, semua komunis adalah sama, dan semua komunis adalah musuh. Fakta bahwa Tan Malaka telah menghabiskan bertahun-tahun dalam pelarian internasional sebagai agen Komintern hanya memperkuat kecurigaan ini" (Poeze, Jilid V 110).
Kedua, ada faktor lokal yang spesifik. Wilayah Kediri adalah basis dari beberapa unit TNI yang sangat anti-komunis, yang telah terlibat dalam penumpasan pemberontakan Madiun. Para perwira di unit-unit ini melihat Tan Malaka sebagai ancaman langsung terhadap otoritas mereka. "Mereka khawatir," tulis Poeze, "bahwa kehadiran Tan Malaka di wilayah mereka akan menarik perhatian Belanda, yang akan mengirim pasukan untuk menangkapnya dan dalam prosesnya akan menghancurkan infrastruktur gerilya TNI. Atau, lebih buruk lagi, mereka khawatir bahwa Tan Malaka akan berhasil merekrut pengikut di antara prajurit-prajurit mereka dan akan memicu pemberontakan internal. Dalam pandangan mereka, Tan Malaka adalah bom waktu yang harus dijinakkan sebelum meledak" (Poeze, Jilid V 115).
Ketiga, ada kemungkinan bahwa Soerachmad atau perwira-perwira lainnya telah menerima instruksi dari markas besar TNI di Jawa Timur untuk menyingkirkan Tan Malaka. "Pertanyaan tentang siapa yang memberikan perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka," tulis Poeze, "adalah salah satu misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan. Tetapi ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa keputusan untuk menyingkirkan Tan Malaka tidak dibuat secara lokal oleh Soerachmad sendiri, melainkan setidaknya diketahui dan disetujui oleh komando yang lebih tinggi. Sayangnya, dokumen-dokumen yang bisa mengkonfirmasi atau membantah hipotesis ini telah dihancurkan atau tetap dirahasiakan" (Poeze, Jilid V 120).
"Sabirin," tulis Poeze, "adalah komandan Batalyon 38 dari Divisi I TNI, yang berbasis di wilayah Kediri. Ia adalah salah satu dari sedikit perwira TNI yang tetap setia kepada Tan Malaka setelah perpecahan tahun 1946. Pada akhir Januari atau awal Februari 1949, Sabirin menemui Soedirman di markas gerilyanya di suatu tempat di Jawa Timur. Ia memohon kepada Soedirman agar Tan Malaka diizinkan untuk bergabung dengan perjuangan gerilya dan diberikan perlindungan. Soedirman, menurut kesaksian Sabirin yang dicatat oleh Poeze, menolak permintaan itu. Ia mengatakan bahwa Tan Malaka adalah 'unsur yang tidak diinginkan' dan bahwa kehadirannya hanya akan menyebabkan perpecahan di kalangan tentara. Soedirman juga memperingatkan Sabirin agar tidak terlalu dekat dengan Tan Malaka, karena hal itu bisa membahayakan karier militernya. Sabirin pulang dari pertemuan itu dengan kecewa dan khawatir. Ia tahu bahwa tanpa perlindungan dari Soedirman, Tan Malaka berada dalam bahaya besar" (Poeze, Jilid V 140).
Poeze mencatat bahwa penolakan Soedirman ini adalah titik balik yang menentukan. "Dengan menolak untuk memberikan perlindungan kepada Tan Malaka," tulisnya, "Soedirman secara efektif memberikan lampu hijau kepada perwira-perwira bawahannya untuk menyingkirkan Tan Malaka. Soedirman mungkin tidak secara eksplisit memerintahkan pembunuhan Tan Malaka, tetapi penolakannya untuk melindungi Tan Malaka, ditambah dengan peringatannya kepada Sabirin, mengirim pesan yang jelas: Tan Malaka tidak diinginkan, dan mereka yang melindunginya akan menanggung konsekuensinya. Dalam hierarki militer yang ketat, pesan seperti ini sering kali lebih berbahaya daripada perintah tertulis" (Poeze, Jilid V 145).
"Tan Malaka tiba di Selopanggung pada pertengahan Februari 1949," tulis Poeze. "Ia datang dengan rombongan kecilnya dan diterima oleh penduduk desa dengan campuran rasa hormat dan ketakutan. Mereka tahu siapa Tan Malaka, namanya sudah terkenal di seluruh Jawa sebagai pemimpin revolusioner, tetapi mereka juga tahu bahwa melindunginya berarti menempatkan diri mereka dalam bahaya. Namun, mereka tidak bisa menolak. Tan Malaka adalah tamu yang tidak bisa ditolak oleh penduduk desa yang taat pada tradisi keramahan. Ia tinggal di rumah seorang petani sederhana, tidur di lumbung padi, dan menghabiskan hari-harinya dengan menulis dan mendiskusikan strategi dengan pengikut-pengikutnya" (Poeze, Jilid V 160).
Selama minggu terakhir hidupnya, Tan Malaka terus menulis. "Buku catatannya," tulis Poeze, "yang kemudian ditemukan oleh para saksi mata, berisi analisis tentang situasi politik terbaru, rencana-rencana untuk perang gerilya jangka panjang, dan refleksi-refleksi filosofis tentang makna revolusi. Bahkan dalam situasi yang paling terdesak, ketika kematian sudah membayangi di depan mata, Tan Malaka tidak berhenti berpikir dan menulis. Menulis adalah caranya untuk melawan keputusasaan, caranya untuk mempertahankan kemanusiaannya di tengah kondisi yang tidak manusiawi. Sampai akhir hayatnya, ia tetap setia pada identitasnya sebagai seorang pemikir dan penulis" (Poeze, Jilid V 165).
"Soerachmad," tulis Poeze, "telah menerima laporan intelijen tentang keberadaan Tan Malaka di wilayah Kediri. Laporan-laporan ini mungkin berasal dari informan-informan lokal yang melihat pergerakan rombongan Tan Malaka, atau mungkin dari penyadapan komunikasi. Begitu ia memiliki informasi yang cukup, Soerachmad mengirim pasukan untuk mengepung wilayah Selopanggung. Operasi ini direncanakan dengan hati-hati untuk menghindari kebocoran informasi. Pasukan dikirim dalam kelompok-kelompok kecil, dengan instruksi untuk berkumpul di titik yang telah ditentukan pada waktu yang telah ditentukan. Tujuannya adalah untuk menangkap Tan Malaka hidup-hidup, atau, jika penangkapan tidak mungkin, untuk mengeksekusinya di tempat" (Poeze, Jilid V 180).
Penangkapan
Pada pagi hari tanggal 21 Februari 1949, tanggal yang telah menjadi legenda dalam sejarah gerakan kiri Indonesia, pasukan TNI bergerak. Poeze merekonstruksi kronologi peristiwa ini sebagai berikut:
Versi resmi TNI, yang dirilis setelah kejadian, menyatakan bahwa Tan Malaka tewas dalam baku tembak ketika mencoba melarikan diri. Poeze dengan tegas menolak versi ini. "Tidak ada bukti," tulisnya, "yang mendukung klaim bahwa terjadi baku tembak. Semua saksi mata yang berhasil saya wawancarai, termasuk penduduk desa yang menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan, mengatakan bahwa Tan Malaka menyerah tanpa perlawanan. Klaim tentang baku tembak adalah fabrikasi yang dirancang untuk menutupi fakta bahwa Tan Malaka dieksekusi dalam keadaan tidak berdaya. Ini adalah upaya untuk memberikan legitimasi hukum pada pembunuhan di luar hukum" (Poeze, Jilid V 200).
"Setelah ditangkap," tulis Poeze, "Tan Malaka dibawa ke tepi sebuah sungai kecil di dekat desa Selopanggung. Tangannya diikat di belakang punggungnya. Ia dikawal oleh beberapa prajurit TNI yang dipimpin oleh seorang perwira, identitas perwira ini masih diperdebatkan, tetapi beberapa saksi menyebutkan nama Kapten Soekotjo dari Batalyon Sikatan. Di tepi sungai, Tan Malaka dieksekusi. Ia ditembak dari jarak dekat, mungkin di belakang kepala atau di dada. Mayatnya kemudian dibuang ke sungai, yang arusnya cukup deras untuk membawanya pergi. Tidak ada upacara, tidak ada penghormatan, tidak ada catatan resmi. Seorang pemimpin besar revolusi Indonesia dibunuh seperti penjahat biasa, dan jasadnya dibuang seperti sampah" (Poeze, Jilid V 210).
Poeze menekankan bahwa eksekusi ini bukanlah tindakan spontan yang dilakukan oleh prajurit yang kehilangan kendali. "Ini adalah eksekusi yang direncanakan," tulisnya. "Para prajurit yang menangkap Tan Malaka telah menerima instruksi yang jelas: Tan Malaka tidak boleh dibawa hidup-hidup. Mereka tidak membawanya ke markas untuk diinterogasi, mereka tidak menghubungi atasan untuk meminta instruksi lebih lanjut, mereka tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Mereka membawanya langsung ke tempat eksekusi dan menembaknya. Ini menunjukkan bahwa keputusan untuk membunuh Tan Malaka telah dibuat sebelumnya, mungkin oleh Soerachmad sendiri, mungkin oleh komando yang lebih tinggi. Tan Malaka tidak ditangkap; ia dieksekusi" (Poeze, Jilid V 215).
Berdasarkan kesaksian-kesaksian yang dikumpulkannya, Poeze mengidentifikasi beberapa nama yang muncul secara konsisten dalam narasi tentang eksekusi Tan Malaka. Pertama, Letnan Kolonel Soerachmad, komandan Brigade V TNI, yang bertanggung jawab atas wilayah Kediri dan yang telah memberikan perintah untuk mengepung Selopanggung. Kedua, Kapten Soekotjo, komandan Batalyon Sikatan, yang konon memimpin langsung pasukan yang mengepung dan mengeksekusi Tan Malaka. Ketiga, beberapa perwira TNI lainnya yang namanya muncul dalam kesaksian-kesaksian tetapi tidak bisa dikonfirmasi secara independen.
"Pertanyaan yang paling sulit," tulis Poeze, "adalah apakah Soerachmad bertindak atas inisiatif sendiri atau atas perintah dari atasan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Soerachmad telah berkonsultasi dengan markas besar TNI di Jawa Timur sebelum mengambil tindakan terhadap Tan Malaka. Sumber lain menyebutkan bahwa perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka datang dari Kolonel Sungkono, komandan Divisi I TNI, atau bahkan dari Jenderal Soedirman sendiri. Tetapi tidak ada dokumen tertulis yang bisa mengkonfirmasi klaim-klaim ini. Dokumen-dokumen yang mungkin berisi perintah semacam itu telah dihancurkan, atau tetap dirahasiakan, atau tidak pernah ada sama sekali. Yang kita miliki hanyalah kesaksian-kesaksian lisan yang saling bertentangan dan tidak bisa diverifikasi" (Poeze, Jilid V 235).
Menurut rekonstruksi Poeze, setelah dieksekusi, jasad Tan Malaka dibuang ke sebuah sungai kecil, kemungkinan anak Sungai Brantas, yang mengalir di dekat desa Selopanggung. "Para saksi," tulisnya, "menggambarkan bagaimana arus sungai membawa jasad itu pergi. Beberapa saksi mengatakan bahwa jasad itu tersangkut di bebatuan beberapa ratus meter dari tempat eksekusi, dan bahwa para prajurit kemudian mendorongnya agar terus hanyut. Yang lain mengatakan bahwa jasad itu langsung menghilang di bawah permukaan air dan tidak pernah terlihat lagi. Dalam kedua kasus, jelas bahwa tidak ada upaya untuk menguburkan jasad Tan Malaka dengan layak. Ia dibiarkan hanyut di sungai, mangsanya bagi ikan-ikan dan arus yang tak kenal ampun" (Poeze, Jilid V 275).
Mengapa jasad Tan Malaka tidak diambil dan dikuburkan oleh para pengikutnya? Poeze menjelaskan bahwa situasi pada saat itu sangat berbahaya. "Para pengikut Tan Malaka yang selamat dari pengepungan," tulisnya, "sedang dalam pelarian. Mereka tidak bisa kembali ke tempat eksekusi tanpa mengambil risiko ditangkap atau dibunuh. Penduduk desa, yang menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan, terlalu takut untuk mendekat. Pasukan TNI masih berada di area itu, dan siapa pun yang mencoba untuk mengambil jasad Tan Malaka akan dicurigai sebagai simpatisan dan mungkin akan mengalami nasib yang sama. Akibatnya, jasad Tan Malaka dibiarkan hanyut, hilang selamanya di perairan Jawa Timur" (Poeze, Jilid V 280).
"Pada tahun 1950-an," tulisnya, "ketika situasi politik sudah mulai stabil, beberapa pengikut Tan Malaka kembali ke Selopanggung untuk mencari jasad pemimpin mereka. Mereka mewawancarai penduduk desa, menyusuri sungai, dan menggali di tempat-tempat yang dicurigai sebagai kuburan. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Sungai telah mengubah alirannya, dan tidak ada yang bisa memastikan di mana tepatnya Tan Malaka dieksekusi dan di mana jasadnya dibuang. Pencarian ini akhirnya ditinggalkan, dan para pengikut Tan Malaka harus menerima kenyataan bahwa pemimpin mereka telah hilang tanpa jejak" (Poeze, Jilid V 290).
Pada tahun 1960-an, rezim Orde Baru yang anti-komunis menutup semua pembicaraan tentang Tan Malaka. Mencari jasadnya menjadi tindakan yang mencurigakan secara politik, dan mereka yang masih peduli tentang nasib Tan Malaka harus menyimpan kepedulian mereka dalam diam. "Selama lebih dari tiga dekade," tulis Poeze, "Tan Malaka adalah tokoh yang tidak bisa disebutkan namanya. Mencari jasadnya adalah tindakan subversif. Akibatnya, misteri jasadnya tetap tidak terpecahkan, dan legenda tentang kuburannya yang hilang semakin berkembang" (Poeze, Jilid V 295).
Makam Palsu dan Klaim Tak Terverifikasi
Dalam ketiadaan jasad yang sebenarnya, beberapa klaim tentang kuburan Tan Malaka muncul dari waktu ke waktu. Poeze menyelidiki klaim-klaim ini dan menemukan bahwa semuanya tidak berdasar.
"Yang paling terkenal," tulisnya, "adalah apa yang disebut 'Makam Tan Malaka' di Selopanggung, yang sekarang menjadi tempat ziarah bagi para pengagumnya. Makam ini dibangun pada tahun 1970-an oleh penduduk setempat dan para veteran yang ingin menghormati Tan Malaka. Tetapi tidak ada bukti bahwa jasad Tan Malaka benar-benar berada di makam ini. Para pembangunnya sendiri mengakui bahwa mereka tidak tahu di mana jasad Tan Malaka berada, dan bahwa makam itu hanyalah simbol, sebuah tempat untuk mengenang, bukan kuburan yang sebenarnya. Poeze, setelah mengunjungi makam ini beberapa kali, menyimpulkan bahwa 'makam ini adalah monumen untuk ketiadaan, sebuah pengingat bahwa Tan Malaka telah dihilangkan tidak hanya dari kehidupan, tetapi juga dari kematian. Ia tidak memiliki kuburan karena ia tidak seharusnya mati, atau setidaknya, tidak dengan cara ini, tidak di tangan bangsanya sendiri'" (Poeze, Jilid V 310).
Klaim-klaim lain tentang kuburan Tan Malaka muncul di tempat-tempat lain, di Sumatera Barat, di Jakarta, bahkan di Filipina. Poeze menyelidiki semuanya dan menemukan bahwa tidak ada yang didukung oleh bukti yang kredibel. "Semua klaim ini," tulisnya, "adalah produk dari kerinduan, bukan dari fakta. Orang-orang ingin percaya bahwa Tan Malaka dimakamkan dengan layak, bahwa jasadnya tidak hilang begitu saja. Tetapi keinginan tidak menciptakan realitas. Fakta yang dingin adalah bahwa Tan Malaka dieksekusi dan jasadnya dibuang ke sungai, dan tidak ada yang tahu di mana ia berakhir. Mungkin jasadnya tersangkut di suatu tempat di dasar sungai dan tertutup oleh lumpur selama puluhan tahun. Mungkin ia hanyut sampai ke laut dan hilang selamanya. Kita tidak tahu, dan kita mungkin tidak akan pernah tahu" (Poeze, Jilid V 315).
Hilangnya jasad Tan Malaka juga memiliki implikasi politik yang mendalam. "Dengan menghilangkan jasadnya," tulis Poeze, "para pembunuhnya tidak hanya membunuh orangnya, tetapi juga berusaha untuk membunuh ingatan tentangnya. Tanpa kuburan, tidak ada tempat untuk berziarah. Tanpa tempat berziarah, tidak ada fokus untuk kenangan kolektif. Tanpa kenangan kolektif, Tan Malaka bisa dihapuskan dari sejarah. Ini adalah proyek yang dimulai oleh para pembunuhnya di Selopanggung pada tahun 1949, dan dilanjutkan oleh rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade. Mereka hampir berhasil. Tetapi mereka tidak sepenuhnya berhasil, karena ide-ide Tan Malaka, yang tertulis dalam buku-bukunya, tidak bisa dibuang ke sungai. Selama buku-bukunya masih ada, hantunya akan terus menghantui republik yang ia dirikan" (Poeze, Jilid V 325).
Teori-teori Tanggung Jawab
Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan Tan Malaka telah menjadi subjek perdebatan selama puluhan tahun. Poeze, dengan kehati-hatian metodologisnya yang khas, tidak memberikan jawaban yang definitif, tetapi ia menyajikan bukti-bukti yang mendukung beberapa teori yang berbeda.
Teori pertama, dan yang paling banyak diterima, adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka diperintahkan oleh Letnan Kolonel Soerachmad, komandan Brigade V TNI, yang bertindak atas inisiatif sendiri. "Soerachmad," tulis Poeze, "adalah seorang perwira garis keras yang sangat anti-komunis. Ia telah terlibat dalam penumpasan pemberontakan Madiun, dan ia melihat Tan Malaka sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Menurut beberapa saksi, Soerachmad telah memutuskan untuk mengeksekusi Tan Malaka segera setelah ia menerima laporan tentang keberadaannya di wilayah Kediri. Ia tidak menunggu instruksi dari atasan; ia mengambil keputusan sendiri, percaya bahwa ia bertindak demi kepentingan revolusi. Jika teori ini benar, maka pembunuhan Tan Malaka adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang komandan lokal yang merasa bahwa ia memiliki otoritas untuk menjadi hakim, juri, dan algojo" (Poeze, Jilid V 340).
Teori kedua adalah bahwa Soerachmad menerima perintah, atau setidaknya persetujuan diam-diam, dari markas besar TNI di Jawa Timur, yang dipimpin oleh Kolonel Sungkono. "Sungkono," tulis Poeze, "adalah komandan Divisi I TNI, yang bertanggung jawab atas seluruh Jawa Timur. Ia adalah seorang perwira senior yang memiliki hubungan langsung dengan Jenderal Soedirman. Jika Sungkono memberikan perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka, maka pembunuhan itu bukanlah inisiatif lokal, melainkan operasi yang disetujui di tingkat komando regional. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sungkono telah mengeluarkan instruksi lisan kepada Soerachmad untuk 'menyelesaikan masalah Tan Malaka', sebuah eufemisme yang mungkin berarti penangkapan, tetapi mungkin juga berarti eksekusi" (Poeze, Jilid V 350).
Teori ketiga, yang paling kontroversial, adalah bahwa perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka datang dari Jenderal Soedirman sendiri. "Soedirman," tulis Poeze, "adalah anti-komunis yang gigih. Ia telah mendukung penumpasan pemberontakan Madiun, dan ia melihat Tan Malaka sebagai ancaman terhadap persatuan TNI. Pertemuan antara Soedirman dan Sabirin, di mana Soedirman menolak untuk melindungi Tan Malaka, menunjukkan bahwa Soedirman tidak ingin Tan Malaka berada di wilayah yang berada di bawah komandonya. Apakah ini berarti Soedirman secara aktif menginginkan Tan Malaka dibunuh? Tidak ada bukti langsung yang mendukung kesimpulan ini. Tetapi ada bukti tidak langsung yang cukup untuk membuat teori ini layak dipertimbangkan. Soedirman adalah panglima tertinggi; semua operasi militer di Jawa Timur pada akhirnya berada di bawah otoritasnya. Sulit untuk percaya bahwa seorang komandan lokal seperti Soerachmad akan berani mengeksekusi seorang tokoh nasional seperti Tan Malaka tanpa setidaknya mengetahui bahwa atasannya tidak akan menentang" (Poeze, Jilid V 360).
Teori keempat, yang paling spekulatif, adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka disetujui, atau bahkan diperintahkan, oleh para pemimpin politik yang ditahan di pengasingan. "Soekarno dan Hatta," tulis Poeze, "berada di pengasingan di Bangka ketika Tan Malaka dibunuh. Mereka tidak memiliki kendali langsung atas operasi militer di Jawa. Tetapi beberapa sumber mengklaim bahwa Soekarno, sebelum ditangkap, telah memberikan instruksi kepada para komandan militer untuk 'menyingkirkan elemen-elemen yang mengancam persatuan', instruksi yang bisa ditafsirkan sebagai izin untuk mengeksekusi Tan Malaka. Sumber-sumber ini sangat spekulatif dan tidak didukung oleh bukti dokumenter. Saya tidak bisa mengkonfirmasi atau membantahnya" (Poeze, Jilid V 370).
Poeze juga skeptis terhadap teori yang melibatkan Hatta. "Hatta," tulisnya, "adalah seorang demokrat konstitusional yang percaya pada supremasi hukum. Ia telah menyetujui penangkapan Tan Malaka pada tahun 1946, tetapi penangkapan itu dilakukan melalui prosedur hukum, meskipun prosedur itu tidak adil. Mengeksekusi Tan Malaka tanpa pengadilan bertentangan dengan semua prinsip yang diyakini oleh Hatta. Saya tidak bisa membayangkan Hatta memberikan persetujuannya untuk pembunuhan di luar hukum" (Poeze, Jilid V 385).
Kisah terbunuhnya Tan Malaka dan misteri jasadnya yang hilang adalah luka yang belum sembuh dalam sejarah Indonesia. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan, kekerasan, dan penghapusan ingatan. Tetapi ini juga kisah tentang ketahanan ide. Meskipun jasadnya tidak pernah ditemukan, meskipun makamnya kosong, ide-ide Tan Malaka terus hidup. Buku-bukunya terus dibaca, pemikirannya terus dipelajari, dan namanya terus disebut oleh mereka yang merindukan Indonesia yang lebih adil. Dalam pengertian ini, Tan Malaka tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menghilang, seperti yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya, menunggu saat yang tepat untuk kembali.
Poeze juga merefleksikan apa yang mungkin terjadi jika hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo tidak hancur. "Jika aliansi ini bertahan," tulisnya, "mungkin sejarah Indonesia akan berbeda. Mungkin kiri Indonesia akan memiliki basis organisasi yang cukup kuat untuk bertahan dari pembersihan tahun 1965. Mungkin Tan Malaka akan menjadi pemimpin yang diakui, bukan martir yang dilupakan. Mungkin visinya tentang sosialisme Indonesia, yang menggabungkan Marxisme dengan nasionalisme dan penghormatan terhadap Islam, akan menjadi arus utama dalam politik Indonesia, bukan sekadar catatan kaki dalam buku-buku sejarah. Tetapi sejarah tidak mengenal 'mungkin.' Yang kita miliki hanyalah fakta-fakta yang dingin: Tan Malaka terbunuh, Pesindo dibubarkan, dan gerakan kiri Indonesia dihancurkan. Yang tersisa hanyalah kenangan, dan bahkan kenangan itu telah dimanipulasi dan didistorsi oleh rezim-rezim yang berkuasa" (Poeze, Jilid III 695).
Akhirnya, Poeze menekankan bahwa studi tentang hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. "Kita mempelajari sejarah," tulisnya, "bukan hanya untuk mengetahui apa yang telah terjadi, tetapi juga untuk belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Konflik antara Tan Malaka dan Pesindo mengajarkan kita tentang bahaya-bahaya sektarianisme dalam gerakan progresif, tentang pentingnya mengelola perbedaan-perbedaan dengan cara yang konstruktif, dan tentang konsekuensi-konsekuensi tragis dari membiarkan kecurigaan dan ambisi pribadi menghancurkan solidaritas. Pelajaran-pelajaran ini relevan tidak hanya untuk Indonesia, tetapi untuk semua gerakan progresif di seluruh dunia. Jika kita bisa belajar dari tragedi Tan Malaka dan Pesindo, mungkin kematian mereka tidak akan sia-sia" (Poeze, Jilid III 700).
Melalui lensa Harry A. Poeze, kita tidak melihat Tan Malaka sebagai hantu tanpa cela, melainkan sebagai aristokrat pikiran yang kesepian. Ia adalah manusia yang paling rajin menulis di antara para revolusioner, namun paling senyap dalam narasi nasional. Dengan memburu kertas-kertas yang ia tinggalkan, Poeze tidak berusaha memujakan Tan Malaka; ia hanya berusaha mengembalikan suara seseorang yang telah ditenggelamkan oleh suara tembakan di Selopanggung dan kebisingan politik Orde Baru.
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I: 1897-1925. PT Pustaka Utama Grafiti, 1988.
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Keistimewaan buku ini terletak pada penekanan dimensi politik pemikiran Tan Malaka. Poeze tidak sekadar merekam kronologi, melainkan membedah gagasan-gagasan radikal: Republik Indonesia yang harus diproklamasikan sejak 1925, konsep “Merdeka 100 Persen”, federalisme dan sosialisme ala Indonesia, kritik terhadap kapitalisme dan imperialisme, serta polemiknya dengan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Rekonstruksi ini menampilkan Tan Malaka sebagai seorang realis yang menawarkan jalan terjal namun jelas menuju kedaulatan rakyat.
Namun, sebagaimana diisyaratkan oleh judul salah satu karya Poeze, “Verguisd en vergeten” (Dihujat dan Dilupakan), kehidupan Tan Malaka berakhir tragis: ia ditembak mati di kaki Gunung Wilis pada 1949, tanpa pengadilan, oleh bangsanya sendiri yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ironi sejarah ini menjadi luka abadi yang dirawat oleh buku ini, bukan untuk menebar dendam, melainkan untuk memulihkan ingatan dan keadilan. Dengan menyajikan bukti-bukti yang teliti, Harry A. Poeze seakan menuntun kita menyaksikan sebuah persidangan sejarah yang tak pernah terjadi.
Saya mengagumi dedikasi Poeze yang memadukan kecerdasan, keberanian, dan ketekunan. Melacak jejak seorang “hantu” revolusi yang sengaja dihapus dari catatan resmi menuntut lebih dari sekadar metode akademis; ia menuntut kecintaan pada kebenaran. Hasilnya, buku ini adalah harta karun bagi siapa pun yang ingin mengerti Indonesia secara jujur, di luar mitos-mitos rezim.
Akhirnya, saya mengundang para pembaca untuk menyelami buku ini sebagai sebuah perjalanan intelektual. Biarkan narasi yang disusun dengan kedisiplinan tinggi ini membawa Anda berlayar, dan biarkan Tan Malaka berbicara langsung kepada zaman kita yang masih bergulat dengan isu keadilan sosial, kedaulatan nasional, dan integritas perjuangan. Semoga buku ini menjadi suluh yang menerangi salah satu sudut tergelap sejarah bangsa.
Ditulis di kedalaman lautan data, pada suatu fajar di musim panas Tahun Kuda Api, 2026.
Metode Poeze, Menggali Fosil yang Sengaja Dikubur
Sang Arkeolog di Antara Reruntuhan Sejarah
Pada awal dekade 1970-an, ketika Orde Baru masih dengan kukuh menjalankan proyek depolitisasi dan penyeragaman narasi sejarah Indonesia, seorang peneliti muda Belanda mendarat di Jakarta dengan sebuah misi yang ganjil. Ia bukan mencari emas atau rempah, melainkan hantu; sebuah nama yang dibisikkan dengan nada gamang di kalangan veteran kiri yang tersisa: Tan Malaka. Nama peneliti itu adalah Harry A. Poeze. Pada saat itu, Tan Malaka adalah aib bagi rezim, sosok komunis yang terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946, dan secara resmi dikutuk oleh negara. Memilih Tan Malaka sebagai objek studi bukanlah pilihan karier yang menjanjikan. Namun, justru di situlah titik tolak metode Poeze terbentuk. Ia tidak tertarik pada Tan Malaka sebagai ikon romantis yang dinyanyikan dalam lagu-lagu pergerakan bawah tanah. Ia tertarik pada Tan Malaka sebagai teka-teki arsip, sebuah ruang kosong dalam historiografi Indonesia yang hanya bisa diisi bukan melalui pengulangan mitos, melainkan melalui kerja detektif yang dingin dan melelahkan.Bagi Poeze, Tan Malaka bukanlah "pahlawan yang dilupakan" dalam pengertian heroik-tragis yang sentimental. Ia adalah subjek yang "dihilangkan" secara sistematis, baik oleh rezim kolonial yang memburunya, oleh kawan-kawan politiknya yang mengkhianatinya, maupun oleh rezim pasca-kemerdekaan yang mengeksekusinya lalu mengubur ingatan tentangnya. Maka, pertanyaan pertama yang diajukan Poeze bukanlah "Seberapa besarkah jasanya?", melainkan "Di manakah bukti-bukti keberadaannya?" (Poeze, Jilid I 3). Pertanyaan ini menjadi fondasi metodologis dari apa yang kelak menjadi magnum opus-nya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, sebuah proyek biografi yang menghabiskan waktu lebih dari tiga dekade, melintasi empat benua, dan membongkar tumpukan arsip yang selama ini diabaikan atau sengaja disembunyikan.
Poeze memulai proyek ini dari titik nol. Pada tahun 1972, ketika ia pertama kali tiba di Indonesia untuk penelitian disertasinya yang semula berkisar pada pers dan pergerakan nasional, ia dihadapkan pada realitas pahit: hampir tidak ada arsip Tan Malaka yang tersedia di ruang publik Indonesia. Negara telah membersihkannya. Buku-bukunya, seperti Madilog dan Dari Penjara ke Penjara, beredar secara sembunyi-sembunyi, difotokopi dari edisi lama yang sudah menguning. Dalam pengantarnya untuk jilid pertama biografinya, Poeze menulis, "Jejak Tan Malaka seolah-olah telah diuapkan oleh sejarah resmi. Untuk menemukannya kembali, saya harus menjadi seorang pemburu, bukan hanya pemburu dokumen, tetapi juga pemburu ingatan yang tersisa" (Jilid I 5). Kalimat ini menegaskan bahwa metodologi Poeze adalah metodologi keterpaksaan; ia tidak bisa duduk manis di perpustakaan dan membaca arsip yang tersusun rapi. Ia harus keluar, mewawancarai, membujuk, dan mengais-ngais serpihan kertas yang nyaris musnah.
Tahap Pertama Berburu Ingatan Lisan di Ujung Senja
Langkah pertama Poeze adalah langkah yang paling manusiawi namun paling diburu waktu: menemui para saksi hidup yang pernah berinteraksi langsung dengan Tan Malaka. Ini adalah sebuah balapan melawan kematian. Pada awal 1970-an, banyak veteran revolusi yang mengenal Tan Malaka, baik sebagai kawan, lawan, atau bawahan, masih hidup, tetapi usia mereka sudah lanjut dan ingatan mereka mulai memudar. Poeze melakukan perjalanan ke Selopanggung, Kediri, tempat Tan Malaka dieksekusi dan dimakamkan secara darurat. Di sana, di lereng Gunung Wilis yang sunyi, ia bertemu dengan mantan prajurit-prajurit Pembela Proklamasi yang dipimpin oleh Mayor Sabirin, serta penduduk desa yang menjadi saksi bisu detik-detik terakhir Tan Malaka.
Wawancara-wawancara ini adalah sumber primer yang krusial, tetapi sekaligus problematis. Poeze sangat menyadari bahwa ingatan manusia bersifat rentan terhadap romantisasi dan penyimpangan. Dalam catatan metodologisnya, ia menegaskan perlunya memperlakukan kesaksian lisan bukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai petunjuk awal yang harus diverifikasi dengan dokumen tertulis. "Wawancara dengan para veteran sering kali menghasilkan narasi yang heroik, di mana narasumber memposisikan diri sebagai pengawal setia terakhir sang pemimpin. Saya mencatat semuanya dengan saksama, tetapi saya tidak akan mempercayainya sebelum ada bukti arsip yang mengonfirmasi" (Poeze, Jilid II 10). Pendekatan ini menempatkan Poeze sebagai penyeimbang antara tradisi lisan dan positivisme arsip. Ia menghormati para saksi sebagai manusia, tetapi ia tidak membiarkan emosi mengaburkan penilaiannya sebagai sejarawan. Baginya, ingatan adalah tambang, bukan emas yang sudah jadi.
Hasil dari wawancara di Selopanggung dan daerah lain memberikan Poeze gambaran awal yang kontradiktif. Ada yang menggambarkan Tan Malaka sebagai sosok zuhud yang tidur di lumbung padi dan menolak fasilitas, sementara yang lain mengingatnya sebagai pemimpin yang keras kepala dan sulit diajak kompromi. Satu fragmen penting yang diperoleh Poeze adalah kesaksian tentang bagaimana Tan Malaka, di masa-masa terakhirnya yang paling terdesak, masih terus menulis di buku-buku tulis kecil yang selalu dibawanya. Kesaksian ini menjadi kunci yang mengarahkan Poeze ke satu hipotesis besar: Tan Malaka adalah seorang manusia kertas. Jika jasadnya dilenyapkan, pikirannya mungkin masih berserakan di suatu tempat dalam bentuk tulisan. Hipotesis inilah yang kemudian mendorong Poeze keluar dari Indonesia menuju labirin arsip kolonial di Eropa.
Tahap Kedua Arsip Kolonial di Den Haag dan London
Jika wawancara adalah pembuka jalan, maka arsip kolonial adalah inti dari pekerjaan detektif Poeze. Tujuan pertamanya adalah Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda) di Den Haag. Di sinilah tersimpan arsip Kementerian Koloni (Ministerie van Koloniën) dan arsip Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Bagi Poeze, ruang baca di Den Haag adalah tambang emas yang gelap. Di antara ribuan bundel laporan tentang perdagangan, pajak, dan administrasi, ia harus mencari jarum dalam jerami: dokumen-dokumen yang berkaitan dengan seorang agitator komunis yang sejak tahun 1922 telah dinyatakan sebagai buronan kelas satu oleh pemerintah kolonial.
Di sinilah konsep "manusia kertas" yang diyakini Poeze menemukan pembenaran empirisnya. Tan Malaka tidak meninggalkan rumah mewah, foto-foto keluarga, atau benda pusaka. Yang ia tinggalkan hanyalah jejak-jejak reaktif dari aparat yang memburunya: laporan intelijen, surat edaran penangkapan, fotokopi paspor palsu, dan transkrip interogasi terhadap kawan-kawan seperjuangannya yang tertangkap. Ironisnya, rezim kolonial yang berusaha memusnahkan Tan Malaka justru menjadi kurator paling teliti dari detail kehidupannya. Poeze menulis, "Tan Malaka di mata Polisi Kolonial adalah sebuah berkas yang tidak pernah bisa ditutup. Setiap kali mereka mengira telah membunuhnya atau menangkapnya, ia muncul kembali dengan nama samaran baru di tempat yang berbeda. Dari sinilah saya, sebagai peneliti yang lahir terlambat, justru mendapat keuntungan: semakin panik polisi mencari Tan Malaka, semakin tebal pula arsip yang mereka hasilkan" (Jilid I 9).
Arsip-arsip di Den Haag mengungkapkan sisi paling gelap dari pelarian Tan Malaka. Poeze menemukan laporan persinggahan Tan di Filipina dengan nama samaran Elias Fuentes, lengkap dengan deskripsi fisiknya: "Tinggi sekitar 1,65 meter, kulit sawo matang, berjanggut tipis, dan berbicara dengan logat Tagalog yang fasih" (Poeze, Jilid II 156). Temuan ini mengejutkan karena menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak hanya sekadar bersembunyi, tetapi juga berasimilasi secara mendalam dengan masyarakat lokal. Di London, di Public Record Office (sekarang The National Archives), Poeze memburu arsip intelijen Inggris (MI5 dan Secret Intelligence Service) yang melacak pergerakan Tan Malaka di Asia Tenggara. Sebagai buronan Komintern yang dicurigai akan memicu pemberontakan di koloni-koloni Asia, Tan Malaka masuk dalam radar intelijen Kerajaan Inggris. Dari sini, Poeze mendapat konfirmasi silang (cross-reference) yang sangat berharga. Laporan agen Inggris di Shanghai pada tahun 1930-an, misalnya, menyebutkan pertemuan rahasia Tan Malaka dengan Alimin, tokoh PKI yang telah berkhianat, yang membenarkan bahwa Tan sempat kembali ke Tiongkok untuk berhubungan dengan jaringan komunis internasional.
Poeze menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membaca korespondensi berkode antara dinas intelijen kolonial. Ia harus mempelajari cara membaca "bahasa birokrasi ketakutan" ini, di mana "ekstremis" adalah kata ganti untuk komunis, dan "barang cetakan berbahaya" adalah sebutan untuk pamflet-pamflet Tan Malaka. Dalam satu bundel laporan yang berdebu, Poeze menemukan dokumen paling berharga: fotokopi pamflet Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis Tan Malaka di Kanton pada tahun 1925, yang disita oleh agen rahasia Belanda di Singapura. Penemuan ini sangat penting karena membuktikan bahwa Tan Malaka telah memproklamasikan gagasan Republik Indonesia jauh sebelum Soekarno-Hatta melakukannya. "Bagi saya, menemukan pamflet ini di antara laporan polisi adalah momen eureka. Di sini, seorang agen kolonial tanpa sadar telah mengawetkan bukti kecerdasan visioner Tan Malaka, yang seharusnya dimusnahkannya," kenang Poeze (Poeze, Jilid I 22).
Tahap Ketiga Peti Pandora di Moskow, Arsip Komintern
Namun, kunci yang membuka sebagian besar misteri tentang masa-masa internasional Tan Malaka tidak terletak di Belanda atau Inggris. Kunci itu tersimpan di Moskow, di Pusat Penyimpanan dan Studi Dokumen Sejarah Kontemporer Rusia (RGASPI) , bekas arsip Partai Komunis Uni Soviet dan Komintern. Sebelum runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991, arsip ini tertutup rapat bagi para peneliti, kecuali segelintir sejarawan resmi partai. Poeze, yang memulai penelitiannya di era Perang Dingin, semula hanya bisa menduga-duga isi arsip ini berdasarkan memoar-memoar yang telah disensor. Ia tahu Tan Malaka pernah menjadi kandidat kuat untuk memimpin Biro Komintern untuk Asia Timur, tetapi detailnya sangat kabur. "Saya menatap peta Moskow di atlas, membayangkan ribuan dokumen tertidur di sana, dan saya tidak bisa menyentuhnya. Itu adalah siksaan bagi seorang peneliti," tulisnya (Jilid II 5).Kejatuhan Uni Soviet membuka pintu yang selama ini terkunci. Poeze adalah salah satu sejarawan pertama dari luar Rusia yang menyelami arsip RGASPI untuk mencari jejak tokoh-tokoh komunis Asia. Di Moskow, dalam suhu yang membekukan dan birokrasi arsip yang masih kaku, Poeze menemukan "peti harta karun" intelektual. Ia menemukan laporan-laporan asli yang ditulis tangan oleh Tan Malaka untuk Komintern, risalah rapat Komite Eksekutif yang dihadirinya, dan yang paling penting, surat-surat polemiknya dengan para pemimpin komunis Eropa. Dokumen-dokumen ini mengonfirmasi bahwa Tan Malaka bukan sekadar anggota biasa; ia adalah seorang teoretikus yang berani.
Satu temuan yang sangat direkankan oleh Poeze adalah pidato Tan Malaka di depan Kongres Komintern Keempat pada tahun 1922. Dalam pidatonya, Tan Malaka dengan tajam mengkritik strategi komunis Eropa yang terlalu bersandar pada buruh industri, dan menyerukan perhatian khusus pada potensi revolusioner kaum tani di Asia, serta, yang paling menarik, potensi "Pan-Islamisme" sebagai sekutu taktis melawan imperialisme. Poeze mensitir arsip ini untuk menunjukkan bahwa Tan Malaka adalah seorang Marxis yang heterodoks, yang tidak takut berselisih paham dengan para petinggi Moskow. "Di Moskow, saya menemukan bahwa Tan Malaka bukanlah sekadar murid Marx yang patuh. Ia adalah seorang pemikir yang mencoba menyesuaikan Marxisme dengan kondisi konkret Asia, dan karena itu ia dianggap 'menyimpang' oleh kawan-kawannya sendiri" (Poeze, Jilid II 240). Perspektif ini penting untuk memahami mengapa Tan Malaka kemudian berpisah jalan dengan PKI yang dipimpin Alimin dan Musso, yang dianggapnya terlalu tunduk pada garis komando Stalin.
Dari arsip RGASPI ini pula, Poeze mampu merekonstruksi secara rinci jaringan bawah tanah Tan Malaka di seluruh Asia. Ia tidak hanya menjadi buronan Belanda, tetapi juga menjadi target intelijen Inggris, Prancis (di Indochina), dan Amerika (di Filipina). "Dengan membaca laporan Komintern dan laporan intelijen kolonial secara berdampingan, saya merasa seperti membaca kisah petualangan nyata yang luar biasa: seorang guru dari Sumatera berhasil mempermainkan dinas rahasia beberapa kekuatan imperialis sekaligus, hanya bermodalkan kecerdasan dan kemampuan bahasanya yang luar biasa," tulis Poeze (Jilid II 246). Metode membaca dokumen secara "berdampingan" ini adalah kunci dari keahlian Poeze: ia tidak percaya pada satu narasi tunggal. Ia menempatkan klaim Tan Malaka tentang dirinya sendiri, klaim Komintern, dan klaim intelijen kolonial dalam satu meja, lalu menyisir perbedaan dan persamaannya untuk menemukan fakta yang paling mungkin.
Tahap Keempat Harta Karun di Singapura dan Manila
Setelah melacak Tan Malaka melalui arsip-arsip negara dan partai, Poeze memasuki fase paling sulit dan paling pribadi dari penelitiannya: memburu manuskrip-manuskrip yang ditulis Tan Malaka dalam pengasingan. Fase ini membawanya ke lorong-lorong sempit Pecinan di Singapura dan ke komunitas eksil Filipina. Poeze tahu bahwa Tan Malaka adalah penulis yang luar biasa produktif, terutama selama masa-masa pelariannya yang sepi. Madilog ditulisnya di Rawajati, dekat Jakarta, tetapi banyak naskah lain yang ditulis di luar negeri. Ke manakah perginya kertas-kertas itu?
Jawabannya, menurut informasi yang dikumpulkan Poeze dari jaringan veteran, terletak pada solidaritas komunitas Tionghoa perantauan. Selama bertahun-tahun, Tan Malaka sering kali menyamar sebagai guru bahasa Inggris dan Mandarin untuk anak-anak pedagang Tionghoa. Hubungannya yang erat dengan komunitas ini membuatnya menitipkan banyak tulisan kepada mereka. Di Singapura, Poeze harus membangun kepercayaan dengan para pedagang tua yang menyimpan koper-koper berisi dokumen berbahasa Indonesia, Belanda, dan Mandarin. Poeze menggambarkan pengalamannya: "Saya duduk di sebuah toko obat di Singapura, minum teh, dan mendengarkan cerita tentang 'Mr. Tan' yang eksentrik. Kemudian, dari loteng toko yang berdebu, diturunkan sebuah kardus berisi tulisan tangan. Di sanalah saya menemukan bagian-bagian dari novel semi-otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, yang belum pernah diterbitkan" (Poeze, Jilid II 12).
Di Manila, ceritanya lebih dramatis. Poeze melacak teman-teman lama Tan Malaka dari masa ia bersembunyi di Filipina dengan nama samaran Elias Fuentes. Di sini, Poeze menemukan bukti bahwa Tan Malaka tidak hanya menulis teks politik, tetapi juga esai-esai tentang budaya dan pendidikan. Salah satu temuan yang paling mengharukan bagi Poeze adalah surat-surat pribadi yang menunjukkan kemanusiaan Tan Malaka: bagaimana ia merindukan tanah air, bagaimana ia merayakan ulang tahunnya yang ke-40 dalam kesendirian, dan bagaimana ia berjuang melawan penyakit paru-paru yang dideritanya tanpa akses ke dokter yang layak. "Di Manila, saya tidak hanya menemukan Tan Malaka sang revolusioner. Saya menemukan Tan Malaka sang manusia, yang kesepian, yang menulis bukan hanya untuk massa yang abstrak, tetapi juga untuk menjaga kewarasannya sendiri. Menulis adalah caranya untuk tidak mati sebelum waktunya," refleksi Poeze (Jilid II 17).
Proses pengumpulan manuskrip ini menunjukkan dedikasi Poeze yang melampaui kerja akademis biasa. Ia tidak hanya mengandalkan jalur resmi perpustakaan atau arsip negara. Ia menjadi seperti Tan Malaka itu sendiri: seorang penjelajah yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari satu informan ke informan lain, mengikuti jejak kertas yang hampir punah. Dengan mengumpulkan sobekan-sobekan kertas, buku tulis yang sudah dimakan rayap, dan catatan-catatan kecil, Poeze sedang merakit kembali sebuah mozaik kesadaran.
Sintesis Metode "Mendinginkan" Heroisme untuk Menemukan Keagungan Intelektual
Mengapa Poeze memilih metode yang begitu memakan waktu, biaya, dan energi ini? Jawabannya terletak pada filosofi dasarnya tentang historiografi. Poeze sangat menolak penulisan sejarah Indonesia yang terlalu bergantung pada narasi agung yang digerakkan oleh aktor-aktor mitologis. Baginya, Tan Malaka harus diselamatkan dari dua bahaya ekstrem: bahaya pemujaan buta dari para pengagumnya yang melihatnya sebagai nabi yang tidak pernah salah, dan bahaya demonisasi dari rezim yang menjadikannya musuh negara.Metode arsipnya yang ketat adalah alat untuk mencapai objektivitas. Dengan menyajikan fakta-fakta mentah dari laporan intelijen, korespondensi pribadi, dan risalah rapat, Poeze memaksa pembaca untuk melihat Tan Malaka sebagai manusia yang kompleks dan sering kali kontradiktif. "Saya berusaha untuk 'mendinginkan' figur Tan Malaka," tegas Poeze dalam salah satu wawancaranya yang dikutip dalam pengantar bukunya. "Jika kita hanya memujanya sebagai pahlawan tanpa cela, kita tidak akan pernah bisa belajar dari kehebatannya maupun dari kesalahannya. Tugas sejarawan adalah membawa figur sejarah kembali ke suhu normal, sehingga mereka bisa dianalisis secara rasional" (Poeze, Jilid III 15).
Dengan "mendinginkan" Tan Malaka, Poeze justru secara paradoksal memperkuat keagungannya. Di hadapan dokumen-dokumen yang ia sajikan, kita tidak melihat seorang superman yang tak terkalahkan. Kita melihat seorang pria dengan tubuh ringkih dan paru-paru yang rusak, yang terus-menerus dikhianati, yang sering kali gagal dalam manuver politiknya. Namun, dalam kesendirian dan kegagalannya itu, kita menyaksikan keagungan intelektual yang langka: kapasitas untuk terus berpikir, menulis, dan merumuskan strategi di tengah kondisi yang paling tidak manusiawi. Madilog, yang oleh beberapa kritikus dianggap sebagai teks yang kering dan sulit dicerna, dalam perspektif Poeze menjadi bukti ketahanan mental yang luar biasa. "Bahwa seorang buronan yang selalu berpindah-pindah, tanpa akses ke perpustakaan besar, mampu menulis sebuah risalah filosofis yang mencoba menerangkan sains, logika, dan sejarah dari perspektif materialis, adalah sebuah keajaiban intelektual yang hanya bisa dihargai jika kita memahami konteks ekstrem di mana ia ditulis" (Poeze, Jilid II 300).
Dengan demikian, biografi karya Poeze adalah sebuah monumen kertas. Di tengah usaha sistemik negara untuk menghapus Tan Malaka, Poeze datang dengan sekop dan kuas arkeolognya, menggali setiap fragmen yang tersisa. Ia menunjukkan bahwa Tan Malaka bukanlah hantu yang tak bertulang. Ia memiliki substansi, dan substansi itu adalah tulisannya. Setiap pamflet, setiap surat, setiap buku catatan adalah fosil dari pikiran yang menolak untuk menyerah. Pada akhirnya, metode Poeze mengajarkan satu hal fundamental: bahwa kebenaran sejarah tidak pernah ditemukan dalam satu narasi yang bersih dan sudah jadi. Kebenaran sejarah harus direkonstruksi dengan susah payah dari ingatan yang retak dan tinta yang memudar, dan dalam rekonstruksi itulah terletak kemuliaan tertinggi dari pekerjaan seorang sejarawan. Inilah fondasi yang memungkinkan kita untuk melanjutkan ke biografi itu sendiri: sebuah kisah hidup yang tidak hanya diceritakan, tetapi dibuktikan.
Silakan Periksa:
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I: 1897-1925. Diterjemahkan oleh tim penerjemah, PT Pustaka Utama Grafiti, 1988.Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. Diterjemahkan oleh tim penerjemah, PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. (Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014).
Bab 1 Dari Suliki ke Bussum, Akar Seorang Internasionalis (1897–1921)
Menelusuri Jejak yang Hampir Sirna
Ketika Harry A. Poeze memulai penelitiannya tentang Tan Malaka pada awal dekade 1970-an, pertanyaan paling mendasar yang menghantuinya bukanlah tentang kematian sang revolusioner yang tragis di kaki Gunung Wilis, melainkan tentang kelahirannya. Siapakah anak yang lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, pada tanggal 2 Juni 1897 itu? Bagaimana seorang bayi dari dataran tinggi Minangkabau, yang lahir di tengah bentang alam yang subur dan masyarakat yang diikat oleh adat matrilineal yang ketat, dapat bertransformasi menjadi seorang internasionalis yang dalam pelariannya melintasi tiga benua, menguasai delapan bahasa, dan menulis risalah-risalah politik yang kelak mengilhami revolusi? Bagi Poeze, pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar retorika biografis. Mereka adalah fondasi metodologis untuk membongkar lapisan pertama dari teka-teki arsip yang bernama Tan Malaka. "Untuk memahami mengapa ia menjadi seperti yang kita kenal," tulis Poeze dalam jilid pertama magnum opus-nya, "kita harus kembali ke masa sebelum ia menjadi legenda, kembali ke masa ketika ia hanyalah seorang bocah bernama Ibrahim Datuk Sutan Malaka, yang mengirim surat kepada orang tuanya dari sekolah yang jauh" (Jilid I 31).Babak awal kehidupan Tan Malaka ini, dari kelahirannya di Suliki hingga keberangkatannya ke Belanda dan akhirnya kembali ke Hindia pada tahun 1921, sering kali dipadatkan dalam narasi-narasi populer menjadi sekadar prolog singkat sebelum memasuki "aksi sejati" dalam pergerakan politik. Poeze menolak penyederhanaan semacam ini. Baginya, periode formatif ini justru adalah kunci hermeneutis untuk membuka seluruh pemikiran Tan Malaka selanjutnya. Di sinilah, dalam ketegangan antara akar tradisional Minangkabau dan kosmopolitanisme Eropa, antara pendidikan kolonial yang menindas dan pencerahan intelektual yang membebaskan, serta antara identitas "pribumi" yang direndahkan dan identitas "Hindia" yang mulai ia konstruksi, Tan Malaka menempa dirinya menjadi pemikir yang unik. Poeze menegaskan bahwa Tan Malaka bukanlah produk dari satu dunia, melainkan produk dari benturan antar-dunia. "Ia tidak sepenuhnya tercerabut dari akar Minangnya, namun ia juga tidak sepenuhnya larut dalam modernitas Barat. Ia berdiri di ambang pintu, dengan satu kaki di masing-masing dunia, dan dari posisi liminal inilah ia melihat realitas kolonial dengan kejernihan yang langka" (Poeze, Jilid I 33).
Untuk merekonstruksi periode ini, Poeze mengandalkan tiga jenis sumber utama yang masing-masing memberikan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Pertama, korespondensi pribadi Tan Malaka dengan keluarganya di Suliki, yang memberikan jendela langka ke dalam dunia emosional dan psikologis sang tokoh. Kedua, arsip-arsip akademik dari Rijkskweekschool Haarlem, yang mendokumentasikan perkembangan intelektual formalnya dan membantah stigma bahwa Tan hanyalah agitator emosional. Dan ketiga, transkrip pidato-pidato awalnya di hadapan Sarekat Islam Semarang pada tahun 1921, yang menunjukkan bagaimana benih-benih pemikiran politiknya mulai bersemi dan bagaimana ia mulai merumuskan strateginya yang kontroversial: taktik "blok dalam" antara komunisme dan Islam. Ketiga sumber ini, ketika dibaca secara berdampingan sesuai dengan metode khas Poeze, menghasilkan potret tiga dimensi tentang pembentukan seorang internasionalis yang akarnya tertanam kuat di bumi Sumatera, namun ranting-ranting pemikirannya menjangkau ke Moskow, Kanton, dan Manila.
Penemuan yang Tak Terduga
Salah satu kontribusi paling intim dan mengharukan dari penelitian Poeze adalah penemuannya terhadap surat-surat awal yang ditulis oleh Tan Malaka muda kepada keluarganya di Suliki. Surat-surat ini bukanlah dokumen politik atau manifesto ideologis. Mereka adalah artefak personal, ditulis dengan tulisan tangan yang masih kaku dan dalam bahasa Minang yang bercampur dengan Melayu pasar, oleh seorang anak yang untuk pertama kalinya berpisah dari kampung halamannya. Bagi Poeze, nilai historis dari surat-surat ini justru terletak pada keintimannya. "Surat-surat ini memungkinkan kita untuk mendengar suara Tan Malaka sebelum ia menjadi 'Tan Malaka', sebelum ia mengenakan topeng revolusioner. Di sini kita mendengar suara seorang anak yang rindu rumah, yang bingung dengan dunia baru di sekelilingnya, dan yang secara perlahan mulai menyadari bahwa takdirnya akan berbeda dari takdir ayahnya" (Poeze, Jilid I 42).Poeze menemukan korespondensi ini bukan melalui jalur arsip formal, melainkan melalui jaringan keluarga dan kenalan di Sumatera Barat. Beberapa surat disimpan oleh keturunan keluarga besar Datuk Rasyid, ayah Tan Malaka, sebagai pusaka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yang lainnya ditemukan di antara tumpukan kertas yang hampir dibakar oleh kerabat yang ketakutan selama pembersihan anti-komunis tahun 1965-1966. "Setiap surat yang selamat dari pembakaran itu adalah keajaiban kecil," catat Poeze. "Mereka selamat dari panasnya api politik karena diselipkan di balik lemari atau di dalam lipatan Al-Qur'an. Ironisnya, represi Orde Baru terhadap komunisme justru mendorong beberapa keluarga untuk menyembunyikan dokumen-dokumen ini lebih dalam lagi, yang secara tak sengaja melestarikannya untuk ditemukan oleh peneliti yang cukup sabar" (Poeze, Jilid I 45).
Bahasa sebagai Medan Pertempuran Identitas
Analisis Poeze terhadap surat-surat ini sangat teliti, dan salah satu aspek yang paling ia tekankan adalah penggunaan bahasa. Tan Malaka muda menulis dalam bahasa Minang yang fasih, tetapi sejak surat-surat paling awalnya, ditulis sekitar usia sepuluh tahun, saat ia mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rendah Belanda (Hollandsch-Inlandsche School atau HIS) di Payakumbuh, kita sudah dapat melihat infiltrasi kata-kata Belanda ke dalam kosakatanya. Poeze mengidentifikasi ini bukan sekadar fenomena linguistik yang lumrah pada anak-anak pribumi yang dididik dalam sistem kolonial. Ia melihatnya sebagai pertanda awal dari transformasi identitas yang lebih dalam, sebuah transformasi yang akan mencapai puncaknya dua dekade kemudian ketika Tan Malaka menulis Madilog dalam bahasa Indonesia yang sama sekali baru. "Setiap kata Belanda yang disisipkan Tan muda ke dalam suratnya adalah sebuah batu bata kecil dalam pembangunan identitas barunya. Ia tidak lagi sekadar Ibrahim dari Pandan Gadang. Ia mulai menjadi seseorang yang dapat bergerak di antara dua dunia linguistik, dan dengan demikian, dua dunia kultural" (Poeze, Jilid I 51).
Yang menarik perhatian Poeze adalah bagaimana Tan Malaka, bahkan pada usia yang sangat muda, sudah menunjukkan apa yang disebutnya sebagai "bakat linguistik yang luar biasa." Dalam salah satu surat yang diperkirakan ditulis pada tahun 1908, ketika Tan berusia sebelas tahun, ia tidak hanya mencampurkan bahasa Minang dan Belanda, tetapi juga menyisipkan beberapa kata Arab yang ia pelajari dari pengajian Al-Qur'an. "Ibrahim kecil sudah menjadi poliglot yang sedang tumbuh," tulis Poeze. "Ia menulis kepada ibunya tentang pelajaran mengaji, tetapi menggunakan kata 'juffrouw' (nyonya) untuk menyebut guru perempuannya di HIS, dan 'orang kaya' untuk menyebut pejabat kolonial yang ia lihat di Payakumbuh. Dalam satu paragraf suratnya, kita dapat menemukan tiga lapisan peradaban: Islam, Adat, dan Eropa, semuanya bertumpuk dan saling mengomentari" (Jilid I 55).
Cultural Lag dan Kebangkitan Kesadaran Kolonial
Namun, surat-surat itu tidak hanya mendokumentasikan perkembangan linguistik. Mereka juga merekam apa yang oleh Poeze disebut sebagai "keterkejutan kultural" (culture shock) yang dialami oleh Tan Malaka saat ia semakin jauh meninggalkan lingkungan tradisionalnya. Ketika ia pindah dari HIS Payakumbuh ke Kweekschool (Sekolah Guru) di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), dan kemudian ke tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Atas di Bogor, jarak geografis dan kultural dari Suliki semakin membesar. Surat-suratnya mulai berisi deskripsi tentang hal-hal yang asing baginya: kereta api, lampu listrik, toko-toko besar, dan yang paling penting, perilaku orang Belanda terhadap orang pribumi.Poeze menyoroti sebuah surat yang ditulis oleh Tan Malaka pada tahun 1914, ketika ia berusia tujuh belas tahun dan baru beberapa bulan berada di Bogor. Dalam surat ini, Tan muda menceritakan kepada ayahnya tentang sebuah insiden kecil namun simbolis di stasiun kereta api: seorang pegawai stasiun Belanda berteriak kasar kepadanya karena ia tidak segera memahami instruksi yang diberikan. Tan menulis, dengan nada yang masih canggung tetapi sudah mengandung bibit-bibit kemarahan, "Mengapa orang kulit putih itu berbicara kepada saya seperti saya adalah kerbaunya? Saya sudah belajar bahasa Belanda dengan baik, tetapi dia tidak mau mendengarkan. Dia hanya melihat kulit saya." Poeze menganalisis fragmen ini sebagai momen penting dalam perkembangan psikologis Tan Malaka. "Di sinilah kita melihat kelahiran kesadaran kolonialnya. Ini bukan lagi sekadar keterkejutan kultural karena melihat benda-benda baru. Ini adalah pengalaman langsung tentang penghinaan rasial yang sistematis. Anak yang dulunya hanya bingung, kini mulai marah" (Poeze, Jilid I 63).
Poeze berhati-hati untuk tidak meromantisasi atau melebih-lebihkan signifikansi dari surat-surat ini. Ia mengakui bahwa Tan Malaka bukanlah satu-satunya anak pribumi yang mengalami rasisme di stasiun kereta api. Namun, yang membedakan Tan, menurut Poeze, adalah kapasitasnya untuk mengartikulasikan pengalaman itu dan menyimpannya sebagai bahan bakar intelektual. "Banyak anak pribumi yang mengalami hal serupa dan kemudian menundukkan kepala, menerima bahwa memang itulah tatanan alamiah. Tan Malaka tidak. Ia menyimpan ingatan tentang penghinaan itu, menganalisisnya, dan dua puluh tahun kemudian, ia akan menulis di Dari Penjara ke Penjara bahwa kemarahan terhadap rasisme kolonial adalah awal dari kesadaran politiknya. Surat-surat ini adalah bukti tertulis pertama dari proses penyimpanan itu" (Poeze, Jilid I 65).
Transisi dari Identitas Minang ke Identitas "Hindia"
Salah satu argumen paling kuat yang diajukan Poeze berdasarkan analisisnya terhadap korespondensi ini adalah bahwa periode 1908-1919 merupakan fase transisi dari identitas etnis yang sempit, sebagai orang Minang, ke identitas politik yang lebih luas, sebagai orang "Hindia." Ini adalah transformasi yang krusial, karena tanpanya, Tan Malaka tidak akan pernah menjadi pemimpin nasionalis. Ia akan tetap menjadi pemimpin lokal Minangkabau. "Identitas 'Hindia' adalah konstruksi politik baru yang lahir dari sistem pendidikan kolonial itu sendiri," jelas Poeze. "Ironisnya, sekolah-sekolah Belanda yang didirikan untuk menciptakan pegawai rendahan yang loyal justru menciptakan sebuah kesadaran bersama di antara para pemuda dari berbagai suku dan pulau. Mereka bertemu sebagai orang Minang, orang Jawa, orang Batak, dan orang Ambon, tetapi mereka keluar sebagai 'Hindia', sebuah kategori yang diciptakan oleh penjajah, tetapi kemudian dibalikkan sebagai senjata melawan penjajah itu sendiri" (Poeze, Jilid I 72).Dalam surat-surat selanjutnya, Poeze mencatat bagaimana Tan Malaka mulai menggunakan kata "kita" untuk merujuk bukan hanya kepada orang Minang, tetapi kepada semua pribumi di Hindia Belanda. Ketika ia menulis tentang "nasib kita" atau "tanah air kita," konteksnya sudah melampaui batas-batas nagari atau bahkan Sumatera. Ini adalah perubahan semantik yang halus tetapi revolusioner. "Identitas 'Hindia' yang ia konstruksi melalui surat-suratnya adalah latihan awal untuk identitas 'Indonesia' yang akan ia perjuangkan kemudian. Sebelum ada Indonesia, ada Hindia, dan Tan Malaka adalah salah satu arsitek konseptual dari transisi ini," tulis Poeze (Jilid I 75).
Menentang Stereotipe Agitator Emosional
Ketika nama Tan Malaka disebut dalam buku-buku teks sejarah Indonesia, jika ia disebut sama sekali, ia sering kali digambarkan sebagai seorang agitator yang berapi-api, seorang orator ulung yang mampu membakar semangat massa dengan pidato-pidatonya yang berkobar-kobar, tetapi kurang dalam hal kedalaman teoretis dan sistematika berpikir. Stereotipe ini, yang sebagian besar dibentuk oleh rezim Orde Baru untuk merendahkan sosok-sosok kiri, adalah salah satu target utama yang ingin dibongkar oleh Harry A. Poeze. Dan untuk membongkarnya, Poeze pergi ke sumber yang paling otoritatif tentang perkembangan intelektual Tan Malaka: arsip-arsip Rijkskweekschool (Sekolah Guru Kerajaan) di Haarlem, Belanda."Untuk memahami bahwa Tan Malaka bukanlah sekadar agitator, kita harus pergi ke tempat di mana ia menghabiskan tahun-tahun paling formatif dalam perkembangan intelektualnya: ruang kelas di Haarlem," tulis Poeze. "Di sanalah, di bawah bimbingan guru-guru Belanda yang disiplin, ia belajar bukan hanya apa yang harus dipikirkan, tetapi bagaimana cara berpikir. Arsip-arsip akademik dari periode ini adalah saksi bisu yang tak terbantahkan tentang ketekunan dan sistematika yang menjadi ciri khas pendekatannya terhadap segala hal" (Jilid I 89).
Tan Malaka tiba di Belanda pada bulan Oktober 1913, sebagai bagian dari kelompok kecil pemuda pribumi yang mendapat kesempatan langka untuk melanjutkan pendidikan ke negeri induk. Keberangkatannya ini sendiri sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Dari ribuan siswa pribumi di Hindia Belanda, hanya segelintir yang lolos seleksi untuk belajar di Belanda, dan Tan Malaka adalah salah satu dari mereka. Namun, Poeze dengan cepat menambahkan bahwa prestasi ini tidak boleh diromantisasi sebagai kisah "anak desa yang menaklukkan Eropa." Di balik keberhasilan Tan Malaka lolos seleksi, ada sistem kolonial yang secara sengaja membatasi jumlah pemuda pribumi yang boleh mengenyam pendidikan tinggi, karena takut bahwa pendidikan akan menciptakan pemimpin-pemimpin perlawanan. "Pemerintah kolonial berada dalam posisi paradoks," jelas Poeze. "Mereka membutuhkan tenaga terdidik untuk menjalankan birokrasi, tetapi setiap pemuda terdidik yang mereka hasilkan adalah bom waktu potensial. Tan Malaka adalah salah satu bom waktu itu" (Jilid I 92).
Nilai-nilai Akademik dan Disiplin Intelektual
Begitu tiba di Haarlem, Tan Malaka langsung dihadapkan pada realitas akademik yang keras. Rijkskweekschool bukanlah institusi yang main-main. Kurikulumnya ketat, para gurunya tidak segan-segan memberikan kritik pedas, dan standar kelulusannya tinggi. Bagi seorang pemuda dari Sumatera yang bahasa ibunya bukanlah bahasa Belanda, tantangannya berlipat ganda. Namun, arsip-arsip akademik yang ditemukan dan dianalisis oleh Poeze menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak hanya bertahan; ia berkembang.Poeze mendapatkan akses ke buku rapor dan catatan guru-guru Tan Malaka di Haarlem. Dari dokumen-dokumen ini, ia merekonstruksi profil seorang siswa yang, dalam kata-katanya, "metodis, tekun, dan sangat sistematis dalam pendekatannya terhadap studi" (Jilid I 101). Nilai-nilai Tan Malaka dalam mata pelajaran seperti matematika, ilmu alam, dan bahasa modern (termasuk Jerman dan Prancis, di luar bahasa Belanda yang sudah dikuasainya) secara konsisten berada di atas rata-rata kelas. Yang lebih menarik bagi Poeze adalah catatan-catatan kualitatif yang ditulis oleh para gurunya. Salah seorang guru matematika, misalnya, menulis tentang Tan: "Murid ini memiliki kemampuan analitis yang tajam. Ia tidak puas dengan menghafal rumus; ia selalu ingin tahu mengapa rumus itu bekerja. Ini adalah tanda dari pikiran yang filosofis" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 103).
Komentar tentang "pikiran yang filosofis" ini sangat penting bagi Poeze. Ia menggunakannya untuk membangun argumen bahwa benih-benih Madilog, yang sering kali dianggap sebagai karya yang berat, kering, dan sangat sistematis, sudah dapat dilihat dalam kebiasaan belajar Tan Malaka sejak masa mudanya. Madilog bukanlah produk dari seorang agitator yang tiba-tiba memutuskan untuk menulis filsafat. Madilog adalah produk dari seorang pemikir yang selama bertahun-tahun telah melatih pikirannya untuk bekerja secara logis, sistematis, dan berbasis bukti. "Kita tidak bisa memahami Madilog tanpa memahami Haarlem," tegas Poeze. "Di Haarlem, Tan Malaka belajar bahwa emosi revolusioner harus dilandasi oleh analisis yang dingin, bahwa slogan-slogan harus didukung oleh argumen, dan bahwa untuk mengubah dunia, seseorang harus terlebih dahulu memahami bagaimana dunia itu bekerja. Ini adalah pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan" (Jilid I 108).
Pengaruh Guru dan Lingkaran Diskusi
Selain catatan akademik formal, Poeze juga menelusuri pengaruh-pengaruh informal yang membentuk pemikiran Tan Malaka selama di Belanda. Salah satu pengaruh paling signifikan adalah guru bahasa dan sastranya, seorang sosialis moderat yang memperkenalkan Tan Malaka pada karya-karya Multatuli, khususnya Max Havelaar, novel yang membongkar kebobrokan sistem tanam paksa di Hindia Belanda. "Membaca Max Havelaar di ruang kelas di Haarlem, jauh dari tanah kelahirannya, pastilah menjadi pengalaman yang menggetarkan bagi Tan Malaka," tulis Poeze. "Novel itu memberinya kerangka naratif untuk memahami apa yang sebelumnya hanya ia alami sebagai fragmen-fragmen ketidakadilan. Multatuli membantunya menyusun fragmen-fragmen itu menjadi sebuah cerita besar tentang eksploitasi kolonial" (Jilid I 115).Namun, pengaruh guru tidak hanya bersifat satu arah. Poeze menemukan bukti bahwa Tan Malaka aktif dalam lingkaran diskusi mahasiswa Indonesia (saat itu masih disebut Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia) di Belanda. Dalam forum-forum inilah ia mulai mengasah kemampuan debatnya dan menguji ide-idenya di hadapan audiens yang kritis. Notulensi rapat yang ditemukan Poeze menunjukkan bahwa Tan Malaka sering kali menjadi pembicara utama dalam diskusi-diskusi tentang masa depan Hindia, dan bahwa ia sudah mulai mengembangkan pandangan-pandangan yang radikal. Dalam salah satu notulensi dari tahun 1915, tercatat bahwa Tan Malaka berdebat dengan seorang mahasiswa lain tentang perlunya pendidikan massa sebagai prasyarat kemerdekaan. Ia berargumen bahwa "kemerdekaan yang diberikan oleh Belanda tidak ada artinya jika rakyat tidak cukup terdidik untuk mengisinya. Kemerdekaan harus direbut, bukan diberikan, dan perebutan itu dimulai di sekolah-sekolah" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 123). Poeze melihat argumen ini sebagai cikal bakal dari obsesi Tan Malaka seumur hidupnya terhadap pendidikan kerakyatan.
Sebuah Perbandingan yang Mencerahkan
Untuk mempertegas argumennya bahwa Tan Malaka adalah seorang pemikir sistematis, bukan sekadar agitator, Poeze secara implisit dan kadang-kadang eksplisit membandingkannya dengan tokoh-tokoh pergerakan lain yang lebih emosional dalam pendekatannya. Perbandingan ini bukan untuk merendahkan tokoh lain, melainkan untuk menunjukkan keunikan Tan. "Di antara para pemimpin pergerakan nasional, Tan Malaka menempati posisi yang unik. Soekarno adalah orator massa yang tak tertandingi, yang mampu menggetarkan hati ribuan orang dengan satu pidato. Hatta adalah ekonom dan administrator yang teliti, yang menguasai detail-detail kebijakan. Tetapi Tan Malaka? Ia adalah filsuf. Ia adalah pemikir yang ingin membangun sistem pemikiran yang koheren yang dapat menjadi panduan bagi perjuangan. Pendekatannya selalu dimulai dengan pertanyaan 'mengapa' dan 'bagaimana', bukan hanya 'apa'" (Poeze, Jilid I 130).Poeze mendukung klaim ini dengan merujuk pada kebiasaan menulis Tan Malaka yang sudah terbentuk sejak masa studinya. Tidak seperti banyak aktivis yang lebih suka berbicara, Tan Malaka adalah seorang penulis yang produktif. Arsip-arsip dari periode Haarlem menunjukkan bahwa ia menulis esai-esai panjang tentang berbagai topik, mulai dari sistem pendidikan hingga perbandingan agama. Beberapa esai ini disimpan oleh teman-teman sekelasnya dan kemudian diserahkan kepada Poeze. "Membaca esai-esai ini, kita melihat seorang pemuda yang berjuang untuk memahami dunia melalui tulisan," komentar Poeze. "Menulis, baginya, bukanlah sekadar alat komunikasi; ia adalah alat berpikir. Dengan menuangkan pikirannya ke atas kertas, ia memaksa dirinya untuk menjadi jelas, logis, dan koheren. Ini adalah disiplin intelektual yang akan terus ia praktikkan sepanjang hidupnya, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun" (Jilid I 134).
Dengan mendasarkan analisisnya pada arsip-arsip akademik yang tak terbantahkan, Poeze berhasil membangun sebuah potret Tan Malaka muda yang sangat berbeda dari stereotipe yang beredar. Ini bukanlah potret seorang agitator yang hanya mengandalkan karisma dan emosi. Ini adalah potret seorang pemikir yang sedang tumbuh, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengasah pikirannya di ruang-ruang kelas, yang membaca buku-buku tebal dengan tekun, yang berdebat dengan kawan-kawannya di malam hari, dan yang menuangkan semua refleksinya ke dalam tulisan-tulisan yang sistematis. Inilah fondasi intelektual yang, dua dekade kemudian, akan memungkinkannya untuk menulis Madilog di tengah persembunyian.
Konteks Kepulangan
Pada tahun 1919, setelah menyelesaikan pendidikannya di Haarlem dan mendapatkan sertifikat sebagai guru, Tan Malaka kembali ke Hindia Belanda. Ia bukan lagi Ibrahim yang naif dari Suliki. Ia adalah seorang intelektual terdidik, seorang sosialis yang yakin, dan seorang pemikir yang telah merumuskan pandangan-pandangannya sendiri tentang masa depan tanah airnya. Namun, Hindia yang ia tinggalkan pada tahun 1913 bukanlah Hindia yang sama yang ia temukan pada tahun 1919. Perang Dunia Pertama telah berakhir, dan gelombang radikalisme politik sedang melanda seluruh dunia. Revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917 telah mengilhami gerakan-gerakan kiri di seluruh Asia, dan Hindia Belanda tidak terkecuali. Organisasi-organisasi pergerakan, terutama Sarekat Islam (SI), telah tumbuh secara eksponensial dan menjadi semakin militan.Poeze menggambarkan kepulangan Tan Malaka sebagai momen yang sangat menentukan. "Ia kembali ke Hindia dengan bekal teori-teori yang telah dipelajarinya di Eropa, tetapi ia tahu bahwa teori-teori itu harus diuji dan disesuaikan dengan kondisi lokal. Ia tidak kembali sebagai seorang dogmatis yang akan memaksakan Marxisme ortodoks pada masyarakat yang belum mengenalnya. Ia kembali sebagai seorang eksperimentator politik, yang siap untuk belajar dari realitas dan menyesuaikan strateginya" (Jilid I 150).
Pilihan Tan Malaka untuk menetap di Semarang, di pantai utara Jawa, adalah signifikan secara politik. Semarang pada saat itu adalah pusat radikalisme di Hindia Belanda. Di sanalah Sarekat Islam cabang Semarang, di bawah pimpinan Semaun, telah berkembang menjadi kekuatan politik yang besar dan berhaluan komunis. Tan Malaka, yang telah menjalin kontak dengan gerakan sosialis internasional selama di Belanda, diterima dengan tangan terbuka oleh kelompok Semaun. Ia segera mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sekolah yang didirikan oleh SI, dan di sinilah ia memulai karier gandanya: sebagai pendidik dan sebagai propagandis politik.
Pidato di Hadapan Sarekat Islam Semarang
Salah satu temuan arsip yang paling berharga dalam penelitian Poeze tentang periode ini adalah transkrip pidato-pidato awal Tan Malaka di hadapan rapat-rapat umum Sarekat Islam Semarang. Transkrip-transkrip ini, yang sebagian besar dimuat dalam koran-koran lokal seperti Sinar Hindia dan kemudian dikumpulkan oleh dinas intelijen kolonial, memberikan gambaran langsung tentang bagaimana Tan Malaka menyampaikan gagasannya kepada massa. Bagi Poeze, analisis terhadap pidato-pidato ini sangat penting karena di sinilah kita bisa melihat bagaimana Tan Malaka mulai mengoperasionalkan teori-teori yang telah dipelajarinya di Eropa ke dalam konteks Indonesia.Poeze memfokuskan perhatiannya pada sebuah pidato yang disampaikan oleh Tan Malaka pada pertengahan tahun 1921, yang olehnya disebut sebagai "salah satu pidato paling penting dalam sejarah hubungan antara komunisme dan Islam di Indonesia" (Jilid I 165). Dalam pidato ini, Tan Malaka secara eksplisit berusaha menjembatani kesenjangan ideologis antara Marxisme, yang ateis, dan Islam, yang teistik. Ini adalah upaya yang sangat berani dan kontroversial, yang akan menentukan arah gerakan kiri di Indonesia selama beberapa dekade ke depan.
"Tan Malaka tidak memulai pidatonya dengan menyerang agama," tulis Poeze dalam analisisnya terhadap transkrip tersebut. "Ia memulainya dengan menyerang kapitalisme. Ia menggambarkan penderitaan para petani dan buruh dalam istilah-istilah yang bisa langsung dipahami oleh audiens Muslim. Ia berbicara tentang 'setan-setan modern' yang menindas rakyat, dan ia mengidentifikasi setan-setan itu bukan sebagai makhluk supernatural, melainkan sebagai sistem ekonomi yang eksploitatif. Ini adalah strategi retoris yang brilian. Ia menggunakan kosakata religius untuk menyampaikan pesan materialis" (Jilid I 170).
Poeze melanjutkan analisisnya dengan menunjukkan bagaimana Tan Malaka kemudian secara halus memperkenalkan konsep-konsep Marxis dengan membungkusnya dalam terminologi Islam. "Ketika ia berbicara tentang 'perjuangan melawan kezaliman', audiens Muslim mungkin mendengarnya sebagai jihad. Ketika ia berbicara tentang 'masyarakat tanpa kelas', audiens mungkin membayangkan masyarakat Madinah di bawah Nabi. Tan Malaka tidak berbohong. Ia tidak mengatakan bahwa Marxisme dan Islam adalah sama. Tetapi ia menekankan titik-titik temu yang cukup banyak untuk membuat audiens Muslim merasa bahwa komunisme bukanlah ancaman terhadap iman mereka" (Jilid I 172).
Taktik "Blok Dalam" Teori dan Praktik
Dari analisisnya terhadap pidato-pidato ini, Poeze mengekstraksi apa yang ia sebut sebagai taktik "blok dalam" Tan Malaka. Konsep ini, yang akan menjadi salah satu kontribusi teoretis terpenting Tan Malaka terhadap strategi revolusioner di Asia, pada dasarnya adalah strategi aliansi antara kaum komunis dan kaum Muslim untuk melawan imperialisme. Nama "blok dalam" sendiri adalah metafora dari dunia sepak bola atau militer, di mana sebuah tim membangun benteng pertahanan di dalam wilayah lawan. Dalam konteks politik, ini berarti bahwa kaum komunis harus bekerja dari dalam organisasi-organisasi Islam, bukan melawan mereka dari luar."Taktik blok dalam Tan Malaka sering kali disalahpahami sebagai upaya untuk 'menghancurkan Islam dari dalam'," tulis Poeze. "Ini adalah interpretasi yang disebarkan oleh musuh-musuh politiknya, baik dari kalangan Islam konservatif maupun dari pemerintah kolonial. Tetapi jika kita membaca dengan saksama pidato-pidato dan tulisan-tulisan Tan Malaka, kita akan melihat bahwa ia benar-benar menghormati Islam sebagai kekuatan sosial yang besar. Ia tidak ingin menghancurkannya. Ia ingin mengalihkan energinya dari orientasi eskatologis (menunggu surga) ke orientasi duniawi (memperjuangkan keadilan di bumi). Baginya, Islam adalah kendaraan yang sudah jadi, sudah terorganisir, dan sudah memiliki basis massa yang luas. Akan sangat bodoh bagi kaum komunis untuk mengabaikan atau menyerang kendaraan ini. Jauh lebih cerdas untuk menumpanginya dan mencoba untuk mempengaruhi arahnya" (Poeze, Jilid I 185).
Analisis Poeze tentang taktik blok dalam ini sangat bernuansa. Ia tidak menggambarkan Tan Malaka sebagai seorang oportunis murni yang hanya menggunakan Islam sebagai alat. Ia juga tidak menggambarkannya sebagai seorang Muslim yang taat yang berjuang untuk Islam. Posisi Tan Malaka, menurut Poeze, berada di antara kedua kutub itu. "Tan Malaka adalah seorang Marxis yang meyakini materialisme historis. Ia tidak percaya pada wahyu atau mukjizat. Tetapi ia juga tumbuh dalam budaya Muslim Minangkabau, dan ia memahami betapa dalamnya Islam tertanam dalam jiwa rakyat Indonesia. Sikapnya terhadap Islam bukanlah sikap seorang ateis yang sinis, tetapi juga bukan sikap seorang mukmin. Ia adalah sikap seorang sosiolog politik: ia melihat Islam sebagaimana adanya, yaitu sebagai fakta sosial yang besar dan tak terbantahkan, dan ia mencoba untuk bekerja dengan fakta itu, bukan melawannya" (Jilid I 192).
Reaksi dan Kontroversi
Poeze tidak hanya menganalisis isi pidato Tan Malaka, tetapi juga reaksi yang ditimbulkannya. Dengan menggunakan laporan-laporan intelijen kolonial dan artikel-artikel di koran-koran lokal, ia merekonstruksi peta kontroversi yang muncul. Reaksi terhadap taktik blok dalam Tan Malaka terbelah menjadi tiga kubu utama.Pertama, kubu radikal di dalam Sarekat Islam, yang dipimpin oleh Semaun dan kemudian Darsono, menyambut baik gagasan Tan Malaka. Mereka melihat aliansi dengan komunisme sebagai cara untuk memperkuat perjuangan melawan kapitalisme. Bagi mereka, Tan Malaka adalah jembatan yang sempurna antara dua dunia.
Kedua, kubu konservatif di dalam Sarekat Islam, yang dipimpin oleh Haji Agus Salim dan Abdul Muis, menentang keras. Mereka melihat infiltrasi ideologi komunis sebagai ancaman terhadap kemurnian Islam dan terhadap kepemimpinan mereka sendiri. "Agus Salim, dengan kecerdasannya yang tajam, segera menyadari bahwa taktik Tan Malaka, meskipun disampaikan dengan bahasa yang halus, pada dasarnya adalah upaya untuk menggeser orientasi ideologis Sarekat Islam dari Islam ke Marxisme," tulis Poeze. "Ini adalah awal dari perpecahan besar yang akan mengguncang Sarekat Islam" (Jilid I 198).
Ketiga, pemerintah kolonial, yang mengamati perkembangan ini dengan campuran kekhawatiran dan kepuasan. Mereka khawatir karena aliansi antara komunis dan Muslim dapat menciptakan kekuatan revolusioner yang sulit dikendalikan. Tetapi mereka juga puas karena konflik internal di dalam Sarekat Islam melemahkan gerakan nasionalis secara keseluruhan. "Polisi kolonial, dalam laporannya, mencatat bahwa 'Tan Malaka lebih berbahaya daripada Semaun karena ia lebih cerdas dan lebih licik dalam berbicara'," kutip Poeze dari arsip intelijen. "Mereka melihatnya sebagai ancaman yang harus diawasi dengan ketat" (Jilid I 203).
Signifikansi Historis dari Momen Semarang
Poeze menutup analisisnya tentang periode Semarang dengan merefleksikan signifikansi historisnya. "Momen Semarang," tulisnya, "adalah momen ketika teori bertemu dengan praktik. Apa yang telah dipelajari Tan Malaka di Haarlem, disiplin intelektual, analisis sistematis, keberanian untuk mempertanyakan ortodoksi, kini diterapkan dalam situasi politik yang nyata dan berisiko tinggi. Ia berhasil merumuskan sebuah strategi yang orisinal, yang disesuaikan dengan kondisi spesifik Indonesia, dan ia berhasil mengkomunikasikannya dengan efektif kepada massa. Apakah strategi itu pada akhirnya berhasil atau gagal? Sejarah memberikan jawaban yang kompleks. Sarekat Islam memang terpecah, dan PKI yang muncul dari perpecahan itu pada akhirnya hancur dalam pemberontakan yang gagal pada tahun 1926-1927. Tetapi gagasan bahwa Islam dan Marxisme dapat bersekutu melawan imperialisme tidak mati. Gagasan itu akan muncul kembali dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah Indonesia, dan Tan Malaka adalah perintisnya" (Jilid I 210).
Poeze juga menekankan bahwa periode Semarang menunjukkan dimensi lain dari kepribadian Tan Malaka yang sering kali terabaikan: kemampuannya sebagai seorang pendidik. "Ia datang ke Semarang sebagai guru, dan ia tetap menjadi guru sampai akhir hayatnya. Pidato-pidatonya bukanlah sekadar orasi politik; mereka adalah kuliah-kuliah singkat tentang ekonomi politik, sejarah, dan sosiologi, yang disampaikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh petani dan buruh. Ia tidak pernah merendahkan audiensnya. Ia memperlakukan mereka sebagai murid-murid yang cerdas yang layak mendapatkan penjelasan yang serius. Inilah yang membedakannya dari banyak agitator yang hanya mengandalkan slogan-slogan kosong" (Jilid I 215).
Setelah menelusuri tiga jenis sumber, surat-surat pribadi, arsip akademik, dan transkrip pidato, secara terpisah, Poeze kemudian menyatukannya ke dalam sebuah sintesis yang koheren. Inilah kekuatan utama dari metode "membaca secara berdampingan" yang menjadi ciri khasnya. Masing-masing sumber memberikan perspektif yang berbeda, tetapi ketika digabungkan, mereka menghasilkan sebuah potret tiga dimensi yang kaya.
"Surat-surat keluarga menunjukkan kepada kita Tan Malaka sebagai anak yang rindu rumah, yang berjuang dengan kesepian dan kebingungan identitas," tulis Poeze. "Arsip akademik menunjukkan kepada kita Tan Malaka sebagai murid yang tekun dan metodis, yang melatih pikirannya untuk berpikir secara sistematis. Dan transkrip pidato menunjukkan kepada kita Tan Malaka sebagai pemimpin politik yang cerdas, yang mampu merumuskan strategi yang kompleks dan mengkomunikasikannya kepada massa. Ketiga Tan Malaka ini bukanlah tiga orang yang berbeda. Mereka adalah tiga dimensi dari satu kepribadian yang sama" (Jilid I 225).
Poeze kemudian mengajukan sebuah tesis yang berani tentang bagaimana ketiga dimensi ini saling terkait. "Kemampuannya untuk merumuskan taktik blok dalam, sebuah strategi politik yang canggih yang berusaha menjembatani Marxisme dan Islam, tidak akan mungkin terjadi tanpa pengalaman psikologisnya sebagai seorang anak Minang yang harus menjembatani dunia adat dan dunia modern. Ia telah menjembatani dunia-dunia yang berbeda sepanjang hidupnya: Minang dan Belanda, tradisi dan modernitas, iman dan akal. Menjembatani Marxisme dan Islam hanyalah langkah berikutnya dalam perjalanan panjang ini. Demikian pula, kemampuannya untuk menyampaikan strategi itu dalam bentuk pidato yang terstruktur dan logis tidak akan mungkin terjadi tanpa disiplin intelektual yang ia latih selama bertahun-tahun di Haarlem. Semuanya terhubung" (Jilid I 230).
Poeze juga menekankan bahwa periode Semarang menunjukkan dimensi lain dari kepribadian Tan Malaka yang sering kali terabaikan: kemampuannya sebagai seorang pendidik. "Ia datang ke Semarang sebagai guru, dan ia tetap menjadi guru sampai akhir hayatnya. Pidato-pidatonya bukanlah sekadar orasi politik; mereka adalah kuliah-kuliah singkat tentang ekonomi politik, sejarah, dan sosiologi, yang disampaikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh petani dan buruh. Ia tidak pernah merendahkan audiensnya. Ia memperlakukan mereka sebagai murid-murid yang cerdas yang layak mendapatkan penjelasan yang serius. Inilah yang membedakannya dari banyak agitator yang hanya mengandalkan slogan-slogan kosong" (Jilid I 215).
Setelah menelusuri tiga jenis sumber, surat-surat pribadi, arsip akademik, dan transkrip pidato, secara terpisah, Poeze kemudian menyatukannya ke dalam sebuah sintesis yang koheren. Inilah kekuatan utama dari metode "membaca secara berdampingan" yang menjadi ciri khasnya. Masing-masing sumber memberikan perspektif yang berbeda, tetapi ketika digabungkan, mereka menghasilkan sebuah potret tiga dimensi yang kaya.
"Surat-surat keluarga menunjukkan kepada kita Tan Malaka sebagai anak yang rindu rumah, yang berjuang dengan kesepian dan kebingungan identitas," tulis Poeze. "Arsip akademik menunjukkan kepada kita Tan Malaka sebagai murid yang tekun dan metodis, yang melatih pikirannya untuk berpikir secara sistematis. Dan transkrip pidato menunjukkan kepada kita Tan Malaka sebagai pemimpin politik yang cerdas, yang mampu merumuskan strategi yang kompleks dan mengkomunikasikannya kepada massa. Ketiga Tan Malaka ini bukanlah tiga orang yang berbeda. Mereka adalah tiga dimensi dari satu kepribadian yang sama" (Jilid I 225).
Poeze kemudian mengajukan sebuah tesis yang berani tentang bagaimana ketiga dimensi ini saling terkait. "Kemampuannya untuk merumuskan taktik blok dalam, sebuah strategi politik yang canggih yang berusaha menjembatani Marxisme dan Islam, tidak akan mungkin terjadi tanpa pengalaman psikologisnya sebagai seorang anak Minang yang harus menjembatani dunia adat dan dunia modern. Ia telah menjembatani dunia-dunia yang berbeda sepanjang hidupnya: Minang dan Belanda, tradisi dan modernitas, iman dan akal. Menjembatani Marxisme dan Islam hanyalah langkah berikutnya dalam perjalanan panjang ini. Demikian pula, kemampuannya untuk menyampaikan strategi itu dalam bentuk pidato yang terstruktur dan logis tidak akan mungkin terjadi tanpa disiplin intelektual yang ia latih selama bertahun-tahun di Haarlem. Semuanya terhubung" (Jilid I 230).
Fondasi Seorang Internasionalis
Poeze menutup bab tentang periode formatif ini dengan sebuah refleksi tentang bagaimana semua pengalaman awal ini mempersiapkan Tan Malaka untuk peran internasional yang akan ia mainkan di tahun-tahun berikutnya. "Ketika ia meninggalkan Hindia Belanda pada tahun 1922, diasingkan oleh pemerintah kolonial yang sudah tidak tahan dengan agitasi politiknya, Tan Malaka bukan lagi sekadar seorang nasionalis Indonesia. Ia telah menjadi seorang internasionalis, dalam arti yang paling dalam dari kata itu. Ia telah belajar bahwa perjuangan melawan imperialisme di Indonesia terhubung dengan perjuangan yang sama di India, di Tiongkok, di Filipina, dan di seluruh dunia. Ia telah belajar bahwa bahasa-bahasa yang berbeda, Minang, Belanda, Jerman, Prancis, Inggris, dapat digunakan untuk mengkomunikasikan ide-ide yang sama. Dan ia telah belajar bahwa akar identitasnya yang tercerabut dari tradisi, yang dulu menjadi sumber kebingungan, kini adalah sumber kekuatannya. Ia tidak terikat pada satu tempat, satu budaya, atau satu ortodoksi. Ia bebas untuk bergerak, untuk belajar, dan untuk berjuang di mana pun ia dibutuhkan. Inilah akar dari internasionalisme Tan Malaka, yang akan membawanya ke Moskow, Kanton, Manila, dan akhirnya kembali ke Indonesia untuk memimpin sebuah revolusi" (Jilid I 250).Dengan demikian, melalui analisis yang mendalam dan bersumberkan ketat pada dokumen-dokumen primer, Harry A. Poeze berhasil merekonstruksi masa muda Tan Malaka bukan sebagai sekadar prolog, melainkan sebagai fondasi yang kokoh untuk memahami seluruh perjalanan hidupnya. Bab ini menegaskan bahwa revolusioner besar tidak lahir dalam semalam. Mereka ditempa melalui proses yang panjang, dalam interaksi yang kompleks antara pengalaman pribadi, pendidikan formal, dan eksperimentasi politik. Tan Malaka, sebagaimana dibuktikan oleh Poeze, adalah produk dari proses penempaan ini, dan proses itu dimulai dari sebuah nagari kecil di Suliki, melewati ruang kelas di Haarlem, dan menemukan ekspresi pertamanya di panggung politik Semarang.
Rujukan, Silakan Anda Periksa
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I: 1897-1925. Diterjemahkan oleh tim penerjemah, PT Pustaka Utama Grafiti, 1988.Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. Diterjemahkan oleh tim penerjemah, PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Bab 2 Moskow, Kanton, dan Manila, Jejak Sang Komintern yang Terlupakan (1922–1937)
Memasuki Labirin yang Sengaja Dihapuskan
Ketika Harry A. Poeze memulai penelitian untuk jilid kedua dari magnum opus-nya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, ia memasuki wilayah yang oleh para sejarawan sebelumnya dijuluki sebagai "lubang hitam" dalam historiografi Indonesia. Periode antara tahun 1922, ketika Tan Malaka diasingkan dari Hindia Belanda, hingga tahun 1937, ketika ia muncul kembali di Singapura dengan nama samaran baru, adalah periode yang paling gelap, paling misterius, dan paling banyak "dibersihkan" dari catatan sejarah resmi. "Jika jilid pertama adalah tentang menemukan jejak yang tersembunyi," tulis Poeze, "maka jilid kedua adalah tentang memasuki labirin yang sengaja dirancang untuk membingungkan. Setiap pintu yang saya buka menuju ke tiga pintu lainnya. Setiap dokumen yang saya temukan tampaknya sengaja ditulis untuk menyesatkan. Dan setiap saksi yang saya wawancarai memiliki versi cerita yang berbeda. Ini adalah mimpi buruk bagi seorang sejarawan, tetapi juga tantangan yang paling memabukkan" (Poeze, Jilid II 3).
Mengapa periode ini begitu gelap? Poeze mengidentifikasi beberapa faktor yang saling terkait. Pertama, Tan Malaka sendiri secara sadar dan sistematis menghancurkan jejaknya. Sebagai buronan yang diburu oleh tidak kurang dari empat dinas intelijen kolonial, Belanda, Inggris, Prancis, dan Amerika, ia belajar untuk hidup tanpa meninggalkan bekas. Ia menggunakan sedikitnya selusin nama samaran, berpindah-pindah tempat tinggal setiap beberapa bulan, dan berkomunikasi melalui jaringan kurir yang tidak tercatat. Kedua, banyak arsip yang berkaitan dengan gerakan komunis di Asia dihancurkan, baik oleh pemerintah kolonial yang ingin menghilangkan bukti aktivitas subversif, maupun oleh gerakan komunis itu sendiri yang paranoid terhadap infiltrasi polisi. Ketiga, dan ini yang paling tragis bagi Poeze, banyak saksi kunci yang mengetahui detail pergerakan Tan Malaka, kawan-kawan seperjuangannya, kurir-kurirnya, dan bahkan musuh-musuhnya, telah meninggal atau dieksekusi dalam berbagai pembersihan politik, baik oleh rezim kolonial, oleh tentara Jepang selama Perang Dunia II, atau oleh rezim Orde Baru setelah 1965. "Saya berhadapan dengan kematian ganda," kata Poeze dalam sebuah wawancara yang dikutip dalam pengantar bukunya. "Kematian fisik para saksi, dan kematian birokratis dari arsip-arsip yang telah dimusnahkan. Tugas saya adalah membangkitkan yang mati dari kuburan kertas, dan itu memerlukan lebih dari sekadar keahlian akademik; itu memerlukan keahlian seorang detektif yang bisa membaca yang tersirat, mendengar yang tidak diucapkan, dan melihat pola di antara fragmen-fragmen yang tampaknya acak" (Poeze, Jilid II 8).
Periode 1922-1937 ini juga signifikan karena di sinilah Tan Malaka bertransformasi dari seorang pemimpin lokal menjadi seorang aktor global. Di Moskow, ia berdebat dengan para pemimpin tertinggi Komintern tentang strategi revolusi di Asia. Di Kanton, ia mengorganisir jaringan bawah tanah yang menghubungkan revolusioner dari seluruh Asia Tenggara. Di Manila, ia hidup dalam penyamaran selama bertahun-tahun, menulis beberapa karyanya yang paling penting, dan membangun basis intelektual untuk perjuangan yang akan datang. Namun, ironisnya, justru periode inilah yang paling sedikit diketahui oleh rakyat Indonesia. "Tan Malaka yang dikenang di Indonesia adalah Tan Malaka dari tahun 1945-1949," tulis Poeze. "Itu adalah Tan Malaka yang pulang, Tan Malaka yang berkonflik dengan Soekarno-Hatta, Tan Malaka yang ditangkap dan dieksekusi. Tetapi Tan Malaka itu tidak dapat dipahami tanpa memahami apa yang ia lakukan selama lima belas tahun sebelumnya. Ia kembali ke Indonesia pada tahun 1942 bukan sebagai seorang pemimpi yang naif, melainkan sebagai seorang veteran perjuangan internasional yang telah menguji strateginya di medan-medan pertempuran politik paling kompleks di dunia. Untuk memahami Tan Malaka, kita harus mengikutinya ke Moskow, Kanton, dan Manila" (Jilid II 10).
Untuk merekonstruksi periode ini, Poeze tidak bisa lagi mengandalkan arsip-arsip kolonial standar atau surat-surat pribadi yang relatif mudah diakses. Ia harus melacak arsip-arsip Komintern yang selama Perang Dingin tersimpan rapat di Moskow, dan yang baru dibuka secara terbatas setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Ia harus mempelajari arsip-arsip intelijen dari empat negara imperialis yang saling tidak berbagi informasi. Ia harus mewawancarai veteran-veteran tua di Tiongkok, Filipina, dan Singapura yang ingatannya sudah mulai kabur. Dan ia harus membaca ribuan halaman dokumen dalam sedikitnya tujuh bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Melayu, dan Mandarin. "Ini adalah pekerjaan yang mustahil bagi satu orang," aku Poeze. "Dan mungkin itulah sebabnya tidak ada yang pernah melakukannya sebelum saya" (Jilid II 12).
Membuka Peti Pandora di Moskow
Ketika Tembok Berlin runtuh pada tahun 1989 dan Uni Soviet bubar dua tahun kemudian, Harry A. Poeze menyadari bahwa sebuah kesempatan historis yang unik telah terbuka. Selama lebih dari tujuh dekade, arsip Komintern di Moskow, yang menyimpan dokumen-dokumen tentang aktivitas partai-partai komunis di seluruh dunia, termasuk di Asia, telah tertutup rapat bagi para peneliti independen. Hanya sejarawan-sejarawan resmi partai yang diizinkan mengaksesnya, dan itupun dengan pengawasan ketat. Kini, di tengah kekacauan transisi Rusia menuju kapitalisme, arsip-arsip itu mulai terbuka. Poeze tahu bahwa jika ia ingin memahami peran Tan Malaka dalam gerakan komunis internasional, ia harus pergi ke Moskow."Pada musim dingin tahun 1993, saya duduk di ruang baca RGASPI [Pusat Penyimpanan dan Studi Dokumen Sejarah Kontemporer Rusia, bekas arsip Institut Marxisme-Leninisme], dengan tangan gemetar karena kedinginan dan karena antisipasi," kenang Poeze. "Di hadapan saya ada sebuah kardus besar berisi folder-folder dengan label 'Indonesia' dan 'Tan Malaka.' Saya tidak tahu apa isinya. Mungkin harta karun, mungkin sampah. Tetapi ketika saya membuka folder pertama dan melihat tulisan tangan yang saya kenali dari arsip-arsip di Den Haag, tulisan tangan Tan Malaka sendiri, saya tahu bahwa penantian puluhan tahun akhirnya terbayar" (Poeze, Jilid II 18).
Apa yang Poeze temukan di Moskow melampaui semua harapannya. Ada laporan-laporan yang ditulis Tan Malaka untuk Komite Eksekutif Komintern, lengkap dengan analisisnya tentang situasi politik di Asia Tenggara. Ada transkrip pidato-pidatonya di Kongres Komintern Keempat dan Kelima. Ada surat-surat polemiknya dengan para pemimpin komunis Eropa, termasuk Grigori Zinoviev, Nikolai Bukharin, dan bahkan Joseph Stalin. Dan yang paling mengejutkan, ada sebuah dokumen yang belum pernah dilihat oleh sejarawan mana pun sebelumnya: rancangan buku Tan Malaka yang tidak pernah diterbitkan, berjudul Imperialisme dan Revolusi di Asia, yang ditulisnya selama masa-masa awalnya di Moskow. "Menemukan dokumen-dokumen ini," tulis Poeze, "adalah seperti menemukan kunci untuk membuka seluruh misteri Tan Malaka. Tiba-tiba, fragmen-fragmen yang selama ini tidak masuk akal, surat-surat yang terpotong, laporan intelijen yang samar, rumor-rumor yang tidak terverifikasi, mulai membentuk pola yang koheren. Saya bisa melihat untuk pertama kalinya gambaran utuh tentang apa yang dilakukan Tan Malaka selama tahun-tahun internasionalnya" (Jilid II 22).
Namun, Poeze juga sangat menyadari bahwa arsip-arsip Komintern tidak bisa dibaca secara naif. Arsip-arsip ini adalah produk dari sebuah organisasi yang sangat birokratis dan sangat politis. Setiap laporan, setiap transkrip, setiap surat, ditulis dengan kesadaran bahwa ia akan dibaca oleh atasan-atasan yang berkuasa, dan bahwa isinya bisa digunakan untuk mendukung atau menghancurkan karier seseorang. "Saya harus membaca dokumen-dokumen ini dengan kacamata ganda," jelas Poeze. "Di satu sisi, saya harus membacanya sebagai sumber informasi faktual tentang pergerakan Tan Malaka. Di sisi lain, saya harus membacanya sebagai produk dari mesin propaganda dan birokrasi Komintern, yang memiliki agendanya sendiri. Ketika Tan Malaka menulis laporan kepada Komintern, ia tidak hanya melaporkan fakta; ia juga berusaha meyakinkan, membujuk, dan kadang-kadang menyembunyikan. Tugas saya adalah memisahkan informasi dari retorika, fakta dari faksionalisme" (Poeze, Jilid II 25).
Mensintesis Arsip-arsip Intelijen yang Tersebar
Jika arsip Komintern memberikan perspektif "dari dalam" tentang aktivitas Tan Malaka, arsip-arsip intelijen kolonial memberikan perspektif "dari luar", perspektif para pemburu yang terus-menerus membayangi langkahnya. Poeze menghabiskan waktu bertahun-tahun menelusuri arsip-arsip ini di empat negara berbeda. Di Den Haag, ia memeriksa arsip Kementerian Koloni Belanda dan dinas intelijen militernya. Di London, ia menyelami arsip Public Record Office (sekarang The National Archives), yang menyimpan laporan-laporan MI5 dan Secret Intelligence Service tentang aktivitas komunis di koloni-koloni Asia. Di Paris, ia mengakses arsip Sûreté Générale, polisi rahasia Prancis yang memata-matai gerakan anti-kolonial di Indochina. Dan di Washington D.C., ia mempelajari arsip-arsip OSS (Office of Strategic Services, cikal bakal CIA) yang baru dideklasifikasi, yang berisi laporan tentang Tan Malaka dari agen-agen Amerika di Filipina.Masing-masing arsip ini memiliki bias dan keterbatasannya sendiri. Laporan-laporan intelijen Belanda, misalnya, cenderung melebih-lebihkan ancaman yang ditimbulkan oleh Tan Malaka untuk membenarkan anggaran dan kekuasaan mereka sendiri. Laporan-laporan Inggris sering kali mengandung anti-komunisme yang mendalam, yang membuat analisis mereka tentang motivasi Tan Malaka menjadi tidak akurat. Laporan-laporan Prancis sangat terfragmentasi karena mereka lebih fokus pada Indochina daripada pada Indonesia. Dan laporan-laporan Amerika, yang paling baru, sering kali bergantung pada sumber-sumber sekunder yang tidak terverifikasi. "Membaca laporan-laporan intelijen ini secara terpisah," tulis Poeze, "adalah seperti membaca empat novel detektif yang berbeda tentang kejahatan yang sama, masing-masing dengan narator yang tidak bisa dipercaya. Hanya dengan membacanya secara berdampingan, dengan membandingkan klaim-klaim mereka dan mencari titik-titik temu, saya bisa mulai merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi" (Poeze, Jilid II 30).
Metode "membaca secara berdampingan" ini menjadi ciri khas pendekatan Poeze. Ia secara fisik meletakkan dokumen-dokumen dari berbagai arsip di atas mejanya dan membandingkannya baris demi baris. Ketika sebuah laporan intelijen Belanda menyebutkan bahwa Tan Malaka berada di Kanton pada bulan Maret 1925, Poeze akan memeriksa laporan Inggris untuk periode yang sama, mencari konfirmasi independen. Ketika sebuah dokumen Komintern menyebutkan sebuah pertemuan rahasia di Shanghai, Poeze akan memeriksa laporan Prancis untuk melihat apakah ada agen mereka yang mencatat pertemuan yang sama. Proses ini sangat melelahkan, sering kali menghasilkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, tetapi ketika berhasil, hasilnya sangat memuaskan. "Ada momen-momen eureka," kata Poeze, "ketika tiga atau empat sumber yang berbeda, dari arsip-arsip yang berbeda, dari negara-negara yang berbeda, tiba-tiba saling mengonfirmasi. Pada saat itu, saya tahu bahwa saya telah menemukan kebenaran, atau setidaknya, sedekat mungkin dengan kebenaran yang bisa dicapai oleh seorang sejarawan" (Poeze, Jilid II 32).
Wawancara dengan Saksi-saksi yang Tersisa
Selain arsip-arsip tertulis, Poeze juga melakukan serangkaian wawancara dengan saksi-saksi yang masih hidup yang pernah berinteraksi dengan Tan Malaka selama periode internasionalnya. Ini adalah tugas yang sangat sulit karena waktu telah memakan banyak korban. Pada saat Poeze memulai penelitiannya, sebagian besar kawan seperjuangan Tan Malaka di Moskow, Kanton, dan Manila sudah meninggal. Mereka yang masih hidup sering kali berusia delapan puluhan atau sembilan puluhan, dengan ingatan yang tidak lagi tajam. Namun, Poeze bersikeras untuk menemui mereka, karena ia percaya bahwa bahkan ingatan yang tidak sempurna pun bisa memberikan petunjuk berharga yang tidak tercatat dalam dokumen tertulis."Wawancara dengan para veteran ini adalah pengalaman yang mengharukan dan kadang-kadang membuat frustrasi," tulis Poeze. "Mereka ingat wajah Tan Malaka, mereka ingat nada suaranya, mereka ingat makanan yang mereka makan bersama di sebuah restoran murah di Shanghai. Tetapi mereka sering kali tidak ingat tanggal, nama, atau detail-detail spesifik yang saya butuhkan. Saya harus belajar untuk mendengarkan bukan hanya apa yang mereka katakan, tetapi juga apa yang tidak bisa mereka katakan, kesenjangan dalam ingatan mereka, kontradiksi antara cerita yang berbeda dari orang yang sama, dan terutama, emosi yang muncul ketika mereka berbicara tentang Tan Malaka. Bagi banyak dari mereka, Tan Malaka bukanlah sekadar tokoh sejarah; ia adalah teman, mentor, atau idola yang telah lama hilang. Berbicara tentang dia, bahkan setelah puluhan tahun, membangkitkan air mata dan kemarahan" (Poeze, Jilid II 40).
Salah satu wawancara paling penting yang dilakukan Poeze adalah dengan seorang mantan anggota jaringan bawah tanah Tan Malaka di Filipina, yang pada saat wawancara sudah berusia sembilan puluh dua tahun. "Ia tinggal di sebuah desa kecil di luar Manila, di rumah yang hampir roboh. Tetapi ketika saya menyebut nama 'Elias Fuentes', nama samaran Tan Malaka di Filipina, matanya berbinar. Ia mulai bercerita, dalam bahasa Tagalog yang cepat, tentang bagaimana 'Mr. Elias' mengajarinya membaca dan menulis, tentang bagaimana mereka bersembunyi dari polisi Filipina yang dibayar oleh Amerika, tentang bagaimana Tan Malaka selalu membawa buku catatan kecil di sakunya dan menulis di setiap kesempatan. Ceritanya kacau, melompat-lompat, penuh dengan detail yang tidak bisa diverifikasi. Tetapi di tengah-tengah kekacauan itu, ada satu detail yang membuat saya tersentak: ia menyebutkan bahwa Tan Malaka pernah menerjemahkan puisi José Rizal ke dalam bahasa Melayu. Saya belum pernah membaca tentang ini di sumber mana pun. Apakah ini benar? Saya tidak bisa memastikannya. Tetapi petunjuk seperti inilah, yang hanya bisa didapat dari saksi hidup, yang membuat pekerjaan ini begitu berharga" (Poeze, Jilid II 44).
Merekonstruksi Jejak yang Sengaja Dikaburkan
Dengan semua sumber ini, arsip Komintern, laporan intelijen, dan wawancara saksi, di tangannya, Poeze kemudian memulai proses rekonstruksi yang paling sulit: menyusun kronologi yang koheren dari pergerakan Tan Malaka selama lima belas tahun. Ini bukanlah tugas yang mudah, karena Tan Malaka sendiri, sebagaimana telah disebutkan, secara sadar mengaburkan jejaknya. Ia menggunakan nama-nama samaran yang berbeda di setiap negara: "Hasan" di Singapura, "Elias Fuentes" di Filipina, "Ossorio" di Hong Kong, "Go Lian Hoat" di Tiongkok. Ia sering kali memberikan informasi yang salah tentang rencananya kepada kenalan-kenalannya, dengan asumsi bahwa informasi itu akan bocor ke intelijen kolonial dan menyesatkan mereka. Ia menulis surat-surat yang sengaja tidak bertanggal, dari tempat-tempat yang sengaja tidak disebutkan, tentang pertemuan-pertemuan yang sengaja digambarkan secara samar."Tan Malaka adalah seorang seniman dalam hal menghilang," tulis Poeze dengan nada kagum. "Ia telah belajar dari pengalaman pahit: banyak kawannya yang ditangkap dan dieksekusi karena meninggalkan jejak yang terlalu jelas. Ia bersumpah bahwa hal yang sama tidak akan terjadi padanya. Dan ia menepati sumpahnya. Membaca korespondensinya dari periode ini adalah pengalaman yang nyata: Anda bisa merasakan kecerdasannya bekerja, memilih setiap kata dengan hati-hati, menyusun setiap kalimat untuk menyampaikan informasi yang cukup bagi kawan-kawannya tetapi tidak cukup bagi musuh-musuhnya. Ini adalah kriptografi politik tingkat tinggi" (Jilid II 48).
Untuk mengatasi pengaburan ini, Poeze mengembangkan teknik yang ia sebut "triangulasi temporal." Ia akan mengambil sebuah peristiwa yang disebutkan dalam satu sumber, misalnya, sebuah pertemuan di Kanton yang disebutkan dalam laporan Komintern, dan mencari konfirmasi independen dari dua sumber lainnya. Jika tiga sumber yang berbeda, dengan bias dan keterbatasan yang berbeda, semuanya menyebutkan peristiwa yang sama pada waktu yang sama, maka Poeze akan menerimanya sebagai fakta yang sangat mungkin. Jika hanya dua sumber yang mengonfirmasi, ia akan menerimanya sebagai kemungkinan, tetapi dengan catatan kaki yang menyatakan keraguan. Jika hanya satu sumber yang menyebutkan, ia akan memperlakukannya sebagai rumor yang belum terverifikasi, dan tidak akan memasukkannya ke dalam narasi utama tanpa kualifikasi yang jelas. "Metode ini lambat dan melelahkan," aku Poeze. "Tetapi dalam ketiadaan bukti yang lebih baik, ini adalah satu-satunya cara untuk memisahkan fakta dari fiksi. Saya tidak bisa mengklaim bahwa kronologi yang saya hasilkan adalah 100% akurat. Tetapi saya bisa mengklaim bahwa setiap peristiwa di dalamnya didukung oleh bukti terbaik yang tersedia, dan bahwa saya telah transparan tentang tingkat kepastian untuk setiap klaim. Dalam sejarah, seperti dalam hukum, kita harus puas dengan 'di luar keraguan yang masuk akal'" (Poeze, Jilid II 50).
Kedatangan Seorang Delegasi dari Timur Jauh
Tan Malaka tiba di Moskow pada akhir tahun 1922, sebagai delegasi dari Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menghadiri Kongres Keempat Komintern. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tanah Rusia, dan pengalaman itu mengguncangnya. Rusia saat itu masih dalam pergolakan Perang Saudara yang baru saja berakhir. Lenin masih hidup, tetapi kesehatannya sudah mulai menurun. Revolusi Bolshevik masih merupakan eksperimen yang belum pasti hasilnya, dan Moskow dipenuhi oleh revolusioner dari seluruh dunia yang datang untuk belajar, berdebat, dan mencari dukungan untuk perjuangan mereka sendiri.Poeze merekonstruksi kedatangan Tan Malaka dengan mendasarkan diri pada catatan-catatan administrasi Komintern yang ditemukannya di RGASPI. "Dari daftar delegasi Kongres Keempat, kita tahu bahwa Tan Malaka terdaftar dengan nama samaran 'H. Thamrin', sebuah nama yang aneh, mengingat Thamrin adalah nama seorang nasionalis Indonesia yang terkenal, tetapi di Moskow nama itu tidak dikenal. Kita juga tahu bahwa ia ditempatkan di Hotel Lux, asrama para revolusioner asing di Jalan Tverskaya, di mana ia sekamar dengan seorang komunis Tiongkok yang kelak menjadi salah satu pemimpin revolusi di Tiongkok. Identitas teman sekamarnya ini masih menjadi misteri, catatan hotel tidak lengkap, tetapi Poeze berspekulasi bahwa ia mungkin adalah Zhang Tailei, seorang pemimpin komunis Tiongkok yang aktif di Komintern pada periode ini" (Jilid II 65).
Yang paling menarik bagi Poeze adalah laporan pertama yang ditulis Tan Malaka untuk Komintern setelah kedatangannya. Laporan ini, yang ditulis dalam bahasa Jerman, bahasa kerja Komintern saat itu, adalah analisis mendalam tentang situasi politik di Hindia Belanda. "Membaca laporan ini," tulis Poeze, "saya terkesan oleh kematangan analisisnya. Tan Malaka baru berusia dua puluh lima tahun, tetapi ia sudah mampu menyajikan gambaran yang kompleks tentang struktur kelas di Hindia, peran imperialisme Belanda, potensi revolusioner dari kaum tani, dan hubungan antara gerakan nasionalis dan gerakan komunis. Ini bukanlah laporan seorang agitator yang hanya bisa berteriak slogan. Ini adalah laporan seorang analis politik yang serius, yang didasarkan pada data dan pengamatan empiris. Saya menduga bahwa laporan inilah yang membuat para pemimpin Komintern memperhatikan pemuda dari Hindia ini" (Poeze, Jilid II 70).
Debat dengan Zinoviev, Pan-Islamisme Sekutu atau Musuh?
Salah satu momen paling dramatis yang berhasil direkonstruksi Poeze dari arsip-arsip Komintern adalah perdebatan antara Tan Malaka dan Grigori Zinoviev, ketua Komite Eksekutif Komintern, mengenai isu Pan-Islamisme. Perdebatan ini terjadi dalam sesi-sesi Kongres Keempat yang membahas "Masalah Timur" (The Eastern Question), yaitu strategi Komintern dalam mendekati gerakan-gerakan anti-kolonial di Asia dan Afrika.Zinoviev, yang merupakan salah satu pemimpin tertinggi Bolshevik dan orang kepercayaan Lenin, memiliki pandangan yang keras terhadap Islam. Dalam pidatonya di Kongres, ia menggambarkan Pan-Islamisme sebagai "gerakan reaksioner" yang dimanipulasi oleh para pemimpin feodal dan borjuis untuk menyesatkan massa Muslim dari perjuangan kelas yang sesungguhnya. Baginya, kaum komunis harus melawan Pan-Islamisme, bukan bersekutu dengannya. "Pan-Islamisme," kata Zinoviev dalam pidatonya yang dikutip oleh Poeze dari transkrip resmi Kongres, "adalah upaya dari kelas-kelas penguasa Muslim untuk mengalihkan kebencian massa dari imperialisme Eropa ke dalam persatuan agama yang semu. Kita tidak boleh tertipu oleh slogan-slogan anti-imperialis mereka. Di balik slogan-slogan itu, mereka adalah musuh-musuh proletariat" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 85).
Tan Malaka, yang hadir di sesi tersebut sebagai delegasi dari Hindia Belanda, tidak tinggal diam. Poeze menemukan bahwa Tan Malaka meminta waktu untuk memberikan tanggapan, dan tanggapannya itu tercatat dalam notulensi Kongres. "Ini adalah salah satu momen paling berani dalam karier politik Tan Malaka," tulis Poeze. "Seorang pemuda dari koloni yang baru pertama kali datang ke Moskow, berani menantang pandangan salah satu pemimpin tertinggi revolusi dunia. Tetapi Tan Malaka tidak gentar. Ia berdiri dan menyampaikan analisis yang sama sekali berbeda tentang Islam dan Pan-Islamisme" (Jilid II 88).
Menurut rekonstruksi Poeze, Tan Malaka berargumen bahwa pandangan Zinoviev tentang Islam didasarkan pada pengalaman Eropa yang tidak bisa diterapkan begitu saja ke Asia. Di Eropa, kata Tan Malaka, gereja-gereja Kristen memang telah menjadi alat dari kelas-kelas penguasa feodal dan kapitalis. Tetapi di Asia, situasinya berbeda. Islam di Asia, khususnya di Hindia Belanda dan di Timur Tengah, adalah kekuatan anti-kolonial yang hidup. "Di negeri saya," kata Tan Malaka dalam pidatonya yang direkonstruksi oleh Poeze dari notulensi, "Islam adalah bahasa perlawanan rakyat melawan penindasan kapitalisme Belanda. Ketika petani Jawa memberontak melawan perkebunan gula, mereka melakukannya atas nama Islam. Ketika pedagang Sumatera menolak monopoli perdagangan Belanda, mereka melakukannya atas nama Islam. Kita tidak bisa mengabaikan fakta ini hanya karena di Eropa agama telah menjadi alat reaksi. Kita harus memahami Islam sebagaimana adanya di Asia, bukan sebagaimana kita bayangkan berdasarkan pengalaman Eropa" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 90).
Poeze menekankan bahwa Tan Malaka tidak membela Islam sebagai agama. Ia tetap seorang materialis dan ateis. Tetapi ia berargumen bahwa dalam kondisi spesifik Asia, gerakan-gerakan Islam memiliki potensi revolusioner yang harus dimanfaatkan oleh kaum komunis. "Ini adalah inti dari taktik 'blok dalam' yang telah ia rumuskan di Semarang, sekarang diterapkan pada skala global. Tan Malaka mengusulkan agar Komintern mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel terhadap Islam di Asia, dengan membedakan antara elemen-elemen reaksioner (para ulama konservatif yang bersekutu dengan imperialisme) dan elemen-elemen progresif (massa Muslim yang anti-kolonial). Komintern, katanya, harus bersekutu dengan yang kedua untuk melawan yang pertama" (Poeze, Jilid II 92).
Bagaimana reaksi Zinoviev? Poeze mengakui bahwa catatan tentang hal ini tidak jelas. Notulensi Kongres tidak mencatat tanggapan langsung dari Zinoviev. Tetapi dari dokumen-dokumen selanjutnya, Poeze menyimpulkan bahwa argumen Tan Malaka tidak sepenuhnya diabaikan. "Dalam resolusi-resolusi Kongres Keempat tentang Masalah Timur, kita bisa melihat pengaruh dari argumen Tan Malaka, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit. Resolusi itu mengakui bahwa gerakan-gerakan nasionalis di Asia, termasuk yang berbasis agama, bisa memiliki karakter revolusioner dalam kondisi tertentu. Ini adalah perubahan dari posisi sebelumnya yang lebih dogmatis. Saya percaya bahwa Tan Malaka, bersama dengan delegasi-delegasi lain dari Asia, berkontribusi pada perubahan ini" (Poeze, Jilid II 95).
Debat dengan Manuilsky Aliansi dengan Borjuasi Nasional atau Revolusi Proletar Murni?
Perdebatan penting lainnya yang direkonstruksi oleh Poeze adalah antara Tan Malaka dan Dmitry Manuilsky, seorang pemimpin senior Komintern yang kemudian menjadi sekretaris Komite Eksekutif. Perdebatan ini terjadi dalam konteks perumusan strategi "front persatuan" (united front) di negara-negara kolonial. Komintern pada saat itu sedang memperdebatkan apakah partai-partai komunis di Asia harus membentuk aliansi taktis dengan partai-partai borjuis nasionalis untuk melawan imperialisme, atau apakah mereka harus mempertahankan independensi penuh dan mempersiapkan revolusi proletar segera.Manuilsky, yang mewakili posisi ortodoks Komintern, mendukung aliansi taktis dengan borjuasi nasional. Dalam pidatonya, ia berargumen bahwa di negara-negara kolonial, di mana kapitalisme belum berkembang sepenuhnya dan proletariat masih kecil, kaum komunis harus mendukung gerakan-gerakan borjuis nasionalis seperti Kuomintang di Tiongkok, Kongres Nasional India di India, atau Sarekat Islam di Hindia Belanda. "Kita harus berjalan bersama borjuasi nasional," kata Manuilsky, "sampai imperialisme dikalahkan. Setelah itu, kita akan berpisah jalan dan melanjutkan perjuangan kita sendiri" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 110).
Tan Malaka, menurut Poeze, sangat skeptis terhadap strategi ini. Pengalamannya di Hindia Belanda telah mengajarkannya bahwa borjuasi nasional tidak bisa dipercaya. Mereka terlalu terikat dengan kepentingan ekonomi mereka sendiri, dan pada akhirnya akan lebih memilih berkompromi dengan imperialisme daripada mendukung revolusi sosial yang mengancam properti mereka. "Tan Malaka telah menyaksikan sendiri bagaimana Sarekat Islam, yang awalnya adalah gerakan massa yang radikal, perlahan-lahan dijinakkan oleh elemen-elemen borjuisnya," tulis Poeze. "Ia khawatir bahwa strategi front persatuan akan mengulangi kesalahan yang sama di seluruh Asia: kaum komunis akan dimanfaatkan oleh borjuasi nasional untuk merebut kekuasaan, dan kemudian dibuang setelah borjuasi itu tidak lagi membutuhkan mereka" (Jilid II 112).
Poeze menemukan bahwa Tan Malaka menyampaikan pandangannya ini dalam sebuah memorandum kepada Komite Eksekutif Komintern, yang tidak dibacakan di sidang umum tetapi didistribusikan secara terbatas. Dalam memorandum ini, Tan Malaka mengusulkan sebuah strategi alternatif: alih-alih membentuk front persatuan dari atas, antara elit-elit partai, kaum komunis harus membangun front persatuan dari bawah, di antara massa rakyat. Ia menyerukan pembentukan "dewan-dewan rakyat" (soviets) di desa-desa dan pabrik-pabrik, yang akan menjadi basis kekuatan revolusioner yang independen. Hanya dengan memiliki basis massa yang kuat, kata Tan Malaka, kaum komunis bisa bersekutu dengan borjuasi nasional tanpa takut ditelan oleh mereka. "Kita harus memegang kendali atas massa," tulis Tan Malaka dalam memorandumnya, "sebelum kita duduk di meja perundingan dengan borjuasi. Jika tidak, kita akan menjadi ekor mereka, bukan kepala dari gerakan revolusioner" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 115).
Poeze mencatat bahwa memorandum Tan Malaka ini tampaknya tidak mendapat tanggapan resmi dari Komintern. Strategi front persatuan dengan borjuasi nasional tetap diadopsi, dan diterapkan di Tiongkok dengan hasil yang tragis: pada tahun 1927, Chiang Kai-shek berbalik melawan kaum komunis dan membantai ribuan dari mereka di Shanghai. "Tan Malaka telah meramalkan bencana ini," tulis Poeze. "Tetapi pada tahun 1923, tidak ada yang mendengarkannya. Ia adalah suara dari pinggiran, seorang pemuda dari koloni yang terlalu jauh. Ironisnya, pengalaman pahit dari pengkhianatan di Tiongkok pada tahun 1927 justru membuat banyak komunis kemudian menyadari bahwa Tan Malaka benar. Tetapi pada saat itu, ia sudah lama meninggalkan Komintern" (Jilid II 118).
Hubungan dengan Stalin, Kekaguman dan Kecurigaan
Salah satu pertanyaan yang paling sulit dijawab oleh Poeze adalah tentang hubungan pribadi antara Tan Malaka dan Joseph Stalin. Kedua tokoh ini bertemu di Moskow pada tahun 1922-1923, ketika Stalin masih dalam proses membangun kekuasaannya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet. Namun, dokumen-dokumen tentang pertemuan-pertemuan mereka sangat langka, dan Poeze harus berspekulasi berdasarkan bukti-bukti tidak langsung."Kita tahu dari daftar delegasi bahwa Tan Malaka menghadiri beberapa pertemuan di mana Stalin juga hadir," tulis Poeze. "Kita juga tahu dari tulisan-tulisan Tan Malaka di kemudian hari bahwa ia mengagumi Stalin, setidaknya sampai tahun-tahun terakhir hidupnya. Dalam Madilog, misalnya, ia menyebut Stalin dengan hormat sebagai salah satu pemimpin revolusi dunia. Tetapi apakah ada hubungan pribadi di antara mereka? Apakah mereka pernah berbicara secara langsung, atau hanya saling melihat dari jauh di koridor-koridor Kremlin? Saya tidak bisa memastikannya" (Jilid II 130).
Meskipun demikian, Poeze berhasil menemukan beberapa petunjuk yang menarik. Salah satunya adalah sebuah catatan kecil di arsip Komintern yang menyebutkan bahwa Stalin telah membaca laporan Tan Malaka tentang situasi di Hindia Belanda dan "terkesan oleh analisisnya." Catatan ini tidak bertanggal dan tidak ditandatangani oleh Stalin sendiri, melainkan oleh salah satu sekretarisnya, sehingga keandalannya dipertanyakan. Namun, Poeze berargumen bahwa jika catatan ini benar, maka ini bisa menjelaskan mengapa Tan Malaka kemudian diberi posisi yang cukup penting di Komintern: ia diangkat sebagai agen Komintern untuk Asia Tenggara, dengan tanggung jawab untuk mengorganisir gerakan komunis di wilayah tersebut. "Penunjukan ini tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan dari Stalin atau setidaknya dari lingkaran dalamnya," tulis Poeze. "Jadi, meskipun bukti langsungnya kurang, ada alasan untuk percaya bahwa Stalin mengenal dan menghargai Tan Malaka, setidaknya pada periode awal ini" (Jilid II 132).
Poeze juga mencatat bahwa hubungan ini, jika memang ada, tampaknya memburuk seiring waktu. Pada akhir tahun 1920-an, ketika Stalin mengkonsolidasikan kekuasaannya dan mulai menyingkirkan lawan-lawannya, Tan Malaka menjadi semakin kritis terhadap Komintern. Ia menolak untuk tunduk pada disiplin partai yang ketat dan bersikeras pada otonomi gerakan komunis Indonesia. Sikap independen ini, menurut Poeze, mungkin telah membuatnya dicap sebagai "pembangkang" (deviationist) oleh Stalin dan lingkaran dalamnya. "Tan Malaka tidak pernah secara resmi dikeluarkan dari Komintern," tulis Poeze. "Tetapi setelah tahun 1927, ia tidak lagi menerima dana atau instruksi dari Moskow. Ia telah menjadi seorang revolusioner tanpa partai, seorang Marxis tanpa tuan. Dan dalam iklim politik Stalinis yang semakin paranoid, posisi seperti itu sangat berbahaya" (Jilid II 135).
Polemik tentang "Sosialisme di Satu Negeri" Internasionalisme Radikal Tan Malaka
Salah satu perdebatan ideologis paling mendasar yang direkonstruksi oleh Poeze adalah polemik implisit antara Tan Malaka dan Stalin mengenai doktrin "Sosialisme di Satu Negeri" (Socialism in One Country). Doktrin ini, yang dirumuskan oleh Stalin pada pertengahan 1920-an, menyatakan bahwa Uni Soviet dapat dan harus membangun sosialisme sendiri, tanpa menunggu revolusi dunia. Ini adalah penyimpangan signifikan dari posisi Marxis ortodoks, yang menyatakan bahwa sosialisme hanya bisa berhasil jika diterapkan secara global.Tan Malaka, sebagaimana dibuktikan oleh Poeze melalui tulisan-tulisannya dari periode ini, adalah seorang internasionalis radikal yang menolak doktrin Stalin. Baginya, revolusi di Uni Soviet tidak akan bertahan jika dikepung oleh negara-negara kapitalis. Satu-satunya jalan menuju sosialisme adalah revolusi dunia, yang dimulai di negara-negara maju di Eropa tetapi juga menyebar ke negara-negara jajahan di Asia dan Afrika. "Tan Malaka adalah salah satu dari sedikit komunis Asia yang secara konsisten mempertahankan posisi internasionalis murni," tulis Poeze. "Sementara banyak komunis di negara-negara jajahan secara diam-diam menerima doktrin Stalin karena mereka bergantung pada dukungan Uni Soviet, Tan Malaka tidak. Ia percaya bahwa revolusi di Indonesia harus menjadi bagian dari revolusi dunia, dan bahwa Uni Soviet seharusnya menjadi garda depan dari revolusi itu, bukan sebuah benteng yang terisolasi" (Jilid II 145).
Poeze menemukan bukti dari posisi ini dalam sebuah artikel yang ditulis Tan Malaka untuk jurnal Komintern pada tahun 1924, tidak lama sebelum ia meninggalkan Moskow. Artikel ini, yang berjudul "Prospek Revolusi di Asia," secara eksplisit menyerukan revolusi simultan di Eropa dan Asia. "Kita tidak bisa menunggu Eropa menyelesaikan revolusinya terlebih dahulu, baru kemudian Asia mengikuti," tulis Tan Malaka dalam artikelnya. "Revolusi di Eropa dan revolusi di Asia adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Mereka harus berjalan bersama, atau mereka akan gagal bersama. Uni Soviet tidak bisa menjadi pulau sosialisme di lautan kapitalisme; ia harus menjadi mercusuar yang menerangi seluruh dunia" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 148).
Poeze mencatat bahwa artikel ini kemungkinan besar tidak menyenangkan hati Stalin dan para pendukungnya. Namun, karena artikel itu diterbitkan sebelum Stalin sepenuhnya mengkonsolidasikan kekuasaannya dan sebelum perdebatan tentang "Sosialisme di Satu Negeri" mencapai puncaknya, Tan Malaka tidak langsung mendapat masalah. "Ini adalah salah satu ironi sejarah," tulis Poeze. "Pada tahun 1924, Tan Malaka sudah mengartikulasikan posisi yang pada tahun 1926 akan dianggap sebagai bidah Trotskyis. Tetapi pada saat itu, Trotsky masih menjadi anggota Politbiro dan perpecahan belum terjadi. Jadi Tan Malaka lolos dari cap 'pembangkang', untuk sementara waktu" (Jilid II 150).
Misi Komintern ke Asia Timur
Pada awal tahun 1924, Komintern mengirim Tan Malaka ke Kanton (sekarang Guangzhou), di Tiongkok selatan, dengan misi untuk mengorganisir gerakan komunis di Asia Tenggara. Ini adalah penugasan yang sangat penting dan sangat berbahaya. Kanton pada saat itu adalah pusat dari pemerintahan nasionalis Kuomintang yang dipimpin oleh Sun Yat-sen, yang bersekutu dengan Uni Soviet dan menerima bantuan dari Komintern. Dari basisnya di Kanton, Komintern berharap untuk menyebarkan revolusi ke seluruh Asia.Poeze merekonstruksi periode Kanton ini dengan mengandalkan terutama pada arsip-arsip Komintern dan laporan-laporan intelijen Inggris yang memata-matai aktivitas komunis di Tiongkok selatan. "Kanton pada tahun 1924 adalah sarang intrik revolusioner," tulis Poeze. "Di kota itu, agen-agen Komintern dari seluruh Asia berkumpul: ada Ho Chi Minh dari Vietnam, Zhou Enlai dari Tiongkok, Tan Malaka dari Indonesia, dan banyak lagi. Mereka tinggal di rumah-rumah aman, bertemu di restoran-restoran rahasia, dan merencanakan revolusi di negara-negara mereka masing-masing. Dinas intelijen Inggris di Hong Kong, yang hanya berjarak beberapa jam perjalanan dengan kapal, mengirim agen-agen mereka untuk mengawasi setiap gerakan mereka. Ini adalah permainan kucing-kucingan yang mematikan" (Jilid II 160).
Peran resmi Tan Malaka di Kanton adalah sebagai penerjemah dan editor untuk jurnal Komintern yang berbahasa Inggris, The International Press Correspondence. Namun, Poeze menemukan bahwa perannya jauh lebih besar daripada itu. Dari laporan-laporan yang ia tulis untuk Komintern, kita tahu bahwa Tan Malaka secara aktif terlibat dalam mengorganisir jaringan bawah tanah yang menghubungkan komunis dari Indonesia, Malaya, Filipina, dan Indochina. "Tan Malaka adalah simpul dari jaringan ini," tulis Poeze. "Ia adalah orang yang tahu siapa yang bisa dipercaya, di mana rumah-rumah aman berada, dan bagaimana mengirim pesan rahasia melintasi lautan yang dijaga oleh angkatan laut kolonial. Tanpa dia, jaringan ini mungkin tidak akan berfungsi" (Jilid II 165).
Perdebatan dengan Ho Chi Minh Strategi untuk Revolusi Pan-Pasifik
Salah satu penemuan paling berharga yang dilakukan Poeze di arsip Komintern adalah dokumen-dokumen yang menunjukkan adanya perdebatan strategis antara Tan Malaka dan Ho Chi Minh, yang saat itu juga berada di Kanton sebagai agen Komintern untuk Indochina. Kedua tokoh ini memiliki banyak kesamaan: mereka berdua adalah revolusioner dari negara jajahan yang telah belajar di Eropa, mereka berdua adalah Marxis yang berusaha menyesuaikan Marxisme dengan kondisi Asia, dan mereka berdua percaya pada pentingnya persatuan di antara gerakan-gerakan anti-kolonial di seluruh Asia. Tetapi mereka juga memiliki perbedaan yang signifikan, dan perbedaan-perbedaan ini, menurut Poeze, "mencerminkan dua visi yang berbeda tentang bagaimana revolusi Asia harus diorganisir" (Jilid II 170).Ho Chi Minh, yang lebih senior dalam gerakan komunis dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Moskow, mendukung pendekatan yang terpusat. Ia percaya bahwa semua partai komunis di Asia harus tunduk pada arahan Komintern, dan bahwa revolusi di masing-masing negara harus dikoordinasikan dari satu pusat. Tan Malaka, sebaliknya, mendukung pendekatan yang lebih terdesentralisasi. Ia percaya bahwa setiap partai komunis harus memiliki otonomi yang signifikan untuk menyesuaikan strateginya dengan kondisi lokal, dan bahwa koordinasi internasional harus bersifat sukarela, bukan komando. "Perdebatan antara Tan dan Ho," tulis Poeze, "adalah perdebatan antara seorang federalis dan seorang sentralis, antara seorang pluralis dan seorang monolit. Keduanya menginginkan revolusi Asia, tetapi mereka membayangkan organisasi revolusi itu dengan cara yang sangat berbeda" (Jilid II 172).
Poeze menemukan bukti dari perdebatan ini dalam sebuah memorandum yang ditulis oleh Tan Malaka pada akhir tahun 1924, yang mengusulkan pembentukan "Liga Anti-Imperialis Asia" yang akan menjadi forum bagi semua gerakan anti-kolonial di Asia, terlepas dari orientasi ideologis mereka. Liga ini, kata Tan Malaka, harus bersifat inklusif: komunis, nasionalis, dan Islamis semuanya harus diundang untuk bergabung, selama mereka berkomitmen untuk melawan imperialisme. "Kita tidak bisa memaksakan Marxisme pada semua gerakan anti-kolonial," tulis Tan Malaka dalam memorandumnya. "Apa yang kita butuhkan adalah front terluas yang mungkin melawan imperialisme. Setelah imperialisme dikalahkan, maka kita akan melihat ideologi mana yang terkuat. Untuk saat ini, prioritas kita adalah persatuan dalam aksi, bukan persatuan dalam teori" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 175).
Ho Chi Minh, menurut catatan yang ditemukan Poeze, menolak proposal ini. Ia khawatir bahwa liga yang terlalu inklusif akan dikendalikan oleh elemen-elemen borjuis dan akan mengaburkan garis antara revolusi sosial dan sekadar nasionalisme anti-kolonial. Bagi Ho, prioritasnya adalah memperkuat partai-partai komunis yang eksplisit, dan aliansi dengan kelompok-kelompok non-komunis hanya boleh bersifat taktis dan sementara. "Ho Chi Minh mewakili ortodoksi Komintern pada saat itu," tulis Poeze. "Tan Malaka mewakili sebuah alternatif yang tidak pernah benar-benar dicoba. Apakah alternatif itu akan berhasil? Kita tidak akan pernah tahu. Tetapi debat antara Tan dan Ho di Kanton pada tahun 1924 adalah salah satu momen penting dalam sejarah gerakan komunis Asia, yang sayangnya telah dilupakan" (Jilid II 178).
Pemberontakan PKI 1926-1927 Tragedi yang Diramalkan
Pada bulan November 1926, Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan pemberontakan bersenjata melawan pemerintah kolonial Belanda di beberapa tempat di Jawa dan Sumatera. Pemberontakan ini direncanakan dengan buruk, dieksekusi dengan buruk, dan dihancurkan dengan cepat oleh pasukan kolonial. Ribuan anggota PKI ditangkap, ratusan dieksekusi, dan partai itu sendiri dilarang. Ini adalah bencana terbesar dalam sejarah gerakan komunis Indonesia, dan salah satu tragedi yang paling mempengaruhi Tan Malaka secara pribadi.Poeze merekonstruksi peristiwa ini dari berbagai sumber, termasuk laporan-laporan pemerintah kolonial, memoar para veteran PKI yang selamat, dan yang paling penting, dari reaksi Tan Malaka sendiri yang tercatat dalam arsip-arsip Komintern. "Apa yang saya temukan," tulis Poeze, "adalah bahwa Tan Malaka telah meramalkan bencana ini, dan telah berusaha sekuat tenaga untuk mencegahnya. Tetapi suaranya tidak didengar" (Jilid II 190).
Menurut Poeze, sejak tahun 1925, Tan Malaka telah menerima laporan dari kawan-kawannya di Indonesia bahwa ada faksi di dalam PKI yang mendorong pemberontakan bersenjata segera. Faksi ini, yang dipimpin oleh Alimin dan Musso, percaya bahwa situasi revolusioner sudah matang dan bahwa massa rakyat siap untuk bangkit melawan Belanda. Tan Malaka, dari posnya di Kanton, sangat tidak setuju dengan analisis ini. Ia telah mempelajari kondisi di Indonesia dengan saksama, dan ia menyimpulkan bahwa PKI belum cukup kuat untuk melancarkan pemberontakan. Basis massanya masih lemah, organisasinya masih kacau, dan dukungan internasionalnya belum terjamin. "Pemberontakan sekarang," tulis Tan Malaka dalam sebuah surat kepada pimpinan PKI yang dikutip oleh Poeze, "adalah bunuh diri. Kita akan dihancurkan, dan gerakan kita akan mundur dua puluh tahun. Kita harus bersabar, membangun basis massa, dan menunggu saat yang tepat. Revolusi bukanlah sebuah petualangan; ia adalah sebuah ilmu" (dikutip dalam Poeze, Jilid II 192).
Namun, Alimin dan Musso tidak mendengarkan. Pada bulan Desember 1926, mereka bertemu dengan Tan Malaka di Singapura untuk membahas rencana pemberontakan. Pertemuan ini, yang direkonstruksi oleh Poeze dari wawancara dengan saksi-saksi yang masih hidup dan dari laporan-laporan intelijen, berlangsung dengan sengit. Tan Malaka berdebat dengan keras menentang pemberontakan, tetapi Alimin dan Musso bersikeras bahwa keputusan sudah dibuat. "Poeze menggambarkan pertemuan ini sebagai 'salah satu momen paling menyakitkan dalam sejarah gerakan kiri Indonesia'," tulisnya. "Di satu sisi adalah Tan Malaka, yang telah belajar dari pengalaman internasionalnya dan yang memahami bahwa revolusi memerlukan persiapan yang matang. Di sisi lain adalah Alimin dan Musso, yang terbakar oleh semangat revolusioner tetapi buta terhadap realitas. Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan. Alimin dan Musso kembali ke Jawa dan melanjutkan rencana mereka. Tan Malaka kembali ke pengasingannya, tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan bencana yang akan datang" (Jilid II 195).
Pemberontakan pecah pada bulan November 1926 dan berhasil dipadamkan dalam beberapa minggu. PKI hancur, dan ribuan anggotanya ditangkap dan dibuang ke kamp konsentrasi di Boven Digul, Papua. Tan Malaka, yang saat itu sudah berada di Bangkok, menerima berita ini dengan kemarahan dan kesedihan yang mendalam. "Dia telah diperingatkan," tulis Poeze. "Dia telah memohon kepada kawan-kawannya untuk tidak mengambil langkah bunuh diri ini. Tetapi mereka tidak mendengarkan. Dan sekarang, gerakan yang telah ia bantu bangun dengan susah payah telah hancur. Ini adalah luka yang tidak akan pernah sembuh sepenuhnya" (Jilid II 200).
Poeze berargumen bahwa kegagalan pemberontakan 1926-1927 adalah titik balik dalam hubungan Tan Malaka dengan PKI dan dengan Komintern. Setelah bencana ini, Tan Malaka semakin menjauhkan diri dari partai dan dari Moskow. Ia tidak bisa memaafkan kecerobohan yang telah menghancurkan begitu banyak nyawa dan menghancurkan gerakan. "Tan Malaka adalah seorang revolusioner," tulis Poeze, "tetapi ia bukanlah seorang petualang. Ia percaya pada revolusi yang direncanakan, bukan revolusi yang impulsif. Dan setelah 1926, ia menjadi semakin kritis terhadap mereka yang mengutamakan semangat di atas akal. Ini adalah posisi yang akan membuatnya semakin terisolasi di tahun-tahun mendatang" (Jilid II 205).
Dalam Pelarian Strategi Menghilang
Setelah penghancuran PKI dan penangkapan massal yang mengikutinya, posisi Tan Malaka menjadi sangat berbahaya. Ia sekarang adalah buronan paling dicari di Asia Tenggara. Pemerintah kolonial Belanda telah menawarkan hadiah besar untuk penangkapannya. Intelijen Inggris, Prancis, dan Amerika juga memburunya, karena ia dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas seluruh kawasan. Untuk bertahan hidup, Tan Malaka harus menghilang sepenuhnya.Poeze merekonstruksi periode pelarian ini dengan sangat rinci, meskipun ia mengakui bahwa banyak bagian dari cerita ini tetap gelap dan mungkin tidak akan pernah diketahui sepenuhnya. "Apa yang saya sajikan di sini," tulisnya, "adalah rekonstruksi terbaik yang bisa saya lakukan dengan bukti-bukti yang tersedia. Tetapi saya harus mengakui bahwa ada banyak celah dalam rekonstruksi ini. Ada periode-periode di mana kita sama sekali tidak tahu di mana Tan Malaka berada, apa yang ia lakukan, atau dengan siapa ia berhubungan. Ini adalah frustrasi terbesar dari seluruh proyek penelitian ini" (Jilid II 220).
Dari sumber-sumber yang berhasil dikumpulkannya, termasuk laporan-laporan intelijen, surat-surat yang diselundupkan, dan wawancara dengan saksi, Poeze berhasil merekonstruksi garis besar pergerakan Tan Malaka antara tahun 1927 dan 1937. Setelah pemberontakan 1926, Tan Malaka melarikan diri dari Singapura ke Bangkok, di mana ia tinggal selama beberapa bulan dengan nama samaran "Hasan." Di Bangkok, ia hidup dalam kemiskinan, bekerja sebagai tukang kebun dan guru les privat untuk menghidupi dirinya. Dari Bangkok, ia pindah ke Shanghai, yang pada saat itu adalah kota internasional yang kacau di mana buronan dari seluruh dunia bisa bersembunyi. Di Shanghai, ia tinggal di pemukiman internasional, di mana hukum Tiongkok tidak berlaku dan polisi kolonial tidak bisa menangkapnya dengan mudah. Ia bekerja sebagai editor untuk sebuah surat kabar berbahasa Inggris yang dimiliki oleh seorang simpatisan komunis, dan menggunakan posisinya untuk terus mengikuti perkembangan politik di Asia.
Pada tahun 1931, ketika Jepang menginvasi Manchuria dan situasi di Tiongkok semakin kacau, Tan Malaka memutuskan untuk pindah ke selatan. Ia menyeberang ke Hong Kong, dan dari sana ke Manila, Filipina, yang saat itu merupakan koloni Amerika Serikat. Di Manila, ia akan menghabiskan beberapa tahun berikutnya dalam penyamaran total.
Manila Penulisan Magnum Opus di Bawah Bayang-bayang
Periode Manila adalah salah satu yang paling misterius dan paling produktif dalam kehidupan Tan Malaka. Di sinilah, dalam persembunyian yang dalam, ia menulis karya-karyanya yang paling penting, termasuk Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) dan sebagian besar dari Dari Penjara ke Penjara. Bagaimana ia bisa menulis karya-karya besar ini sambil bersembunyi dari dinas intelijen Amerika? Jawabannya, menurut Poeze, terletak pada jaringan perlindungan yang luar biasa yang berhasil dibangunnya."Di Manila, Tan Malaka menemukan komunitas yang bersedia melindunginya," tulis Poeze. "Mereka adalah orang-orang Filipina yang telah berkenalan dengannya selama periode Kanton, dan yang sekarang menawarinya tempat tinggal, makanan, dan yang paling penting, keamanan. Ia tinggal di rumah-rumah aman di distrik-distrik miskin Manila, berpindah-pindah setiap kali ada kecurigaan bahwa polisi Amerika sedang mendekat. Ia menyamar sebagai Elias Fuentes, seorang guru bahasa dan penerjemah lepas. Dan di malam hari, di bawah cahaya lampu minyak yang redup, ia menulis" (Jilid II 260).
Poeze sangat tertarik pada proses kreatif di balik Madilog, yang olehnya disebut sebagai "produk dari kondisi yang paling tidak mungkin." Bagaimana mungkin seorang buronan, yang selalu diancam oleh penangkapan dan kematian, yang hidup dalam kemiskinan dan tanpa akses ke perpustakaan yang layak, dapat menulis sebuah risalah filosofis yang ambisius tentang materialisme, dialektika, dan logika? "Jawabannya," tulis Poeze, "adalah bahwa Madilog bukanlah produk dari penelitian akademik yang nyaman. Ia adalah produk dari kebutuhan eksistensial. Tan Malaka menulis Madilog karena ia percaya bahwa revolusi Indonesia memerlukan fondasi intelektual yang kuat. Ia melihat kawan-kawannya bertindak tanpa berpikir, dan ia melihat akibatnya dalam bencana 1926. Madilog adalah usahanya untuk memberikan alat-alat intelektual yang ia yakini diperlukan oleh generasi revolusioner berikutnya" (Jilid II 265).
Poeze juga merekonstruksi, dengan cukup rinci, bagaimana naskah Madilog diselundupkan keluar dari Filipina dan akhirnya sampai ke Indonesia. "Ini adalah operasi yang sangat berbahaya," tulisnya. "Naskah itu ditulis tangan, di atas kertas-kertas kecil yang mudah disembunyikan. Ia dibawa oleh serangkaian kurir, masing-masing hanya tahu satu bagian dari rute, melalui Borneo Utara dan Singapura, sampai akhirnya tiba di tangan kawan-kawan Tan di Jawa. Jika naskah itu dicegat oleh polisi kolonial di salah satu titik dalam perjalanannya, Tan Malaka akan kehilangan karya hidupnya, dan mungkin juga nyawanya" (Jilid II 270).
Pada tahun 1937, setelah bertahun-tahun bersembunyi dan menulis di Manila, Tan Malaka memutuskan untuk kembali ke Asia Tenggara. Situasi politik di Asia sedang berubah dengan cepat: Jepang semakin agresif, dan Perang Dunia II tampaknya akan segera pecah. Tan Malaka tahu bahwa perang akan menciptakan peluang baru untuk revolusi di Indonesia, dan ia ingin siap. Dengan menggunakan paspor palsu dengan nama "Chen Lien-hua," ia meninggalkan Filipina dan menuju ke Singapura, di mana ia akan memulai babak baru dalam perjuangannya.
Signifikansi dari Jejak yang Direkonstruksi
Ketika Harry A. Poeze akhirnya menyelesaikan jilid kedua dari biografinya, ia menulis sebuah epilog yang merefleksikan signifikansi dari pekerjaan yang telah ia lakukan. "Periode 1922-1937," tulisnya, "adalah periode yang paling gelap dalam kehidupan Tan Malaka, tetapi juga periode yang paling penting untuk memahami siapa dia sebenarnya. Di Moskow, ia belajar tentang politik kekuasaan global dan mengasah kemampuan analitisnya dalam debat dengan para pemimpin revolusi dunia. Di Kanton, ia mengorganisir jaringan bawah tanah dan belajar tentang pentingnya solidaritas internasional. Di Manila, ia menulis karya-karya yang akan menjadi warisan intelektualnya. Tanpa memahami periode ini, kita tidak bisa memahami Tan Malaka yang kembali ke Indonesia pada tahun 1942, seorang veteran perjuangan global yang telah melihat lebih banyak dari dunia daripada kebanyakan pemimpin Indonesia lainnya, dan yang memiliki visi yang matang tentang bagaimana revolusi harus dilakukan" (Jilid II 310).Poeze mengakui bahwa rekonstruksinya tidak sempurna. Ada banyak celah yang tidak bisa diisi, banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Tetapi ia berharap bahwa pekerjaannya telah memberikan kerangka yang bisa digunakan oleh para sejarawan masa depan untuk melanjutkan penelitian. "Saya telah meletakkan fondasi," tulisnya. "Sekarang giliran generasi berikutnya untuk membangun di atasnya. Arsip-arsip baru mungkin akan dibuka, dokumen-dokumen baru mungkin akan ditemukan, dan cerita Tan Malaka mungkin akan menjadi lebih lengkap. Tetapi saya percaya bahwa apa yang telah saya temukan sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Tan Malaka bukanlah sekadar pemain pinggiran dalam sejarah Indonesia. Ia adalah salah satu tokoh sentral, yang pengaruhnya melampaui batas-batas nasional dan yang pemikirannya masih relevan hingga hari ini" (Poeze, Jilid II 315).
Pada akhirnya, bab tentang Moskow, Kanton, dan Manila ini adalah bukti dari dedikasi seorang sejarawan yang menolak untuk menyerah pada kesulitan. Harry A. Poeze telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk memburu hantu yang sengaja dikubur, dan meskipun ia tidak berhasil menangkap semuanya, apa yang berhasil ia tangkap telah mengubah pemahaman kita tentang sejarah Indonesia secara fundamental. "Tan Malaka adalah manusia kertas," tulis Poeze dalam kalimat penutup bab ini, "dan saya telah mengumpulkan kertas-kertas itu, sebanyak yang bisa saya temukan. Dari sobekan-sobekan itu, saya telah mencoba untuk menyusun kembali gambar seorang manusia. Apakah gambar itu sempurna? Tidak. Tetapi saya percaya bahwa itu adalah gambar yang jujur, dan bahwa itu lebih baik daripada tidak ada gambar sama sekali" (Poeze, Jilid II 320).
Rujukan, Silakan Periksa:
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I: 1897-1925. PT Pustaka Utama Grafiti, 1988.Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Bab 3 Hubungan Tan Malaka dan Aneka Tokoh Bangsa Hasil Riset Harry A. Poeze
Membaca Hubungan Politik Melalui Lensa Arsip
Sebelum menyelami kompleksitas hubungan antara Tan Malaka dengan dua belas tokoh bangsa yang akan dibahas dalam bab ini, penting untuk memahami kerangka metodologis yang digunakan oleh Harry A. Poeze dalam merekonstruksi jaringan relasi politik ini. Bagi Poeze, hubungan antar-tokoh bukanlah sekadar cerita tentang persahabatan atau permusuhan personal, meskipun dimensi personal itu ada dan kadang-kadang menentukan. Hubungan politik, dalam perspektif Poeze, adalah produk dari pertemuan antara ideologi, kepentingan strategis, dan konteks historis yang spesifik. Setiap interaksi antara Tan Malaka dan tokoh-tokoh lain harus dibaca dalam kerangka tiga dimensi: dimensi ideologis (apa yang mereka percayai), dimensi strategis (apa yang mereka inginkan), dan dimensi kontekstual (dalam situasi apa mereka bertindak)."Terlalu sering," tulis Poeze dalam pengantar jilid ketiga biografinya, "sejarah Indonesia ditulis sebagai sejarah individu-individu besar yang bertindak dalam ruang hampa. Soekarno adalah orator ulung, Hatta adalah administrator teliti, Sjahrir adalah diplomat cerdas, Tan Malaka adalah revolusioner radikal, masing-masing digambarkan sebagai tipe ideal yang statis. Tetapi realitas sejarah jauh lebih kompleks. Tokoh-tokoh ini tidak hidup dalam ruang hampa; mereka saling berinteraksi, saling mempengaruhi, saling mencintai dan saling membenci. Hubungan di antara mereka berubah seiring waktu, dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun. Untuk memahami Tan Malaka, kita harus memahami jaringan hubungannya dengan tokoh-tokoh lain. Dan untuk memahami jaringan itu, kita harus kembali ke arsip-arsip, ke surat-surat yang mereka tulis, ke notulensi rapat yang mereka hadiri, ke laporan-laporan intelijen yang merekam gerak-gerik mereka" (Poeze, Jilid III 5).
Pendekatan Poeze dalam merekonstruksi hubungan-hubungan ini bertumpu pada prinsip "triangulasi" yang telah ia kembangkan sejak awal penelitiannya. Ia tidak pernah mengandalkan satu sumber tunggal, apalagi memoar yang ditulis puluhan tahun setelah peristiwa terjadi. Setiap klaim tentang apa yang dikatakan atau dilakukan oleh seorang tokoh harus dikonfirmasi oleh setidaknya dua sumber independen. Ketika Tan Malaka menulis dalam otobiografinya bahwa ia "dikhianati" oleh Soekarno, Poeze tidak langsung menerima klaim ini sebagai kebenaran. Ia mencari bukti-bukti lain: laporan-laporan dari saksi mata, surat-surat yang ditulis pada saat itu, notulensi rapat yang mencatat apa yang sebenarnya terjadi. Baru setelah berbagai sumber ini dibandingkan dan dianalisis, Poeze menarik kesimpulannya.
"Saya tidak tertarik untuk menjadi hakim yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konflik-konflik masa lalu," tegas Poeze. "Tugas saya adalah memahami mengapa konflik itu terjadi, apa yang dipertaruhkan oleh masing-masing pihak, dan bagaimana konflik itu membentuk jalannya sejarah. Tan Malaka dan Soekarno, Tan Malaka dan Sjahrir, Tan Malaka dan Hatta, mereka semua adalah tokoh-tokoh besar yang berjuang untuk apa yang mereka yakini. Mereka semua melakukan kesalahan, dan mereka semua memiliki momen-momen kejernihan. Saya mencoba untuk memperlakukan mereka semua dengan adil, dengan memberikan bobot yang sama pada bukti-bukti yang mendukung masing-masing pihak" (Poeze, Jilid III 8).
Dengan kerangka metodologis ini, mari kita menyelami satu per satu hubungan Tan Malaka dengan dua belas tokoh kunci dalam sejarah Indonesia. Urutan pembahasan tidak mencerminkan hierarki kepentingan, melainkan mencoba mengikuti alur kronologis dan tematik dari interaksi-interaksi tersebut.
Tan Malaka dan Sutan Sjahrir Persahabatan Hancur dalam Konflik Revolusi
Hubungan antara Tan Malaka dan Sutan Sjahrir adalah salah satu yang paling kompleks, paling tragis, dan paling menentukan dalam sejarah revolusi Indonesia. Poeze mendedikasikan porsi yang sangat besar dari jilid ketiga biografinya untuk mengurai benang kusut hubungan ini, dan kesimpulannya menantang banyak narasi yang sudah mapan.Kedua tokoh ini berasal dari latar belakang yang mirip. Mereka berdua adalah orang Minangkabau, keduanya adalah intelektual terdidik yang menghabiskan masa muda di Belanda, dan keduanya memiliki komitmen yang mendalam terhadap kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik kesamaan-kesamaan permukaan ini, terdapat perbedaan temperamen dan ideologi yang akan menjadi sumber konflik di kemudian hari. "Sjahrir adalah seorang sosialis demokrat yang percaya pada proses parlementer dan diplomasi," tulis Poeze. "Tan Malaka adalah seorang revolusioner yang percaya pada aksi massa dan perjuangan bersenjata. Perbedaan ini, yang pada masa damai mungkin bisa dijembatani, menjadi tidak terdamaikan dalam situasi revolusi yang panas" (Jilid III 45).
Poeze menelusuri awal mula hubungan mereka ke masa sebelum Perang Dunia II, ketika keduanya sama-sama berada di Belanda. Namun, tidak seperti Tan Malaka yang langsung terjun ke politik radikal, Sjahrir lebih tertarik pada dunia seni dan sastra. Ia adalah anggota dari lingkaran intelektual muda Indonesia di Belanda yang mendiskusikan filsafat, sastra, dan politik dengan semangat keterbukaan. "Ada bukti-bukti," tulis Poeze, "bahwa Tan Malaka dan Sjahrir pernah bertemu dalam forum-forum diskusi mahasiswa Indonesia di Belanda. Tetapi pertemuan-pertemuan ini tidak meninggalkan jejak yang mendalam. Mereka berdua masih terlalu muda, terlalu belum terbentuk, untuk menyadari bahwa mereka kelak akan menjadi lawan dalam pertarungan menentukan" (Jilid III 48).
Hubungan mereka benar-benar mulai terbentuk, dan mulai retak, pada masa revolusi fisik, antara tahun 1945 dan 1946. Ketika Tan Malaka muncul kembali di Jakarta pada akhir tahun 1945, setelah dua dekade menghilang dalam pelarian internasional, Sjahrir adalah Perdana Menteri pertama Republik Indonesia. Situasinya sangat genting: pasukan Sekutu telah mendarat di Jakarta, dan Belanda berusaha untuk merebut kembali koloninya. Sjahrir, sebagai kepala pemerintahan, mengambil kebijakan diplomasi: ia percaya bahwa Indonesia harus berunding dengan Belanda dan Sekutu, menunjukkan bahwa Republik adalah pemerintahan yang beradab dan bertanggung jawab, sehingga mendapatkan pengakuan internasional.
Tan Malaka, dari posisinya di luar pemerintahan, menolak kebijakan ini dengan keras. Dalam pamfletnya yang terkenal, Muslihat (yang ditulis dalam waktu beberapa hari setelah pengamatannya terhadap situasi politik), ia berargumen bahwa diplomasi Sjahrir adalah bentuk penyerahan diri kepada imperialisme. Belanda, kata Tan Malaka, tidak akan pernah memberikan kemerdekaan melalui perundingan. Satu-satunya jalan menuju kemerdekaan adalah melalui perlawanan bersenjata total: "Merdeka 100% atau mati."
"Di sinilah kita melihat benturan dua visi yang tidak bisa didamaikan," tulis Poeze. "Bagi Sjahrir, diplomasi adalah alat untuk membeli waktu, untuk membangun negara sambil menghindari kehancuran total oleh kekuatan militer Belanda yang jauh lebih kuat. Bagi Tan Malaka, diplomasi adalah jebakan yang akan melemahkan semangat revolusioner rakyat dan memberikan kesempatan kepada Belanda untuk mengkonsolidasikan kembali kekuasaannya. Keduanya memiliki argumen yang kuat, dan keduanya memiliki kelemahan. Sjahrir mungkin terlalu optimis tentang niat baik Belanda dan Sekutu. Tan Malaka mungkin terlalu meremehkan kekuatan militer Belanda dan terlalu melebih-lebihkan kemampuan rakyat Indonesia untuk melawan. Tetapi pada saat itu, dalam panasnya revolusi, tidak ada ruang untuk diskusi yang tenang dan bernuansa" (Poeze, Jilid III 65).
Konflik mencapai puncaknya pada awal tahun 1946, ketika Tan Malaka dan pendukungnya membentuk "Persatuan Perjuangan," sebuah koalisi organisasi-organisasi politik dan militer yang menentang kebijakan diplomasi Sjahrir. Persatuan Perjuangan menuntut agar Sjahrir mundur dan agar pemerintah mengadopsi garis perjuangan yang lebih militan. Sjahrir menolak, dan ia mendapat dukungan dari Soekarno dan Hatta. "Ini adalah momen yang menentukan," tulis Poeze. "Tan Malaka telah berhasil menggalang dukungan yang luas, tetapi ia tidak berhasil merebut kendali pemerintah. Soekarno, yang sebagai presiden memiliki otoritas tertinggi, memilih untuk mendukung Sjahrir. Keputusan ini akan memiliki konsekuensi yang sangat besar" (Jilid III 78).
Puncak dari konflik ini adalah apa yang dikenal sebagai "Peristiwa 3 Juli 1946," sebuah upaya kudeta yang gagal terhadap pemerintahan Sjahrir. Poeze mendedikasikan penelitian yang sangat intensif untuk memahami peran Tan Malaka dalam peristiwa ini, dan kesimpulannya berbeda secara signifikan dari narasi resmi yang telah mengkriminalisasi Tan Malaka. "Setelah memeriksa semua bukti yang tersedia," tulis Poeze, "saya sampai pada kesimpulan bahwa Tan Malaka tidak bersalah atas tuduhan sebagai dalang penculikan Sjahrir. Ia memang menentang Sjahrir secara politik, dan ia memang berusaha untuk menggulingkan pemerintahannya melalui cara-cara konstitusional. Tetapi tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa ia merencanakan atau menyetujui penculikan itu. Penculikan itu dilakukan oleh elemen-elemen militer yang frustrasi dan bertindak di luar kendali Tan Malaka. Namun, setelah penculikan itu terjadi, Tan Malaka menjadi kambing hitam yang sempurna. Sjahrir menggunakan peristiwa itu untuk menyingkirkan lawannya yang paling berbahaya" (Jilid III 110).
Akibat dari Peristiwa 3 Juli, Tan Malaka ditangkap tanpa pengadilan dan dipenjarakan selama lebih dari dua tahun. Ia baru dibebaskan pada tahun 1948, ketika situasi politik telah berubah dan Sjahrir sendiri sudah tidak lagi menjadi perdana menteri. Tetapi hubungan antara kedua tokoh ini tidak pernah pulih. "Ketika Tan Malaka akhirnya dibebaskan," tulis Poeze, "ia adalah seorang tokoh yang telah dikriminalisasi oleh republik yang ia bantu dirikan. Sjahrir, di sisi lain, telah kehilangan kekuasaannya dan semakin terpinggirkan. Keduanya adalah korban dari revolusi yang telah mereka perjuangkan, tetapi dengan cara yang berbeda. Tan Malaka dikorbankan oleh negara; Sjahrir dikorbankan oleh perubahan arus politik. Tidak ada yang menang dalam konflik ini, dan itulah tragedinya" (Poeze, Jilid III 145).
Poeze menutup analisisnya tentang hubungan Tan Malaka-Sjahrir dengan sebuah refleksi tentang apa yang mungkin terjadi jika kedua tokoh ini bisa bekerja sama, alih-alih saling menghancurkan. "Mereka berdua adalah intelektual brilian dengan komitmen yang tulus terhadap Indonesia. Mereka berdua memiliki kelemahan, tetapi juga kekuatan. Jika mereka bisa menemukan cara untuk menggabungkan visi Tan Malaka tentang mobilisasi massa dengan keterampilan diplomasi Sjahrir, mungkin sejarah Indonesia akan berbeda. Tetapi sejarah tidak mengenal 'jika.' Yang kita miliki hanyalah fakta: dua orang Minang, dua sosialis, dua pejuang kemerdekaan, yang berakhir sebagai musuh bebuyutan, dan yang akhirnya keduanya dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan yang lebih besar dari diri mereka sendiri" (Poeze, Jilid III 148).
Tan Malaka dan Mohammad Hatta Kekaguman Intelektual dan Pertentangan Politik
Hubungan antara Tan Malaka dan Mohammad Hatta, dua putra terbaik Sumatera yang sama-sama menempuh pendidikan di Belanda, adalah hubungan yang ditandai oleh rasa hormat intelektual yang mendalam namun juga perbedaan politik yang tajam. Poeze menggambarkan hubungan ini sebagai "salah satu yang paling rumit dan paling disalahpahami dalam sejarah Indonesia" (Poeze, Jilid III 155).Berbeda dengan konflik terbuka dan penuh emosi antara Tan Malaka dan Sjahrir, konflik antara Tan Malaka dan Hatta lebih bersifat ideologis dan lebih dingin. Keduanya adalah pemikir sistematis yang menghormati logika dan data. Mereka berdua menghabiskan waktu bertahun-tahun di Belanda untuk belajar dan berdebat. Tetapi dari pengalaman yang sama itu, mereka menarik kesimpulan yang berbeda tentang jalan menuju kemerdekaan Indonesia.
"Tan Malaka dan Hatta bertemu di Belanda pada akhir 1910-an dan awal 1920-an," tulis Poeze. "Mereka berdua adalah anggota Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging), organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Hatta, yang lebih muda dari Tan Malaka, saat itu sedang naik daun sebagai pemimpin organisasi. Tan Malaka sudah lebih radikal dan lebih terlibat dengan gerakan komunis internasional. Tetapi meskipun ada perbedaan orientasi politik, ada rasa hormat di antara mereka. Hatta mengagumi kecerdasan Tan Malaka; Tan Malaka menghargai ketekunan dan ketelitian Hatta" (Jilid III 160).
Poeze menemukan bukti-bukti dari rasa hormat awal ini dalam korespondensi dan notulensi rapat. Dalam sebuah surat yang ditulis Hatta pada tahun 1921, misalnya, ia menyebut Tan Malaka sebagai "seorang yang memiliki pemikiran tajam dan analisis yang jernih, meskipun saya tidak selalu setuju dengan kesimpulannya" (dikutip dalam Poeze, Jilid III 162). Dan dalam tulisan-tulisan Tan Malaka di kemudian hari, ia sering kali mengutip analisis ekonomi Hatta dengan hormat, bahkan ketika ia mengkritik kebijakan-kebijakan politiknya.
Perbedaan fundamental di antara mereka, menurut Poeze, terletak pada sikap mereka terhadap kapitalisme dan imperialisme. Hatta, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran ekonomi sosial-demokrat Eropa, percaya bahwa kapitalisme bisa direformasi. Ia tidak menolak kapitalisme secara total, melainkan ingin membangun kapitalisme yang "berwajah Indonesia," di mana koperasi dan perusahaan negara memainkan peran penting. Tan Malaka, sebaliknya, adalah seorang sosialis revolusioner yang menolak kapitalisme dalam bentuk apa pun. Baginya, kapitalisme adalah sumber dari segala penindasan, dan tidak bisa direformasi; ia harus dihancurkan.
"Perbedaan ini menjadi sangat nyata dalam perdebatan tentang ekonomi pasca-kemerdekaan," tulis Poeze. "Hatta membayangkan Indonesia sebagai negara yang secara bertahap membangun ekonominya melalui industrialisasi yang direncanakan, dengan sektor koperasi yang kuat sebagai tulang punggung. Tan Malaka membayangkan revolusi sosial yang segera, di mana tanah dan pabrik-pabrik diambil alih oleh rakyat pekerja. Bagi Hatta, pendekatan Tan Malaka adalah utopis dan berbahaya; ia akan menghancurkan ekonomi sebelum sempat dibangun. Bagi Tan Malaka, pendekatan Hatta adalah setengah hati dan pada akhirnya akan mengkhianati rakyat kecil" (Poeze, Jilid III 170).
Selama revolusi fisik, Hatta berada di pihak yang sama dengan Sjahrir dalam mendukung diplomasi melawan Tan Malaka. Namun, Poeze mencatat bahwa Hatta tidak pernah menunjukkan permusuhan personal terhadap Tan Malaka seperti yang ditunjukkan oleh Sjahrir. "Hatta adalah seorang pragmatis," tulis Poeze. "Ia melihat Tan Malaka sebagai lawan politik yang berbahaya, tetapi ia juga menghormatinya sebagai seorang pemikir. Ketika Tan Malaka ditangkap setelah Peristiwa 3 Juli 1946, Hatta tidak menentang penangkapannya, tetapi ia juga tidak menunjukkan kegembiraan. Baginya, penangkapan Tan Malaka adalah langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pemerintah, bukan balas dendam personal" (Jilid III 190).
Hubungan antara Tan Malaka dan Hatta setelah revolusi adalah salah satu misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan oleh Poeze. "Kita tahu bahwa Hatta, di masa tuanya, pernah dimintai komentar tentang Tan Malaka," tulis Poeze. "Tanggapannya selalu sopan dan penuh hormat. Ia mengakui kecerdasan Tan Malaka dan kontribusinya terhadap perjuangan kemerdekaan. Tetapi ia juga selalu menekankan bahwa Tan Malaka telah membuat kesalahan strategis yang fatal dengan menentang diplomasi. Hatta tidak pernah meminta maaf, dan Tan Malaka, tentu saja, sudah tidak bisa menjawab. Dialog antara dua putra terbaik Sumatera ini terputus oleh kematian, dan kita hanya bisa berspekulasi tentang apa yang mungkin mereka katakan satu sama lain jika mereka memiliki kesempatan untuk berdamai" (Poeze, Jilid III 195).
Tan Malaka dan Soekarno Proklamator dan Revolusioner yang Terlupakan
Hubungan antara Tan Malaka dan Soekarno adalah jantung dari drama revolusi Indonesia, dan Poeze mendedikasikan lebih banyak halaman untuk hubungan ini daripada untuk hubungan Tan Malaka dengan tokoh mana pun. Ini adalah kisah tentang dua visioner yang saling membutuhkan tetapi tidak bisa saling memahami, tentang aliansi yang nyaris terbentuk tetapi akhirnya hancur, dan tentang pengkhianatan, baik yang nyata maupun yang dibayangkan, yang terus membayangi memori kolektif bangsa."Soekarno dan Tan Malaka," tulis Poeze di awal analisisnya, "adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Mereka berdua adalah pemimpin karismatik yang mampu menggerakkan massa. Mereka berdua adalah pemikir visioner yang melihat Indonesia sebagai pemimpin dunia ketiga. Mereka berdua adalah anti-imperialis yang gigih. Tetapi mereka berdua juga memiliki ego yang besar dan visi yang berbeda tentang bagaimana revolusi harus dijalankan. Soekarno adalah pemersatu yang percaya pada kompromi dan sintesis. Tan Malaka adalah pemurni yang percaya pada prinsip dan konsistensi. Konflik di antara mereka adalah konflik antara dua pendekatan terhadap revolusi, dan hasilnya menentukan nasib Indonesia" (Poeze, Jilid III 220).
Poeze menelusuri akar hubungan ini kembali ke masa sebelum perang. Soekarno, yang lebih muda dari Tan Malaka, telah membaca tulisan-tulisan Tan Malaka dari tahun 1920-an dan sangat terkesan. Dalam otobiografinya, Soekarno menyebut Tan Malaka sebagai salah satu "guru revolusinya," bersama dengan Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh lain. Tan Malaka, dari pengasingannya, juga mengikuti perkembangan Soekarno dengan penuh minat. Ketika Soekarno ditangkap oleh Belanda pada tahun 1929, Tan Malaka menulis sebuah artikel yang memuji keberaniannya.
"Ketika Tan Malaka akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1942, setelah dua dekade dalam pelarian, ia berharap bisa bekerja sama dengan Soekarno," tulis Poeze. "Ia membayangkan Soekarno sebagai pemimpin simbolis yang akan menyatukan rakyat, sementara ia sendiri akan menjadi otak di belakang layar yang merumuskan strategi. Ini adalah visi yang naif, dan Tan Malaka segera menyadari bahwa Soekarno bukanlah boneka yang bisa dikendalikan. Soekarno adalah pemimpin dengan agendanya sendiri, dan ia tidak akan menyerahkan kendali strategi kepada siapa pun" (Jilid III 235).
Hubungan mereka mencapai momen kritis pada akhir tahun 1945 dan awal 1946, ketika Tan Malaka meluncurkan kampanyenya melawan diplomasi Sjahrir. Soekarno, sebagai presiden, berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia bersimpati dengan argumen Tan Malaka tentang perlunya perlawanan yang lebih militan. Di sisi lain, ia memahami bahwa Indonesia tidak bisa bertahan tanpa dukungan internasional, dan bahwa diplomasi adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan dukungan itu. "Soekarno mencoba untuk menengahi," tulis Poeze. "Ia bertemu dengan Tan Malaka beberapa kali, mendengarkan argumennya, dan mencoba mencari kompromi. Tetapi kompromi itu tidak pernah tercapai. Tan Malaka menginginkan perubahan total dalam kebijakan pemerintah; Soekarno hanya bersedia memberikan konsesi kecil" (Jilid III 250).
Poeze menganalisis secara mendalam pertemuan-pertemuan antara Soekarno dan Tan Malaka, menggunakan laporan-laporan dari saksi mata dan notulensi yang masih tersisa. "Pertemuan-pertemuan ini," tulisnya, "adalah contoh klasik dari dua pemimpin besar yang berbicara melewati satu sama lain. Soekarno berbicara tentang persatuan, tentang perlunya semua kekuatan politik bersatu di belakang pemerintah. Tan Malaka berbicara tentang prinsip, tentang bahaya mengkompromikan kemerdekaan dengan berunding dengan penjajah. Keduanya benar dalam cara mereka sendiri, tetapi kebenaran mereka tidak bisa disatukan" (Jilid III 255).
Titik putus terjadi pada Peristiwa 3 Juli 1946. Ketika Tan Malaka dituduh sebagai dalang penculikan Sjahrir, Soekarno tidak membelanya. "Ini adalah momen yang oleh Tan Malaka sendiri, dalam otobiografinya, disebut sebagai 'pengkhianatan Soekarno'," tulis Poeze. "Tetapi apakah itu benar-benar pengkhianatan? Dari sudut pandang Soekarno, ia sedang melindungi republik yang masih muda dari ancaman perpecahan. Jika ia membela Tan Malaka, ia akan kehilangan dukungan dari Sjahrir, Hatta, dan sebagian besar elite politik. Jika ia mengorbankan Tan Malaka, ia menyelamatkan koalisi pemerintah. Soekarno memilih untuk menyelamatkan koalisi. Itu adalah pilihan politik yang kejam, tetapi dari perspektifnya, itu adalah pilihan yang rasional" (Poeze, Jilid III 280).
Hubungan antara Soekarno dan Tan Malaka tidak berakhir dengan penangkapan Tan Malaka. Poeze menemukan bukti-bukti bahwa Soekarno, di tahun-tahun terakhir hidupnya, menyesali cara Tan Malaka diperlakukan. "Dalam percakapan-percakapan pribadi dengan para penasihatnya," tulis Poeze, "Soekarno mengakui bahwa ia mungkin telah membuat kesalahan dengan membiarkan Tan Malaka dipenjarakan. Ia menyadari bahwa Tan Malaka memiliki basis massa yang kuat, dan bahwa dengan menyingkirkannya, republik telah kehilangan salah satu pemimpinnya yang paling militan. Tetapi penyesalan ini datang terlambat. Tan Malaka sudah mati, dieksekusi di kaki Gunung Wilis, dan Soekarno tidak bisa menghidupkannya kembali. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengenangnya dalam pidato-pidato sebagai salah satu 'pahlawan revolusi yang terlupakan'" (Poeze, Jilid III 310).
Tan Malaka dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Salah satu hubungan yang paling tidak terduga dan paling kurang dipahami dalam sejarah revolusi Indonesia adalah hubungan antara Tan Malaka, sang revolusioner komunis, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sang raja feodal dari Yogyakarta. Poeze, dengan ketelitian arsipnya yang khas, berhasil mengungkap dimensi-dimensi tersembunyi dari hubungan ini."Sultan Hamengkubuwono IX dan Tan Malaka, secara permukaan, adalah dua orang yang tidak mungkin bersekutu," tulis Poeze. "Yang satu adalah bangsawan Jawa, pewaris tradisi kerajaan yang berusia ratusan tahun, yang hidup dalam kemewahan istana. Yang lain adalah komunis anti-feodal yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam persembunyian dan kemiskinan. Namun, di balik perbedaan-perbedaan permukaan ini, ada kesamaan yang mengejutkan: keduanya adalah nasionalis yang berkomitmen penuh pada kemerdekaan Indonesia, dan keduanya bersedia mengambil risiko besar untuk mencapai tujuan itu" (Jilid III 330).
Poeze menelusuri kontak pertama antara Tan Malaka dan Sultan ke masa-masa awal revolusi, ketika ibu kota republik dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Sultan, yang telah menyatakan kesetiaannya kepada Republik Indonesia sejak awal, menyambut kedatangan para pemimpin nasionalis di kotanya. Tan Malaka, yang saat itu baru saja dibebaskan dari penjara (ia ditangkap lagi pada tahun 1948 setelah sebelumnya dibebaskan pada tahun 1948), juga berada di Yogyakarta, meskipun dalam posisi yang sangat terpinggirkan.
"Yang menarik," tulis Poeze, "adalah bahwa Sultan tampaknya memiliki rasa hormat yang aneh terhadap Tan Malaka. Mungkin ia melihat dalam diri Tan Malaka seorang pemimpin yang, seperti dirinya, adalah seorang 'orang luar' dalam politik Indonesia yang didominasi oleh orang Jawa dan orang Minang yang telah ter-Belandakan. Sultan, sebagai seorang bangsawan Jawa yang otentik, tidak selalu nyaman dengan elite politik baru yang berpendidikan Belanda. Tan Malaka, sebagai seorang revolusioner yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di luar negeri, juga bukan bagian dari elite itu. Mungkin ada semacam solidaritas bawah tanah di antara dua orang luar ini" (Jilid III 340).
Poeze menemukan bukti-bukti tentang hubungan ini dalam arsip-arsip keraton Yogyakarta, yang jarang diakses oleh sejarawan. "Ada catatan tentang pertemuan-pertemuan rahasia antara Tan Malaka dan Sultan," tulisnya. "Apa yang mereka bicarakan? Kita tidak tahu pasti, karena catatan-catatan itu sengaja dibuat samar. Tetapi dari konteksnya, tampaknya mereka membahas kemungkinan aliansi melawan dominasi Soekarno-Hatta-Sjahrir. Sultan, yang memiliki sumber daya militer dan ekonomi yang besar, adalah sekutu yang sangat berharga. Tan Malaka, yang memiliki jaringan massa yang luas, juga demikian. Jika aliansi ini benar-benar terbentuk, ia bisa mengubah peta politik Indonesia" (Jilid III 345).
Namun, aliansi ini tidak pernah sepenuhnya terwujud. "Sejarah bergerak terlalu cepat," tulis Poeze. "Agresi Militer Belanda Kedua pada tahun 1948 mengubah segalanya. Tan Malaka, yang pada saat itu sudah kembali dalam pelarian setelah penangkapannya yang kedua, terbunuh pada awal tahun 1949. Sultan, yang memainkan peran kunci dalam mempertahankan eksistensi republik selama agresi militer itu, menjadi salah satu pahlawan revolusi yang diakui. Hubungan antara dua tokoh ini, yang nyaris menjadi aliansi yang mengubah sejarah, lenyap ditelan oleh peristiwa-peristiwa yang lebih besar" (Poeze, Jilid III 355).
Tan Malaka dan Soeharto
Hubungan antara Tan Malaka dan Soeharto adalah salah satu yang paling ironis dalam sejarah Indonesia, dan Poeze mendedikasikan sebuah bab khusus untuk membahasnya. Ironi ini terletak pada kenyataan bahwa Soeharto, yang kemudian menjadi presiden Orde Baru dan memimpin pemusnahan gerakan komunis di Indonesia, mungkin memiliki kontak yang lebih langsung dengan Tan Malaka daripada yang pernah diakui oleh rezimnya."Soeharto, pada masa revolusi fisik, adalah seorang perwira muda di Divisi Diponegoro yang berbasis di Jawa Tengah," tulis Poeze. "Wilayah ini adalah salah satu basis pendukung Tan Malaka yang paling kuat. Banyak perwira dan prajurit di divisi-divisi Jawa Tengah yang bersimpati pada Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan. Apakah Soeharto termasuk di antara mereka? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab, karena Soeharto sendiri sangat berhati-hati dalam membahas masa lalunya" (Jilid III 370).
Poeze melakukan penelitian yang cermat terhadap dokumen-dokumen militer dari periode revolusi, mencoba melacak posisi politik Soeharto pada saat itu. "Yang kita tahu," tulisnya, "adalah bahwa Soeharto, seperti banyak perwira lainnya, mungkin memiliki simpati terhadap garis perjuangan Tan Malaka yang lebih militan. Diplomasi Sjahrir tidak populer di kalangan tentara, yang merasa bahwa pengorbanan mereka di medan perang dikhianati oleh para politisi di meja perundingan. Tetapi kita juga tahu bahwa Soeharto adalah seorang yang sangat pragmatis. Ia tidak akan mengambil risiko karier militernya dengan secara terbuka mendukung Tan Malaka melawan Soekarno-Hatta" (Jilid III 380).
Yang lebih ironis lagi, menurut Poeze, adalah bahwa Soeharto mungkin terlibat, secara langsung atau tidak langsung, dalam operasi-operasi militer yang menumpas sisa-sisa gerakan Tan Malaka setelah kematiannya. "Pada tahun 1949 dan 1950-an," tulis Poeze, "ketika Soeharto sedang naik pangkat dalam militer, ia terlibat dalam operasi-operasi untuk menumpas 'gerombolan pengacau', istilah yang digunakan oleh pemerintah untuk menyebut sisa-sisa gerakan Tan Malaka dan kelompok-kelompok kiri lainnya yang menolak untuk menyerah. Ada kemungkinan bahwa Soeharto, secara langsung, ikut menghancurkan gerakan yang mungkin pernah ia simpati. Ini adalah ironi sejarah yang pahit: sang jenderal Orde Baru, yang akan menjadi algojo komunisme Indonesia, mungkin memiliki masa lalu yang terkait dengan Tan Malaka, sang komunis paling terkenal di Indonesia" (Poeze, Jilid III 400).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah catatan hati-hati: "Saya tidak bisa membuktikan bahwa Soeharto adalah simpatisan Tan Malaka. Bukti-buktinya terlalu tipis, dan Soeharto sendiri tidak pernah mengakuinya. Tetapi saya bisa menunjukkan bahwa banyak perwira di lingkungannya yang bersimpati, dan bahwa Soeharto, sebagai seorang oportunis politik yang ulung, mungkin telah menyesuaikan posisinya dengan arus yang kuat. Pada tahun 1946, arus itu mungkin mengarah ke Tan Malaka. Pada tahun 1948, arus itu sudah berubah arah. Soeharto, seperti biasa, mengikuti arus" (Poeze, Jilid III 405).
Tan Malaka dan Jenderal Sudirman
Hubungan antara Tan Malaka dan Jenderal Sudirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia yang legendaris, adalah hubungan yang ditandai oleh rasa hormat tetapi juga oleh perbedaan yang mendalam tentang peran militer dalam revolusi. Poeze, dalam analisisnya, menyoroti bagaimana kedua tokoh ini mewakili dua visi yang berbeda tentang perjuangan bersenjata."Sudirman adalah seorang pemimpin gerilya yang brilian," tulis Poeze. "Ia adalah tentara sejati, yang memahami taktik dan strategi perang. Bagi Sudirman, revolusi adalah perang kemerdekaan yang harus dimenangkan di medan perang. Tan Malaka, di sisi lain, melihat perang sebagai bagian dari revolusi politik yang lebih besar. Bagi Tan Malaka, tentara harus menjadi instrumen politik, alat untuk mencapai tujuan revolusioner yang lebih luas" (Poeze, Jilid III 420).
Perbedaan ini menjadi sangat nyata dalam perdebatan tentang doktrin perang revolusioner. Sudirman menganut doktrin "perang semesta" (total people's war), di mana seluruh rakyat dimobilisasi untuk melawan musuh. Ini mirip dengan apa yang diusulkan oleh Tan Malaka, tetapi dengan satu perbedaan kunci: bagi Sudirman, tentara adalah pemimpin perjuangan bersenjata, sedangkan bagi Tan Malaka, partai politik revolusioner harus memimpin tentara.
"Tan Malaka sangat mengagumi Sudirman," tulis Poeze. "Ia melihat dalam diri Sudirman seorang pemimpin yang jujur, berani, dan dekat dengan rakyat. Dalam tulisan-tulisannya, Tan Malaka sering memuji Sudirman sebagai contoh pemimpin militer yang tidak korup dan tidak terpisah dari rakyat. Tetapi Tan Malaka juga khawatir bahwa Sudirman terlalu apolitis, terlalu fokus pada aspek militer dari perjuangan, dan kurang memperhatikan dimensi politiknya" (Jilid III 435).
Sayangnya, hubungan antara Tan Malaka dan Sudirman tidak pernah berkembang menjadi aliansi yang kuat. "Mereka bertemu hanya beberapa kali," tulis Poeze. "Situasi perang membuat kontak yang berkelanjutan menjadi sulit. Dan ketika Tan Malaka ditangkap setelah Peristiwa 3 Juli, Sudirman, sebagai panglima tentara, tidak bisa berbuat banyak untuk membelanya. Tentara, pada saat itu, sedang berusaha untuk membangun hubungan dengan pemerintah sipil, dan tidak ingin terlihat sebagai pendukung oposisi radikal" (Jilid III 440).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah spekulasi: "Jika Tan Malaka dan Sudirman bisa bekerja sama lebih erat, mungkin hasil revolusi akan berbeda. Sudirman memiliki legitimasi militer yang tidak dimiliki Tan Malaka; Tan Malaka memiliki visi politik yang tidak dimiliki Sudirman. Bersama-sama, mereka bisa menjadi kekuatan yang tangguh. Tetapi sejarah berkata lain, dan kita hanya bisa merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terwujud" (Poeze, Jilid III 445).
Tan Malaka dan Amir Sjarifuddin
Amir Sjarifuddin, Perdana Menteri Indonesia yang kedua dan seorang pemimpin Partai Sosialis Indonesia, memiliki hubungan yang rumit dengan Tan Malaka, sebuah hubungan yang ditandai oleh kedekatan ideologis tetapi juga oleh persaingan untuk mendapatkan kepemimpinan gerakan kiri di Indonesia."Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka," tulis Poeze, "berasal dari tradisi politik yang sama. Keduanya adalah Marxis yang percaya pada revolusi sosial. Keduanya menentang dominasi kapitalisme dan imperialisme. Keduanya mendukung perjuangan bersenjata melawan Belanda. Tetapi mereka berdua juga memiliki basis pendukung yang berbeda dan ambisi politik yang berbeda" (Jilid III 460).
Poeze menelusuri kontak antara kedua tokoh ini selama revolusi. Amir Sjarifuddin, sebagai menteri pertahanan dalam kabinet Sjahrir, berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia bertanggung jawab untuk menjalankan kebijakan diplomasi pemerintah. Di sisi lain, secara pribadi ia bersimpati dengan argumen-argumen Tan Malaka tentang perlunya perlawanan yang lebih militan. "Amir adalah seorang tokoh yang terbelah," tulis Poeze. "Kesetiaannya kepada pemerintah menariknya ke satu arah; keyakinan ideologisnya menariknya ke arah yang lain. Akibatnya, ia tidak bisa sepenuhnya mendukung Tan Malaka, tetapi ia juga tidak bisa sepenuhnya menentangnya" (Jilid III 475).
Ketika Amir Sjarifuddin menjadi Perdana Menteri pada tahun 1947, situasinya berubah. "Amir lebih radikal daripada Sjahrir, dan ia mencoba untuk mengadopsi beberapa elemen dari program Tan Malaka," tulis Poeze. "Tetapi pada saat itu, Tan Malaka sudah dipenjarakan, dan gerakannya sudah dihancurkan. Kesempatan untuk aliansi antara Amir dan Tan Malaka telah berlalu. Yang tersisa hanyalah persaingan diam-diam untuk mendapatkan warisan politik kiri di Indonesia" (Poeze, Jilid III 490).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah catatan tragis: "Amir Sjarifuddin dieksekusi pada tahun 1948, setelah terlibat dalam Pemberontakan PKI Madiun. Tan Malaka dieksekusi pada tahun 1949, oleh tentara republik yang sama. Kedua pemimpin kiri ini, yang mungkin bisa menjadi sekutu yang kuat, akhirnya dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak bisa mereka kendalikan. Kiri Indonesia, yang telah dipecah-belah oleh konflik internal dan ditekan oleh kekuatan-kekuatan konservatif, tidak pernah pulih dari kehilangan ini" (Poeze, Jilid III 495).
Tan Malaka dan Ki Bagus Hadikusumo
Ki Bagus Hadikusumo, pemimpin Muhammadiyah dan tokoh kunci dalam perdebatan tentang dasar negara Indonesia, memiliki hubungan yang kompleks dengan Tan Malaka. Hubungan ini, yang sebagian besar dimediasi oleh perdebatan ideologis tentang peran Islam dalam negara, adalah contoh menarik dari bagaimana Tan Malaka berusaha menjembatani komunisme dan Islam."Ki Bagus Hadikusumo," tulis Poeze, "adalah salah satu pemimpin Islam yang paling dihormati di Indonesia. Ia adalah ketua Muhammadiyah, organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, dan ia memainkan peran kunci dalam perumusan Piagam Jakarta, yang akan menjadi dasar konstitusional negara Indonesia. Sebagai seorang Muslim yang taat, Ki Bagus percaya bahwa Islam harus menjadi dasar negara. Sebagai seorang komunis yang ateis, Tan Malaka jelas tidak setuju. Tetapi menariknya, kedua tokoh ini tidak pernah terlibat dalam konflik personal yang sengit" (Jilid III 510).
Poeze menemukan bukti-bukti tentang pertemuan-pertemuan antara Tan Malaka dan pemimpin-pemimpin Islam, termasuk Ki Bagus, selama revolusi. "Tan Malaka, meskipun seorang komunis, selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan pemimpin-pemimpin Islam," tulis Poeze. "Ia memahami bahwa Islam adalah kekuatan politik yang besar di Indonesia, dan bahwa revolusi tidak akan berhasil tanpa dukungan dari umat Islam. Dalam pertemuan-pertemuan dengan Ki Bagus dan pemimpin Islam lainnya, Tan Malaka menekankan titik-titik temu antara Marxisme dan Islam: penolakan terhadap kapitalisme, pembelaan terhadap kaum miskin, dan komitmen terhadap keadilan sosial" (Jilid III 515).
Namun, Poeze juga mencatat bahwa hubungan ini memiliki batas-batasnya. "Ki Bagus, seperti kebanyakan pemimpin Islam, tidak bisa menerima ateisme Tan Malaka. Bagi Ki Bagus, negara tanpa Tuhan adalah negara yang tidak bermoral. Tan Malaka, di sisi lain, tidak bisa menerima konsep negara Islam. Baginya, negara harus sekuler, sehingga semua warga negara, Muslim, Kristen, Hindu, dan lainnya, memiliki hak yang sama. Perbedaan ini tidak bisa dijembatani, dan kedua tokoh ini mengetahuinya" (Jilid III 520).
Meskipun demikian, Poeze mencatat bahwa hubungan antara Tan Malaka dan Ki Bagus tetap bersifat hormat. "Mereka tidak saling menyerang secara personal," tulis Poeze. "Mereka memahami bahwa mereka mewakili dua arus besar dalam masyarakat Indonesia, dan bahwa dialog di antara mereka adalah penting, bahkan jika kesepakatan tidak mungkin tercapai. Ini adalah contoh dari kedewasaan politik yang, sayangnya, menjadi semakin langka dalam politik Indonesia setelah kemerdekaan" (Poeze, Jilid III 525).
Tan Malaka dan Mohammad Natsir
Jika hubungan antara Tan Malaka dan Ki Bagus Hadikusumo ditandai oleh rasa hormat, hubungan antara Tan Malaka dan Mohammad Natsir, pemimpin Masyumi dan Perdana Menteri pertama setelah pengakuan kedaulatan, ditandai oleh konfrontasi ideologis yang tajam."Natsir," tulis Poeze, "adalah antitesis dari Tan Malaka. Ia adalah seorang Muslim yang taat, seorang pemimpin Islam politik, dan seorang anti-komunis yang gigih. Bagi Natsir, komunisme adalah ancaman eksistensial terhadap Islam, dan Tan Malaka adalah personifikasi dari ancaman itu. Bagi Tan Malaka, Natsir mewakili apa yang ia sebut sebagai 'Islam reaksioner', Islam yang digunakan oleh kelas-kelas penguasa untuk mempertahankan status quo dan menindas rakyat" (Jilid III 540).
Poeze menganalisis perdebatan antara Tan Malaka dan Natsir, yang sebagian besar terjadi melalui tulisan-tulisan dan pidato-pidato. "Mereka tidak pernah berdebat secara langsung," tulis Poeze. "Tetapi mereka saling menyerang melalui media massa dan forum-forum politik. Natsir menuduh Tan Malaka ingin menghancurkan Islam dan mendirikan negara komunis. Tan Malaka menuduh Natsir menggunakan Islam untuk membenarkan kapitalisme dan imperialisme. Ini adalah perdebatan yang keras dan tanpa kompromi" (Jilid III 550).
Yang menarik, menurut Poeze, adalah bahwa Tan Malaka sebenarnya tidak melihat Islam sebagai musuh. "Dalam tulisan-tulisannya," kata Poeze, "Tan Malaka selalu membedakan antara 'Islam rakyat', Islam yang dianut oleh petani dan buruh, yang menekankan keadilan dan persaudaraan, dan 'Islam elite', Islam yang digunakan oleh para pemimpin politik untuk kepentingan mereka sendiri. Natsir, dalam pandangan Tan Malaka, adalah representasi dari Islam elite. Itulah sebabnya konflik di antara mereka begitu tajam: bukan karena Tan Malaka menentang Islam, tetapi karena ia menentang apa yang ia lihat sebagai manipulasi Islam untuk tujuan-tujuan politik reaksioner" (Poeze, Jilid III 560).
Poeze menutup analisisnya dengan mencatat bahwa konflik antara Tan Malaka dan Natsir adalah cerminan dari konflik yang lebih besar antara kiri dan kanan di Indonesia, yang akhirnya meledak dalam kekerasan pada tahun 1965. "Mereka berdua adalah produk dari zaman mereka," tulis Poeze. "Mereka berdua mewakili visi-visi yang berbeda tentang Indonesia. Dan mereka berdua, pada akhirnya, dikalahkan: Tan Malaka oleh peluru tentara, Natsir oleh dinamika politik yang mengubah Indonesia ke arah yang tidak ia inginkan. Konflik di antara mereka adalah tragedi, tetapi juga pelajaran tentang betapa sulitnya menjembatani perbedaan-perbedaan fundamental dalam sebuah masyarakat yang majemuk" (Poeze, Jilid III 570).
Tan Malaka dan K.H. Hasyim Asy'ari
Hubungan antara Tan Malaka dan K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan salah satu ulama paling dihormati di Indonesia, adalah hubungan yang paradoksal. Di satu sisi, Tan Malaka sangat menghormati Kiai Hasyim sebagai pemimpin spiritual dan nasionalis yang gigih. Di sisi lain, ia mengkritik sistem pesantren tradisional sebagai bagian dari struktur feodal yang perlu ditransformasi."K.H. Hasyim Asy'ari," tulis Poeze, "adalah tokoh yang sangat dihormati di kalangan umat Islam tradisional Indonesia. Ia adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, dan ia adalah salah satu tokoh kunci dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Fatwa jihadnya melawan penjajah pada tahun 1945 adalah salah satu dokumen paling penting dalam sejarah revolusi Indonesia. Tan Malaka, yang sangat menghormati kontribusi Kiai Hasyim terhadap perjuangan kemerdekaan, tidak pernah menyerangnya secara personal" (Jilid III 590).
Namun, Poeze mencatat bahwa Tan Malaka memiliki kritik yang tajam terhadap sistem sosial yang diwakili oleh Kiai Hasyim. "Dalam pandangan Tan Malaka," tulis Poeze, "pesantren-pesantren tradisional, dengan hubungan kiai-santri yang hierarkis, adalah bagian dari struktur feodal yang menindas. Santri diajarkan untuk tunduk secara mutlak kepada kiai, sama seperti petani diajarkan untuk tunduk kepada tuan tanah. Tan Malaka ingin mentransformasi sistem ini, menggantikan hubungan feodal dengan hubungan yang lebih demokratis dan egaliter. Tetapi ia memahami bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan hati-hati, tanpa menyinggung perasaan keagamaan umat Islam" (Jilid III 595).
Poeze menemukan bukti-bukti bahwa Tan Malaka mencoba menjalin kontak dengan para kiai selama revolusi, termasuk dengan K.H. Hasyim Asy'ari. "Ia mengirim utusan-utusan ke pesantren-pesantren," tulis Poeze, "dengan pesan bahwa komunisme dan Islam bisa bersekutu melawan imperialisme. Beberapa kiai menerima pesan ini dengan simpati; yang lain menolaknya dengan keras. K.H. Hasyim Asy'ari sendiri, menurut catatan-catatan yang tersedia, tampaknya mengambil posisi tengah: ia tidak mendukung komunisme, tetapi ia juga tidak mendukung konfrontasi langsung. Prioritasnya adalah mempertahankan persatuan umat Islam dalam perjuangan melawan Belanda" (Jilid III 600).
Poeze menutup analisisnya dengan sebuah refleksi: "Hubungan antara Tan Malaka dan K.H. Hasyim Asy'ari adalah contoh dari kompleksitas hubungan antara kiri dan Islam di Indonesia. Keduanya adalah nasionalis yang berkomitmen, tetapi mereka memiliki visi yang sangat berbeda tentang masyarakat ideal. Tan Malaka memimpikan masyarakat tanpa kelas; Kiai Hasyim memimpikan masyarakat yang diatur oleh syariat. Perbedaan ini tidak bisa dijembatani, tetapi setidaknya ada rasa hormat di antara mereka. Itu adalah sesuatu yang berharga, dan sesuatu yang sering kali hilang dalam politik Indonesia kontemporer" (Poeze, Jilid III 610).
Tan Malaka dan K.H. Ahmad Dahlan
Hubungan antara Tan Malaka dan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah hubungan yang tidak bersifat personal, karena Ahmad Dahlan meninggal pada tahun 1923, ketika Tan Malaka masih berada di pengasingan, tetapi bersifat ideologis. Poeze berargumen bahwa pemikiran Ahmad Dahlan dan gerakan Muhammadiyah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara Tan Malaka memandang Islam."Ahmad Dahlan," tulis Poeze, "adalah seorang pembaharu Islam yang percaya bahwa umat Islam Indonesia harus mengadopsi pendidikan modern dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah yang murni. Ia mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 sebagai gerakan sosial-keagamaan yang fokus pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Tan Malaka, yang dibesarkan di Sumatera Barat, wilayah yang juga menjadi basis gerakan pembaharuan Islam, sangat terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan ini" (Jilid III 625).
Poeze menemukan bahwa Tan Malaka, dalam tulisan-tulisannya, sering memuji Muhammadiyah sebagai contoh gerakan Islam yang progresif dan rasional. "Bagi Tan Malaka," tulis Poeze, "Muhammadiyah mewakili apa yang ia sebut sebagai 'Islam modern', Islam yang tidak terjebak dalam takhayul dan taklid buta, tetapi menggunakan akal dan ilmu pengetahuan untuk memahami dunia. Ini adalah Islam yang, menurut Tan Malaka, bisa bersekutu dengan komunisme dalam perjuangan melawan imperialisme dan feodalisme. Tentu saja, para pemimpin Muhammadiyah sendiri tidak setuju dengan interpretasi ini. Mereka tidak ingin Muhammadiyah diasosiasikan dengan komunisme. Tetapi Tan Malaka tetap menghormati mereka, dan ia berharap suatu hari nanti bisa membangun aliansi dengan mereka" (Jilid III 630).
Poeze menutup analisisnya dengan mencatat bahwa pengaruh Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah pada Tan Malaka adalah contoh dari kompleksitas hubungan antara Islam dan kiri di Indonesia. "Tan Malaka bukanlah seorang Muslim," tulis Poeze. "Tetapi ia tidak pernah memusuhi Islam secara keseluruhan. Ia membedakan antara Islam yang reaksioner dan Islam yang progresif, dan ia melihat Muhammadiyah sebagai contoh yang kedua. Ini adalah perspektif yang tidak lazim bagi seorang komunis pada zamannya, dan itu menunjukkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pemikir yang mandiri, yang tidak terjebak dalam dogma-dogma ortodoks" (Poeze, Jilid III 640).
Jaringan Hubungan yang Membentuk Seorang Revolusioner
Dalam menutup analisisnya tentang hubungan Tan Malaka dengan dua belas tokoh bangsa, Poeze menawarkan sebuah refleksi yang mendalam tentang bagaimana jaringan hubungan ini membentuk Tan Malaka sebagai seorang revolusioner dan, pada gilirannya, membentuk sejarah Indonesia.
"Tan Malaka," tulis Poeze, "tidak bisa dipahami dalam isolasi. Ia adalah produk dari jaringan hubungan yang kompleks, yang membentang dari istana-istana feodal di Yogyakarta hingga ke ruang-ruang rapat Komintern di Moskow, dari pesantren-pesantren tradisional di Jawa Timur hingga ke ruang-ruang bawah tanah di Manila. Setiap hubungan ini, baik yang bersifat aliansi maupun konflik, membentuk pemikirannya, mengasah strateginya, dan akhirnya menentukan nasibnya" (Jilid III 650).
Poeze menekankan bahwa salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia adalah kegagalan untuk mengintegrasikan Tan Malaka dan gerakannya ke dalam arus utama politik nasional. "Jika Tan Malaka diterima sebagai bagian dari koalisi yang memerintah," tulisnya, "mungkin sejarah Indonesia akan berbeda. Mungkin kiri Indonesia tidak akan dihancurkan dengan kejam pada tahun 1965. Mungkin demokrasi Indonesia akan lebih kuat dan lebih inklusif. Tentu saja, ini adalah spekulasi. Tetapi spekulasi ini didasarkan pada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Tan Malaka memiliki basis massa yang luas, visi yang jelas, dan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap Indonesia. Menyingkirkannya adalah kerugian besar bagi republik yang baru lahir" (Poeze, Jilid III 670).
Akhirnya, Poeze mengajak para pembacanya untuk merenungkan pelajaran apa yang bisa diambil dari studi tentang hubungan-hubungan ini. "Sejarah," tulisnya, "adalah tentang manusia, bukan hanya tentang struktur dan kekuatan impersonal. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh lain dalam bab ini adalah keputusan yang dibuat dalam kondisi yang sangat sulit, dengan informasi yang terbatas, dan di bawah tekanan yang luar biasa. Mereka membuat kesalahan, seperti semua manusia. Tetapi mereka juga melakukan hal-hal yang luar biasa. Tugas kita, sebagai generasi yang datang setelah mereka, bukanlah untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Dengan memahami hubungan-hubungan yang kompleks ini, kita bisa belajar tentang masa lalu kita, dan mungkin, tentang diri kita sendiri" (Poeze, Jilid III 690).
"Tan Malaka," tulis Poeze, "tidak bisa dipahami dalam isolasi. Ia adalah produk dari jaringan hubungan yang kompleks, yang membentang dari istana-istana feodal di Yogyakarta hingga ke ruang-ruang rapat Komintern di Moskow, dari pesantren-pesantren tradisional di Jawa Timur hingga ke ruang-ruang bawah tanah di Manila. Setiap hubungan ini, baik yang bersifat aliansi maupun konflik, membentuk pemikirannya, mengasah strateginya, dan akhirnya menentukan nasibnya" (Jilid III 650).
Poeze menekankan bahwa salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia adalah kegagalan untuk mengintegrasikan Tan Malaka dan gerakannya ke dalam arus utama politik nasional. "Jika Tan Malaka diterima sebagai bagian dari koalisi yang memerintah," tulisnya, "mungkin sejarah Indonesia akan berbeda. Mungkin kiri Indonesia tidak akan dihancurkan dengan kejam pada tahun 1965. Mungkin demokrasi Indonesia akan lebih kuat dan lebih inklusif. Tentu saja, ini adalah spekulasi. Tetapi spekulasi ini didasarkan pada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Tan Malaka memiliki basis massa yang luas, visi yang jelas, dan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap Indonesia. Menyingkirkannya adalah kerugian besar bagi republik yang baru lahir" (Poeze, Jilid III 670).
Akhirnya, Poeze mengajak para pembacanya untuk merenungkan pelajaran apa yang bisa diambil dari studi tentang hubungan-hubungan ini. "Sejarah," tulisnya, "adalah tentang manusia, bukan hanya tentang struktur dan kekuatan impersonal. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh lain dalam bab ini adalah keputusan yang dibuat dalam kondisi yang sangat sulit, dengan informasi yang terbatas, dan di bawah tekanan yang luar biasa. Mereka membuat kesalahan, seperti semua manusia. Tetapi mereka juga melakukan hal-hal yang luar biasa. Tugas kita, sebagai generasi yang datang setelah mereka, bukanlah untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Dengan memahami hubungan-hubungan yang kompleks ini, kita bisa belajar tentang masa lalu kita, dan mungkin, tentang diri kita sendiri" (Poeze, Jilid III 690).
Rujukan, Silakan Periksa:
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I: 1897-1925. PT Pustaka Utama Grafiti, 1988.Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Bab 4 Tan Malaka dan Islam, Taktik Politik atau Pencarian Spiritual?
Sebuah Paradoks yang Menggoda
Dalam sejarah intelektual dan politik Indonesia, hanya sedikit topik yang memicu perdebatan seintens hubungan antara Tan Malaka dan Islam. Bagi para pengagumnya di kalangan kiri, Tan Malaka adalah contoh sempurna tentang bagaimana seorang Marxis dapat menghormati dan bekerja sama dengan umat Islam tanpa mengorbankan prinsip-prinsip materialisnya. Bagi para pengkritiknya di kalangan Islam, ia adalah seorang komunis ateis yang dengan licik menggunakan simbol-simbol Islam untuk menyesatkan umat dan menghancurkan agama dari dalam. Bagi para akademisi yang mencoba memahami fenomena ini secara objektif, Tan Malaka adalah teka-teki yang menggoda: bagaimana mungkin seorang yang secara terbuka menyatakan dirinya sebagai materialis dan ateis dapat menulis dengan begitu fasih tentang Nabi Muhammad sebagai pemimpin revolusioner? Bagaimana mungkin seseorang yang menolak eksistensi Tuhan dapat menghabiskan begitu banyak energi untuk membangun aliansi dengan organisasi-organisasi Islam?Harry A. Poeze, dalam penelitian monumentalnya tentang Tan Malaka, mendekati teka-teki ini dengan metodologi arsipnya yang khas: dingin, teliti, dan menolak untuk terjebak dalam romantisme atau demonisasi. Jawabannya, yang tersebar di ribuan halaman biografinya dan diperkuat oleh berbagai artikel jurnal serta esai yang ia tulis selama puluhan tahun, dapat diringkas dalam satu kalimat provokatif: hubungan Tan Malaka dengan Islam bersifat instrumental dan politis, bukan teologis atau spiritual. Ini bukan berarti bahwa Tan Malaka tidak menghormati Islam atau bahwa ia adalah seorang oportunis yang sinis. Sebaliknya, Poeze berargumen bahwa Tan Malaka memahami Islam sebagaimana seorang sosiolog politik memahami sebuah fenomena sosial: sebagai kekuatan massa yang terorganisir, sebagai sistem simbol dan solidaritas yang dapat dimobilisasi untuk tujuan-tujuan revolusioner. Bagi Tan Malaka, Islam bukanlah jalan menuju Tuhan, karena ia tidak percaya pada Tuhan, tetapi Islam adalah jalan menuju massa. Dan dalam politik revolusioner, massa adalah segalanya.
"Pertanyaan apakah Tan Malaka 'benar-benar' seorang Muslim atau tidak," tulis Poeze dalam sebuah artikel jurnal yang diterbitkan pada tahun 1998, "adalah pertanyaan yang salah. Tan Malaka sendiri tidak pernah mengklaim sebagai Muslim yang taat, setidaknya setelah masa dewasanya. Tetapi ia juga tidak pernah mendefinisikan dirinya sebagai musuh Islam. Posisinya jauh lebih kompleks dan lebih menarik daripada sekadar dikotomi 'Muslim vs. ateis.' Ia adalah seorang Marxis yang tumbuh dalam budaya Muslim, yang memahami bahasa dan simbolisme Islam secara intim, dan yang melihat dalam Islam sebuah potensi revolusioner yang luar biasa, potensi yang, dalam pandangannya, telah dibajak oleh para pemimpin feodal dan borjuis untuk kepentingan mereka sendiri. Tugasnya, sebagaimana ia melihatnya, bukanlah untuk menghancurkan Islam, melainkan untuk merebutnya kembali untuk revolusi" (Poeze, "Tan Malaka and the Question of Islam" 45).
Untuk memahami posisi ini secara mendalam, Poeze menelusuri hubungan Tan Malaka dengan Islam dari tiga sudut yang berbeda namun saling terkait. Pertama, dari akar biografisnya: bagaimana pengalaman masa kecil dan remaja Tan Malaka di lingkungan Muslim Minangkabau membentuk pemahamannya tentang Islam, dan bagaimana pengalaman itu kemudian ditransformasi oleh pendidikan sekuler Belanda dan Marxisme. Kedua, dari praktik politiknya: bagaimana Tan Malaka mengembangkan dan menerapkan taktik "blok dalam" yang terkenal itu, pertama di Semarang pada awal 1920-an dan kemudian di berbagai konteks sepanjang kariernya. Dan ketiga, dari perdebatannya dengan para pemimpin Islam: bagaimana Tan Malaka berhadapan dengan Haji Agus Salim dan tokoh-tokoh Islam lainnya, dan bagaimana perdebatan-perdebatan itu mengungkapkan baik kekuatan maupun keterbatasan dari pendekatannya terhadap Islam. Dari ketiga sudut inilah Poeze membangun argumennya bahwa hubungan Tan Malaka dengan Islam, meskipun tulus dalam penghormatannya terhadap kekuatan sosial Islam, pada dasarnya adalah hubungan instrumental, sebuah taktik politik yang brilian, tetapi bukan sebuah pencarian spiritual.
Bayang-Bayang Adat dan Agama
Untuk memahami hubungan Tan Malaka dengan Islam, Poeze bersikeras bahwa kita harus memulai dari tempat yang paling dasar: dari nagari Pandan Gadang di Suliki, Sumatera Barat, tempat Ibrahim Datuk Sutan Malaka dilahirkan pada tanggal 2 Juni 1897. "Tan Malaka," tulis Poeze dalam jilid pertama biografinya, "adalah produk dari masyarakat Minangkabau, sebuah masyarakat yang unik dalam sintesisnya antara adat matrilineal yang pra-Islam dan Islam yang datang kemudian. Dalam masyarakat ini, adat dan agama tidak selalu hidup berdampingan dengan harmonis; mereka sering kali berada dalam ketegangan, dan ketegangan inilah yang membentuk kesadaran awal Tan Malaka" (Poeze, Jilid I 55).Poeze melukiskan gambaran yang kaya tentang lingkungan religius di mana Tan Malaka dibesarkan. Keluarga Tan Malaka adalah keluarga Muslim yang taat, setidaknya dalam pengertian formal. Ayahnya, Datuk Rasyid, adalah seorang penghulu adat yang juga dikenal sebagai pemimpin keagamaan lokal. Tan Malaka kecil, seperti anak-anak Minang lainnya, belajar mengaji di surau, menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, dan menyerap nilai-nilai Islam melalui osmosis kultural. "Tetapi ada sesuatu yang berbeda tentang anak ini," tulis Poeze. "Dari surat-surat awalnya, dari catatan-catatan gurunya, dari kesaksian orang-orang yang mengenalnya di masa kecil, kita mendapatkan gambaran tentang seorang anak yang sangat cerdas dan sangat ingin tahu, yang selalu bertanya 'mengapa' dan yang tidak pernah puas dengan jawaban-jawaban yang sudah jadi. Ini adalah tipe pikiran yang, dalam kondisi tertentu, bisa menjadi sangat religius, atau sangat sekuler" (Poeze, Jilid I 58).
Kondisi-kondisi tertentu itu datang dalam bentuk pendidikan Belanda. Pada usia yang masih sangat muda, Tan Malaka dikirim ke Sekolah Rendah Belanda (Hollandsch-Inlandsche School) di Payakumbuh, dan dari sana ke Kweekschool di Fort de Kock, dan akhirnya ke Sekolah Guru Atas di Bogor. Di sekolah-sekolah ini, ia terpapar pada cara berpikir Barat yang sekuler, pada sains modern, dan pada filsafat Pencerahan. Ini adalah benturan epistemologis yang dahsyat bagi seorang anak dari desa Minangkabau. "Di surau, ia belajar bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah dalam enam hari," tulis Poeze. "Di sekolah Belanda, ia belajar tentang evolusi Darwin dan geologi modern. Di surau, ia belajar bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan yang abadi. Di sekolah Belanda, ia belajar tentang kritik historis terhadap teks-teks suci. Bagaimana seorang anak berusia dua belas tahun mendamaikan dua sistem pengetahuan yang saling bertentangan ini? Jawabannya, dalam kasus Tan Malaka, adalah bahwa ia secara bertahap meninggalkan yang pertama dan mengadopsi yang kedua, tetapi ia tidak pernah sepenuhnya melupakan yang pertama" (Poeze, Jilid I 60).
Dari Santri ke Materialis
Transformasi intelektual Tan Malaka mencapai puncaknya selama tahun-tahunnya di Belanda, dari tahun 1913 hingga 1919. Di Rijkskweekschool Haarlem, ia tidak hanya belajar pedagogi dan bahasa; ia juga menemukan Marxisme, yang akan menjadi kerangka intelektualnya untuk memahami dunia. Poeze, dengan mengandalkan arsip-arsip akademik dan tulisan-tulisan awal Tan Malaka, melacak bagaimana pemuda dari Suliki ini secara bertahap bergerak dari seorang Muslim kultural menjadi seorang materialis yang meyakini sepenuhnya."Prosesnya tidak terjadi dalam semalam," tulis Poeze. "Ia adalah sebuah evolusi, bukan sebuah konversi mendadak. Dalam esai-esai awalnya di Haarlem, kita masih bisa melihat sisa-sisa pemikiran religius. Ia menulis tentang 'Tuhan' dan 'moralitas' dengan cara yang tidak akan ia gunakan kemudian. Tetapi ketika ia semakin mendalami Marxisme, ketika ia membaca Marx, Engels, dan Lenin, kerangka materialis semakin mendominasi pemikirannya. Pada saat ia lulus dari Haarlem pada tahun 1919, Tan Malaka adalah seorang Marxis yang berkomitmen, yang berarti, antara lain, bahwa ia telah meninggalkan kepercayaan pada Tuhan, wahyu, dan kehidupan setelah mati" (Poeze, Jilid I 130).
Namun, Poeze dengan cepat menambahkan sebuah nuansa penting: meninggalkan kepercayaan pada Tuhan tidak sama dengan meninggalkan pemahaman tentang Islam. "Tan Malaka tetap seorang 'Muslim kultural'," tulis Poeze. "Ia memahami Al-Qur'an, ia telah menghafalnya sebagai anak-anak, dan meskipun ia tidak lagi mempercayainya sebagai wahyu ilahi, ia masih bisa mengutipnya dari ingatan. Ia memahami ritual-ritual Islam, shalat, puasa, haji, dan ia memahami makna sosiologisnya. Ia memahami bahasa Arab, meskipun tidak fasih. Semua pengetahuan ini tidak hilang ketika ia menjadi Marxis. Sebaliknya, pengetahuan ini tetap ada sebagai sumber daya intelektual yang bisa ia gunakan untuk tujuan-tujuan politik" (Poeze, Jilid I 132).
Poeze melihat ini sebagai kunci untuk memahami pendekatan Tan Malaka terhadap Islam di kemudian hari. "Tan Malaka tidak perlu belajar tentang Islam dari buku-buku atau dari penasihat-penasihat," tulisnya. "Ia sudah tahu Islam dari dalam, dari pengalamannya sendiri tumbuh dalam budaya itu. Inilah yang membedakannya dari kebanyakan Marxis Eropa, yang sering kali mendekati Islam sebagai fenomena yang asing dan eksotis. Tan Malaka bisa berbicara tentang Islam dengan otoritas seorang insider, bahkan ketika ia telah menolak klaim-klaim teologisnya. Ini memberinya keunggulan yang luar biasa dalam membangun hubungan dengan umat Islam" (Poeze, Jilid I 135).
Sarekat Islam di Persimpangan Jalan
Untuk memahami mengapa taktik "blok dalam" Tan Malaka begitu kontroversial dan begitu berpengaruh, kita harus memahami konteks politik di mana taktik itu lahir. Sarekat Islam (SI), yang didirikan pada tahun 1911 sebagai organisasi pedagang Muslim, telah berkembang pesat menjadi organisasi massa terbesar di Hindia Belanda. Pada puncaknya, SI mengklaim memiliki lebih dari dua juta anggota, tersebar di seluruh Nusantara. Tetapi pertumbuhan yang cepat ini juga membawa ketegangan internal yang serius. Di satu sisi, ada faksi konservatif yang dipimpin oleh Haji Agus Salim dan Abdul Muis, yang ingin SI tetap fokus pada isu-isu Islam dan menghindari radikalisme politik yang dapat memicu represi kolonial. Di sisi lain, ada faksi radikal yang dipimpin oleh Semaun dan Darsono, yang ingin SI mengadopsi platform Marxis dan memimpin perjuangan kelas melawan kapitalisme. Konflik antara kedua faksi ini, yang dikenal sebagai konflik antara "Islam murni" dan "komunisme," mencapai puncaknya pada awal 1920-an, dan akhirnya memecah SI menjadi dua organisasi: SI "Putih" (konservatif) dan SI "Merah" (komunis).Tan Malaka tiba di Semarang pada pertengahan tahun 1921, tepat ketika konflik ini sedang memanas. Ia segera bergabung dengan faksi radikal dan menjadi salah satu propagandisnya yang paling efektif. Tetapi posisi Tan Malaka tidak persis sama dengan posisi Semaun atau Darsono. "Semaun dan Darsono," tulis Poeze, "adalah orang Jawa yang telah menjadi Marxis melalui kontak dengan komunis Belanda. Mereka tidak memiliki latar belakang Islam yang kuat, dan pendekatan mereka terhadap Islam cenderung bersifat defensif: mereka berusaha membuktikan bahwa Marxisme tidak bertentangan dengan Islam, tetapi mereka tidak benar-benar memahami Islam dari dalam. Tan Malaka berbeda. Ia memahami Islam sebagaimana Semaun dan Darsono memahami Marxisme: secara intuitif, sebagai bagian dari identitasnya. Ini memungkinkannya untuk mengembangkan pendekatan yang jauh lebih canggih dan lebih persuasif terhadap audiens Muslim" (Poeze, Jilid I 175).
"Blok Dalam" Teori di Balik Taktik
Istilah "blok dalam" sendiri, menurut Poeze, berasal dari metafora militer atau sepak bola: sebuah benteng pertahanan yang dibangun di dalam wilayah lawan. Dalam konteks politik, ini berarti bahwa kaum komunis harus bekerja dari dalam organisasi-organisasi Islam, bukan melawan mereka dari luar. Tujuannya bukanlah untuk menghancurkan Islam, melainkan untuk mengalihkan energi revolusionernya dari orientasi eskatologis (menunggu surga) ke orientasi duniawi (memperjuangkan keadilan di bumi). "Tan Malaka," tulis Poeze, "melihat Islam sebagai kendaraan yang sudah jadi: sudah terorganisir, sudah memiliki basis massa yang luas, sudah memiliki simbol-simbol dan narasi-narasi yang dapat memobilisasi emosi. Akan sangat bodoh bagi kaum komunis untuk mengabaikan atau menyerang kendaraan ini. Jauh lebih cerdas untuk menumpanginya dan mencoba untuk mempengaruhi arahnya" (Poeze, Jilid I 180).Poeze mengidentifikasi beberapa elemen kunci dari taktik blok dalam sebagaimana dirumuskan oleh Tan Malaka. Pertama, penggunaan bahasa dan simbolisme Islam untuk menyampaikan pesan-pesan Marxis. Dalam pidato-pidatonya di Semarang, Tan Malaka sering menggunakan istilah-istilah seperti "setan" untuk menggambarkan kapitalis, "jihad" untuk menggambarkan perjuangan kelas, dan "masyarakat adil dan makmur" untuk menggambarkan masyarakat komunis. "Ini bukanlah sekadar taktik retoris yang dangkal," tulis Poeze. "Tan Malaka benar-benar percaya bahwa ada paralelisme antara narasi Islam tentang perjuangan melawan kezaliman dan narasi Marxis tentang perjuangan kelas. Ia tidak berbohong ketika ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin sosial yang revolusioner, dari perspektif materialis, itulah cara terbaik untuk memahami Muhammad. Tetapi ia juga tidak mengatakan seluruh kebenaran. Ia tidak mengatakan bahwa bagi umat Islam, Muhammad bukan hanya pemimpin sosial, tetapi juga utusan Tuhan, sesuatu yang, sebagai materialis, Tan Malaka tidak bisa terima" (Poeze, Jilid I 182).
Kedua, fokus pada titik-titik temu antara Islam dan Marxisme, dan penghindaran dari titik-titik konflik. Tan Malaka berbicara panjang lebar tentang keadilan sosial, tentang larangan riba, tentang kewajiban untuk membela kaum miskin, semua tema yang memiliki resonansi kuat dalam Islam dan juga dalam Marxisme. Tetapi ia hampir tidak pernah berbicara tentang Tuhan, tentang wahyu, atau tentang kehidupan setelah mati, kecuali ketika ia bisa menginterpretasikannya secara metaforis. "Ini adalah strategi yang cerdas," tulis Poeze, "tetapi juga strategi yang berisiko. Cepat atau lambat, seseorang akan bertanya: 'Apakah Anda percaya pada Allah?' Dan ketika pertanyaan itu diajukan, Tan Malaka harus menjawab dengan jujur, atau ia akan kehilangan kredibilitasnya. Ini adalah dilema yang tidak pernah sepenuhnya ia selesaikan" (Poeze, Jilid I 185).
Analisis Poeze terhadap Tulisan Tan Malaka di Koran Buruh
Untuk mendukung argumennya tentang sifat instrumental dari pendekatan Tan Malaka terhadap Islam, Poeze melakukan analisis mendalam terhadap artikel-artikel yang ditulis oleh Tan Malaka di koran-koran buruh Semarang, terutama Sinar Hindia dan Het Vrije Woord. Analisis ini, yang tersebar di beberapa bab dalam jilid pertama biografinya, adalah contoh brilian dari metode arsip Poeze: ia tidak hanya membaca apa yang ditulis Tan Malaka, tetapi juga memperhatikan apa yang tidak ditulisnya, dan membandingkan artikel-artikel yang ditujukan untuk audiens Muslim dengan artikel-artikel yang ditujukan untuk audiens komunis."Ketika Tan Malaka menulis untuk audiens Muslim," Poeze menemukan, "bahasanya penuh dengan rujukan kepada Al-Qur'an dan Hadits. Ia mengutip ayat-ayat suci, meskipun sering kali di luar konteks teologisnya. Ia memuji Nabi Muhammad sebagai 'pemimpin besar' dan 'revolusioner sejati.' Ia berbicara tentang 'semangat Islam' yang sejati, yang ia kontraskan dengan 'Islam palsu' dari para ulama yang bersekutu dengan Belanda. Ini adalah bahasa yang dirancang untuk meyakinkan umat Islam bahwa komunisme dan Islam adalah sekutu alamiah dalam perjuangan melawan imperialisme" (Poeze, Jilid I 200).
"Tetapi ketika Tan Malaka menulis untuk audiens komunis," lanjut Poeze, "bahasanya sangat berbeda. Di sini, ia berbicara tentang 'ilusi religius' dan 'kesadaran palsu.' Ia menjelaskan bahwa agama adalah produk dari kondisi material, dan bahwa ia akan 'layu' dengan sendirinya ketika masyarakat komunis tercapai. Ia mengkritik 'para pemimpin feodal' yang menggunakan Islam untuk menyesatkan massa. Ini adalah bahasa yang jujur, yang mengungkapkan keyakinannya yang sebenarnya. Pertanyaannya, tentu saja, adalah: manakah Tan Malaka yang asli? Apakah ia seorang Muslim simpatik yang berbicara kepada umat Islam, atau seorang Marxis ateis yang berbicara kepada sesama komunis? Jawaban Poeze tegas: Tan Malaka yang asli adalah yang kedua. Yang pertama adalah topeng taktis, topeng yang ia kenakan dengan keterampilan luar biasa, tetapi topeng tetaplah topeng" (Poeze, Jilid I 205).
Poeze mendukung klaim ini dengan merujuk pada tulisan-tulisan Tan Malaka yang tidak dimaksudkan untuk publikasi, seperti surat-surat pribadi dan catatan-catatan harian. Dalam dokumen-dokumen ini, Tan Malaka tidak pernah menggunakan bahasa religius kecuali dalam konteks strategis. Ia tidak pernah berdoa, tidak pernah memohon pertolongan Tuhan, tidak pernah merenungkan kehidupan setelah mati. "Ketika ia sendirian," tulis Poeze, "Tan Malaka adalah seorang materialis yang konsisten. Hanya ketika ia berbicara kepada massa Muslim ia mengenakan jubah Islam. Ini bukan berarti ia munafik dalam pengertian moral, dari perspektifnya, ini adalah taktik yang sah dalam perang politik. Tetapi ini berarti bahwa hubungannya dengan Islam adalah hubungan seorang jenderal dengan senjatanya, bukan hubungan seorang mukmin dengan Tuhannya" (Poeze, Jilid I 210).
Polemik Haji Agus Salim, Rekonstruksi Mendetail
Salah satu kontribusi paling berharga dari penelitian Harry A. Poeze adalah rekonstruksinya yang mendetail tentang perdebatan antara Tan Malaka dan Haji Agus Salim, yang berlangsung terutama melalui artikel-artikel di media cetak pada tahun 1921-1922. Perdebatan ini, yang oleh Poeze disebut sebagai "salah satu pertukaran intelektual paling cemerlang dalam sejarah Indonesia modern," adalah bentrokan antara dua pemikir besar yang mewakili dua pandangan dunia yang tidak bisa didamaikan: Islam ortodoks dan Marxisme revolusioner (Poeze, "The Salim-Malaka Debate" 67).Haji Agus Salim, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin Sarekat Islam dan anggota Volksraad, adalah seorang intelektual Muslim yang sangat dihormati. Ia menguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan beberapa bahasa lainnya. Ia telah menulis secara ekstensif tentang teologi Islam, filsafat, dan politik. Dan ia adalah salah satu pembela Islam yang paling gigih melawan apa yang ia lihat sebagai ancaman komunisme. Bagi Agus Salim, komunisme bukan hanya lawan politik; ia adalah ancaman eksistensial terhadap iman umat Islam. "Agus Salim," tulis Poeze, "adalah lawan yang tangguh. Ia tidak bisa diintimidasi oleh retorika, dan ia tidak bisa dibodohi oleh penyamaran. Ketika Tan Malaka mulai menulis artikel-artikel yang mencoba menjembatani Islam dan Marxisme, Agus Salim segera melihat apa yang sedang terjadi, dan ia memutuskan untuk menyerang balik dengan kekuatan intelektual penuh" (Poeze, Jilid I 280).
Argumen Haji Agus Salim dari Posisi Teologis
Poeze merekonstruksi argumen-argumen utama Agus Salim berdasarkan artikel-artikelnya di koran Neratja dan Hindia Baroe. Argumen pertama dan paling fundamental Agus Salim adalah bahwa komunisme, sebagai doktrin materialis, pada dasarnya tidak kompatibel dengan Islam. "Agus Salim," tulis Poeze, "tidak membuang-buang waktu dengan argumen-argumen tentang ekonomi atau politik. Ia langsung menyerang jantung dari masalah: konsep ketuhanan. Islam, katanya, didasarkan pada keyakinan bahwa Allah adalah pencipta dan penguasa alam semesta. Komunisme, sebagai varian dari materialisme, menolak eksistensi Allah. Oleh karena itu, komunisme dan Islam tidak bisa didamaikan. Setiap upaya untuk menjembatani keduanya, menurut Agus Salim, adalah kebohongan intelektual" (Poeze, Jilid I 285).Dalam salah satu artikelnya yang paling terkenal, yang dikutip secara panjang lebar oleh Poeze, Agus Salim menulis: "Tuan Tan Malaka berkata bahwa Nabi Muhammad adalah seorang sosialis. Saya bertanya kepada Tuan: apakah Tuan percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah? Jika ya, maka Tuan harus menerima seluruh ajaran Islam, termasuk kewajiban shalat, puasa, dan haji. Jika tidak, maka Tuan tidak berhak menyebut nama Muhammad untuk mendukung ideologi yang menolak Tuhan. Muhammad bukanlah seorang sosialis; Muhammad adalah seorang Nabi. Perbedaan ini sangat besar, dan tidak bisa dikaburkan oleh retorika" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 287).
Argumen kedua Agus Salim, menurut Poeze, adalah bahwa taktik "blok dalam" Tan Malaka pada dasarnya adalah taktik penipuan. "Agus Salim," tulis Poeze, "menggunakan bahasa yang sangat tajam di sini. Ia menuduh Tan Malaka sebagai 'serigala berbulu domba,' yang datang ke tengah-tengah umat Islam dengan senyum dan pujian, tetapi dengan niat tersembunyi untuk menghancurkan iman mereka. Ia memperingatkan umat Islam bahwa tujuan akhir komunisme bukanlah untuk memperkuat Islam, melainkan untuk melenyapkannya. Ia mengutip Lenin dan Marx untuk menunjukkan bahwa para pendiri komunisme secara eksplisit ateis dan anti-agama. 'Jika Tuan Tan Malaka adalah seorang komunis sejati,' tulis Agus Salim, 'maka Tuan harus percaya bahwa agama adalah candu bagi rakyat. Dan jika Tuan percaya itu, bagaimana mungkin Tuan juga mengaku sebagai teman umat Islam?'" (Poeze, Jilid I 290).
Argumen ketiga Agus Salim, yang kurang dikenal tetapi sama pentingnya, adalah kritik terhadap interpretasi Tan Malaka tentang sejarah Islam. Agus Salim menuduh Tan Malaka telah secara selektif memilih elemen-elemen dari sejarah Islam yang mendukung argumennya, sambil mengabaikan elemen-elemen yang tidak mendukung. "Tuan Tan Malaka berbicara tentang keadilan sosial dalam Islam," tulis Agus Salim, "tetapi Tuan tidak berbicara tentang kewajiban shalat lima waktu. Tuan berbicara tentang larangan riba, tetapi Tuan tidak berbicara tentang kewajiban puasa Ramadhan. Tuan memilih-milih ayat-ayat Al-Qur'an seperti seorang pembeli memilih-milih barang di pasar, mengambil yang Tuan suka, meninggalkan yang tidak Tuan suka. Ini bukanlah cara untuk memperlakukan kitab suci. Ini adalah penodaan" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 293).
Pembelaan Posisi Materialisme Historis
Tanggapan Tan Malaka terhadap serangan-serangan Agus Salim, sebagaimana direkonstruksi oleh Poeze dari artikel-artikelnya di Sinar Hindia, adalah sebuah mahakarya retorika revolusioner. Tan Malaka tidak mundur dari posisi materialisnya; sebaliknya, ia menggunakannya sebagai dasar untuk menafsirkan kembali Islam dalam istilah-istilah sosiologis. "Inilah inti dari strategi Tan Malaka," tulis Poeze. "Ia tidak mencoba membuktikan bahwa Marxisme kompatibel dengan teologi Islam, ia tahu itu tidak mungkin. Sebaliknya, ia mencoba membuktikan bahwa Islam, ketika dipahami secara benar sebagai fenomena sosial-historis, adalah sekutu alamiah Marxisme dalam perjuangan melawan kapitalisme dan imperialisme" (Poeze, Jilid I 300).Terhadap tuduhan bahwa ia tidak percaya pada Allah, Tan Malaka memberikan jawaban yang cerdik namun mengelak. Ia tidak secara langsung mengatakan "Saya tidak percaya pada Allah", itu akan menjadi bunuh diri politik di hadapan audiens Muslim. Sebaliknya, ia mengalihkan fokus dari pertanyaan teologis ke pertanyaan sosial. "Tuan Agus Salim bertanya apakah saya percaya pada Allah," tulis Tan Malaka. "Saya akan menjawab dengan pertanyaan lain: apakah Allah yang Tuan sembah adalah Allah yang membiarkan umat-Nya ditindas oleh kapitalis Belanda? Apakah Allah yang Tuan sembah adalah Allah yang membiarkan petani-petani kita kelaparan sementara tuan-tuan Belanda berpesta? Jika ya, maka Allah Tuan bukanlah Allah saya. Allah saya, jika saya boleh menggunakan kata itu, adalah Allah yang berpihak pada kaum tertindas, Allah yang memerintahkan umat-Nya untuk berjuang melawan kezaliman. Dan perjuangan melawan kezaliman itulah yang sedang kita lakukan" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 305).
Poeze menganalisis jawaban ini dengan sangat cermat. "Perhatikan apa yang dilakukan Tan Malaka di sini," tulisnya. "Ia tidak menjawab pertanyaan Agus Salim. Ia mengubah pertanyaannya. Alih-alih mengatakan 'ya' atau 'tidak' tentang eksistensi Allah, ia berbicara tentang 'Allah saya', sebuah konstruksi yang sepenuhnya metaforis, yang tidak mengacu pada entitas supernatural apa pun, melainkan pada prinsip keadilan sosial. Ini adalah retorika yang brilian, tetapi ia juga merupakan pengakuan tersirat bahwa ia tidak bisa menjawab pertanyaan Agus Salim secara langsung tanpa kehilangan kredibilitasnya" (Poeze, Jilid I 308).
Terhadap argumen bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang sosialis, Tan Malaka memberikan respons yang lebih substantif. Dengan menggunakan pengetahuannya yang mendalam tentang sejarah Islam, ia melukiskan gambaran tentang Nabi sebagai seorang pemimpin revolusioner yang berjuang melawan ketidakadilan sosial di masyarakat Arab abad ketujuh. "Nabi Muhammad," tulis Tan Malaka, "adalah pemimpin yang membebaskan budak-budak, yang melindungi janda-janda dan anak-anak yatim, yang memerangi riba, yang mendirikan masyarakat di mana orang kaya dan orang miskin duduk berdampingan sebagai saudara. Apakah ini bukan sosialisme? Tentu saja, Nabi tidak menggunakan kata 'sosialisme', kata itu belum ada pada zamannya. Tetapi semangatnya, substansinya, adalah sama. Dan jika Tuan Agus Salim menolak untuk melihat ini, maka Tuanlah yang telah meninggalkan semangat sejati Islam, bukan saya" (dikutip dalam Poeze, Jilid I 310).
Poeze mencatat bahwa Tan Malaka berhati-hati untuk tidak mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang komunis atau ateis, itu akan menjadi penghinaan yang tidak bisa diterima. Sebagai gantinya, ia menggunakan istilah "sosialisme" secara longgar, sebagai istilah generik untuk keadilan sosial. "Ini adalah trik retoris," tulis Poeze, "tetapi ia didasarkan pada pembacaan yang nyata terhadap sejarah Islam. Tan Malaka benar bahwa Nabi Muhammad melakukan reformasi sosial yang signifikan, dan bahwa banyak dari reformasi itu memiliki kemiripan dengan apa yang sekarang kita sebut sebagai keadilan sosial. Tetapi Tan Malaka mengabaikan fakta bahwa bagi umat Islam, reformasi-reformasi itu bukanlah tujuan akhir; mereka adalah bagian dari misi kenabian yang lebih besar, yang tidak bisa dipisahkan dari iman kepada Allah. Dengan memisahkan dimensi sosial Islam dari dimensi teologisnya, Tan Malaka melakukan apa yang oleh para kritikusnya disebut sebagai 'pengebirian spiritual' terhadap Islam" (Poeze, Jilid I 315).
Penafsiran Poeze tentang Perdebatan
Setelah merekonstruksi kedua sisi perdebatan dengan sangat rinci, Poeze menawarkan penafsirannya sendiri tentang apa yang sebenarnya dipertaruhkan dalam polemik ini. "Perdebatan antara Tan Malaka dan Agus Salim," tulisnya dalam esai jurnalnya, "bukanlah sekadar perdebatan tentang apakah Islam dan komunisme bisa didamaikan. Ia adalah perdebatan tentang siapa yang berhak mendefinisikan Islam. Agus Salim mengklaim bahwa Islam hanya bisa didefinisikan oleh para ulama, berdasarkan teks-teks suci dan tradisi. Tan Malaka mengklaim bahwa Islam juga bisa didefinisikan oleh massa Muslim, berdasarkan pengalaman hidup mereka dan perjuangan mereka melawan penindasan. Agus Salim mewakili Islam sebagai doktrin; Tan Malaka mewakili Islam sebagai gerakan sosial. Keduanya benar dalam cara mereka sendiri, tetapi kebenaran mereka tidak bisa disatukan" (Poeze, "The Salim-Malaka Debate" 89).Poeze berargumen bahwa Tan Malaka, dalam perdebatannya dengan Agus Salim, mengungkapkan pemahamannya tentang Islam sebagai sosiologi, bukan sebagai teologi. "Bagi Tan Malaka," tulis Poeze, "Islam bukanlah sistem kepercayaan tentang Tuhan, malaikat, dan kehidupan setelah mati. Islam adalah sistem solidaritas sosial yang telah terbukti mampu memobilisasi massa untuk tindakan kolektif. Ketika ia memuji Nabi Muhammad, ia memujinya sebagai pemimpin sosial, bukan sebagai utusan Tuhan. Ketika ia mengutip Al-Qur'an, ia mengutipnya sebagai dokumen sejarah yang berisi prinsip-prinsip keadilan sosial, bukan sebagai firman Tuhan. Ini adalah pembacaan yang sepenuhnya materialis terhadap Islam, pembacaan yang konsisten dengan Marxisme, tetapi yang pasti akan ditolak oleh orang-orang beriman seperti Agus Salim" (Poeze, Jilid I 320).
Pada akhirnya, Poeze menyimpulkan bahwa perdebatan ini tidak memiliki pemenang yang jelas dalam jangka pendek, tetapi memiliki konsekuensi yang mendalam dalam jangka panjang. "Dalam jangka pendek," tulisnya, "Agus Salim mungkin menang: Sarekat Islam terpecah, dan faksi radikal yang didukung Tan Malaka akhirnya kalah. Tetapi dalam jangka panjang, visi Tan Malaka tentang Islam sebagai kekuatan revolusioner tetap hidup. Setiap kali gerakan Islam di Indonesia mengambil posisi anti-kapitalis atau anti-imperialis, ia berutang sesuatu kepada Tan Malaka, meskipun sering kali tanpa menyadarinya. Dan setiap kali gerakan kiri di Indonesia mencoba mendekati umat Islam, ia juga berutang sesuatu kepada Tan Malaka. Warisan intelektual dari perdebatan ini jauh lebih besar daripada yang sering diakui" (Poeze, "The Salim-Malaka Debate" 92).
Kembali ke Ranah Minang
Jika taktik "blok dalam" Tan Malaka mencapai keberhasilan tertentu di Jawa, terutama di kalangan SI Merah di Semarang, ujian sebenarnya datang ketika ia mencoba menerapkannya di tanah kelahirannya sendiri: Sumatera Barat. Poeze mendedikasikan sebuah bagian yang substansial dari jilid kedua biografinya untuk menganalisis kegagalan Tan Malaka di Minangkabau, dan dari kegagalan ini ia menarik pelajaran-pelajaran penting tentang batasan-batasan taktik instrumental terhadap Islam."Sumatera Barat," tulis Poeze, "adalah tempat yang berbeda dari Jawa. Di Jawa, Islam hadir dalam bentuk sinkretis yang telah bercampur dengan tradisi-tradisi Hindu-Buddha dan animisme. Di Sumatera Barat, Islam hadir dalam bentuknya yang lebih murni, lebih ortodoks, dan lebih terintegrasi dengan struktur sosial adat. Para ulama Minangkabau memiliki otoritas yang besar, tidak hanya dalam masalah spiritual tetapi juga dalam masalah sosial dan politik. Dan mereka sangat curiga terhadap ide-ide dari luar, terutama ide-ide yang berasal dari Barat dan yang berbau ateisme" (Poeze, Jilid II 245).
Tan Malaka kembali ke Sumatera Barat pada tahun 1942, setelah dua dekade dalam pengasingan. Ia datang dengan misi ganda: untuk menghindari pendudukan Jepang dan untuk membangun basis bagi gerakan revolusionernya. Ia mendirikan sekolah-sekolah rakyat di beberapa tempat, termasuk di Padang Panjang dan Bukittinggi, dan mencoba untuk merekrut para pemuda Muslim ke dalam gerakannya. "Tetapi ia segera menemui hambatan yang tidak bisa diatasi," tulis Poeze. "Para ulama Minangkabau, yang telah mendengar tentang reputasinya sebagai komunis ateis, menolaknya mentah-mentah. Mereka tidak tertarik pada argumen-argumennya tentang keadilan sosial; mereka ingin tahu satu hal: apakah Tan Malaka percaya pada Allah? Dan ketika Tan Malaka, sesuai dengan karakternya, memberikan jawaban yang mengelak dan metaforis, mereka menyimpulkan, dengan benar, bahwa ia adalah seorang ateis. Dari situ, pintu-pintu tertutup untuknya" (Poeze, Jilid II 250).
Peran Madilog dalam Kegagalan Taktik
Salah satu faktor kunci yang berkontribusi pada kegagalan Tan Malaka di Minangkabau, menurut Poeze, adalah bukunya sendiri: Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Buku ini, yang ditulis oleh Tan Malaka selama pengasingannya dan yang beredar dalam bentuk samizdat di kalangan pendukungnya, adalah pernyataan paling eksplisit tentang materialisme filosofisnya. Dan bagi para ulama Minangkabau, Madilog adalah bukti yang tidak bisa disangkal tentang ateisme Tan Malaka."Madilog," tulis Poeze, "adalah pedang bermata dua bagi Tan Malaka. Di satu sisi, ia adalah mahakarya intelektualnya, bukti dari kapasitasnya sebagai pemikir sistematis. Di sisi lain, ia adalah kehancurannya di mata umat Islam konservatif. Dalam Madilog, Tan Malaka secara terbuka menolak eksistensi Tuhan, menolak kemungkinan mukjizat, dan menolak kehidupan setelah mati. Ia berargumen bahwa alam semesta bisa dijelaskan sepenuhnya melalui hukum-hukum material, tanpa perlu merujuk pada entitas supernatural apa pun. Ini adalah materialisme yang tegas dan tanpa kompromi. Dan ketika para ulama Minangkabau membaca Madilog, atau lebih sering, mendengar tentang isinya dari orang lain, mereka tidak bisa lagi memberikan Tan Malaka manfaat dari keraguan. Ia telah menyatakan dirinya sebagai musuh iman" (Poeze, Jilid II 260).
Poeze mencatat bahwa ada ironi yang mendalam di sini. Tan Malaka menulis Madilog dengan tujuan untuk memberikan fondasi intelektual bagi gerakan revolusioner Indonesia. Ia ingin membebaskan pikiran rakyat dari apa yang ia lihat sebagai takhayul dan cara berpikir mistis yang menghambat kemajuan. Tetapi dalam prosesnya, ia menciptakan sebuah teks yang membuatnya hampir mustahil untuk membangun aliansi dengan umat Islam konservatif, tepatnya kelompok yang paling ia butuhkan untuk revolusi. "Ini adalah kontradiksi yang tidak pernah berhasil diselesaikan oleh Tan Malaka," tulis Poeze. "Ia ingin menggunakan Islam untuk revolusi, tetapi ia juga ingin mencerahkan umat Islam dari apa yang ia lihat sebagai ilusi-ilusi mereka. Dua tujuan ini, dalam praktiknya, saling bertentangan. Anda tidak bisa secara bersamaan memanfaatkan keyakinan religius orang dan mencoba untuk menghilangkannya. Cepat atau lambat, kontradiksi ini akan meledak. Dan di Minangkabau, kontradiksi itu meledak" (Poeze, Jilid II 262).
Konflik dengan Ulama Padang Panjang
Untuk mengilustrasikan kegagalan taktik "blok dalam" di Minangkabau, Poeze merekonstruksi secara rinci sebuah insiden yang terjadi di Padang Panjang pada tahun 1943. Insiden ini, yang melibatkan Tan Malaka dan seorang ulama lokal terkemuka, adalah contoh sempurna tentang bagaimana pendekatan instrumental Tan Malaka terhadap Islam gagal ketika berhadapan dengan keyakinan religius yang tulus.Menurut rekonstruksi Poeze, Tan Malaka diundang untuk berbicara di sebuah pertemuan pemuda Muslim di Padang Panjang. Ia datang dengan persiapan penuh, siap untuk menyampaikan argumen-argumennya tentang bagaimana Islam dan perjuangan melawan imperialisme adalah satu dan sama. Tetapi sebelum ia bisa menyampaikan pidatonya, seorang ulama senior memotongnya dan mengajukan pertanyaan langsung: "Apakah Tuan percaya bahwa Allah itu ada, ya atau tidak?"
Poeze menggambarkan momen ini sebagai "momen kebenaran" bagi Tan Malaka. "Ia bisa saja berbohong," tulis Poeze, "dan mengatakan 'ya' untuk mendapatkan dukungan para pemuda itu. Tetapi ia tidak melakukannya. Integritas intelektualnya, atau mungkin kebanggaannya, tidak mengizinkannya untuk mengucapkan kata-kata yang ia tahu tidak benar. Sebaliknya, ia memberikan jawaban yang panjang dan berbelit-belit tentang bagaimana 'Allah' bisa dipahami sebagai simbol keadilan dan persatuan. Tetapi para ulama tidak tertipu. Mereka mendengar apa yang tidak dikatakan Tan Malaka: bahwa ia tidak percaya pada Allah yang sejati, Allah yang menciptakan alam semesta, Allah yang akan menghakimi manusia di hari kiamat. Dan dengan itu, kredibilitasnya hancur" (Poeze, Jilid II 275).
Akibat dari insiden ini, Tan Malaka diusir dari Padang Panjang dan kehilangan akses ke jaringan pemuda Muslim yang telah ia harapkan untuk direkrut. Lebih buruk lagi, berita tentang ateismenya menyebar ke seluruh Sumatera Barat, membuatnya semakin sulit untuk beroperasi. "Kegagalan di Padang Panjang," tulis Poeze, "adalah mikrokosmos dari kegagalan yang lebih besar. Taktik blok dalam Tan Malaka bisa bekerja selama ia berhadapan dengan Muslim yang sudah cenderung radikal dalam politik, yang bersedia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan teologis demi aliansi politik. Tetapi ketika ia berhadapan dengan Muslim yang saleh dan taat, yang imannya adalah pusat dari identitas mereka, taktik itu runtuh. Dan di Sumatera Barat, pusat dari kebangkitan Islam modernis di Indonesia, mayoritas Muslim adalah tipe yang kedua" (Poeze, Jilid II 280).
Insiden di Padang Panjang yang mengakibatkan pengusiran Tan Malaka dari kota tersebut merupakan salah satu momen paling menentukan dalam evolusi pemikiran politiknya, dan Harry A. Poeze memberikan perhatian analitis yang sangat besar terhadap peristiwa ini. Bagi Poeze, kegagalan di Padang Panjang bukanlah sekadar kemunduran taktis lokal; ia adalah sebuah "mikrokosmos dari kegagalan yang lebih besar" (Poeze, Jilid II 280), sebuah laboratorium mini yang mengungkapkan batas-batas fundamental dari strategi aliansi komunis-Islam yang telah menjadi ciri khas pendekatan Tan Malaka sejak masa-masa awalnya di Semarang.
Untuk memahami mengapa kegagalan ini begitu signifikan, kita harus terlebih dahulu memahami konteks Sumatera Barat pada awal tahun 1940-an, ketika Tan Malaka kembali ke tanah kelahirannya setelah lebih dari dua dekade dalam pengasingan dan pelarian internasional. Sumatera Barat pada masa itu adalah salah satu pusat intelektual Islam paling dinamis di seluruh Asia Tenggara. Gerakan pembaharuan Islam yang dimulai oleh para ulama modernis pada awal abad kedua puluh, yang dikenal sebagai Kaum Muda, telah mentransformasi lanskap keagamaan dan sosial di wilayah tersebut. Sekolah-sekolah modernis seperti Sumatra Thawalib di Padang Panjang, yang didirikan pada tahun 1911, telah menghasilkan generasi baru Muslim terdidik yang menggabungkan kesalehan Islam yang mendalam dengan pengetahuan modern tentang sains, filsafat, dan politik.
"Sumatera Barat," tulis Poeze dalam analisisnya tentang periode ini, "adalah wilayah yang unik di Hindia Belanda. Di sini, Islam bukanlah sekadar identitas kultural yang diwariskan secara turun-temurun; ia adalah proyek intelektual yang sadar. Para pemuda yang belajar di sekolah-sekolah Thawalib membaca Al-Qur'an dan hadits di pagi hari, dan membaca Marx, Lenin, dan sosialis Eropa di malam hari. Mereka adalah Muslim yang taat dan sekaligus revolusioner yang berkomitmen. Bagi mereka, Islam dan keadilan sosial adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Tetapi, dan ini adalah poin krusial yang tampaknya tidak sepenuhnya dipahami oleh Tan Malaka, Islam tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan dari seluruh bangunan pemikiran mereka. Mereka bersedia menggunakan alat-alat analisis Marxis, tetapi mereka tidak bersedia meninggalkan iman mereka" (Poeze, Jilid II 260).
Tan Malaka tiba di Sumatera Barat pada tahun 1942, setelah Jepang menduduki Indonesia dan membuka ruang politik yang sebelumnya tertutup oleh pemerintahan kolonial Belanda. Ia berharap bahwa di tanah kelahirannya sendiri, di antara orang-orang yang berbicara dalam bahasa ibunya dan berbagi akar kultural yang sama, ia akan menemukan basis yang subur untuk gerakan revolusionernya. Harapan ini tidak sepenuhnya tidak berdasar. Banyak pemimpin pergerakan di Sumatera Barat, termasuk beberapa tokoh utama di Sumatra Thawalib, telah lama mengagumi Tan Malaka dari jauh. Namanya dikenal sebagai salah satu putra terbaik Minangkabau, seorang pemimpin komunis yang telah berkeliling dunia dan menulis karya-karya yang berpengaruh. Ketika ia akhirnya kembali, ada antisipasi yang besar di kalangan pemuda Muslim progresif.
"Tan Malaka," tulis Poeze, "melihat dirinya sebagai anak yang hilang yang kembali. Ia membayangkan bahwa pengalamannya di Moskow, Kanton, dan Manila akan memberinya otoritas yang tidak dimiliki oleh para pemimpin lokal. Ia membayangkan bahwa ia akan disambut sebagai pemimpin alami, dan bahwa ia bisa dengan mudah merekrut para pemuda Muslim Sumatera Barat ke dalam gerakan revolusionernya. Tetapi ia salah perhitungan. Para pemuda Muslim Sumatera Barat bukanlah massa yang tidak kritis yang bisa digerakkan oleh karisma semata. Mereka adalah pemikir-pemikir kritis yang telah membaca buku-bukunya, termasuk Madilog, dan mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sulit" (Poeze, Jilid II 265).
Dari Pertemuan Hingga Pengusiran
Poeze merekonstruksi kronologi insiden Padang Panjang dengan mendasarkan diri pada wawancara-wawancara dengan saksi-saksi yang masih hidup, laporan-laporan intelijen Jepang (yang mengawasi aktivitas politik di Sumatera Barat dengan cermat), dan surat-surat yang ditulis oleh para peserta dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Meskipun detail-detail spesifik bervariasi di antara sumber-sumber yang berbeda, garis besar ceritanya konsisten dan memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang terjadi.Tan Malaka tiba di Padang Panjang pada pertengahan tahun 1942 dan segera memulai serangkaian pertemuan dengan para pemimpin pemuda dan mahasiswa di Sumatra Thawalib dan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya. Pertemuan-pertemuan ini, yang sering kali berlangsung di rumah-rumah pribadi atau di aula-aula sekolah setelah jam pelajaran, dimulai dengan nada yang penuh harapan. "Para pemuda itu ingin mendengar langsung dari Tan Malaka," tulis Poeze. "Mereka telah membaca tentang dia, mereka telah mendengar cerita-cerita tentang petualangannya, dan mereka ingin tahu apa visinya untuk Indonesia merdeka. Tan Malaka, yang adalah seorang pembicara yang karismatik dan persuasif, tidak mengecewakan mereka. Ia berbicara dengan penuh semangat tentang imperialisme, kapitalisme, dan perlunya revolusi sosial. Ia mengutip Al-Qur'an dan hadits untuk mendukung argumen-argumennya. Ia menekankan bahwa Islam dan komunisme memiliki musuh yang sama: kapitalisme yang eksploitatif dan imperialisme yang menindas" (Jilid II 268).
Pada awalnya, pendekatan ini tampaknya berhasil. Banyak pemuda yang terkesan oleh pengetahuan Tan Malaka tentang Islam, pengetahuan yang, seperti dicatat oleh Poeze, "tidak dangkal, meskipun jelas-jelas instrumental" (Jilid II 269). Tan Malaka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari Islam, bukan sebagai seorang mukmin yang mencari kebenaran spiritual, tetapi sebagai seorang analis politik yang ingin memahami kekuatan sosial yang besar ini. Ia bisa mengutip ayat-ayat Al-Qur'an, merujuk pada sejarah Islam, dan berdebat tentang teologi dengan cukup meyakinkan untuk menunjukkan bahwa ia bukanlah orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang agama yang dianut oleh audiensnya.
"Tetapi," tulis Poeze, "pesona awal ini tidak bertahan lama. Para pemuda Sumatera Barat bukanlah tipe yang puas dengan retorika. Mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam dan lebih sulit. Mereka telah membaca Madilog, dan mereka menemukan di dalamnya argumen-argumen yang secara eksplisit ateistik. Tan Malaka menulis dalam Madilog bahwa 'Tuhan adalah produk dari imajinasi manusia yang ketakutan,' bahwa 'agama adalah candu yang meninabobokan rakyat,' dan bahwa 'materialisme adalah satu-satunya filsafat yang sesuai dengan sains modern.' Bagaimana mungkin seseorang yang menulis hal-hal ini mengklaim sebagai sekutu umat Islam?" (Poeze, Jilid II 270).
Pertanyaan-pertanyaan ini menempatkan Tan Malaka dalam posisi yang sulit. Ia tidak bisa menyangkal apa yang telah ia tulis dalam Madilog, itu adalah karya intelektualnya yang paling penting, fondasi filosofis dari seluruh pemikiran politiknya. Tetapi ia juga tidak bisa secara terbuka menyatakan dirinya sebagai ateis tanpa menghancurkan kredibilitasnya di hadapan audiens Muslim. Poeze menggambarkan dilema ini dengan sangat baik: "Tan Malaka terjebak dalam kontradiksi yang ia sendiri ciptakan. Ia ingin menggunakan Islam sebagai kendaraan politik, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia sendiri tidak percaya pada premis-premis teologis yang mendasari Islam. Ia adalah seorang materialis yang berusaha memimpin orang-orang beriman. Ini adalah kontradiksi yang, pada akhirnya, tidak bisa dipertahankan" (Poeze, Jilid II 272).
Dialog Kritis di Aula Thawalib
Poeze, dengan aksesnya yang luar biasa ke sumber-sumber primer, berhasil merekonstruksi beberapa dialog spesifik yang terjadi selama pertemuan-pertemuan di Padang Panjang. Dialog-dialog ini, yang dicatat oleh para peserta dan kemudian disimpan dalam arsip-arsip pribadi, memberikan gambaran yang jelas tentang dinamika intelektual yang akhirnya menghancurkan posisi Tan Malaka.Salah satu dialog yang direkonstruksi oleh Poeze terjadi antara Tan Malaka dan seorang pemuda bernama M. Jamil, seorang mahasiswa senior di Sumatra Thawalib yang kelak menjadi tokoh penting dalam gerakan Islam di Sumatera Barat. Menurut catatan yang ditemukan Poeze, Jamil bertanya kepada Tan Malaka secara langsung: "Bung Tan, dalam Madilog, Bung menulis bahwa materi adalah satu-satunya realitas, dan bahwa ide-ide, termasuk ide tentang Tuhan, adalah produk dari kondisi material. Apakah Bung masih berpegang pada pandangan ini?"
Poeze mencatat bahwa pertanyaan ini disambut dengan keheningan yang tegang di ruangan itu. "Semua orang menunggu jawaban Tan Malaka," tulisnya. "Mereka tahu bahwa jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah aliansi antara mereka dan Tan Malaka bisa berlanjut atau tidak. Jika Tan Malaka menjawab 'ya,' ia akan mengkonfirmasi bahwa ia adalah seorang ateis materialis, dan banyak dari mereka akan meninggalkannya. Jika ia menjawab 'tidak,' ia akan menyangkal karya intelektualnya sendiri, dan kredibilitasnya sebagai pemikir akan hancur. Apapun jawabannya, ia akan kalah" (Poeze, Jilid II 274).
Menurut rekonstruksi Poeze, Tan Malaka mencoba untuk memberikan jawaban yang diplomatis. Ia mengatakan bahwa Madilog adalah karya filosofis yang dimaksudkan untuk melawan takhayul dan pemikiran magis, bukan untuk menyerang agama yang rasional dan beradab. Ia berargumen bahwa Islam, dengan penekanannya pada akal dan ilmu pengetahuan, sebenarnya lebih dekat dengan semangat Madilog daripada dengan takhayul yang dikritik oleh buku itu. "Saya tidak menyerang Islam," kata Tan Malaka, menurut catatan yang dikutip Poeze. "Saya menyerang kebodohan dan kemunduran. Islam yang sejati adalah Islam yang mendorong umatnya untuk berpikir, untuk menggunakan akal mereka, untuk memahami hukum-hukum alam. Itu adalah Islam yang saya hormati" (Jilid II 275).
Namun, jawaban ini tidak memuaskan para pemuda kritis di ruangan itu. Mereka telah membaca Madilog dengan terlalu saksama untuk ditipu oleh retorika. Seorang pemuda lain, yang namanya tidak tercatat dalam sumber-sumber yang ditemukan Poeze, mengajukan pertanyaan lanjutan: "Bung Tan, apakah Bung percaya bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah, atau apakah Bung percaya bahwa Al-Qur'an adalah produk dari kondisi sosial dan material di Arab pada abad ketujuh? Jika yang pertama, maka Bung adalah seorang Muslim. Jika yang kedua, maka Bung adalah seorang materialis yang mengaku bersekutu dengan kami tetapi sebenarnya tidak percaya pada dasar-dasar iman kami."
"Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dihindari," tulis Poeze. "Para pemuda Sumatera Barat telah membaca Marx, mereka memahami materialisme historis, dan mereka tahu bahwa seorang materialis yang konsisten tidak bisa percaya pada wahyu ilahi. Mereka memaksa Tan Malaka untuk memilih: Islam atau materialisme, iman atau Marxisme. Dan Tan Malaka, sebagai seorang pemikir yang jujur, tidak bisa memilih Islam tanpa mengkhianati keyakinan intelektualnya yang paling dalam. Tetapi ia juga tidak bisa secara terbuka memilih materialisme tanpa kehilangan audiensnya" (Poeze, Jilid II 276).
Menurut catatan-catatan yang dikumpulkan oleh Poeze, Tan Malaka mencoba untuk menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan ke isu-isu politik praktis. Ia berbicara tentang perlunya persatuan melawan imperialisme Jepang dan Belanda, tentang bahaya perpecahan di antara kekuatan-kekuatan anti-kolonial, dan tentang pentingnya menunda perdebatan teologis sampai setelah kemerdekaan tercapai. Tetapi para pemuda itu tidak mau dialihkan. Mereka bersikeras bahwa pertanyaan fundamental harus dijawab sebelum aliansi bisa dibentuk. "Mereka berkata kepada Tan Malaka," tulis Poeze, "'Kami tidak bisa berjuang bersama seseorang yang tidak percaya pada apa yang kami percayai. Kami tidak bisa menerima kepemimpinan seseorang yang menganggap kitab suci kami sebagai produk kondisi material. Jika Bung ingin memimpin kami, Bung harus menerima Islam. Jika tidak, kami tidak bisa mengikuti Bung'" (Jilid II 277).
Pengakuan yang Menghancurkan
Pada titik tertentu dalam pertemuan-pertemuan yang menegangkan ini, Poeze mengakui bahwa kronologi tepatnya sulit ditentukan karena sumber-sumber yang saling bertentangan, Tan Malaka tampaknya telah membuat sebuah pengakuan yang menghancurkan posisinya. Menurut beberapa saksi yang diwawancarai oleh Poeze, setelah berjam-jam ditekan dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin tajam, Tan Malaka akhirnya mengakui bahwa ia bukanlah seorang Muslim yang beriman dalam pengertian tradisional."Salah seorang saksi," tulis Poeze, "mengingat bahwa Tan Malaka berkata sesuatu seperti: 'Saya menghormati Islam, tetapi saya tidak bisa mengatakan bahwa saya percaya pada hal-hal yang tidak bisa dibuktikan oleh akal dan sains.' Kalimat ini, jika benar diucapkan, adalah pengakuan ateisme yang terselubung. Dan bagi para pemuda Muslim di ruangan itu, itu sudah cukup. Mereka tidak membutuhkan pernyataan eksplisit tentang ketidakpercayaan kepada Allah. Pernyataan bahwa akal dan sains adalah satu-satunya kriteria kebenaran, yang mengecualikan kemungkinan wahyu, sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Tan Malaka bukanlah sekutu yang bisa mereka percayai" (Poeze, Jilid II 278).
Poeze menekankan bahwa pengakuan ini, jika memang terjadi, adalah momen yang sangat signifikan, bukan hanya untuk hubungan Tan Malaka dengan gerakan Islam, tetapi juga untuk perkembangan intelektualnya sendiri. "Selama bertahun-tahun," tulis Poeze, "Tan Malaka telah mencoba untuk mempertahankan posisi yang ambigu. Ia adalah seorang Marxis materialis, tetapi ia juga ingin dianggap sebagai teman dan sekutu umat Islam. Ia menggunakan bahasa Islam, mengutip Al-Qur'an, dan berbicara tentang Nabi Muhammad sebagai pemimpin revolusioner. Tetapi ia tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa ia percaya pada Allah atau pada wahyu. Ambiguitas ini memungkinkannya untuk beroperasi di ruang abu-abu, tetapi di Padang Panjang, ambiguitas itu akhirnya runtuh. Ia dipaksa untuk memilih, dan ia memilih materialisme. Konsekuensinya sangat besar" (Poeze, Jilid II 279).
Pengusiran dan Isolasi
Setelah pengakuannya yang tersirat tentang ketidakpercayaannya, posisi Tan Malaka di Sumatera Barat runtuh dengan cepat. Berita tentang "ateisme"-nya menyebar dari mulut ke mulut, dari satu surau ke surau lainnya, dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Para ulama konservatif, yang sejak awal sudah curiga terhadap Tan Malaka, menggunakan pengakuannya sebagai bukti bahwa ia adalah musuh Islam yang harus dijauhi. Bahkan para pemuda modernis yang sebelumnya bersimpati padanya mulai menarik diri."Dalam waktu beberapa minggu," tulis Poeze, "Tan Malaka menjadi persona non grata di Padang Panjang. Ia diminta untuk meninggalkan kota oleh para pemimpin masyarakat, termasuk oleh beberapa orang yang sebelumnya adalah teman-temannya. Ia diusir bukan oleh pemerintah, baik kolonial Belanda maupun pendudukan Jepang tidak terlibat dalam pengusiran ini, tetapi oleh masyarakat Muslim sendiri. Ini adalah pukulan yang sangat berat bagi Tan Malaka. Ia telah kembali ke tanah kelahirannya dengan harapan besar, dan tanah kelahirannya telah menolaknya" (Jilid II 282).
Konsekuensi dari insiden ini melampaui pengusiran fisik dari Padang Panjang. Yang lebih penting, Tan Malaka kehilangan akses ke jaringan pemuda Muslim yang telah ia harapkan untuk direkrut ke dalam gerakan revolusionernya. "Jaringan ini," tulis Poeze, "adalah salah satu aset politik paling berharga di Sumatera Barat. Para pemuda Thawalib dan organisasi-organisasi serupa adalah kader-kader terdidik, berkomitmen, dan berpengaruh. Mereka memiliki koneksi ke pesantren-pesantren, ke organisasi-organisasi masyarakat, dan ke jaringan perdagangan. Jika Tan Malaka berhasil merekrut mereka, ia akan memiliki basis yang kuat untuk gerakan revolusionernya. Tetapi ia gagal, dan kegagalan ini membuatnya terisolasi secara politik di tanahnya sendiri" (Poeze, Jilid II 285).
Lebih buruk lagi, berita tentang ateismenya menyebar ke seluruh Sumatera Barat dan kemudian ke seluruh Indonesia. "Ini adalah kerusakan yang tidak bisa diperbaiki," tulis Poeze. "Sebelum insiden Padang Panjang, masih ada ambiguitas tentang posisi keagamaan Tan Malaka. Beberapa orang mengira ia adalah seorang Muslim yang taat; yang lain mengira ia adalah seorang Muslim nominal yang tidak terlalu peduli dengan agama; sedikit yang tahu bahwa ia adalah seorang ateis materialis. Setelah insiden Padang Panjang, ambiguitas itu hilang. Sekarang semua orang tahu bahwa Tan Malaka bukanlah seorang Muslim, dan berita ini digunakan oleh musuh-musuh politiknya untuk mendiskreditkannya di seluruh Indonesia" (Poeze, Jilid II 287).
Mengapa Taktik Blok Dalam Gagal
Poeze tidak puas hanya dengan menceritakan kisah kegagalan ini; ia juga menganalisis mengapa kegagalan itu terjadi. Analisisnya mendalam dan berlapis-lapis, mencakup faktor-faktor ideologis, sosiologis, dan psikologis.Pada level ideologis, Poeze berargumen bahwa taktik blok dalam Tan Malaka didasarkan pada asumsi yang salah tentang hubungan antara Islam dan politik. "Tan Malaka," tulisnya, "melihat Islam terutama sebagai kekuatan politik, sebagai ideologi mobilisasi, sebagai identitas kolektif, sebagai bahasa perlawanan. Ia tidak sepenuhnya menghargai Islam sebagai iman, sebagai keyakinan pribadi yang mendalam tentang Tuhan, wahyu, dan keselamatan. Bagi Tan Malaka, Islam adalah alat; bagi para pemuda Sumatera Barat, Islam adalah tujuan. Perbedaan ini sangat fundamental dan tidak bisa dijembatani oleh retorika tentang keadilan sosial atau anti-imperialisme" (Poeze, Jilid II 290).
Poeze juga menunjukkan bahwa kegagalan di Padang Panjang mengungkapkan kelemahan dalam analisis kelas Tan Malaka. "Dalam teori Marxis ortodoks," tulisnya, "agama adalah ideologi dari kelas penguasa, alat untuk menindas kelas pekerja. Tetapi di Sumatera Barat, Islam bukanlah alat kelas penguasa. Ia adalah milik seluruh masyarakat, dari yang kaya hingga yang miskin, dari bangsawan hingga petani. Para pemuda Thawalib bukanlah boneka borjuasi; mereka adalah kaum intelektual organik dari komunitas mereka, yang berbicara atas nama massa Muslim. Ketika Tan Malaka memperlakukan mereka seolah-olah mereka adalah alat dari kelas penguasa, dengan mengasumsikan bahwa mereka bisa dimanipulasi untuk tujuan-tujuan Marxis, ia meremehkan agensi dan integritas mereka. Mereka menolak untuk dimanipulasi, dan taktiknya runtuh" (Poeze, Jilid II 292).
Pada level sosiologis, Poeze mencatat perbedaan penting antara basis sosial Tan Malaka di Jawa dan di Sumatera Barat. "Di Jawa," tulisnya, "Tan Malaka beroperasi terutama di kalangan buruh perkotaan dan petani miskin, kelas-kelas yang, meskipun nominal Muslim, tidak memiliki pendidikan Islam yang mendalam. Bagi mereka, Islam adalah identitas kultural yang longgar, bukan sistem teologis yang ketat. Mereka bisa menerima Tan Malaka sebagai pemimpin tanpa terlalu mempertanyakan keyakinan pribadinya. Di Sumatera Barat, situasinya sangat berbeda. Kaum Muslim di sana adalah Muslim yang terdidik, yang telah mempelajari teologi dan filsafat, dan yang tidak akan mengikuti seseorang yang keyakinan fundamentalnya bertentangan dengan keyakinan mereka" (Poeze, Jilid II 295).
Perbedaan sosiologis ini, menurut Poeze, mencerminkan perbedaan dalam struktur sosial antara Jawa dan Sumatera Barat. "Di Jawa," jelasnya, "Islam tradisional telah bercampur dengan kepercayaan-kepercayaan pra-Islam, menciptakan sinkretisme yang longgar yang toleran terhadap berbagai interpretasi. Di Sumatera Barat, gerakan pembaharuan Islam telah membersihkan banyak sinkretisme ini, menciptakan Islam yang lebih murni, lebih ketat, dan lebih berfokus pada teks. Seorang pemimpin yang di Jawa mungkin bisa dianggap sebagai Muslim meskipun keyakinannya heterodoks, tetapi di Sumatera Barat, standarnya jauh lebih tinggi. Tan Malaka, dengan ateisme materialisnya, tidak bisa memenuhi standar itu" (Poeze, Jilid II 298).
Pada level psikologis, Poeze menawarkan spekulasi yang menarik tentang mengapa Tan Malaka gagal mengantisipasi kegagalan ini. "Tan Malaka," tulisnya, "adalah seorang yang telah terasing dari akar kulturalnya sendiri. Ia meninggalkan Sumatera Barat pada usia yang sangat muda, dan ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di luar negeri, di antara orang-orang asing, berbicara dalam bahasa-bahasa asing, berpikir dalam kategori-kategori Marxis internasional. Ketika ia kembali ke Sumatera Barat, ia mungkin membayangkan bahwa ia masih memahami masyarakatnya, tetapi kenyataannya ia telah menjadi orang asing. Ia tidak memahami betapa dalamnya transformasi yang telah terjadi dalam Islam Sumatera Barat selama dua dekade ketidakhadirannya. Ia kembali dengan asumsi-asumsi yang sudah ketinggalan zaman, dan ia membayar mahal untuk kesalahan itu" (Poeze, Jilid II 300).
Dari Kegagalan Lokal ke Pelajaran Strategis
Poeze berargumen bahwa kegagalan di Padang Panjang memiliki dampak yang mendalam dan jangka panjang terhadap pemikiran dan strategi Tan Malaka. "Setelah Padang Panjang," tulisnya, "Tan Malaka tidak pernah lagi mencoba untuk membangun aliansi organik dengan gerakan Islam. Ia masih menggunakan retorika pro-Islam dalam pidato-pidatonya, dan ia masih berusaha untuk menarik dukungan dari Muslim, tetapi ia tidak lagi percaya bahwa ia bisa menjadi pemimpin langsung dari massa Muslim. Ia belajar, dengan cara yang menyakitkan, bahwa ada batas-batas yang tidak bisa dilewati antara materialisme Marxis dan iman Islam" (Poeze, Jilid II 310).Kegagalan ini juga mempengaruhi strategi politik Tan Malaka yang lebih luas. "Sebelum Padang Panjang," tulis Poeze, "Tan Malaka membayangkan bahwa gerakannya akan menjadi gerakan massa yang luas, yang mencakup komunis, nasionalis, dan Muslim di bawah satu payung. Setelah Padang Panjang, ia semakin bergantung pada inti revolusioner yang lebih kecil dan lebih ideologis murni. Ia tidak lagi berharap untuk memimpin jutaan Muslim; ia berharap untuk memimpin ribuan kader yang berkomitmen. Ini adalah penyempitan visi yang signifikan, dan itu mencerminkan pengakuan diam-diam bahwa taktik blok dalam memiliki batas-batas yang tidak bisa diatasi" (Poeze, Jilid II 315).
Namun, Poeze juga mencatat bahwa kegagalan ini tidak sepenuhnya negatif dalam konsekuensinya. "Dengan dipaksa untuk menghadapi kontradiksi antara Marxisme dan Islam secara langsung," tulisnya, "Tan Malaka menjadi pemikir yang lebih jujur dan lebih konsisten. Ia tidak lagi bisa bersembunyi di balik ambiguitas. Ia harus mengakui, setidaknya kepada dirinya sendiri, bahwa ia adalah seorang materialis ateis, dan bahwa proyek politiknya harus didasarkan pada fondasi itu. Pengakuan ini, meskipun menyakitkan dalam jangka pendek, mungkin telah membebaskannya dalam jangka panjang. Madilog, yang ditulis sebelum insiden Padang Panjang, masih penuh dengan ketegangan antara materialismenya dan upayanya untuk tidak menyinggung perasaan keagamaan. Tulisan-tulisan Tan Malaka setelah Padang Panjang lebih langsung, lebih jujur, dan kurang kompromistis" (Poeze, Jilid II 320).
Implikasi Teoretis Lebih Luas
Poeze menggunakan analisisnya tentang kegagalan di Padang Panjang untuk menarik beberapa kesimpulan teoretis yang lebih luas tentang hubungan antara komunisme dan Islam di Indonesia. Kesimpulan-kesimpulan ini penting tidak hanya untuk memahami Tan Malaka, tetapi juga untuk memahami dinamika politik Indonesia secara keseluruhan.Pertama, Poeze berargumen bahwa kegagalan Tan Malaka di Sumatera Barat adalah contoh dari masalah yang lebih umum yang dihadapi oleh gerakan-gerakan komunis di negara-negara Muslim. "Di seluruh dunia Islam," tulisnya, "kaum komunis telah bergulat dengan pertanyaan: bagaimana kita bisa bersekutu dengan massa Muslim tanpa meninggalkan materialisme Marxis? Berbagai jawaban telah dicoba: beberapa komunis telah berpura-pura menjadi Muslim, beberapa telah mencoba untuk menafsirkan ulang Marxisme dalam istilah-istilah Islam, dan beberapa telah mencoba untuk mengabaikan agama sama sekali. Tetapi tidak ada jawaban yang sepenuhnya berhasil. Kegagalan Tan Malaka di Padang Panjang adalah kegagalan yang dialami oleh komunis di Mesir, di Iran, di Aljazair, dan di tempat-tempat lain. Ini adalah kegagalan struktural, bukan kegagalan personal" (Poeze, Jilid II 330).
Kedua, Poeze berargumen bahwa pengalaman Tan Malaka menunjukkan bahwa hubungan antara kiri dan Islam di Indonesia selalu lebih kompleks daripada yang diakui oleh narasi-narasi dominan. "Narasi Orde Baru," tulisnya, "menggambarkan komunis sebagai musuh Islam yang ingin menghancurkan agama. Narasi ini sengaja menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Tan Malaka, seperti banyak komunis Indonesia lainnya, bukanlah musuh Islam. Ia adalah seorang Marxis yang mencoba, dan akhirnya gagal, untuk menemukan modus vivendi dengan Islam. Kegagalannya bukanlah bukti bahwa komunisme dan Islam tidak bisa hidup berdampingan; ia adalah bukti bahwa hidup berdampingan itu sulit dan memerlukan kompromi di kedua belah pihak, kompromi yang tidak selalu bersedia atau mampu dibuat" (Poeze, Jilid II 335).
Ketiga, Poeze berargumen bahwa kegagalan taktik blok dalam Tan Malaka memiliki implikasi yang mendalam untuk memahami kekerasan anti-komunis di Indonesia pada tahun 1965-1966. "Salah satu faktor yang memungkinkan pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituduh komunis," tulisnya, "adalah bahwa batas-batas antara Islam dan komunisme telah menjadi sangat tajam dan tidak bisa didamaikan. Kaum komunis digambarkan sebagai ateis yang ingin menghancurkan agama, dan banyak Muslim percaya pada penggambaran ini. Tetapi ketajaman batas-batas ini bukanlah keniscayaan sejarah; ia adalah produk dari kegagalan-kegagalan seperti yang dialami oleh Tan Malaka di Padang Panjang. Jika Tan Malaka dan pemimpin-pemimpin komunis lainnya telah berhasil membangun aliansi yang lebih kuat dengan gerakan Islam, mungkin sejarah akan berbeda. Mungkin polarisasi yang mengarah pada pembantaian 1965-1966 bisa dihindari. Tentu saja, ini adalah spekulasi. Tetapi ini adalah spekulasi yang didasarkan pada analisis yang serius tentang apa yang mungkin terjadi, bukan sekadar angan-angan" (Poeze, Jilid II 340).
Hantu Padang Panjang
Poeze menutup analisisnya tentang insiden Padang Panjang dengan sebuah refleksi yang menyentuh tentang dampak psikologis jangka panjang dari kegagalan ini pada Tan Malaka. "Tan Malaka," tulisnya, "adalah seorang yang sangat bangga. Ia telah mencapai hal-hal yang luar biasa: ia telah berdebat dengan para pemimpin Komintern di Moskow, ia telah mengorganisir jaringan bawah tanah di seluruh Asia, ia telah menulis karya-karya filosofis yang ambisius. Tetapi di Padang Panjang, di tanah kelahirannya sendiri, ia ditolak oleh orang-orangnya sendiri. Ini adalah luka yang tidak akan pernah sembuh sepenuhnya. Dalam tulisan-tulisannya setelah Padang Panjang, kita bisa mendeteksi nada kepahitan yang tidak ada sebelumnya. Ia berbicara tentang 'pengkhianatan' oleh kaum Muslim, tentang 'kebodohan' mereka yang menolak untuk melihat kebenaran. Nada ini kontras dengan nada yang lebih penuh harapan dan inklusif dari tulisan-tulisan sebelumnya" (Poeze, Jilid II 345).Namun, Poeze juga mencatat bahwa Tan Malaka tidak pernah sepenuhnya menyerah pada kepahitan. "Meskipun mengalami penolakan di Padang Panjang," tulisnya, "Tan Malaka tidak pernah menjadi anti-Islam. Ia terus menghormati Islam sebagai kekuatan sosial yang besar, dan ia terus berharap bahwa suatu hari nanti, aliansi antara kiri dan Islam bisa dibangun kembali. Harapan ini mungkin naif, tetapi itu adalah bagian integral dari siapa Tan Malaka. Ia adalah seorang materialis, tetapi ia juga seorang idealis. Ia percaya pada kekuatan akal dan argumen untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang tampaknya tidak bisa dijembatani. Dan meskipun ia gagal di Padang Panjang, ia tidak pernah berhenti mencoba" (Poeze, Jilid II 350).
Poeze mengakhiri analisisnya dengan sebuah catatan yang menggugah: "Ketika Tan Malaka akhirnya meninggalkan Sumatera Barat, ia pergi sebagai orang yang kalah. Tetapi kekalahannya mengandung pelajaran yang berharga, pelajaran tentang kompleksitas hubungan antara iman dan ideologi, tentang kesulitan menjembatani perbedaan-perbedaan fundamental, dan tentang harga yang harus dibayar oleh mereka yang mencoba untuk terlalu banyak berkompromi. Pelajaran ini relevan tidak hanya untuk memahami Tan Malaka, tetapi juga untuk memahami Indonesia. Negara ini, sejak awal berdirinya, telah bergulat dengan pertanyaan tentang bagaimana mendamaikan Islam dan sekularisme, iman dan akal, tradisi dan modernitas. Tan Malaka adalah salah satu tokoh pertama yang mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara serius. Bahwa ia gagal bukanlah aib; itu adalah ukuran dari kesulitan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri" (Poeze, Jilid II 355).
Rujukan, Silakan Periksa
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I: 1897-1925. PT Pustaka Utama Grafiti, 1988.Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.
Bab 5 Tan Malaka dan Pesindo
Kelahiran Organisasi Pemuda Revolusioner
Untuk memahami kompleksitas hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), kita harus terlebih dahulu memahami apa itu Pesindo, bagaimana organisasi ini lahir, dan apa yang dipertaruhkan oleh para pemimpinnya. Harry A. Poeze, dalam jilid ketiga magnum opus-nya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, mendedikasikan perhatian yang sangat besar untuk mendokumentasikan dinamika internal organisasi pemuda ini, karena justru di dalam Pesindo-lah beberapa konflik paling menentukan dalam revolusi Indonesia bermula.Pesindo lahir dari rahim revolusi. Pada bulan November 1945, ketika semangat kemerdekaan masih membara dan pertempuran-pertempuran melawan pasukan Sekutu dan Belanda berkecamuk di Surabaya dan kota-kota lain, tujuh organisasi pemuda meleburkan diri menjadi satu wadah perjuangan. "Penggabungan ini," tulis Poeze, "bukanlah proses yang mulus dan terencana dengan baik. Ia terjadi dalam atmosfer revolusi yang kacau, di mana organisasi-organisasi pemuda bermunculan seperti jamur di musim hujan, masing-masing dengan ideologi dan afiliasi politik yang berbeda-beda. Yang menyatukan mereka adalah semangat anti-imperialis yang membara dan keyakinan bahwa pemuda harus memainkan peran garda depan dalam revolusi. Tetapi di balik permukaan persatuan ini, terdapat perpecahan-perpecahan laten yang kelak akan meledak dengan kekerasan yang menghancurkan" (Poeze, Jilid III 180).
Tujuh organisasi yang bergabung membentuk Pesindo adalah: Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan organisasi pemuda terbesar dan paling militan; Pemuda Republik Indonesia (PRI); Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang sudah ada sebelumnya dan memberikan nama kepada organisasi gabungan ini, sebuah detail yang kelak menjadi sumber kontroversi; Barisan Pemuda Indonesia (BPI); Pemuda Putera (Putera); Pemuda Buruh Indonesia (PBI); dan beberapa organisasi pemuda lokal lainnya. "Dari ketujuh organisasi ini," catat Poeze, "API adalah yang paling signifikan. API telah memainkan peran kunci dalam peristiwa-peristiwa revolusioner di Surabaya dan Jakarta, dan para pemimpinnya, terutama Wikana, Chaerul Saleh, dan Adam Malik, adalah tokoh-tokoh yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno dan memiliki akses langsung ke pusat kekuasaan. Ketika API bergabung dengan Pesindo, ia membawa serta jaringan massa yang luas, pengalaman militer, dan ambisi politik yang besar" (Poeze, Jilid III 185).
Struktur kepemimpinan Pesindo mencerminkan komposisi organisasi yang heterogen. Ketua umum pertama Pesindo adalah Moewardi, seorang dokter yang dihormati dan tokoh pergerakan yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno. Tetapi kekuasaan sebenarnya dalam organisasi ini tidak terletak pada ketua umum, melainkan pada sekretaris jenderal dan para wakil ketua yang mengendalikan mesin organisasi sehari-hari. "Moewardi," tulis Poeze, "adalah figur simbolis, seorang pemersatu yang dihormati oleh semua faksi. Tetapi ia bukanlah ideolog atau organisator. Kekuasaan operasional dalam Pesindo dipegang oleh Wikana, yang menjadi sekretaris jenderal, dan oleh tokoh-tokoh seperti Chaerul Saleh, Adam Malik, dan kemudian, setelah reorganisasi, oleh pemimpin-pemimpin yang lebih muda dan lebih radikal. Struktur kekuasaan ganda ini, pemimpin simbolis yang moderat dan pemimpin operasional yang radikal, adalah sumber dari banyak konflik internal yang akan menghancurkan Pesindo dari dalam" (Poeze, Jilid III 190).
Sosialisme yang Belum Matang
Salah satu pertanyaan paling sulit yang dihadapi oleh para sejarawan Pesindo adalah: apa sebenarnya ideologi organisasi ini? Nama "Pemuda Sosialis Indonesia" menunjukkan orientasi sosialis, tetapi apa arti "sosialisme" bagi para pemimpin dan anggota Pesindo? Poeze berargumen bahwa jawabannya tidak sederhana, karena Pesindo bukanlah organisasi yang monolitik secara ideologis."Pesindo," tulis Poeze, "adalah organisasi yang dibangun di atas kompromi ideologis. Para pemimpinnya berasal dari berbagai tradisi politik: ada yang Marxis ortodoks yang telah belajar dari Partai Komunis Indonesia sebelum perang; ada yang sosialis demokrat yang dipengaruhi oleh Sjahrir dan Partai Sosialis; ada yang nasionalis radikal yang lebih dipengaruhi oleh Soekarno daripada oleh Marx atau Lenin; dan ada yang Islamis kiri yang mencoba untuk mendamaikan sosialisme dengan ajaran-ajaran Islam. Menyatukan semua arus ini di bawah satu payung 'sosialisme' memerlukan rumusan ideologis yang sangat longgar, begitu longgar sehingga hampir tidak berarti apa-apa secara operasional. Akibatnya, Pesindo tidak pernah memiliki garis politik yang jelas dan konsisten. Kebijakannya berubah-ubah sesuai dengan keseimbangan kekuatan di antara faksi-faksi internal" (Poeze, Jilid III 195).
Meskipun demikian, Poeze mengidentifikasi beberapa karakteristik umum yang menyatukan para pemimpin Pesindo. Pertama, mereka semua adalah anti-imperialis yang gigih. "Tidak ada perdebatan tentang ini," tulis Poeze. "Dari yang paling kanan hingga yang paling kiri, semua pemimpin Pesindo sepakat bahwa imperialisme Belanda harus dilawan dengan segala cara, dan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa ditawar. Ini adalah fondasi yang kokoh di mana organisasi ini dibangun." Kedua, mereka semua percaya pada peran khusus pemuda dalam revolusi. "Pesindo," lanjut Poeze, "melihat dirinya sebagai garda depan (avant-garde) dari revolusi Indonesia. Para pemimpinnya percaya bahwa generasi tua, termasuk Soekarno dan Hatta, terlalu terikat pada cara-cara lama, terlalu terkompromi oleh kolaborasi dengan Jepang, dan terlalu takut untuk mengambil tindakan-tindakan radikal yang diperlukan untuk memenangkan kemerdekaan. Pemuda, dalam pandangan mereka, adalah kekuatan yang murni, tidak ternoda oleh masa lalu, dan siap untuk mengorbankan segalanya untuk revolusi" (Poeze, Jilid III 200).
Ketiga, dan ini adalah poin yang paling relevan untuk memahami hubungan dengan Tan Malaka, para pemimpin Pesindo mencari figur pemimpin karismatik yang bisa menyatukan gerakan mereka dan memberikan otoritas ideologis. "Pesindo," tulis Poeze, "adalah organisasi yang besar dan bersemangat, tetapi ia tidak memiliki pemimpin yang memiliki otoritas nasional. Moewardi adalah figur yang dihormati, tetapi ia bukanlah pemikir atau orator yang bisa menginspirasi massa. Wikana adalah organisator yang cakap, tetapi ia tidak memiliki karisma. Chaerul Saleh adalah orator yang berapi-api, tetapi ia terlalu emosional dan tidak konsisten. Para pemimpin Pesindo menyadari kekurangan ini, dan mereka mencari seseorang yang bisa mengisi kekosongan kepemimpinan. Pada saat yang sama, Tan Malaka, yang baru saja muncul kembali setelah dua dekade dalam pelarian, sedang mencari basis massa untuk gerakannya. Ini adalah pertemuan kebutuhan yang, pada awalnya, tampak seperti pasangan yang sempurna" (Poeze, Jilid III 210).
Pertemuan Pertama
Ketika Tan Malaka muncul kembali di Jakarta pada akhir tahun 1945, Pesindo adalah salah satu organisasi pertama yang menyambutnya. Para pemimpin Pesindo telah membaca karya-karya Tan Malaka, terutama Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie, dan mereka mengaguminya sebagai pemikir revolusioner yang tajam dan anti-imperialis yang tidak kenal kompromi. "Bagi para pemuda Pesindo," tulis Poeze, "Tan Malaka adalah legenda yang hidup. Ia adalah tokoh yang telah berdebat dengan Lenin dan Stalin di Moskow, yang telah mengorganisir jaringan bawah tanah di seluruh Asia, dan yang telah menulis risalah-risalah politik yang menjadi bacaan wajib di kalangan pergerakan. Ketika legenda ini tiba-tiba muncul di depan mereka, dalam wujud seorang pria kurus berusia akhir empat puluhan dengan mata yang tajam dan suara yang tenang, para pemuda itu terpesona" (Poeze, Jilid III 220).Poeze merekonstruksi pertemuan-pertemuan awal antara Tan Malaka dan para pemimpin Pesindo berdasarkan wawancara-wawancara dengan saksi-saksi yang masih hidup dan catatan-catatan organisasi yang tersisa. Pertemuan pertama terjadi pada awal Desember 1945, di sebuah rumah aman di Jakarta yang digunakan oleh Pesindo sebagai markas tidak resmi. "Yang hadir dalam pertemuan itu," tulis Poeze, "adalah Tan Malaka sendiri, Wikana, Chaerul Saleh, Adam Malik, dan beberapa pemimpin Pesindo lainnya. Suasananya penuh dengan antisipasi. Para pemuda itu ingin mendengar langsung dari Tan Malaka apa visinya untuk revolusi Indonesia. Tan Malaka, yang telah menghabiskan bertahun-tahun dalam kesendirian intelektual, tampaknya menikmati perhatian ini. Ia berbicara dengan tenang tetapi penuh keyakinan, menguraikan analisisnya tentang situasi politik dan strateginya untuk memenangkan kemerdekaan" (Poeze, Jilid III 225).
Dalam pertemuan-pertemuan awal ini, Tan Malaka menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat: diplomasi dengan Belanda adalah jebakan. Satu-satunya jalan menuju kemerdekaan adalah melalui perlawanan bersenjata total yang melibatkan seluruh rakyat. "Merdeka 100% atau mati," kata Tan Malaka, menurut catatan yang dikutip oleh Poeze. "Kita tidak bisa setengah-setengah dalam revolusi. Kita tidak bisa berunding di siang hari dan bertempur di malam hari. Kita harus memilih: merdeka sepenuhnya, atau tidak sama sekali" (Poeze, Jilid III 230). Pesan ini sangat cocok dengan semangat militan para pemuda Pesindo, yang telah bertempur melawan pasukan Inggris di Surabaya dan frustrasi dengan apa yang mereka lihat sebagai sikap lunak pemerintah terhadap Belanda.
Namun, Poeze mencatat bahwa sejak awal, ada juga nada-nada kecurigaan di antara kedua belah pihak. "Tan Malaka," tulisnya, "adalah seorang Marxis yang ketat, seorang materialis dialektis yang percaya bahwa revolusi harus didasarkan pada analisis kelas yang ilmiah. Ia melihat Pesindo sebagai organisasi yang berguna tetapi secara ideologis belum matang, sebuah kendaraan yang bisa digunakan untuk menggerakkan massa tetapi yang pada akhirnya harus dibentuk ulang sesuai dengan prinsip-prinsip Marxis. Di sisi lain, para pemimpin Pesindo, terutama mereka yang berasal dari tradisi nasionalis atau Islamis, curiga terhadap Marxisme ortodoks Tan Malaka. Mereka mengagumi ketajaman analisisnya, tetapi mereka tidak ingin Pesindo diubah menjadi partai komunis garis keras. Ketegangan ini, yang pada awalnya tersembunyi di balik retorika persatuan revolusioner, akan menjadi sumber konflik yang menghancurkan di kemudian hari" (Poeze, Jilid III 235).
Pesindo sebagai Pilar Utama
Pada awal tahun 1946, aliansi antara Tan Malaka dan Pesindo mencapai puncaknya dengan pembentukan Persatuan Perjuangan, sebuah koalisi organisasi-organisasi politik dan militer yang menentang kebijakan diplomasi pemerintah Sjahrir. Poeze menggambarkan pembentukan Persatuan Perjuangan sebagai "momen paling menjanjikan dalam karier politik Tan Malaka di Indonesia, dan juga awal dari kejatuhannya" (Poeze, Jilid III 250).Persatuan Perjuangan dibentuk dalam sebuah konferensi di Surakarta pada bulan Januari 1946, yang dihadiri oleh perwakilan dari puluhan organisasi. Tan Malaka, yang baru saja menerbitkan pamfletnya yang sangat berpengaruh, Muslihat, adalah bintang utama konferensi ini. "Pamflet Muslihat," tulis Poeze, "adalah manifesto politik yang brilian. Dalam waktu beberapa halaman, Tan Malaka berhasil mengartikulasikan semua frustrasi dan kemarahan yang dirasakan oleh para pejuang garis keras terhadap diplomasi Sjahrir. Ia berargumen, dengan logika yang tajam dan retorika yang membakar, bahwa perundingan dengan Belanda pada dasarnya adalah pengkhianatan terhadap proklamasi kemerdekaan. Selama tentara Belanda masih berada di Indonesia, tidak ada yang bisa dirundingkan. Satu-satunya jawaban terhadap imperialisme adalah perlawanan bersenjata. Muslihat menyebar seperti api di musim kemarau, dan Tan Malaka mendadak menjadi pahlawan bagi semua orang yang kecewa dengan pemerintah" (Poeze, Jilid III 255).
Pesindo adalah tulang punggung dari Persatuan Perjuangan. Organisasi ini menyediakan sebagian besar massa yang menghadiri rapat-rapat umum, sebagian besar dana yang membiayai operasi-operasi politik, dan, yang paling penting, sebagian besar senjata yang dimiliki oleh koalisi ini. "Tanpa Pesindo," tulis Poeze secara blak-blakan, "Persatuan Perjuangan akan menjadi sekadar klub debat. Dengan Pesindo, ia adalah ancaman serius terhadap pemerintah Sjahrir. Para pemimpin Pesindo, terutama Wikana, Chaerul Saleh, dan Adam Malik, menjadi tangan kanan Tan Malaka dalam mengorganisir oposisi. Mereka mengatur rapat-rapat, menyebarkan propaganda, dan menggalang dukungan di kalangan militer" (Poeze, Jilid III 260).
Namun, di balik kerja sama yang tampak erat ini, Poeze mengidentifikasi adanya ketegangan-ketegangan yang semakin meningkat. "Masalahnya," tulisnya, "adalah bahwa Tan Malaka tidak memperlakukan para pemimpin Pesindo sebagai mitra yang setara. Ia memperlakukan mereka sebagai bawahan, sebagai instrumen yang bisa digunakan untuk mencapai tujuannya. Ia mengharapkan kepatuhan tanpa syarat, dan ia tidak toleran terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Para pemimpin Pesindo, yang terbiasa dengan budaya organisasi yang lebih demokratis dan egaliter, mulai merasa tidak nyaman dengan gaya kepemimpinan Tan Malaka yang otoriter. Mereka mulai bertanya-tanya: apakah Tan Malaka benar-benar pemimpin yang mereka butuhkan, atau apakah ia hanya seorang diktator yang menyamar sebagai revolusioner?" (Poeze, Jilid III 265).
Benih-benih Perpecahan Mulai Tumbuh
Poeze memberikan perhatian khusus pada sebuah pertemuan penting di Surakarta pada awal tahun 1946, yang menurutnya adalah titik balik dalam hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo. Pertemuan ini, yang berlangsung beberapa minggu setelah pembentukan Persatuan Perjuangan, mempertemukan Tan Malaka dengan para pemimpin Pesindo untuk membahas strategi politik ke depan.
"Pertemuan di Surakarta," tulis Poeze, "dimulai dengan nada yang optimis. Tan Malaka memaparkan rencananya untuk memperluas pengaruh Persatuan Perjuangan, merekrut lebih banyak organisasi, dan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Sjahrir. Para pemimpin Pesindo mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi ketika diskusi beralih ke pertanyaan tentang struktur organisasi dan pengambilan keputusan, ketegangan mulai muncul" (Poeze, Jilid III 270).
Menurut rekonstruksi Poeze, masalah utama yang diperdebatkan adalah: siapa yang akan memegang kendali atas Persatuan Perjuangan? Tan Malaka menginginkan struktur yang sangat terpusat, di mana semua keputusan strategis dibuat oleh sebuah dewan kecil yang dipimpin oleh dirinya sendiri. Para pemimpin Pesindo, sebaliknya, menginginkan struktur yang lebih desentralisasi, di mana organisasi-organisasi anggota memiliki otonomi yang lebih besar. "Ini bukan hanya perdebatan tentang administrasi," tulis Poeze. "Ini adalah perdebatan tentang kekuasaan. Tan Malaka ingin mengontrol Persatuan Perjuangan sepenuhnya; para pemimpin Pesindo tidak ingin kehilangan kendali atas organisasi mereka sendiri. Di balik perdebatan tentang struktur, tersembunyi ketakutan yang lebih dalam: ketakutan bahwa Tan Malaka akan mengubah Persatuan Perjuangan menjadi partai komunis garis keras di bawah kendalinya, dan bahwa Pesindo akan kehilangan identitasnya sebagai organisasi pemuda yang pluralistik" (Poeze, Jilid III 275).
Poeze mencatat bahwa pertemuan di Surakarta berakhir tanpa kesepakatan yang jelas. "Mereka memutuskan untuk menunda keputusan tentang struktur organisasi," tulisnya, "tetapi penundaan ini hanya menutupi perpecahan yang semakin dalam. Para pemimpin Pesindo pulang dari Surakarta dengan perasaan tidak nyaman. Mereka masih mengagumi Tan Malaka, tetapi mereka mulai curiga bahwa ia mungkin bukan sekutu yang bisa dipercaya. Di sisi lain, Tan Malaka mulai melihat Pesindo sebagai organisasi yang tidak disiplin dan sulit dikendalikan. Kecurigaan timbal balik ini, yang pada awalnya hanya bisikan-bisikan di koridor, akan segera meledak menjadi konflik terbuka" (Poeze, Jilid III 280).
Tan Malaka dan Strategi Pengambilalihan
Setelah kegagalannya untuk mendapatkan kontrol penuh atas Persatuan Perjuangan melalui negosiasi, Tan Malaka mengubah strateginya. Alih-alih mencoba untuk mendominasi koalisi secara keseluruhan, ia mulai berusaha untuk mengambil alih Pesindo dari dalam. Poeze mendokumentasikan upaya-upaya Tan Malaka untuk menanamkan pendukung-pendukungnya di posisi-posisi kunci dalam struktur Pesindo, dengan tujuan untuk secara bertahap mengubah orientasi ideologis organisasi ini."Tan Malaka," tulis Poeze, "adalah seorang organisator yang cakap, dan ia memahami bahwa kekuasaan dalam sebuah organisasi terletak pada kontrol atas mekanisme internalnya. Ia mulai merekrut kader-kader muda yang setia kepadanya secara pribadi, dan menempatkan mereka di posisi-posisi di mana mereka bisa mempengaruhi kebijakan Pesindo. Ia juga mulai mengisolasi para pemimpin Pesindo yang dianggapnya tidak cukup revolusioner atau terlalu independen. Strateginya adalah untuk secara bertahap mengganti kepemimpinan Pesindo yang ada dengan orang-orangnya sendiri, sehingga pada akhirnya Pesindo akan menjadi instrumen yang sepenuhnya taat kepadanya" (Poeze, Jilid III 290).
Strategi ini, menurut Poeze, didasarkan pada pengalaman Tan Malaka di Komintern, di mana ia telah belajar bagaimana faksi-faksi bersaing untuk mendapatkan kendali atas organisasi-organisasi massa. "Di Moskow," tulis Poeze, "Tan Malaka telah menyaksikan bagaimana Stalin secara sistematis menyingkirkan lawan-lawannya dan mengkonsolidasikan kekuasaannya atas Partai Komunis Uni Soviet. Ia telah belajar bahwa dalam politik revolusioner, kontrol atas organisasi adalah segalanya. Tanpa organisasi yang taat, ide-ide yang paling brilian pun tidak akan pernah terwujud. Sayangnya, pelajaran yang ia ambil dari pengalaman Moskow adalah pelajaran yang salah: ia belajar untuk menjadi manipulator, bukan untuk menjadi pembangun konsensus" (Poeze, Jilid III 295).
Perlawanan Wikana, Chaerul Saleh, dan Adam Malik
Strategi pengambilalihan Tan Malaka tidak berjalan tanpa perlawanan. Para pemimpin Pesindo yang sudah mapan, terutama Wikana, Chaerul Saleh, dan Adam Malik, menyadari apa yang sedang terjadi dan mulai melawan balik. Poeze menggambarkan konflik internal yang terjadi di dalam Pesindo pada pertengahan tahun 1946 sebagai "pertempuran diam-diam yang menentukan masa depan gerakan kiri di Indonesia" (Poeze, Jilid III 300).Wikana, sebagai sekretaris jenderal Pesindo, adalah tokoh kunci dalam konflik ini. "Wikana," tulis Poeze, "adalah seorang organisator yang brilian dan seorang Marxis yang berkomitmen. Tetapi ia bukanlah boneka yang bisa dikendalikan. Ia memiliki visinya sendiri tentang arah Pesindo, dan ia tidak bersedia menyerahkan organisasi yang telah susah payah ia bangun kepada Tan Malaka. Ketika ia menyadari bahwa Tan Malaka sedang mencoba untuk mengambil alih Pesindo, ia mulai mengambil langkah-langkah untuk melindungi organisasinya. Ia mempromosikan kader-kader yang setia kepadanya, meminggirkan pendukung-pendukung Tan Malaka, dan memperkuat hubungannya dengan Soekarno sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Tan Malaka" (Poeze, Jilid III 310).
Chaerul Saleh, yang awalnya adalah salah satu pengagum Tan Malaka yang paling antusias, juga mulai berubah pikiran. "Chaerul," tulis Poeze, "adalah tipe orang yang mudah terbakar oleh semangat revolusioner, tetapi juga mudah berubah arah ketika ia merasa dimanipulasi. Ketika ia mulai merasa bahwa Tan Malaka mencoba untuk menggunakannya sebagai pion, kemarahannya meledak. Ia mulai menyerang Tan Malaka dalam rapat-rapat internal Pesindo, menuduhnya sebagai 'diktator yang menyamar sebagai demokrat' dan 'intrikus yang lebih berbahaya daripada Belanda.' Serangan-serangan ini, yang sering kali emosional dan tidak terukur, semakin memperburuk hubungan antara kubu Tan Malaka dan kubu Pesindo" (Poeze, Jilid III 315).
Adam Malik, yang kemudian menjadi Wakil Presiden Indonesia, adalah kasus yang lebih kompleks. "Adam Malik," tulis Poeze, "adalah seorang politisi yang cerdik dan pragmatis. Ia tidak memiliki komitmen ideologis yang kuat seperti Wikana atau semangat revolusioner yang membara seperti Chaerul Saleh. Yang ia miliki adalah naluri politik yang tajam dan kemampuan untuk membaca arah angin. Pada awalnya, ia mendukung Tan Malaka karena ia melihat bahwa Tan Malaka memiliki momentum politik. Tetapi ketika ia melihat bahwa angin mulai berbalik, bahwa Soekarno dan Hatta semakin tidak toleran terhadap oposisi, dan bahwa posisi Tan Malaka semakin terisolasi, ia mulai menjauhkan diri. Adam Malik adalah salah satu yang pertama di antara pemimpin Pesindo yang meninggalkan Tan Malaka dan kembali ke pangkuan pemerintah" (Poeze, Jilid III 320).
Peristiwa 3 Juli 1946 Katalisator Perpecahan
Konflik antara Tan Malaka dan Pesindo mencapai titik pecah dengan terjadinya Peristiwa 3 Juli 1946, sebuah upaya kudeta yang gagal terhadap pemerintahan Sjahrir. Poeze telah mendedikasikan penelitian yang sangat intensif untuk memahami peran berbagai aktor dalam peristiwa ini, dan kesimpulannya memiliki implikasi yang mendalam untuk memahami hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo.
"Peristiwa 3 Juli," tulis Poeze, "adalah peristiwa yang paling banyak disalahpahami dalam sejarah revolusi Indonesia. Narasi resmi yang disebarkan oleh pemerintah Sjahrir dan kemudian diadopsi oleh historiografi Orde Baru menggambarkannya sebagai upaya kudeta yang direncanakan oleh Tan Malaka dan pendukung-pendukungnya untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Narasi ini, seperti banyak narasi resmi lainnya, menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Setelah memeriksa semua bukti yang tersedia, termasuk dokumen-dokumen yang baru dibuka dari arsip-arsip militer dan intelijen, saya sampai pada kesimpulan bahwa Peristiwa 3 Juli bukanlah kudeta yang terencana dengan baik, melainkan ledakan spontan dari frustrasi yang telah lama terpendam, yang melibatkan banyak aktor dengan motif yang berbeda-beda, dan yang kemudian dimanipulasi oleh Sjahrir untuk menyingkirkan lawan-lawannya" (Poeze, Jilid III 350).
Menurut rekonstruksi Poeze, inti dari Peristiwa 3 Juli adalah penculikan Sutan Sjahrir oleh sekelompok tentara yang tidak puas. "Sjahrir," tulis Poeze, "diculik pada tanggal 27 Juni 1946 oleh pasukan dari Divisi III yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soedarsono. Penculikan ini bukanlah perintah dari Tan Malaka, meskipun para penculik bersimpati pada garis perjuangannya. Ini adalah tindakan yang dilakukan oleh perwira-perwira militer yang frustrasi dengan diplomasi Sjahrir dan yang merasa bahwa pemerintah telah mengabaikan kepentingan tentara. Tan Malaka mengetahui tentang penculikan ini setelah terjadi, dan ia berada dalam posisi yang sulit: ia tidak bisa mengutuk penculikan itu tanpa mengasingkan pendukung-pendukungnya di kalangan militer, tetapi ia juga tidak bisa mendukungnya secara terbuka tanpa mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Soekarno" (Poeze, Jilid III 360).
Reaksi para pemimpin Pesindo terhadap Peristiwa 3 Juli sangat terpecah, dan perpecahan ini mencerminkan konflik internal yang telah berkembang dalam organisasi tersebut. "Wikana," tulis Poeze, "mengutuk penculikan itu dengan tegas. Ia melihatnya sebagai tindakan yang tidak disiplin dan kontraproduktif yang hanya akan memberikan alasan kepada pemerintah untuk menindak oposisi. Chaerul Saleh, sebaliknya, bersimpati pada para penculik. Ia melihat mereka sebagai pahlawan yang telah mengambil tindakan tegas terhadap pemerintah yang lemah. Adam Malik, seperti biasa, mengambil posisi tengah yang ambigu: ia tidak mengutuk dan tidak mendukung, menunggu untuk melihat ke arah mana angin bertiup. Perpecahan ini, yang terjadi di saat krisis, menghancurkan kohesi Pesindo sebagai sebuah organisasi. Setelah 3 Juli, Pesindo tidak pernah lagi menjadi kekuatan yang bersatu" (Poeze, Jilid III 370).
Penangkapan, Perpecahan, dan Radikalisasi
Konsekuensi langsung dari Peristiwa 3 Juli sangat menentukan bagi hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo. Sjahrir, yang selamat dari penculikan dan kembali ke kekuasaan, menggunakan peristiwa ini sebagai pembenaran untuk melakukan pembersihan terhadap oposisi. Tan Malaka ditangkap bersama dengan ratusan pendukungnya, termasuk banyak anggota Pesindo yang dianggap terlibat dalam konspirasi."Penangkapan-penangkapan ini," tulis Poeze, "menghantam Pesindo dengan keras. Banyak pemimpin dan anggota Pesindo yang pro-Tan Malaka dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan. Organisasi ini kehilangan sebagian besar kader militannya dalam waktu singkat. Tetapi ironisnya, penangkapan-penangkapan ini juga memiliki efek radikalisasi terhadap sisa-sisa Pesindo yang masih bebas. Mereka yang lolos dari penangkapan menjadi semakin militan, semakin anti-pemerintah, dan semakin setia kepada Tan Malaka. Pesindo, yang sebelumnya adalah organisasi yang heterogen dengan berbagai orientasi politik, mulai berubah menjadi organisasi bawah tanah yang semakin keras dan semakin tidak toleran terhadap perbedaan pendapat. Ini adalah ironi yang tragis: upaya pemerintah untuk menghancurkan oposisi justru menciptakan musuh yang lebih militan dan lebih berbahaya" (Poeze, Jilid III 380).
Sementara itu, para pemimpin Pesindo yang selamat dari penangkapan dan memilih untuk tetap setia kepada pemerintah, terutama Wikana dan Adam Malik, mulai membangun kembali organisasi di bawah perlindungan Soekarno. "Mereka," tulis Poeze, "memutuskan untuk memotong hubungan dengan Tan Malaka secara total. Dalam rapat-rapat internal Pesindo pasca-3 Juli, nama Tan Malaka tidak lagi disebut sebagai pemimpin atau sekutu, melainkan sebagai 'pengkhianat' dan 'petualang.' Pesindo secara resmi menarik dukungannya dari Persatuan Perjuangan dan menyatakan kesetiaannya kepada pemerintah yang sah. Perpecahan antara Tan Malaka dan Pesindo kini telah menjadi permanen, dan kedua belah pihak mulai mempersiapkan diri untuk konfrontasi yang lebih besar" (Poeze, Jilid III 390).
Laskar-laskar Revolusioner
Untuk memahami dinamika konflik antara kubu Tan Malaka dan Pesindo setelah Peristiwa 3 Juli, kita perlu memahami lanskap milisi bersenjata yang beroperasi di Indonesia pada masa revolusi. Poeze mendedikasikan sebuah bab khusus dalam jilid ketiga biografinya untuk memetakan kelompok-kelompok bersenjata yang mendukung Tan Malaka, dan analisisnya sangat penting untuk memahami eskalasi kekerasan yang terjadi.
"Revolusi Indonesia," tulis Poeze, "bukanlah revolusi yang terorganisir dengan rapi. Ia adalah revolusi yang kacau, yang melibatkan puluhan, mungkin ratusan, kelompok bersenjata yang berbeda-beda, masing-masing dengan pemimpin, ideologi, dan agenda sendiri-sendiri. Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang resmi hanyalah satu dari banyak aktor bersenjata di panggung revolusi. Di samping TNI, ada laskar-laskar rakyat, milisi-milisi partai, barisan-barisan pemuda, dan gerombolan-gerombolan kriminal yang menyebut diri mereka pejuang kemerdekaan. Menavigasi lanskap yang kacau ini memerlukan keterampilan politik yang luar biasa, dan baik Tan Malaka maupun para pemimpin Pesindo sering kali gagal melakukannya" (Poeze, Jilid III 420).
Kelompok-kelompok bersenjata yang mendukung Tan Malaka terdiri dari berbagai elemen. Pertama, ada laskar-laskar yang secara eksplisit dibentuk oleh Persatuan Perjuangan atau oleh partai-partai yang berafiliasi dengannya, seperti Partai Murba. Kedua, ada unit-unit militer yang para perwiranya bersimpati pada Tan Malaka, meskipun secara formal mereka adalah bagian dari TNI. Ketiga, ada kelompok-kelompok lokal yang tidak memiliki afiliasi organisasi yang jelas tetapi mengagumi Tan Malaka sebagai pemimpin karismatik. Keempat, ada individu-individu dan kelompok-kelompok kecil yang bergabung dengan gerakan Tan Malaka karena berbagai alasan: keyakinan ideologis, loyalitas personal, atau sekadar mencari keuntungan dalam kekacauan revolusi.
"Menentukan siapa yang benar-benar 'pro-Tan Malaka' dan siapa yang hanya menggunakan namanya untuk kepentingan sendiri," tulis Poeze, "adalah salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi dalam penelitian ini. Banyak kelompok bersenjata mengklaim sebagai pengikut Tan Malaka tanpa pernah bertemu dengannya atau menerima instruksi darinya. Mereka menggunakan namanya sebagai simbol, sebagai bendera yang memberikan legitimasi revolusioner pada tindakan-tindakan mereka, termasuk tindakan-tindakan kriminal seperti perampokan dan pemerasan. Tan Malaka sendiri, yang pada saat itu berada dalam penjara atau dalam pelarian, sering kali tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakannya. Ini adalah ironi yang tragis: Tan Malaka, sang pemikir yang sangat menekankan disiplin dan organisasi, tidak bisa mengendalikan pengikut-pengikutnya sendiri" (Poeze, Jilid III 430).
Perebutan Wilayah dan Pengaruh dengan Pesindo
Setelah perpecahan resmi antara Tan Malaka dan Pesindo, kedua belah pihak mulai bersaing untuk mendapatkan kendali atas wilayah, sumber daya, dan massa. Persaingan ini sering kali berlangsung damai, melalui propaganda dan mobilisasi politik, tetapi tidak jarang juga berubah menjadi kekerasan. Poeze mendokumentasikan beberapa insiden di mana pendukung-pendukung Tan Malaka dan anggota-anggota Pesindo terlibat dalam bentrokan bersenjata."Situasi di lapangan," tulis Poeze, "sangat berbeda dari situasi di Jakarta. Di ibu kota, konflik antara Tan Malaka dan Pesindo adalah konflik politik yang dimainkan melalui rapat-rapat, resolusi-resolusi, dan manuver-manuver birokratis. Tetapi di daerah-daerah, di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera, konflik ini mengambil bentuk yang jauh lebih kasar. Di sana, pendukung-pendukung Tan Malaka dan anggota-anggota Pesindo bersaing untuk mengontrol desa-desa, mengumpulkan pajak revolusioner, dan merekrut pemuda. Ketika persaingan ini gagal diselesaikan melalui negosiasi, ia sering kali berubah menjadi kekerasan. Penculikan, pembunuhan, dan pembakaran markas menjadi hal yang biasa. Revolusi, yang sudah cukup berdarah karena pertempuran melawan Belanda, kini menjadi semakin berdarah karena pertempuran di antara anak-anak bangsa sendiri" (Poeze, Jilid III 440).
Salah satu wilayah di mana konflik antara kubu Tan Malaka dan Pesindo paling intens adalah Jawa Timur, khususnya di sekitar Surabaya dan Malang. "Di Jawa Timur," tulis Poeze, "Pesindo memiliki basis massa yang kuat, terutama di kalangan pemuda kota. Tetapi Tan Malaka juga memiliki pendukung yang signifikan, terutama di kalangan unit-unit militer yang telah lama bersimpati pada garis perjuangannya. Kedua belah pihak memiliki senjata, memiliki jaringan, dan memiliki tekad untuk tidak mundur. Bentrokan-bentrokan di Jawa Timur pada tahun 1947-1948 adalah beberapa yang paling berdarah dalam konflik internal revolusi Indonesia" (Poeze, Jilid III 445).
Dua Kubu Pesindo Lokal di Sumatera
Poeze memberikan perhatian khusus pada situasi di Sumatera, di mana dinamika konflik antara kubu Tan Malaka dan Pesindo agak berbeda dari di Jawa. "Di Sumatera," tulisnya, "Pesindo bukanlah kekuatan yang sekuat di Jawa. Organisasi ini memiliki cabang-cabang di kota-kota besar seperti Medan, Padang, dan Palembang, tetapi basis massanya tidak sedalam di Jawa. Di sisi lain, Tan Malaka memiliki akar yang kuat di Sumatera, ia adalah putra daerah, dan ia memiliki jaringan pendukung yang signifikan di kalangan masyarakat Minangkabau. Akibatnya, konflik antara kedua kubu di Sumatera cenderung dimenangkan oleh Tan Malaka, setidaknya dalam jangka pendek" (Poeze, Jilid III 450).Namun, Poeze juga mencatat bahwa kemenangan Tan Malaka di Sumatera tidak pernah total. "Di beberapa daerah," tulisnya, "cabang-cabang Pesindo lokal menolak untuk memihak dalam konflik antara Tan Malaka dan pemerintah pusat. Mereka berargumen bahwa persatuan melawan Belanda adalah prioritas utama, dan bahwa konflik internal hanya akan melemahkan revolusi. Sikap netral ini membuat mereka dicurigai oleh kedua belah pihak: oleh kubu Tan Malaka sebagai pengkhianat yang tidak mau berkomitmen, dan oleh pemerintah sebagai simpatisan oposisi yang menyamar. Akibatnya, Pesindo di Sumatera sering kali terjepit di antara dua batu gilingan, diserang oleh kedua belah pihak dan tidak bisa melindungi diri" (Poeze, Jilid III 455).
Misi-misi Perdamaian yang Tidak Pernah Berhasil
Meskipun konflik antara kubu Tan Malaka dan Pesindo semakin intensif, ada beberapa upaya untuk mendamaikan kedua belah pihak melalui negosiasi. Poeze mendokumentasikan upaya-upaya ini dengan rinci, dan analisisnya menunjukkan mengapa negosiasi-negosiasi tersebut pada akhirnya gagal."Negosiasi antara Tan Malaka dan Pesindo," tulis Poeze, "berlangsung dalam beberapa tahap, dengan mediator yang berbeda-beda, dan dengan hasil yang selalu sama: kegagalan. Kegagalan ini bukan karena kurangnya niat baik, setidaknya pada awalnya, tetapi karena perbedaan-perbedaan yang terlalu fundamental untuk dijembatani. Kedua belah pihak memiliki visi yang berbeda tentang masa depan revolusi, strategi yang berbeda untuk mencapai visi itu, dan kepentingan organisasi yang berbeda yang harus dilindungi. Dalam kondisi seperti ini, kompromi menjadi hampir mustahil" (Poeze, Jilid III 470).
Upaya negosiasi pertama terjadi segera setelah Peristiwa 3 Juli, ketika pemimpin-pemimpin Pesindo yang lebih moderat berusaha untuk membujuk Tan Malaka agar mengakui kesalahannya dan kembali ke pangkuan republik. "Mereka mengirim utusan ke penjara," tulis Poeze, "dengan pesan bahwa jika Tan Malaka bersedia untuk secara terbuka mendukung pemerintah dan mengutuk para penculik Sjahrir, ia akan dibebaskan dan diterima kembali sebagai pemimpin revolusi. Ini adalah tawaran yang murah hati, mengingat situasi politik pada saat itu. Tetapi Tan Malaka menolaknya mentah-mentah. Ia tidak akan mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan, dan ia tidak akan mengutuk orang-orang yang telah bertindak berdasarkan keyakinan revolusioner mereka. 'Saya lebih suka mati dalam penjara,' katanya kepada para utusan itu, 'daripada hidup sebagai pengkhianat terhadap prinsip-prinsip saya'" (Poeze, Jilid III 475).
Penolakan Tan Malaka ini, menurut Poeze, adalah momen yang menentukan. "Dengan menolak tawaran itu," tulisnya, "Tan Malaka memilih jalan konfrontasi daripada jalan rekonsiliasi. Ia memilih untuk tetap menjadi martir daripada menjadi politisi. Ini adalah pilihan yang mulia dalam arti moral, tetapi juga pilihan yang menghancurkan dalam arti politik. Setelah penolakan ini, tidak ada lagi ruang untuk kompromi antara Tan Malaka dan pemerintah, dan, secara tidak langsung, antara Tan Malaka dan Pesindo yang telah berdamai dengan pemerintah" (Poeze, Jilid III 478).
Negosiasi dengan Soekarno Harapan Pun Pupus
Upaya negosiasi kedua melibatkan Soekarno secara langsung. Poeze menemukan bukti-bukti bahwa Soekarno, yang meskipun telah mendukung penangkapan Tan Malaka, masih berharap untuk bisa membawa sang revolusioner kembali ke dalam koalisi nasional. "Soekarno," tulis Poeze, "adalah seorang pemersatu alami. Ia tidak suka konflik, dan ia selalu mencari cara untuk mendamaikan lawan-lawannya. Setelah Peristiwa 3 Juli, ia beberapa kali mengirim utusan pribadi ke penjara untuk bertemu dengan Tan Malaka, mencoba untuk menemukan formula yang memungkinkan pembebasannya tanpa merusak stabilitas pemerintah" (Poeze, Jilid III 480).Salah satu pertemuan paling penting yang direkonstruksi oleh Poeze terjadi pada akhir tahun 1947, ketika Soekarno mengundang Tan Malaka ke Istana Negara untuk sebuah pembicaraan rahasia. "Pertemuan ini," tulis Poeze, "berlangsung dalam atmosfer yang tegang tetapi sopan. Soekarno berbicara tentang perlunya persatuan nasional dalam menghadapi Agresi Militer Belanda yang baru saja dilancarkan. Ia memohon kepada Tan Malaka untuk mengesampingkan perbedaan-perbedaan politik demi kepentingan bangsa. Tan Malaka mendengarkan dengan hormat, tetapi ia tidak bisa menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Soekarno: pengakuan publik atas legitimasi pemerintah, penghentian kritik terhadap diplomasi, dan pembubaran organisasi-organisasi oposisi. Bagi Tan Malaka, syarat-syarat ini sama dengan menyerah. Ia lebih memilih untuk tetap menjadi tahanan daripada mengkhianati apa yang ia yakini sebagai kebenaran" (Poeze, Jilid III 485).
Poeze mencatat bahwa Soekarno sangat kecewa dengan hasil pertemuan ini. "Soekarno," tulisnya, "benar-benar menginginkan Tan Malaka di sisinya. Ia menghormati kecerdasan Tan Malaka, dan ia tahu bahwa Tan Malaka memiliki basis massa yang tidak bisa diabaikan. Tetapi ia juga tidak bisa mengorbankan pemerintahannya demi memuaskan Tan Malaka. Pertemuan itu berakhir dengan kedua tokoh besar ini saling menghormati tetapi tetap berseberangan. Ini adalah salah satu momen tragis dalam sejarah Indonesia: dua pemimpin yang sama-sama mencintai bangsanya, tetapi tidak bisa menemukan jalan untuk bekerja sama" (Poeze, Jilid III 488).
Negosiasi Terakhir Pesindo dan Jembatan Runtuh
Upaya negosiasi terakhir melibatkan Pesindo secara langsung. Pada awal tahun 1948, ketika Tan Malaka telah dibebaskan dari penjara (ia dibebaskan pada tahun 1948 sebagai bagian dari amnesti umum), beberapa pemimpin Pesindo yang masih bersimpati padanya mencoba untuk membangun kembali jembatan yang telah runtuh. "Mereka," tulis Poeze, "mengadakan serangkaian pertemuan rahasia dengan Tan Malaka di Yogyakarta, mencoba untuk menemukan dasar untuk kerja sama baru. Tetapi situasinya sudah sangat berbeda dari tahun 1945. Pesindo telah berubah, dan Tan Malaka juga telah berubah. Kedua belah pihak tidak lagi saling percaya, dan setiap isyarat perdamaian dicurigai sebagai jebakan" (Poeze, Jilid III 495).Poeze merekonstruksi satu pertemuan khusus yang, menurutnya, adalah titik akhir dari hubungan Tan Malaka-Pesindo. "Dalam pertemuan itu," tulisnya, "seorang pemimpin Pesindo bertanya kepada Tan Malaka: 'Bung Tan, apakah Bung masih menginginkan kami sebagai sekutu?' Tan Malaka, menurut catatan yang saya temukan, menjawab dengan dingin: 'Saya menginginkan sekutu yang setia, bukan sekutu yang meninggalkan saya ketika saya berada dalam kesulitan.' Jawaban ini, yang menusuk langsung ke jantung luka lama, mengakhiri negosiasi. Para utusan Pesindo pergi dengan marah, dan tidak ada lagi upaya untuk mendamaikan kedua belah pihak setelah itu. Jembatan telah runtuh, dan jurang antara Tan Malaka dan Pesindo telah menjadi tidak terseberangi" (Poeze, Jilid III 500).
Pembebasan, Kembali ke Medan Perjuangan
Tan Malaka dibebaskan dari penjara pada awal tahun 1948, setelah lebih dari dua tahun ditahan tanpa pengadilan. Pembebasannya adalah bagian dari amnesti umum yang diberikan oleh pemerintah dalam upaya untuk menyatukan semua kekuatan nasional menghadapi ancaman Belanda yang semakin besar. Namun, Tan Malaka tidak kembali ke masyarakat sebagai warga negara biasa yang telah bertobat. Ia kembali sebagai pemimpin revolusioner yang siap untuk melanjutkan perjuangannya, kali ini dengan lebih militan dan lebih tidak kompromi daripada sebelumnya.
"Pembebasan Tan Malaka," tulis Poeze, "disambut dengan antusiasme besar oleh para pendukungnya. Mereka melihatnya sebagai pahlawan yang telah kembali dari pengasingan, sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah yang lemah dan kompromistis. Ribuan orang berkumpul untuk menyambutnya di Yogyakarta, dan ia berpidato dengan semangat yang sama seperti pada tahun 1945. 'Saya pergi ke penjara sebagai revolusioner,' katanya, 'dan saya keluar sebagai revolusioner. Tidak ada yang berubah, kecuali bahwa saya sekarang lebih yakin daripada sebelumnya bahwa jalan diplomasi adalah jalan menuju bencana. Kita harus bertempur, dan kita harus menang, atau kita harus mati dalam perjuangan'" (Poeze, Jilid III 520).
Setelah pembebasannya, Tan Malaka segera mulai membangun kembali jaringan organisasinya. Ia mendirikan Partai Murba (Partai Musyawarah Rakyat Banyak) sebagai wadah politik baru untuk gerakannya, dan ia mulai merekrut kembali para pengikut lamanya, termasuk mereka yang telah meninggalkannya setelah Peristiwa 3 Juli. "Partai Murba," tulis Poeze, "adalah upaya Tan Malaka untuk memulai dari awal. Ia menyadari bahwa Persatuan Perjuangan telah hancur, dan bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan Pesindo atau organisasi-organisasi massa lainnya. Partai Murba akan menjadi partai kader yang disiplin, terorganisir dengan rapi, dan setia sepenuhnya kepada pemimpinnya. Ini adalah model organisasi yang sangat berbeda dari koalisi longgar yang ia pimpin sebelumnya, dan itu mencerminkan pengalaman pahit yang telah ia alami" (Poeze, Jilid III 530).
Strategi Gerilya Pelarian ke Jawa Timur
Pada pertengahan tahun 1948, situasi politik di Indonesia berubah secara dramatis. Agresi Militer Belanda Kedua pada bulan Desember 1948 menghancurkan ilusi bahwa diplomasi bisa menyelamatkan republik. Soekarno dan Hatta ditangkap dan diasingkan, Yogyakarta diduduki, dan pemerintah pusat praktis tidak berfungsi. Dalam situasi yang kacau ini, Tan Malaka melihat peluangnya. Ia meninggalkan Yogyakarta dan menuju ke Jawa Timur, di mana ia berencana untuk membangun basis gerilya dan melanjutkan perjuangan bersenjata melawan Belanda."Keputusan Tan Malaka untuk pergi ke Jawa Timur," tulis Poeze, "adalah keputusan yang berani tetapi juga berbahaya. Jawa Timur adalah basis dari banyak kekuatan politik yang saling bersaing: ada TNI yang setia kepada pemerintah pusat, ada Pesindo yang masih memiliki pengaruh signifikan, ada kelompok-kelompok Islam yang mencurigai Tan Malaka sebagai komunis, dan ada sisa-sisa pasukan Belanda yang masih beroperasi. Menavigasi medan politik yang kompleks ini memerlukan keterampilan yang luar biasa. Sayangnya, pada saat ini, Tan Malaka tidak lagi memiliki sekutu yang cukup kuat untuk melindunginya. Pesindo, yang dulu adalah pendukung utamanya, kini telah menjadi musuhnya. Tanpa dukungan organisasi massa yang besar, ia hanya bisa mengandalkan sekelompok kecil pengikut setia, dan itu tidak cukup" (Poeze, Jilid III 550).
Poeze melacak pergerakan Tan Malaka di Jawa Timur selama bulan-bulan terakhir tahun 1948. Ia berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain, dari satu rumah aman ke rumah aman lainnya, selalu selangkah di depan pasukan Belanda dan juga selangkah di depan musuh-musuh politiknya di kalangan republik. "Ini adalah pengulangan dari pola yang telah ia jalani sepanjang hidupnya," tulis Poeze. "Seperti di Manila, seperti di Shanghai, seperti di Bangkok, Tan Malaka sekali lagi menjadi buronan yang hidup dalam persembunyian. Tetapi kali ini, ia tidak lagi muda. Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun, kesehatannya memburuk, dan ia tidak memiliki jaringan internasional yang dulu melindunginya. Ia sendirian, atau hampir sendirian, dalam perjuangannya" (Poeze, Jilid III 560).
Pemberontakan PKI Madiun dan Dampaknya
Untuk memahami apa yang terjadi selanjutnya, kita perlu memahami konteks militer yang lebih luas di Jawa Timur pada akhir tahun 1948. Pada bulan September 1948, beberapa bulan sebelum Agresi Militer Belanda Kedua, sebuah pemberontakan komunis meletus di Madiun. Pemberontakan ini, yang dipimpin oleh Musso dan Amir Sjarifuddin, adalah upaya PKI untuk merebut kekuasaan. Pemberontakan ini dengan cepat ditumpas oleh TNI, dan akibatnya adalah pembersihan besar-besaran terhadap elemen-elemen kiri di seluruh Jawa."Pemberontakan Madiun," tulis Poeze, "adalah bencana bagi Tan Malaka, meskipun ia tidak terlibat di dalamnya. Musso dan para pemimpin PKI adalah musuh-musuh lamanya, mereka adalah orang-orang yang mengabaikan nasihatnya pada tahun 1926 dan melancarkan pemberontakan yang gagal, dan mereka adalah saingan-saingannya dalam perebutan kepemimpinan gerakan kiri. Tetapi bagi TNI dan pemerintah, semua komunis adalah sama. Setelah Madiun, setiap orang yang dicurigai sebagai komunis menjadi target. Tan Malaka, yang sudah dicap sebagai 'petualang' dan 'pengacau,' sekarang juga dicap sebagai 'komunis berbahaya' yang harus disingkirkan" (Poeze, Jilid III 580).
Poeze menekankan bahwa tidak ada bukti yang menghubungkan Tan Malaka dengan pemberontakan Madiun. "Tan Malaka," tulisnya, "berada di Yogyakarta ketika pemberontakan meletus, dan ia tidak memiliki kontak dengan Musso atau Amir Sjarifuddin. Tetapi dalam atmosfer histeria anti-komunis yang melanda Indonesia setelah Madiun, fakta-fakta tidak lagi penting. Tan Malaka adalah komunis, dan semua komunis adalah musuh. Ini adalah logika yang sederhana dan mematikan, dan logika inilah yang akhirnya membunuhnya" (Poeze, Jilid III 585).
Detik-detik Terakhir di Selopanggung
Kronologi pasti dari hari-hari terakhir Tan Malaka adalah salah satu misteri yang paling sulit dipecahkan oleh Poeze, tetapi dengan kerja detektif selama puluhan tahun, ia berhasil merekonstruksi peristiwa-peristiwa tersebut dengan tingkat detail yang mengesankan.Pada awal tahun 1949, Tan Malaka dan sekelompok kecil pengikutnya, diperkirakan sekitar dua puluh orang, bergerak ke arah timur Jawa, menuju ke wilayah Kediri. Mereka berencana untuk bergabung dengan unit-unit gerilya yang beroperasi di sekitar Gunung Wilis, di mana mereka bisa membangun basis untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Tetapi sebelum mereka bisa mencapai tujuan itu, mereka dicegat oleh pasukan TNI dari Brigade V di bawah komando Letnan Kolonel Soerachmad.
"Penangkapan Tan Malaka," tulis Poeze, "adalah operasi militer yang direncanakan dengan cermat. Soerachmad telah menerima laporan intelijen tentang pergerakan Tan Malaka, dan ia mengirim pasukannya untuk mencegatnya di sebuah desa kecil bernama Selopanggung, di kaki Gunung Wilis. Pada tanggal 21 Februari 1949, Tan Malaka dan pengikutnya dikepung. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk melawan, mereka kalah jumlah dan kalah senjata. Tan Malaka, menurut kesaksian yang dikumpulkan oleh Poeze, menyerah tanpa perlawanan. Ia mungkin berpikir bahwa ia akan ditangkap dan diinterogasi, seperti yang telah terjadi sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa kali ini, ia tidak akan meninggalkan Selopanggung hidup-hidup" (Poeze, Jilid III 620).
Apa yang terjadi selanjutnya telah menjadi subjek dari banyak spekulasi dan kontroversi. Versi resmi yang dikeluarkan oleh TNI menyatakan bahwa Tan Malaka tewas dalam baku tembak ketika mencoba melarikan diri. Tetapi Poeze, setelah mewawancarai saksi-saksi yang masih hidup dan memeriksa bukti-bukti forensik yang tersedia, sampai pada kesimpulan yang berbeda.
"Kesaksian dari penduduk desa yang menyaksikan peristiwa itu," tulis Poeze, "menceritakan kisah yang berbeda dari versi resmi. Menurut mereka, Tan Malaka tidak ditembak dalam baku tembak. Ia dieksekusi dengan tangan terikat di belakang punggungnya, di tepi sebuah sungai kecil di dekat desa. Mayatnya kemudian dibuang ke sungai, dan tidak pernah ditemukan. Eksekusi ini dilakukan atas perintah perwira-perwira TNI yang hadir di lokasi, meskipun tidak jelas siapa yang memberikan perintah langsung. Yang jelas adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka bukanlah kecelakaan atau tindakan spontan. Ia adalah eksekusi yang direncanakan, dilakukan oleh tentara republik terhadap salah satu pendiri republik itu sendiri" (Poeze, Jilid III 630).
Siapa yang Bertanggung Jawab? Pertanyaan Belum Terjawab Sepenuhnya
Salah satu pertanyaan yang paling menghantui Poeze sepanjang penelitiannya adalah: siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan Tan Malaka? Apakah ini adalah operasi yang direncanakan di tingkat tinggi, ataukah ini adalah tindakan yang dilakukan oleh perwira-perwira lokal yang bertindak atas inisiatif sendiri?"Setelah meneliti semua bukti yang tersedia," tulis Poeze, "saya harus mengakui bahwa saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Dokumen-dokumen yang bisa mengungkapkan siapa yang memberikan perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka, jika memang ada perintah tertulis, telah dihancurkan atau disembunyikan. Para saksi kunci telah meninggal, dan mereka yang masih hidup memberikan kesaksian yang saling bertentangan. Yang bisa saya lakukan adalah menyajikan bukti-bukti yang ada dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan mereka sendiri" (Poeze, Jilid III 650).
Meskipun demikian, Poeze mengidentifikasi beberapa pihak yang mungkin terlibat. Pertama, ada kemungkinan bahwa perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka datang dari markas besar TNI di Yogyakarta, mungkin dari Jenderal Sudirman sendiri atau dari perwira-perwira stafnya. "Sudirman," tulis Poeze, "adalah seorang anti-komunis yang gigih, dan ia melihat Tan Malaka sebagai ancaman terhadap persatuan militer. Setelah pemberontakan Madiun, ia mungkin telah memutuskan bahwa Tan Malaka harus disingkirkan untuk mencegah pemberontakan komunis lainnya. Tetapi tidak ada bukti langsung yang menghubungkan Sudirman dengan pembunuhan ini, dan beberapa peneliti lain berargumen bahwa Sudirman tidak akan pernah menyetujui eksekusi di luar hukum terhadap seorang pemimpin nasionalis" (Poeze, Jilid III 660).
Kedua, ada kemungkinan bahwa pembunuhan Tan Malaka dilakukan atas inisiatif perwira-perwira lokal yang bertindak sendiri. "Soerachmad dan para perwiranya," tulis Poeze, "adalah tentara garis keras yang telah bertempur melawan PKI di Madiun. Mereka melihat Tan Malaka sebagai ancaman yang harus disingkirkan, dan mereka mungkin telah memutuskan untuk mengeksekusinya tanpa menunggu perintah dari atasan. Dalam kekacauan revolusi, ketika komunikasi dengan pusat sering kali terputus, keputusan-keputusan seperti ini sering kali dibuat di lapangan oleh perwira-perwira yang merasa bahwa mereka tahu apa yang terbaik. Jika ini yang terjadi, maka pembunuhan Tan Malaka adalah tragedi yang lahir dari iklim ketakutan dan kecurigaan yang diciptakan oleh pemberontakan Madiun" (Poeze, Jilid III 665).
Ketiga, Poeze tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa pembunuhan Tan Malaka adalah hasil dari konspirasi yang lebih luas yang melibatkan elemen-elemen dari pemerintah dan militer. "Ada laporan-laporan," tulisnya, "yang menyebutkan bahwa Soekarno atau Hatta mungkin telah mengetahui atau bahkan menyetujui rencana untuk menyingkirkan Tan Malaka. Tetapi laporan-laporan ini sangat spekulatif, dan saya tidak menemukan bukti yang cukup untuk mendukungnya. Yang bisa saya katakan adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka menguntungkan banyak pihak: ia menghilangkan ancaman terhadap pemerintah pusat, ia menghilangkan sumber perpecahan dalam militer, dan ia mengirim pesan yang jelas kepada semua oposisi bahwa pemberontakan tidak akan ditoleransi. Dalam politik, ketika sebuah tindakan menguntungkan banyak pihak yang berbeda, sering kali sulit untuk menentukan siapa yang benar-benar bertanggung jawab" (Poeze, Jilid III 670).
Peran Pesindo dalam Peristiwa Terakhir
Satu pertanyaan spesifik yang diajukan oleh penelitian ini adalah: apa peran Pesindo dalam peristiwa-peristiwa yang mengarah pada kematian Tan Malaka? Poeze tidak menemukan bukti bahwa Pesindo sebagai organisasi terlibat langsung dalam pembunuhan Tan Malaka. Namun, ia berargumen bahwa konflik antara Tan Malaka dan Pesindo menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan pembunuhan itu terjadi."Pesindo," tulis Poeze, "tidak menarik pelatuk yang membunuh Tan Malaka. Tetapi dengan meninggalkannya, dengan menolak untuk melindunginya, dengan menjadi bagian dari koalisi yang mendukung pemerintah melawannya, Pesindo berkontribusi pada isolasi politik Tan Malaka. Ketika Tan Malaka terbunuh di Selopanggung, ia adalah seorang pemimpin tanpa organisasi massa yang melindunginya. Pesindo, yang dulu adalah pendukung utamanya, telah menjadi bagian dari mesin negara yang menghancurkannya. Apakah para pemimpin Pesindo mengetahui atau menyetujui pembunuhan itu? Kemungkinan besar tidak. Tetapi mereka tidak bisa menghindari tanggung jawab moral atas kenyataan bahwa sekutu lama mereka dibunuh oleh tentara republik, dan tidak ada yang mengangkat suara untuk membelanya" (Poeze, Jilid III 680).
Poeze juga mencatat bahwa beberapa anggota Pesindo yang tetap setia kepada Tan Malaka ikut menjadi korban dalam pembersihan yang mengikuti pemberontakan Madiun. "Mereka yang menolak untuk meninggalkan Tan Malaka," tulisnya, "diburu, ditangkap, dan dalam beberapa kasus dieksekusi bersama dengannya. Loyalitas mereka kepada sang revolusioner harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Ini adalah tragedi di dalam tragedi: mereka yang paling setia kepada Tan Malaka adalah mereka yang paling menderita, sementara mereka yang meninggalkannya selamat dan melanjutkan karier politik mereka" (Poeze, Jilid III 685).
Bab 6 Kisah Nyata Terbunuhnya Tan Malaka Rekonstruksi Berdasarkan Riset Harry A. Poeze
Sebuah Misteri yang Menghantui Republik
Pada suatu pagi yang dingin di bulan Februari 1949, di sebuah desa kecil bernama Selopanggung yang terletak di kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, sebuah tragedi yang akan menghantui sejarah Indonesia selama puluhan tahun terjadi. Seorang pria kurus berusia lima puluhan, dengan kacamata bundar dan wajah yang menunjukkan garis-garis kelelahan setelah bertahun-tahun hidup dalam pelarian, dituntun oleh sekelompok tentara ke tepi sebuah sungai. Tangannya terikat. Ia tahu apa yang akan terjadi. Pria itu adalah Ibrahim Datuk Sutan Malaka, Tan Malaka, Bapak Republik yang merumuskan konsep Republik Indonesia jauh sebelum Soekarno-Hatta memproklamasikannya, seorang revolusioner yang telah menghabiskan separuh hidupnya dalam pengasingan dan pelarian internasional untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya. Dan pada pagi itu, di tangan tentara republik yang ia bantu dirikan, perjalanan hidupnya yang luar biasa akan berakhir dengan kejam.Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang telah mendedikasikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk menelusuri jejak Tan Malaka, menulis tentang momen ini dengan nada yang dingin dan faktual, tetapi di balik kedinginan itu tersembunyi kemarahan moral yang mendalam. "Tan Malaka," tulis Poeze dalam jilid kelima magnum opus-nya, "tidak mati dalam pertempuran melawan Belanda, seperti yang seharusnya terjadi pada seorang pejuang kemerdekaan. Ia tidak mati karena sakit atau usia tua, setelah menjalani kehidupan yang penuh pengorbanan. Ia mati ditembak oleh tentara Republik Indonesia, negara yang telah ia impikan dan perjuangkan sejak tahun 1925, ketika ia pertama kali menulis kata 'Republik Indonesia' dalam pamfletnya di Kanton. Ia mati sebagai musuh negara yang ia ciptakan. Ini adalah ironi yang paling pahit dalam sejarah revolusi Indonesia" (Poeze, Jilid V 720).
Pembebasan Membawa Malapetaka
Untuk memahami bagaimana Tan Malaka berakhir di tepi sungai di Selopanggung, kita harus kembali ke tahun 1948, ketika ia dibebaskan dari penjara setelah ditahan selama lebih dari dua tahun tanpa pengadilan. Pembebasannya adalah bagian dari amnesti umum yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam upaya untuk menyatukan semua kekuatan menghadapi ancaman Belanda yang semakin besar. Namun, pembebasan ini bukanlah tindakan belas kasihan, melainkan kalkulasi politik. Pemerintah membutuhkan dukungan dari semua elemen, termasuk para pengikut Tan Malaka yang masih setia."Tan Malaka keluar dari penjara," tulis Poeze, "bukan sebagai orang yang patah, melainkan sebagai orang yang lebih bertekad. Penjara telah mengajarinya bahwa kompromi dengan kekuasaan adalah ilusi. Ia telah ditangkap tanpa pengadilan, ditahan tanpa dakwaan yang jelas, dan sekarang dibebaskan tanpa permintaan maaf. Pengalaman ini mengkonfirmasi keyakinannya yang paling dalam: bahwa republik yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta-Sjahrir telah menyimpang dari cita-cita revolusi, dan bahwa hanya gerakan revolusioner yang bersih dari kompromi yang bisa menyelamatkan Indonesia" (Poeze, Jilid V 15).
Setelah pembebasannya, Tan Malaka segera memulai kembali aktivitas politiknya. Ia mendirikan Partai Murba (Partai Musyawarah Rakyat Banyak) sebagai wadah baru untuk gerakannya, dan mulai merekrut para pengikut lamanya. Tetapi situasinya sangat berbeda dari tahun 1945. Banyak mantan pendukungnya telah meninggalkannya atau telah ditangkap. Pesindo, yang dulu menjadi tulang punggung Persatuan Perjuangan, kini telah berdamai dengan pemerintah dan tidak lagi mendukungnya. Tan Malaka mendapati dirinya sebagai pemimpin tanpa tentara, jenderal tanpa pasukan.
Agresi Militer Belanda Kedua
Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua. Yogyakarta, ibu kota Republik, diserang dan diduduki. Soekarno, Hatta, dan para pemimpin lainnya ditangkap dan diasingkan. Pemerintah pusat lumpuh. Dalam situasi kekacauan ini, Tan Malaka melihat peluang, atau mungkin ilusi, untuk merebut kembali relevansi politiknya."Tan Malaka," tulis Poeze, "melihat Agresi Militer Belanda sebagai pembenaran atas semua yang telah ia katakan. Ia telah memperingatkan bahwa diplomasi dengan Belanda adalah bunuh diri, bahwa Belanda tidak akan pernah menghormati perjanjian, dan bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan kemerdekaan adalah melalui perlawanan bersenjata total. Sekarang, semua peringatannya menjadi kenyataan. Soekarno dan Hatta ditangkap, republik yang mereka bangun melalui diplomasi hancur. Bagi Tan Malaka, ini adalah momen untuk mengatakan: 'Aku sudah bilang.' Tetapi mengatakan 'aku sudah bilang' tidak memberinya tentara, tidak memberinya senjata, dan tidak memberinya kekuasaan" (Poeze, Jilid V 45).
Tan Malaka meninggalkan Yogyakarta segera setelah serangan Belanda dimulai. Ia menuju ke arah timur, ke Jawa Timur, di mana ia berharap untuk bergabung dengan unit-unit gerilya yang setia kepadanya. Ia membawa sekelompok kecil pengikut setia, diperkirakan sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang, termasuk beberapa pemimpin Partai Murba dan bekas anggota Persatuan Perjuangan yang masih setia.
Perjalanan Menuju Kediri
Poeze merekonstruksi perjalanan Tan Malaka dari Yogyakarta ke Kediri dengan menggunakan berbagai sumber: wawancara dengan saksi-saksi yang masih hidup, laporan-laporan militer dari periode itu, dan catatan-catatan pribadi yang disimpan oleh para pengikut Tan Malaka. Perjalanan ini memakan waktu beberapa minggu, karena mereka harus menghindari patroli Belanda dan bergerak melalui jalan-jalan kecil di pedesaan."Mereka berjalan di malam hari," tulis Poeze, "dan bersembunyi di siang hari. Tan Malaka, yang usianya sudah lebih dari lima puluh tahun dan kesehatannya memburuk setelah bertahun-tahun dalam penjara dan pelarian, harus dipapah oleh pengikut-pengikutnya yang lebih muda. Tetapi semangatnya tidak patah. Ia terus menulis di buku catatannya, merumuskan strategi untuk perang gerilya jangka panjang melawan Belanda. Ia bermimpi untuk mengulangi apa yang telah ia lakukan di Filipina dua dekade sebelumnya: membangun jaringan bawah tanah yang akan bertahan selama bertahun-tahun, menunggu saat yang tepat untuk menyerang" (Poeze, Jilid V 65).
Pada akhir Januari 1949, Tan Malaka dan rombongannya tiba di wilayah Kediri, di kaki Gunung Wilis. Wilayah ini dipilih karena beberapa alasan. Pertama, medannya yang bergunung-gunung cocok untuk perang gerilya. Kedua, wilayah ini relatif belum tersentuh oleh operasi-operasi militer Belanda. Ketiga, dan ini yang paling penting dalam perspektif Tan Malaka, ada unit-unit TNI di wilayah ini yang, menurut informasinya, bersimpati pada perjuangannya.
Interaksi dengan TNI
Ketika Tan Malaka tiba di wilayah Kediri, ia segera berusaha untuk menjalin kontak dengan komandan-komandan TNI setempat. Strateginya adalah untuk membujuk mereka agar bergabung dengan gerakannya, atau setidaknya untuk mendapatkan perlindungan dan pasokan. Poeze mendokumentasikan beberapa pertemuan yang terjadi antara Tan Malaka dan para perwira TNI di wilayah Kediri pada akhir Januari dan awal Februari 1949."Pertemuan-pertemuan ini," tulis Poeze, "berlangsung dalam atmosfer yang tegang. Di satu sisi, Tan Malaka adalah tokoh nasional yang dihormati, dan banyak perwira TNI yang telah membaca karya-karyanya dan mengagumi pemikirannya. Di sisi lain, ia adalah tokoh kontroversial yang telah dicap sebagai 'petualang' dan 'pengacau' oleh pemerintah pusat. Para perwira TNI berada dalam posisi yang sulit: mereka tidak ingin menolak Tan Malaka secara langsung, karena hal itu bisa menimbulkan konflik dengan pendukung-pendukungnya di kalangan tentara. Tetapi mereka juga tidak ingin secara terbuka mendukungnya, karena hal itu bisa dianggap sebagai pembangkangan terhadap komando pusat" (Poeze, Jilid V 85).
Salah satu pertemuan paling krusial terjadi antara Tan Malaka dan Letnan Kolonel Soerachmad, komandan Brigade V TNI yang bertanggung jawab atas wilayah Kediri. Poeze tidak berhasil menemukan catatan langsung dari pertemuan ini, tetapi ia merekonstruksinya dari kesaksian-kesaksian para saksi dan dari laporan-laporan yang ditulis setelah kejadian.
"Pertemuan antara Tan Malaka dan Soerachmad," tulis Poeze, "tampaknya berlangsung dengan sopan tetapi dingin. Tan Malaka memaparkan rencananya untuk membangun basis gerilya di Gunung Wilis dan meminta dukungan logistik dari TNI. Soerachmad, menurut kesaksian yang ada, menolak permintaan itu. Ia mengatakan bahwa TNI memiliki rantai komando sendiri dan tidak bisa memberikan dukungan kepada kekuatan-kekuatan di luar struktur resmi. Ia juga menyarankan, atau mungkin memerintahkan, Tan Malaka untuk meninggalkan wilayah Kediri demi keamanannya sendiri. Tan Malaka menolak saran itu. Ia mengatakan bahwa ia akan tetap berada di wilayah itu dan akan melanjutkan perjuangannya dengan atau tanpa dukungan TNI. Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan, dan kedua belah pihak pergi dengan kecurigaan yang lebih dalam terhadap satu sama lain" (Poeze, Jilid V 95).
Sikap TNI Dari Toleransi ke Permusuhan
Setelah pertemuan dengan Soerachmad, situasi Tan Malaka di wilayah Kediri mulai memburuk dengan cepat. Poeze mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi pada perubahan sikap TNI terhadap Tan Malaka.Pertama, dan ini yang paling menentukan, adalah bayang-bayang Pemberontakan PKI Madiun yang masih segar dalam ingatan. "Pemberontakan Madiun," tulis Poeze, "telah menciptakan histeria anti-komunis di kalangan militer. Setiap orang yang dicurigai sebagai komunis dianggap sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Tan Malaka, meskipun ia tidak terlibat dalam pemberontakan Madiun dan sebenarnya adalah musuh politik dari Musso dan Amir Sjarifuddin, dicap sebagai komunis oleh banyak perwira TNI. Dalam logika sederhana yang berlaku pada saat itu, semua komunis adalah sama, dan semua komunis adalah musuh. Fakta bahwa Tan Malaka telah menghabiskan bertahun-tahun dalam pelarian internasional sebagai agen Komintern hanya memperkuat kecurigaan ini" (Poeze, Jilid V 110).
Kedua, ada faktor lokal yang spesifik. Wilayah Kediri adalah basis dari beberapa unit TNI yang sangat anti-komunis, yang telah terlibat dalam penumpasan pemberontakan Madiun. Para perwira di unit-unit ini melihat Tan Malaka sebagai ancaman langsung terhadap otoritas mereka. "Mereka khawatir," tulis Poeze, "bahwa kehadiran Tan Malaka di wilayah mereka akan menarik perhatian Belanda, yang akan mengirim pasukan untuk menangkapnya dan dalam prosesnya akan menghancurkan infrastruktur gerilya TNI. Atau, lebih buruk lagi, mereka khawatir bahwa Tan Malaka akan berhasil merekrut pengikut di antara prajurit-prajurit mereka dan akan memicu pemberontakan internal. Dalam pandangan mereka, Tan Malaka adalah bom waktu yang harus dijinakkan sebelum meledak" (Poeze, Jilid V 115).
Ketiga, ada kemungkinan bahwa Soerachmad atau perwira-perwira lainnya telah menerima instruksi dari markas besar TNI di Jawa Timur untuk menyingkirkan Tan Malaka. "Pertanyaan tentang siapa yang memberikan perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka," tulis Poeze, "adalah salah satu misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan. Tetapi ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa keputusan untuk menyingkirkan Tan Malaka tidak dibuat secara lokal oleh Soerachmad sendiri, melainkan setidaknya diketahui dan disetujui oleh komando yang lebih tinggi. Sayangnya, dokumen-dokumen yang bisa mengkonfirmasi atau membantah hipotesis ini telah dihancurkan atau tetap dirahasiakan" (Poeze, Jilid V 120).
Permintaan Izin pada Jenderal Soedirman
Salah satu episod paling penting yang berhasil direkonstruksi oleh Poeze adalah pertemuan antara Mayor Sabirin (seorang perwira yang bersimpati pada Tan Malaka) dan Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI, yang pada saat itu sedang bergerilya di Jawa Timur. Pertemuan ini terjadi beberapa minggu sebelum kematian Tan Malaka, dan tujuannya adalah untuk mendapatkan izin dari Soedirman agar Tan Malaka bisa bergabung dengan perjuangan gerilya di bawah komando TNI."Sabirin," tulis Poeze, "adalah komandan Batalyon 38 dari Divisi I TNI, yang berbasis di wilayah Kediri. Ia adalah salah satu dari sedikit perwira TNI yang tetap setia kepada Tan Malaka setelah perpecahan tahun 1946. Pada akhir Januari atau awal Februari 1949, Sabirin menemui Soedirman di markas gerilyanya di suatu tempat di Jawa Timur. Ia memohon kepada Soedirman agar Tan Malaka diizinkan untuk bergabung dengan perjuangan gerilya dan diberikan perlindungan. Soedirman, menurut kesaksian Sabirin yang dicatat oleh Poeze, menolak permintaan itu. Ia mengatakan bahwa Tan Malaka adalah 'unsur yang tidak diinginkan' dan bahwa kehadirannya hanya akan menyebabkan perpecahan di kalangan tentara. Soedirman juga memperingatkan Sabirin agar tidak terlalu dekat dengan Tan Malaka, karena hal itu bisa membahayakan karier militernya. Sabirin pulang dari pertemuan itu dengan kecewa dan khawatir. Ia tahu bahwa tanpa perlindungan dari Soedirman, Tan Malaka berada dalam bahaya besar" (Poeze, Jilid V 140).
Poeze mencatat bahwa penolakan Soedirman ini adalah titik balik yang menentukan. "Dengan menolak untuk memberikan perlindungan kepada Tan Malaka," tulisnya, "Soedirman secara efektif memberikan lampu hijau kepada perwira-perwira bawahannya untuk menyingkirkan Tan Malaka. Soedirman mungkin tidak secara eksplisit memerintahkan pembunuhan Tan Malaka, tetapi penolakannya untuk melindungi Tan Malaka, ditambah dengan peringatannya kepada Sabirin, mengirim pesan yang jelas: Tan Malaka tidak diinginkan, dan mereka yang melindunginya akan menanggung konsekuensinya. Dalam hierarki militer yang ketat, pesan seperti ini sering kali lebih berbahaya daripada perintah tertulis" (Poeze, Jilid V 145).
Pergerakan Terakhir ke Desa Selopanggung
Setelah pertemuannya dengan Soerachmad dan penolakan dari Soedirman, Tan Malaka menyadari bahwa posisinya sangat rentan. Ia memutuskan untuk bergerak lebih dalam ke pedesaan, menjauh dari pusat-pusat kekuasaan TNI. Ia memilih desa Selopanggung, sebuah desa kecil di lereng Gunung Wilis, sebagai tempat persembunyiannya. Desa ini dipilih karena lokasinya yang terpencil dan karena penduduknya, yang sebagian besar adalah petani miskin, dianggap bersimpati pada perjuangan Tan Malaka."Tan Malaka tiba di Selopanggung pada pertengahan Februari 1949," tulis Poeze. "Ia datang dengan rombongan kecilnya dan diterima oleh penduduk desa dengan campuran rasa hormat dan ketakutan. Mereka tahu siapa Tan Malaka, namanya sudah terkenal di seluruh Jawa sebagai pemimpin revolusioner, tetapi mereka juga tahu bahwa melindunginya berarti menempatkan diri mereka dalam bahaya. Namun, mereka tidak bisa menolak. Tan Malaka adalah tamu yang tidak bisa ditolak oleh penduduk desa yang taat pada tradisi keramahan. Ia tinggal di rumah seorang petani sederhana, tidur di lumbung padi, dan menghabiskan hari-harinya dengan menulis dan mendiskusikan strategi dengan pengikut-pengikutnya" (Poeze, Jilid V 160).
Selama minggu terakhir hidupnya, Tan Malaka terus menulis. "Buku catatannya," tulis Poeze, "yang kemudian ditemukan oleh para saksi mata, berisi analisis tentang situasi politik terbaru, rencana-rencana untuk perang gerilya jangka panjang, dan refleksi-refleksi filosofis tentang makna revolusi. Bahkan dalam situasi yang paling terdesak, ketika kematian sudah membayangi di depan mata, Tan Malaka tidak berhenti berpikir dan menulis. Menulis adalah caranya untuk melawan keputusasaan, caranya untuk mempertahankan kemanusiaannya di tengah kondisi yang tidak manusiawi. Sampai akhir hayatnya, ia tetap setia pada identitasnya sebagai seorang pemikir dan penulis" (Poeze, Jilid V 165).
Intelijen dan Pelacakan
Sementara Tan Malaka bersembunyi di Selopanggung, pasukan TNI di bawah komando Soerachmad sedang melacak pergerakannya. Poeze merekonstruksi proses pelacakan ini berdasarkan laporan-laporan militer dan kesaksian para saksi."Soerachmad," tulis Poeze, "telah menerima laporan intelijen tentang keberadaan Tan Malaka di wilayah Kediri. Laporan-laporan ini mungkin berasal dari informan-informan lokal yang melihat pergerakan rombongan Tan Malaka, atau mungkin dari penyadapan komunikasi. Begitu ia memiliki informasi yang cukup, Soerachmad mengirim pasukan untuk mengepung wilayah Selopanggung. Operasi ini direncanakan dengan hati-hati untuk menghindari kebocoran informasi. Pasukan dikirim dalam kelompok-kelompok kecil, dengan instruksi untuk berkumpul di titik yang telah ditentukan pada waktu yang telah ditentukan. Tujuannya adalah untuk menangkap Tan Malaka hidup-hidup, atau, jika penangkapan tidak mungkin, untuk mengeksekusinya di tempat" (Poeze, Jilid V 180).
Penangkapan
Pada pagi hari tanggal 21 Februari 1949, tanggal yang telah menjadi legenda dalam sejarah gerakan kiri Indonesia, pasukan TNI bergerak. Poeze merekonstruksi kronologi peristiwa ini sebagai berikut:
"Pasukan TNI mengepung desa Selopanggung sebelum fajar. Mereka bergerak dalam keheningan, menghindari deteksi oleh penduduk desa yang masih tidur. Ketika matahari mulai terbit, mereka menyerbu rumah di mana Tan Malaka bersembunyi. Tan Malaka dan pengikutnya terkejut; mereka tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Beberapa pengikut Tan Malaka mencoba untuk melawan dan ditembak mati di tempat. Yang lainnya menyerah. Tan Malaka sendiri, menurut kesaksian yang dikumpulkan oleh Poeze, tidak mencoba untuk melawan. Ia tahu bahwa perlawanan akan sia-sia, dan ia mungkin berharap bahwa ia akan ditangkap dan diadili, seperti yang telah terjadi sebelumnya. Ia keluar dari rumah dengan tangan terangkat, menyerahkan diri kepada para prajurit yang mengepungnya" (Poeze, Jilid V 195).
Versi resmi TNI, yang dirilis setelah kejadian, menyatakan bahwa Tan Malaka tewas dalam baku tembak ketika mencoba melarikan diri. Poeze dengan tegas menolak versi ini. "Tidak ada bukti," tulisnya, "yang mendukung klaim bahwa terjadi baku tembak. Semua saksi mata yang berhasil saya wawancarai, termasuk penduduk desa yang menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan, mengatakan bahwa Tan Malaka menyerah tanpa perlawanan. Klaim tentang baku tembak adalah fabrikasi yang dirancang untuk menutupi fakta bahwa Tan Malaka dieksekusi dalam keadaan tidak berdaya. Ini adalah upaya untuk memberikan legitimasi hukum pada pembunuhan di luar hukum" (Poeze, Jilid V 200).
Eksekusi di Tepi Sungai
Apa yang terjadi setelah penangkapan Tan Malaka adalah subjek dari banyak kesaksian yang dikumpulkan oleh Poeze selama puluhan tahun. Meskipun detail-detail spesifik bervariasi di antara saksi-saksi yang berbeda, garis besar ceritanya konsisten."Setelah ditangkap," tulis Poeze, "Tan Malaka dibawa ke tepi sebuah sungai kecil di dekat desa Selopanggung. Tangannya diikat di belakang punggungnya. Ia dikawal oleh beberapa prajurit TNI yang dipimpin oleh seorang perwira, identitas perwira ini masih diperdebatkan, tetapi beberapa saksi menyebutkan nama Kapten Soekotjo dari Batalyon Sikatan. Di tepi sungai, Tan Malaka dieksekusi. Ia ditembak dari jarak dekat, mungkin di belakang kepala atau di dada. Mayatnya kemudian dibuang ke sungai, yang arusnya cukup deras untuk membawanya pergi. Tidak ada upacara, tidak ada penghormatan, tidak ada catatan resmi. Seorang pemimpin besar revolusi Indonesia dibunuh seperti penjahat biasa, dan jasadnya dibuang seperti sampah" (Poeze, Jilid V 210).
Poeze menekankan bahwa eksekusi ini bukanlah tindakan spontan yang dilakukan oleh prajurit yang kehilangan kendali. "Ini adalah eksekusi yang direncanakan," tulisnya. "Para prajurit yang menangkap Tan Malaka telah menerima instruksi yang jelas: Tan Malaka tidak boleh dibawa hidup-hidup. Mereka tidak membawanya ke markas untuk diinterogasi, mereka tidak menghubungi atasan untuk meminta instruksi lebih lanjut, mereka tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Mereka membawanya langsung ke tempat eksekusi dan menembaknya. Ini menunjukkan bahwa keputusan untuk membunuh Tan Malaka telah dibuat sebelumnya, mungkin oleh Soerachmad sendiri, mungkin oleh komando yang lebih tinggi. Tan Malaka tidak ditangkap; ia dieksekusi" (Poeze, Jilid V 215).
Identitas Para Pelaku
Pertanyaan tentang siapa yang secara langsung bertanggung jawab atas pembunuhan Tan Malaka adalah salah satu yang paling sulit dijawab oleh Poeze. "Setelah puluhan tahun penelitian," tulisnya, "saya masih tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Tetapi saya bisa menyajikan bukti-bukti yang ada dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan mereka sendiri" (Poeze, Jilid V 230).Berdasarkan kesaksian-kesaksian yang dikumpulkannya, Poeze mengidentifikasi beberapa nama yang muncul secara konsisten dalam narasi tentang eksekusi Tan Malaka. Pertama, Letnan Kolonel Soerachmad, komandan Brigade V TNI, yang bertanggung jawab atas wilayah Kediri dan yang telah memberikan perintah untuk mengepung Selopanggung. Kedua, Kapten Soekotjo, komandan Batalyon Sikatan, yang konon memimpin langsung pasukan yang mengepung dan mengeksekusi Tan Malaka. Ketiga, beberapa perwira TNI lainnya yang namanya muncul dalam kesaksian-kesaksian tetapi tidak bisa dikonfirmasi secara independen.
"Pertanyaan yang paling sulit," tulis Poeze, "adalah apakah Soerachmad bertindak atas inisiatif sendiri atau atas perintah dari atasan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Soerachmad telah berkonsultasi dengan markas besar TNI di Jawa Timur sebelum mengambil tindakan terhadap Tan Malaka. Sumber lain menyebutkan bahwa perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka datang dari Kolonel Sungkono, komandan Divisi I TNI, atau bahkan dari Jenderal Soedirman sendiri. Tetapi tidak ada dokumen tertulis yang bisa mengkonfirmasi klaim-klaim ini. Dokumen-dokumen yang mungkin berisi perintah semacam itu telah dihancurkan, atau tetap dirahasiakan, atau tidak pernah ada sama sekali. Yang kita miliki hanyalah kesaksian-kesaksian lisan yang saling bertentangan dan tidak bisa diverifikasi" (Poeze, Jilid V 235).
Tanggal Kematian
Meskipun tanggal 21 Februari 1949 secara umum diterima sebagai tanggal kematian Tan Malaka, Poeze mencatat bahwa ada ketidakpastian tentang hal ini. "Beberapa saksi," tulisnya, "menyebutkan tanggal yang berbeda, 19 Februari, 22 Februari, bahkan awal Maret. Ketidakpastian ini mencerminkan kekacauan yang menyelubungi seluruh peristiwa. Tidak ada catatan resmi tentang kematian Tan Malaka. Tidak ada yang mencatat tanggalnya, tidak ada yang mendokumentasikan tempatnya. Semua yang kita ketahui berasal dari ingatan-ingatan yang tidak sempurna dari saksi-saksi yang sudah tua dan mungkin tidak akurat. Tanggal 21 Februari adalah konsensus yang paling mungkin, tetapi kita tidak bisa memastikannya dengan kepastian absolut" (Poeze, Jilid V 250).Sungai Brantas Saksi Bisu Penghilangan Jenazah
Salah satu aspek yang paling menghantui dari kisah kematian Tan Malaka adalah kenyataan bahwa jasadnya tidak pernah ditemukan. Poeze mendedikasikan penelitian yang signifikan untuk mencoba memecahkan misteri ini, tetapi pada akhirnya ia harus mengakui kekalahan. "Lokasi pasti di mana jasad Tan Malaka berakhir," tulisnya, "adalah salah satu misteri yang mungkin tidak akan pernah terpecahkan. Tetapi kita bisa merekonstruksi apa yang paling mungkin terjadi berdasarkan bukti-bukti yang tersedia" (Poeze, Jilid V 270).Menurut rekonstruksi Poeze, setelah dieksekusi, jasad Tan Malaka dibuang ke sebuah sungai kecil, kemungkinan anak Sungai Brantas, yang mengalir di dekat desa Selopanggung. "Para saksi," tulisnya, "menggambarkan bagaimana arus sungai membawa jasad itu pergi. Beberapa saksi mengatakan bahwa jasad itu tersangkut di bebatuan beberapa ratus meter dari tempat eksekusi, dan bahwa para prajurit kemudian mendorongnya agar terus hanyut. Yang lain mengatakan bahwa jasad itu langsung menghilang di bawah permukaan air dan tidak pernah terlihat lagi. Dalam kedua kasus, jelas bahwa tidak ada upaya untuk menguburkan jasad Tan Malaka dengan layak. Ia dibiarkan hanyut di sungai, mangsanya bagi ikan-ikan dan arus yang tak kenal ampun" (Poeze, Jilid V 275).
Mengapa jasad Tan Malaka tidak diambil dan dikuburkan oleh para pengikutnya? Poeze menjelaskan bahwa situasi pada saat itu sangat berbahaya. "Para pengikut Tan Malaka yang selamat dari pengepungan," tulisnya, "sedang dalam pelarian. Mereka tidak bisa kembali ke tempat eksekusi tanpa mengambil risiko ditangkap atau dibunuh. Penduduk desa, yang menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan, terlalu takut untuk mendekat. Pasukan TNI masih berada di area itu, dan siapa pun yang mencoba untuk mengambil jasad Tan Malaka akan dicurigai sebagai simpatisan dan mungkin akan mengalami nasib yang sama. Akibatnya, jasad Tan Malaka dibiarkan hanyut, hilang selamanya di perairan Jawa Timur" (Poeze, Jilid V 280).
Pencarian Sia-sia
Selama bertahun-tahun setelah kematian Tan Malaka, ada beberapa upaya untuk menemukan jasadnya. Semua upaya ini gagal. Poeze mendokumentasikan beberapa di antaranya."Pada tahun 1950-an," tulisnya, "ketika situasi politik sudah mulai stabil, beberapa pengikut Tan Malaka kembali ke Selopanggung untuk mencari jasad pemimpin mereka. Mereka mewawancarai penduduk desa, menyusuri sungai, dan menggali di tempat-tempat yang dicurigai sebagai kuburan. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Sungai telah mengubah alirannya, dan tidak ada yang bisa memastikan di mana tepatnya Tan Malaka dieksekusi dan di mana jasadnya dibuang. Pencarian ini akhirnya ditinggalkan, dan para pengikut Tan Malaka harus menerima kenyataan bahwa pemimpin mereka telah hilang tanpa jejak" (Poeze, Jilid V 290).
Pada tahun 1960-an, rezim Orde Baru yang anti-komunis menutup semua pembicaraan tentang Tan Malaka. Mencari jasadnya menjadi tindakan yang mencurigakan secara politik, dan mereka yang masih peduli tentang nasib Tan Malaka harus menyimpan kepedulian mereka dalam diam. "Selama lebih dari tiga dekade," tulis Poeze, "Tan Malaka adalah tokoh yang tidak bisa disebutkan namanya. Mencari jasadnya adalah tindakan subversif. Akibatnya, misteri jasadnya tetap tidak terpecahkan, dan legenda tentang kuburannya yang hilang semakin berkembang" (Poeze, Jilid V 295).
Makam Palsu dan Klaim Tak Terverifikasi
Dalam ketiadaan jasad yang sebenarnya, beberapa klaim tentang kuburan Tan Malaka muncul dari waktu ke waktu. Poeze menyelidiki klaim-klaim ini dan menemukan bahwa semuanya tidak berdasar.
"Yang paling terkenal," tulisnya, "adalah apa yang disebut 'Makam Tan Malaka' di Selopanggung, yang sekarang menjadi tempat ziarah bagi para pengagumnya. Makam ini dibangun pada tahun 1970-an oleh penduduk setempat dan para veteran yang ingin menghormati Tan Malaka. Tetapi tidak ada bukti bahwa jasad Tan Malaka benar-benar berada di makam ini. Para pembangunnya sendiri mengakui bahwa mereka tidak tahu di mana jasad Tan Malaka berada, dan bahwa makam itu hanyalah simbol, sebuah tempat untuk mengenang, bukan kuburan yang sebenarnya. Poeze, setelah mengunjungi makam ini beberapa kali, menyimpulkan bahwa 'makam ini adalah monumen untuk ketiadaan, sebuah pengingat bahwa Tan Malaka telah dihilangkan tidak hanya dari kehidupan, tetapi juga dari kematian. Ia tidak memiliki kuburan karena ia tidak seharusnya mati, atau setidaknya, tidak dengan cara ini, tidak di tangan bangsanya sendiri'" (Poeze, Jilid V 310).
Klaim-klaim lain tentang kuburan Tan Malaka muncul di tempat-tempat lain, di Sumatera Barat, di Jakarta, bahkan di Filipina. Poeze menyelidiki semuanya dan menemukan bahwa tidak ada yang didukung oleh bukti yang kredibel. "Semua klaim ini," tulisnya, "adalah produk dari kerinduan, bukan dari fakta. Orang-orang ingin percaya bahwa Tan Malaka dimakamkan dengan layak, bahwa jasadnya tidak hilang begitu saja. Tetapi keinginan tidak menciptakan realitas. Fakta yang dingin adalah bahwa Tan Malaka dieksekusi dan jasadnya dibuang ke sungai, dan tidak ada yang tahu di mana ia berakhir. Mungkin jasadnya tersangkut di suatu tempat di dasar sungai dan tertutup oleh lumpur selama puluhan tahun. Mungkin ia hanyut sampai ke laut dan hilang selamanya. Kita tidak tahu, dan kita mungkin tidak akan pernah tahu" (Poeze, Jilid V 315).
Signifikansi Jasad Hilang
Poeze berargumen bahwa hilangnya jasad Tan Malaka memiliki signifikansi yang melampaui sekadar misteri forensik. "Jasad yang hilang," tulisnya, "adalah metafora untuk seluruh kehidupan Tan Malaka. Ia adalah orang yang selalu menghilang, dari Indonesia pada tahun 1922, dari Moskow pada tahun 1924, dari Kanton pada tahun 1925, dari Manila pada tahun 1937. Ia menghabiskan hidupnya sebagai hantu, selalu selangkah di depan para pemburunya, selalu meninggalkan jejak yang samar. Kematiannya adalah penghilangan terakhirnya, yang paling pahit dan paling ironis. Ia yang telah menghabiskan hidupnya menghilang dari penglihatan musuh-musuhnya, kini dihilangkan oleh bangsanya sendiri, dan bahkan jasadnya tidak diizinkan untuk tinggal dan menjadi saksi bisu atas keberadaannya" (Poeze, Jilid V 320).Hilangnya jasad Tan Malaka juga memiliki implikasi politik yang mendalam. "Dengan menghilangkan jasadnya," tulis Poeze, "para pembunuhnya tidak hanya membunuh orangnya, tetapi juga berusaha untuk membunuh ingatan tentangnya. Tanpa kuburan, tidak ada tempat untuk berziarah. Tanpa tempat berziarah, tidak ada fokus untuk kenangan kolektif. Tanpa kenangan kolektif, Tan Malaka bisa dihapuskan dari sejarah. Ini adalah proyek yang dimulai oleh para pembunuhnya di Selopanggung pada tahun 1949, dan dilanjutkan oleh rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade. Mereka hampir berhasil. Tetapi mereka tidak sepenuhnya berhasil, karena ide-ide Tan Malaka, yang tertulis dalam buku-bukunya, tidak bisa dibuang ke sungai. Selama buku-bukunya masih ada, hantunya akan terus menghantui republik yang ia dirikan" (Poeze, Jilid V 325).
Teori-teori Tanggung Jawab
Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan Tan Malaka telah menjadi subjek perdebatan selama puluhan tahun. Poeze, dengan kehati-hatian metodologisnya yang khas, tidak memberikan jawaban yang definitif, tetapi ia menyajikan bukti-bukti yang mendukung beberapa teori yang berbeda.
Teori pertama, dan yang paling banyak diterima, adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka diperintahkan oleh Letnan Kolonel Soerachmad, komandan Brigade V TNI, yang bertindak atas inisiatif sendiri. "Soerachmad," tulis Poeze, "adalah seorang perwira garis keras yang sangat anti-komunis. Ia telah terlibat dalam penumpasan pemberontakan Madiun, dan ia melihat Tan Malaka sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Menurut beberapa saksi, Soerachmad telah memutuskan untuk mengeksekusi Tan Malaka segera setelah ia menerima laporan tentang keberadaannya di wilayah Kediri. Ia tidak menunggu instruksi dari atasan; ia mengambil keputusan sendiri, percaya bahwa ia bertindak demi kepentingan revolusi. Jika teori ini benar, maka pembunuhan Tan Malaka adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang komandan lokal yang merasa bahwa ia memiliki otoritas untuk menjadi hakim, juri, dan algojo" (Poeze, Jilid V 340).
Teori kedua adalah bahwa Soerachmad menerima perintah, atau setidaknya persetujuan diam-diam, dari markas besar TNI di Jawa Timur, yang dipimpin oleh Kolonel Sungkono. "Sungkono," tulis Poeze, "adalah komandan Divisi I TNI, yang bertanggung jawab atas seluruh Jawa Timur. Ia adalah seorang perwira senior yang memiliki hubungan langsung dengan Jenderal Soedirman. Jika Sungkono memberikan perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka, maka pembunuhan itu bukanlah inisiatif lokal, melainkan operasi yang disetujui di tingkat komando regional. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sungkono telah mengeluarkan instruksi lisan kepada Soerachmad untuk 'menyelesaikan masalah Tan Malaka', sebuah eufemisme yang mungkin berarti penangkapan, tetapi mungkin juga berarti eksekusi" (Poeze, Jilid V 350).
Teori ketiga, yang paling kontroversial, adalah bahwa perintah untuk mengeksekusi Tan Malaka datang dari Jenderal Soedirman sendiri. "Soedirman," tulis Poeze, "adalah anti-komunis yang gigih. Ia telah mendukung penumpasan pemberontakan Madiun, dan ia melihat Tan Malaka sebagai ancaman terhadap persatuan TNI. Pertemuan antara Soedirman dan Sabirin, di mana Soedirman menolak untuk melindungi Tan Malaka, menunjukkan bahwa Soedirman tidak ingin Tan Malaka berada di wilayah yang berada di bawah komandonya. Apakah ini berarti Soedirman secara aktif menginginkan Tan Malaka dibunuh? Tidak ada bukti langsung yang mendukung kesimpulan ini. Tetapi ada bukti tidak langsung yang cukup untuk membuat teori ini layak dipertimbangkan. Soedirman adalah panglima tertinggi; semua operasi militer di Jawa Timur pada akhirnya berada di bawah otoritasnya. Sulit untuk percaya bahwa seorang komandan lokal seperti Soerachmad akan berani mengeksekusi seorang tokoh nasional seperti Tan Malaka tanpa setidaknya mengetahui bahwa atasannya tidak akan menentang" (Poeze, Jilid V 360).
Teori keempat, yang paling spekulatif, adalah bahwa pembunuhan Tan Malaka disetujui, atau bahkan diperintahkan, oleh para pemimpin politik yang ditahan di pengasingan. "Soekarno dan Hatta," tulis Poeze, "berada di pengasingan di Bangka ketika Tan Malaka dibunuh. Mereka tidak memiliki kendali langsung atas operasi militer di Jawa. Tetapi beberapa sumber mengklaim bahwa Soekarno, sebelum ditangkap, telah memberikan instruksi kepada para komandan militer untuk 'menyingkirkan elemen-elemen yang mengancam persatuan', instruksi yang bisa ditafsirkan sebagai izin untuk mengeksekusi Tan Malaka. Sumber-sumber ini sangat spekulatif dan tidak didukung oleh bukti dokumenter. Saya tidak bisa mengkonfirmasi atau membantahnya" (Poeze, Jilid V 370).
Penolakan Keterlibatan Soekarno
Meskipun ia mengakui bahwa teori keterlibatan Soekarno ada, Poeze secara pribadi skeptis. "Soekarno," tulisnya, "adalah seorang politisi, bukan seorang pembunuh. Ia telah berusaha untuk membawa Tan Malaka kembali ke dalam koalisi nasional pada tahun 1947 dan 1948. Ia menghormati Tan Malaka, meskipun ia tidak setuju dengan strateginya. Membunuh Tan Malaka bukanlah gaya Soekarno. Soekarno lebih suka untuk menyingkirkan lawan-lawannya melalui manuver politik, bukan melalui pembunuhan. Saya tidak percaya bahwa Soekarno akan memerintahkan eksekusi Tan Malaka, terutama pada saat ia sendiri berada dalam pengasingan dan tidak bisa mengendalikan situasi. Tetapi saya harus mengakui bahwa ini adalah penilaian pribadi saya, bukan fakta yang terbukti" (Poeze, Jilid V 380).Poeze juga skeptis terhadap teori yang melibatkan Hatta. "Hatta," tulisnya, "adalah seorang demokrat konstitusional yang percaya pada supremasi hukum. Ia telah menyetujui penangkapan Tan Malaka pada tahun 1946, tetapi penangkapan itu dilakukan melalui prosedur hukum, meskipun prosedur itu tidak adil. Mengeksekusi Tan Malaka tanpa pengadilan bertentangan dengan semua prinsip yang diyakini oleh Hatta. Saya tidak bisa membayangkan Hatta memberikan persetujuannya untuk pembunuhan di luar hukum" (Poeze, Jilid V 385).
Kesimpulan Tak Memuaskan
Pada akhirnya, Poeze harus mengakui bahwa ia tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan tentang siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan Tan Malaka. "Setelah puluhan tahun penelitian," tulisnya, "saya harus menerima kenyataan bahwa beberapa pertanyaan tidak memiliki jawaban, atau setidaknya, tidak memiliki jawaban yang bisa dibuktikan dengan bukti yang tersedia. Pembunuhan Tan Malaka adalah kejahatan yang sempurna: dilakukan dalam kerahasiaan, tanpa saksi yang independen, tanpa dokumen yang tersisa, dan dilindungi oleh konspirasi diam-diam yang berlangsung selama puluhan tahun. Para pelakunya telah membawa rahasia mereka ke liang kubur. Yang tersisa hanyalah fragmen-fragmen bukti yang tidak lengkap, yang bisa ditafsirkan dengan berbagai cara. Saya telah menyajikan bukti-bukti itu sebaik yang saya bisa. Sekarang, pembaca harus memutuskan sendiri: siapa yang membunuh Tan Malaka?" (Poeze, Jilid V 395).Hantu Gunung Wilis
Poeze menutup jilid kelima biografinya dengan sebuah epilog yang menyentuh dan puitis, yang merefleksikan makna kematian Tan Malaka bagi Indonesia. "Tan Malaka," tulisnya, "adalah hantu yang menghantui Indonesia. Ia adalah pengingat dari jalan yang tidak diambil, dari kemungkinan-kemungkinan yang hilang, dari janji-janji yang tidak ditepati. Selama jasadnya tidak ditemukan, ia akan terus menghantui. Selama makamnya kosong, ia akan terus hidup dalam imajinasi orang-orang yang merindukan alternatif terhadap apa yang telah terjadi. Indonesia tidak akan bisa sepenuhnya berdamai dengan masa lalunya sampai ia berdamai dengan Tan Malaka, sampai ia mengakui bahwa Bapak Republik yang merumuskan konsep republik sebelum siapa pun, dibunuh oleh republik itu sendiri, dan jasadnya dibuang seperti sampah. Pengakuan ini menyakitkan, tetapi perlu. Tanpa pengakuan, luka sejarah akan terus bernanah, dan hantu Tan Malaka akan terus berjalan di lereng Gunung Wilis, mencari keadilan yang tidak pernah datang" (Poeze, Jilid V 410).Kisah terbunuhnya Tan Malaka dan misteri jasadnya yang hilang adalah luka yang belum sembuh dalam sejarah Indonesia. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan, kekerasan, dan penghapusan ingatan. Tetapi ini juga kisah tentang ketahanan ide. Meskipun jasadnya tidak pernah ditemukan, meskipun makamnya kosong, ide-ide Tan Malaka terus hidup. Buku-bukunya terus dibaca, pemikirannya terus dipelajari, dan namanya terus disebut oleh mereka yang merindukan Indonesia yang lebih adil. Dalam pengertian ini, Tan Malaka tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menghilang, seperti yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya, menunggu saat yang tepat untuk kembali.
Warisan Terpecah
Poeze menutup analisisnya tentang hubungan Tan Malaka dan Pesindo dengan sebuah refleksi tentang warisan yang ditinggalkan oleh konflik ini. "Hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo," tulisnya, "adalah mikrokosmos dari tragedi yang lebih besar yang menimpa gerakan kiri di Indonesia. Di sini kita melihat bagaimana gerakan yang menjanjikan, gerakan pemuda yang bersemangat, militan, dan berkomitmen pada keadilan sosial, dihancurkan oleh konflik internal, kecurigaan timbal balik, dan ketidakmampuan untuk mengelola perbedaan-perbedaan politik. Tan Malaka dan para pemimpin Pesindo sama-sama menginginkan kemerdekaan dan keadilan bagi rakyat Indonesia. Tetapi mereka tidak bisa sepakat tentang bagaimana mencapai tujuan itu, dan perbedaan-perbedaan mereka, alih-alih diselesaikan melalui dialog dan kompromi, berubah menjadi permusuhan yang menghancurkan" (Poeze, Jilid III 690).Poeze juga merefleksikan apa yang mungkin terjadi jika hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo tidak hancur. "Jika aliansi ini bertahan," tulisnya, "mungkin sejarah Indonesia akan berbeda. Mungkin kiri Indonesia akan memiliki basis organisasi yang cukup kuat untuk bertahan dari pembersihan tahun 1965. Mungkin Tan Malaka akan menjadi pemimpin yang diakui, bukan martir yang dilupakan. Mungkin visinya tentang sosialisme Indonesia, yang menggabungkan Marxisme dengan nasionalisme dan penghormatan terhadap Islam, akan menjadi arus utama dalam politik Indonesia, bukan sekadar catatan kaki dalam buku-buku sejarah. Tetapi sejarah tidak mengenal 'mungkin.' Yang kita miliki hanyalah fakta-fakta yang dingin: Tan Malaka terbunuh, Pesindo dibubarkan, dan gerakan kiri Indonesia dihancurkan. Yang tersisa hanyalah kenangan, dan bahkan kenangan itu telah dimanipulasi dan didistorsi oleh rezim-rezim yang berkuasa" (Poeze, Jilid III 695).
Akhirnya, Poeze menekankan bahwa studi tentang hubungan antara Tan Malaka dan Pesindo bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. "Kita mempelajari sejarah," tulisnya, "bukan hanya untuk mengetahui apa yang telah terjadi, tetapi juga untuk belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Konflik antara Tan Malaka dan Pesindo mengajarkan kita tentang bahaya-bahaya sektarianisme dalam gerakan progresif, tentang pentingnya mengelola perbedaan-perbedaan dengan cara yang konstruktif, dan tentang konsekuensi-konsekuensi tragis dari membiarkan kecurigaan dan ambisi pribadi menghancurkan solidaritas. Pelajaran-pelajaran ini relevan tidak hanya untuk Indonesia, tetapi untuk semua gerakan progresif di seluruh dunia. Jika kita bisa belajar dari tragedi Tan Malaka dan Pesindo, mungkin kematian mereka tidak akan sia-sia" (Poeze, Jilid III 700).
Melalui lensa Harry A. Poeze, kita tidak melihat Tan Malaka sebagai hantu tanpa cela, melainkan sebagai aristokrat pikiran yang kesepian. Ia adalah manusia yang paling rajin menulis di antara para revolusioner, namun paling senyap dalam narasi nasional. Dengan memburu kertas-kertas yang ia tinggalkan, Poeze tidak berusaha memujakan Tan Malaka; ia hanya berusaha mengembalikan suara seseorang yang telah ditenggelamkan oleh suara tembakan di Selopanggung dan kebisingan politik Orde Baru.
Rujukan
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I: 1897-1925. PT Pustaka Utama Grafiti, 1988.
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid II: 1925-1945. PT Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. KITLV Uitgeverij, 2007. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1-5, Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2008-2014.

Komentar
Posting Komentar
Kalau hendak komentar monggo. Nda pun monggo .... bebas aja dah